A/N : Ga usah panjang-panjang~ just read n review, minna^^
Disclaimer : Naruto selalu punya Masashi Kishimoto-sensei~
Genre: romance & humor-?-
Rate: T
Pair: SasuNaru, KyuuGaa, SuiNeji, ShikaKiba, dll.
Summary: Otak jahil Sasuke langsung aktif saat melihat wajah-sok-serius naruto saat meminta permohonan. Sasuke mendekatkan bibirnya ke telinga Naruto lalu berbisik jahil,"Kami-sama, semoga aja si author super gaje ini mau ngebuatin sequel fic ini dengan rate M++" /"HAH?" Naruto langsung berhenti memohon dan memandang Sasuke yang sedang tertawa jahil. /"ARGH! TEME MESUMMMMMM~!"
"Hmm…" seorang pria blonde menggumam pelan sembari menekuni tiap kata yang kini terpampampang di layar laptop biru muda kesayangannya. Pria itu lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang sejak tadi telah menanti.
Tangan tannya yang dibalut oleh kemeja biru muda berlengan panjang terulur ke samping laptopnya yang masih menyala, mencoba menggapai sebuah foto yang dihiasi oleh sebuah figura mewah berwarna dark blue, foto kekasihnya.
Pria tadi memandang lekat pada foto yang telah berada di genggamannya dengan seulas senyum manis. Lalu ia menengadahkan kepalanya membuat iris sapphire indahnya bertemu dengan langit-langit ruangan kerjanya di Uchiha Corp. ini.
Pria itu berdiri dari posisi duduknya dengan tangan kirinya yang masih menggenggem foto kekasihnya. Lalu ia meregangkan otot-ototnya yang kaku. Ia merasa lelah karena telah duduk berjam-jam di kursi yang selalu menyapanya tiap ia datang ke kantor ini.
Pria dengan marga Uchiha itu kini melangkahkan kaki jenjangnya yang terbalut oleh celana hitam berkelas ke arah sebuah jendela besar yang berada di arah berlawanan dengan tempatnya duduk tadi. Ia membuka jedela itu pelan, menggesernya dengan lembut membuat angin semilir pagi ini datang menyapa perlahan. Membuat rambut pirangnya yang kini telah memanjang terbang menari-nari di udara lalu kembali jatuh dan singgah di dahi pria yang biasa kita sapa dengan nama Naruto Uchiha.
Naruto tersenyum lembut memandang apa yang kini ada di hadapannya melalui jendela besar itu. Sebuah bangunan besar, luas, dan megah. Tempat yang dilihatnya itu adalah sebuah bandara. Bandara yang nantinya akan mempertemukan dirinya dengan sang kekasih, Sasuke Uchiha.
Naruto menyisir pelan rambut depannya yang telah menyentuh alis lalu kembali mengacaknya pelan, membuat rambut pirang itu kembali berantakan. Lalu dia kembali menatap bandara dan foto Sasuke bergantian, tentunya dengan senyuman yang mengembang.
TOK TOK TOK
Suara ketukan pintu yang menggema keras membuat pria dengan tiga garis halus di masing-masing pipinya itu berbalik menatap ke arah pintu sebelum berucap, "Masuk".
Setelah sebuah intrupsi yang menyerukan agar si pengetuk pintu masuk, pintu itu pun terbuka lebar menampakan seorang wanita dengan rambut soft pink sebahu yang kini tersenyum pada Naruto.
"Ohayou, Naru-chan." Sapa wanita itu ramah sambil menutup pintu yang sempat dibukanya dan memasuki ruangan Naruto dengan langkah tenang.
"Ohayou mo, Sakura-chan." Naruto membalas sapaan wanita yang dipanggilnya 'Sakura-chan' tadi dengan tak kalah ramahnya tentunya ditambah dengan cengiran rubahnya yang bisa membuat wanita dan lelaki manapun nosebleed mendadak*grin*
"Tumben pagi-pagi ke sini. Gimana sama butik loe, Sakura-chan?" Naruto bertanya pada wanita yang kini duduk di depannya. "Gue titip sama Gaara-chan, ada Kyuu-nii juga sih, hehe." Wanita bernama lengkap Sabaku No Sakura itu menjawab sambil cengar-cengir gaje ala fujoshi XD
"Ya ampun~ loe sama sekali gak berubah ya? Padahal udah lima tahun lho! Tapi sifat fujoshi loe kayaknya makin parah aja bukannya malah sembuh." Naruto geleng-geleng kepala sambil bersweatdrop ria. Dia agak merinding juga membayangkan sahabat baiknya, Sabaku No Gaara berduaan dengan si raja usil a.k.a Kyuubi Uzumaki, orang yang dijuluki sebagai 'Pangeran' dan telah divonis memiliki sifat setan yang ya-Tuhan-sumpah-parahnya-gak-ketulungan-lagi!
"Ehehehe, kalo sifat fujoshi sih nyampe kapan pun juga gak bakal hilang~" Sakura nyengir ke arah Naruto sedangkan Naruto-nya sih cuma geleng-geleng kepala*lagi*
"Hmm.. hari ini loe pasti seneng banget kan?" iris emerald Sakura menatap lembut pada iris sapphire di depannya. Sedangkan yang ditatap hanya mengembangkan sebuah senyum dan menjawab dengan semangat. "Pasti! Hari ini si Teme itu kan pulang!" Naruto berkata antusias.
"Ciah, semangat banget~ yang mau ketemu sang seme nichhh~ hihihi…" goda Sakura sambil cekikikan gaje. "Uch, Sakura-channnn!" sedangkan Naruto sih Cuma bisa cemberuttt digoda kayak gitu. Padahal dalam hati sih pria blonde ini seneng juga, hehe^^a
"Owh ia, Naru-chan!" Sakura secara tiba-tiba berjengit semangat.
"Uhm, apa? Kenapa jadi elo-nya yang semangat gitu?" Naruto sweatdrop sendiri melihat sahabatnya yang kini menjadi pemilik butik yang terkenal dan ternama itu.
"Ntar biar gue yang bikini baju pengantin kalian ya? Pleaseee~" Sakura memohon dengan kedua tangannya yang dikatupkan di dada plus puppy eyes tentunya~
"A-Apa`an? B-baju pengantin?" entah kenapa Naruto jadi memerah sendiri mendengar permintaan Sakura. "Uh-um! Gratis juga gak apa kok. Pokonya gue yang bikini okay?" Sakura mulai memaksa sambil menggoyang-goyangkan tangan Naruto yang kini diam membatu.
