Disclaimer : : Tite Kubo
Warning : : OOC, AU, gaje, abal, chapter kali ini Byakuya Pov :D, don't like don't read!
I Can Change You
Chapter 7
"Menyesalkah kau setelah semua ini sudah terjadi, Byakuya?"
kalimat itu membuatku kembali mengingat masa lalu menyakitkan yang telah kupendam sedalam-dalamnya.
"Kenapa kau melakukan semua ini... kenapa dendammu masih ada di hatimu, Grimmjow? Apa kau masih tak bisa merelakan Hisana yang sudah pergi?"
Aku mengucapkannya dengan sebisaku. Dengan tenaga yang kumiliki. Sebenarnya pedih rasanya untuk mengucapkan nama gadis yang dicintai Grimmjow Jeagerjaquez. Gadis yang juga berhubungan denganku, gadis yang juga pada akhirnya mati di tanganku sendiri...
Grimmjow beranjak dari sofanya. Ia berdiri di depanku yang tergeletak ini. Kakinya menggerakkkan kepalaku untuk terangkat dan menghadapkan kepadanya agar ia bisa melihat wajahku. Mata birunya menatapku dengan tatapan sendu. Pisau dan rokok yang ada di tangannya ia jatuhkan ke lantai. Ia kemudian berjonggkok. Tangannya yang berlumur darahku itu ia bersihkan menggunakan kemeja yang melekat di tubuhku. Aku hanya diam. Apa yang bisa kulakukan dengan luka 3 tusukan yang kuterima di tubuhku ini? Rasa sakit ini membuatku benar-benar sudah kehilangan tenaga untuk melakukan perlawanan padanya.
"Hisana pasti membencimu di surga karena kau telah membunuhnya."
Tidak, Grimmjow. Apa yang kau katakan salah.
"Untuk saat ini, aku hanya ingin melakukan ini dulu. Jangan senang dulu, karena masih banyak rasa sakit yang akan kau terima nanti jika kau belum mati. Sepertinya kau memang sudah berubah, Byakuya. Kau bukan lagi seorang pemimpin Yakuza yang mengerikan seperti dulu. Kau lemah. Atau bahkan terlalu lemah,"
Grimmjow berdiri setelah selesai membisikkan kata-kata yang berhubungan dengan masa laluku. Bisa kulihat dengan lirikan mataku, dia telah pergi dari rumah ini. Ia meninggalkanku dalam keadaan sekarat seperti ini. Apa kau sengaja melakukan ini padaku, Grimmjow? Kau pasti akan menduga beberapa jam lagi aku akan mati dengan sendirinya dalam keadaan begini bukan? Yah... kau berhasil membunuhku dengan cara seperti ini. Dan seperti yang kau bilang, aku bukanlah yakuza yang mengerikan seperti dulu semenjak gadis yang kucintai itu mati di tanganku sendiri. Sekaligus orang yang sebenarnya adalah gadis yang kau cintai pula.
Kuchiki Hisana...
# # #
6 Tahun lalu...
Menyenangkan. Beginikah rasanya membunuh orang-orang lemah? Ah... darah merah yang segar, orang-orang yang tergeletak di bawahku, dan aku yang berdiri di antara beberapa orang-orang yang mati karena kubunuh ini membuatku merasa yang paling kuat di kota ini. Tak ada yang tersisa di hadapanku. Malam bulan purnama, semakin membuat pemandangan ini jadi sangat indah. Aku menikmatinya. Ternyata membunuh orang-orang dengan jumlah banyak itu sangat menarik. Selama aku menjadi pemimpin yakuza di Osaka, aku belum pernah membunuh orang sebanyak ini! Ini sangat menyenangkan! Aku tertawa puas dengan hasil karyaku ini. Akulah yang paling hebat! Akulah yang paling berkuasa. Pedang bernama Senbonzakura yang kugenggam ini kuangkat ke atas. Pedang ini telah terlumuri darah-darah segar. Simbol bahwa inilah kekuatanku.
"Slrrp..." kujilat darah yang ada di pedangku ini dengan lidahku. Benar-benar nikmat. Tidak sia-sia aku harus menerima penderitaan selama aku bergabung dengan gerombolan yakuza-yakuza yang ada di Osaka ini. Pukulan, tusukan dan bahkan racun telah kurasakan hanya agar aku bisa menjadi yakuza yang sesungguhnya. Dan inilah aku saat ini yang telah menjadi pemimpin dari semuanya.
Merasakan kehadiran seseorang di belakangku, aku menoleh. Aku melihat seorang gadis yang berdiri sambil memandangiku dengan tatapan kosong. Gadis itu diam di tempatnya, tak bergerak sedikit pun.
