Disclaimers : : Tite Kubo

Warning : : OOC, AU, Typo(s), gaje, abal, dll. Dont like, dont read.

I Can Change You!

Chapter 8

"Nii-sama! Nii-sama!"

Suara panggilan seorang gadis terus terdengar, mengantar perjalanan sang kakak yang kini sedang dalam perjalanan ke ruang UGD. Para petugas itu memasukkan tubuh sang kakak si gadis yang tergeletak lemah di ruangan itu untuk segera ditolong. Mata violet sang gadis tak henti-hentinya meneteskan air mata melihat orang yang disayanginya tak bisa ia lihat lagi saat ini, mulut mungilnya terus meneriakkan panggilan untuk sang kakak, berharap sang kakak bisa terbangun dari kondisinya yang sangat mengkhawatirkan itu. Tubuh mungilnya terus berusaha untuk menyusul sang kakak yang memasuki ruangan itu, namun tangan seorang laki-laki yang merupakan kekasihnya itu terus menahan tubuhnya, tak membiarkannya untuk ikut berada dalam satu ruangan dengan sang kakak.

"Rukia, tenanglah! Byakuya pasti baik-baik saja!"

"Tidak! Nii-sama saat ini pasti membutuhkanku! Aku harus ada di samping Nii-sama, lepaskan aku, Ichigo!" Rukia terus saja memberontak dalam dekapan Ichigo yang begitu kuat. Namun, semakin Rukia memberontak, semakin Ichigo menguatkan dekapannya agar Rukia tidak bertindak bodoh di rumah sakit itu.

Perlahan-lahan, tubuh Rukia mulai terasa tenang. Tubuh gadis itu lelah memberontak, namun nafasnya masih berderu tak teratur. Merasakan keadaan itu, Ichigo mengelus rambut Rukia, berusaha menenangkan Rukia dengan perlakuan lembutnya.

"Tenang, Byakuya itu kuat bukan? Aku yakin, dia pasti tidak kenapa-kenapa. Dia pasti selamat. Kau tenang saja," bisik Ichigo.

Tubuh gadis bermata violet itu bergetar setelah mendengar bisikan Ichigo. Tangannya mencengkram seragam Ichigo yang masih melekat di tubuhnya itu. Rukia terus membodoh-bodohkan dirinya. Seandainya ia pulang lebih cepat, pasti ini tidak mungkin terjadi. Perasaan gadis itu terasa kacau. Tak pernah terbayangkan sebelumnya jika akan ada seseorang yang memendam dendam pada kakaknya hingga melakukan kejahatan seperti ini. Setahu gadis itu, semenjak ia mengetahui kakaknya meninggalkan pekerjaannya sebagai yakuza, tak pernah ada kekacauan yang terjadi di antara mereka. Tapi sekarang? Siapa yang melakukan ini?

Ichigo menuntun Rukia untuk duduk menunggu bagaimana keadaaan Byakuya dari dokter di rumah sakit Karakura itu. Selama waktu menunggu itu, Rukia terus menangis sambil menyandarkan kepalanya ke pundak Ichigo. Setidaknya ditemani oleh kekasihnya itu, Rukia bisa sedikit tenang.

"Siapa yang melakukan ini... Kenapa dia melakukannya? Kenapa orang yang melakukan ini tega menyakiti satu-satunya keluargaku," Rukia mencurahkan perasaannya pada Ichigo. Ichigo sesaat diam sambil tetap mengelus rambut legam Rukia.

"Satu-satunya keluarga? Jadi selama ini kau hanya memiliki Byakuya?"

Rukia mengangguk pelan. Tangannya menyeka air mata yang telah membasahi pipinya.

"Ya. Semua keluargaku telah mati. Dulu aku pun pernah kehilangan seseorang yang kusayang, yaitu Hisana-nee, kakak perempuanku." Ichigo sedikit terkejut dengan penjelasan Rukia. Kakak perempuan?

"Tunggu, jadi Byakuya itu... apakah juga kakak kandungmu?" Ichigo melirik Rukia yang masih menyandarkan kepalanya di pundak Ichigo. Rukia menggeleng pelan. "Bukan. Nii-sama adalah kakak iparku. Katanya, Hisana-nee meminta Nii-sama untuk menjadi kakakku dan menjagaku."

"Lalu, sekarang bagaimana dengan Hisana? Apa yang terjadi padanya?"

"Hisana-nee meninggal karena kecelakaan saat dia menjemput Nii-sama yang dulu masih bekerja sebagai pimpinan yakuza di Osaka."

Benarkah semua yang dijelaskan Rukia tentang kematian Hisana benar? Tentunya tidak, karena sebenarnya Byakuya-lah yang membunuh Hisana. Kembali ke masa lalu di saat Rukia bertemu Byakuya yang menggendong Hisana, sebenarnya Byakuya menjelaskan bahwa Hisana mati karena kecelakaan. Itulah kenyataannya bahwa Byakuya telah kembali membohongi keluarga Kuchiki, membohongi Rukia sama seperti saat dia membohongi Hisana.

Ichigo menghela nafasnya. Tangannya menggeser kepala Rukia agar kepala Rukia tak tersandar di pundaknya. Pemuda itu kemudian mengarahkan wajah Rukia agar dapat menatapnya, agar Rukia dapat melihat senyum kekecewaan yang ia berikan untuknya. Gadis bermata violet itu tersentak tak percaya melihat senyuman Ichigo, berbeda dengan senyuman-senyuman yang biasa ia tunjukkan padanya. Kedua tangan pemuda itu mengelus pipi Rukia dan masih terus menatap mata violet indah di hadapannya itu. Perlahan, Ichigo mendekatkan wajahnya pada Rukia. Dan akhirnya, kedua kening insan itu saling bersentuhan.

