Holla.. cappy 5 disini!

Wah sedih.. banyak yang menganggap Hinata jahat di fic ini.. padahalkan Hinata gak tau apa-apa tentang Sakura. Hinata emang sering nanya tentang kekasihnya Sasuke itu, tapi Sasuke ga pernah ngasih tau apa-apa. Ngejawab punya pacar aja engga. Jadi yang jahat itu ya Sasuke!

Di chapter sebelum-sebelumnya, Vio belum bikin Sasuke putus sama Sakura. Soalnya walaupun Sasuke hanya nganggap Sakura sahabat, Sasuke nggak enak buat mutusin orang yang selama ini jadi orang yang paling ngertiin dia.

Dan Sakura yang sangat mencintai Sasuke itu, masih ingin terus mencoba membuat Sasuke membalas perasaannya.

tampaknya chapter kali ini akan panjang, semoga tidak bosan membacanya..

Arigatou!

...

"Ciuman pertamaku, telah kau rebut di hari pertama kita bertemu .."jelas Hinata. Ia kembali mendongakkan kepalanya agar dapat membaca ekspresi wajah Sasuke. Sasuke yang menatap balik padanya, terlihat sedang berpikir.

"Mau aku ingatkan kembali?" dan dengan sedikit menjinjitkan kakinya sambil menarik kerah baju Sasuke, Hinata langsung mencium Uchiha bungsu itu.

Sasuke terkejut dengan tindakan Hinata. Tapi ahirnya ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Hinata, mendekapnya dengan erat dan membalas ciuman gadis impiannya itu.

Mereka berdua begitu terhanyut dengan suasana yang mereka buat. Sampai-sampai tak ada yang merasakan getaran Handphone Android yang sudah di setting dengan profil Silent itu. Benda mahal itu tergeletak terabaikan di bangku taman.

.Sakura calling.

.

..

-HOLD YOU TIGHT Chapter 5-

Disclaimer : Masashi Kishimoto ojii-san pemilik semua karakter dalam cerita ini~

.

..

10 Tahun yang lalu.

"Sasuke.. bangun. Kita sudah sampai.."Mikoto Uchiha membangunkan anak bungsunya itu.

Si bungsu Uchiha mulai menggeliat. Mengerjap-ngerjapkan matanya sambil sedikit menguap.

"Kita sudah sampai di rumah baru, bu?"

"Iya, sayang.."Mikoto tersenyum.

"Sasuke.. ayo bawa barang-barang mu menuju kamar baru yang akan kau tempati.."ucap Fugaku Uchiha yang masih berada di balik stir.

"Hn.."Sasuke mengangguk. Ia keluar dari mobil hitam mewah yang ia tumpangi dan berjalan menuju truk pengangkut barang yang ada di depan mobilnya itu. Ia mengambil kotak mainannya yang berada di dekat pintu truk.

"Tampaknya aku akan betah disini.. Udaranya lebih segar dibanding Tokyo. Bagaimana pendapatmu Sasuke?"tanya si sulung Uchiha.

Si bungsu tak menjawab. Pandangngannya tertuju pada segerombolan anak seumurannya yang sedang asik main kejar-kejaran.

"Hey, teman-teman.. tunggu ak-" 'Brugh'. Seorang anak perempuan jatuh tersungkur saat mengejar teman-temannya. Rambut pendek indigo nya terlihat berdebu.

Anak-anak yang lain tertawa. "Hahahah~ Hinata! Kau tidak pantas bermain dengan kami! Kau terlalu lambat! Kami bosan tidak pernah kalah.." ucap salah satu anak.

Hinata berdiri. Matanya berkaca-kaca.

"Wah.. teman-teman! Dia mulai menangis! Pasti sebentar lagi kakaknya yang galak akan datang!" ucap anak yang lain. Teman-temannya mulai mengejek Hinata.

"Aku memang akan datang jika adikku tersakiti! Memangnya kalian, yang tak pernah dipedulikan oleh siapapun?"ucap seorang anak berumur sebelas tahun, Hyuuga Neji, dengan marahnya. Dia berdiri di depan Hinata. "Pergi atau ku pukul! Kalianlah yang tidak pantas bermain dengan Hinata!"