Naruto melirik Sakura pelan lalu bergumam dalam hati, 'Gue sama si Teme itu…nikah?'
UKH
DEG
Tanpa diperintah jantungnya berdegup keras. Wajahnya secara alami memanas dan memerah membuat Sakura di depannya tertegun pelan lalu kemudian kembali memasang wajah ala fujoshi akut.
"CIEE~ Naru-chan lagi mikirin ke arah rate M yahhh~" Koor Sakura keras sambil memasang wajah mesum tingkat akut. And yang pasti kata-kata Sakura tadi bikin si Pirang makin nge-blush ria, hahay XD
"Sakura-chan! Jangan aneh-aneh dech~" Naruto memajukan bibirnya membuat ekspresi cemberut yang langsung membuat Sakura tertawa. "Ahahahaha, gue kan Cuma bercanda. Naru-chan aja yang terlalu serius, hehe…" Sakura menjawab santai sedangkan Naruto hanya ber-huh ria.
"Oh ia, gue ke sini mau ngasi ini ke elo, Naru-chan." Sakura tersenyum lebar sambil menaruh sebuah tas plastic putih dengan label nama sebuah Mall di atas meja yang ada di antaranya dan Naruto. "Wah, repot banget. Apa nih?" Naruto bertanya penasaran sambil memperhatikan bungkusan plastic yang kini ada di depannya.
"Tadi gue abis belanja ke mall terus gue liat ada pudding jeruk special jadi gue beliin deh. Sekalian gue juga beliin jus jeruk buat minumnya." Sakura menjelaskan panjang lebar pada Naruto tetap dengan sebuah senyum yang lebih lebar dari biasanya.
"Ehehe, loe emang best friend gue deh! Tau aja gue lagi pingin ngemil. Suntuk neh, gue sendirian di sini." Naruto cemberut mengingat hari-harinya yang selalu sepi, sendiri tiada yang menemani*halahauthorlebay-,-"*
"Iya, iya. Gue tau kok, gue emang baik hati and gak sombong, hehe. Ck, udah deh ayo dimakan." Kata Sakura yang sempat ke-GR-an.
"Yosh, ittadakimasu!" Naruto berseru semangat lalu mulai memakan pudding berukuran sedang di depannya dengan sebuah garpu kecil dan pisau yang sudah tersedia bersama sang pudding.
Sakura yang menatap Naruto yang sedang makan hanya menampilkan sebuah senyum misterius tapi detik berikutnya ia langsung tersenyum seperti biasa, "Minum dong! Udah gue beliin masa gak diminum jusnya" Sakura pura-pura cemberut.
"Iya, iya~ gue minum." Naruto merespon pelan kata-kata Sakura sebelum meminum jus jeruk favoritnya itu. "Hah, enaknya! Hontou ni arigatou, Sakura-chan." Naruto tersenyum manis pada Sakura di depannya.
"Ya okay deh. Gue ke sini Cuma buat ngasi pudding and jus itu aja. Sekarang gue mau pulang dulu deh." Sakura bangun dari duduknya sambir menyampirkan tas hitam mewahnya di bahu kirinya. Naruto pun ikut berdiri dan mengantarkan sahabat karibnya itu sampai pintu ruangannya.
"Jangan lupa nanti siang Sasu-nii dateng, jangan terlambat yah Naru-chan!" Sakura berbalik dan menatap Naruto yang kini lebih tinggi darinya. "Mana mungkin gue lupa hal sepenting itu, Sakura-chann~" Naruto menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sambil nyengir kuda.
"Ya udah deh kalo gitu, Jaa Naru-chan~" Sakura melambai pelan pada Naruto yang dibalas dengan lambaian yang sama.
"Jaa ne, Sakura-chan." Naruto berbisik pelan ke arah Sakura yang sudah melenggang di koridor kantornya, lalu Naruto kembali masuk keruangannya. Duduk kembali di kursi panasnya dan kembali mencoba focus pada laptopnya yang dari tadi masih menyala dengan setia.
Naruto sempat melirik ke pojok kiri bawah laptonya dan mendapkan jam yang masih menunjukan pukul sepuluh pagi dan Sasuke akan pulang jam dua belas. Berarti dua jam lagi ia akan bertemu dengan Sasuke! Semangatnya kembali terpacu memikirkan hal tersebut, Naruto berniat akan menyelesaikan pekerjaannya lebih awal agar dia bisa tenang bertemu Sasuke nanti tanpa diganggu oleh urusan pekerjaan.
Naruto mulai memposisikan kesepuluh jarinya di atas keyboard, bersiap mengetikan kata demi kata yang diperlukan tapi,
UNG…
Kepalanya… berdenyut keras.
"Ukh…" Naruto mengerang pelan sambil memegangi kepalanya yang terasa pening. Pandangannya mulai kabur seiring jarum jam yang terus berjalan. Berat, matanya berat sekali. Ada apa ini? Pikirannya mulai terbang kemana-mana.
Dia menyerah, kepala pirangnya terjatuh perlahan di sebelah laptop kesayangannya. Dia sempat menggumamkan sesuatu sebelum kesadarannya benar-benar menghilang,
"S-Sasuke…"
.
=(^,^a)=
.
"Halo" suara seorang wanita menggema di lorong koridor kantor Uchiha Corp. yang sepi. Sebuah ponsel merah jambu menempel indah di telinga kanannya. Tangan kirinya yang bebas memainkan rambut soft pinknya yang tergerai dengan bebas.
"Hoi, gimana fujoshinting?" sebuah suara maskulin terdengar dari seberang dengan nada penasaran.
"Sukses!" wanita yang dipanggil 'fujoshinting' oleh pria di seberang tersenyum puas.
"Khekhekhe, good job! Kita tinggal tunggu tanggal mainnya." Pria di seberang terkekeh pelan dengan sangat berperikesetanan.
"Yups!" 'fujoshinting' yang ternyata Sakura itu ikut terkekeh pelan lalu mematikan sambungan telponnya dan memasukan benda merah jambu itu ke dalam tas hitam yang tersampir manis di bahunya.
