Rina: Ini adalah epilog yang (mungkin) ditunggu-tunggu~ karena udah da epilog na, saat na ganti genre nih! Aku baca disclaimer sendiri ja deh! Kan ini epilog~
Disclaimer: Rina tidak akan pernah memiliki Vocaloid.
Rina: Oh, ya, omong2 Rina buka polling di profil lagi, dan juga polling melalui review. Apa yang di polling? Gampang kok~
Apa ada yang menginginkan Our Way For Love : Dark?
Rina: Itu doang~ bahan cerita na sih berasal dari draft cerita ini yang paaaaaling asli. Kalau iya, ya bersyukur, kalau tidak, ya… ya, tidak apa-apa, hanya bersyukur ja deh~ XDDD Udah, deh, saat na Epilog~
Normal POV
Seorang gadis kecil, tidak lebih maupun kurang dari umur 10 tahun, berlarian di sebuah taman yang berwarna putih karena tertutup salju. Rambutnya memiliki warna blonde yang mendekati warna oranye. Yang membuatnya berbeda adalah matanya, matanya ada yang berwarna biru, dan ada yang berwarna keunguan.
Gadis itu berlarian diawasi oleh ibunya yang hanya tersenyum melihat tingkah laku putrinya. Sesekali jarinya bermain-main dengan pena dan kertas yang dia bawa. Dia memang seorang puitis dan sudah memiliki beberapa buku puisi yang diterbitkan ke khalayak banyak.
"Mama! Ayo sini, ma!" ujar gadis itu dengan bersemangat sambil mendekati ibunya dan berusaha menariknya. Dengan wajah yang terlihat keras kepala itu, tampak emosi yang sangatlah lucu.
"Iya, iya, Rinie," jawab ibu itu dengan tersenyum pada putrinya. Dia menggunakan sebuah palang untuk membantunya berdiri, karena kakinya tidak berfungsi dengan terlalu baik setelah insiden tertentu.
Dia meletakkan buku yang dia gunakan sebagai telasaran dan di cover buku itu tertera namanya yang ditulis dengan tulisan timbul. Tulisan timbul itu terbuat dari tinta yang berwarna keemasan, dan itu adalah bukunya yang paling awal. Disana tertulis nama "Kagamine Rin", namanya.
"Mama tidak apa-apa?" tanya gadis itu, yang merupakan putrinya yang pertama. Sebenarnya dia ada karena 'ketidaksengajaan', tapi jika dua pihak yang melakukan merasa sangat bahagia, apa bedanya dengan anak-anak pada umumnya?
Rin, begitulah dia akrab dipanggil, berjalan dengan pelan ke arah putrinya. Saat dia sampai, Rinie, putrinya, menggandengnya erat-erat, seakan takut bahwa ibunya akan jatuh tiba-tiba. Rinie sangat menyayangi orang tuanya, karena itulah dia takut bahwa sesuatu terjadi pada mereka.
Rin hanya tersenyum simpul sebagai jawaban. Rinie kemudian mengajaknya ikut bermain, sambil menanyakan suatu hal yang tidak asing di telinga Rin, "Papa mana?" tanya Rinie dengan nada yang sedikit bosan dan kepala tertunduk.
"Papa Len sedang bekerja menyelamatkan nyawa," ujar Rin dengan menggapai kedua tangan kecil putrinya, lalu digenggamnya erat-erat. Rinie terlihat kaget, tapi, Rin yang menyadarinya segera berkata, "Sehingga tidak ada lagi kejadian seperti sepupumu dulu," tambah Rin dengan senyum pahit.
Rin masih mengingat jelas apa yang terjadi pada saat itu, dan perasaannya yang panik akan kandungannya. Belum lagi harus menenangkan Len yang sepertinya akan membunuh keponakannya, SeeU, dengan tangannya sendiri saat dia tertangkap oleh polisi. Sekarang SeeU berada di suatu tahanan untuk orang-orang yang mentalnya agak… kau tahu.
"Tapi… Papa pasti pulang untuk Natal bukan?" ujar Rinie dengan mata yang berbinar-binar. Rinie memang dekat dengan Rin, tapi Rinie juga sangat dekat dengan ayahnya.
