"Rukia-chan, kau tak seharusnya repot-repot ikut mengantar bocah ini sampai ke rumah." ucap seorang pemuda berambut hitam yang menyeret seorang pemuda berambut oranye yang sedang pingsan. Sang gadis yang diajaknya bicara menggeleng.

"Tidak apa, Kaien. Aku kan juga khawatir dengannya, jadi aku tidak merasa kerepotan." balas sang gadis tersebut yang bernama Kuchiki Rukia. Salah satu dari teman mereka menggelengkan kepala. Seorang pemuda berambut merah yang juga ikut membantu menyeret kekasih Rukia, yaitu Kurosaki Ichigo menyahut, "Beruntung sekali Ichigo memiliki gadis sebaik dirimu!" celetuknya membuat semburat merah muncul di wajah Rukia. "Ah, dasar kau ini! Aku tidak sebaik yang kau kira."

"Tapi aku benar-benar terkejut loh. Perubahan Ichigo benar-benar drastis. Sebelum bertemu denganmu, dia itu cowok dengan sifat kasar, mesum, ganas, brutal, tidak sabaran, nafsuan dan lan-lain," jelas seorang berambut putih yang mengungkapkan sisi negatif dari Ichigo. Kalau saja Ichigo dalam keadaan sadar, si cowok rambut putih yang bernama Kokuto ini pasti bakal di hajarnya sampai babak belur gara-gara menyebarkan sifat buruknya. Yang lain, termasuk Rukia hanya tertawa mendengar penuturan Kokuto.

Mata violet Rukia melirik Ichigo yang masih dalam keadaan pingsan. Wajah tampan yang terlelap itu sungguh membuatnya tak tahan ingin menciumnya. Rukia sadar, sejak bertemu dengan Ichigo pun, ia perlahan-lahan mulai berubah. Agresif. Ia jadi terlalu sayang dengan kekasihnya itu sampai-sampai ia relakan mengantar Ichigo pulang ke rumah walau ia tahu kalau Byakuya akan memarahinya gara-gara pulang terlambat. Otaknya memutar kembali memori masa lalunya saat baru pertama kali bertemu dengan pemuda berambut oranye tersebut. Awalnya memang menyebalkan, tapi lama-lama ia tahu siapa Ichigo sebenarnya. Kurosaki Ichigo adalah lelaki baik, bahkan sangat baik mengingat ia pernah menolongnya dari Grimmjow yang hampir memperkosanya walau ia sudah babak belur, dan Ichigo adalah lelaki dewasa yang sanggup menahan hasrat kelelakiaannya dan berjanji tidak akan menyentuh Rukia sebelum mereka menikah. Ah, Rukia, kau benar-benar gadis paling beruntung karena mendapat tipe lelaki seperti Ichigo.

"Akhirnya sampai juga!" seru Renji yang membuyarkan lamunan Rukia tentang Ichigo. Kepala mungil Rukia menoleh ke depan. Rupanya tanpa di sadarinya, ia sudah sampai di rumah Ichigo.

"Rukia, bisa tolong bunyikan bel-nya?" pinta Ishida dan yang lain sibuk mengurus Ichigo. Rukia mengangguk mantap. Ia langkahkan kakinya sampai tepat di depan pintu rumah Ichigo.

Ting... tong...

Bunyi bel rumah Ichigo terdengar bergema di dalam rumah Ichigo, namun suara itu dapat di dengar Rukia. Gadis bermata violet itu sedikit gugup setelah memencet bel rumah Ichigo. Jantungnya terasa berdebar-debar, pikirannya terus pergi ke mana-mana. Gugup, takut, dan lain-lain terasa di benaknya karena tak bisa di bayangkannya ia akan bertemu dengan orang tua Ichigo. Entah itu ibunya atau ayahnya, yang jelas Rukia sungguh belum siap kalau bertemu dengan calon mertuanya. Hey, mertua? Aduh, Rukia! Kenapa kau sampai berfikiran begitu? Kenapa kau yakin sekali kalau Ichigo benar-benar akan jadi suamimu? Wajah manis Rukia memerah. Tak bisa dibayangkannya bagaimana kikuknya ia kalau sudah bertemu dengan orang tua Ichigo.

"Ahh... kau jadi terlihat aneh, Rukia. Apa kau memikirkan seperti apa calon mertuamu?" goda Kaien yang menyadari tingkah Rukia yang aneh. Gadis mungil itu menggelengkan kepalanya dengan cepat.

"Ti-tidak! Aku tidak berfikiran begitu!"

