"Ichigo?"
"Kon-Konbanwa- Huatsyiuuu!"
Kurosaki Masaki menggeleng-gelengkan kepalanya melihat anak laki-laki kebanggaannya itu pulang ke rumah dengan basah kuyup. Segera saja ibu yang baik hati itu cepat-cepat menyuruh anaknya masuk dan mengambil handuk untuk menghangatkan tubuh sang anak.
Disclaimer : : Tite Kubo
Warning : : OOC, AU, Typo, Gaje, Abal, dikit lime –a
I Can Change You
Chapter 11
"Dasar. Kan sudah ibu bilang, jangan pulang malam-malam karena saat ini sedang musim hujan. Kau ini keras kepala sekali pergi ke rumah Renji hanya untuk menonton film. Kan kau bisa meminjamnya lalu ditonton di rumah saja." nasehat Masaki sambil menempelkan kompres di dahi Ichigo yang sedang tiduran di kasur kamarnya. Muka Ichigo terlihat memerah dan panas. Sepertinya ia terserang demam karena nekat menerobos hujan deras yang turun malam ini.
'Bagaimana bisa aku menonton film ecchi dengan tenang di rumah kalau aku sampai ketahuan ibu.' pikir Ichigo mendengar nasehat Masaki yang tadi. Tentu saja. Mana ada orang tua yang mendukung anaknya untuk menonton film ber-unsur vulgar. Yang ada malah Ichigo akan mendapat tamparan dan smack down -?- dari sang ibu.
"Sudahlah bu. Jangan terlalu berlebihan. Hanya dengan tidur saja aku pasti sudah sembuh besok." ujar Ichigo sambil menarik selimut di tempat tidurnya hingga menutupi seluruh tubuhnya yang dirasanya sangat dingin. Masaki menghela nafasnya melihat Ichigo yang benar-benar keras kepala. Karena menyerah dengan sifat Ichigo, Masaki mengambil kompres yang tertempel di dahi Ichigo untuk menurunkan demamnya itu. Sebelum meninggalkan anaknya itu, Masaki mematikan lampu kamar Ichigo.
"Kalau kau masih merasa demam dan tidak enak badan, besok lebih baik kau tidak masuk saja ya. Bilang pada ibu. Akan ibu buatkan surat ijinnya." pesan Masaki lalu menutup pintu kamar Ichigo.
Hujannya masih deras. Suhu dingin karena hujan yang turun menusuk kulit tubuhnya itu membuat Ichigo semakin tak enak badan. Deru nafasnya semakin terdengar cepat dengan nafas yang terasa hangat pula. Tanpa disadarinya, demamnya telah meninggi dan mulai menguasai tubuhnya. Ichigo semakin mengeratkan pelukannya pada selimut putih yang membungkus tubuhnya itu. Tiba-tiba ia teringat akan pesan ibunya untuk tidak masuk sekolah kalau ia masih merasa tidak enak badan.
"Cih. Cerewet. Kalau aku tidak masuk sekolah, aku bisa kangen berat dengan Rukia..."
# # #
Karakura saat ini sedang dalam musim hujan. Siang, malam pasti masih saja hujan turun mengguyur kota itu tanpa henti. Musim itu cukup merepotkan untuk para pekerja ataupun pelajar karena dalam perjalanan pulang, pasti hujan menghalangi mereka. Tapi di lain pihak, ada juga yang senang dengan datangnya musim hujan dan itu bisa dimanfaatkan dengan baik untuk para siswa yang suka membolos. Hujan pasti dijadikan sebagai alasan mereka untuk membolos. Yaya, maklum saja. Tapi terkecuali Kurosaki Ichigo, siswa SMA Karakura. Bocah yang tergolong anak berandalan ini berbeda dengan teman-teman berandalannya lainnya sekarang. Meski musim hujan yang sedang melanda ini disenangi para berandalan untuk membolos, tapi Ichigo malah berusaha untuk menghilangkan sifat jeleknya untuk membolos itu semenjak pacarnya, Kuchiki Rukia kini berani dan tak malu untuk menemani pemuda itu walau di depan teman-temannya. Tanpa Ichigo ketahui, sebenarnya Rukia memaksakan diri untuk berani mendekati Ichigo karena paksaan teman-temannya. Dia terpengaruh oleh teman-temannya yang bicara kalau Rukia tidak berdekat-dekatan dengan Ichigo, maka akan ada siswi lain yang mendekati Ichigo dan menyatakan perasaannya pada kekasihnya itu. Dan Rukia tidak mau itu terjadi. Makanya setiap hari ia memberikan perhatiannya pada Ichigo sebagai seorang kekasih di depan teman-teman sekolahnya meski dengan malu-malu kucing. Hal itu membuat Ichigo bersemangat untuk sekolah. Dengan begitu, berarti dia akan punya banyak waktu untuk bersenang-senang dengan kekasih mungilnya itu secara terbuka dan tidak perlu sembunyi-sembunyi seperti waktu dulu Rukia memintanya bermesraan secara sembunyi-sembunyi.