Rin mengangguk pasti, dia sudah mendapat telepon dari suaminya, Len, yang sedang ada di Luar Negeri sana, dalam rangka menghadiri seminar kesehatan. Len bilang dia pasti akan pulang sebelum Natal, dan melewati liburan Musim Dingin di rumah.
"Nah, ayo kita pulang!" ajak Rin pada Rinie yang sepertinya sibuk merencanakan sesuatu untuk membuat ayahnya terkejut saat pulang. Dia suka mengejutkan ayahnya.
Rin sendiri kalau boleh jujur, sudah merindukan Len semenjak hari pertama dia pergi. Sebegitu rindunya Rin pada Len, semua puisi yang sudah ia buat, hampir selalu ada coretan nama Len di dalamnya. Rin harus mencoretnya, karena menyebut nama itu tidak terlalu dianjurkan. Puisinya juga berubah menjadi puisi cinta yang sedih, puisi kerinduan yang mendalam, dan lain sebagainya tanpa ia sadari.
(Time Skip)
Rin kini duduk di samping tempat tidur putrinya, sambil membelai rambutnya yang halus. Rinie baru saja tertidur, setelah Rin membacakannya sebuah cerita tentang sebuah Boneka yang 'spesial' karena bisa menyanyi dan menari dengan bebas. Sudah bukan rahasia lagi kalau Rinie sangat suka dongeng.
Rin segera beranjak dari kamar Rinie, dan menutup pintu kamarnya pelan-pelan sepelan mungkin sehingga Rinie tidak akan terbangun. Meski Rin paling tahu bahwa jika sudah tidur, Rinie sudah mustahil dibangunkan kecuali jika sudah pagi.
Rin mengganti baju rumahannya menjadi sweater berwarna coklat krem yang dia rajut sendiri. Karena terlalu malas, atau hanya karena perasaan yang tiba-tiba datang, Rin tidak mengenakan pakaian di bawah sweater miliknya.
Rin pergi ke dalam dapur, dan membuat secangkir Hot Chocolate, tepat saat ia mendengar suara pintu yang dibuka dan ditutup kembali. Rin tidak bisa berhenti tersenyum sendiri, dan segera menyiapkan segelas Hot Chocolate lagi untuk tamu yang datang.
Saat Rin baru saja menyelesaikan pekerjaannya, sepasang tangan menutup matanya. Tangan itu diikuti dengan suara yang mendalam seorang laki-laki yang ada di belakang Rin. Dia berkata, "Siapa aku?" ujarnya dengan sedikit main-main.
Rin tersenyum saat dia menjawab, "Len," ujar Rin dengan singkat. Tidak, bukannya dia tidak memiliki keinginan untuk menjawab, tapi hanya itu sajalah yang bisa keluar dari mulutnya saat ini.
Tangan Len yang menutupi mata Rin, kini berpindah pada pipi Rin, dan yang satunya ada pada pinggangnya. Dengan pelan digerakkannya wajah Rin untuk menghadapinya, sementara dia menghapus jarak diantara mereka.
Rin melihat Len dengan mata yang sudah berair, seakan ingin menangis. Len yang menyadari tangisan Rin yang hampir tidak terbendung, segera mencium Rin. Tanpa Len sadari setitik air mata ikut mengalir dari pelupuk matanya, saat Rin menangis tanpa suara dalam ciuman Len.
Setelah mereka melepaskan bibir masing-masing, Rin segera memeluk Len dan memendamkan wajahnya pada dada bidang Len. Dengan segera dia berkata, "Len, aku merindukanmu," ujar Rin dengan membiarkan sisinya yang kekanakan mengambil alih.
Len mencium rambut Rin yang sudah memanjang hingga punggungnya, mencium bau jeruk yang sangat kental disana. Dengan suara yang mendalam, dia berkata, "Aku tidak bisa hidup jauh darimu… Rin," ujar Len dengan bersungguh-sungguh.
Di Luar Negeri sana, dia harus mati-matian berusaha untuk mendengarkan apa yang disampaikan pada orang-orang sepertinya. Di kepalanya selalu terbayang-bayang wajah Rin, dan darah… darah yang sangat banyak… saat insiden pada pernikahan mereka.