"Siapa kau?" tanyaku yang sambil perlahan berjalan mendekatinya. Gadis ini kelihatannya tidak takut padaku. Lihatlah, saat ini dia masih diam di tempatnya walau mengetahui akulah yang membunuh semua orang yang mati di hadapannya itu. Heran aku melihatnya bersikap biasa. Ia tak nampak ketakutan. Seakan tak merasa dirinya dalam bahaya karena aku bisa saja membunuhnya.
"Yakuza, Kau mau membunuhku?"
Pertanyaan konyol macam apa ini?
"Hah? Kau ini bicara apa? Kau minta dibunuh?"
Gadis itu mengangguk. Sungguh aneh orang ini! Apakah dia kelainan jiwa? Mana ada orang yang minta dibunuh, apalagi yang minta seperti itu adalah seorang gadis pada seorang yakuza sepertiku.
"Jika kau mau membunuhku, bunuhlah aku. Aku sudah tidak punya keinginan hidup setelah orang yang kucintai telah meninggalkanku." ia mengangkat tanganku dan mengarahkan Senbonzakura milikku ini ke lehernya sendiri. Mataku terbelalak melihat sikapnya ini. Segera kutarik senbonzakura yang ada di lehernya itu. Kusarungkan senbonzakura yang masih penuh darah itu.
"Kau gila! Kau perempuan aneh! Masa hanya karena kau ditinggal oleh orang yang kau cintai, kau sampai mau mati di tangan yakuza sepertiku? Kisah hidupmu benar-benar tragis!"
Bentakku sambil mengenakan jubah hitam yakuza-ku yang ada di tanah. Kudengar suara tawa cekikikan yang berasal dari gadis itu. Dia tersenyum-senyum padaku.
"Tuan yakuza benar-benar lucu. Aku tidak menyangka kau tidak berani membunuh seorang perempuan sepertiku ini."
Hah? Tunggu, aku tersinggung dengan ucapannya! Aku ini yakuza yang tak kenal ampun, aku bisa membunuhmu jika kau mau!
"Sudahlah. Pergi dari sini. Tidak pantas perempuan terus berada di tempat seperti ini." aku mengusirnya dari tempat mengerikan yang kubuat ini. Bukannya pergi, gadis itu malah menggandeng tanganku.
"Aku tidak mau kalau kau juga tidak pergi dari sini. Kalau kau juga tidak pergi, kau bisa tertangkap polisi."
Aku kaget dengan ucapannya. Kenapa dia mengawatirkanku kalau aku ditangkap polisi? Benar-benar tak kusangka ada perempuan yang melindungi yakuza sepertiku. Tiba-tiba gadis itu menarikku menjauh dari tempat kumpulan mayat-mayat yang kubuat itu. Gadis itu menarikku entah ke mana. Tanpa rasa takut, ia menggandeng tanganku erat... seakan sudah lama mengenalku dan menganggapku sebagai seorang teman untuknya.
# # #
Kediaman Kuchiki.
Nama itu terpampang di papan nama rumahnya. Kuchiki? Jadi gadis ini bernama Kuchiki? Ia mengajakku untuk memasuki rumahnya yang cukup besar itu. Kami berdua saat ini berada di ruang tamu. Ia duduk di sofanya.
"Tuan yakuza, lebih baik kau segera mandi. Tubuhmu penuh darah dan bau amis. Kau tampak mengerikan kalau seperti itu."
Alisku mengerut. Sebenarnya aku ini dianggap siapa di matanya? Kenapa aku merasa dianggap malah sebagai seorang saudara lamanya dan bukannya yakuza? Ia berdiri, menunjukkan kamar mandi di rumahnya itu. Ia berikan handuk berwarna biru kepadaku.
"Mandilah. Setelah itu aku ingin bicara denganmu. Maaf ya kalau aku terlihat tidak sopan padamu, tapi aku butuh teman saat ini. Aku pun tidak memandang apapun pekerjaanmu walau kau adalah seorang yakuza. Aku mengaggapmu sebagai orang biasa, bukanlah orang yang harus disegani."
Hah? Bicara apa dia? Berarti dia tidak mengakuiku sebagai yakuza yang kuat dan disegani. Ah, ralat. Gelarku bukan yakuza, tapi ketua yakuza di wilayah Osaka ini. Sudahlah, lupakan saja emosiku. Memang lebih baik aku bersihkan tubuhku dulu dari darah-darah ini. Rasanya memang lengket dan bau. Ini semua membuatku tak nyaman.
# # #
"Namaku Kuchiki Hisana, siapa namamu?" tanya gadis yang membawaku ke rumahnya ini. Ia sedang duduk di kasur kamarnya. Sedangkan aku berdiri di depannya, sedang berganti pakaian yang ia pinjamkan padaku. Benar-benar gadis ini. Dia berbeda dengan gadis-gadis kebanyakan. Ia tak malu denganku yang sedang berganti pakaian di hadapannya. Tapi jangan harap aku memperbolehkannya ia melihatku jika berganti celana.