"Oh ya? Lalu bagaimana dengan kata-katamu yang, 'Tidak apa-apa kalau kau menyentuhku walau kita belum menikah', kalau tidak salah begitu kan kata-katanya?" tambah Renji yang lalu diikuti gelak tawa teman-temannya. Ledekan dari si grup kuartet itu makin membuat Rukia kesal dan malu. Tapi semuanya buyar ketika seseorang membuka pintu. Rukia menoleh ke arah pintu yang bergerak hampir terbuka. Jantungnya berdetak kencang dan merasa tak siap untuk melihat siapa anggota keluarga Ichigo yang akan membukakan pintunya. Apakah ibunya? Ayahnya? Atau adiknya?

"Siapa ya?" seorang gadis berambut kuning dengan wajah manisnya berdiri di hadapan Rukia dan yang lain setelah ia membukakan pintunya. Mata Rukia dan yang lain terbelalak. Benar-benar di luar dugaan, ternyata Ichigo memiliki anggota keluarga yang begitu cantik nan manis. Tunggu, anggota keluarga? Rukia mulai mengingat-ingat cerita tentang keluarganya. Rasanya, Ichigo cuma tinggal dengan kedua orang tuanya dan dua adik perempuannya yang masih SD. Lalu, apa benar gadis berambut kuning ini adik Ichigo? Kalau iya, kenapa tingginya seperti gadis SMA, dari wajahnya terlihat seumuran dan... yang paling penting, penampilan gadis itu benar-benar memperlihatkan bahwa ia adalah gadis dari keluarga kaya. Bukankah itu sangat tidak mencerminkan penampilan, ah bukan, gaya sederhana keluarga Kurosaki? Gadis yang berdiri di depan pintu masuk itu terlihat terkejut melihat Ichigo yang pingsan bersama teman-temannya. Tanpa memperhatikan Rukia, gadis itu menghambur ke arah Ichigo sampai tak sadar menabrak Rukia. Seakan sudah kenal dekat, gadis itu memeluk tubuh Ichigo.

"Ichigo! Apa yang terjadi dengan Ichigo!" teriaknya khawatir. Tapi semua yang ada di sekitar cuma diam memandangi si gadis. Akhirnya Kokuto yang ambil bicara, mewakili rasa penasaran semuanya tentang gadis berambut kuning itu. "Sebenarnya kau ini siapa? Aku tidak pernah melihatmu sama sekali setiap ke rumah Ichigo." kata Kokuto dengan muka herannya. Si gadis menoleh padanya, ia tersenyum miris.

"Aku Dokugamine Riruka, anak dari teman ayah Ichigo yang akan mengantar keluarga Ichigo ke Amerika."

Disclaimers : : Tite Kubo

Warning : : OOC, AU, Typo, gaje, abal, dll.

I Can Change You

Chapter 12

"Uhmm..."

Lelaki berambut oranye yang sedari tadi pingsan dan terbaring di tempat tidur, sekarang telah sadar. Pemuda bermata hazel tersebut mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memfokuskan pandangannya yang masih sedikit kabur. Dengan pelan, di bangunkannya tubuh atletisnya yang dirasanya lemah. Lelaki bernama Kurosaki Ichigo itu memegangi kepalanya yang terasa sakit, rasa pusing yang berat samar-samar dirasakannya.

"Sudah bangun?" sebuah suara perempuan membuatnya terkejut. Ichigo menoleh ke asal suara perempuan yang tak berada jauh darinya. Matanya membulat melihat seorang perempuan berambut kuning berdiri di hadapannya sambil berkacak pinggang.

"K-Kau... Riruka? Kenapa bisa?" ucap Ichigo tidak percaya. Gadis berambut kuning bernama Riruka itu terkikik senang melihat reaksi Ichigo yang sangat kaget. Gadis manis berkucir dua itu duduk di kasur tepat di sebelah Ichigo. Tanpa di aba-aba, ia langsung memeluknya dengan kuat, mewakilkan rasa rindunya yang begitu berat. "Aku rindu berat padamu Ichigo! Tidak kukira kau bisa mengenaliku~! Biasanya kau kan tidak bisa langsung mengenaliku~!" katanya girang. Tangan Ichigo berusaha mendorong tubuh Riruka yang memeluknya begitu erat. Percaya tidak percaya, meski Riruka seorang perempuan, tapi kekuatan Riruka jauh lebih kuat dari kekuatan Ichigo yang seorang lelaki. Apalagi kalau sudah dipeluk seperti ini.