Butuh kekuatan yang sangat banyak bagi Len untuk tidak mematahkan kepala keponakannya yang sekarang mendekam di dalam tahanan orang-orang psycho. Padahal dia sendiri tidak kalah psycho-nya kalau sudah menyangkut istrinya tercinta, Rin. Hanya saja dia… lebih bersih, dan juga lebih banyak manipulasinya, dibanding SeeU yang langsung menerjang tanpa pikir panjang.
"Apa Rinie baik-baik saja? Apa dia sakit-sakitan?" tanya Len dengan nada yang terdengar khawatir. Orang kedua yang menjadi penyebab Len tidak bisa tidur adalah putrinya, Rinie. Karena Len merupakan seorang dokter, dia tahu bahwa kondisi tubuh Rinie memang tidak bisa dibilang bagus. Meski meminum cukup banyak suplemen penambah darah, Rinie selalu terkena anemia.
"Selama beberapa bulan ini, dia tidak pernah mengeluh lelah, dan dia mulai bisa melakukan olahraga dalam waktu yang lama. Aku tidak melihat dia berbohong," ujar Rin dengan sejujurnya. Dia sangat tahu apa yang dimaksud oleh Len, dan memakluminya meski dia sedikit cemburu.
"Baguslah…" ujar Len lirih. Tapi, dengan segera dia meletakkan jari jemarinya pada dagu Rin, dan menaikkannya dengan gerakan yang sedikit lebih kasar.
"Len?" tanya Rin dengan wajah yang memerah, memandangi mata Len yang sangat dalam.
"Bagaimana dengan kakimu?" tanya Len dengan wajah yang nyaris menyeramkan. Nyaris menyeramkan bagi Rin yang sudah hafal semua bahasa tubuh Len. Jika dia terlihat marah dan juga memasang wajah yang menyeramkan setiap orang, itu berarti dia sangat peduli pada apa yang dia ucapkan. Rin merasa senang dengan perhatian Len.
"Aku baik-baik saja… jangan khawatir Len," ujar Rin dengan memberi Len senyum terbaiknya. Sebenarnya kakinya terasa sangat lemas dan juga cukup sulit digerakkan lebih dari sekedar berjalan.
Len segera menindih Rin pada meja dapur dan memandang matanya dengan sengit. Dalam waktu sepersekian detik, Len berkata, "Kau berbohong bukan?" ujar Len dengan wajah yang sangat dark.
Rin jadi terdiam dan dengan segera melihat ke arah lain. Tapi, pandangannya kembali pada Len, yang menggerakkan dagunya, sehingga Rin tidak bisa berpaling. Dengan wajah yang terlihat sedih, dia memandang Len. Dan saat itulah dia membuka mulutnya sedikit, sebelum ditutupnya lagi.
Len dengan setia menunggu, dan membiarkan istrinya mengambil nafas sejenak, karena jika dia berbohong lagi, Len akan membuatnya tidak bisa tidur semalaman suntuk.
"Sakit… sebenarnya sakit sekali Len… aku tidak tahu… aku tak tahu apa mungkin aku bisa memiliki seorang anak lagi… aku bahkan tidak tahu apa aku bisa berjalan lagi dengan kakiku…" ujar Rin yang tampak sedih dan ketakutan.
Len menghela nafas lega, lega karena Rin jujur, tapi dengan segera dia memeluk Rin dengan erat, masih dengan posisi tubuhnya menindih Rin. Len berbisik pada telinga Rin, dan berkata, "Semuanya akan baik-baik saja Rin…" bisik Len dengan nada yang membuat Rin tenang.
"Kupastikan tak akan ada yang bisa melukaimu lagi meski hanya sehelai rambutmu," tambah Len dengan nada yang terdengar mengancam.
Rin tak bisa menahan keinginannya untuk tersenyum mendengar tambahan yang diucapkan Len. Rin memejamkan matanya, mengingat-ingat apa yang tergambar pada wajah Len 10 tahun yang lalu… pada insiden yang menimpa mereka.
Semua ini dimulai 10 tahun yang lalu…
(Flashback POV NORMAL)
"Ahahaha!" SeeU tertawa dengan tergelak saat dia terus menerus berlari tanpa arah. Sudah lama dia tidak merasakan angin yang sangat lembut menyentuh tubuhnya. Semua menjadi serba sulit sejak perempuan itu menjadi anggota keluarganya, bibinya.
