"Bukan! Bukan! Bukan! Bukaaaan!"

Ichigo terus saja membuka satu persatu pintu ruangan bangunan yang menjadi markas Grimmjow. Dia terus berlari mencari-cari setiap pintu yang ia temukan. Pemuda itu terus menggerutu kesal karena sudah sekitar 10 pintu yang ia buka, namun tidak ada apa-apanya. Dan tak lama kemudian, sebuah pintu yang berbeda dari pintu-pintu lainnya ia temukan.

'Mungkin di sini ada Rukia!' pikir Ichigo. Ia memutar kenop pintu yang sudah terlihat tua itu. Tapi dak bisa terbuka. Berkali-kali Ihigo terus memutar kenop itu agar terbuka, tapi tetap saja usahanya sia-sia. Karena sudah sangat kesal, tanpa pikir panjang Ichigo meraih sebuah kayu besar yang tergeletak di dekat pintu itu. Diangkatnya kayu itu dan ia mengancang-ancang untuk memukulkannya ke pintu.

"Aku sudah marah. Jadi jangan salahkan aku kalau aku... MERUSAK PINTUNYA!"

Dan... Braaak!

Pintu yang susah dibuka itu pun jebol karena hantaman kayu yang diayunkan Ichigo. Pintu itu roboh dan membuat pemandangan di dalamnya dapat terlihat. Ichigo pun segera masuk ke dalam ruangan itu dan betapa terkejutnya ia melihat kekasihnya, Rukia dengan seragam yang hampir terlepas dari tubuhnya itu ditindih oleh lelaki yang ia kenal adalah Grimmjow. Kerusuhan itu membuat Rukia dan Grimmjow meoleh pada Ichigo yang baru saja memasuki ruangan itu. Air mata Rukia keluar semakin banyak begitu meliha sosok pemuda berambut oranye yang terengah-engah itu.

"Akhirnya aku menemukanmu, midget."

Disclaimers : : Tite Kubo

Warning : : OOC, Typo, AU, Gaje, Abal, Uaneh, dll! Sedikit lime! (mungkin)

I Can Change You Chapter 10

Grimmjow menjauhkan tubuhnya dari tubuh Rukia. Lelaki itu kemudian turun dari ranjangnya dan berdiri di hadapan Ichigo. Ia tertawa seolah meremehkan Ichigo.

"Hahaha. Bisa apa kau? Kau hanya bocah SMA tak tahu diri. Kau pikir kau bisa melawanku? Ah, tapi kau cukup pantas mendapat pujian karena kau tidak terlambat menyelamatkan kekasihmu ini. Karena kalau kau terlambat, Kuchiki Rukia mungkin sudah kehilangan sesuatu yang penting bagi seorang wanita."

"Bedebah!"

Ichigo segera melayangkan pukulannya ke arah Grimmjow, tapi dengan mudahnya pria berambut biru itu menahan kepalan tangan Ichigo dengan satu tangan. Tapi itu tidak membuat Ichigo kehilangan akal, kakinya dengan cepat menendang tubuh Grimmjow sekuatnya. Itu berhasil. Grimmjow melepas tangan Ichigo yang ditahannya lalu meringis kesakitan setelah menerima tendangan itu. Tatapan Grimmjow langsung berubah penuh amarah. Dengan cepat, ia bangkit mendekati Ichigo. Tangannya langsung mencekik leher Ichigo dan dihantamkannya dengan keras tubuh Ichigo ke tembok, membuat rasa sakit itu terasa 2x lipat. Ichigo memekik kesakitan menerima serangan mendadak dari Grimmjow.

"Ichigo!" teriak Rukia. Gadis itu tidak bisa bergerak. Tangannya masih terikat. Ia hanya bisa melihat Ichigo yang tersiksa. "Sial! Grimmjow, lepaskan Ichigo!" Rukia terus menggerak-gerakkan tangannya untuk membuat celah ikatan tali di tangannya itu.

Grimmjow menoleh padanya. Seringaian muncul di wajahnya. "Jadi namanya Ichigo ya? Lihatlah, Rukia! Sebentar lagi dia akan mati!" cekikan Grimmjow semakin kuat. Ichigo mengerang merasakannya. Oksigen! Oksigen! Dia menggengam pergelangan tangan besar Grimmjow dan berusaha untuk melepasnya. Tapi tenaga Grimmjow terlalu kuat. Kekuatannya tak mungkin bisa menyamai si pemimpin gerombolan di Osaka itu, orang yang mengambil alih posisi Byakuya.

"Mati kau, Ichigo!" Grimmjow menarik sebilah pedang dari sarung pedangnya yang berada di pinggulnya. Pedang itu bersiap ditebakan di tubuh Ichigo.

"Ichigo!" jerit Rukia yang kemudian menutup matanya rapat-rapat. Gadis itu menoleh ke arah lain sambil menggumamkan doa, berharap Ichigo selamat.

Jraassh!