"Aku Byakuya. Aku ketua yakuza di sini." balasku dingin. Gadis itu tersenyum. Ia menepuk-nepuk kasurnya sendiri, mengisyaratkanku untuk duduk di sebelahnya. Dan aku pun menuruti kemauannya, aku duduk di sampingnya. Suasana di antara kami jadi hening.
"Byakuya, apa kau senang membunuh orang?"
"Ya. Membunuh orang itu menyenangkan. Kita tinggal mengayunkan pedang dan menebasnya ke tubuh bagian manapun target kita dan matilah dia. Rasa puas akan kau rasakan, kau akan merasa yang paling hebat setelah berhasil membunuh orang itu."
Jawaban yang tidak masuk akal. Memang, daripada aku dipanggil yakuza, sebenarnya lebih pantas aku dipanggil seorang pscyo. Entah apa yang membuatku sangat menyukai darah sejak aku berumur 6 tahun. Semenjak itu, aku jadi suka membunuh. Awalnya hanya semut, tikus, dan sesuatu yang kecil. Namun semakin lama, aku semakin berani membunuh anjing, kucing, kelinci hingga yang paling memuaskan adalah membunuh manusia dengan pedang peninggalan kakekku, Senbonzakura. Itulah masa laluku yang sadis. Kulirik Hisana yang ada di sampingku. Ternyata ia balas memandangiku.
"Kau tampan. Tapi sayang, kenapa kau suka membunuh orang? Tidakkah kau pernah berfikir untuk berhenti menjadi yakuza? Berhenti membuat kesedihan?"
Hisana membuatku bingung. Kesedihan? Apa maksudnya? Orang yang kubunuh ya sesudahnya pastilah mati dan tak akan sedih kan?
"Kau tahu, orang yang menyanyangi orang yang kau bunuh itu pasti akan sangat sedih. Jika mereka terlalu sayang, bisa saja mereka balas membunuhmu seperti kau membunuh orang yang mereka sayangi."
Yah. Aku tahu, aku memang akan membuat kesedihan pada saudara-saudara orang yang kubunuh. Tapi mengertikah kau, Hisana? Bukan sembarang orang yang selalu kubunuh. Aku hanya membunuh orang-orang yang berdosa. Seperti halnya akulah yang membunuh Nnoitra Jiruga, seorang pria gila yang biasanya menculik wanita dan menjualnya pada orang-orang yang berminat dengan wanita yang ia jual. Kadang pun aku berfikir, untuk apa adanya polisi jika mereka membiarkan kejahatan-kejahatan kecil yang harusnya diadili itu malah dibiarkan?
Hisana menyandarkan kepalanya di pundakku. Sebenarnya aku cukup risih dengan semua ini. Aku bukanlah pria yang suka dengan sembarang wanita. Tapi apa boleh buat, Hisana adalah gadis yang menyelamatkanku dari kedatangan polisi dan memberikan aku pelayanan yang cukup baik. Seperti sekarang ini, dia memperbolehkanku untuk menginap di rumahnya dan padahal aku ini jelas adalah orang jahat. Hisana menggengam tanganku. Sepertinya gadis ini sedang dalam keadaan tak baik. Kalau tidak salah, tadi bukankah dia bilang baru saja ditinggalkan orang yang dicintainya? Berarti ia sedang patah hati.
"Byakuya-sama, maukah kau membunuhku seperti membunuh orang-orang yang tadi itu?"
Aku terlonjak kaget. Kugeserkan kepala Hisana yang tadi ia sandarkan di pundakku.
"Kau ini lemah sekali. Hanya gara-gara patah hati, kau sampai seperti ini. Masih banyak pria di dunia ini yang bisa kau cintai. Jangan membuang hidupmu yang tak ternilai harganya ini demi laki-laki busuk yang meninggalkanmu." tanpa sadar, karena aku terbawa dengan suasana, aku malah menasehatinya seperti ini. Ah... padahal aku ini kan bukan tipe laki-laki yang bisa dengan mudahnya menaggapi curhatan seorang wanita. Apalagi masalah cinta. Berpacaran saja aku tidak pernah dan itu jelas. Mana ada yang mau dengan yakuza semacam aku ini?
Senyum tergambar di wajahnya. Hisana tertawa terkikik lagi melihatku. Aku jadi ingin bercermin. Apakah wajahku terlihat lucu hingga selalu membuatnya tertawa? Aku ini bukan pelawak, tapi yakuza yang menyeramkan!
"Kau benar-benar lucu sekali, Byakuya-sama. Awalnya aku segan karena kau adalah seorang ketua yakuza di Osaka ini, tapi begitu semakin lama bersamamu, aku tahu siapa kau yang sesungguhnya. Kau adalah laki-laki yang pengertian dan penuh perasaan."