"Riruka, cepat lepaskan aku! Kau mau membunuhku dengan pelukan mautmu ya?" gertak Ichigo dengan tangan yang mencubit kedua pipi Riruka dan kaki yang terus berusaha mendorong tubuh Riruka. Ya meski ini kasar, mau bagaimana lagi? Lagipula ini tidak bahaya kok mengingat Riruka adalah perempuan dengan kekuatan super ditambah ia terlalu tomboy.

"Kau jangan anggap aku anak kecil lagi! Aku tidak akan tertipu dengan warna rambutmu yang kau rubah-rubah dengan cat rambutmu!" memang, teman Ichigo yang satu ini hobi mengecat warna rambutnya. Makanya jangan heran kalau Riruka selalu berubah warna rambut dan banyak orang tak mengenalinya.

"Ah, yayaya. Kau memang hebat, Ichigo~!"

"Lalu, kenapa kau bisa ada di sini sekarang! Bukankah ini masih belum liburan, harusnya kau masih di Amerika."

Riruka sedikit terdiam setelah mendengar ucapan Ichigo barusan. Tak lama kemudian, gadis itu tersenyum tipis sebelum mengatakan tujuannya datang ke Jepang dan menemui Ichigo. Dilepaskannya teman masa kecil yang disayanginya itu. Kedua bola mata gadis itu menatap tajam hazel Ichigo sembari menggambarkan keseriusannya.

"Kuharap kau tidak terlalu terkejut dan bisa tenang setelah mendengar apa yang akan kukatakan ini," ucap Riruka dengan suara lirih yang semakin memancing rasa penasaran Ichigo. Pemuda itu mengerutkan alisnya. Baru ia tahu kalau Riruka bisa seserius ini padanya, itu semakin membuatnya tak sabar.

"Aku datang ke sini untuk mengantar keluargamu dan kau ke Amerika, Ichigo," kalimat Riruka berhasil membuat Ichigo terkejut. Ia tak percaya dengan apa yang dikatakan Riruka. Sangat tidak percaya. Kata-kata Riruka sungguh mengerikan untuknya. Bagaimana bisa ia tiba-tiba harus pindah ke Amerika, meninggalkan segalanya tentang Jepang.

"Tida-"

Sebelum Ichigo berbicara lebih jauh, Riruka sudah menghentikannya dengan menempelkan jari telunjuknya di bibir pemuda berambut oranye itu. Tatapan mata Riruka semakin menguatkan perkataannya bahwasanya memang benar, tapi Ichigo tetap takut untuk mengakui kenyataan itu.

"Semua ini adalah kemauan ayahmu. Ia dipindah kerjakan ke Amerika dan paman Isshin mengajak semua keluargamu untuk ikut dengannya. Termasuk kau, Ichigo. Dan aku bertugas untuk memandu perjalanan kalian ke Amerika. Kita akan berangkat sebulan lagi, tepat saat kau lulus SMA." sambung Riruka. Ichigo berusaha tenang. Tapi tetap tidak bisa. Keadaannya saat ini sangat kacau. Ia masih sakit, ditambah dengan kabar buruk dari Riruka semakin membuat tubuhnya melemas.

"Sial!" Ichigo mengumpat karena sakit di kepalanya semakin terasa menyerangnya. Keringat dingin dari tubuhnya terus keluar dan suhu tubuhnya pun tak menentu. Keadaan itu membuat Riruka khawatir. Gadis itu menenangkan Ichigo dengan memeluknya. Diusapnya rambut oranye Ichigo dengan lembut.

"Aku tahu perasaanmu. Kau tidak mau ikut meninggalkan teman-temanmu, bukan? Aku tahu, kau pasti ingin menentang keputusan ayahmu. Tapi ingatlah, Ichigo. Kau sudah dewasa, kau harus pintar mengambil keputusan."

Ichigo hanya diam. Ia mengabaikan ucapan Riruka, namun pelukan hangat Riruka terasa sedikit menenangkannya. Dokugamine Riruka adalah seorang kakak bagi Ichigo, sejak kecil, Riruka-lah yang terus melindunginya, Riruka-lah yang terus menenangkannya dalam emosi, dan Riruka-lah di mana tempatnya ia mencurahkan seluruh rasa tak enak di hatinya.