Darahnya terciprat dengan derasnya. Darah itu terus merembes dari tubuh. Darah itu keluar karena sabetan pedang yang mengenai bagian tubuh lelaki itu. Bukan Ichigo, melainkan Grimmjow yang terluka karena sabetan pedang yang berasal dari belakang dan mengenai punggungnya itu. Tangan yang mencekik leher Ichigo itu terlepas. Pria bermata yang senada dengan rambutnya itu tiba-tiba ambruk diikuti Ichigo yang ikut jatuh terduduk sambil terbatuk-batuk. Dan sosok di belakangnya pun terlihat. Ichigo mendongakkan kepalanya untuk melihat orang yang menebas Grimmjow tersebut.

"Ken... Pachi?" ucapnya kaget yang melihat Kenpahi berdiri di hadapannya dengan pedang yang ternoda darah Grimmjow itu.

"Yo, bocah rambut jeruk." balas Kenpachi dengan seringaian khasnya. Kenpachi menaik kerah seragam Ichigo agar berdiri dan mendorongnya ke tempat Rukia. Ichigo yang bingung dengan maksud Kenpachi hanya memilih diam. Tak tahu apa yang harus dilakukannya.

"Kenpachi, ini-"

"Cepat bawa Rukia dan teman-temanmu pergi dari sini. Biar Grimmjow kuurus." titah Kenpachi tanpa mengalihkan pandangannya pada Grimmjow yang ada di bawahnya.

"Tapi-"

"JANGAN BANYAK BICARA, CEPAT KELUAR DARI SINI! BYAKUYA MENUNGGUMU, BOCAH SIALAN!" teriak Kenpachi lebih keras dan lantang agar Ichigo mau melakukan apa yang dia minta. Ichigo mengangguk cepat. Ia mempercayakan urusan Grimmjow pada Kenpachi. Cepat-cepat Ichigo melepas ikatan tali yang ada di tangan Rukia dan menggendongnya ala pengantin.

"E-Ekh? Ichigo, aku bisa jalan sendiri!" protes Rukia yang meronta untuk diturunkan. Tapi Ichigo tak mempedulikannya dan berjalan keluar dari ruangan penuh darah Grimmjow itu. Mata hazel Ichigo melirik ke Kenpachi. Bibirnya menyunggingkan senyum kecil.

"Terima kasih, ketua yakuza!" pamit Ichigo pada Kenpachi sebelum dia berlari meninggalkan tempat itu. Setelah tak terasa tanda-tanda keberadaan Ichigo, Kenpachi tersenyum. Pedang senbonzakura milik Byakuya yang dipinjamkan untuk menebas Grimmjow itu ia tancapkan di sebelah kepala Grimmjow.

"Cih. Yakuza macam apa kau? Seorang yakuza itu tidak akan melakukan hal bodoh seperti ini demi cinta. Hisana sudah mati, jadi diantara kau dan Byakuya, tidak akan ada yang mendapatkan gadis itu. Percuma kau melakukan hal seperti ini kalau pada akhirnya kau tetap tidak mendapatkan gadis yang kau cintai bukan?"

"Kau... Tidak membunuhku?" ucap Grimmjow dengan nafas terengah. Kenpachi tersenyum lebar mendengar ucapan Grimmjow yang dianggapnya konyol itu.

"Tidak. Lebih baik kau jadi koleksiku (anak buah) daripada aku membunuhmu."

# # #

Ichigo POV

"I-Ichigo, turunkan aku! Aku bisa jalan sendiri! Aku-"

"Bisa diam tidak, midget!"

Arrgh! Sial. Rukia sudah berhasil kuselamatkan, tapi emosiku masih saja terkobar. Meski aku merasa bersyukur dan lega, tapi tetap saja ada rasa khawatir pada teman-temanku. Kokuto, Renji, Ishida dan Kaien. Bagaimana dengan mereka? Setelah kubentak, Rukia kini jadi banyak diam. Padahal dia selalu berontak dalam gendonganku ini. Tangan mungilnya mencengkram seragamku yang terpasang kacau.

"Kau kenapa?" tanyaku merasa aneh dengan Rukia yang membenamkan wajahnya di dadaku. Ia menggeleng dan masih menyembunyikan wajah manisnya itu.

"Cepat pulang... aku takut. Aku ingin segera pulang dan bertemu Nii-sama." bisiknya. Tangannya yang mencengkram terasa sedikit bergetar. Mungkin dia bahagia karena telah terselamatkan atau mungkin trauma? Ah, keduanya tidak penting. Yang penting sekarang aku sudah menyelamatkanmu, Rukia. Dan aku janji, kejadian bodoh seperti ini tdak akan terulang lagi.

Sudah sampai! Kami akhirnya sudah sampai di tempat Kokuto dan yang lain. Dan pemandangan apa ini? Hebat, yakuza-yakuza yang tadi akan Kokuto dan yang lain sekarang semuanya terkapar di tanah. Kecuali Kokuto dan yang lain. Mereka menunggu kedatanganku yang membawa Rukia di mobil ferrari ayah Kokuto. Wajah-wajah terluka akibat perkelahian itu menghadap padaku yang ada di hadapan mereka.

