Hai! Hajimashimete! Nice to meet you again, or nice to meet you if you just now read my story :D Ranranchaa kembali lagi! XD Vacuum cukup lama, hampir sebulan, padahal tanggal 12 Desember aku udah memasuki minggu-minggu neraka alias UAS, lho X'D Karena belajar enggak masuk sama sekali, aku langsung kabur ke sini, deh! Hehehehe. Lets go to Ranran's weird imagination again ...


Tepat jam 12 malam ...

Aku masih memikirkan tentang kejadian barusan. Kenapa Marucho takut melihatku? Seperti melihat setan saja. Memangnya aku terlihat seperti setan, apa ...?

Tiba-tiba, wajah Danma yang sangat memilukan itu menghantui pikiranku lagi. Bayangan yang sama mulai menghantui pikiranku lagi.

"... Sudah cukup, hentikaaaan!" aku langsung membanting bantalku. "Aku benci bayangan ini! Aku tidak mau melihatnya lagi, aku tidak mau ini menjadi kenyataan! Aku tidak mau!".

...

Apa itu yang ada di dalam pikiranmu, bocah?

Aku tersentak ketika mendengar suara perempuan terlintas di pikiranku. "Jangan-jangan seperti waktu itu ..." aku langsung menoleh ke jendela dan melihat ke arah balkon. Terlihatlah bayangan perempuan berambut putih dan bermata merah. Sama seperti di dalam mimpiku, juga seperti perempuan yang kutemui kemarin malam ...

"... Kau melupakanku?" tanya perempuan itu. "... Tidak." aku menggeleng. "Baguslah. Tidak mungkin kamu melupakan aku. Karena aku selalu terbayang olehmu, kan ...?" perempuan itu tersenyum sinis. Sesaat, aku langsung mendelik ke arahnya.

"Oh ... jadi kamu biang masalahku, ya?" tanyaku sambil tersenyum kecut.

Dalam sekejap, PLAK!

Perempuan itu langsung memegang pipinya yang ditampar keras olehku. "... Senyumanmu itu benar-benar membuatku muak. Apa maksud dari semua ini?" tanyaku, "Kalau ada sesuatu yang kau inginkan dariku, kau tak perlu memperlakukanku sebodoh ini." paparku dengan tegas. "Fufufu ..." tertawaan sinisnya terdengar jelas di telingaku, membuatku mendelik lagi ke arahnya. "Kau ... apa maumu?" aku langsung menggeram.

Perempuan itu tetap saja menunjukkan senyuman sinisnya. Menatapku penuh akan maksud tertentu. Aku tidak mengerti dirinya ...

"... Aku bisa menjadi Urashima Taro menunggumu bicara." ucapku geram. "Kau ingin aku bicara apa? Hihihi ..." tanyanya dengan lagak sinisnya yang aku benci. "Katakan apa maksudmu. Atau aku akan ..." aku langsung mengenggam sapu yang berada di dekatku. Aku ingin mengusirnya jauh-jauh dari sini dan bilang kalau dia ini maling nyasar! (hah?)

"Kau ingin melawanku? It's not fair!" dia menghadapkan tangannya padaku seakan-akan melarangku untuk menimpukinya dengan sapu. "But ..." dia langsung mendekatiku, juga memegang wajahku. Wajahnya benar-benar dekat denganku.

...

"If you realize you're a half-vampire, I'll let you to fight with me.".

Aku terbengong. Firasatku jelek.

Apa yang ingin dia lakukan? Menghisap darahku? ... Yang benar saja!

...

Perempuan itu langsung tersenyum geli, seakan dia bisa membaca pikiranku.

"Hahaha ... bodoh sekali cara berpikirmu ... vampire tidak akan menghisap sesama vampire, kok ... memangnya manusia yang membunuh sesama manusia?" tuturnya dengan nada yang berbeda dari biasanya.

Seakan-akan ia memiliki arti yang tersembunyi dari kata-katanya itu ...

"... Maksudmu apa?" tanyaku pelan, "Dulu kamu juga seorang manusia, kan?" lanjutku. "Iya. Lebih tepat, kami, keluarga Rosaniette, adalah vampire yang menyamar menjadi manusia." jawabnya. "... Siapa kamu sebenarnya?" tanyaku lagi.

"... Namaku Nettyle Rosaniette. Putri dari pasangan vampire." jawab Nettyle seiring mata merahnya bersinar terang. "Kami memang keluarga vampire, tetapi kami senang pada manusia. Keluarga kami tidak pernah berniat untuk menghisap darah manusia, kami hanya menghisap darah manusia yang sudah mati. Mungkin karena nenek moyang kami adalah vampire yang sebenarnya adalah manusia." jelas Nettyle.