Sakura memandang ke jendela yang kebetulan ada di sebelahnya. Pandangan iris emeraldnya tertawan oleh bandara yang ada di seberang. Dia tersenyum manis lalu detik berikutnya senyuman itu menjadi sebuah seringaian jahil ala pria yang menelponnya tadi a.k.a Kyuubi Uzumaki.
"Mission One, complete…"
.
=(^,^a)=
.
"Engh…"
Suara erangan pelan terasa memenuhi ruangan yang sepi ini. Yang terlihat di ruangan sepi ini hanyalah pergerakan seorang pria blonde yang tampak lemah. Pria itu, sebut saja Naruto. Dia memegangi kepalanya yang masih terasa berat, perlu waktu baginya untuk memulihkan pandangan yang kamur. Ia mengerjapkan mata perlahan, mencoba mencari titik kesadaran.
"Hah, ada apa sih ini?" Naruto memijat kepalanya pelan. Tanpa sengaja ia melirik pada jam yang tertera di layar laptopnya,
14:37
1 detik
Sunyi…
2 detik
Naruto masih loading…
3 detik
Masih loading juga…
4 detik
Wah, keterlaluan! Masih loading!
5 detik
"HUWAPHAA?"
Akhirnya sadar juga, dasar dobe, ckckck *rasengan-tepar-* hehe, back to story!
Naruto terlonjak kaget dan langsung berdiri dari kursinya. Ia kini melihat jam yang melingkar di pergelangan kirinya. Ternyata memang benar, pukul 14:37
"Sial, padahal Sasuke pulang jam dua belas!" Naruto mengumpat kesal lalu segera mematikan laptopnya asal dan bergegas menuju ke bandara tanpa mengambil jasnya yang masih tergeletak pasrah di atas meja.
Naruto membanting kasar pintu ruangannya lalu berlari secepat yang ia bisa. Ruangannya ada di lantai empat berarti harus ke lantai satu! Naruto segera mencari lift terdekat. Ia memutari lorong itu agar dapat menemukan lift!
"Yeah! Itu liftnya!" Naruto berseru girang. Ia berdiri di depan lift lalu memencet-mencet tombol dengan tidak sabaran.
Tat tit tut tat tit tut
Naruto mulai kesal. Ia sudah memencet tombolnya tapi kenapa pintu liftnya tak mau terbuka? "Argh! Lift sialan!" Naruto menendang keras lift di depannya, yap keras sekali sampai-sampai
"Ouch! Kaki gue~! Ittaiii~ Sial nih lift ngajakin ribut! Awas loe nanti!" Naruto menelus-ngelus kakinya yang sakit lalu memberi deathglare tingkat tinggi pada lift di depannya. Tapi apa daya, mana ngerti lift di ajak ngomong, dasar bakka! *swt*
"Argh! Gue gila! Lift gue ajak ngomong! Tangga, tangga!" Naruto yang akhirnya sadar dengan ke-bego-an-nya lebih memilih untuk mencari tangga. Tangga, berarti dia harus putar balik!
Naruto kembali berlari, mencoba menemukan tangga yang di carinya. Tapi, belum jauh ia berlari sebuah suara terdengar.
TING
"Itu suara…" Naruto menggantung kata-katanya lalu menoleh ke belakang, yapz! And betul aja itu adalah suara,
"LIFT!"
Naruto kembali berlari menuju ke arah lift tapi baru saja dia akan masuk pintu lift itu tertutup lagi!
"WHAT?" Naruto memekik keras. "Elo emang sialan, Lift! Mati loe, mati loe!" Naruto kini meninju-ninju pintu lift itu kesal tapi tetap lift itu tak terbuka. "ARGH!" Naruto berteriak pusing lalu melihat jam tangannya,
Pukul 14:48
"Buset! Mau keluar kantor aja kenapa jadi ribet gini sih?" Naruto sweatdrop sendiri plus kesel juga. Naruto akhirnya memutuskan untuk menuju tangga*lagi*
Ia kembali berlari, ada sesuatu yang mengganjal menurutnya. Kenapa kantor ini sepi sekali? Kemana para karyawannya?
Tep
Naruto berhenti berlari. "Apa gue Cuma mimpi ya?" Naruto bergumam pelan lalu ia menampar pipinya keras. "Ouch!" Naruto memekik sakit. "Berarti bukan mimpi yah?" Naruto sweatdrop sendiri.
TING
Suara lift yang terbuka kembali menggema.
BYET BYET-?-
Lampu-lampu yang ada di sepanjang koridor tiba-tiba mati. "HOAH!" Naruto terlonjak kaget. Ia meraba-raba dinding di sebelahnya, mencoba mencari pegangan.
BYAR-?-
Lampu kembali hidup dan,
TING
Naruto menengok kebelakang. Kini liftnya yang tertutup. Bulu roma Naruto muali merinding. Otaknya menjerit-jerit menyuruhnya agar lari dari sini tapi kakinya lemas…
TING
Liftnya kini kembali terbuka. Kini Naruto mulai memandang horror pada si Lift. Jangan-jangan lift itu ada hantunya~ hii~ memikirkannya saja sudah membuat pria blonde ini merinding.
"A-ampun Om J-Jin Pe-penunggu L-Lift, saya gak maksud m-mukul-mukul liftnya, saya cu-Cuma lagi buru-buru. Suer deh, peace…" Naruto jalan mundur-mundur sambil melihat Lift yang kini tertutup.
"Hosh, fiuhh~" Naruto menghela lega saat lift itu berhenti terbuka dan tertutup dan lampu koridor ini juga sudah tidak mati-hidup.
"Syukurla-"
"Hihihihihihihihihihihi~"
Belum selesai Naruto mengucapkan syukur suara cekikikan orang tertawa menyambut Naruto membuat bulu kuduk naruto kembali merinding.
"HUWEEE~ LARIIIIII~" dengan begitu Naruto langsung tancap gas meninggalkan tempat itu dan langsung menuju tangga dengan kecepatan kilat. Dia tak mau menengok lagi ke belelakang, memang ia sudah-eherm-dewasa tapi dia masih takut hantu~
Naruto akhirnya mencapai tempat parkir di sana hanya ada mobilnya! Kemana para karyawan? Pertanyaan itu terngiang-ngiang di kepala Naruto tapi ia tak mau ambil pusing dan dia lebih memilih untuk segera menuju bandara. Dia sudah terlambat TIGA JAM!
