Author's Note : Halo lagi, maaf saya update-nya lama. Terima kasih banyak buat ~Rya-chan X Shii-chan dan ~Ri Tyler atas reviews-nya. Sesuai permintaan kalian, fanfic coretnistacoret ini saya lanjutkan. Omong-omong, hari pertama Squalo sakit itu mulai dari pagi-dimana-dia-ditengok-Xanxus-berkali-kali, bukan dari malam pas dia pingsan. Ini berkaitan dengan judul chapter soalnya, maaf, ya.
Italic : Masa lalu / dalam hati / bahasa asing
Normal : Biasa
Disclaimer : Katekyo Hitman REBORN! © Amano Akira
Warning : Shonen-ai,OC, OOC, (mungkin)typo, dll….
Marionette Syndrome
© Kiri Kaze Dokuro
Hari kedua Squalo terbaring diam di tempat tidur, seluruh penghuni Varia HQ belum terlalu merasakan banyak perbedaan. Hanya terkesan seperti Squalo pergi untuk sebuah misi dan tidak kembali selama beberapa jam. Tetapi tetap saja bagi Xanxus, dia merasa ganjil dengan ketiadaan sosok pria berambut silver panjang itu berkeliaran di markas Varia. Sama seperti hari sebelumnya, dia menengok Squalo berkali-kali. Berharap dia akan segera bangun.
Tapi Squalo tetap terbaring diam tak bergerak, tak bersuara.
Siang itu, Xanxus hanya berjalan mondar-mandir di ruang kerjanya. Akhirnya ia memutuskan untuk melihat kondisi Squalo sekali lagi. Saat ditengah perjalanan, Levi memanggilnya, "Bos, maaf mengganggu, ada telepon untuk anda,"
"Dari siapa?" tanya Xanxus
"Scienza Orologio." jawab Levi
Xanxus langsung menyambar telepon yang dipegang lightning guardian-nya itu.
"Halo?"
"Yo, Xanxus. Ini aku," kata Scienza di seberang telepon.
"Ada apa kau meneleponku?" tanya Xanxus
"Aku hanya mau memastikan kondisi Squalo. Oh ya, dia dirawat dimana?"
"Apa maksudmu? Tentu saja dia masih disini."
"Disini itu maksudmu…di Varia HQ?"
"Ya."
Hening beberapa saat, lalu Scienza mendadak berteriak keras,
"HAAAAAAAAAH! Aku tak percaya kau membiarkannya di sana begitu saja! Kau tahu tidak kalau Marionette Syndrome itu bisa berbahaya tanpa penanganan yang tepat!" bentak gadis berkacamata itu. Xanxus kaget karena teriakannya yang hampir menyamai teriakan Squalo.
"Memang apa yang bisa terjadi?"
"Dia bisa mati dalam waktu tiga hari," Scienza menekankan kata 'tiga hari'
Xanxus kaget mengetahui kenyataan bahwa deadline mereka berkurang sebanyak 27 hari.
"Tapi sekarang rumah sakit manapun penuh dengan pasien penyakit itu. Jadi akan kukirimkan tenaga medis dan peralatannya kesana sekarang."
"Usahakan secepatnya," kata Xanxus
"Tutup telepon ini dan mereka sudah didepan pintu."
KLIK! Scienza menutup telepon dan benar saja, bel berbunyi. Xanxus berlari keluar dan langsung membuka pintu. Dia kaget melihat pemandangan disana. Pria itu berpikir 'tenaga medis' yang dimaksud Scienza adalah sekelompok dokter atau apa. Tapi yang ada disana hanya seorang wanita dan seorang pria dengan baju lab seperti yang selalu dipakai Scienza dengan kardus besar yang dilabeli 'FRAGILE' dibelakangnya.
"Kalian 'tenaga medis' yang dikirim gadis itu?" tanya Xanxus
"Ya, nama saya Alexandria, salam kenal." kata wanita berambut coklat itu sambil membungkuk.
"Dan namaku Trydan." Kata yang laki-laki.
Xanxus mengerutkan dahi melihat kedua orang itu. Memang tertutup pakaian, tapi jelas sekali di tubuh mereka berdua ada banyak jahitan. Bukan seperti bekas jahitan karena luka, tapi benar-benar dijahit. Tubuh mereka terlihat seperti dibuat dari potongan-potongan tubuh manusia yang disatukan dengan jarum dan benang. Xanxus hanya bisa bingung dibuatnya.