Dan anak-anak itupun berlari pergi.

"N-nii-san.."Hinata terisak.

Neji berbalik, memandang adiknya yang penuh debu dan air mata.

"Sudah nii-san katakan, jangan bermain dengan mereka! Mereka anak-anak nakal yan tidak punya sopan-santun!"

"M-maaf n-niisan.. t-tapi aku ing-in puny-a teman.."

"Nanti kau pasti akan punya teman yang baik dan akan selalu melindungi mu, tapi sekarang main sama nii-san saja ya.."

Gadis kecil itu mengangguk. Kakak beradik itu pun memasuk sebuah rumah megah bergaya khas Jepang.

"Hey, Sasuke! Apa kau mendengar ku?"

"Hm?" Sasuke mengalihkan pandangannya pada kakaknya yang berumur tiga belas tahun itu.

"Cepat masukkan barang-barang nya ke rumah.. kau mau berdiri disitu samapai kapan?"

"Hn. Baik.."

"Em.. kakak, apa kakak punya teman yang suka jahat pada kakak?"tanya Sasuke sambil melihat-lihat rumah barunya itu.

"Dulu sih pernah, kenapa?"

"Kalau teman suka berbuat jahat, aku tidak mau punya teman kalau begitu.."

"Dasar adik bodoh.."

"Lalu bagaimana jika tidak ada yang mau berteman denganku?"

Itachi menyentilkan jarinya pada kening Sasuke.

"Aww! Kakak sakit!"

Itachi membungkukkan padannya agar tingginya setara dengan adik semata wayangnya itu.

"Kau pasti akan punya teman yang baik dan sangat mengerti dirimu.."

"Itachi!"Mikoto menghampiri kedua anaknya. "Dua blok dari sini ada taman bermain, bawa Sasuke ke sana ya, agar dia mengenal wilayah ini. Sementara ayah dan ibu akan beres-beres disini.."

"Baik, bu.. Ayo Sasuke, kita ke taman!" Itachi menggandeng adiknya itu.

"Jaga adikmu ya, kalau sudah sore cepat pulang.."

"Aku mengerti, bu.." Itachi melambai pada ibunya itu.

Kakak beradik Uchiha itu berjalan menuju taman. Dari depan rumah mereka, taman itu sudah terlihat. Jadi Itachi dan Sasuke tidak akan tersesat.

Saat mereka sampai di taman, banyak anak seumuran Sasuke yang berkeliaran di situ. Ada yang bermain bola, bermain di kotak pasir dan bermain ayunan.

Sasuke memandang seorang gadis kecil yang bermain ayunan bersama kakak laki-lakinya. Kakak beradik itu yang ia lihat tadi di depan rumahnya. Sang kakak dengan hati-hati mendorong punggung adik perempuannya itu agar terus berayun.

"Sasuke.. bermainlah! Sana cari teman. Aku akan duduk dan menunggumu disini.."ucap Itachi yang terduduk di bangku taman.

Sasuke tak bicara apa-apa. Ia hanya berjalan mengelilngi taman yang tidak terlalu luas itu. Karena lelah menopangkan berat badan pada kakinya, akhirnya Sasuke duduk di bawah pohon yang lumayan rindang. Dari situ ia bisa melihat kakak beradik yang bermain ayunan sejak tadi.

"Neji!" yang di panggil pun mengalihkan pandangannya yang sejak tadi berpusat pada adiknya.

"Ada apa, Lee?" Neji menyahut.

"Ayo main bola! Kita kurang satu orang!"

Neji memandang bimbang adik dan teman-tamannya.

"Tidak bisa! Aku sedang bermain dengan Hinata!"

"Ayolah Neji! Kami benar-benar membutuhkanmu!"

"Nii-san, main bola saja.. aku tidak apa-apa bermain ayunan sendiri,"

"Tapi.."

"Sana nii-san.. pasti nii-san ingin main bola kan?"

"Kau tidak apa-apa sendirian?"

"Tidak usah khawatir. Aku akan terus disini menunggu nii-san selesai bermain bola, lalu kita pulang.."