.
=(^,^a)=
.
"BWAHAHAHAHAHA!" tawa jahil menggema di ruang pengawas Uchiha Corp.
"Gila, gila! Si jeruk itu gila! Wahahahaha!" and tawa jahil itu berasal dari seorang pemuda dengan iris mata merah yang begitu menawan. Siapa? Tentu aja Kyuubi Uzumaki!
"Dasar kakak sinting." Seorang pria lain menanggapi tawa jahil Kyuubi dengan nada datar. Dia adalah Sabaku No Gaara, kekasih si raja setan yang super jahil ini, Kyuubi.
"Khekhekhe, biarin yang penting kan gue happy!" Kyuubi memandang Gaara yang ada di sebelahnya dengan tatapan mempesona ala seorang pangeran. "Che, gue gak bakal kemakan sama tatapan menjijikan loe itu." Gaara membuang muka dari Kyuubi, mencoba menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah. Pesona seorang Kyuubi memang tak bisa ditolak.
GREP
Kyuubi merangkul pundak Gaara dari samping lalu dengan seenak jidat menjilat daun telinga kiri Gaara yang ada di depannya. "Muka loe merah tuh~" Kyuubi berbisik pelan di tengkuk Gaara, membuat pria dengan tato ai itu merinding.
"Gak tuh." Gaara menjawab ketus, masih dengan memalingkan wajah. Gaara dapat mendengar Kyuubi terkekeh pelan di sebelahnya. "Elo emang manis ya, himeee~" Kyuubi berkata jail sambil mengeratkan pelukannya dengan-memang-benar-benar-dengan-tenaga-penuh hingga membuat Gaara terbatuk-batuk gak jelas.
"ARGH! ELO NIAT BUNUH GUE YA, HAH? BAKKA!" Gaara berteriak saking kesalnya sambil berontak mencoba melepaskan diri dari pelukan Kyuubi yang super duper hyper ultra kekencengan itu. "AHAHAHAHA, gue suka ngliat elo teriak-teriak kayak gitu!" Kyuubi melepaskan pelukannya lalu tertawa kencang membuat pria beriris emerald di sampingnya memandang tajam pada dirinya.
"Cih, gue bunuh loe!" Gaara berkata tajam pada Kyuubi, sedangkan yang diancam hanya tersenyum menantang. "Ahahaha, dengan senang hati. Silahkan bunuh, hime…" Kyuubi tersenyum rubah sambil menjilat bibirnya sendiri. Sedangkan Gaara hanya menghela nafas, mencoba menenangkan emosinya lalu pria dengan iris emerald itu menyenderkan dirinya di dinding yang ada sambil melipat tangan di bawah dada.
"Mending cepet selesaiin. Kasian Naruto, bakka." Gaara berkata datar.
"Ia, ia! Sip!" Kyuubi menjawab cepat kasian juga sama Naruto yang pastinya panik banget~
Kyuubi dan Gaara kini sedang berada di ruang pengawas yang ada di kantor Uchiha Corp. and mereka ini lah yang ngerjain Naruto dari tadi, mulai dari lift yang terbuka dan tertutup sendiri hingga lampu yang menyala dan mati sendiri. Itu semua Kyuubi kendalikan lewat ruang pengawas ini. Tempat ini juga dipenuhi oleh data kiriman dari kamera sisi TV, jadi Gaara dan Kyuubi yang ada di sini dapat dengan mudah mengetahui pergerakan pria blonde tersebut.
And Kyuubi juga yang telah mengosongkan kantor ini, bukan untuk jahil tapi untuk sebuah 'hadiah' besar untuk Naruto nanti.
Kyuubi merogoh kantong sakunya dengan tak sabar, berusaha mendapatkan ponsel hitam-merah kesayangannya. Hup! Setelah di dapatkannya, Kyuubi mulai memencet beberapa angka yang kemudian menjadi sebuah rangkaian nomor telepon. Setelah dirasanya cukup, setan menawan itu segera menekan tombol 'call'.
"Hn," suara di seberang terdengar dari ponsel Kyuubi.
"Hoi, Gondrong!" Kyuubi membalas suara diseberang dengan sapaan yang sangat 'ramah'.
"Hoi juga setan! Sialan loe!" orang di seberang yang ternyata adalah Uzumaki sulung membalas perkataan Kyuubi kesal.
"Khekhekhe, loe jadi cepet emosi sekarang ya? Gak nyangka gue, ckck" Kyuubi terkekeh dengan jahilnya sedangkan Gaara di sebelahnya hanya memutar mata bosan.
"Ck, terserah elo aja deh mau ngomong apa. Gue lagi males debat. Jadi, gimana?" kalimat terakhir itu diucapkan Uzumaki sulung a.k.a Itachi Uzumaki dengan penasaran.
"Jelas beres! Apa seh yang gak beres sama gue." Kyuubi mulai menyombongkan dirinya dengan bangga.
"Che, iya-iya bakka Otouto! Jadi gue mulai sekarang?" Itachi bertanya antusias.
"Yups! Jangan nyampe salah, okay?"
"Hn,"
Dengan begitu perbincangan singkat-atau panjang?-itu berakhir, menyisakan Kyuubi yang menyeringai senang.
"Mission two, complete!"
.
=(^,^a)=
.
"Sialan! Kenapa gak ada yang ngehubungin gue sih?" Naruto meracau keras sambil menjambak rambut pirangnya yang berantakan dengan sebelah tangan. Sedangkan sebelah tangannya kini sedang mengemudikan sebuah mobil Mercedes SLR McLaren silver yang begitu mewah.
Mobil itu melaju kencang, membelah jalanan yang lenggang. Naruto hanya berharap dia bisa sampai di bandara secepat mungkin.
"Oh ia! Apa jangan-jangan teme udah di rumah kali yah?" Naruto bertanya pada dirinya sendiri. Lalu dengan segera ia mengambil handphone yang ada di saku celananya. Naruto memandang layar itu dengan dahi berkedut.
71 panggilan tak terjawab
"WHAT? SHIT!" Naruto menggemeretakkan giginya kencang. Ia pun mengecek semua panggilan yang tak sempat dijawabnya. Semua itu dari teman-temannya, teman-teman Sasuke, Uzumaki Brothers, Tou-san dan juga Kaa-sannya. Tapi, tak ada satu pun panggilan dari Sasuke di sana. Naruto mengerang kecewa.
