Author's Note : Selamat pagi/siang/sore/malam/subuh dimanapun anda berada. Terimakasih untuk semua orang yang sudah me-review fanfic ini. Maafkan keterlambatan update karena saya baru pulang retret dan internet rusak selama seminggu lebih. Baiklah, selamat menikmati chapter tiga!

Italic : Masa lalu / dalam hati / bahasa asing

Normal : Biasa

Disclaimer : Katekyo Hitman REBORN! © Amano Akira

Warning : Shonen-ai,OC, OOC, keberadaan typo, dll….

Marionette Syndrome

© Kiri Kaze Dokuro

Hari ketiga, kondisi Squalo tak kunjung membaik. Bahkan dengan bantuan alat-alat medis tak jelas itu kondisinya tak berubah sama sekali. Untuk mengawasi kondisi Squalo, Alexandria dan Trydan tinggal di Varia HQ untuk sementara waktu. Dan yang senang dengan kedatangan kedua Frankenstein itu hanya Lussuria. Yang lain, terutama Mammon (karena pengeluaran bertambah), tidak begitu senang dengan mereka. Xanxus? Dia tak peduli. Hanya satu yang menjadi pikirannya, Superbi Squalo. Dia sama sekali tak menyentuh kerjaannya sejak pagi. Xanxus hanya berkeliling sekitar Varia HQ, mengunjungi tempat-tempat yang biasanya didatangi Squalo, dan berharap melihatnya berdiri dan berteriak seperti biasanya disana. Bagi Xanxus, hari-hari tanpa suara Squalo benar-benar terasa sepi. Dia merasa kosong, bagaikan matryoshka yang kehilangan isinya, semacam itulah. Rasanya kacau.

Akhirnya pria beriris ruby itu memutuskan untuk menengok Squalo dikamarnya, daripada berkeliling seperti orang bodoh mencarinya padahal sudah tahu dia dimana. Saat tiba dikamar Squalo, Alexandria sedang mengganti infusnya dan Trydan sedang mengutak-atik sesuatu di dekat jendela.

"Oh, hai Xanxus. Menengok kekasihmu lagi?" goda wanita bermata indigo itu

"Dia bukan kekasihku, dasar zombie!" balas Xanxus marah

"Kami F-R-A-N-K-E-N-S-T-E-I-N. Bukan zombie." Jawab Alexandria dengan penekanan pada tiap hurufnya. Sepertinya dia benci dipanggil zombie dilihat dari ekspresi jijiknya.

"Whatever," Xanxus lalu beranjak ke belakang Trydan yang sedang merakit sebuah mesin aneh.

"Apa itu?" tanya Xanxus

"Alat untuk mengubah gelombang otak menjadi suara. Jadi kita bisa mengetahui apa yang dipikirkannya dalam tidurnya itu." jawab Trydan

Mendadak Lussuria muncul di pintu dan memanggil mereka,

"Alexa-chan, Try-chan, kalian tidak makan? Nanti sakit lho~" katanya dengan gaya banci yang bikin merinding

"Berhenti memanggil kami dengan nama menjijikan itu." kata Trydan dengan ekspresi jijik

"Minimal, jangan pakai 'chan'." lanjut Alexandria dengan wajah yang lebih jijik lagi

"Xanxus, kami makan dulu, tolong jangan utak-atik mesin-mesin itu." Trydan mengingatkan. Xanxus hanya mengangguk. Setelah mereka pergi, Xanxus duduk di sisi tempat tidur Squalo. Ia menyentuh tangan Squalo. Terasa dingin, seperti mayat. Dia memeriksa denyut nadi Squalo, sangat pelan, hampir tak berdenyut. Pria berambut panjang itu benar-benar terlihat seperti boneka marionette yang tidak memiliki benang, tergeletak di belakang panggung dan terlupakan. Dia akhirrnya mengerti kenapa penyakit ini dinamakan Marionette Syndrome.

Xanxus mendekatkan wajahnya ke telinga Squalo, dia mulai berbicara pada Squalo,

"Kau tahu? Aku merasa kesepian tanpamu. Ini memang terdengar aneh, tapi jujur saja, aku ingin mendengarmu berteriak seperti biasanya,"

Lalu Xanxus terkekeh kecil, "Padahal aku selalu menyuruh untuk tidak berisik dan berteriak-teriak begitu, tapi sekarang aku ingin mendengarnya."