"Benar ya, Hinata. Kau jangan pergi dari ayunan ini.. aku hanya akan bermai sebentar,"

Hinata mengangguk dan tersenyum. Neji piun menghampiri teman-temannya.

"Hey, Hinata!"seorang anak perempuan meghampirinya.

"Ya?" mata Hinata berbinar. Akhirnya ada yang ingin bermain dengannya.

"Aku ingin duduk di ayuanan itu!"

"Hm, baiklah.. kita gantian ya.."ucap Hinata dan berdiri dari ayuanan itu.

"Tidak mau! Aku ingin sendiri duduk di ayunan ini.."ucap anak itu. Ia mendorong Hinata menjauh dari ayunan dan mulai memainkan ayunan itu.

Hinata menatap sedih ayunan itu. Ia tidak bisa pergi dari ayuanan. Ia sudah berjanji pada kakaknya.

"Hinata! Kenapa masih disitu! Sana pergi!"usir anak perempuan yang bermain di ayunan. "Aku tidak mau teman-teman yang lain melihatku dekat denganmu. Kau kan tidak asik di ajak bermain!"

Hinata pun menjauh dari ayunan itu. Ia tak tau harus kemana. Matanya mulai berkaca-kaca kembali. Ia ingin pulang. Tapi, karena sudah berjanji akan menunggu neji selesai bermain bola, ia akhirnya mencari tempat yang teduh untuk duduk.

"Punya teman itu tidak enak ya,"

Hinata tidak menyadari ternyata di sebelahnya ada seorang bocah laki-laki berambut raven.

"Eh?"Hinata mengusap kedua matanya yang berair.

"Untuk apa punya teman yang selalu jahat pada kita?" Sasuke memandang gadis kecil disebelahnya itu. "Aku tidak mau punya teman.."

"K-kau s-siapa?"tanya Hinata. Sasuke tidak menjawab. Hanya melihat sekeliling taman. "Aku tidak pernah melihatmu. Pasti baru pindah ke sini.."Hinata berpikir sejenak. "Oh, jangan-jangan kau yang pindah di depan rumahku kan? Aku H-hyuuga Hin-nata, salam kenal.. semoga kita bisa berteman baik.." Hinata mengulurkan tangannya.

Lagi-lagi Sasuke tidak menjawab. Ia memandang tangan yang Hinata julurkan.

"Aku kan sudah bilang tidak mau punya teman.."

"Ke-kenapa bicara seperti itu, teman-temanku-"

"Kau tidak punya teman.."Sasuke menunduk sedih. "Aku tidak mau sepertimu yang banyak mendapat penolakan.."

"A-aku tidak di tolak jadi teman m-mereka, koq.. waktu aku bilang 'semoga kita berteman baik' mereka setuju. Hanya saat ini mereka sedang tidak ingin bermain denganku.." Hinata kembali menundukan kepalanya. Sasuke menaikan satu alisnya pada gadis berambut indigo itu.

"Dasar aneh.."

Kepala Hinata makin tertenduk. Matanya mulai berkaca-kaca lagi.

"Kalau kau cengeng, siapapun tak ada yang mau berteman denganmu.."

Hinata kembali menghapus air matanya. "Kalau aku tidak menangis, kau mau berteman denganku kan?"

Bocah raven itu menatap tidak percaya pada gadis cilik indigo yang berada di sampingnya.

"Kalau kau tidak mau berteman denganku, aku saja yang berteman denganmu. Hay, namaku Hyuuga Hinata.. Siapa namamu?" Hinata kembali menjulurkan tangannya.

"Namanya Uchiha Sasuke, Hinata-chan.."

"kakak!"ucap Sasuke marah.

"Kau tidak boleh bersikap seperti itu, Sasuke. Sepertinya Hinata anak yang baik.."Itachi mengalihkan pandangannya pada si cilik Hyuuga. "Halo, aku Itachi. Kakak dari Sasuke," Itachi menjabat tangan Hinata.

"Halo, Itachi nii-san.."Hinta tersenyum.

"kakak, ayo pulang!"

Saat Sasuke hendak pergi, Itachi mencegahnya.