"Yo, king. Selamat ya sudah berhasil selamatkan ratumu." canda Renji dengan kedipan mata yang dilemparkannya padaku dan Rukia hingga membuat Rukia memerah malu karena candaannya. Aku hanya tertawa lepas mendengarnya dan segera bergabung dengan mereka. Menaiki mobil itu dan kembali ke rumah sakit tempat Byakuya.

Dalam perjalanan, kami saling berbincang. Rupanya, Kokuto meminta pertolongan pada Kenpachi. Dan akhirnya Kenpachi beserta gerombolan yakuza-nya yang kuat-kuat itu berhasil mengalahkan semua anak buah Grimmjow. Kemudian, bagaimana dengan Grimmjow? Tadi baru saja Kokuto mendapat telpon dari Kenpachi kalau Kenpachi membiarkan Grimmjow hidup dan menjadi anak buahnya. Dan saat itu, Grimmjow juga berbicara pada Rukia. Dia meminta maaf atas segala kesalahan yang dia lakukan padanya dan Byakuya. Dan tentu saja, kekasihku yang baik hati ini memaafkannya. Kenpachi dan Grimmjow serta kelompok yakuza yang menjadi anak buahnya pun melakukan perjalanan ke kota-kota Jepang untuk dikuasainya. Ckck, mengerikan.

Sampai di rumah sakit, Rukia segera berhambur masuk ke dalam kamar rawat Byakuya. Gadis itu menangis sambil memeluk kakaknya itu. Sang kakak pun menyambut pelukan hangat adiknya sambil mengucapkan kata maaf berulang-ulang padanya. Lelaki itu akhirnya membongkar rahasia kematian Hisana pada Rukia. Dan untunglah, Rukia menerima kenyataan dengan hati tegarnya itu dan tidak menumbuhkan dendam pada Byakuya meski ia adalah pembunuh kakak kandungnya. Lalu, bagaimana dengan hubunganku dengan Rukia? Hubungan kami tentu semakin dekat. Puas menangis, dia tiba-tiba mengecup bibirku di depan teman-teman dan Byakuya. Bagus bukan? Aku memang tidak keberatan jika dia menciumku di depan teman-teman, tapi jika di depan Byakuya? Paman-paman itu menatapku dengan tatapan horor melihat Rukia menciumku. Oh, rasanya aku akan dibunuhnya karena sudah menyentuh bibir mungil adiknya itu. Begitulah kisah kehidupan kami. Petualangan yang melibatkan yakuza yang benar-benar menengangkan seumur hidup kami. Bukan hanya luka yang kami dapatkan, tapi juga pengalaman berkelahi dan lainnya.

End Ichigo Pov

# # #

"Hoaaaam~!"

Kurosaki Ichigo, seorang siswa SMA Karakura dengan rambut nyentrik khasnya itu baru saja datang. Seperti sehari-harinya, dia langsung meletakkan tasnya ke meja dan menidurkan kepalanya ke meja untuk melanjutkan tidurnya yang dirasanya belum cukup itu.

"Woy, Ichigo! Jangan tidur saja, aku punya game baru nih!" Shiba Kaien, teman Ichigo berambut hitam dengan wajah yang mirip dengan Ichigo itu memamerkan game barunya di ponsel pada Ichigo. Ichigo mengangkat kepalanya dengan malas lalu melihat game di ponsel Kaien yang ditunjukkannya itu.

"Oh..." ucapnya singkat menanggapi Kaien. Ia sudah bosan dengan game-game yang Kaien selalu tunjukkan. Tentu, Ichigo memang tidak berminat pada game.

"Daripada game, aku punya sesuatu yang lebih bagus. Fufufu. Film dengan pemainnya Maria Ozawa!" sambar Renji yang tiba-tiba muncul sambil memamerkan sebuah kaset yang berisi film yang dimaksudkannya itu.

"Dasar mesum." ledek Ichigo pada sahabatnya itu.

"Ekh? Bukannya kau juga mesum!" balas Renji.

Berbeda dengan Renji dan Kaien, teman yang lain Ichigo yaitu Kokuto dan Ishida tampak terlihat tenang di bangku mereka. Kedua orang itu menonton video yang ada di ponsel Ishida. Sesekali, senyum mesum muncul di wajah mereka, menarik perhatian para sisa laki-laki lainnya yang berada di kelas itu. Dan reaksinya sama seperti Kokuto dan Ishida, para siswa laki-laki itu sesekali tersenyum meliha video yang entah apa namanya iu. Rasa penasaran pun muncul. Ichigo mendekat ke bangku tempat Kokuto dan mendongakkan kepalanya di belakang kerumunan agar dapat melihat video yang sedang asyik ditonton itu. Dan matanya terbelalak kaget melihat video itu.

"I-Itu kan film action yang diperankan aktris seksi Matsumoto Rangiku!" teriaknya heboh dan langsung menerobos kerumunan untuk melihat aktris faforitnya tersebut. Tapi tanpa datang ak dijemput, pulang tak diantar (?), sebuah penghapus melayang dan mengenai kepala oranye Ichigo. Pemuda itu meringis kesakitan sambil mengelus kepalanya itu dan menoleh ke sumber lemparan.