"Kalian terlihat seperti Frankenstein," katanya
Kedua orang itu saling pandang, lalu tertawa terbahak-bahak.
"Apanya yang lucu?" tanya Xanxus
"Kami memang Frankenstein, tahu!" kata Alexandria sambil tersenyum geli.
"Hah?" Xanxus bengong.
Gadis itu benar-benar gila, membuat monster dari mayat manusia seperti ini, batin Xanxus dalam hati.
"Sudahlah, ayo masuk." kata Xanxus menghela napas. Dia mengantar Alexandria dan Trydan ke kamar Squalo. Setibanya di sana, kedua Frankenstein itu langsung memasang berbagai peralatan medis yang aneh-aneh. Mulai dari infus, tabung oksigen, sampai alat pacu jantung yang sepertinya tak perlu.
"Apa dia perlu semua alat itu?" tanya Xanxus pada Trydan
"Tidak juga, tapi tak ada salahnya memasang semuanya. Master berpesan pada kami agar Squalo tidak mati mendadak." balas pria yang warna mata kanannya hijau dan kirinya biru.
Sejak melihatnya, Xanxus yakin itu mata dari dua orang- salah, mayat yang berbeda. Sementara Alexandria, sangat jelas kalau jari tangan kirinya diambil dari 5 mayat yang berbeda. Kecuali telunjuk, semuanya punya bekas jahitan dan ada yang warna kulitnya agak beda. Dan jelas sekali bahwa wajah mereka bukanlah wajah asli dari tubuh yang mereka gunakan. Keduanya memiliki bekas jahitan yang memanjang dari bawah dagu sampai puncak kepala. Scienza tentu saja memilih wajah yang terbaik, tanpa cacat dan tidak terluka, apalagi yang membusuk, pasti dibuang atau dikubur lagi. Xanxus mulai berpikir, Mungkin kalau Squalo akhirnya tak bisa diselamatkan, aku bisa meminta sampah gila itu untuk membuatnya jadi Frankenstein, tanpa jahitan…Tidak! Aku tak mau punya bawahan mayat hidup!
"Xanxus, sekalipun dia bisa dijadikan Frankenstein seperti kami, dia bukan lagi orang yang sama, lho." mendadak Alexandria angkat bicara
"Kau baca pikiranku?" tanya Xanxus
"Begitulah. Dijadikan Frankenstein bukanlah solusi untuk menghidupkan orang. Ingatan yang terkoyak atau jiwa yang tak sempurna adalah konsekuensinya. Aku dan Trydan malah tak punya ingatan sama sekali sebelum menjadi seperti sekarang," katanya, "Lagipula, siapa sih yang mau punya kekasih mayat hidup?"
Xanxus kaget mendengar kata 'kekasih'. Dia tidak merasa marah, tapi merasa malu, entah kenapa.
"Selain pikiran, Alexandria juga bisa membaca jauh kedalam lubuk hati seseorang. Jujurlah padanya nanti kalau dia sudah sadar." kata Trydan sambil nyengir dan menunjuk kearah Squalo.
"Aku bukan kekasihnya dan aku masih normal, dasar mayat hidup!" Xanxus membanting pintu kamar Squalo dan bergegas kembali ke ruang kerjanya. Alexandria dan Trydan saling berpandangan dan mengangkat bahu.
Aku masih normal, aku tidak menyukai Squalo, aku masih normal, aku TIDAK jatuh cinta pada Squalo!
Sambil terus mengulang pikirannya itu, Xanxus terus berjalan ke ruang kerjanya. Saat hendak membuka pintu, dia terdiam
Benarkah aku tidak menyukai Squalo?
-ToBeContinued-
Yak, chapter kedua berakhir disini. Bagi yang ingin tahu kelanjutannya, dimohon untuk review.
Omong-omong, nama Trydan kuambil dari bahasa Wales yang berarti 'listrik'. Nama ini kupilih karena untuk menghidupkan Frankenstein diperlukan energi listrik sebesar 1.21 Gigawatt. Sedangkan nama Alexandria kuambil dari nama istri Victor yaitu Alexandria Powerd dari manga 'Busou Renkin' karangan Nobuhiro Watsuki. Frankenstein sendiri adalah judul novel karangan Mary Shelley. Coba cari di Wikipedia/plak.
Oke semuanya, tampar saya karena Xanxus jadi sangat OOC.