"Inikah kau yang sebenarnya?" ucap Ichigo. Muka Rukia memerah karena jarak wajah Ichigo dengannya sangat dekat, terlalu dekat. "Apa maksudmu?" tanya Rukia tak mengerti dengan apa yang dikatakan Ichigo.

"Inikah kau yang sebenarnya? Kau yang sebenarnya adalah gadis yang memendam kesedihan. Kau yang sebenarnya adalah gadis yang selalu kesepian, kau hanya berpura-pura tegar di hadapan orang-orang. Bahkan kau berpura-pura di hadapanku. Kau berpura-pura terlihat ceria, bersemangat, riang dan jagoan di hadapanku dan teman-temanmu, tapi kau yang sebenarnya adalah gadis yang lemah. Kau lemah karena keluargamu yang seperti ini bukan?"

Kata-kata Ichigo terlalu menusuk hati Rukia. Tapi sebenarnya benar, selama ini Rukia hanya memasang topeng di hadapan orang yang dikenalnya. Meski luarnya kuat, namun dalamnya rapuh. Sangat rapuh. Itulah Kuchiki Rukia yang sebenarnya. Ia tak mau dibilang lemah, ia tak mau dibilang cengeng, ia tak mau sendirian karena dirundung kesedihan karena tragedi dalam keluarganya itu. Dan pilihan yang tepat untuknya adalah menyembunyikan kesedihannya, menutupinya dengan senyum palsu yang selalu tergambar di wajahnya.

"Ya... beginilah aku yang sebenarnya, Ichigo. Inilah aku yang sebenarnya!" Rukia kembali meneteskan air matanya. Perasaannya bahagia karena baru kali ini ada orang mengerti siapa dia sebenarnya, mengerti apa yang sebenarnya ia rasakan.

Ichigo tersenyum tipis. Ia tepuk-tepukkan tangannya di kedua pipi Rukia. Dikecupnya sekilas bibir gadis itu. "Bagus. Jadi aku pantas jadi kekasihmu kan karena aku mengerti siapa kau yang sebenarnya? Ternyata midget ini benar-benar berhasil merubah sikapku yang kurang ajar ini jadi lebih baik. Kau seperti malaikat yang dikirim Tuhan untuk merubahku menjadi orang baik." Ichigo tertawa pelan, membuat rona muka Rukia sangat merah karena ucapannya itu.

"S-Sudahlah, kau berlebihan! Lepaskan aku, sampai kapan kau mau memegangi pipiku, mesum?" Rukia menggembungkan pipinya sembari berusaha menarik tangan Ichigo agar tidak mencubit pipinya itu. Ichigo tersenyum. Tapi senyum kali ini adalah senyum ciri khas Ichigo, seringaian mesum.

"Kekasihku ini terlihat manis kalau sedang menangis. Aku jadi makin suka," pemuda berambut oranye itu membasahi bibirnya sendiri dengan lidahnya itu. Seperti melihat sesuatu yang enak. Melihat Ichigo, Rukia mulai merasa bahwa akan terjadi sesuatu yang tidak enak. "Ichigo, j-jangan macam-macam! Ini di rumah sakit!" ucap Rukia memperingatkan karena Ichigo mulai menjilati bibirnya mungilnya. Gadis itu menutup matanya rapat-rapat, menanti apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Aku tidak peduli kapan dan di mana saat ini aku berada jika bersamamu. Aku selalu menikmati apapun keadaan kita dan dimana kita berada jika aku bisa berdua bersamamu, Rukia-chan!" jawab Ichigo dengan nada manja. Rukia tersenyum kecil mendengar ucapan gombal dari kekasihnya.

"Apa kau juga tidak peduli jika kita bermesraan di pemakaman?" pertanyaan Rukia membuat Ichigo sweetdrop walau Ichigo masih belum menjauhkan wajahnya dari Rukia.

"Aku tidak akan senekat itu jika berada di pemakaman, midget bodoh." Ichigo lebih mendekatkan wajahnya hingga bibirnya menempel dengan bibir pasangannya tersebut. Ciuman lembut pun akhirnya tak dapat dihindarkan kedua pasangan itu. Ichigo mencium Rukia dengan hati-hati, dengan penuh perasaan sayang, bukan dengan nafsu yang biasa tersimpan dalam dirinya. Lumatan-lumatan lembut dan pelan ia berikan untuk kekasihnya agar rasa panik yang tadi dirasakannya perlahan-lahan bisa memudar. Bibir Rukia pun membalas ciuman Ichigo. Ia kecup berkali-kali bibir kekasihnya itu dan sesekali mendesah menyebut nama 'Ichigo'. Ichigo memiringkan posisi kepalanya agar ia dapat lebih dalam mencium bibir Rukia, dan tentunya ciuman menggunakan lidah. Lidah Ichigo perlahan mendesak ingin memasuki bagian dalam mulut Rukia, dan lawannya pun mempersilahkan lidah itu untuk mencicipi bagian dalam mulutnya. Kedua lidah itu saling bertautan, sekaligus diikuti dengan pagutan bibir mereka masing-masing. "I-Ichi... go..."

JEPREET!

Cahaya dari sebuah kamera yang memotret kedua insan itu membuat ciuman Ichigo dan Rukia berakhir. Muka Rukia memerah karena adegannya bersama Ichigo yang tadi telah difoto oleh seseorang yang Ichigo kenal. Karena acaranya dengan Rukia terganggu, Ichigo menggeram marah pada orang yang merusak acaranya itu.

"Apa-apaan kau, Ishida?" rupanya 'makhluk' yang menganggu acaranya dengan Rukia adalah Uryuu Ishida yang diikuti juga dengan semua gerombolannya, yaitu Kokuto, Renji dan Kaien. Ishida menaikkan kacamatanya, gaya khas seorang Uryuu Ishida.