Tiap harinya Ichigo memang terlihat bersemangat. Tapi tidak untuk kali ini. Pemuda berambut oranye itu terlihat tidak enak badan. Raut wajahnya terlihat seperti orang yang sedang sakit parah. Pucat, lesu, lemah, dan tak bersahabat. Caranya berjalan pun lunglai dan seakan bisa jatuh kapan saja. Hal itu membuat beberapa teman sekelas Ichigo khawatir. Tentu saja termasuk keempat 'best friend'nya, Renji, Kokuto, Ishida dan Kaien. Mereka begitu khawatir karena tidak biasanya Ichigo yang baru datang langsung menyandarkan kepalanya ke meja dan langsung tidur pulas.
"Oy Ichigo, kau tidak apa?" Kokuto mendekati Ichigo yang sedang tertidur nyenyak di bangkunya itu, namun tak ada jawaban dari Ichigo. Dia tetap saja tidur dan mendengkur.
"Ck, padahal dia kelihatan masih sangat bersemangat menonton film ecchi kemarin malam di rumahku. Kenapa sekarang dia bisa sekarat seperti ini?" timpal Renji sambil mengamati Ichigo.
"Hm? Kemarin malam kan hujan. Jangan-jangan Ichigo sekarang sakit karena menerobos hujan malam kemarin?" tebak Ishida.
"Hey, ayo semangat, Ichigo! Nanti kita ada latihan basket, kalau kau seperti ini nanti bisa dimarahi pelatih!" kata Kaien menyemangati sahabatnya itu. Tapi itu tidak berpengaruh. Ichigo hanya mengangkat kepalanya dan menatap keempat temannya dengan tatapan mengantuk. Beberapa saat kemudian, pemuda itu kembali menidurkan kepalanya ke bangku meja seperti tadi. Keempat teman Ichigo itu menghela nafas panjang. Sepertinya percuma saja menyemangati Ichigo. Ichigo kan keras kepala, itulah sifat yang paling tidak bisa di tentang oleh teman-temannya.
Sementara itu, Rukia yang memperhatikan Ichigo dari kejauhan ikut khawatir dengan keadaan kekasihnya itu.
'Ichigo kenapa ya?'
# # #
Hari ini kelas Ichigo sedang pelajaran olahraga. Olahraga adalah pelajaran yang paling disenangi para murid di kelas Ichigo. Siswa-siswinya tampak begitu bersemangat jika sudah menyangkut pelajaran itu. Tapi, lain dengan Ichigo. Pemain basket bernomer 5 dengan baju timnya berwarna biru itu hanya bisa duduk dan mengamati teman-temannya yang bersemangat itu dari kejauhan. Mata hazelnya terlihat sayu, deru nafasnya tak beratur, dan keringat dingin itu membasahi tubuhnya. Padahal ia masih belum melakukan apa-apa.
'Sial. Kenapa jadi semakin parah...' pikirnya yang merasakan suhu tubuhnya terasa berubah-ubah dingin dan panas.
"Ichigo," seorang gadis bermata violet datang sambil menepuk pundak Ichigo. Ichigo sontak kaget dengan kedatangan kekasihnya itu. "R-Rukia?" Rukia tersenyum padanya. Gadis itu duduk di samping Ichigo. Ikut mengamati teman-temannya di lapangan. Sesekali Rukia melirik chigo yang ada di sampingnya. Pemuda itu hanya diam dengan keadaan yang tak mengenakkan, padahal kekasihnya ada di sampingnya.
"Kau sakit ya?"
"Tidak. Aku baik-baik saja, Rukia." balas Ichigo memaksakan untuk tersenyum. Sungguh bohong dirinya kalau ia mengatakan keadaannya itu baik-baik saja. Padahal kenyataannya ia merasa hampir pingsan dengan demam yang menguasai tubuhnya. Mata violet Rukia masih belum berpaling dari Ichigo. Dari pengamatannya, Rukia tahu bahwa Ichigo berbohong padanya. Akhirnya ia memberanikan dirinya untuk menyentuh dahi Ichigo dengan telapak tangannya.
Tangannya terasa sangat panas. Itu sudah membuktikan bahwa Ichigo sedang demam. "I-Ichigo, kau de-"
"Lepaskan! Kau tidak perlu mengawatirkanku!" bentak Ichigo pada Rukia. Segera disingkirkannya tangan Rukia dari dahinya. Gadis itu mengerutkan alisnya. Ia terlihat begitu kesal dengan sikap Ichigo yang tak mau diperhatikan. Sedangkan Ichigo yang barusan menyangkal Rukia tadi mulai merasakan hawa tidak enak. Dan benar saja. Rukia memelototinya dengan aura membunuh kepada Ichigo dengan hebatnya, membuat Ichigo sampai begidik ngeri. Karena sudah merasa tiak nyaman dengan suasananya yang semakin terasa horor, Ichigo berniat untuk meninggalkan Rukia. Ia berdiri dari tempatnya.