"Huh? Kau ini wanita menyebalkan. Aku ini yakuza yang kejam, tidak yang seperti kau pikirkan. Kalau aku mau, aku bisa membunuhmu dan merampokmu malam ini, tapi karena aku sedang tidak mood, jadi aku diam dan menurut denganmu saja. Dan satu lagi, kenapa kau memanggilku Byakuya-sama? Kenapa kau tidak memanggilku tuan yakuza saja? Itu kan lebih kedengaran keren."
Oh bagus. Secara tak sadar, aku berkata seperti anak kecil, padahal umurku sudah 20 tahun. Tapi biarlah. Biarlah aku menunjukkan sifat asliku yang seperti ini pada Hisana, toh aku besok akan meninggalkannya.
"Aku memanggilmu Byakuya-sama karena kau terlihat lebih dewasa bagiku. Dan kau tahu? Kau lebih pantas terlihat sebagai bangsawan untukku daripada seorang yakuza yang kejam. Melihat kepribadianmu yang sesungguhnya ini pun aku tidak merasa ada sifat seorang yakuza yang kejam dalam dirimu."
"Cih, terserahmu saja."
Kurebahkan tubuhku di kasur yang sedang kududuki itu. Aku menutup mataku untuk bersiap tidur.
"Byakuya-sama, maukah kau jadi kekasihku?"
Plast!
Kubuka mataku bersamaan dan segera aku bangun dari kasur itu. Aku menatap Hisana dengan tak percaya ditambah sepertinya mukaku ini merah karena sangat malu.
"Kau jangan bercanda!" kataku setengah berteriak. Jelas saja. Aku benar-benar sangat kaget dengan ucapannya. Seumur hidupku, baru kali ini aku ditembak seorang perempuan yang bahkan belum lama mengenalku. Dan profesiku sebagai ketua yakuza ini tidak membuatnya takut padaku.
"Aku serius. Maukah kau jadi kekasihku? Aku memang merasa ini kurang sopan karena aku langsung menyukaimu walau belum terlalu lama mengenalmu, tapi aku sungguh benar-benar serius dengan ucapanku. Mungkinkah ini... yang dikatakan sebagai cinta pada pandangan pertama?"
Speechless. Kami berdua terdiam dengan muka yang sama-sama merah. Hisana terlihat jadi salah tingkah di depanku setelah mengatakan yang tadi itu. Sama denganku, aku pun tak tahu harus apa dan akhirnya hanya bisa memilih diam. Dengan nekat dan penuh keberanian, untuk pertama kalinya aku menggengam tangan seorang wanita dan mendekatkan wajahku dengan wanita tersebut.
"K-Kau sungguh serius dengan ucapanmu tadi?" tanyaku memastikan. Hisana mengangguk dengan wajah menunduk. Sepertinya ia tak berani menatapku. Kami berdua seperti pasangan anak kecil. Benar-benar tidak ada dewasanya seperti umur kami saat ini. Meski sudah dibilang sebagai pasangan kekasih, namun kami tidak melakukan apa-apa setelahnya. Sepertinya aku masih canggung dengan hubungan tiba-tiba yang muncul di antara aku dan Hisana saat ini.
"A-Aku tidur di sofa saja. Oyasumi." kataku dengan gugup. Hisana masih diam dengan muka merah dan mengangguk. Aku pun meninggalkan gadis itu di kamranya sendiri dan berjalan menuju ruang tamu di rumah Hisana. Sesampainya, segera aku mengambil posisi tidur yang enak di sofa yang cukup besar itu. Mukaku kembali memerah dan dadaku berdebar kencang. Argh! Beginikah rasanya cinta?
Tapi tidak ada salahnya bukan jika aku menjadi kekasih Hisana? Lagipula saat ini status Hisana single, sama sepertiku. Dan semakin lama, aku sendiri pun semakin menyukainya... bersama Hisana, membuat hidupku jadi semakin lebih baik.
# # #
"Yah... aku mengerti. Akan segera kubunuh dia malam ini."
Aku menutup pembicaraanku di telepon pagi ini. Hari ini, aku punya tawaran pekerjaan yaitu membunuh orang. Aku tak bisa menolak, karena bayarannya kali ini lumayan besar dan aku pun tergiur dengan tawaran itu. Ku minum teh yang disediakan Hisana untukku pagi ini. Hisana sedang duduk di sofa, di hadapanku. Raut mukanya terlihat sedikit kesal melihatku.
"Kenapa kau tidak menolak tawaran membunuh orang lagi?" tanyanya.
"Karena pekerjaanku adalah yakuza. Dan yakuza itu berhubungan dengan yang namanya kejahatan." jawabku singkat sambil terfokus pada ponsel yang ku utak-atik.