"Kau ini benar-benar tidak tahu malu. Masa kau tidak mempedulikan orang-orang di rumah sakit yang sedang memperhatikanmu," ucapnya membuat Ichigo sadar dengan orang-orang yang ada di rumah sakit yang diabaikannya itu ternyata menonton ciumannya dengan Rukia tersebut. Muka Rukia dan Ichigo seketika merona dengan panasnya.

"Oh ya, lebih baik kau pulang dulu, Ichigo. Bibi Masaki tadi menelpon kami, khawatir denganmu yang sampai sekarang belum pulang. Biar kami yang menggantikanmu menemani Rukia!" tawar Kaien. Well, pantas saja ibu Masaki khawatir dengan anaknya, Ichigo. Dari pagi berangkat sekolah hingga menjelang malam, Ichigo tidak pulang ke rumah karena ia langsung berangkat ke rumah sakit Karakura begitu melihat keadaan Byakuya sepulang sekolah dengan Rukia tadi tanpa pamit pada keluarganya. Mau tak mau, karena juga merasa bersalah karena tidak berpamitan pada keluarganya dulu hingga membuat mereka khawatir, akhirnya Ichigo beranjak dari tempat duduknya. Ia menoleh pada Rukia yang masih duduk di bangku sebelahnya yang tadi ia tempati.

"Rukia, aku pulang dulu ya. Nanti aku akan kembali lagi ke sini," kata Ichigo. Rukia tersenyum. "Tidak perlu nanti. Sekarang sudah malam, lebih baik kau istirahat saja di rumah. Aku sanggup menemani Nii-sama di sini tanpamu, Ichigo." Ichigo sejenak berfikir tentang kekasihnya itu. Benarkah Rukia akan baik-baik saja kalau ditinggal sendirian untuk menemani Byakuya? Lagipula Rukia itu seorang perempuan, dan itu sangat mengawatirkan. Ichigo menghela nafasnya. Tangannya lalu menepuk kepala Rukia dengan pelan sambil mengacak rambut hitamnya.

"Jaga dirimu baik-baik. Jika nanti ada yang macam-macam padamu, pukul saja orang itu sama seperti saat kau memukulku dulu!" pesan Ichigo pada Rukia sebelum ia pulang. Rukia menggembungkan pipinya menahan tawa. Gadis itu teringat kejadian waktu dulu dia pernah memukul Ichigo dalam masalah BDSM dulu.

"Hehe. Tenang saja, aku akan baik-baik saja!" Rukia mengacungkan jempolnya pada Ichigo. Pemuda berambut oranye itu tersenyum tipis setelah mendapatkan senyum menyakinkan dari Rukia. Setelahnya, Ichigo mulai berjalan menuju pintu keluar rumah sakit. Rukia hanya bisa menatap punggung Ichigo yang mulai hilang dari padangannya dan pada akhirnya benar-benar telah hilang.

"Maaf ya Rukia, kami juga tidak bisa menemanimu terlalu lama di sini. Sebentar lagi kami akan pulang juga karena ada pekerjaan yang harus kami selesaikan. Kalau ada waktu luang, kami pasti bisa menemanimu hingga pagi." Kaien menghela nafas dengan berat. Kecewa karena tidak bisa menemani kekasih sahabatnya yang sedang dalam masalah itu. Rukia menggeleng cepat.

"Ti-Tidak apa! Justru itu lebih baik karena aku tidak mau merepotkan kalian semua! Tapi ngomong-ngomong, darimana kalian tahu aku dan Ichigo berada di rumah sakit?" tanya Rukia. Keempat sahabat Ichigo itu saling berpandangan lalu tersenyum kecut mendengar pertanyaan Rukia.

Kokuto pun yang ambil bagian menceritakannya. "Jadi begini ceritanya..."

Flashback

"Renji, apa Ichigo sedang ada di rumahmu?" sebuah pertanyaan dari Kurosaki Masaki yang sedang berkomunikasi dengan Renji lewat ponselnya itu membuat Renji dan teman-temannya yang sedang berkumpul di rumahnya heran.

"Tidak. Ichigo sedang tidak bersama kami. Memangnya dia belum pulang?" tanya Renji balik. Dari ponsel, terdengar suara helaan nafas dan keluhan dari Masaki. "Belum. Dari mulai berangkat sekolah hingga sekarang dia tidak kunjung pulang atau memberi kabar. Aku benar-benar khawatir. Kukira anak itu sedang bersama kalian."

"Hmm... begitu ya. Baiklah, beliau tenang saja. Aku dan yang lainnya akan mencari Ichigo di tempat-tempat yang biasa dia datangi. Aku pastikan Ichigo pasti akan pulang!"

"B-Baiklah. Terima kasih ya, Renji. Mohon bantuanmu."

Pembicaraan pun berakhir. Semua yang ada di sekitar Renji menatap pemuda berambut merah itu dengan heran. "Ichigo hilang dan kau menyuruh kami untuk mencarinya? Kau gila. Mana kita tahu di mana Ichigo?" keluh Kokuto yang mengikuti percakapan tadi.

"Kita tidak perlu mencarinya jauh-jauh. Bukankah tadi Ichigo pulang bersama Rukia? Jadi pasti Ichigo kini berada di rumah Rukia. Ayo ke sana!"

Akhirnya dengan terpaksa pun, Renji, Kokuto, Kaien dan Ishida pergi ke rumah Rukia untuk memastikan keberadaan Ichigo di sana.

# # #

"A-Apa-apaan ini?" teriak Kaien dan yang lain melihat darah yang cukup banyak membasahi lantai rumah Rukia. Keempat pemuda itu memang merasa aneh begitu tadi tiba di rumah kediaman Kuchiki. Keadaan rumah Rukia terlihat mengerikan. Pintu rumah dibiarkan terbuka dan sama sekali tidak ada sahutan saat mereka memanggil nama Rukia. Sepi. Akhirnya tanpa permisi, keempat teman Ichigo itu memasuki rumah dan melihat darah yang membuat mereka terkejut itu.