"Mati saja kau Kamine Rin! Hahaha!" ujar SeeU saat dia sudah sampai di tempat yang dia tuju. Tidak lain dan tidak bukan adalah rumahnya sendiri. Rumah yang seharusnya dia tinggali hanya bersama dengan orang yang dia cintai.
"Jika dia mati… Len pasti akan berpaling padaku! Iya, pasti! Karena itu Kamine Rin tidak diperlukan di dunia ini!" ujar SeeU yang kini berada di dalam kamar Len. Diambilnya kaus yang ada di dalam lemarinya dan diciumnya dengan dalam. Tapi dalam sekejap wajahnya menjadi sangat dark.
"TIDAK! BENDA INI MEMILIKI BAU-NYA!" ujar SeeU dengan melempar pakaian yang ada di dalamnya. Dia mengambil kembali baju yang lain, dan membuang yang lainnya karena memiliki bau dari orang yang sangat ia benci.
(Di tempat lain)
"Rin! Rin kumohon bangunlah!" ujar Len yang menggenggam tangan Rin erat-erat. Wajah Rin pucat, meski dia masih bernafas. Darah terus mengalir dari luka yang terdapat di perut bagian kanannya dan membuat baju pengantin yang dia kenakan berwarna merah darah.
Lenka yang duduk di seberang Len hanya bisa menangis tersedu-sedu. Di sampingnya terdapat Rinto yang hanya bisa membelai rambut Lenka dan menunduk. Tak ada yang tahu… tak ada yang pernah tahu tentang penyebab semua ini…
Lenka terus menerus menangis, meski dia berniat untuk membayar semua dosa yang telah dia lakukan, kenapa putrinya harus menjadi penyebab rasa bersalah itu datang lagi. Saat dia pikirkan lagi, Lenka merasa bahwa dia tidak pernah merasa peduli pada putrinya yang selalu diam itu.
Len sendiri sudah berniat untuk membunuh siapapun itu yang berani melukai Rin. Dia tidak peduli jika itu adalah keluarganya sendiri. Tak ada yang boleh menyentuh Rin miliknya. Tak ada.
Len hanya memikirkan 1001 cara untuk membuat SeeU membayar apa yang dia lakukan pada Rin dan juga anaknya yang bahkan belum lahir. Tak ada satu perawat pun yang berani mendekati Len dan bahkan Lenka dan Rinto sendiri tidak sanggup menghadapi Len yang sangat marah. Len berhak marah. Lenka dan Rinto tahu itu sangat jelas. Mereka sendiri merasa sangat bersalah dan menyalahkan diri mereka sendiri karena tidak tahu tentang apa yang ada di kepala putri mereka sendiri.
Mereka sangat kalut, dan bahkan lupa untuk menelpon polisi. Karena salah satu kenalan Rin yang cukup dekat dengannya ikut mengawal, dia lah yang memanggilkan polisi untuk mereka. Dia tahu bahwa di saat-saat seperti ini, mereka tidak akan terpikir untuk menyentuh ponsel mereka.
Saat polisi datang, mereka hendak bertanya tentang apa yang terjadi pada Len, tapi mundur karena merasakan aura membunuh dari tubuhnya. Rinto yang sudah sedikit lebih tenang, menggantikan Len untuk bercerita, karena dia berada di dekat pintu pada saat itu. Cerita yang diberikan Rinto tidak dikurangi atau dilebih-lebihkan.
Polisi mencatat semua pernyataan Rinto dan memberi Rinto simpati mereka. Lalu, mereka mengatakan bahwa SeeU kini telah menjadi buronan polisi karena melakukan percobaan pembunuhan. Rinto dan Lenka tidak bisa berkomentar apa-apa. Memang mereka sedih bahwa SeeU, putri mereka sendiri menjadi buronan polisi, karena mereka menyayanginya. Tapi, di tempat itu terdapat Len, dan menyebutkan nama SeeU meski hanya sekali, sepertinya akan membuat amarahnya meledak.
Jadi, Lenka yang hanya bisa menangis, sementara Rinto menjawab, "Tolong temukan putri kami… Inspektur," ujar Rinto lirih, saat Polisi pamit untuk meninggalkan mereka.