Aku telah tinggal bersama Hisana selama 3 hari. Dan kami pun resmi adalah seorang sepasang kekasih semenjak Hisana menyatakan perasaannya padaku. Selama berhubungan dengan Hisana, aku merasa nyaman-nyaman saja. Kami pun bahagia seperti layaknya sepasang kekasih. Namun aku tahu, Hisana sebenarnya sedikit tidak nyaman dengan pekerjaanku yang sebagai yakuza ini. Setiap malam, aku selalu pergi dari rumahnya untuk membunuh orang-orang bersama para gerombolan yakuza atau kata lainnya adalah anak buahku dan melakukan sesuatu yang jahat. Begitu pulang, Hisana hanya bisa diam dan menunjukkan ekspresi kecewanya melihatku yang pulang dengan berlumur darah orang yang kubunuh. Terlihat dari sikapnya, ia sebenarnya ingin menegurku, namun ia lebih memilih untuk diam dan menghindari pertengkaran di antara kami ini.
"Byakuya-sama, aku akan merubahmu!"
Aku berhenti bermain dengan ponselku dan melihat Hisana. Mukanya terlihat berseri-seri.
Aku mengernyitkan dahiku. "Merubahku?"
"Ya. Aku akan merubahmu menjadi orang yang baik dan membuatmu berhenti melakukan kebiasanmu membunuh orang. Dengan begitu, perlahan-lahan, kau akan meninggalkan pekerjaanmu sebagai yakuza bukan?"
Aku tersenyum meremehkan padanya. Ide apa itu? Benar-benar aneh. "Sudahlah. Aku ini yakuza dan aku tidak akan meninggalkan pekerjaanku ini."
Hisana cemberut. Ia mengambil jubah hitam yakuza-ku yang berada di meja. Matanya memandangi gambar naga yang tertempel di jubah bagian belakang punggung, simbol anggota yakuza. "Aku akan mengganti gambar ini dengan gambar kelinci!"
"A-APA?" sontak aku kaget dengan ucapannnya dan segera kusambar jubah itu. "Menjijikkan! Jangan ganti dengan gambar hewan yang kau sebutkan itu tadi!" ancamku dengan deathglare ala yakuzaku. Hisana menjulurkan lidahnya.
"Kau lebih pantas dengan gambar seperti itu." melihat Hisana, aku jadi terpikir sebuah ide jahil. Aku berpindah duduk di samping Hisana dan merangkul gadis itu. Hisana tampak kaget dengan apa yang kulakukan. "B-Byakuya-sama?"
Kutunjukkan senyumanku padanya hingga membuat muka gadis ini memerah. Ekspresi yang lucu.
"Kalau gambar naga itu kau ganti dengan gambar kelinci, berarti kau mengubahku sebagai seorang playboy bukan?" Ya. Kelinci kan simbol seorang palyboy bukan?
Hisana tertawa kecil. "Entahlah. Aku tidak yakin ada wanita lain yang menyukai yakuza sepertimu selain aku." ia menyindirku. Suasana ini sangatlah tepat untuk bermesraan. Dan inilah saatnya aku menikmati apa yang kuinginkan dari Hisana, yaitu sebuah ciuman. Perlahan, kudorong belakang kepala Hisana mendekat padaku hingga wajah kami hampir menempel. Kumiringkan kepalaku dan dengan hati-hati dan penuh perasaan cintaku padanya, kukecup bibir mungilnya. Hisana memejamkan matanya erat dengan tangannya yang mencengkram kaosku di bagian dada. Ekspresi Hisana membuatku gemas padanya dan hingga pada akhirnya aku semakin menciumnya semakin dalam...
# # #
Angin malam berhembus dengan kencang. Angin ini membuatku merasakan kedinginan. Dengan setengah berlari, aku pulang menuju rumah. Lebih tepatnya rumahku bersama Hisana yang saat ini kami tinggali berdua. Begitu sampai hampir di rumah Hisana, dari kejauhan kulihat seorang laki-laki berambut biru sedang berbincang dengan Hisana di depan rumah. Meski melihat dari jauh, bisa kulihat mereka berciuman. Hisana... dan laki-laki tak kukenal itu.
Aku terdiam di tempat yang jaraknya masih cukup jauh dari rumah Hisana. Terus kupandangi kedua orang itu yang tengah asyik dengan ciuman mereka. Tidak. Bukan mereka, tapi hanya si rambut biru itu. Sedangkan Hisana terlihat terus meronta dalam dekapan laki-laki itu. Beberapa menit berlalu, akhirnya laki-laki itu melepaskan Hisana dan berbisik sesuatu padanya. Setelahnya, laki-laki itu meninggalkan Hisana yang terpaku di depan rumahnya. Walau aku melihatnya dari jauh, aku tahu bahwa Hisana meneteskan air matanya. Kulangkahkan kakiku berjalan ke arahnya. Hisana yang menyadari keberadaanku langsung tertegun kaget. Dengan tergesa-gesa, gadis ini menyeka air matanya itu.
"Kau sudah pulang, Byakuya-sama," Hisana tersenyum padaku yang menatapnya dengan datar. Kusarungkan Senbonzakura terlumur darah ini yang ada di tanganku.