"Apa yang terjadi? Apa jangan-jangan..." Ishida menggantungkan ucapannya.

"Jangan-jangan apa?"

"Jangan-jangan Ichigo dibunuh oleh si mantan pemimpin Yakuza, Byakuya. Lalu saat ini mayatnya sedang disembunyikan olehnya di suatu tempat." lanjut Ishida sambil menopang dagunya ala detektif.

"TIDAK MUNGKIN! DAN JANGAN SAMPAI ITU TERJADI!" tampik yang lainnya begitu mendengar analisis Ishida yang mengerikan itu.

Tep...

Sebuah suara langkah mengejutkan keempat pemuda di tempat kejadian tersebut. Reflek, mereka langsung menoleh ke asal suara tersebut. Dengan bersamaan, mata mereka membulat melihat seseorang di hadapan mereka yang berdiri dengan muka ketakutan melihat darah di lantai rumah Rukia.

"A-Apa yang terjadi? Apa yang terjadi pada Rukia-chan...?" ucap orang itu gemetar.

"K-Kalau tidak salah, dia kan wanita, akh! Bukan, maksudku laki-laki yang pernah bercinta dengan Ichigo." bisik Renji pada Kokuto.

"S-Siapa kau?" tanya Kaien. Orang itu mengalihkan pandangannya dari lantai menjadi ke arah Kaien. Tiba-tiba mata orang itu berbinar-binar melihat Kaien. Pemuda yang ditatapnya itu terhentak kaget melihat keanehan respon dari orang yang melihatnya dengan mata berbinar-binar. Secepat kilat, laki-laki itu tiba-tiba melompat memeluk Kaien dengan kuat. "Ichigoooo~ aku merindukanmu~!" ucapnya riang.

Ishida, Kokuto dan Renji yang melihat pemandangan mengerikan itu melongo. Sedangkan Kaien memucat seketika dengan mulut terbuka karena selama hidupnya, baru kali ini ia dipeluk sesama jenis. Atau lebih tepatnya ia menyebutkannya 'tak diketahui jenisnya'. Tubuhnya langsung merinding karena laki-laki tak dikenalnya itu memeluknya lebih kuat. "GYAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"

# # #

"Aku Ayasegawa Yumichika, tetangga Rukia! Maaf ya, Kaien, kukira kau Ichigo yang tampan yang dulu pernah hampir bercinta denganku~! Habis kalian mirip sih!" ternyata Yumichika-lah orang aneh yang muncul di depan mereka. Pria dengan alis aneh itu tersenyum-senyum centil ke arah keempat teman Ichigo itu, membuat bulu kuduk mereka berdiri.

"A-Ano, Yumichika-"

"Panggil aku Yumi-chan atau Ayase-chan~!" pinta Yumichika dengan manja. Renji hanya menggelengkan kepalanya menaggapi Yumichika yang benar-benar super aneh dan tak ber-kejantanan (?) itu.

'Kasihan Ichigo sampai harus hampir bercinta dengan orang seperti ini,' pikir mereka berempat.

"Umh, jadi, Ayase-chan, apa kau tadi melihat ke mana perginya orang-orang di rumah ini? Dan kenapa sampai ada darah di sini? Apa kau tahu kejadiannya?" tanya Renji mengintrograsi. Yumichika malah tersenyum-senyum mendengar pertanyaan bertubi-tubi dari Renji yang memberinya sebuah kesempatan emas untuk mendapatkan sesuatu dari keempat laki-laki tampan itu.

"Ya. Aku tahu ke mana mereka pergi. Tapi aku tidak tahu bagaimana kejadiannya hingga ada darah seperti ini."

Jawaban dari Yumichika langsung membuat Kaien dan yang lain mendekatinya dan membujuknya agar cepat memberitahukan di mana keberadaan Ichigo dan yang lain. Kaien secara reflek mengguncangkan tubuh Yumichika sambil menatapnya serius.

"Cepat katakan di mana mereka!"

"Tapi ada syaratnya kalau kalian ingin mengetahui keberadaan mereka."

"Syarat?" ulang keempat laki-laki itu heran. Mereka saling berpandangan, perasaan mereka sedikit tak enak begitu seorang Yumichika mengajukan sebuah syarat. Semoga tidak yang aneh-aneh, itulah harapan mereka. "Jadi, apa syaratnya?" mendengar pertanyaan itu, Yumichika bersorak dalam hati.

"Cium aku, Kaieeen~! kau benar-benar mirip Ichigo yang tampan, aku ingin orang setampan Ichigo menciumku~!"

JLEGAAAAAAAAAAAR!

Otak Kaien seakan dibakar oleh api yang berasal dari seekor Goodzilla raksasa yang kemudian diinjak-injak hingga tak bersisa. Dari ujung kaki hingga ujung kepala, tubuh Kaien seketika membatu keras setelah mendengar syarat mengerikan itu.

"K-Kaien, berjuanglah! Hanya ini satu-satunya cara agar kita bisa menemukan keberadaan Ichigo!" ucap Ishida menyemangati.

"ENAK SAJA! KENAPA AKU TERUS YANG DAPAT SIALNYA?" balas Kaien dengan tangis yang tiba-tiba keluar seperti air terjun dari matanya.

"Tidak perlu bibir. Cium saja aku di pipi~!"