"Sialan! Apa-apaan kau, midget?" omelnya pada seorang gadis bermata violet yang berdiri di depan papan tulis. Gadis itu tersenyum penuh kemenangan karena berhasil membuat Ichigo kesal.

"Kau yang apa-apaan! Di sini dilarang menonton video hentai!"

"Ini bukan video hentai! Ini film action!"

"Tapi kalau pemainnya seksi, itu berarti hentai!"

"Biar saja! Action itu butuh pemain yang seksi, bukan pemain berdada rata sepertimu!"

Kalimat iu sukses membuat kemarahan Rukia meledak. Segera saja Rukia berjalan mendekat pada Ichigo. Ditariknya kerah Ichigo agar pemuda itu menunduk dan dapat dijitaknya. Bletak! Ichigo mendapat hadiah pagi hari dari sang pacar.

"R-Rukia, K-kau!" belum selesai dengan ucapannya, Rukia menarik Ichigo keluar kelas. Pemandangan itu membuat sejumlah siswa heran. Ada-ada saja pasangan kekasih seperti mereka yang suka bertengkar.

# # #

Rupanya Rukia mengajak Ichigo ke taman belakang sekolah yang cukup jauh dari kelas mereka. Ichigo menggerutu kesal pada Rukia. Pemuda dengan alis mengkerut itu mencubit kedua pipi Rukia. "Dasar, buat apa kau menyeretku kemari? Kita tadi jadi tontonan para murid, apa kau tidak malu sama sekali?" kesalnya sambil mendekatkan wajahnya ke gadis itu. Rukia mengeluh kesakitan karena cubitan Ichigo. Tangannya segera menampik tangan Ichigo yang adai wajahnya iu.

"Uh. Aku membawamu ke sini karena ada yang ingin kuberikan!"

"Apa? Kau mau memberikan apa?" Ichigo heran.

Rukia merogoh saku roknya untuk mencari sesuatu. Setelah itu, disodorkannya dua tiket. Tiket dengan nama 'Karakura playground'. Ichigo mengambil dan menatap satu tiket itu dengan heran.

"Ini-"

"Nii-sama memberikan tiket ini untuk kita. Dan... maukah kau menemaniku pergi ke sana? Anggap saja ini sebagai kencan pertama kita." wajah Rukia tampak memerah mengucapkannya. Gadis itu menoleh ke arah lain agar ia tak bertemu pandang dengan Ichigo. Kencan? Ah, ya. Memang benar, selama menjalin hubungan dengan Rukia, Ichigo memang belum melakukan kencan dengan Rukia karena masalahnya dengan yakuza dulu itu. Tapi, ada sesuatu yang membuat pemuda itu sedikit terkejut.

"A-Apa? Byakuya memberikan tiket ini untuk kencan pertama kita? Kerasukan apa dia?" Byakuya, kakak Rukia yang terlihat elegan tapi ternyata 'sangar' itu mana mungkin ikhlas membiarkan Rukia berkencan dengan Ichigo? Bukankah Byakuya sangat tidak suka pada Ichigo sampai-sampai laki-laki berambut oranye itu dikirimi sms kutukan dari Byakuya.

"Entahlah. Pokoknya kau jangan lupa jemput aku ya nanti malam! Kutunggu! Hanya berua saja, Ichigo. Jangan ajak yang lain!" pesan Rukia dan dengan tergesa-gesa ingin meninggalkan Ichigo agar muka merahnya itu tak terlihat oleh kekasihnya. Tapi sebelum sempat pergi, Ichigo menahan tangan Rukia. Membuat gadis itu kembali berbalik menghadap Ichigo. Pemuda itu merendahkan tinggi tubuhnya dan memiringkan kepalanya. Dikecupnya singkat bibir Rukia yang sedikit terbuka itu. Berhasil melakukannya, Ichigo menyeringai pada Rukia. "Ini balasan karena sudah melempariku dengan penghapus. Sekaligus rasa terima kasih karena kau sudah mengajakku kencan, Kuchiki Rukia." kata Ichigo dengan senyum bahagianya yang membuat wajah Rukia semakin merah mrona tak karuan.

"U-Urusai!"

# # #

Ichigo Pov

Semuanya sudah siap. Aku, Kurosaki Ichigo dengan pakaian sederhana, kaos putih dengan jaket warna hitam dan celana jeans ini siap untuk berkncan! Dia bilang aku harus menjemputnya pukul 7 malam. Yah, aku tidak terlambat. Arlojiku menunjukkn tepat pukul 7 dan kini aku sudah berada di depan kediaman Kuchiki. Rasanya tegang. Bukan tegang karena bertemu dengan Rukia nantinya, tapi tegang karena harus bertemu dengan Byakuya. Argh! Kenapa setiap harus menemui malaikat kecilku (Rukia), aku harus juga bertemu dengan iblis (Byakuya)! Tapi bukankah tadi Rukia bilang tiketnya itu dari Byakuya? Dan dia bilang, tadi Byakuya memberikannya untuk kencan pertama mereka? Mungkinkah Byakuya sekarang dapat menerima Ichigo sebagai menantunya? Wah, tidak, Ichigo! Tenangkan pikiranmu! Sepertinya tidak mungkin seorang Byakuya seperti itu.