"Mau ke mana?" tanya Rukia dengan sinis.
"A-Aku akan latihan basket dulu."
"Dengan keadaanmu yang lemah karena sakit begitu?"
"Aku tidak lemah! Dan aku juga tidak sa-"
JDUAGH!
Belum selesai dengan kalimatnya, sebuah kejadian yang tak terduga menimpa Ichigo. Sebuah bola sepak melayang dan mengenai kepala Ichigo hingga Ichigo langsung ambruk begitu mendapat tendangan yang didapatnya secara mendadak itu. Pemuda itu kini terkapar di tanah. Matanya berkunang-kunang, tapi ia masih bisa melihat keberadaan Rukia yang masih ada di dekatnya sambil berteriak-teriak minta tolong.
'Sial... kenapa aku bisa selemah ini di depan Rukia? Kau memalukan, Ichigo.' batin Ichigo dengan keadaannya yang begitu lemah. Bahkan untuk bangun saja rasanya tubuhnya tak akan kuat. Ia menyesal karena mengabaikan saran ibunya. Harusnya ia tidak masuk sekolah saja agar kejadian ini tidak pernah terjadi padanya. Tapi sudah terlanjur. Rukia dan yang lain pasti menganggapnya lemah. Dan itu adalah yang paling dibenci Ichigo. Ia paling tak suka terlihat lemah atau dianggapnya lemah oleh orang lain.
Tak berapa lama setelah Rukia meminta bantuan pada murid-murid lain, semuanya nampak mengerumuni Ichigo yang telah pingsan, termasuk Renji dan yang lain.
"Re-Renji, bawa Ichigo ke UKS! Ayo, cepat!" pinta Rukia panik.
Renji mengangguk. Ia dan Kaien segera menggotong Ichigo yang kemudia disusul dengan Kokuto, Ishida dan Rukia ke UKS.
# # #
Waktu telah berlalu cukup lama, akhirnya mata hazel yang dari tadi terpejam itu terbuka. Kurosaki Ichigo telah sadar dari pingsannya. Begitu sadar, kekecewaan menyelimutinya. Bukan Rukia yang pertama kali dilihatnya, melainkan malah keempat teman-temannya yang sedang tertawa melihatnya sudah sadar.
"Hey, hey, bayi kita sudah sadar! Hahahaha!" ledek Kaien pada Ichigo.
"Wah, wah. Murid berandalan seperti Kurosaki Ichigo ternyata bisa pingsan karena sakit yah. Kalau aku jadi kau, aku tidak akan nekat ke sekolah!" sindir Kokuto.
Kata-kata mereka benar-benar menusuk hati Ichigo. Karena kesal dengan ledekan-ledekan teman-temannya, Ichigo membalikkan badannya ke samping agar tidak menghadap ke arah teman-temannya. Ditariknya selimut ranjang UKS yang ditempatinya hingga menutupi seluruh tubuhnya.
"Haha. Ayolah, Ichigo! Kami hanya bercanda. Ah, waktunya pulang! Kami pulang dulu ya, Ichigo!" seru Renji yang akan pulang dan meninggalkan Ichigo. Sontak Ichigo langsung membuka selimut yang menutupi tubuhnya.
"He-Hey! Apa kita tidak bersahabat lagi? Kenapa kalian begitu kejam meninggalkanku sendiri di sini!" kesal Ichigo. Entah kenapa hari ini, saat dia sakit teman-temannya malah bersikap menyebalkan. Renji dan yang lain hanya melempar senyum licik pada Ichigo. Kokuto sejenak mengambil sesuatu dari saku celananya. Sebuah ponsel. Dilemparnya ponsel Ichigo yang ada di saku Kokuto kepada pemiliknya. Muka Ichigo langsung membiru dan pucat karena tadi hampir saja tangkapannya meleset. Kalau saja dia tidak menangkap ponsel yang dilempar oleh Kokuto, bisa pecah ponsel kesayangannya itu.
"Kau ini jangan ngawur! Seenaknya saja melempar ponsel orang sembarangan! Kalau rusak bagaimana?" kesal Ichigo. Tapi Kokuto malah meledeknya. Pemuda itu menjulurkan lidahnya.
"Kalau rusak, biar aku yang ganti. Ayahku bisa membeli ponsel yang lebih bagus dari milikmu itu." balas Kokuto dengan santainya. Benar-benar tajir teman Ichigo yang satu ini.