'Itu sama saja tetap menjijikkan!' batin Kaien yang masih pucat melihat Yumichika menunjuk-nunjuk pipinya sendiri. Karena hanya Yumichika yang tahu di mana keberadaan Ichigo, mau tak mau dan karena paksaan dari yang lain, akhirnya Kaien dengan separuh jiwanya yang pergi menuruti syarat yang diberikan Yumichika. Kedua tangan Kaien gemetar merengkuh pundak Yumichika. Ditatapnya mata Yumichika dengan bulu mata aneh menghiasi matanya. Aaah... menjijikkan, komentar Kaien yang baru pertama kali melakukan hal seperti ini. Mencium sesama jenisnya. Padahal dia tidak maho.

"Goo! Goo! Kaien!" teriak Renji memberi semangat ala cherleader pada Kaien.

"Ganbatte, Kaien!"

"Tabahkan hatimu!" Renji, Ishida, Kokuto menyemangati Kaien. Mereka turut berduka cita atas musibah yang Kaien alami saat ini. Sepertinya hari ini seharian penuh Kaien akan mencuci mulutnya hingga 24 jam penuh setelah bibirnya mendarat di pipi Yumichika.

2... 3...

CUP!

Akhirnya sebuah ciuman di pipi mendarat di pipi mulus nan putih milik Yumichika. Tubuh Kaien langsung melemas dan ambruk setelahnya. "K-Kaien! bertahanlah! Jangan mati!" Ishida menepuk-nepuk pipi Kaien agar pemuda berambut hitam yang mirip dengan Ichigo itu sadar. Melihat raut muka Kaien, Ishida menyimpulkan bahwa Kaien telah kehilangan separuh nyawanya.

"Jadi, di mana mereka?" tanya Kokuto yang merusak kesenangan Yumichika dengan cara menari-nari karena telah mendapatkan sebuah ciuman dari cowok cakep. Yumichika berdehem sebelum menjawab pertanyaan Kokuto.

"Tadi kulihat Rukia dan Ichigo menggotong Byakuya yang entah sepertinya sedang pingsan. Mereka naik sebuah mobil ambulans sambil Ichigo berteriak 'Rumah sakit Karakura', jadi pasti mereka ada di rumah sakit! Aku yakin itu." semua terkejut mendengar jawaban dari Yumichika. Byakuya, jadi ini bukanlah darah dari tubuh Ichigo, tapi darah dari tubuh Byakuya.

"Baiklah. Aku harus pergi dulu! Terima kasih atas ciumannya~!" Yumichika keluar dari rumah kediaman Kuchiki sambil melambaikan tangannya dengan riang gembira. Setelah mendengar informasi dari Yumichika, Renji, Kokuto dan Ishida saling berpandangan. Mereka mengangguk bersamaan, setuju bahwa mereka harus segera ke rumah sakit Karakura bersama. Tapi ada satu yang ketinggalan. Kaien! Ketiga orang itu menoleh ke tempat Kaien. Pemuda itu berjonggkok sambil menghitung uang dari dompetnya dengan aura shock yang luar biasa. "Se-Sedang apa kau, Kaien?" tanya Kokuto heran pada apa yang dilakukan sahabatnya.

"Sepertinya aku harus operasi plastik agar tidak ada orang aneh yang mengira aku Ichigo..."

End Flashback

"Begitulah ceritanya hingga membuat kami dapat menemukan kalian di sini." Kokuto mengakhiri ceritanya. Rukia tertawa kecil setelah mendengarnya sambil menatap Kaien dengan iba.

"Ngomong-ngomong, kenapa kakakmu bisa sampai seperti ini?" tanya Ishida penasaran diikuti dengan anggukan yang lain yang juga ingin tahu kejadiannya. Rukia menundukkan kepalanya. Tangannya meremas rok seragamnya yang sedikit basah karena tetesan air matanya."Entahlah. Saat pulang tadi, aku sudah menemukan Nii-sama dalam keadaan penuh darah. Aku tidak tahu siapa yang menyerangnya. Tadi kata dokter, Nii-sama terluka karena luka tusuk di tubuhnya sebanyak 3 tusukan." jelas Rukia. Semua terdiam. Siapa yang bisa mengalahkan seorang mantan pemimpin yakuza seperti Byakuya?

Pintu ruangan yang Byakuya tempati tiba-tiba terbuka. Seorang dokter keluar dari ruangan itu. Melihat itu, Rukia dan yang lain langsung berhambur mendekat pada sang dokter untuk mengetahui kabar apa yang akan diberikannya pada sang dokter tentang keadaan Byakuya. Akankah kabar baik, atau...

"Dokter, bagaimana dengan keadaannya?" tanya Rukia dengan cemas dan penuh harap agar sang dokter memberikan kabar baik untuknya. Sang dokter menghela nafas dengan berat, menambah suasana tegang di antara semuanya itu. Dengan muka serius, mata sang dokter menatap mata violet Rukia. Detak jantung Rukia memacu cepat karena sang dokter yang menatapnya dengan serius itu. Perasaannya terasa tak enak.

"Untunglah kau cepat-cepat membawa kakakmu ke sini hingga ia bisa lolos dari keadaan kritisnya." kabar yang diberikan sang dokter membuat Rukia dan yang lain terkejut sekaligus bahagia. Helaan nafas lega terdengar dari mereka. Rukia yang sangat bahagia karena orang yang disayanginya tertolong itu menangis, tak kuasa menahan bahagianya yang amat dalam dan bersyukur. Telapak tangannya menutupi wajahnya yang menangis, menutupinya agar teman-teman Ichigo itu tidak melihatnya. Namun meski begitu, tetap saja Renji dan yang lain dapat melihatnya. Tangan Renji mengacak rambut hitam Rukia sambil tersenyum pada gadis itu. "Syukurlah kakakmu selamat. Kau harus memberitahunya pada Ichigo." ujar Renji.