Ting Tong...

Berani juga akhirnya aku menekan bel rumah kediaman Kuchiki ini. Kuharap yang membukakan pintu adalah malaikatku.

"Ya? Eh, Ichigo!" syukurlah harapanku terkabul! Rukia yang membukakan pintunya untukku! Ia terlihat sangat senang karena melihatku yang datang menjemputnya. Ditariknya tanganku untuk masuk ke dalam rumahnya itu. Dia membawaku ke ruang tamunya yang cukup besar.

"Tunggu aku yah, Ichigo. Aku mau ganti pakaian dulu!" ucapnya sebelum berangkat ke kamarnya di atas untuk berganti pakaian. Aku mengangguk dan tersenyum masam. Kenapa tidak tersenyum bahagia? Karena... RUKIA MENINGGALKANKU DENGAN BYAKUYA BERDUA!

Arrgh... nyawaku serasa diambang kematian. Mana bisa aku duduk menunggu Rukia kembali bersama Byakuya? Tapi syukurlah Byakuya tidak terlalu memperhatikanku karena dia terlalu fokus dengan reality show yang ditontonnya di televisi.

"Apaan luh, dasar botak! Mikir pakai otak dong, Derek!"

"Luthfie, lu kalau bicara jangan sembarang ceplos ya, gue gampar muka lu!"

Tanda tanya besar muncul di kepalaku. Sejak kapan mantan yakuza ini terjun ke dunia acara seperti ini? Tapi biarlah. Dengan begitu, mungkin sikapnya jadi melembut dan mau menerima hubunganku dengan Rukia. Tapi lagi-lagi harapanku itu cuma angan. Dia menoleh ke arahku yang berdiri di sebelah sofa yang didudukinya. Mata abu-abunya menatapku dengan begitu tajamnya seolah ingin membunuhku.

"Awas kau, Kurosaki Ichigo. Jika berani macam-macam dengan Rukia, kupastikan kau sekarat."

Hanya dengan kalimat yang dilontarkannya sudah membuat kakiku bergetar hebat. Sial, padahal dia baru saja keluar dari rumah sakit, tapi kenapa aura mengerikannya itu malah semakin bertambah kuat?

"M-Maaf, benarkah kau memberikan tiket ke Karakura Playground pada kami untuk kencan pertama ini?" tanyaku. Sebenarnya aku sudah tidak kuat menahan rasa penasaranku tentang tiket yang Byakuya berikan dan akhirnya kuberanikan diri untuk menanyakannya.

"Ya. Anggap saja itu hadiah karena sudah menyelamatkan Rukia." jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya ke tevelisi. Wah, benarkah itu? Apa aku tidak salah dengar? Berarti aku maju selangkah untuk mendapat restu hubunganku dengan Rukia kan!

"Tapi jangan harap hanya karena aku memberikan hadiah itu, kau bisa dengan mudah berlaku seenaknya dengan Rukia." sambung Byakuya dengan suara dinginnya. Kutarik kembali ucapanku. Sepertinya aku tidak maju selangkah, karena Byakuya tampak tidak ikhlas memberikan harapan paaku untuk mendapatkan restu darinya.

"Ichigo, ayo berangkat!" suara Rukia mengagetkanku. Kutolehkan kepalaku ke arahnya. Oh Tuhan, betapa manisnya kekasihku ini. Meski tidak seksi seperti aktris idolaku, Matsumoto Rangiku, tapi dia terlihat begitu memikat dengan gaun sepanjang di atas lututnya. Gaun berwarna ungu lavender itu sangat serasi dengan warna kulitnya. Yosh, dan dimulailah kencan pertama kami.

# # #

"Ichigo, ayo naik itu!"

"Ichigo, ayo beli itu!"

"Ichigo, ayo kita coba ke sana!"

"Ah... sudahlah, Rukia. Sampai kapan kau mau berada di sini? Kita sudah mencoba sekitar 10 wahana malam ini dan menghabiskan waktu 4 jam. Sudah hampir jam 12 malam, apa kau tidak capek?" benar-benar yang namanya wanita itu. Kalau menemukan sesuatu yang menarik, ia pasti mau berlama-lama dengan sesuatu yang disenanginya itu. Rukia memajukan bibirnya mendengar keluhanku.

"Ayolah Ichigo, kita habiskan malam ini hanya dengan bersenang-senang. Lagipula Karakura Playground ini kan buka sampai jam 2 pagi, dan besok hari Minggu. Jadi kita bisa begadang untuk menikmati wahana-wahana lainnya!" pinta gadis imut ini. Wajah memohonnya benar-benar membuatku lemah. Dan akhirnya aku turuti saja permintaannya itu. Toh besok libur, jadi aku bisa menghabiskan hari Minggu besok untuk tidur sepuasku menggantikan waktu tidur malam saat ini. Dari awal sampai sekarang, Rukia yang selalu mengajak di tempat wahana yang disukainya. Lalu kenapa sekarang tidak giliranku saja yang mengajaknya ke wahana yang kusukai? Hehe, sebuah rencana bagus terlinta di otakku.