"Awalnya aku senang pada manusia. Aku juga pernah bersahabat dekat dengan seseorang. Namun ... keluargaku dibunuh oleh pembunuh berantai. Darah vampireku pun bangkit, karena kebencian mendalam karena kehilangan orang tuaku. Aku sendiri lolos, karena Golden Butterfly. Sampai sekarang, aku tidak pernah bisa menghapus dendamku ..." ujar Nettyle. "Sahabatmu ... manusia? Siapa?" aku tertegun.

"Namanya Thomas. Thomas Carter, dia adalah pendeta pengusir vampire. Keluarganya sangat dekat dengan keluargaku, padahal jalan hidup kami sangat jelas bertentangan. Ayahku berteman baik dengan ayah Thomas sejak kecil, karena itulah kami sudah dekat sejak kecil. Dia adalah teman terbaikku." jelas Nettyle sambil tersenyum pedih. "Hei ... berarti kamu juga tahu, manusia itu ... ada yang baik, kan?" tanyaku lagi.

"Bagaimana pun juga, aku akan balas dendam. Dan kau harus membantuku." Nettyle tersenyum sinis lagi padaku. "Maksudmu? Aku juga manusia, seharusnya kamu balas dendam, bukannya mendekatiku penuh maksud seperti ini!" bantahku jengkel. "... Karena kamu adalah orang yang kucari. Itu saja, kok." dia tersenyum lagi dengan lagak sinisnya.

Aku kehabisan kata-kata. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang dia pikirkan. Aku capek berdebat dengannya. Dia langsung mendekati wajahku lagi, dan rasanya ...

Pikiranku kosong ...

...

...

Keesokan harinya ...

N.B : Danma POV

Sinar matahari pagi hari membuatku terbangun. Aku merasa tubuhku berat, seperti ditimpa besi 10 ton saja. Aku langsung terbangun, dan menemukan kacamata di atas kepalaku. Warna gagangnya merah. Aku terbengong-bengong karena masih ngantuk. Aku langsung mengambil kacamata itu. Kacamata siapa, nih? Yang jelas, ini bukan kacamataku!

"... Ha-ah?" aku mengernyit. Aku langsung mengucek-ngucek mataku dan pandanganku menjadi lebih jelas. Aku menoleh ke sampingku, rupanya Marucho tidur di sampingku. Kakinya mengenai badanku. "Oh iya, Marucho kan tidur di sini." aku tersadar beberapa detik kemudian.

Aku memikirkan kejadian tadi malam. Saat Marucho menangis ketakutan. Karena apa aku tidak tahu. Setelah itu dia meminta untuk tidur di ruang tamu, dan aku harus menemaninya. Apa-apaan itu? Tapi, ya, sudahlah ... huft.

...

Aku mendengar suara langkah kaki seseorang. TAP ... TAP ...

Seseorang berdiri di depan ruang tamu sambil celingak-celinguk. "Heee? Dan-san?" panggil Alice heran. "Alice! Kau sudah bangun?" seruku. "Hoaaamh ..." Marucho langsung duduk dan menguap, karena dia baru saja terbangun.

"Ya ... dari jam 6, sih ... kalian sendiri kenapa tidur di sini? Di kamar hanya ada Shun saja ..." tanya Alice sambil menunjuk Marucho yang setengah tidur. "Errr ... tadi malam ... Marucho ketakutan. Dia enggak mau tidur di kamar." jawabku sedikit ragu. "Memangnya kenapa?" tanya Alice lagi. "ADA VAMPIREEEE!" jerit Marucho, suaranya melengking sekali, aku langsung menutup telinga saking melengkingnya. NGIIIING !

"... Vampire?" Alice tertegun heran. "Masih percaya sama cerita begituan! Kamu tuh, takut amat sih sama begituan! Suaramu juga, tuh, ah!" gerutuku jengkel. "Bukan begitu, Dan-san! Aku benar-benar melihat vampire! Shun-kun ... saat itu, matanya merah ... seram, kayak vampireeee! Hiiii!" bantah Marucho panik. "Haaah? Shun-kuun? Kamu berhalusinasi, kalii ..." ujar Alice makin heran. "Aku enggak salah lihat, kok! Aku yakin, aku-enggak-salah-lihat!" bantahnya lagi sambil mengeja kata demi kata.