"Kenapa seh gak ada yang jemput gue ke kantor? Lagian gue ini ketiduran atau apa sih?" Naruto mengerutkan alisnya, bingung, kesal, sedih, semua bercampur aduk menjadi satu rasa.
Naruto masih mengemudikan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata sampai ponselnya berdering menandakan sebuah panggilan masuk. Segera disambarnya benda biru muda itu.
Itachi-nii memanggil…
Naruto segera memencet tombol 'yes' dengan tak sabaran tanpa menghentikan laju mobilnya.
"Itachi-nii, Sasuke sudah di rumah?" Naruto langsung menanyakan pada intinya tapi Itachi tak kunjung menjawab pertanyaannya. "Ita-nii?" Naruto kembali bersuara.
"N-Naruto," Naruto menelan ludah. Suara Itachi tak seperti biasanya. Terdengar sangat serius tapi suaranya agak serak seperti orang…menangis?
Naruto menggelengkan kepalanya mencoba mengusir segala pikiran buruk yang ada lalu bergegas menjawab, "Iya, ada apa?"
"Hh, itu…" Itachi tampak bimbang membuat Naruto semakin berdebar. "Ia, ada apa nii-chan?"
"Pergilah ke Konoha Elite Hospital sekarang." Itachi menyelesaikan kalimatnya dengan lirih. Naruto mengangkat sebelah alisnya, bingung. Untuk apa ia harus ke rumah sakit? Bukannya harusnya ia bertemu Sasuke sekarang?
"Untuk apa? Sasuke bagaimana? Dimana dia?" Naruto mulai menghujamkan pertanyaan. "Lebih baik kau cepat, Naruto. Kami semua sudah ada di rumah sakit…" Itachi masih bersuara lirih membuat Naruto mulai panic.
"Memang siapa yang sakit, Ita-nii?" Naruto bertanya penasaran. "Hh, itu… M-maaf Naruto tapi ini berita yang pasti membuatmu terkejut." Suara Itachi lebih lirih lagi bahkan Naruto bisa mendengar ada suara tangisan dari teleponnya.
"Ungh, B-baik." Naruto mengangguk pelan sambil mematikan sambungan telpon yang masih menyala. Lalu ia segera membanting stir membawa mobil kesayangannya itu ke arah Konoha Elite Hospital yang berlawanan arah dari Bandara yang menjadi tujuan semulanya.
"Hh, Kami-sama semoga semuanya baik-baik saja…" Naruto menggigit bibirnya pelan dengan gelisah sembari berharap semoga Kami-sama tak mempermainkannya kali ini.
Huft.. Naruto kau melupakan sesuatu… selain Kami-sama, disebelahmu masih ada sang setan yang bisa membuat kejutan yang sangat menyeramkan. Ingat masih ada Kyuubi Uzumaki^^ YaHa~ XD
Okay Back To Story!
.
.
"Oi! Loe udah nelpon si jeruk kan, ndrong?" Kyuubi bertanya asal. Ia kini sedang duduk bersila di atas kursi di sebuah koridor rumah sakit tentu tak lupa sambil merangkul hime kesayangannya. Siapa? Gaara lah! Masa choji, kan gak mungkin XP hehe^^
"Ck, beres. Naruto dalam perjalanan." Itachi menyringai tipis di balik topeng stoicnya. "Yosh! Kita harus siap-siap, un!" Deidara yang baru saja mendapat dialog pertamanya langsung memasang pose ala pejuang yang ingin melawan penjajah.
"Yippieee~ Akhirnyaaa~ setelah lima tahun dapet juga gue foto SasuNaru Original! YESSSS hahay ahahahaha…" Nah kalo kata-kata yang kayak begini udah jelas banget keluarnya dari siaoa. Yup! Sakura si Fujoshi Akut itu pastinya!
"Sakura-chan! Ini rumah sakit jangan teriak-teriak!" Kiba yang ada disebelah Sakura menyikut lengan wanita itu pelan. "Ups! Ehehhe, maklum lah~ gue kan kangen pair kesayangan." Sakura nyengir gaje.
"Dasar Fujoshi bakka!" Kyuubi melempar kaleng kosong cocacola ke kepala pink sakura dengan asal and kerennya,
Tuk
"Aww~ Argh! Kyuu-nii!"
"Hoh, kena ternyata khekhekhe" and gitu deh, Kyuubi sih Cuma ketawa jail. Dasar setan =="
"Huh, kalo nglempar tuh sekalian sama isinya tau! Apaan nih? Kaleng kosong doank! Emang gue makan kaleng apa! Huh week" Sakura menjulurkan lidahnya kesal. "Halah kebanyakan protes loe! Itu udah syukur gue ngasi kalengnya dari pada kagak sama sekali. Kan lumayan buat pajangan di kamar loe, Fujoshintinggg~" Kyuubi menyringai jail melihat sakura yang tiba-tiba mengembungkan pipinya kesal.
"Huh, Kyuu-nii kira Ra pemulung apa!Masa kaleng dipake pajangan!" Sakura mencubit lengan Kyuubi keras, Uh~ dia geregetan berat.
"Argh! Pake nyubit lagi loe. Galak amat jadi cewe pantes gak ada yang mau. Kayak sepupu loe ini donk, imut, manis, gak galak lagi~ iya kan himeee~" Kyuubi menyeringai jail sambil memerengkan kepalanya lalu menggesek-gesekan pipinya ke pipi Gaara dengan gemas sambil memeluknya dari samping.
"Kyaaaa~" Sakura yang melihatnya langsung deh! Jiwa fujoshi kumat dengan diiringi kobaran api membara*halah* dengan gesit Sakura langsung mengabadikan moment itu dengan kamera hp kesayangannya.
Sedangkan Gaaranya sih tetep duduk manis sambil muter bola mata bosen. Hal kayak gini udah sering banget. Kyuubi sih gak pernah sehari gak meluk dia. Apa lagi kalo lagi di depan Sakura, sifat jailnya Kyuubi langsung aktif mode: ON deh! Kyuubi bakal lebih sering lagi ngegrepe-grepe Gaara.