Xanxus menyisir pelan beberapa helai rambut Squalo yang biasa dijambaknya sembarangan. Dia bisa merasakan bahwa Squalo benar-benar merawat rambut yang menjadi lambang sumpah kesetiannya pada Xanxus itu. Dia menggenggam tangan Squalo, lalu berbisik pelan ditelinga Squalo, "Aku ingin mendengar suaramu,"

Mendadak, jari tangan Squalo bergerak perlahan. Xanxus terkejut sekaligus senang. Squalo membuka mulutnya, dan kata yang pertama diucapkannya sama sekali tidak terduga.

"Xanxus…" panggil Squalo pelan

"Squalo, kau bisa dengar aku!" balas Xanxus

"Xanxus…kau dimana?" dia merespon. Xanxus menggenggam erat tangan Squalo

"Aku disini, sadarlah Squalo!"

"Aku…minta maaf…"

Setelah mengatakan itu, dia kembali tertidur seperti tak pernah bangun sebelumnya. Tapi tubuhnya menghangat dan denyut nadinya kembali. Xanxus melihat monitor jantung Squalo, dan detak jantungnya mulai meningkat. Dia tersenyum dan segera keluar memanggil Alexandria dan Trydan.

Xanxus segera berlari ke ruang makan, dia membanting pintu dan berteriak memanggil kedua Frankenstein itu. Sontak mereka berdua kaget.

"A-ada apa Xanxus?" tanya Alexandria

"Squalo, tadi dia sempat berbicara!" jawab Xanxus

Trydan langsung berdiri dengan wajah kaget, "Yang benar saja! Dia bangun!"

"Setelah bicara padaku, dia langsung tertidur lagi." balas Xanxus

Alexandria langsung menyeret Xanxus ke kamar Squalo. Trydan mengikutinya. Cukup mengherankan bahwa wanita sekurus dia bisa menyeret Xanxus.

Setibanya di kamar Squalo, Alexandria dan Trydan langsung memeriksa kondisi Squalo dan posisi alat-alat medis.

"Sulit dipercaya! Tadi dia benar-benar bangun!" teriak Alexandria saat melihat monitor jantung dan gelombang otaknya.

"Suhu tubuh normal, denyut nadi normal." sahut Trydan dengan mata membelalak kaget.

Alexandria mengeluarkan HP dari kantong jasnya dan menelpon Scienza,

"Halo, dengan Scienza disini. Ada apa, Alexa?" jawab Scienza

"Master, Squalo bangun!" kata Alexandria

Hening beberapa saat sebelum….

"APA! DIA BANGUN! AKU SEGERA KESANA!" Scienza berteriak begitu keras sampai Alexandria langsung menjauhkan HP dari telinganya. Telepon diputus.

"Kau tak apa, Alexa?" tanya Trydan cemas

"Kurasa telinga kananku tuli untuk sementara waktu," balasnya

Tidak sampai 10 menit, Scienza sudah tiba dan langsung mendobrak pintu kamar Squalo. Gadis berkacamata itu membawa sebuah kopor besar. Penampilannya acak-acakkan, kantong matanya tebal, jasnya kotor dan poninya berantakan.

"Dia benar-benar bangun!" tanya Scienza sambil terengah-engah

"Ya, matanya memang masih tertutup, tapi tangannya bergerak dan dia bicara padaku," jawab Xanxus. Mendengar itu, Scienza langsung memeriksa Squalo dan menoleh pada Xanxus sambil tersenyum.

"Berita bagus! Dia hampir sembuh!" kata Scienza

"Bukankah penyakit ini tidak bisa disembuhkan?" tanya Xanxus bingung. Scienza menggeleng,

"Penyakit ini bisa disembuhkan, tergantung penyebab utama penderitanya terkena virusnya. Menurutku, penyebab pada Squalo adalah stress yang bertumpuk. Yang begini memang agak jarang, tapi cara pengobatannya cukup mudah. Cukup perlakukan dia dengan lembut, berhenti memaki, berhenti melempar benda kearahnya, dan sebagainya." kata Scienza sambil nyengir mesum kearah Xanxus.

"Tadi kau bilang hampir, kan? Kapan dia sembuh total?" tanya Xanxus lagi

"Nah! Penyakit ini tidak bisa dibasmi secara tuntas jika virusnya tidak dihancurkan. Makanya kubuat obatnya!" Scienza membuka kopor besarnya. Disana terdapat berbagai macam alat-alat laboratorium dan dalam sebuah tabung, ada cairan berwarna putih kebiruan.