"Rukia," panggilku dengan senyum manis yang kubuat-buat. Rukia menoleh padaku.

"Hn?"

"Dari tadi kau main curang ya. Aku selalu mengkuti dan menemanimu ke wahana yang kau inginkan. Sekarang harus giliranku yang menentukan wahana apa yang akan kita datangi selanjutnya."

Rukia tampak bingung dengan kata-kataku. "Lalu? Wahana mana yang mau kau datangi?"

Kena kau, Rukia! Aku yakin, begitu kau masuk ke dalam wahana yang kupilihkan, kau pasti akan terus memelukku!

# # #

"HYAAAAAA! ICHIGO, TAKUT! AYO CEPAT KITA KELUAAAR!"

Benar kan apa kataku! Rukia yang kubawa masuk ke dalam rumah hantu ini terus berjalan sambil memelukku. Tapi sayangnya bukan hanya pelukan yang aku dapatkan, tapi juga penganiayaan. Setiap melihat properti yang terlihat menyeramkan, gadis ini langsung menjerit, memelukku, lalu memukul-mukul dadaku sampai dadaku terasa sakit. Bahkan karena saking takutnya, dia tidak sengaja menggigit dadaku sampai aku berteriak-teriak. Tapi tak apalah. Aku bisa mendapatkan pelukan darinya yang hangat. Ternyata dipeluk itu lebih enak daripada memeluk. Aku harus berterima kasih pada tema Rukia yang bernama Momo Hinamori karena tadi memberitahu tentang sesuatu yang di takuti Rukia, yaitu hantu.

"I-Ichigo... ha-hantunya s-sudah pergi belum?" tanyanya gemetaran dan masih membenamkan wajahnya ke dada bidangku ini. Astaga, begitu takutkah dia sampai setengah perjalanan penulusuran rumah hantu ini ia tidak berani melihat ke depan.

"Ya. Sudah pergi." balasku santai. Cih, mana hantunya? Daritadi yang aku temukan hanyalah lukisan-lukisan yang memang kelihatan mengerikan dan darah-darah yang berceceran untuk menghidupkan suasana seram di rumah ini. Rukia sedikit melepas wajahnya yang tadi menempel di badanku. Gadis itu menghela nafas lega karena tidak ada hantu palsu atau asli yang menampakkan wujudnya di depannya.

"Kenapa kau mengajakku ke tempat seperti ini? Ini tidak menyenangkan, Ichi-HUWAAAAAAAAAA!" kembali Rukia memelukku di tengah perjalanan ini. Sesosok perempuan dengan gaun putih berbecak darah dan rambut merahnya yang menutupi wajahnya itu tiba-tiba muncul di depan kami. Hantu itu berdiam di tempatnya. Tidak takut, tidak takut. Tapi rasanya kalau melihat hantu ini, aku jai teringat seseorang.

"Hush, hush!" usirku seperti mengusir binatang. Niatku sih bercanda. Mana mungkin hantu mau diusir semudah itu. Tapi ternyata ajaibnya hantu itu berjalan menjauhi kami dan menghilang entah ke mana. Dasar. Penampakan yang aneh. Bukan hanya itu yang aneh, tapi hantu-hantu yang lain juga aneh...

Penampakan 2

Hantu dengan topeng berwajah kakek-kakek yang keriputnya sangat mengerikan itu sukses membuat Rukia menjerit. Tapi aku malah melihat keganjilan pada hantu itu. Kenapa dan sejak kapan ada hantu memakai kacamata?

Penampakan 3

Kali ini yang muncul adalah sesosok siluman yang bentuknya aneh. Siluman itu juga sukses membuat Rukia ketakutan dengan kemunculannya yang tiba-tiba. Tapi, sama seperti sebelumnya, ada saja keganjilan pada penampakan itu. Siluman berambut putih? Setahuku, siluman itu rambutnya panjang, tapi kenapa yang ini rambutnya putih pendek?

Penampakan 4

Yang ini Shinigami, pencabut nyawa. Wajah tengkoraknya membuat Rukia sampai hampir mencekikku saking kagetnya. Sama seperti sebelumnya, keanehan dalam hantu ini sangat mencolok. Sejak kapan Shinigami membawa PSP? Bukannya harusnya dia membawa sabit?

# # #

"Ichigo, kapan kita sampai ke pintu keluar? Aku takut! Ingin pulang!" rengek Rukia yang sangat tidak betah di rumah hantu ini.

"Sebentar lagi juga sampai kok. Tapi sebelum itu hapus air matamu. Masa hanya karena hantu buatan seperti ini saja kau sampai menangis?" ledekku padanya. Rukia cepat-cepat menyeka air matanya. Ia kelihatan malu karena menangis di depanku hanya gara-gara hantu.

"Huh, awa kau! Lihat saja suatu saat pasti akan kubalas!" ancamnya sambil membuang muka. Aku hanya tertawa kecil melihat sikap kekanak-kanakannya itu. Kebetulan sekali rumah hantu ini sepi pengunjung, jadi tidak apa kan kalau aku melakukan hal yang sedikit bodoh untuk dikerjakan di sini?