"Ya. Aku sudah selesai dengan pekerjaanku." aku berpura-pura tidak melihat kejadian yang tadi itu. Tak usah dijelaskan, karena aku tahu siapa laki-laki itu. Meski aku tak tahu namanya, aku yakin, ia adalah mantan kekasih Hisana. Terlihat dari sikap Hisana yang tenang walau ia baru saja dicium secara paksa oleh laki-laki itu. Kalau Hisana tidak mengenalnya, pastilah gadis itu berteriak jika dilecehkan laki-laki seperti tadi. Hisana, apakah aku masih belum bisa menggantikan posisi mantan kekasihmu yang sangat kau cintai?
# # #
"Kenapa kau masak makanan sebanyak ini, Hisana?" tanyaku yang melihat Hisana sedang menata piring-piring dengan masakan yang cukup banyak. Hisana melepas celemeknya dan berjalan mendekatiku.
"Hari ini adikku, Rukia pulang. Ia adalah adikku satu-satunya yang sedang belajar di luar negeri dan sekarang ia sudah pulang ke Jepang. Kau juga harus menemuinya nanti." ucapnya dengan lembut dan bahagia. Adik? Aku baru tahu ternyata Hisana punya seorang adik.
Drrrt... Drrt...
Ponsel di saku-ku bergetar. Tanganku segera merogoh saku celanaku untuk mengambil ponsel itu. Pesan masuk. Ini pasti tawaran membunuh lagi. Entah kenapa akhir-akhir ini aku punya banyak tawaran untuk membunuh orang-orang. Padahal profesiku adalah seorang yakuza, tapi aku malah dianggap seperti pembunuh bayaran. Biarlah. Lagipula itu beda sedikit.
"Membunuh lagi?"
"Yah." aku menjawab pertanyaan Hisana dengan singkat. Tangan lembut Hisana membelai pipiku. Mata indah kekasihku ini menatapku dengan sendu.
"Jangan membunuh lagi. Kumohon, Byakuya-sama." pintanya dengan memelas. Aku menelan ludahku melihat ekspresi Hisana yang sangat membuatku lemah. Dengan terpaksa dan pastilah berbohong, aku akhirnya menjawab permintaannya dengan tak jujur ini.
"Ya. Aku akan menolak tawaran kali ini." Hisana tersenyum senang mendengarnya. Melihat senyumnya, aku jadi semakin bersalah karena telah membohonginya. Maafkan aku, Hisana. Hanya untuk kali ini saja, aku akan membunuh orang. Dan untuk seterusnya, aku akan meninggalkan profesiku sebagai yakuza dan hidup bahagia bersamamu. Tanpa darah dan kebohongan yang kubuat dengan tanganku sendiri.
# # #
Pukul 21.00 ...
Aku membangunkan tubuhku dari kasur. Malam ini, aku harus melakukan tugas terakhirku, yaitu membunuh seseorang bernama Grimmjow Jeagerjaques. Kali ini klienku memintaku untuk membunuhnya karena dia tak membayar hutang-hutangnya yang cukup besar. Yah, setelah membunuh orang bernama Grimmjow, aku akan mendapat imbalan cukup banyak dan inilah hari terakhirku sebagai ketua gerombolan yakuza. Kuambil senbonzakura yang ada di meja kamarku. Perlahan kubuka pintu dengan hati-hati agar tak menimbulkan suara yang akan membangunkan Hisana. Aku tak mau Hisana mengetahuiku yang telah membohonginya ini, jadi akhirnya aku melakukan aksiku ini secara diam-diam.
Sukses. Aku telah berhasil keluar dari rumah Hisana tanpa membangunkannya dengan sukses. Setelah ini, aku harus pergi ke Karakura untuk membunuh orang bernama Grimmjow itu.
# # #
"A-Ampuni aku! Am-UAAAAARGH!"
Kutebas tubuh anak buah terakhir Grimmjow yang masih hidup. Senbonzakura milikku ini kembali ternoda oleh darah-darah orang yang kubunuh. Kulirik sekilas wajahku dari pantulan Senbonzakura yang tak terkena noda darah. Wajahku penuh dengan cipratan darah.
"H-Hentikan! Aku akan membayarmu jika kau tak membunuhku!" sesosok laki-laki dengan rambut birunya yang bernama Grimmjow ini memandangku dengan ketakutan. Tangannya ia kibas-kibaskan agar aku tak membunuhnya. Huh, percuma. Jika tak membunuhku, aku tak akan dapat uang. Dan jika kau membayarku, itu bukan uangmu sendiri, tapi uang hasil hutang-hutangmu pada klienku. Mata abu-abuku memandangi laki-laki ini yang terlihat sangat ketakutan. Mataku tertuju pada sebuah foto yang hampir jatuh dari sakunya. Aku mengenalnya! Segera kusambar foto itu dari saku kemeja Grimmjow. Kulihat gambar seorang gadis di foto tersebut. Gadis ini... Hisana?