Yeah, menurut Gaara kejadian grepe-grepe begitu sih dilakuin Kyuubi gak Cuma buat ngaktifin jiwa fujonya si Sakura tapi ya buat nyari untung juga. Kesempatan dalam kesempitan lah, ckck… Gaara sih pasrah-pasrah ajah daripada malah nambah digrepe-grepe hiii~
"Please deh, Kyuu. Ini rumah sakit bego! Jangan dipake ajang mesra-mesraan dong!" Itachi geleng-geleng kepala gaje, lucu juga ngliat otoutonya itu segitu freaknya sama Gaara. And Itachi juga rada sweatdrop ngliat ekspresinya Gaara yang pasrah-pasrah begitu. Kalo Gaara nglawan pasti dia bakal lebih digrepe-grepe tapi kalo gak dilawan ya sama aja Kyuubi pasti bakal lebih nge-grepe-grepe lagi. Ya amun~ ini kali yang namanya dilemma anatara surga dan Neraka hahay XD
"Bilang aja sirik. Dasar gondrong!" Kyuubi memberi pandangan mengejek pada Bakka Aniki tersayangnya itu.
"Gak tuh. Ngapain gue sirik, kurang kerjaan banget. Gue punya uke yang lebih imut kok." Itachi balas menatap tajam Kyuubi sambil menyodorkan(?) Deidara ke depan Kyuubi.
"Heh? Apa loe bilang? Hime gue ini jauh lebih imut tau! Dasar bakka." Kyuubi juga memandang tajam Itachi sambil ikut-ikuan menyodorkan Gaara.
"Dei-chan gue lebih manis."
"Gak! Gaara-chan gue yang lebih manis!"
"Gue bilang dei-chan yang lebih manis!"
"Hoo tidak bisa! My Hime lah yang paling manis!"
Itachi dan Kyuubi saling memberi deathglare andalan mereka sambil tetap berdebat megenai siapa yang lebih manis. Yang lain sih Cuma bisa ber-sweatdrop plus ber-gubrak ria.
"Huh, pokoknya Gaara yang paling manis!" Kyuubi membuang muka sambil kembali memeluk Gaara dari samping lalu menjatuhkan kepalanya ke perpotongan leher Gaara. "Puh, si Jeruk itu kok lama banget sih? Gue ngantuk jadinya…" Kyuubi menggeliat pelan di bahu Gaara.
"Kyuu, loe gak apa-apa? Badan loe panes." Gaara menyentuh lembut helai kemerahan Kyuubi. Badan Kyuubi agak panas, mungkin nih setan kecapean kali. Setan bisa cape juga ternyata, ckckck hehehe…
"Humm.. kepala gue pusing nih. Minta sun donk biar sembuh~" Kyuubi menyringai jail sebelum agak mendongakan kepalanya dan kecupan kecil di telinga kanan Gaara.
"Uh…" HahayXD muka Gaara merah tuh. "Apaan seh loe? Sun, sun kepala loe!" Gaara mengibas-ngibaskan tangannya berusaha membuat Kyuubi minggir dari sana tapi apa daya bukannya bangun dari bahu Gaara, si Kyuubi malah makin nempel ajah =="
"Khekhekhe, gue becanda himeee~ tapi kalo beneran loe mau nge-sun gue sih, gue mau-mau aja khekhekhe…" Kyuubi terkekeh jail melihat wajah Gaara yang merah padam. "Ck, mati loe." Gaara berkomentar datar n ditanggapi dengan senyum 'manis' dari Kyuubi.
"Nanti aja deh. Gue mau matinya sama elo ajah." Aihh~ Kyuubi bisa gombal juga ternyata hehe ^^a
"Argh, rese loe Kyuu. Sana minggir! Malu tau diliatin orang, dasar bakka." Gaara makin mengerang dipelukan Kyuubi. "Khekhekhe, iya~ Gue bangun himeee~" Kyuubi berkata alay sambil mencubit pipi Gaara gemas. And Gaara sih Cuma mandang Kyuubi dengan pandangan yang mengatakan, che-berani-elo-nyentuh-gue-lagi-gue-cincang-loe-pake-pisau-dapur! Si Kyuubi mah Cuma ketawa-ketawa gaje aja ngeliat himenya yang segitu keselnya. Dasar aneh =="
"Eh, eh! Naruto udah nyampe di parkiran rumah sakit tuh!" Suigetsu dan Neji datang dengan tergesa-gesa dari arah parkiran membuat perhatian yang lain tertuju ke mereka. Mereka memang ditugaskan untuk menjaga di dekat tempat parker untuk melihat situasi di sana.
"Hn," Itachi yang melihat ke arah mereka membentuk seringaian senang.
"Permainan dimulai…" Sang Uzumaki Sulung menjilat bibirnya atasnya pelan.
"Yosh!" Kyuubi bangun dari duduknya lalu masuk ke ruangan yang ada di depan koridor tempatnya dan yang lainnya duduk tadi. "Hoi, si Jeruk udah dateng tuh. Are you ready, Otouto-chan?" Kyuubi memberi smirk andalannya pada orang yang ada di dalam ruangan itu.
"Hn, ready." Sebuah kalimat datar dengan nada jahil yang sangat kentara terucap pelan dari bibir pria yang terbaring di satu-satunya ranjang yang ada di dalam ruangan serba putih itu.
.
.
Naruto berjalan dengan tergesasa-gesa*kalau ga mau dibilang lari*di sepanjang koridor rumah sakit. Kepalanya udah nyut-nyutan mikirin siapa sihyang sakit di saat yang ga tepat kayak gini? Naruto berjalan lurus, belok kiri, belok kanan, lurus lagi, ada tangga naikin, ga berani naik lift takut dia hahayXD, abis naik tangga jalan lagi, belok kanan lagi, lurus lagi, ada perempatan belok kiri.
"Buset, jauh amat yak?" Naruto sweatdrop mendadak ngeliat cara ngedeskripsiinnya si author yang super gaje ini XP
TEP
Pria blonde ini menghentikan langkahnya sesaat, dia memiringkan kepalanya seolah tak mengerti keadaan. Tak jauh di depannya Naruto melihat teman-temannya yang sedang terdudu haru bahkan sampai ada yang menangis.