"Sial! Aku tidak akan ikut!" gumam Ichigo. Emosi memenuhi pikirannya, pemuda itu dengan kasar menghempaskan tubuh Riruka yang memeluknya kemudia bangun dari tempat tidurnya dan keluar dari kamarnya untuk mencari Isshin. Ia harus bicara pada Isshin. Ia harus mengatakan bahwa banyak sesuatu yang sangat berharga baginya di Jepang. Ia tak mau semudah itu harus pergi pindah Amerika meski masih diberi waktu satu bulan untuk persiapannya.

"Ichigo!" Riruka tak bisa berbuat apa-apa. Gadis berambut kuning itu cuma terdiam di tempatnya sembari menahan rasa kecewanya pada Ichigo yang meluap. "Dasar bodoh."

# # #

"Rukia, kenapa kau pulang terlambat?" tanya Byakuya yang mendapati Rukia sudah pulang jam enam petang, waktu yang menunjukkan keterlambatannya pulang sekolah. Bahkan bisa dibilang sangat terlambat. Itu membuat Byakuya khawatir setengah mati padanya. Si gadis berambut pendek yang merupakan adik kesayangan Byakuya itu hanya melempar senyum manisnya seolah berkata, aku baik-baik saja. Rukia berjalan melangkah menuju kamarnya, ia tak memperhatikan kakaknya yang terlihat masih khawatir dengannya. Byakuya cuma menghela nafas beratnya. Yang penting Rukia sekarang sudah pulang dan tak terjadi apa-apa dengannya, itu sudah cukup membuatnya tenang.

Blam.

Pintu kamar Rukia tertutup. Rukia sejenak berdiam diri di tempatnya bersandarkan pintu kamarnya. Mata violetnya menerawang ke langit-langit atapnya. Ia kemudian kembali berjalan sampai akhirnya di rebahkannya tubuhnya ke ranjang kamarnya. Gadis itu memainkan ponsel yang ada di genggamannya. Mata violetnya memandangi wallpaper ponselnya, foto Ichigo dan teman-temannya.

"Ichigo akan pindah ke Amerika setelah lulus SMA. Mungkin untuk selamanya dan tidak akan tinggal di Jepang lagi."

Kalimat dari Riruka, gadis yang baru dikenal Rukia di rumah Ichigo barusan masih terngiang di otaknya. Rukia memejamkan matanya rapat-rapat, ingin rasanya ia lupakan kata-kata menyakitkan itu.

'Aku tidak mau Ichigo pergi. Tidak akan pernah ingin...'

# # #

"Ayah! Apa maksud ayah dengan pindah ke Amerika? Jangan seenaknya memutuskan hal seperti ini tanpa persetujuan dariku!" ironis, Ichigo dengan nada membentak-bentak bicara pada Isshin yang sedang membaca koran dengan santai. Ayah tiga anak ini tak menyangka kalau Ichigo bisa bersikap sekasar ini padanya. Bicara dengan tidak sopan. Pria berjenggot itu meletakkan koran yang dibacanya ke meja lalu memandang anaknya yang berdiri di hadapannya yang menatapnya kesal.

"Inilah keputusan ayah, Ichigo. Ayah akan melanjutkan pekerjaan ayah ke tingkat yang lebih tinggi dengan pindah ke Amerika. Asal kau tahu saja, ayah tidak merasa repot jika kau tidak ikut ke Amerika." ucap pria paruh baya tersebut yang kemudian mengambil sebatang rokok dari kotak rokoknya. Ichigo tersenyum tipis. Kata-kata ayahnya dapat membuat dirinya puas. Inilah yang diinginkannya, kebebasan. Kalau seperti ini, ia jadi tidak perlu khawatir harus berpisah dengan teman-teman yang di sayanginya, dan... Rukia.

"Baiklah, kalau begitu aku tidak akan ikut pindah ke Amerika. Dengan begini aku-"

Kalimat Ichigo terhenti ketika ia melihat ayahnya menunjuk sesuatu. Jari telunjuknya menunjuk sesuatu di belakangnya. Pemuda berambut oranye tersebut menoleh searah dengan arah telunjuk Isshin. Betapa terkejutnya bocah SMA ini mendapati kedua adiknya yang berdiri tak jauh di belakangnya menangis bersama ibunya, Kurosaki Masaki.

"K-kakak benar-benar tidak ikut?" isak tangis dari Yuzu, adik terkecilnya terdengar begitu pilu. Sementara kakaknya, Karin hanya diam sambil terlihat menahan tangisnya. Pemandangan itu membuat Ichigo tak tega. Ia merasa dirinya adalah kakak terjahat yang ada di dunia karena bersikeras menentang sesuatu, bahkan menentang keluarganya sendiri. Sebelumnya memang ia nakal, brutal dan bersikap buruk dengan sekitarnya, namun tidak untuk keluarga. Baginya, keluarga adalah segalanya untuknya. Tak sedikitpun ia berniat menyakiti perasaan keluargana. Pemuda itu tak tahu harus bicara apa lagi. Haruskah ia menghibur adiknya dengan cara berjanji akan ikut ke Amerika? Jika benar begitu, artinya ia membohongi adiknya.