"Hey! Kau tidak boleh bersikap seperti itu! Sana, pamitan dulu pada Hinata-chan!"

Itachi mendorong Sasuke pada Hinata, tapi dorongan tersebut terlalu kuat, sehingga Sasuke menabrak Hinata dan membuat keduanya terjatuh. Sasuke cilik berada di atas tubuh Hinata. Pandangan mereka seling terkunci, karena bibir mungil mereka pun saling bersentuhan.

.

..

Sasuke terbangun dari mimpi masa kecilnya. Sudah lama ia tidak teringat hal bodoh itu lagi. Tapi, jika hal bodoh itu tidak terjadi, mungkin ia dan Hinata tidak akan pernah sedekat ini. Kapan-kapan ia harus berterima kasih pada Itachi.

Ia memandang langit-langit kamarnya. Kejadian tadi malam, kembali muncul di otaknya. Yang membuat terukir senyuman di bibirnya. Ia tak menyangka Hinata seberani itu padanya. Tapi ia juga tak menyesali perbuatan berani Hinata itu.

Lalu, sekarang apa hubungan mereka? Apa hanya karena kejadian semalam, mereka bisa disebut pacaran? Ia sangat yakin, Hinata memiliki perasaan yang sama padanya.

Pandangannya berpindah pada Handphone yang ada di meja samping tempat tidurnya.

.2 missed call. Sakura.

"Ya Tuhan.. Aku hampir lupa pada Sakura,"ucap Sasuke mengacak-acak rambutnya, frustasi.

Apa ia harus memutuskan Sakura sekarang? Karena ia benar-benar ingin bersama Hinata. Tapi, bagaiman pun juga Sakura adalah sahabatnya. Ia tidak mau hubungannya dengan gadis berambut merah muda itu rusak.

"Apa yang harus aku lakukan..?"

Ia memandang jam digital yang ada di sudut layar. Sudah jam enam. Ia terpaksa menyingkirkan pikiran-pikirannya itu dulu. Ia harus bersiap-siap untuk ke sekolah.

.

..

"Eh, Sasuke nii-san! Mau menjemput Nee-san ya? Hinata nee-san sudah berangkat diantar Neji nii-san.." ucap Hyuuga bungsu, Hanabi. Seragam SMP nya terlihat sedikit berantakan dibanding anak-anak perempuan seusiannya yang ingin terlihat rapih di mata laki-laki. Hanabi memang sedikit tomboy dibanding Hinata.

"Oh-Hm.. terima kasih Hanabi.."

"Iya, sama-sama.." dan Hanabi pun menaiki Bis sekolah yang telah menjemputnya.

'Kenapa aku merasa Hinata menghindariku?'

.

..

Sasuke pun tiba di Konoha High. Setelah memarkirkan motornya di tempat biasa, ia langsung menuju kelasnya.

Sasuke yang sedang berjalan di koridor, tampak seperti alien di mata siswa-siswi yang berpapasan dengannya. Pasalnya, Sasuke yang sejak dulu terlihat cool, diam dan tanpa ekspresi, hari ini tiba-tiba menyunggingkan senyum dari bibirnya. Sesekali membalas sapaan dari para fans nya, yang menyebabkan jatuh korban (baca: pingsan).

Sebenarnya, pikiran sang Uchiha sedang tidak pada tempatnya. Isi otaknya itu kembali pada hal yang terjadi tadi malam. Sasuke tak habis pikir, apa yang merasuki Hinata, sehingga dengan beraninya si gadis Hyuuga pemalu itu menciumnya. Sasuke hanya bisa kegirangan sendiri.

Saking tidak fokusnya pikiran Sasuke pada jalan di koridor, sampai-sampai saat ia akan memasuki kelas, seseorang menabraknya. Mendahului sang Uchiha memasuki kelas. Membuat lamunannya itu buyar.

"Upss! Maaf.."ucap si pemuda berambut merah. Sabaku Gaara.

Emosi hati Sasuke langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Ia benar-benar ingin memuntahkan amarahnya yang tertunda tadi malam.

'Bugh!' Sasuke tiba-tiba mendorong punggung Gaara di depan kels, yang membuat Gaara hampir kehilangan keseimbangannya.

