WAW! Terima Kasih atas review yang sangat banyak ini.. Maaf, masih banyak Typo. Saya masih Newbie soalnya, hehehe (alibi). Dan maaf Disclaimer nya baru keluar sekarang.. keluapaan! Kekekekek..
Ok, mungkin perlu diperjelas lagi, pairing di fic ini adalah SASUHINA. Jadi, kalau ada orang ketiga, keempat, dan seterusnya~ itu hanya sebagai bumbu ko..
Hm.. tapi bagaimana ya Sasuke dan Hinata bisa berPairing ria dalam fic ini..? Mending langsung baca aja deh!
Arigatou *bow – Vio –
-HOLD YOU TIGHT Chapter 2-
Disclaimer : Masashi Kishimoto ojii-san pemilik semua karakter dalam cerita ini~
.
"Apa kabar Sasu-kun..". Mata bulan itu menatap Sasuke yang terbelalak dengan penuh kelembutan. Senyumnya masih menenangkan seperti dulu. Dan rambut Indigonya yang kini tergerai panjang, masih terlihat lembut sampai sekarang.
"H-Hinata?"
.
..
HOLD YOU TIGHT
..
.
"K-kenapa menatapku seperti itu?"pipi chubby gadis indigo itu memerah. "A-aku aneh y-ya?"
Sasuke hanya memandang gadis itu takjub. Ingin rasanya menggapai gadis manis itu dalam pelukannya. Tapi semua organnya tak dapat digerakan. Dan ia pun akhirnya menyadari bahwa sejak tadi ia menahan napasnya dan jantungnya berdegup cepat, seperti memaksa keluar dari tubuhnya.
"Hm?"Hinata memiringkan kepalanya, memandang Sasuke bingung. Pergerakan itu membuatnya semakin imut di mata siapapun yang memandangnya. Apalagi dengan dress berwarna peach selututnya yang bertangan panjang. Benar-benar akan membuat blushing orang yang melihat gadis Hyuuga itu.
"E-eh.. tampaknya kau bingung dengan keberadaanku disini ya? Maaf, tadi Mikoto baa-chan yang menyuruhku menunggu disini."Hening sejenak.
Sasuke yang nyawanya kembali ke bumi, akhirnya memalingkan pandangannya. Yang ia perhatikan sekarang hanyalah kepalan tangannya yang mengepal dengan kuat.
"Dan maaf.. aku tidak mengabari-"
Kata-kata Hinata tertahan. Bunny eyes nya terbelalak, karena tiba-tiba pemuda Uchiha yang tampan itu meninggalkannya sendirian di kamar yang megah itu.
"Sasuke.." Hinata memandang tempat dimana Sasuke baru saja berdiri. Dan tanpa pikir panjang lagi Hinata mengejarnya.
Nafas, debaran jantung dan langkah Sasuke seperti yang sedang adu kecepatan. Entah yang mana yang tercepat, yang Sasuke sadari sekarang ialah ia berada di teras belakang rumahnya yang seperti taman bunga. Dan langkah kakinya terhenti saat berada di hadapan pohon Maple yang ada disudut taman. Dan akhirnya memilih menyandarkan tubuhnya di balik pohon itu, dimana sosoknya tak terlihat dari pintu kaca geser belakang rumahnya.
"Sasuke.."
Terdengar oleh Sasuke, suara dan langkah kaki Hinata yang semakin mendekat. Tapi derapan itu terhenti. Hinata tak berani menampakan dirinya di depan Sasuke. Ia terduduk di bawah pohon Maple yang sisinya berlawanan dengan si bungsu Uchiha itu.
Hinata bersandar di batangnya, lalu menekuk kedua lututnya ke dada. Walaupun tak melihat sosoknya, Hinata tau Sasuke ada dibalik pohon itu. Begitu juga sebaliknya. Karena tempat itulah yang sejak dulu menjadi tempat bisu mereka. Dimana jika keduanya tak ingin bicara dengan satu sama lain. Dan Hinata masih sangat mengerti kenapa Sasuke sekarang pergi ke tempat ini.
Entah berapa lama mereka terdiam disitu. Saling berkutat dengan otak dan hati masing-masing.
Hinata akhirnya menyerah ia selalu benci kebisuan antara dirinya dan pemuda berambut raven itu.
"Maaf.."
Walaupun suara itu begitu pelan, tapi Sasuke dapat mendengarnya dengan jelas.
Tapi, kebisuan melanda mereka kembali. Hinata akhirnya menguatkan otot kakinya untuk berdiri dan berjalan menghadapi Sasuke.
"Bicaralah sesuatu Sasuke!" Hinata mencapai puncak suaranya. Suaranya bergetar menahan tangis. "Kau tau aku tidak suka kebisuan diantara ki-"
"Hm, benarkah?"suara Sasuke terdengar melecehkan. "Lalu bagaimana dengan kebisuan yang kau buat dalam dua tahun terakhir ini? Kenapa kau tidak mengabariku apa-apa?"