Gadis bermata violet itu mengangkat kepalanya. Dengan air mata yang masih keluar dari mata violetnya, ia tersenyum bahagia. "Iya!" jawabnya dengan senyum yang teramat manis, membuat Renji, Ishida dan Kaien yang melihatnya merona karena senyuman manisnya itu. Ketiga orang itu kemudian memalingkan mukanya masing-masing dari hadapan Rukia, menyembunyikan rona merah yang ada di wajah mereka. 'Uhh... Senyuman maut!' teriak mereka dalam hati.

Sementara itu, Kokuto yang berada tak jauh dari pintu masuk ruangan Byakuya itu, melirik Byakuya yang masih tak sadarkan diri di kasurnya. Pemuda berambut putih itu mengerutkan alisnya melihat keadaan Byakuya yang terlihat begitu lemah. Tanggannya mengepal kuat, otaknya terus bertanya-tanya siapa yang melakukan ini pada Byakuya, orang yang punya suatu hubungan dengannya. 'Tuan Byakuya...' batinnya dalam hati.

# # #

Langkah seorang gadis mungil yang tadinya berlari keluar dari rumah sakit itu kini terhenti. Ia menyandarkan tubuhnya di tembok bagian luar rumah sakit. Dengan nafas terengah-engah, ia mengambil ponsel dari saku seragamnya. Senyum terpancar di wajahnya sambil menekan-nekan sebuah nomer yang ingin ditujunya. Setelah menunggu sambungan, beberapa saat kemudian, teleponnya diterima dari lawan bicaranya.

"Rukia, ada apa?" tanya orang yang menjadi lawan bicara Rukia. Gadis bermata violet itu tersenyum riang sebelum menjawab pertanyaan dari lawan bicaranya itu.

"Ichigo, Nii-sama tertolong. Nii-sama masih bisa selamat," balas Rukia dengan nada yang terdengar riang dengan sedikit isakan tangis. Ichigo, lawan bicaranya itu terdengar menghela nafas lega.

"Syukurlah. Sekarang aku sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Kau tunggu aku ya. Aku akan menemanimu di rumah sakit malam ini."

"E-Ekh? Tidak usah, ini sudah terlalu malam! Kembalilah pulang, aku ini hanya merepotkanmu saja. Lebih baik besok saja jika kau ingin menjenguk Nii-sama,"

"Tidak, Rukia. Tidak apa-apa kok, aku tidak merasa kerepotan. Lagipula aku sudah minta ijin pada kedua orang tuaku untuk menemanimu di rumah sakit, jadi tenang saja. Ya sudah, tunggu aku sebentar lagi ya, aku akan sampai di rumah sakit sebentar lagi."

"T-Tapi, Ichigo!"

Rukia terlambat untuk melarang Ichigo menuju rumah sakit. Gadis itu menggelengkan kepalanya, ternyata sifat kekasihnya itu benar-benar keras kepala. Mau tak mau, ia pun harus menuruti keinginan Ichigo walau pun padahal sebenarnya ia benar-benar sangat merasa kalau ia merepotkan kekasihnya itu. Meski begitu, gadis mungil itu sangat senang dengan Ichigo yang mau menemaninya malam-malam begini. Bukankah itu artinya Ichigo sangat perhatian padanya? Dan itu membuktikan bahwa seorang Kurosaki Ichigo, siswa Karakura Gakuen yang paling mesum, suka mempermainkan hati peempuan se-sekolah itu telah berubah menjadi seseorang yang bisa tulus mencintai satu orang gadis yang menjadi pilihannya, yang menjadi kekasihnya, yaitu Kuchiki Rukia. Seperti seorang yang sedang baru saja merasakan kasmaran, Rukia terus tersenyum-senyum. Kabar baik tentang keadaan kakaknya dan malam ini ditemani seorang kekasih membuatnya merasa menjadi gadis paling beruntung di dunia. Rukia pun membalikkan badannya untuk segera kembali ke dalam rumah sakit, kembali menemani kakaknya yang masih belum sadarkan diri itu. Tapi, seseorang yang berada tepat di hadapnnya itu membuat Rukia tak sengaja menubruk tubuh orang itu.

Gadis itu mengelus permukaan kulit wajahnya karena tertubruk cukup keras dengan tubuh orang itu. "M-Maaf, aku tidak lih-"

Karena orang itu bertubuh tinggi, Rukia mendongakkan kepalanya agar dapat melihat wajah orang yang ia tubruk itu. Mata violetnya menatap laki-laki berambut biru yang ada di depannya. Laki-laki itu balas menatap Rukia dengan terkejut. Mata violet dan mata biru yang senada dengan warna rambut laki-laki itu saling berpandangan. Tiba-tiba kedua tangan laki-laki yang tak dikenal Rukia itu merengkuh kedua pundak Rukia.

"K-Kau, Hisana...? kau Hisana kan?" ucapnya dengan sedikit berteriak tak percaya. Rukia cukup terkejut dengan apa yang dikatakan laki-laki itu. Ia bukan terkejut karena laki-laki itu sembarangan menyentuhnya, melainkan karena laki-laki itu mengenal kakak perempuannya yang telah tiada, Kuchiki Hisana. Tubuh mungil Rukia bergetar mendapat tatapan tajam dari mata biru itu.

"A-Aku bukan Hisa-"

"KAU PASTI HISANA! KAU INGAT AKU BUKAN!"

Zragh!

Tiba-tiba tanpa Rukia duga, seseorang yang menggunakan sepatu roda menggendongnya secara bridal style dengan cepat. Rukia terkejut bukan main karena ia yang tadinya berdiri, tanpa disaradarinya telah berada dalam gendongan seseorang. Orang itu membawa Rukia menjauh dari laki-laki berambut biru itu meski laki-laki itu berteriak agar si orang yang menggunakan sepatu roda itu menghentikan aksinya. Namun sia-sia, orang bersepatu roda yang membawa kabur Rukia dari laki-laki itu kini sudah menjauh dan menghilang dari pandangannya. "Cih, sialan!" umpat laki-laki berambut biru yang memanggil Rukia dengan panggilan Hisana itu.