"Jangan perdulikan dia. Dia kan takut sama hal begituan, paling ilusi doang!" bisikku iseng. Alice hanya bisa tertawa kecil. "DAN-SAN, AKU SERIUSSSSSSSS!" jerit Marucho kencang. "Oy, masih pagi, nggak usah ada jeritan pagi hari, dong!" balasku jengkel tepat di telinga Marucho. "Lagian, orang serius dianggap enteng!" Marucho mencibir saking jengkelnya. "Huuh, kamu anak kecil, sih, gitu aja kok takut?" aku langsung balas mencibir. Marucho langsung tersenyum penuh maksud.

"Dan-san jelek, enggak ngerti perasaan anak kecil ... la la la ... Dan-san bodoh ... enggak ngerti perasaan orang!" Marucho menyanyi dengan suara sengaja disumbangkan.

...

Heee? Ngajak berantem nih anak!

GEMPA BUMI NYASAR 2 SKALA RICHTER PUN DIMULAI

"HEH! AKU SIH ENGGAK KEBERATAN KALAU SOAL NGERTIIN PERASAAN ANAK KECIL! TAPI CERITAMU NGGAK MASUK AKAL, TAHU!" bentakku sejengkel-jengkelnya.

"AKU TAHUNYA TEMPE! PUAS!" balas Marucho nggak nyambung (?).

"ONCOM SEKALIAN!" (?).

"KETOPRAK!" (?).

"MARTABAK TELOR!" (?).

"GADO-GADO AJA! BANG, SAYA PESAN GADO-GADONYA SATU!" (?).

"OH OKE, GUE PESEN MI AYAM MIYABI!" (?).

"Udah, udah! Kalau ini namanya pertengkaran pagi hari ... haha!" Alice langsung melerai Dan & Marucho yang bertengkar nggak jelas.

BEBERAPA MENIT SETELAH GEMPA BUMI INSTAN REDA

"... Eh iya, Shun-kun masih tidur, ya?" tanya Marucho. "Iya, makanya aku langsung keluar cari kalian ..." jawab Alice pelan. "Wah, enggak kayak biasanya, nih. Biasanya dia selalu bangun pagi. Masuk aja, yuk?" tawarku. "Hah? Eng ... enggak, ah ..." tolak Alice. "Asalkan kita nggak berisik, kayaknya nggak akan bermasalah, deh ... aku ikut!" seru Marucho.

"Ya, sudahlah ... dasar Dan-san ... hahaha." Alice hanya bisa menurut.

...

Setelahnya ...

P.S : Shun POV

...

Apa ini ...

Apa yang terjadi padaku? Dimana ini?

Apa yang sedang kulakukan?

...

Kulihat di kiri, seperti biasanya, aku melihat sosok perempuan vampire. Kulihat di kanan, juga seperti biasanya, kulihat wajah teman-temanku yang menatapku dengan tatapan sedih, dengan kekecewaan dan kesedihan yang benar-benar menusuk hati ...

...

"Shun-kun! Ini bukan kamu! Kumohon, kembalilah seperti dulu lagi ... ini bukan Shun yang kukenal!".

...

Suara ini ... Danma?

Dan, apa maksud perkataanmu? Apa yang telah kulakukan?

Apa yang terjadi sebenarnya?

...

"Hentikan, Shun! Aku masih percaya padamu, kok! Seperti biasanya, perkataanku yang biasanya! Sampai kapanpun, kamu tetap ...".

...

Tidak ...

Aku tidak mau hal ini menjadi kenyataan ...

...

"DAAAN!".

...

Teriakan itu ... penuh kesedihan yang mendalam ...

...

"PERSAHABATAN ITU TIDAK MEMANDANG STATUS!".

...

Kebencian ...

...

"Buat kamu, Dan-san itu apa?".

...

Penuh tanda tanya ...

...

"Dan-san ... dia ... sahabat ... sejatimu ...".

...

Jawab aku, siapapun, jawab aku ... apa maksud dari semua ini?

...

...

"... S-sam-sampai ka-kapan ... pun ... k-ka-kamu ... tetap ...".

...

"Sa ...ha ... bat ... se ... ja-ti ... ku ...".

...

... Jangan rebut ... senyuman itu dengan kematian ...

Aku tidak mau dia mati !

...

...

SET ...

"DANMAAAAAAA ...!".

"Shun-kun, bangun!".

...

HAH !

Jeritan yang cukup menandingi jeritanku itu langsung membuatku terbelalak. Kulihat kiri kananku, kulihat saja banyak pohon cemara. Ah, tidak, aku hanya pusing ... Rasanya Dan dan yang lainnya terlihat seperti pohon cemara. Eh, aduh, pikiranku masih kacau, nih ...

Dan akhirnya aku tersadar 100 %.

Astaga, itu hanya mimpi?

...

...

Sequence of Tragedy, still not end.

To be continued ...