"Jadi, kau benar-benar tidak akan ikut, Ichigo?" kali ini Masaki bertanya. Tak terdengar balasan dari Ichigo. Pemuda itu masih menunduk di tempatnya dan memikirkan sesuatu. Ia bingung, apa yang harus dilakukannya. Keluarga dan teman-teman, kedua pilihan itu terlalu berat untuknya.

"Ichigo?" suara ayah dan ibunya terngiang di telinganya. Tangan Ichigo mengepal erat, ia harus berani dan bisa mengambil keputusan yang tepat. Pelan-pelan, diangkatnya kepalanya dan memandangi kedua adiknya yang masih menangis. Tangisan itu dapat membuatnya sesak, dan mana kuat ia harus melihat kesedihan keluarganya terlalu lama.

Bibir Ichigo mulai sedikit terbuka. Jawaban dari mulutnya sangat ditunggu-tunggu oleh semuanya. Isshin, Masaki, Karin, Yuzu, dan Riruka yang berdiri tak jauh dari keluarga Kurosaki itu ikut menanti keputusan Ichigo. Apakah yang akan dijawabnya? Masihkah ia bersikeras untuk tetap tinggal di Jepang atau ikut bersama ayahnya?

"Ibu, aku..."

# # #

Esoknya, di SMA Karakura...

"Ru-Rukia, apa yang terjadi dengan kantung matamu?"

"Iya, kenapa jadi sedikit hitam?"

"Kau jangan-jangan kurang tidur ya?"

Rukia yang baru datang ke sekolah dan digeromboli oleh para teman-teman perempuannya cuma menggelengkan kepalanya menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan teman-temannya karena penampilannya yang berbeda itu. Dengan senyum memaksa, gadis itu terus mencoba menyakinkan bahwa ia tak apa-apa. Namun kenyataannya, sebenarnya semalam setelah mengantar Ichigo pulang, gadis itu tak tidur. Lebih tepatnya ia tak bisa tidur karena terus memikirkan jika Ichigo benar-benar pergi ke Amerika. Tak bisa dibayangkannya semua itu hingga membuatnya menangis. Wajah kusut Rukia memang bisa mengelabui teman-teman perempuannya, tapi tidak untuk Kokuto dan yang lain yang melihatnya dari kejauhan. Kokuto, Renji, Ishida, dan Kaien saling berpandangan kemudian mengangguk. Mereka mengerti apa penyebab keadaan Rukia sekarang ini. Keempat siswa itu kemudian keluar dari kelasnya, menuju ke gerbang sekolah untuk mencegat seseorang.

# # #

"Aku tidak menyangka Rukia-chan jadi seperti zombie,"

"Yeah. Ini gara-gara Ichigo dan kabar buruknya yang mengatakan ia akan pindah ke Amerika."

"Tapi kurasa, itu tidak mungkin. Ichigo pasti akan menentangnya! Aku yakin, ia tak akan bisa meninggalkan Rukia sendirian!"

"Semoga saja."

Keempat siswa tersebut memperdebatkan masalah Ichigo. Itu memang bukan urusan mereka, namun seberapa kuatnya mereka berusaha mengacuhkan masalah itu, tetap saja tidak bisa. Ichigo, pemuda itu sudah dianggap mereka sebagai saudara. Selama 3 tahun bersekolah, mereka selalu bersama-sama, dalam keadaan suka maupun duka, mereka saling berbagi. Maka dari itu, jika ada salah satu dari mereka yang tidak ada, rasanya akan sangat kurang. Terlebih lagi Ichigo yang dianggap mereka sebagai ketua dalam grup persahabatan mereka. Langkah kaki keempat pemuda itu berhenti di lorong kelas ketika melihat seorang siswa berambut mencolok, oranye. Tentu itulah Ichigo, teman yang mereka nantikan.