"K-Kau mengenal Hisana?"
Grimmjow mengangguk meski ia masih dalam keadaan panik. "K-Kuchiki Hisana adalah mantan kekasihku, aku berencana melamarnya besok dengan uang-uang yang aku pinjam dari orang-orang kaya. Kumohon, biarkan aku hidup. Aku sangat mencintainya!"
Emosiku tiba-tiba memuncak. Bagaimana bisa aku biarkan Hisana menikah dengan laki-laki yang mencampakkannya dan kemudian dengan mudahnya laki-laki ini melamar Hisana? Dia laki-laki tidak tahu malu. Hisana saat ini telah menjadi milikku. Kuangkat Senbonzakura ke atas dan bersiap menebas Grimmjow yang terduduk di lantai dengan gemetaran itu. "Matilah kau!"
Tanganku yang ringan ini mengayunkan pedangku ke arah Grimmjow. Grimmjow membelalakkan matanya begitu pedangku telah bergerak untuk menebas tubuhnya.
JRAAAAASH...!
Darah segar keluar dari tubuh. Darah itu seakan sebuah air yang tersemprot di badanku. Aku tak akan terkejut melihat hal seperti ini. Ini sudah biasa untukku. Tapi yang kukejutkan adalah gadis yang kucintai adalah orang yang kutebas dengan Senbonzakuraku ini. Tubuh gadis itu langsung ambruk setelah menerima tebasan dariku.
"HI-HISANAAAA!"
Teriakku dan Grimmjow bersamaan begitu melihat Hisana tertebas olehku dan ia terbaring di lantai dengan darah yang keluar dengan banyak di tubuhnya. Kujatuhkan Senbonzakuraku dan kuangkat kepala Hisana. Kusandarkan setengah tubuh mungilnya yang melemah itu di pahaku. Tanganku terlumuri darah Hisana. Aku menggelengkan kepalaku sambil terus meneriakkan namanya. Tak percaya dengan apa yang terjadi. Nafas Hisana tak beratur, ia paksakan senyum manisnya itu tergambar di wajahnya. Deru nafas hangatnya dapat kurasakan dan ini semakin membuatku gila dan takut.
"Byakuya-sama..." panggilnya. Ia menatapku yang ada di dekatnya lalu membelai pipiku yang kotor oleh darahnya. Kugenggam tangan itu dengan sedikit gemetar.
"Ya, Hisana? Kau baik-baik saja kan? Jangan bilang kau akan..."
"Aku mencintaimu, Kuchiki Byakuya... aku tidak pernah berharap untuk kembali pada Grimmjow karena aku telah memilikimu... aku tak bohong... percayalah padaku," Hisana menangis.
Melihat air matanya, aku semakin takut. Gara-gara aku berbohong, gara-gara aku adalah seorang yakuza, dan gara-gara aku bertemu denganmu, akhirnya kau mati dengan keadaan menyedihkan ini.
"Aku percaya padamu, Hisana... aku percaya! Jangan tinggalkan aku!"
Tanpa sadar, kukeluarkan air mata yang tak pernah kutunjukkan pada seorang gadis. Tapi saat ini, aku tidak peduli dengan keadaan seperti ini. Biarlah siapapun melihatku menangis. Aku tidak peduli sedikitpun.
"Jaga adikku, Kuchiki Byakuya... mulai saat ini, kau adalah kakak Rukia... kumohon, jangan jadi yakuza lagi... kumohon, berubahlah jadi orang yang lebih baik dari sekarang ini,"
"Hi-Hisana?"
Hisana menutup matanya. Tubuhnya tak bergeming sedikitpun. Nafas dan detak jantungnya sama sekali tak bisa kurasakan. Namun darah hangat dari tubuhnya masih terus mengalir membasahi tanganku. Dan hujan di malam yang menjadi saksi atas kematian Hisana pun mengiringi kejadian tragis ini. Kupeluk tubuh Hisana yang tak bergerak untuk selamanya itu. Teriakan Grimmjow yang melihat kematian mantan kekasihnya itu berdengung di telingaku.
Maaf karena aku telah membunuh kekasihmu, Grimmjow...
Aku tidak akan membunuhmu...
Aku tidak ingin membunuh orang yang Hisana cintai...
Cukup Hisana-lah yang menjadi orang yang terakhir yang mati di tangan seorang yakuza sepertiku...
# # #
"Hisana-nee~!"
Kudengar teriakan manja seorang gadis begitu aku membuka pintu rumah Hisana. Seorang gadis kecil bermata violet dengan model rambut yang mirip dengan Hisana berdiri di hadapanku. Gadis itu nampak terkejut melihatku yang menggendong Hisana yang telah tiada ini.