(Back to Len)
Len masih tetap memikirkan 1001 cara untuk menghancurkan SeeU, tapi semua amarahnya sudah berubah seiring berjalannya waktu. Len kini lebih khawatir akan keadaan Rin. Dia tahu Rin itu kuat, tapi dia sangat khawatir, seakan kekhawatiran itu bisa membuatnya tercekik dan kehabisan nafas. Len tidak tahu apa yang bisa dia lakukan di dunia ini jika Rin menghilang dari hadapannya selamanya.
"Rin… kumohon… tetaplah hidup…" ujar Len yang menunggu dengan setia di depan pintu ruang operasi. Dia tidak memikirkan pakaiannya yang berlumuran darah Rin, dia tidak peduli tentang apapun kecuali Rin.
Setelah beberapa jam yang terasa seperti abad, seorang dokter keluar dari dalam ruang operasi, menyadarkan Len dari lamunannya yang tidak bisa diganggu gugat. Len yang menyadari, segera melihat wajah dari dokter itu, seakan mencari jawaban yang ingin dia dengar.
Dokter itu mengambil sebuah catatan, namun meletakkannya lagi, sebelum berkata, "Anda suaminya bukan? Kulihat kalian menikah hari ini," ujar dokter itu.
Len hanya membuang muka dan mengangguk.
"Apa ini karena ketidaksengajaan?" tanya dokter itu lagi dengan nada yang terisi dengan nada yang penuh keingintahuan. Mungkin dia hanya ingin mengetahui seberapa berartinya pasiennya di depan suaminya. Apakah mereka menikah karena kecelakaan, atau memang…
"Saya mencintainya dokter. Kami saling mencintai satu sama lain. Tak ada setitik pun alasan kami menikah karena dia membawa anakku. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan jika Rin… jika istriku meninggalkanku…" terang Len dengan gamblang sambil meletakkan kedua tangannya di wajahnya dan menunduk dalam-dalam.
Dokter itu mengangguk dengan lembut, lalu tersenyum, meski dia tahu bahwa Len tidak akan melihat karena dia sedang kalut. Dokter itu berkata, "Istri anda dan Anak anda selamat. Darah yang hilang memang banyak, tapi pisau itu tidak menyentuh organ-organ yang penting," ujar dokter itu dengan senyum di wajahnya.
Len segera berdiri dengan secepat kilat, di ujung matanya tampak air mata yang sudah tidak dapat terbendung. Len kemudian berkata, "Benarkah? Apa itu benar, dok?" tanya Len dengan mengguncang-guncang pundak dokter itu dengan cukup kuat. Sepertinya tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.
Dokter itu menyingkirkan tangan Len yang masih berlumuran darah, lalu berkata, "Nyawa mereka selamat. Tapi, kondisi tubuh mereka mungkin akan menjadi cukup buruk. Pisau itu memutus saraf yang bersambung dengan kedua kaki istri anda. Untuk sementara ini, kami tidak tahu bagian mana dari anak anda yang terkena dampaknya, tapi kemungkinan besar, anak anda tidak akan lahir sempurna," ujar dokter itu dengan nada yang dibuat setenang mungkin.
"A-apa Rin akan tidak bisa berjalan?" tanya Len dengan sangat panik.
"Masih… masih bisa, hanya saja sangat terbatas, dan tidak bisa berjalan dalam jarak yang terlalu jauh. Bisa jadi kemampuannya berjalan akan jadi lebih buruk tahun-tahun ke depan," ujar dokter itu dengan nada sedih.
Setelah dokter itu selesai, Len sudah diizinkan untuk menengok Rin, sementara dokter itu meninggalkan Len. Len segera menghampiri Rin yang pucat, dan bernafas putus putus dengan alat bantu pernafasan terpasang di wajahnya.
Len membelai rambut Rin yang masih seindah yang dia ingat. Len bersyukur bahwa Rin selamat. Dia bersyukur bahwa bayi mereka selamat. Meski akan ada banyak rintangan bagi mereka kedepannya, setidaknya… kini Rin ada di sisinya dan tersenyum.