"Yo." hanya sapaan singkat dan senyum kecil yang ditunjukkan Ichigo ketika melihat keempat sahabat baiknya itu. Renji dan yang lain masih diam, tidak menjawab sapaan darinya. Mereka membayangkan, bagaimana jika Ichigo benar akan pergi. Tak akan ada lagi bocah rambut jeruk, mata hazel hangatnya, suara sapaan khasnya, dan senyum bahagia dari Ichigo. Sangat menyedihkan untuk mereka jika semua apa yang dibayangkan mereka akan jadi kenyataan. Tapi jika itu benar terjadi, maka sisa waktu mereka bersama Ichigo harus dimanfaatkannya baik-baik.

"Cih. Kau telat yah." desah Kaien sambil tersenyum pada Ichigo. Semuanya kemudian mendekati bocah itu lalu merangkul lehernya dan memukul pelan pundaknya sebagai salam selamat pagi khas mereka.

"Ayo kita segera ke kantin! Aku sudah lapar nih!"

"Hey, bagaimana dengan demammu? Sudah sembuh ya, bayi kecil?"

Celotehan-celotehan dari teman-temannya masih dapat didengarnya. Ichigo tersenyum, tak ada perubahan pada mereka. Orang yang di sayanginya masih bersikap biasa padanya, dan tertawa bahagia bersamanya. Tapi satu yang harus dia ingat.

Semua ini tidak akan bertahan lama...

# # #

Canggung. Perasaan Ichigo sekarang ini sedang canggung gara-gara ia terjebak oleh teman-temannya dan kini ia harus berhadapan berdua saja dengan Rukia. Kenapa bisa sih ia merasa tidak enak harus berduaan dengan kekasihnya sendiri? Padahal ia kan sudah terbiasa dan selalu menginginkan Rukia bersamanya, berdua bersamanya. Tapi tidak untuk saat ini. Suasananya tidak tepat. Pemuda berambut oranye yang terjebak di taman belakang sekolah berdua bersama Rukia ini terus mengutuk perbuatan teman-temannya yang telah mempertemukan mereka. Ia tahu, meski di situ hanya ada dia dan Rukia, tapi grup kuartet itu pasti mengintainya entah dengan apa caranya.

"Uhm, kata Ishida, kau mau bicara sesuatu. Apa itu benar?" tanya Rukia yang memecah keheningan di antara mereka. Sontak, Ichigo mengangguk, padahal ia sendiri tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Tapi inilah kesempatan emas Ichigo. Kesempatan untuk memberikan sebuah kabar yang mungkin akan membuat Rukia bersedih.

"Rukia, kemarin kau mengantarku sampai ke rumah dan... apa kau sudah bertemu dengan Riruka?"

"Iya, dia... kekasih barumu ya?"

"EKH! TI-TIDAK! ENAK SAJA KAU BILANG WANITA BAR-BAR SEPERTI DIA KEKASIHKU! Akh, maksudku, dia itu tidak ada hubungan apa-apa denganku! Yah, dia cuma anak dari teman kerja ayahku, dan dia cuma kuanggap sebagai kakak saja!"

Gadis bermata violet itu mengerutkan dahinya mendengar jawaban Ichigo yang kasar tentang Riruka. Tatapan itu membuat Ichigo semakin gugup dan takut mau bilang apa lagi. Diakuinya, ia tidak pandai berkata-kata menentang sesuatu. Dengan kepala menunduk, pemuda itu menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal, ciri khasnya saat pemuda itu kebingungan mau apa.

"Ano, Rukia... sebentar lagi kita akan lulus SMA. Aku mau bilang sesuatu,"

Rukia terdiam. Nafasnya tercekat, ia sebenarnya tak ingin mendengarnya. Ia tahu, Ichigo pasti akan bicara padanya tentang kepindahannya ke Amerika setelah lulus. Ia takut. Hatinya masih belum siap mendengar kabar buruk dari mulut Ichigo sendiri.

"Kau... mau bilang apa?" suara Rukia bergetar. Sungguh, ingin rasanya gadis itu menutup kedua telinganya dengan tangannya agar tak mendengar apapun yang Ichigo katakan.

"Rukia, aku..." Ichigo mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia berusaha mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk mengatakan kabar buruk yang ia dapat dari keluarganya kemarin. Tapi tak bisa. Ichigo tak bisa mengatakannya, terlalu berat baginya. Tidak sesuai dengan rencananya, Ichigo malah mendekat pada Rukia dan memeluk gadis mungil itu erat. Dekapannya semakin menguat saat terdengar suara merdu Rukia memanggil namanya. Pelukan itu menggambarkannya rasa tak ingin berpisah, sangat tak ingin. Dan itu bisa dirasakan oleh Rukia.