# # #

"A-Apaa-apaan ini? Siapa kau? Lepaskan aku!" teriak Rukia yang masih dalam gendongan orang yang membawanya ke suatu tempat, orang yang terlihat ahli dalam bersepatu roda itu. Rukia sedikit heran pada orang itu karena orang itu tidak menjawab sepatah kata pun padanya dan orang itu memakai sebuah topeng untuk menutupi wajahnya. Akhirnya dengan berani, Rukia pun menekan kepala orang itu hingga membuat orang itu menunduk dan memperlihatkan bagaimana bentuk wajahnya. Namun, Rukia malah sangat terkejut saat melihat wajah orang itu. Meski gelap karena malam telah tiba, namun matanya masih bisa menangkap objek yang ia lihat itu.

"K-Ksatria baja hitam!" teriaknya kaget melihat siapa orang yang menggendongnya itu. Tiba di suatu tempat, orang itu menghentikan perjalanannya yang menggunakan sepatu roda. Ternyata Rukia dibawanya ke halaman belakang rumah sakit yang sangat sepi, seperti sebuah tempat persembunyian. Orang itu menurunkan Rukia dengan hati-hati dalam gendongannya. Setelah tangannya terlepas dari tubuh Rukia, tangan itu menarik sebuah topeng ksatria baja hitam yang dipakainya, yang dikiranya Rukia adalah wajahnya.

"Fuuuh... baka. Aku ini bukan ksatria baja hitam yang kau bilang!"

"K-Kokuto!" pekik gadis bermata violet itu yang mengetahui siapa orang yang telah menggendongnya. Matanya memperhatikan ke bawah, memperhatikan sepatu roda yang Kokuto kenakan. Rasa kagum muncul dalam diri Rukia karena tahu kalau ternyata Kokuto itu bisa mengendarai sepatu roda.

"H-Hebat! Sejak kapan kau bisa memakai sepatu roda? Gayamu tadi benar-benar seperti seorang profesional!" puji Rukia dengan mata berbinar-binar. Kokuto hanya tersenyum kecut, berusaha menahan rasa ge-er tingginya yang sudah menjadi sifatnya itu. Laki-laki berambut putih itu menggeleng-gelengkan kepalanya agar ia bisa menghilangkan pemikiran-pemikiran tidak pentingnya dan menggantinya dengan pemikiran serius karena tujuannya membawa Rukia kabur adalah memberitahu kepada gadis itu tentang suatu hal.

"A-Ano, Rukia, lebih baik kau jangan coba-coba mendekati orang tadi atau hindarilah dia jika kau bertemu lagi dengannya." peringat Kokuto sambil menatap gadis mungil itu dengan serius. Rukia mengerutkan dahinya tidak mengerti.

"Kenapa? Aku tidak mengenalnya, tapi ada sesuatu yang membuatku penasaran dengan orang berambut biru tadi. Dia mengenal kakakku. Dan aku ingin bertemu lagi dengannya untuk menanyakan apa hubungan dia dengan kakakku," balas Rukia. Kokuto menepuk jidatnya pelan mendapati sikap polos Rukia. Harusnya perempuan manapun jika melihat penampilan dari laki-laki berambut biru tadi yang cukup seram dan berkesan berandal, perempuan itu pasti tidak akan ingin bertemu kembali dengannya. Namun Rukia malah kebalikannya. Kokuto mengacungkan ibu jarinya ke belakang, ke arah rute di mana tempat tadi yang menjadi tempat Rukia dan laki-laki itu bertemu.

"Dia, laki-laki yang kau temui tadi adalah musuh kakakmu, Byakuya. Laki-laki yang kau temui itu adalah laki-laki yang kejam," jelas Kokuto. Rukia yang masih tidak mengerti hanya memilih diam.

"Dia adalah Grimmjow Jaegerjaquez, laki-laki yang telah melukai Byakuya." lanjut Kokuto. Gadis bermata violet itu tersentak kaget begitu mendengarnya. Secara refleks, tangan Rukia langsung menarik kaos yang Kokuto kenakan itu. Rukia memandangnya dengan tak percaya apa yang telah pemuda itu ucapkan.

"Kau jangan bercanda! Jangan bercanda bahwa dia adalah orang yang melukai Nii-sama! Dari mana kau tahu semuanya! Kenapa kau tahu tentang Nii-sama!" tanya Rukia bertubi-tubi pada Kokuto yang hanya diam di tempatnya. Bibir Rukia gemetar. Gadis itu semakin mencengkram kaos Kokuto dengan erat.

"Kenapa kau dulu bisa tahu kalau Nii-sama adalah mantan ketua yakuza di Osaka waktu Nii-sama baru pertama kali bertemu dengan Ichigo? Kenapa kau tahu bahwa orang itu musuh Nii-sama? Siapa kau yang sebenarnya, Kokuto... apa hubunganmu dengan Nii-sama? Jelaskan semuanya padaku!" suara Rukia semakin terdengar lirih. Keadaannya terlihat begitu menyedihkan, namun tidak bagi Kokuto. Pemuda itu malah terus diam sampai dirasanya Rukia sudah cukup tenang. Tangan pemuda itu perlahan melepas tangan Rukia pada kaosnya dan beralih menggengam tangan mungil itu.

"Aku adalah anak buah Byakuya saat dia masih menjadi mantan ketua yakuza di Osaka."

"A-apa? J-jadi, Kokuto, kau..."

"Ya. Aku adalah anak buah Byakuya. Aku tahu masa lalu Byakuya, makanya, aku pun juga tahu siapa musuh kakakmu itu, Rukia."