Sebuah jari telunjuk menunjuk ke arah Ichigo, membuat Ichigo terheran-heran. Rupanya Ishida-lah yang menunjuk-nunjuknya. "Ichigo, coba kau buka folder video di ponselmu! Ada sesuatu yang spesial untukmu!" katanya lalu mengedipkan sebelah mata.
"Eh? Spesial?"
"Yah! Dengan kondisimu yang demam seperti itu, kurasa kau tidak akan tahan dengan efek samping dari hadiah spesial yang kami berikan, fufufu~ oke kalau begitu, sayonara, bibeh! " kata Kaien sebelum meninggalkan Ichigo yang masih berada di ranjang UKS. Ichigo masih terbengong. Bibeh? Sejak kapan Kaien jadi remaja putra keputri-putrian? Panggilan bibeh tadi sedikit membuatnya jadi mual, yah walaupun untungnya tidak sampai mutah. Setelah Kaien dan yang lain meninggalkannya, ia cuma sendirian. Pemuda berambut oranye yang masih merasakan demam itu menatap ponsel yang ada di genggamannya. Alisnya berkerut.
'Sial. Apa lagi yang mereka rencanakan? Dasar gerombolan menyebalkan.'
Tiba-tiba ponselnya berbunyi tanda ada pesan masuk. Dilihatnya layar ponselnya yang terterakan nama 'Abarai Renji'. Dengan malas, dibukanya pesan masuk tersebut. Dibacanya pesan Renji yang berisikan,
'Ichigo, setelah nonton video spesial dari kami, jangan buat Rukia sampai hamil!'
"UHHUUUUUK! UHHUKK! HUUK! HOEEK! Uhuuuk!" mendadak Ichigo langsung tersedak oleh ludahnya sendiri. Ia mengumpat-umpat di depan layar ponselnya dengan sangat kesal. Dasar, gara-gara lelucon parah dari sahabatnya, ia sampai harus tersedak oleh ludahnya sendiri. Benar-benar kejadian langka. Sayangnya, penyakit demam yang diderita Ichigo saat ini kembali menyerangnya. Mau tak mau, karena tenaganya pun terkuras oleh demam, ia kembali ambruk di ranjang UKS. Mengistirahatkan tubuh lemahnya.
"Sebenarnya video spesial apa sih?" gumamnya sambil memainkan keypad ponselnya dan mencari-cari folder bagian isi video, mencari video yang asing dari ponselnya. Ketemu! Ichigo menemukan satu nama video yang asing yang tak pernah ia ketahui sebelumnya. Tapi sesaat ia memasang tampang tanda tanya besar begitu membaca judul video itu.
"Video Spesial – Si mesum dari SMA Karakura."
Hening.
"JUDUL MACAM APA INI!" teriak Ichigo dengan sangat kaget. Sangat penasaran, Ichigo langsung saja membuka dan melihat isi video itu. Dengan was-was, ia menontonnya seksama. Dan mata hazel bocah berambut jeruk ini terbelalak tidak percaya dengan apa yang dilihatnya di video itu. Video berdurasi sekitar empat menit yang menampilkan adegan dirinya berciuman dengan Rukia saat berada di rumah hantu kemarin lusa. Wajahnya memanas, malu melihat dirinya di video yang mencium Rukia dengan begitu liar, dan sedikit kesal juga dengan perekam video ini. Dasar, salah satu dari gerombolannya yang bertugas merekam benar-benar sangat jahil sampai-sampai merekamnya saat berciuman.
'Sial. Apa-apaan mereka ini! Ah... benarkah ini aku? Kenapa aku terlihat begitu... mesum?' batin Ichigo melihat bagaimana cara ia mencium Rukia. Wajahnya semakin memerah malu ketika video itu menampilkan sesuatu yang lebih 'panas', yaitu adegan di mana tangan Ichigo mulai menggerayangi tubuh Rukia.
'Arrrrrggh! Sialan! Awas saja mereka!' Ichigo yang frustasi karena nafsunya mulai muncul gara-gara video mesum yang pemainnya dia sendiri, mengacak-acak, menjambak rambutnya seperti orang gila. Apalagi dengan keadaannya yang sekarang sedang demam lebih memancing nafsunya. Matanya masih terpaku dengan adegan-adegan yang ditampilkan dalam video itu. Tak disangkanya, ternyata dia begitu mesum. Malah sangat mesum. Tubuhnya semakin panas, detak jantungnya pun tak karuan. Kalau dibiakan begini terus, bisa-bisa dia melampiaskan hasratnya pada perempuan mana pun yang mendekatinya. Akan susah jika harus menahan hasratnya yang menggebu-gebu.