"A-aku.."
"Awal tahun pertama memang kita sering mengirim kabar. Tapi, dua tahun terakhir ini aku tak menerima kabar apapun darimu.. bahkan kepulanganmu pun tidak,"suara Sasuke benar-benar tak ada emosi di dalamnya. "Apakah sekolah di Suna begitu sibuk?"
"Lalu, kenapa tidak kau duluan yang mengabariku?"Hinata memulai. "Kau takut aku tak membalasnya?". Hinata mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya, frustasi. "Ternyata sifat 'takut akan penolakan'mu belum hilang, Sasuke.."
"Tak penting sifatku seperti apa, yang sedang kita bahas sekarang adalah tentangmu.."ucap Sasuke dengan santainya. Tapi Hinata dapat merasakan nada mencemooh darinya.
"Tentu saja penting!"suara Hinata kembali meninggi. "Kenapa kau selalu takut orang lain menolakmu sebelum kau mencoba melakukan sesuatu? Seperti kau takut memulai pertemanan saat kecil dulu. Kau takut orang itu tak mau berteman denganmu. Aku memakluminya karena kita masih kecil waktu itu. Tapi sekarang? Tidak seharusnya kau menebak isi hati seseorang tanpa kau tau seperti apa dia.."
Sasuke dapat melihat butiran bening yang jatuh membasahi pipi Hinata. Sudah sejauh itukah yang ia lakukan, sampai membuat Hinata menangis?
"Kau tidak taukan kalau aku harus membangun pertemananku di Suna dari awal. Sekolah khusus perempuan, yang selalu memandangku penuh keengganan. Memandangku sebagai salah seorang pewaris Hyuuga Corp. Seorang putri manja yang akan melapor ayahnya jika terjadi sesuatu padanya. Mereka takut kalau mereka bertingkah aneh di depanku, aku akan melapor pada otou-san, dan otou-san akan memecat ayah mereka. Karena secara kebetulan, delapan puluh persen siswi disana, ayahnya merupakan pegawai cabang Hyuuga Corp. di Suna.."
Hinata menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, dan menangis. Memikirkan nasibnya yang dulu berada di Sekolah Khusus Perempuan di Suna. Dan juga memikirkan seorang bocah laki-laki berumur delapan tahun yang memiliki rambut raven dan mata onyx. Bocah berumur delapan tahun yang menjadi teman pertamanya. Dan bocah itu kini telah berubah menjadi pemuda tampan egois yang ada di depannya. Mulai terdengar isakan Hinata, tampaknya ia sudah lelah mengeluarkan air matanya.
"Perlu waktu setahun untukku agar bisa mendapatkan teman. Aku tidak sepertimu yang mempunyai banyak pengagum yang akan menyanjungmu dari hati mereka yang paling dalam. Sementara aku, aku selalu melihat mereka memberi senyuman palsu padaku dan mendengar mereka mencemooh dibelakangku? Dan dalam dua tahun ini akhirnya aku sedikit dapat berbaur dengan mereka. Walaupun tentunya aku harus terus berjuang.. dan baru saja aku merasakan senang mendapat teman disana, aku dipindahkan kembali kesini, yang aku kira akan mendapat senyuman hangat dari satu-satunya temanku, aku malah mendapat tatapan dingin darinya. Haruskah aku memulai pertemanan ini dari awal lagi?"
Hinata masih terisak.
"Kenapa kau tidak ceritakan padaku?"kini Sasuke memandang gadis Hyuuga itu dengan penuh sayang.
Hinata menghembuskan nafas dengan berat. Isakannya pun terhenti. "Aku lelah Sasuke jika kita terus bermain 'Kenapa kau tidak',"
"Maafkan aku-"
Ucapan Hinata kembali terhenti. Tiba-tiba saja Sasuke memeluknya.
"Tidak.. maafkan aku," Sasuke mengecup kepala Hinata yang berada di atas telinganya. Dan mengeratkan pelukannya. "Maafkan aku, Hinata.."
Hinata tersenyum, matanya kembali berkaca-kaca dan membalas pelukannya "Sasuke.. aku pulang, "
dan tak ada yang tau, bahwa air mata Sasuke sudah membasahi pipinya. "Selamat datang, Hinata.."
.
xxxxxx
.
"Jadi, Hinata-chan.. kau sudah bisa pindah ke Konoha High School mulai besok?"ucap seseorang yang mirip dengan Sasuke tapi dalam versi dewasa dan rambut raven nya yang sedikit panjang terikat rapi.