Suasana kelas XII-B yang awalnya gaduh, tiba-tiba saja sunyi. Semua pasang mata menatap ke arah mereka. Termasuk mata hijau emerald milik Haruno Sakura.

Sakura benar-benar terkejut dengan tindakan tiba-tiba kekasihnya itu.

Dengan pandangan bingung dan tajam, Gaara menghadapi Sasuke. "Uchiha! Aku sudah bilang maaf!"

"Aku tidak mempermasalahkan apa yang kau lakukan tadi!" balas Sasuke. Ia menatap tajam Gaara. Memperlihatkan seberapa marahnya dia. Gaara pun begitu, sekaligus ia berfikir apa yang membuat sang Uchiha itu begitu marah.

"Oh, karena masalah tadi malam? Kau tak perlu ikut campur, aku dan Hinata-"

'Bugh!' kepalan tangan Sasuke menerjang sudut bibir Gaara. "Aku tidak mau mendengar nama Hinata keluar dari bibirmu!"

Gaara mengelap darah yang keluar bibirnya. Ia hanya memamerkan senyum mencela nya pada Sasuke.

Kejadian yang terjdi saat ini, bukan hanya menarik perhatian dari siswa-siswi kelas XII-B. Tetapi sekarang di depan kelas XII-B, telah banyak siswa dari kelas lain yang berkerumun.

Kerumunan itu tak elaknya menarik perhatian gadis berambut Indigo.

"Em.. maaf, kenapa semua berkumpul disini? Apa yang sedang terjadi?" Hinata bertanya pada salah satu siswa yang berkerumun.

"Itu, Uchiha Sasuke berkelahi dengan murid baru yang berambut merah.."jawabnya.

Hinata tersentak kaget. Rambut merah? Gaara? Apa yang Sasuke lakukan?

Hinata mencoba menerobos siswa-siawi yang menghalangi jalannya menuju pintu. Ucapan maaf tak henti-henti nya ia lontarkan. Hingga akhirnya ia berada di depan pintu kelas XII-B dan dapat melihat jelas apa yang sebenarnya sedang terjadi.

"Aku katakan sekali lagi, Uchiha," Gaara memberikan penekanan saat menyebutkan nama keluarga Sasuke. "Semua hal yang ada pada kami berdua, tak ada hubungannya dengan mu!"

"Tentu saja ada hubungan nya denganku!"balas Sasuke cepat.

"Apa? Kau hanya sahabat Hin-"

Sasuke menarik kerah seragam Gaara, siap untuk memukul nya lagi. "Sudah ku bilang jangan sebut-"

"SASUKE!" suara Hinata menggema di telinga semua yang berada disitu. Hinata langsung menghampiri Sasuke dan Gaara. "Apa yang sedang kau lakukan? Masalah antara aku dan Gaara hanya masalah kecil yang tak perlu dipermasalahkan sampai sejauh ini! Gaara sudah meminta maaf pada ku, tak usah ada keributan seperti ini!" jelas Hinata.

Sasuke melepas cengkramannya pada kerah seragam Gaara. Kemudian memandang Hinata yang berada di sampingnya. Pandangan nya yang penuh amarah belum juga mereda.

"Setelah kau menangis padaku gara-gara dia, sekarang masih saja kau membelanya di depanku! Apa mau mu, HAH!"

Sasuke menendang kursi yang ada di dekatnya, lalu pergi meninggalkan kelas. Semua mata memandang kepergian Sasuke. Setelah Sasuke menghilang dari pandangan mereka, bisik-bisik pun terdengar dari dalam dan luar kelas.

"Hinata.." Gaara memanggilnya, tapi tak sedikitpun Hinata memandangnya dan langsung menyusul Sasuke meninggalkan kelas itu.

Sepasang mata Hijau emerald milik Sakura sama sekali tak berkedip melihat kejadian itu. Entah kenapa hatinya perih. "Ga-gadis itu.." Sakura teringat dengan wallpaper handphone Sasuke.

"Dia Hyuuga Hinata kan? Anak baru yang sekelas dengan Tenten?" tanya Ino.