Tak lama kemudian, tiba-tiba pintu ruangan UKS terbuka, masuklah seorang gadis bermata violet yang berstatus sebagai kekasih Ichigo. "Ichigo, sudah sadar ya? Syukurlah." ucapnya dengan senyumnya. Ichigo yang kaget dengan kedatangan Rukia yang tiba-tiba langsung mematikan videonya dan menyimpan ponselnya di saku celananya. Pemuda yang terbaring lemah itu menunjukkan senyumnya pada Rukia agar ia tak curiga dengan apa yang barusan dilakukannya, yaitu melihat video kissunya yang panas. Rukia menutup pintu UKS-nya kemuian berjalan ke arah Ichigo. Gadis itu menempelkan telapak tangannya ke dahi Ichigo untuk merasakan suhu tubuhnya.
"Umh, sepertinya sudah sedikit turun ya demammu?"
"Yah... begitulah."
"Sudah minum obat?"
Ichigo menggeleng. Ichigo paling benci dengan namanya obat. Tak perlu beli sesuatu yang mahal itu, toh dengan tidur-tiduran saja ia nanti juga baikan sendiri. Rukia menghela nafasnya. Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya menyingkapi kekasihnya yang keras kepala tidak mau minum obat. Padahal segala bujukan sudah dilakukannya agar ia mau minum obatnya. "Ichigo, kalau kau tidak mau minum obat, kau bisa mati loh!" ancam Rukia. Ichigo menganga. Ancaman macam apa itu? Kenapa sampai mengikut-sertakan antara hidup dan mati segala?
"Dasar midget! Demam mana bisa membunuh orang!"
"Bisa saja kok, lihat saja di koran-koran, baka!"
"Sialan, siapa yang kau panggil baka! Seenaknya saja mengejekku baka, aku ini masuk dalam peringkat sepuluh besar semester ini!
"Hah? Sepuluh besar? Aku lebih hebat darimu, aku masuk tiga besar!"
Dikarenakan Ichigo sudah kehabisan kata-kata, akhirnya Rukia dinyatakan sebagai pemenangnya! Ichigo memajukan bibirnya sambil menggeram marah pada Rukia yang tertawa penuh kemenangan sambil sesekali meledeknya. Sebuah ide tiba-tiba muncul di otak Ichigo. Ide untuk balas dendam pada Rukia. Pemuda itu menyeringai lalu dengan tiba-tiba menarik lengan Rukia lalu dan mengangkat tubuhnya hingga membuat tubuh mungilnya terjatuh ke tubuhnya yang terbaring di ranjang UKS. Rukia mengaduh kesakitan karena tadi tubuhnya tadi sedikit terbentur sesuatu yang keras, tapi rasa sakitnya langsung menghilang saat sadar kalau tubuhnya sekarang sedang berada di atas tubuh besar Ichigo dalam posisi yang gawat. Wajah Rukia memerah mendapati Ichigo menyeringai mesum padanya. Gadis mungil itu menjadi salah tingkah ketika menyadari kalau roknya tersingkap sampai memperlihatkan celana dalamnya. Buru-buru ditutupinya agar Ichigo tak melihat pemandangan itu karena kecerobohannya sendiri.
"Menyebalkan! Kau ini kenapa sih? Aku tadi sampai terbentur sesuatu," keluhnya sambil berusaha berdiri dari tubuh Ichigo, tapi Ichigo menahannya. Tak membiarkan mangsanya untuk kabur.
"Salahmu sendiri memacing emosiku. Aku sedang demam, tapi aku bisa semakin kasar padamu loh, Rukia. Kau sendiri bisa merasakannya bukan?" Ichigo mulai melepas kancing seragam Rukia. Wajah Rukia memerah mendengar ucapan Ichigo barusan. Ya, dia mengerti sekali apa yang dimaksud oleh Ichigo. Dia bisa merasakan milik Ichigo yang mengeras, yang tak sengaja tersentuh pahanya.
"I-Ichigo," jemari mungil Rukia mncoba menahan jemari Ichigo yang akan membuka kancing seragam selanjutnya. Tiga kancingnya yang telah terlepas memperlihatkan keindahan bentuk dadanya yang tertutupi bra pada Ichigo. Meski masih belum seutuhnya terlihat, Ichigo sudah terangsang melihatnya. Ia tak mau membuang-buang waktunya, didorongnya kepala belakang Rukia ke arahnya. Bibirnya yang hangat dengan penuh gairah melumat bibir mungil gadisnya. Rukia mengerang karena selain merasakan nikmat ciuman yang Ichigo berikan, ia juga merasakan tangan Ichigo meraba daerah dadanya. Gadis yang semakin terbuai oleh ciuman itu tak sadar bahwa Ichigo semakin menyentuhnya hingga bagian sensitifnya.