"Ugh,"Naruto menelan ludahnya paksa. Dengan gemetar dia mulai mendekat ke kerumunan yang sedang 'bersedih' itu. Kalau boleh jujur nih ya, feelingnya Naruto itu dari tadi udah jelekkkk bangettttt~ Ga tau deh bakal ada kejadia apa. Yang jelas pasti sesuatu yang bakal bikin 'shock' berat deh~
"Konichiwa, minna…" naruto menyapa pelan ke semua orang yang sedang tertunduk dalam. "Hiks, N-Naru-chan~" Sakura bangun dari duduknya lalu langsung menghambur ke pelukan Naruto. "Aa, Sakura-chan? Sebenernya ada apa sih? Loe kenapa nangis?" Naruto mengelus pelan rambut Sakura yang sedang menangis di pelukannya.
Gaara bangun perlahan dari duduknya lalu menghampiri Naruto dan Sakura yang sedang berdiri. "Udahlah, Sakura-chan. Kasi tau ke Naruto. Dia berhak tau masalah ini." Gaara berkata lirih sambil mencoba memisahkan Sakura dari Naruto.
"Yang sabar ya, Naruto…" Kiba bangun dari duduknya lalu menepuk sekali punggung sobatnya itu. "Hei~ Tunggu, tunggu~ ini sebenernya ada apaan sih?" Naruto bertanya penasaran sambil memandangi satu-persatu wajah teman-temannya yang ada di situ. "Naruto, kau harus kuat." Itachi mengacak pelan rambut blonde Naruto yang berantakan dengan sayang.
"Hah? Sebenernya siapa yang sakit? Tou-san and Kaa-san gak apa-apa kan? Terus, Sasuke mana?" Naruto bertanya penasaran.
"Paman and Bibi ga apa-apa kok, cuman mereka lagi ngurusin berbagai keperluan di kantor." Deidara menjawab salah satu pertanyaan Naruto. "Terus siapa yang sakit? Sasuke dimana?" naruto kembali bertanya.
"Bukan sakit Naruto. Tapi…" Kyuubi menggantung sesaat kata-katanya lalu mendorong Naruto agar masuk ke dalam ruangan pasien yang ada di depan koridor.
Huft
Naruto tertegun sesaat melihat ruangan itu. Penuh alat-alat medis yang entah apa namanya. Dan yang paling mengejutkan adalah,
Tep Tep Tep
Naruto melangkah pelan diiringi Kyuubi diebelakangnya menuju ke dalam ruangan itu lalu berhenti di samping ranjang yang ada di sana.
Deg
Naruto memandangi sebuah maha karya Tuhan yang bagaikan porselen itu. Naruto mengangkat tangan kanannya pelan lalu membelai kulit pucat seseorang yang ada di dalamnya.
Glek
Naruto menelan ludahnya paksa. Dia yakin yang dilihatnya ini bukanlah mimpi. Rambut raven yang ia rindukan kini ada di depan matanya, terbaring lemah, dengan bibir yang membisu. Tak ada ucapan selamat datang yang terucap dari orang yang dirindukan naruto itu.
"S-Sasuke?" Naruto menggumam pelan sembari mengelus kening dingin Sasuke pelan. Namun tak ada jawaban.
" Sasuke?" Naruto kini lebih mendekat kea rah Sasuke. "Teme! Jawab, teme! Loe kenapa?" Naruto menggoncangkan bahu Sasuke keras tapi tetap, mata itu tetap tertutup seolah tak ingin memperlhatkan onyx indahnya pada naruto, bibir itu tetap terkatup seolah tak ingin mengucapkan apapun pada si pria blonde itu.
"Kyuu, Sasuke kenapa? Kenapa badannya diperban gini? Pucat! Dia pucat banget! Sasue kenapa, Kyuu?" Naruto bertanya panic pada Kyuubi. Naruto bisa mendengar beberapa orang di luar menangis pilu.
"Hh, tadi, Sasuke pulang lebih awal. Gak ada yang jemput dia and dia juga gak ngehubungin siapa-siapa buat jemput dia. Some how gue ngrasa dia pingin buat kejutan buat kita. Terus dia mutusin buat naik taxi aja,"
"Kyuu! Jangan berbelit-belit! Intinya apa?" Naruto memotong perkataan Kyuubi dengan kacau.
'Che, main potong-potong aja nih orang! Ga tau gue lagi*pura-pura*serius apa!' Kyuubi membatin geram dalam hati.
"Taxi-nya tabrakan. Meledak." Satu kalimat yang dikeluarkan Itachi untuk menyambung kata-kata Kyuubi tadi sukses membuat kedua sapphire naruto terbelalak lebar. "A-apa? Terus Sasuke?" Naruto bertanya dengan tatapan tak percaya.
"Supir taxinya harus amputasi and Sasuke… dokter udah usaha nolong tapi dia gak bisa ditolong lagi…" Neji menyambung kata-kata Itachi dan Kyuubi tadi menyisakan Naruto yang sangat terpukul. Mata si blonde yang semula bening mulai ternodai beberapa gumpalan air mata, bahu itu bergetar menahan sesak yang ia rasa dalam dada.
"Ukhh… A-AHAHHAHAHAHAHA! BOHONG! Kalian bohong kan! Hahaha!" Naruto menjambak rambut depannya frustasi, dia tertawa tapi air matanya telah mengalir deras melewati sapphire indahnya.
"Ukh, Sasuke loe gak bakal ninggalin gue kan? Kita baru ketemu, teme! Kita udah janji bakal bareng-bareng terus kan, teme?" Naruto mengoyanggoyangkan badan Sasuke keras, namun masih tetap sama tak ada respon. Keadaaanya sangat hening yang terdengar hanya beberapa isakan pilu yang menggema terpantulkan oleh dinding-dinding rumah sakit yang sepi.
"ARGH! Teme. Jawab gue! Jawab gue! Loe gak bakal pergi lagi kan? Loe gak bakal ninggalin gue lagi kan? Ukh… temeeee~": Naruto mendekat ke Sasuke lalu merengkuh kekasihnya itu dengan kuat seolah tak mengijinkan jiwa Sasuke meninggalkan raga yang kini sedang direngkuhnya.
"Naruto, sabar." Kyuubi menepuk bahu Naruto pelan tapi Naruto menepis tangan Kyuubi kasar.
"Minggir! Gue mau sama Sasuke!" Naruto menatap tajam Kyuubi masih sambil merengkuh Sasuke di dadanya.