"Hm.. iya Itachi nii-san. Ayah yang sudah mengatur semuanya. Ia menginginkanku untuk mendapat ijazah kelulusan di Konoha saja. Entahlah, beliau memang aneh, aku sendiri bingung. Kalau menginginkanku mendapat ijazah dari Konoha, kenapa harus memindahkan aku ke Suna.."Hinata mengembungkan kedua pipinya.
"Orang dewasa memang kadang-kadang melakukan hal-hal yang tidak bisa dimengerti oleh anak-anaknya.."balas Itachi.
"Dan kadang-kadang orang dewasa melakukan hal-hal yang tidak perlu dimengerti anak-anak nya itu, untuk kebaikan anak-anak mereka sendiri.."Mikoto Uchiha ikut terduduk di sofa panjang ruang tengah, bersebelahan dengan Hinata. Ia merangkul Hinata dan memeluknya. "Hinata-chan.. aku sangat merindukan mu. Selama tidak ada kau, hidupku dipenuhi pria-pria membosankan.."jelasnya.
"Aku juga sangat merindukan kalian semua.."ucap Hinata.
"Eh, Sasuke mana?"Mikoto melepaskan pelukannya dari gadis Hyuuga itu.
"Dia masih di teras belakang. Sedang mengangkat telepon,"jelas Hinata.
"Hm.. dasar dia itu. Ada kau di sini, malah ditinggal-tinggal. Tapi kalau tidak ada kau-"
"Kalau tidak ada Hinata aku kenapa, ibu.."Sasuke menggerutu. Dia duduk di sebelah kakaknya yang berhadapan dengan Hinata.
"Sasuke! Kau ini malah meninggalkan Hinata. Memangnya telepon dari siapa sih, sampai mengangkatnya harus sembunyi-sembunyi.."
"Aku tidak sembuny-"
"Ah~ ibu masa tidak tau,"Itachi menyalip pembicaraan Sasuke. "Pasti itu telepon dari pacarnyalah.."jelas Itachi tanpa mengalihkan pandangannya dari koran yang dari tadi ia bolak-balik.
Tidak bisa. Sasuke tidak bisa menatap Hinata saat itu. Hanya kebisuan yang menjawab tatapan bingung Mikoto dan Hinata.
.
..
HOLD YOU TIGHT
..
.
"Maaf, Sakura. Hari ini aku tidak bisa menjemputmu untuk ke sekolah. Ada yang harus aku lakukan.."ucap Sasuke pada orang yang berada disebrang jaringan telepon yang ia sambung.
"Emm.. iya tidak apa-apa, Sasuke-kun..Memangnya apa-"
.Tuuut.
Sebelum Sakura selesai menanyakan apa yang harus dilakukan Sasuke, Sasuke sudah menutup teleponnya. Tanpa ia sadari, air matanya jatuh.
"Kenapa aku menangis?"Sakura terisak dan mencoba menghapus air matanya.
.
..
HOLD YOU TIGHT
..
.
Sasuke menghentikan mesin motor ninja nya pada sebuah rumah yang berada diseberang rumahnya. Rumah yang sama mewah dengan rumah yang ia tinggali. Tapi, rumah itu terlihat lebih bernuansa Jepang. Sedangkan rumah Sasuke sangat Europe style. Ya, itu adalah kediaman Hyuuga.
Dalam beberapa menit, gadis yang ditunggu Sasuke pun muncul. Hinata memandangnya dengan pandangan bingung.
"Sasuke.. kenapa ada di sini? Belum pergi sekolah?"tanya Hinata.
"Sifatmu yang 'terlalu bodoh' itu tidak hilang,"ucap Sasuke yang melepaskan helm full face nya. Hinata mengembungkan pipinya.
Sasuke tersenyum. Tak ada yang pernah melihat senyum tulus itu. Kecuali ibunya dan Hinata.
"Ayo naik. Memangnya SMA mu dimana?"ucap Sasuke dengan nada sarkastik.
"Tapi, Neji nii-san akan mengantarku.."
Terdengar deru mobil yang keluar dari garasi.
"Hinata, maaf.. aku tidak bisa mengantarmu. Aku lupa, hari ini ada rapat. Seharusnya aku sudah ada di kantor sekarang. Maaf ya, soalnya sekolahmu sekarang berlawanan arah dengan Hyuuga Corp.."jelas Neji di balik kaca mobil. Lalu ia memandang Sasuke yang teduduk dimotornya.
"Uchiha! Jangan mengebut, kau membawa nyawa orang lain.."Setelah itu Neji tancap gas.
"Hati-hati Nii-san.."Hinata melambaikan tangannya dengan lemas.
"Well?"ucap Sasuke sambil memegang helm yang akan digunakan oleh orang yang diboncengnya.
"Maaf merepotkan, Uchiha-san.."ucap Hinata pasrah dengan bow 90 derajatnya.