"I-Ichi," desahnya semakin membuat Ichigo ingin melakukan lebih. Dilumatnya kembali dengan lembut bibir mungil kekasihnya sampai akhirnya Rukia bisa lolos dari lumatan memabukkan tersebut dengan cara menggigit bibir bawah lawan mainnya. Ichigo refleks menghentikan kegiatannya sembari menyentuh daerah bibirnya yang digigit oleh Rukia tadi. Lidahnya menjilat bibirnya sendiri untuk mengurangi rasa sakit akibat gigitan dari Rukia. Mata hazelnya memandang kesal pada gadis yang terbaring di bawahnya.
"Rukia, kau ini suka merusak suasana saja," keluhnya kesal. Rukia cuma bisa diam dengan muka merahnya. Tubuh mungilnya yang terbaring itu sedikit dibangunkannya untuk turun dari ranjang UKS.
"Kau ini selalu saja tidak bisa kendalikan nafsumu. Lihatlah, cuaca sudah mendung, kita harus segera pulang. Kalau tidak, kita tidak bisa pulang." dengus si mungil itu sambil mengancingkan kancing seragamnya yang setengahnya tadi terbuka oleh Ichigo. Bukan Kurosaki Ichigo namanya kalau mau menurut dengan Rukia. Tangan kuatnya kembali menarik Rukia kembali dalam posisinya semula, yaitu terbaring di ranjang. Karena perlakuan itu, hampir saja gadis itu mengumpat pada Ichigo, namun sayang ia tak sempat mengucapkannya. Mulutnya yang akan melontarkan umpatan terkunci oleh Ichigo. Sama seperti sebelumnya, kedua tangan mungilnya yang tak berdaya tersebut ditahan oleh kekasihnya, dan bibir kecilnya hanya bisa terbuka dan membiarkan lidah Ichigo bermain di dalamnya. Beberapa menit telah berlalu, akhirnya ciuman mereka terlepas. Nafas sang gadis terdengar terengah-engah, mencoba mengatur nafasnya untuk kembali normal. Lain dengan Ichigo yang sama sekali tidak kekurangan oksigen menunjukkan senyumnya.
"Rasanya panas,"
"Hm?" satu alis pemuda pemilik rambut warna jeruk itu terangkat mendengar bisikan Rukia.
"Uhm... rasanya ciumanmu jadi sangat panas."
"Haha. Mungkin ini karena aku demam, makanya rasa ciuman kita ikut memanas,"
Semburat merah kembali muncul di wajah manis Rukia. Tidak mau membuang waktu lama-lama, kini Ichigo bergiliran menikmati bagian leher Rukia. Lidah hangat pemuda itu menjilat dari bawah ke atas leher putih Rukia, kemudian menghisapnya dengan lembut. Sang gadis cuma bisa mendesah, memegangi kedua pundak Ichigo dan satu tangannya kemudian merambat naik ke kepala Ichigo yang wajahnya telah tenggelam ke leher putihnya karena Ichigo yang masih menghisapi bagian yang gampang merangsangnya.
"I-Ichigo... nnggh..."
# # #
Jam dinding telah menunjukkan pukul tiga sore. SMA Karakura tentunya sekarang sudah sangat sepi. Apalagi ditambah dengan hujan deras yang mengguyur kota Karakura. Mana mungkin ada murid yang mau menunggu hujan reda dalam waktu dua jam? Well, hujan akhir-akhir ini turun mencapai dua jam, makanya banyak pelajar yang lebih memilih cepat pulang daripada menggunakan waktu mereka untuk bermain-main dulu. Atau kalau tidak, mereka akan terjebak di tempat untuk menunggu hujan yang mereda cukup lama. Tapi tidak untuk pasangan murid SMA Karakura yang menghabiskan waktu menunggu hujan reda di dalam ruang UKS. Cuma ada mereka yang menghuni sekolah sepi tersebut. Dan sepertinya mereka menikmati apa yang mereka lakukan saat ini. Bergulat di ranjang dan mengusir rasa dingin yang menusuk kulit tubuh mereka.
"C-cukupphh... Ichi-akh! ahh... mmh," desahan erotis dari seorang gadis terus membahana di ruang UKS. Pasangannya terlihat asyik menikmati bagian tubuh miliknya. Pemuda yang ada di atas tubuhnya terus sibuk menjamahnya.
"Rukia... mmh," setelah mendesah, ia kembali meneruskan kegiatannya. Dilahapnya dada kanan si gadis sampai membuat pemiliknya mengejang. Keadaan mereka kini semakin parah. Baru saja sekitar sepuluh menit, sekarang Rukia sudah tidak mengenakan seragamnya, namun masih memakai roknya. Sama seperti Ichigo yang bertelanjang dada namun bagian bawahnya masih tertutupi. Rukia terus menggigit bibir bawahnya ketika Ichigo menguatkan hisapannya di dada dan tiga jemarinya kekasihnya bermain di bagian bawah miliknya. Erangan yang terucap di bibir mungilnya tak dihiraukan Ichigo. Itu semua malah membuatnya terodong untuk semakin berlanjut ke inti permainan mereka. Dilepaskannya jemari Ichigo di bagian bawah milik Rukia yang telah basah oleh cairan gadisnya. Kecupan lembut dari bibir hangatnya mendarat di pipi sang gadis yang masih terengah-engah karena permainannya. Rukia mendesah lemah ketika Ichigo menjilati telinganya sembari sesekali berbisik padanya.