"Ichigo?" Rukia perlahan memejamkan matanya, merasakan kehangatan pelukan tubuh Ichigo. Tangan mungilnya membalas pelukan hangat itu. Beberapa lama mereka dalam keadaan begitu, Ichigo akhirnya melepas pelukannya meski dengan ragu. Mata hazelnya menatap dalam kedua mata indah Rukia. Telapak tangan Ichigo mulai mengelus pipi Rukia dengan penuh kelembutan, rasa sayang.

"Maaf. Aku cuma mau bilang,"

Jangan katakan, Ichigo... jangan katakan kalau kau akan meninggalkan Rukia.

Ichigo sejenak tersenyum pada gadis yang hampir menangis di depannya. Ia kemudian mengecup singkat dahi sang gadis lalu menggenggam tangan mungilnya.

"Bantu aku saat ujian nanti, dan mari kita kuliah di satu kampus yang sama. Kau bisa bukan?"

Eh? kenapa jadi begini? Rukia sangat terkejut dengan kata yang baru meluncur dari mulut Ichigo. Benarkah ini yang memang Ichigo akan katakan padanya?

"WOY! Masa kau cuma mau bilang begitu saja! Pasti kau sebenarnya mau bilang 'aku cinta padamu', kan, Ichigo!"

"Tidak, pasti dia berniat melamar Rukia, tapi karena terlalu gugup, dia malah bicara hal konyol seperti itu!"

"Oy, Rukia-chan, saat ujian nanti, aku juga di bantu ya~!"

"Dasar bodoh!"

Mendadak Renji dan yang lain muncul dari semak-semak secara bersamaan. Ichigo dan Rukia tidak kaget dengan kemunculan mereka, tentu saja. Sebelumnya mereka sudah menduga, mereka pasti akan di intip seperti ini, makanya mereka sudah terbiasa. Kedua pasangan SMA Karakura itu saling berpandangan lalu tertawa bersama. Untuk saat ini, memang menyenangkan bagi mereka. Sepertinya apa yang biasa orang katakan tentang persahabatan yang 'susah-senang, yang penting kumpul' itu memang benar. Bisa mereka rasakan kebahagiaan itu ketika mereka berkumpul bersama dan saling tertawa.

Sementara grup kuartet itu menggoda Rukia dengan meledeknya tentang Ichigo, Ichigo tidak menanggapi mereka. Ia mendongakkan kepalanya ke atas, memandang langit biru yang indah. Senyum tipis tersungging di wajah tampannya.

'Belum saatnya mengatakannya pada mereka...'

Pikirnya sambil memandangi sahabat-sahabatnya dan Rukia yang tertawa lepas dengan riangnya. Semakin berat rasanya ia harus melepas senyuman keseharian yang biasa dilihatnya ketika sudah waktunya ia harus pergi dari mereka...

# # #

"Ichigo, apa kau- GYAAAAA!" Riruka yang tadinya akan masuk ke kamar Ichigo untuk mencari sesuatu, sekarang berbalik badan dan menutupi mukanya yang merah saat melihat keadaan Ichigo. Ichigo dengan muka polosnya menggumam. "Ng? Ada apa?"

"Bo-bodoh! Cepat pakai bajumu!" perintah Riruka. Rupanya gadis ini terkejut melihat Ichigo yang baru selesai mandi dan masih bertelanjang dada. Reaksi lucu Riruka mengundang tawa cekikikan dari Ichigo. Riruka yang mendengarnya kesal, diintipnya Ichigo lewat celah jari tangannya yang menutup matanya. Ah, benar-benar hebat. Riruka sangat terpesona dengan Ichigo. Bagaimana tidak, penampilan Ichigo saat ini sungguh membuatnya hampir kehabisan darah karenanya. Rambut oranye jabrik Ichigo yang basah membuat rambutnya terlihat sedikit panjang, tubuh Ichigo yang six pack, dan... ah, senyum Ichigo yang membuatnya semakin bertambah lemas. Hampir saja jantung Riruka berhenti berdetak membayangkan seandainya Ichigo adalah kekasihnya. Bahagianya ia jika itu benar terjadi.

"Kau mau apa, Riru?" tanya Ichigo yang heran karena Riruka tak bergeming dari tempatnya. Terpaksa Riruka membalikkan badannya dan dengan muka yang masih merah, ia dengan sengaja melihat Ichigo yang masih bertelanjang dada. "A-aku mau ambil ponselku yang ketinggalan di mejamu! Itu saja!" ucapnya kemudian berjalan ke meja belajar Ichigo yang di sana terdapat ponsel Riruka. Ichigo menghela nafasnya. Di lemparkannya handuk putih yang digunakannya tadi untuk mengeringkan rambutnya.