Kedua mata itu saling menatap. Rukia terdiam. Gadis itu masih terkejut dengan pernyataan Kokuto. Ia tak menyangka bahwa Kokuto, teman Ichigo yang baik, menyenangkan dan lembut itu dulunya adalah anak buah dari ketua yakuza. Suasana diantara mereka berubah hening. Hanya ada angin yang berhembus kencang diantara mereka...

# # #

"Kamar rawat nomer 224, nomer 224..." gumam seorang pemuda berambut oranye yang sedang berjalan melewati berbagai kamar-kamar rumah sakit Karakura yang selalu ada di setiap jalan yang ia lewati. Ichigo menoleh-noleh ke setiap kamar yang ia lihat, ia cermati baik-baik angka-angka yang tertera pada pintu di setiap kamar. Kakinya berhenti melangkah begitu mendapat sesuatu yang dicarinya, kamar 224.

"Itu dia!" ujarnya lalu berlari ke arah kamar rawat Byakuya, yaitu kamar nomer 224. namun begitu sampai di sana, pemuda itu nampak kecewa karena di sekitar tempat itu tak ada siapa-siapa. Tak ada keberadaan gadis yang sedang dicarinya. Rukia. Ichigo menjadi sedikit ragu dengan kamar yang ada di depannya itu. Jika itu memang kamar rawat yang Byakuya tempati, harusnya Rukia pasti duduk di sekitar tempat itu. Namun ia tak melihat sedikitpun sosok gadis mungil itu. "Apa aku salah kamar ya?" tanyanya sambil menggaruk pipinya dengan jari telunjuknya.

"Ah, sudahlah. Mungkin Rukia sedang pergi membeli sesuatu. Biar aku masuk ke dalam menemani Byakuya sambil menunggunya." Ichigo kemudian memutar kenop pintu kamar tersebut. Tapi sebuah tepukan tangan di pundaknya sedikit menganggetkannya hingga membuatnya batal untuk masuk ke dalam kamar nomer 224 itu.

"Hey, bocah. Apa benar ini kamar rawat Kuchiki Byakuya?" tanya asal sebuah suara dari belakang tubuh Ichigo. Dengan malas, Ichigo menoleh ke belakang. Begitu menoleh ke belakang, yang ia lihat malah sebuah tubuh kekar berotot yang besar. Ternyata orang yang ada di belakangnya itu terlalu tinggi untuknya hingga ia harus sampai mendongakkan kepalanya. Mata hazelnya membulat, keringat dingin langsung menetes dari dahinya, rasa takutnya sedikit muncul begitu melihat orang itu.

"Hey, bocah! Jawab pertanyaanku!" ulang orang itu setengah berteriak menyakan kembali pertanyaan tadi. Dengan cepat, Ichigo segera menjawabnya. "Y-Ya! ini kamar rawat Kuchiki Byakuya!"

Orang itu tersenyum lebar. "Minggir. Aku ada urusan dengannya."

Ichigo perlahan menggeser posisinya untuk memberi jalan masuk pada orang itu. Meski takut dengan penampilan orang itu, Ichigo yang takut terjadi apa-apa dengan Byakuya nantinya, akhirnya berani bertanya pada orang itu. Pertanyaan yang menggantung di pikirannya.

"Si-Siapa kau? Apa urusanmu dengan Kuchiki Byakuya?"

Orang itu sejenak terdiam kemudian menoleh pada Ichigo. Seringaian yang cukup bisa membuat beberapa orang pasti ketakutan itu muncul di wajahnya. "Aku Zaraki Kenpachi, ketua gerombolan yakuza di Karakura."

To Be Contiuned...

Ya-Haaaa! Hiru balik lagi nih, maaf, kayanya tiap chapter makin aneh ya? Seaneh authornya, wkwkwkw XD. Ah, author ini sebenarnya akhir-akhir ini selalu membayangkan yang keren-keren tentang chara bleach! Salah satunya si Kokuto yang lagi maen sepatu roda, uhuuuy~ pasti keren tuh . -ga penting. Okelah, gak banyak cincong, aku bales repiu ajalah dulu! XD

Balesan repiu : :

Kurosaki Miyuki : Ehehe, maaf, aku lagi seneng ByaHisa, jadi IchiRukinya kegeser. Fic yang lain secepatnya akan segera apdet ^^

Putri kecil kuw : Byakuya gak mati kok XD

Ika Chan : Yupz, inilah jadinyaXD

D3rin : Byakuya gak mati kok ^^

Arashi Arashi For Dream : Wedeh, pantunnya masih lancar nih XD

Mezuraven Randy : Gpp kok bolong-bolong repiunya, byakuya gak mati kok ^^

Kei Amakura : Makasih ^^

Twingwing Rurake : Saya juga suka Byakuya jadi kejam XD

Meyrin Kyuchan : Jawabannya ada di chapter ini ^^

Reina Rukii : Yupz, masih kurangkah IchiRukinya? ^^a

Mugiwara 'Yukii' UzumakiSakura : Byakuya gak mati, tapi teror Grimmjow masih belum berakhir lho D

Voidy : Yapz, emang di sini aku buat Byakuya ama Ichigo itu sama, sekaligus antara Hisana juga Rukia. Dulunya Grimm emang pengecut, tapi sekarang kagak! XD

Shira Roles : Yipz, ini udah apdet ^^

Luna 'ruru' Kuchiki : Jawabannya di chapter ini ^^

Orang iseng : ini udah apdet ^^

Weasel Arya-chan : Yapz, ggp kok. Makasih atas repiunya ^^

Wokeh, sekali lagi makasih atas yang sudah repiu n yang sudah mau baca walau tanpa Repiu ^^, author tetap menghargai ^^

Sekian akhir kata, Jangan lupa repiunyaaa~! tunggu Kenpachi vs Grimmjow! D -hah?-