"Boleh aku melakukannya?" tanyanya meminta izin untuk melanjutkan permainan mereka lebih dalam. Sejenak Rukia tampak berfikir. Gadis bermata violet itu memeluk badan telanjang kekasihnya. Hangat. Tak di sangkanya tubuh kekasihnya begitu panas. Mungkinkah ini karena demam yang diderita Ichigo? Kalau pun begitu, ia heran. Mengapa Ichigo bisa sekuat ini? Padahal ia sedang sakit.
"Kau ini... benar-benar kuat ya. Padahal kau sedang sakit, tapi kau masih bisa menguasaiku seperti ini." Ichigo terkikik pelan. Tangannya mengelus pipi Rukia dan kembali diberinya kecupan singkat. Kedua mata pasangan yang terbaring di ranjang tersebut saling berpandangan. Mata hazel Ichigo begitu serius menatap mata violet gadisnya yang memandangnya, begitu menggoda. Ia telah kalah oleh nafsu yang begitu menguasainya. Tangannya bersiap untuk melepas sabuk celananya dan memperlihatkan sesuatu yang dibanggakan sebagai seorang lelaki pada Rukia.
"Aku akan melakukannya sekarang," suara bisikan Ichigo begitu terdengar lembut. Suara yang dapat membius Rukia untuk terhanyut dalam nuansa di antara mereka. Diacuhkannya suara rintik hujan, tak ada suara apapun di pendengarannya, yang ada hanya suara Ichigo. Suara yang membujuknya untuk memenuhi permintaan kekasih yang dicintainya. Namun apakah ini tidak beresiko? Ichigo mengerutkan alisnya melihat Rukia yang terlihat menyembunyikan wajahnya dengan helaian rambutnya yang acak-acakan. Disingkirkannya helaian rambut hitam kekasihnya agar wajah manisnya tampak.
"Ruki-"
"Lakukan, Ichigo,"
Mata Ichigo terbelalak lebar ketika melihat sebuah senyuman mengembang di wajah manis Rukia. Senyuman yang hangat dan tulus. Namun senyuman itu malah membuatnya bimbang, tak tahu harus apa sekarang.
"Lakukanlah jika kau memang menginginkanku sekarang, Ichigo. Aku percaya, jika kau melakukannya sekarang, aku percaya kau akan bersamaku hingga kita terikat sebuah hubungan pernikahan."
"Eh?" Ichigo sedikit tidak mengerti dengan penuturannya.
"Yah. Aku percaya, meski kita melakukan hubungan intim ini sebelum menikah, tapi kau akan tetap bersamaku bukan?" mata violet Rukia berkaca-kaca. Gadis itu hampir menangis. Percaya, apa yang dikatakannya? Jadi selama ini Rukia mempercayai Ichigo akan selalu bersamanya walau dalam keadaan apapun? Dan ia tak berfikir jika Ichigo menghamilinya, pemuda itu akan meninggalkannya? Betapa jahatnya Ichigo. Ia lupa akan resiko hamil di luar nikah. Apalagi mereka masih SMA, masih memiliki masa depan yang cukup panjang. Dan tentunya Ichigo benar-benar sudah hilang kendali, ia baru sadar kalau apa yang dilakukannya saat ini sangatlah salah. Tak seharusnya ia melakukan ini pada Rukia sebelum mereka menuju ke pelaminan. Untunglah mereka masih bisa menghentikannya, masih belum ada kata terlambat untuknya.
"A-aku... maafkan aku, Rukia!" seluruh keinginannya untuk menyentuh Rukia tiba-tiba hilang seketika. Pemuda berambut oranye itu memeluk tubuh Rukia. Bibirnya terus mengucapkan kata maaf untuk kekasihnya. "Maaf. Aku tak bisa kendalikan diriku sendiri. Aku tidak akan melakukannya sebelum kita menikah, aku janji, Rukia."
Rukia tersentak kaget mendengarnya. Kata-kata yang diucapkan Ichigo membuatnya senang. Ada sesuatu yang bermakna dalam kata-kata barusan. Tangan mungilnya mendorong tubuh Ichigo agar terlepas dalam dekapannya. Ichigo mengernyitkan dahinya. Ia sedikit khawatir. Jangan-jangan Rukia marah padanya? Tidak, Rukia tidak marah. Rukia malah tersenyum padanya.
"Kau bilang bilang, kau tidak akan melakukannya sebelum kita menikah. Apa itu artinya kau melamarku sekarang?"