"Kau siapa?" tanyanya dengan polos. Ia seakan tak tahu dengan apa yang terjadi. Atau dia berpura-pura tidak tahu?
"Kau sendiri siapa?" tanyaku balik pada gadis mungil itu. Gadis itu memperkenalkan dirinya dengan senyuman.
"Aku Kuchiki Rukia, adik Hisana-nee yang baru pulang ke Jepang. Salam kenal."
Ternyata seperti inikah adikmu, Hisana? Dia sangat mirip denganmu. Melihatnya, aku seperti melihat dirimu juga.
"Aku calon suami kakakmu. Mulai sekarang aku adalah Kuchiki Byakuya..."
Jawaban yang buruk. Tapi apa boleh buat. Inilah yang bisa kukatakan. Ekspresi Rukia begitu terkejut mengetahui aku adalah seorang calon suami kakaknya. Gadis kecil itu menari-nari lalu membelai rambut Hisana yang masih dalam gendonganku. Hisana dengan wajah tidur yang damai. Dan bekas luka di tubuhnya yang kututupi dengan jubah hitam yakuza-ku.
"Suami Hisana-nee tampan sekali. Hisana-nee pasti bahagia!"
Aku terdiam mendengarnya. Aku benar-benar jahat karena telah berbohong lagi pada keluarga Kuchiki. Hisana, apakah kau memaafkanku?
End Pov - End Flashback
"Oy Rukia, apa menurutmu Byakuya merestui hubungan kita?" tanya Ichigo di samping Rukia. Langkah perjalanan pulang mereka berhenti setelah sampai di depan rumah Rukia. Gadis yang bersama Ichigo itu menggembungkan pipinya.
"Kau ini jangan-jangan takut pada kakakku ya?" tanyanya dengan cemberut. Ichigo segera menggeleng.
"Aku berani melawan Byakuya!" balas Ichigo yang sebenarnya sedikit ragu dengan ucapannya itu. Rukia tertawa terkikik mendengarnya.
"Hehe, ya sudah. Sampai besok ya, Ichigo!" Rukia melambaikan tangannya pada kekasihnya sebelum ia masuk ke dalam rumahnya. Ichigo menghela nafas dengan berat. Ia tentu belum puas jalan bersama kekasihnya itu. Tapi mau tak mau, ia harus merelakannya.
"Yah, dah, Rukia!" sahut Ichigo.
Rukia mengangguk dan kemudian memasuki rumahnya. Mata violetnya membulat begitu melihat seseorang yang terbaring di lantai ruang tamunya, yang tak lain adalah Byakuya. Air mata keluar dari mata violetnya melihat keadaan kakaknya tersebut.
"NII-SAMAAAAAAA!"
Deg!
Ichigo yang masih belum terlalu jauh dari rumah Rukia, menghentikan langkah kakinya saat mendengar teriakan keras dari kekasihnya. Pemuda itu berbalik arah dan berlari kembali ke rumah Rukia. Dengan nafas tersengal, perasaannya mengawatirkan apa yang terjadi pada Rukia. Tak peduli yang namanya sopan santun, ia langsung masuk tanpa permisi ke dalam rumah kediaman Kuchiki itu. Mata hazel Ichigo membulat melihat Rukia yang menangis sambil memeluk kepala kakaknya. Darah segar itu membasahi lantai dan tubuh kedua kakak-beradik itu.
"Nii-sama... Nii-sama...!" jerit Rukia panik. Ichigo segera mengambil ponsel dari sakunya dan menelepon ambulans.
Hisana... aku bisa melihatmu.
Apa ini artinya aku akan menyusulmu?
Kalau memang begitu, kita bisa hidup bersama lagi...
To Be Contiuned...
Huwaaaah... akhirnya bisa publish juga ney. Dan kali ini tanpa humor dulu ya XD. Ahihihi, bingung ney sama next chapter selanjutnya... pengen bikin Byakuya mati, tapi ga tega juga...T_Ta
Maaph kali ini belum bisa bales repiu, dikarenakan keterbatasan waktu. Coz saia ngetiknya ini di warnet DX
Thanks buat : :
Searaki Icchy La La La
Arashi Arashi For Dream
Ddbb
Putri Kecil Kuw
Chie Hatake
Kurosaki Miyuki
Mugiwara 'Yukii' UzumakiSakura
Reina Rukii
Kei
Lhyn Hatake
Meyrin Kyuchan
Rukiberry Si Silent Reader
Voidy
Maymaymay
D3rin
Mayaa-chan loph Ichiruki
Shira Roles
Chikuma n Mendokusai
Kirei Kazuhito
Orang baru tw fanfic
Luna 'Ruru' Kuchiki
Hava99
Sekali lagi thanks buat semuanya. Jangan lupa repiu ya! XD
Ikan hiu melambai-lambai, yuk dadah bai-bai! XD