"Rukia,"

"Apa? E-Eh? Ichigo?" tubuhnya kumunduran hingga menabrak dinding rumah hantu ini. Kudekatkan wajahku padanya hingga bisa kurasakan hembusan nafasnya. Seringaian mesumku sepertinya kembali muncul setelah sekian lama tidak terlihat.

"Boleh aku minta hadiah kencan pertama kita?"

"Memang kau mau minta apa?"

Pertanyaan bdoh, Rukia. Kenapa kau begitu polos? Kenapa kau tidak mengerti hadiah yang kumaksud itu, padahal sudah jelas kutunjukkan dengan perlakuanku ini. Ah... berkacalah. Kau tampak manis dengan rona pipimu yang mengiasi warna kulit wajahmu. Membuatku tak tahan untuk menyentuhmu.

"I-Ichi... Mmh," segera kubungkam bibir mungil yang menggairahkan itu dengan mulutku. Sensasi ini... sensasi ciuman yang kurindukan sejak terakhir aku menciumnya secara paksa di kamarku dulu. Kulumat habis bibirnya yang berusaha untuk mengatakan sesuatu. Terus kulakukan itu berulang-ulang seakan tak akan pernah puas. Kedua tangannya yang berpegangan pada pundakku, bibirnya yang berusaha membalas lumatanku, deru nafasnya yang memburu, jantungnya yang terdengar berdetak begitu cepat dan kepalanya yang dimiringkannya agar ciuman kami semakin dalam membuat hasratku semakin tinggi. Setelah cukup beberapa lama kami saling bermain lidah, kulepaskan pagutan bibir kami. Rukia terengah-engah begitu kulepas ciuman panas ini. Matanya menatapku bagai seorang wanita yang kehausan dan terlihat bernafsu saat melihat sesuatu yang diinginkannya.

"I-Ichigo... cukuph, nanti ada yang tahu... Uhh,"

"Sst... diamlah. Kalau kau tidak ingin ada yang tahu, tahan desahanmu. Kalau kau bisa menahannya." bisikku di telinganya. Tubuh mungilnya sedikit kunaikkan sehingga kini aku bisa berhadapan dengan kedua dada mungilnya itu. Rukia menggigit bibir bawahnya sambil terus berpegangan pada pundakku. Saliva yang keluar dari celah mulutnya itu membuatnya semakin menggairahkan. Langsung saja aku terdorong untuk melanjutkan yang tadi. Kuturunkan gaunnya itu hingga menampakkan kedua dadanya.

"Kau begitu cantik, malaikat kecilku..." pujiku melihat keindahan tubuh Rukia. Gadis itu hanya diam dengan muka merahnya. Tangan-tangannya bermain pada helai rambutku. "J-Jangan lakukan di sini- Akh!"

Kau terlambat untuk mencegahku, Rukia. Daerah sensitifmu kini sudah tertawan oleh mulutku. Desahan yang berusaha kau tahan itu membuatku semakin gemas padamu. Jilat, kulum, gigit. Itu terus kulakukan berulang-ulang pada bagian tubuhmu yang menggoda. Kumanja terus keduanya terasa mengeras. Tanganku kuarahkan ke pahamu. Benar-benar lembut. Aku tak menyangka gadis sepertimu memiliki tubuh yang sangat merangsang lelaki sepertiku, Rukia. Kuangat kepalaku untuk melihat reaksinya saat kumainkan jemariku di balik celana dalam yang dipakainya itu.

"Kau sudah basah ya, midget. Gampang terangsang ya," ucapku dengan penuh kemenangan karena berhasil membuatnya tunduk padaku. Rukia mengangguk sambil sesekali mendesah kecil.

"I-Ichigo... L-Lepaaasssh! Kumohon, lepaskan tanganmu! Ahhhh!" Rukia terus saja mendesah. Uh, ini membuat aku ikut terangsang. Tapi keadaannya tidak memungkinkan untuk melanjutkannya. Entah ada apa, tiba-tiba Rukia berteriak seperti melihat hantu. Refleks kukeluarkan saja tanganku dari balik roknya itu. Rukia langsung berhambur ke pelukanku sambil menunjuk-nunjuk ke suatu arah. "Itu! Itu! Ada hantu!" katanya ketakutan. Aku menoleh ke tempat yang Rukia maksud. Dan benar saja. Beberapa hantu berkumpul di dekat kami seakan mengintip kegiatan yang kami lakukan tadi, dan yang paling aneh, salah satu dari hantu itu membawa kamera. Pemandangan itu membuatku begidik ngeri sekaligus marah. Jangan-jangan aku dan Rukia tadi direkam?

"K-Kalian! Apa-apaan kalian!" marahku pada gerombolan hantu yang berisikan hantu, siluman, dan shinigami yang menampakkan wujudnya di depan kami tadi. Para hantu itu kemudian membuka penyamaran mereka. Dan... WTF?

Renji, Kaien, Kokuto dan Ishida adalah hantu yang mengerjai kami?