Blush! Mendadak wajah Ichigo memerah. Ia baru sadar dengan apa yang diucapkannya. Benar, bukankah artinya tadi sebuah lamaran? Yah, walau terdengar seperti candaan sih.
"K-kau ini. Sudah, ayo kita pulang! Hujan sudah reda, dan sebaiknya kau cepat kenakan seragammu." perintah Ichigo yang memunguti seragamnya dan Rukia yang tersebar di lantai UKS. Rukia mengangguk. Ia senang, ternyata Ichigo punya sisi polos juga. Ini bisa dijadikannya sebagai bahan leluconnya.
"Ichigo, kau mau mengantarku pulang sekarang?"
"Tentu saja. Memang kau mau ke mana?"
"Tidak ke mana-mana. Kukira kau mau melanjutkan yang tadi itu, hehe."
"Dasar. Jangan bercanda. Mulai sekarang aku akan kendalikan diriku dan akan kubebaskan sifat mesumku yang tersegel ini jika kita sudah menikah. Akan kuhajar kau habis-habisan di malam pertama kita."
"Heee! Kau kejam, Ichigo!"
Mereka sudah selesai memakai dan merapikan pakaian mereka masing-masing. Rukia mengambil tasnya yang ada di kursi UKS dan bersiap untuk pulang. Gadis itu menoleh ke tempat Ichigo yang ada di belakangnya. "Ichigo, ayo!" ajaknya. Namun sesuatu yang aneh terjadi pada Ichigo. Pandangan matanya terasa mengabur, rasa pusing di kepalanya menjalar dan hawa panas dari dalam tubuhnya terasa berkobar-kobar. Gawat, demamnya semakin parah.
"Ichigo?" Rukia menatapnya khawatir melihat keadaan Ichigo yang tidak baik. Nafasnya mendadak jadi berat dan keringat dingin keluar membasahi tubuhnya.
"A-aku tidak ap-" kekasih Rukia itu tiba-tiba ambruk. Kesadarannya menghilang, ia pingsan. Demam yang dideritanya sudah tak kuat ia tahan dan akhirnya membuatnya kembali melemah seperti sebelumnya. Rukia yang terkejut langsung mendekati Ichigo dan menggoyang-goyangkan tubuhnya agar ia sadar. Tapi hasilnya nihil. Tangan mungilnya bergetar merasakan suhu tubuh Ichigo yang sangat panas. "I-Ichigo."
"ICHIGOOOOOO!"
Brak! Tiba-tiba muncul Kokuto, Ishida, Renji dan Kaien yang mendobrak pintu UKS. Kedatangan mereka yang tiba-tiba tentu membuat Rukia terjingkat kaget.
"Se-sejak kapan kalian ada di sini?" tanyanya dalam keadaan masih panik. Yang lain sibuk menggotong Ichigo, kecuali Ishida yang menanggapi omongan Rukia. "Kami sudah ada di depan pintu UKS sejak kalian bergulat di ranjang. Kami mengintip kalian." jawab Ishida dengan SEJUJUR-JUJURNYA! Wajah Rukia memucat. Tch, ia benar-benar merasa kasihan dengan dirinya sendiri. Lagi-lagi Grup Quartet yang beranggotakan Kokuto, Renji, Ishida dan Kaien berhasil mengintip mereka. Sebelum Ichigo dan Rukia berduaan, mereka sepertinya harus mengawasi keadaan sekitar agar tidak diintip lagi.
"Ichigo, bertahanlah! Kami akan membawamu pulang!"
# # #
"Paman Isshin, apa paman benar-benar akan pindah ke Amerika?" tanya seorang perempuan berambut merah muda pada ayah Ichigo yang sedang duduk di sofa rumahnya.
Isshin mengangguk mantap. "Yah, aku sudah sepakat akan pindah ke Amerika bersama Masaki, Yuzu, dan Karin."
Si perempuan tampak senang dengan jawaban Isshin. "Baguslah kalau begitu! Lalu, bagaimana dengan Ichigo?"
"Ichigo? Yah, dia akan ikut pindah bersamaku ke Amerika setelah ia lulus SMA sebentar lagi."
Perempuan berambut merah muda semakin girang dan berteriak kesenangan mendengar kabar terakhir yang menyatakan Ichigo akan ikut dipindahkan ke Amerika bersama Isshin. "Aku akan senang dan sangat menerima kalian di tempat tinggalku, di Amerika. Apalagi jika Ichigo tinggal bersamaku di satu atap!"
-TBC-
Akhirnya kesampean bikinnya~!
Sebelum puasa puas-puasin bikin fic rate M, haha, XD
Maaph ya gak sempet blz repiu, tapi buat yang uda repiu dulu, thanks banget yah!
Sekali lagi, maaph! ^^