"Apa cairan itu obatnya?" tanya Xanxus

"Tepat! Tapi sayangnya obat ini belum sempurna. Sedikit lagi selesai. Aku sengaja membawa semua peralatanku kesini supaya aku bisa melanjutkannya di tempat ini." jawab gadis itu santai.

"Jadi kau akan tinggal disini sampai obatnya selesai?"

"Persis! Tidak apa-apa kan, eh?"

Xanxus berpikir selama beberapa saat. Akhirnya dia berkata "Oke".

Sore harinya, seluruh anggota Varia berkumpul di ruang tamu dan melakukan aktivitasnya masing-masing.

"Boss, mana orang-orang dari Orologio itu?" tanya Levi

"Mereka dikamar, membantu Scienza membuat obat," jawab Xanxus

"Muu, kenapa kau membiarkan mereka tinggal disini? Perhitungan pengeluaran yang kubuat jadi berantakan! Pemborosan!" kata Mammon

"Ushishishi, kau jangan pelit begitu, mereka akan ganti kok!" kata Belphegor

"Senpai saja yang ganti. Tabungan senpai kan banyak." kata Flan dengan nada datarnya

"Diam kodok! Uang itu untuk membangun kerajaan pangeran nantinya!" balas Belphegor sambil melempar pisau kearah pemuda berambut hijau itu.

"Senpai, itu sakit. Lagipula senpai kan cuma pangeran palsu… *stab* Baiklah, aku akan diam."

Xanxus merasa kesal dengan kelakuan para anak buahnya itu. Dia beranjak pergi dari ruangan itu.

"Boss, mau kemana?" tanya Lussuria saat berpapasan dengannya

"Bukan urusanmu, sampah!" bentaknya sambil berlalu. Dia berjalan ke kamar Scienza yang ternyata sudah dirombak menjadi laboratorium oleh gadis itu.

"Lho, Xanxus? Ada apa?" tanya Scienza saat melihatnya di ambang pintu.

"Tidak, aku hanya ingin tahu bagaimana perkembangan obatnya," jawab Xanxus

"Aih, kau sangat ingin Squalo cepat sembuh, ya? So sweet… Kau baik sekali pada kekasihmu itu," kata Scienza lengkap dengan senyum fujoshinya

"Kau mau mati sampah! Sudah kubilang dia bukan kekasihku! Wajar kan kalau seorang atasan mengkhawatirkan bawahannya?" elak Xanxus

"Hee… Sejak kapan karaktermu jadi pencemas seperti itu? Lagipula, kalau dia bukan kekasihmu, kenapa wajahmu memerah seperti itu?" ejek gadis itu lagi.

"Di-diam kau!" kata Xanxus panik sembari menyiapkan X-Gun miliknya

"O-oi! Jangan pakai pistol 'napa! Aku kan cuma bercanda!" Scienza mencoba menghindari kemarahan Xanxus sebisanya

Xanxus memilih meninggalkan ruangan itu. Dia beranjak kearah kamarnya sendiri. Saat itu, dia melewati kamar Squalo. Xanxus masuk dan melihat Squalo masih tidur seperti biasanya. Dia mendekati tempat tidur dan bertanya pada Squalo, "Oi sampah, kenapa tadi kau minta maaf?"

Tentu saja Squalo tidak menjawab. Xanxus menghela nafas. Dia pergi ke kamarnya sendiri. Setibanya Xanxus di kamarnya itu, dia membuka laci mejanya dan mengeluarkan sebuah foto. Foto lamanya dengan Squalo yang masih berambut pendek.

Sebenarnya, perasaan apa ini?

-ToBeContinued-

Chapter tiga selesai! Saya jadi berasa tua kalau melihat chapter pertamanya/plak.

Lagi-lagi Xanxus OOC, lebih dari sebelumnya malah. Yang tidak suka akan hal ini boleh tabok saya - ngaco.

Sekali lagi saya berterimakasih atas semua review kalian. Tanpa itu fanfic ini tidak akan berlanjut. Omong-omong, ada yang setuju kalau chapter terakhirnya saya buat rated M?

Mohon review bagi yang ingin tahu kelanjutannya, adios!