"Wah, wah. Kalian mau kencan kok tidak ajak-ajak kami?" ujar Kokuto.

"Dasar, cium-ciuman di rumah hantu. Seperti tidak ada tempat lain saja untuk melakukan itu!" tambah Renji sambil menyibakkan rambut merahnya. Ternyata dia menyamar sebagai hantu perempuan berambut merah tadi. Aku dan Rukia langsung terdiam karena malu. Argh! Kami ketahuan berbuat mesum di depan mereka!

End Ichigo Pov

# # #

"Ke-kenapa kalian bisa ada di sini? Dan apa-apaan penyamaran itu?" tanya Ichigo membentak-bentak Kaien.

"Kami ada di sini karena kami hari ini dapat pekerjaan sambilan menjadi hantu di sini, makanya jangan heran ya!" balas Kaien yang juga ikut membentak.

Sementara Kaien dan Ichigo saling beradu pandang kemarahan, Rukia sedang mengagumi sebuah lukisan yang ada di dinding rumah hantu itu.

"I-Ini kau lukisan Monalisa yang sangat terkenal!" katanya takjub melihat lukisan seorang wanita cantik yang sudah sangat terkenal di dunia, Mona Lisa. Kekaguman Rukia menarik perhatian yang lain. Ichigo, Kokuto, Renji, Kaien dan Ishida mendekati Rukia yang berdiri memandangi lukisan itu. Mata mereka ikut memperhatikan lukisan itu.

"Mona Lisa, lukisan karya Leonardo Da Vinci. Daya tarik lukisan ini adalah senyuman yang penuh mister. Para ahli sampai sekarang tak bisa memecahkan masalah tentang makna dari senyuman Mona Lisa. Kalau kalian perhatikan baik-baik, senyuman ini tidaklah menunjukkan perasaan senang maupun emosi. Apalagi kalau kita lihat dari lain sudut. Senyumnya selalu nampak diperlihatkannya kepada kita. Dan model dari lukisan Mona Lisa yang menggemparkan ini pun tida diketahui identitasnya, menambah misteri tentang lukisan ini." jelas Ishida yang tahu asal-usul lukisan itu.

Rukia memandang takjub pada Ishida. "Hebat! Tapi apa ini benar lukisan yang asli?"

"Haha, tentu saja tidak, Rukia. Ini hanyalah duplikatnya untuk properti rumah hantu ini." jawab Ishida sambil tertawa.

"Cih. Tidak seru. Lukisan ini malah tampak menyeramkan." sahut Kaien. Meski dibilang begitu, Rukia masih tak henti-hentinya menatap lekat-lekat senyum Mona Lisa.

"Jangan bicara begitu. Rumornya, tengah malam ada seorang penjaga museum yang melihat keanehan pada lukisan Mona Lisa. Katanya tepat jam 12 malam, lukisan itu merubah ekspresinya. Tersenyum lebar atau ada juga menangis." sambung Ishida dengan tampang horor.

DEG! Jantung Rukia seakan berhenti berdetak. Ia melirik arlojinya yang menunjukkan tepat pukul 12 malam. Mata violetnya kembali melihat senyum pada gadis Mona Lisa itu. Keringat dingin tiba-tiba menetes dari dahinya.

"Te-Teman-teman... anoo..." panggil Rukia gugup. Semua menoleh pada gadis yang terlihat gemetaran itu. "Apa?" tanggap Ichigo.

Rukia menunjuk lukisan Mona Lisa. "Ichigo, senyumnya kok makin lebar?" ucapnya.

"Hee?" pertanyaan itu mulai mengundang rasa takut mereka. Ichigo dan yang lain mendekatkan wajah mereka pada lukisan itu agar dapat melihat keanehan yang muncul di lukisan itu. Benar apa Rukia, senyum Mona Lisa tampak semakin lebar dari sebelumnya. Mata Ichigo dan yang lain semakin melotot pada ke lukisan itu.

Setelah sedikit lama memperhatikan lukisan itu, sesuatu yang aneh muncul. Mata Mona Lisa itu berkedip sesaat. Meski tak sampai satu detik, Ichigo dan yang lain dapat menangkap kedipan itu dan...

"HUWAAAAAAAAAAAAAAA!"

Gerombolan Ichigo langsung berhambur lari. Kecepatan lari ala jet mereka akhirnya berhasil membuat mereka cepat keluar dari rumah hantu itu. Dan itulah kencan pertama Ichigo dan Rukia yang penuh dengan kesenangan sekaligus misteri. Lalu bagaimana dengan lukisan Mona Lisa itu? Tak ada yang tahu kisah selanjutnya dan apa misteri di balik kejadian tadi...

TBC

Ahahahahah~ akhirnya bisa apdet kilat! Rasanya chapter ini humornya gimana-gimana gitu, apalagi horrornya... saia sebenernya takut pas mbayangin Mona Lisa. Memang benar lho senyumnya itu terasa aneh... ~_~

Oke, mohon repiunya yah, repiu sebelumnya saia bales di PM. Bagi yang gak login, di chapter selanjutnya bakal saia bales. Makasih ^^