"Hyuuga Hinata?" ucap Sakura lirih.

.

..

"Sasuke.." Hinata mengejar sang Uchiha sampai ke atap sekolah. Yang dipanggil hanya diam, tak merespon apapun.

"Apa yang kau inginkan, Hinata.."suara Sasuke kini telah mendatar. Tapi nada amarah tetap terasa.

"Kau bisa tanyakan itu pada dirimu sendiri, Sasuke.." Hinata membalasnya dengan nada bicara yang sama.

Sasuke langsung berbalik mengahadap Hinata.

"Kau kemarin menangis padaku! Menciumku! Lalu sekarang kau mempermalukan aku dengan membela orang yang telah menyakitimu!"

"Ternyata kau hanya peduli pada harga dirimu.."

"Yang AKu tanyakan, apa yang kau inginkan dariku, HINATA?"

Hinata menarik nafasnya dalam-dalam. Sasuke sudah benar-benar marah.

"Anggap kau tak pernah mengenalku.."ucap Hinata singkat dan berjalan pergi. Tapi, tangan kiri Hinata ditarik paksa oleh Sasuke. Membuat Hinata merintih kesakitan.

"Semudah itukah kau bicara?"Sasuke tidak berteriak. Tapi nada bicaranya yang dalam membuat Hinata benar-benar takut.

"Setelah apa yang kau lakukan pada hatiku, Hinata.. begitu mudahnya kau mengatakan kalimat itu? Saat kau menciumku, aku yakin kau mempunyai perasaan yang sama denganku! Kenapa kau berkeras hati tak mau mengakuinya? Atau sebenarnya ini hanya permainanmu? Kau hanya mempermainkan hatiku kan?"

"Memangnya kau sendiri tidak mempermainkan hatiku? Apa kau lupa, kau SUDAH punya kekasih, Sasuke! Kau selalu menghindar akan topik tentang kekasihmu, Sasuke. Untuk apa bersikap seperti ini padaku? Biarkan aku menjalani kehidupanku sendiri. Kau tidak bisa memukul Gaara seenaknya, hanya karena dia pernah menyakitiku. Tapi apakah kau tau, sikapmu yang seperti inilah yang jauh lebih menyakitiku.."

"Aku memang mempunyai seorang kekasih. Hubungan kami sedang tidak baik, jadi tak perlu banyak siasat untuk putus-"

'Plak!' suara telapak tangan Hinata yang mendarat pada pipi Sasuke begitu nyaring terdengar.

"Seperti itukah kau memperlakukan seorang wanita? Ternyata kau sudah berubah dalam tiga tahun ini.."

Dengan sekuat tenaga, Hinata melepaskan cengkraman Sasuke pada tangannya.

"Jangan pernah berani menghubungiku, jika kau tak bisa memperbaiki hubunganmu dengan kekasihmu..". Dan Hinata langsung pergi tanpa menoleh pada sang Uchiha sekalipun.

Bukannya tak mau menoleh, Hinata sebenarnya tak berani memperlihatkan air matanya yang jatuh pada Sasuke.

"Absen nya ke hadiranmu dalam tiga tahun hidupku lah, yang membuatku berubah seperti ini.." dan tanpa ada yang tau ataupun melihat, seorang Uchiha Sasuke menangis dalam diam.

"Kenapa hidupku jadi seperti ini.."

.

..

Hadeuh~ jari tangan Vio pegel. Dan otak kekuras semua. Semoga chapter ini tidak mengecewakan..

Vio akan berusaha update cepat chapter-chapter bahagia.. doakan saja ^^v

Baiklah, tampaknya Vio terlalu banyak basa-basi..

Dimohon Review nya! *bow

.

..

Special Thanks to:

Yhatikaze-kun gak login

Cira Ayana

keiKo-buu89

l

akemi matsu

uchihyuu nagisa

Ai HinataLawliet

n

mery chan

Hana 'Reira' Misaki

Lollytha-chan

naruhina

Hikari Mozuru

Dean U

grey chocolate

Chikuma not login

kumiko lavender haruna

Shyoul lavaen

=====and=====

all silent readers