"Ini." Ichigo menyerahkan ponsel Riruka sebelum gadis itu sempat mengambilnya sendiri. Riruka segera menyambar ponselnya dari tangan Ichigo. "T-terima kasih,"

Menyadari ada sesuatu yang berbeda dari Riruka, Ichigo mengangkat satu alisnya.

"Kali ini kau mengecat rambutmu dengan warna coklat ya."

"Iya, memang kenapa? Kau tahu sendiri kan hobiku, jadi jangan protes!"

Ichigo tertawa sejenak. Tangannya mendarat di kepala Riruka dan memberantakkan rambut coklat Riruka yang tadinya rapi di kucir dua.

"Apa-apaan kau ini, Ichigo! Jadi berantakkan nih!" keluh gadis yang suka gonta-ganti warna rambut itu. Ichigo hanya menjulurkan lidahnya, tanda mengejek.

"Tahu tidak? Kau itu lebih manis dan cantik dengan warna rambut aslimu, merah."

"E-eh?"

Hampir saja Riruka mimisan melihat senyum cerah Ichigo dari dekat, ditambah dengan pujian darinya. Lama-lama, orang yang di anggapnya sebagai adik ini malah bisa-bisa disukainya. Tiba-tiba Riruka meninju perut Ichigo sedikit keras hingga membuat pemuda itu terpekik kaget lalu memegangi perutnya.

"Apa yang kau lakukan, gadis bodoh!"

"Kau yang bodoh! Jangan kira aku terpengaruh pujianmu, playboy cap jeruk!" Riruka kemudian berlari keluar kamar meninggalkan Ichigo yang masih terpaku dengan ucapannya. "P-playboy cap jeruk?"

Sepanjang langkah kecil berlarinya, Riruka terus merasakan debaran jantungnya yang tak tentu iramanya. Ia memukul Ichigo hanya untuk sebagai alasan menyembunyikan muka merahnya.

"Sial. Apa aku jadi menyukai Ichigo..."

TBC

Hollaaa~

Akhirnya ke apdet juga nih, hehe. Nih fic bakal tetep jalan selama puasa, tapi gak ada lemonnya loh ya! Ohohoho~! XD

Aku pengen cepet namatin fic ini, mungkin 2 chapter lagi bakal udah tamat sebelum saia hiatus ^^

Maaph klo chapter kali ini ancur ( _ _ )

Balesan Repiu : : (thanks buat yg repiu yah!)

Zanpaku-nee :: Akakakakkakakak~ Ichi kan pria sejati, makanya bisa nahan napsongnya, XD -halah. Riruka nggak bakal bersaing ama Rukia kok, tunggu chap lanjutannya ^^

D3rin :: Ichi kagak dijodohin kok, tenang aja! Dia cuma punya Rukia! XD

Ai-chan Lieru :: Ehm, gemana... bisa dibilang juga sih dulu Ruki naksir Koku, tapi belum saia jelasin. Hitsugaya saia buat naksir Hinamori ^^a

Aye males login :: Tebakanmu salah! Ente emang mngkin pantes jadi pelawak, wkwkwk XD

Kurosaki Mayuki :: Jawabannya nih udah ada di chap ini! Buat ghost haunt-ny ngantri yah ^^

Nenk Rukiakate :: Ini masih belom tentu juga Ichigo mao pindah, tunggu aja lanjutannya XD

Meyrin Kyuchan :: Haduh, maaph ya klo apdetnya lama, ^^a, ini udah apdet cepet XD

Voidy :: Ini udah mau tamat koq Senpai, hahae XD

Chy Karin :: Sama-sama, klo ada salah maaphin saia yah ^^

Twingwing Rurake :: Jawabannya Riruka! XD

Purple and Blue :: Mungkin bakalan begono, Ichi ninggalin Ruki XD

Thia Nokoru :: Makasih pujiannya ^^

Bad Girl :: Nyamuk bercinta? Wkwkwkwk~ Hobinya grup kuartet eto emank suka ngintip XD

Maaya-chan loph Ichiruki :: Iye, mendink kan Ishida jujur daripada bo'ong, wkwkwkw XD

Luna 'ruru' Kuchiki :: Ho'oh, film ecchi eto ya itu loh! XD

Oke, buat semuanya yang repui, thanks yah! Repiu lagi! N selamat menjalankan puasa bagi yang menjalankannya ^^