"Kalau bukan kau yang melakukan hal itu, aku akan berpikir bahwa itu sarkasme..". Hinata yang sudah memakai helm, akhirnya menaik motor Sasuke. "Pegangan!"
"KYAA! SASUKE!" jeritan Hinata tersamarkan oleh suara musin motor yang mengebut. Hinata akhirnya mendekap pingang Sasuke sanking terkejutnya dengan kecepatan motor yang ia tumpangi. Dan yang menyetir hanya senyam-senyum penuh arti.
.
..
HOLD YOU TIGHT
..
.
"Ruang kepala Sekolah sebelah mana ya?"tanya Hinata setelah mereka berhenti di parkiran Konoha High School.
"Gedung yang berbentuk seperti lingkaran itu, yang berada tepat di depan gerbang.."jawab Sasuke.
"Hm.. baiklah. Aku kesana dulu,"
"Mau aku tunggu?"
"Tidak usah.. Aku sendiri saja. Setelah mendapat kelas, aku akan mengirimkan pesan,"jelas Hinata.
"Hn. Baiklah. Cepat kabari aku..". Hinata membalasnya dengan senyuman lembut khasnya. Dan Sasuke pun berjalan berlainan arah dengan gedung yang dituju Hinata.
"Kakashi-sensei! Kau terlambat lagi!"suara cempreng Naruto membahana. Bel masuk sudah berdering sejak 20 menit yang lalu.
"Ha~ iya, maaf.. maaf. Aku harus-"
"Nenek-nenek yang mau menyebrang jalan sudah aku tolong semua, sensei.. jadi kau tak bisa membuat alasan itu.."seorang anak berambut coklat jabrig, Inuzuka Kiba, menambahkan.
"Hey, hey~ dengarkan aku dulu, kali ini aku jujur.."
"Jadi kau selama ini memang berbohong ya Sensei?"teriak Ino.
Kakashi langsung men-deathglare seisi kelas yang membuat siswa XII-B terpaku ngeri. "Dengarkan aku dulu!"ucapnya menekan setiap kata. "Kita akan kedatangan orang baru yang akan bergabung di kelas ini.."
Bisik-bisikan pun terdengar dari seisi kelas. Sang Uchiha yang tak pernah peduli apa yang dibicarakan guru bahasanya ini, jadi ikut memperhatikan dan tak lupa sebuah seringai terukir di bibirnya.
"Baiklah, tampaknya tak perlu banyak basa-basi. Ayo silahkan masuk.."Kakashi mempersilahkan masuk murid yang sejak tadi menunggu di luar kelas. Semua pasang mata ikut memandang ke arah pintu. Akhirnya sang murid baru muncul dan berdiri didepan kelas.
Sasuke yang awalnya memandang penuh minat, kini malah mengerutkan dahinya. Yang ia ingin lihat di depan kelasnya adalah seorang gadis manis berambut lavender panjang. Bukan nya seorang pemuda berwajah datar dengan rambut merah menyala.
"Namaku, Sabaku Gaara. Pindahan dari Suna.."
"Sasuke.. aku masuk di kelas XII-E :)
Sampai jumpa nanti istirahat.."
Sasuke hanya mengerutkan dahi saat menerima pesan singkat dari sahabat sejak kecilnya itu. Sahabat? Apa itu nama hubungan mereka selama ini.
Entahlah. Sasuke tak dapat menemukan nama yang lebih mendekati selain kata 'sahabat' untuk ikatannya dengan gadis berambut indigo yang menjadi teman pertamanya itu. Sedangkan interaksi diantara mereka sudah melebihi dari hanya sekedar teman. Walaupun belum sampai ke tahap kekasih, yang sebenarnya diharapkan Sasuke.
Walaupun mereka tak memproklamirkannya, mereka bisa dikatakan sahabat bukan?
.
..
*TBC*
.
..
bagaimana? mengecewakan ya?
waktu bikin chapter ini sebenarnya Vio bingung harus membangun interaksi seperti apa untuk dua teman yang telah lama tak bertemu.. dan setelah berpikir cukup keras, jadilah chapter 2 ini.. (Malah curhat =,=a)
Semoga pertanyaan-pertanyaan kalian, terjawab di chapter 2 ini..
bagi yang belum terjawab, semoga chapter selanjutnya bisa Vio jelaskan..
Salam hangat selalu~~~~
special thank's to:
mery chan
Cira Ayana
Hyou Hyouichiffer
Lollytha-chan
n
Hizuka Miyuki
keiKo-buu89
Anna Just Reader
akemi matsu
Reita
Kise Tachibana
mizukaze-hime
g
lonelyclover
Yhuna-kishi
Lizy94
finestabc
Hana 'Reira' Misaki
ulva-chan
s.y
uchihyuu nagisa
Shyoul lavaen
sasuhina
.
And all My Silent Readers!
..
.
without your review, this fic is nothing :0
– Review – Review –