"Ukh," Kyuubi mundur beberapa langkah. Agak kaget juga ngeliat tatapan Naruto yang sampe segitunya. Kyuubi agak merapat kea rah Itachi lalu berbisik pelan ke telinga anikinya yang lebih tinggi beberapa senti darinya itu, "Ih buset dah! Si jeruk serem juga kalo lagi kacau kayak gini."
"Hn, tapi kayaknya Sasuke juga udah ga tahan pura-pura mati begitu. Tapi enak juga dia bisa dipeluk-peluk begitu ama si naruto." Itachi balas berbisik pada Kyuubi.
"Teme…" desah lirih naruto kembali terdengar di ruang hening ini. Naruto lalu memeluk Sasuke erat, menyamankan dirinya di perpotongan leher Sasuke yang dingin lalu berbisik kecil,
"Aishiteru…"
TES
"Ukh, hikss hiks hiks ukh…" Naruto menggeram keras di pelukan Sasuke. Bahunya bergetar hebat, dadanya sesekkk bangettttt! Rasanya kayak pingin lompat dari lantai tujuh terus nabrak batu and mantul terus nyebut ke laut and keseret ombak yang bakal jadi tsunami*WHAT?=="*
"S-sasuke.." Naruto masih meracau dalam tangisnya.
"Hn, jangan nangis dobe." Sebuah tangan dingin milik Sasuke membelai lembut rambut pirang Naruto membuat yang dielus jadi berjengit kaget.
"A-ap-apa?" Naruto mundur-mundur ngejauh dari Sasuke dengan tampang super horror.
"Hn? Heh, dobe." Sasuke menyringai jahil melihat wajah super kaget dari uke kesayangannya itu.
"E-elo ng-ngomong? Mayat kok ngomong? Setan ya? Gue mimpi kali!"
PLAK
Naruto menampar pipinya keras dan, "Ouch! Sakit~ b-berarti bukan mimpi! Elo yang setan! Keluar dari badan sasuke gue. Sana hush hush!" Naruto mencoba mengusir 'setan' dalam tubuh Sasuke dengan wajah super horror.
And yang lain sih Cuma ber-HAAA? Ria ngeliat tingkah konyol *kalo ga mau dibilang bego* si Naruto.
"Puh, ahahahaha… ternyata sekali dobe emang tetep dobe ya?" Sasuke geleng-geleng kepala ngeliat dobenya yang polosnya keterlaluan ini. "Gue ini Sasuke. Sasuke Uchiha, dobe. Yang tadi Cuma main-main aja, bakka~" Sasuke senyum manis ke naruto yang lagi blink-blink sendiri.
"Eh? Berarti elo gak jadi mati kan?" Naruto bertanya polos sambil duduk di pinggiran ranjang Sasuke.
"Gak lah. Mana mau gue mati sekarang. Ketemu dobe gue yang imut ini aja baru hari ini~" Sasuke mencubit pipi naruto gemas. "Ehehehe… syukur deh~" Naruto menghambur ke pelukan Sasuke senang and kali ini pelukan Naruto pasti dibales lah~ "Hn, Aishiteru mo dobe…" Sasuke berbisik pelan di telinga Naruto membuat si empunya telinga memerah sendiri mendengarnya.
"CIIIEEEEEEE~ MESRANYAAAA~" koor yang lain kompak. And SasuNaru sih Cuma cengar-cengir ajah hahay XD
"Huft! Tapi kalian semua udah ngerjain gue! Tega banget! Pasti Kyuubi nih otak dari semuanya! Tega loe, Kyuu" Naruto menjulurkan lidahnya pada Kyuubi. "Meh, to ujung-ujungnya happy juga. Ini mah biar seru, bego!" Kyuubi membela diri.
"Seru apanya! Gue kaget setngah mati tau!"
"Meh mati pake setengah-setengah. Langsung aja mati beneran."
DUAK
"Naruto itu sobat gue enak aja disuruh mati." Gaara menyikut perut Kyuubi keras. Wagagagaga, sakit tuh kaciannn Kyuu-channnn~ hahay XD
"Ya udah lah, toh happy ending kan?" Sasuke mengecup pelan kepala Naruto dari belakang. "Hu`um… Yosh!" Naruto ngangguk-ngangguk semangat.
.
.
.
"Hei, dobe…" Sasuke berbisik pelan di telinga Naruto yang duduk bersila diantara kedua kakinya.
"Humm?" Naruto menolehkan kepalanya agak kesamping agar bisa melihat Sasuke dibelakangnya dan,
CUP
Blush
Rona merah merambat cepat ke kedua pipi gempal Naruto saat sebuat kecupan singkat mendarat di bibir tipisnyanya. Ditambah lagi,
"Will you marry me?"
Sebuah cincin perak polos dengan sebuah berlian kecil di dalamnya tersodor indah di depan Naruto.
Naruto tersenyum tulus lalu menjawab pasti, "Sure, dear".
"Eh! Bintang jatuh teme! Minta permohonan!" Naruto yang melihat bintang jatuh langsung mengalihkan pembicaraan dan membuat pose memohon yang biasa dia lakukan di gereja.
Otak jahil Sasuke langsung aktif saat melihat wajah-sok-serius naruto saat meminta permohonan. Sasuke mendekatkan bibirnya ke telinga Naruto lalu berbisik jahil,
"Kami-sama, semoga aja si author super gaje ini mau ngebuatin sequel fic ini dengan rate M++"
"HAH?" Naruto langsung berhenti memohon dan memandang Sasuke yang sedang tertawa jahil.
"ARGH! TEME MESUMMMMMM~!"
.
.
.
.
THE END
BOWSSSS~ GAJEEEEEEEEEE HAHAYYYYYY~ XD
Nyahahahha~ update juga akhirnya hayui hehe^^ gomen ne apdetnya telatttt bgtttt~ kayaknya pasti udah pada lupa ya sama cerita gaje ini? Ya taka pa lah~ salah saya ngupdatenya telat hahay~
Ow ia! Kayaknya chap terakhir ini rada aneh ya? Ehehehe, ngerjain di sela-sela tugas yang numpuk begini lah hasnya, harap dimaklumi :p
Oke lah, saya tak mau panjang-panjang ngocehnya. Pokoknya hayui ucapin makasi banget buat yang udah baca =review fic aneh ini. Hayui bener-bener makasi banget deh!
Yaud, review lagi ya~ biar tambah semangat bikin fic hehehehe…
Yupz! Jaa minna-san~
Author,
uchi hayui chan