(Skip)
SeeU masih membongkar lemari pakaian Len. Wajahnya terlihat sangat gila, saat dia terus menerus membuang pakaian dari dalam sana. Dia tidak puas dengan semua hal yang ada disana. Dia bahkan mulai berhalusinasi mencium bau Rin dari segala tempat.
"TIDAK! TIDAAAAAK! KENAPA TIDAK ADA? SEMUA INI MEMILIKI BAUNYA!" teriak SeeU yang terus menerus menelusuri kamar Len.
SeeU kemudian melarikan diri keluar, berlari mencari sesuatu yang bahkan dia sendiri tidak tahu. Dia hanya terus berlari dan berlari sejauh kakinya bisa membawanya. Saat dia melihat, dia sudah ada di atas sebuah jembatan gantung dengan sungai yang deras di bawahnya.
"Ah, benar… jika aku mati disini…" SeeU berbicara sendiri seakan menemukan sebuah ide. Tanpa pikir panjang, dia melewati pagar dari jembatan itu, dan terjun ke sungai dengan senyum di wajahnya yang sudah tidak normal.
Saat polisi menemukannya, SeeU sudah dalam keadaan sekarat sehingga dilarikan ke rumah sakit. Butuh beberapa hari bagi SeeU untuk sembuh, dan butuh beberapa hari, hingga Len dan Rin menemukan SeeU yang sementara itu menginap di rumah sakit yang sama dengan mereka.
Rin yang cewek, melihat kondisi SeeU yang sudah benar-benar rusak dan tidak bisa dikembalikan lagi, merasa iba dan juga benci. Dia membenci SeeU karena dia mencoba menyentuh bayinya dan Len, serta merebut Len darinya. Tapi, melihat SeeU yang hanya memandang kosong entah kemana, dengan kondisi mata yang sudah buta (Rin dan Len diberitahu perawat yang datang) dan juga mulut yang mengatakan sesuatu tanpa suara yang jelas.
Len dengan segera mencekik SeeU, dengan SeeU yang seakan tidak menyadari keberadaan Len disana. Mulutnya terus mengatakan sesuatu yang tidak dapat didengar, dan tubuhnya setengah menggantung di udara, karena Len mengangkatnya.
"Len, hentikan! Ini sudah cukup baginya!" ujar Rin dengan menggerakkan kursi rodanya dan menarik tangan Len dari leher SeeU.
"Aku takkan puas hingga melihatnya mati Rin! Dia sudah berani mencelakaimu dan bayi kita! Aku tidak bisa membiarkannya lari!" ujar Len yang dibutakan amarah. Meski dia masih bisa mengetahui keberadaan Rin disampingnya.
"Len… Len lepaskan anak itu… kumohon… demi aku…" ujar Rin dengan wajah yang hampir menangis. Len yang mendengar suara Rin menjadi serak segera berbalik. Rin sudah menangis meski tanpa suara. Dia merasa sedih… dan Len tidak suka dengan Rin yang sedih…
Dengan lembut, dipeluknya Rin yang segera memeluknya erat-erat sambil berbisik, "Jika itu keinginanmu Rin… akan kukabulkan sebodoh apapun itu. Meski menahan kebencianku pada orang yang paling kubenci… jika itu untukmu… akan kulakukan," ujar Len dengan menahan tubuh Rin erat-erat, seakan takut kehilangannya.
"Arigatou… Len…"
(Flashback End)
Pagi kini sudah tiba, sementara pasangan suami istri Kagamine beristirahat di kamar mereka. Bisa diduga bahwa penampilan mereka sudah sangat acak-acakan, dan Rin menyandarkan kepalanya pada dada bidang Len, dan Len yang memeluk Rin seakan menjaganya dari siapa yang tahu siapa.
Len lah yang pertama kali bangun dari tidurnya. Saat melihat seorang bidadari di pelukannya, dengan bernafsu, diciumnya setiap helai rambutnya, lalu diciumnya pipinya, membuat bidadarinya, Rin, terbangun dari tidurnya. Rin yang terbangun tidak terlalu tepat waktu, menghentikan serangan Len untuk sementara. Len dengan perhatian menunggu Rin yang setengah bangun, karena mereka berdua tidur lebih dari tengah malam dan sangat lelah.
Rin kemudian membuka mulutnya untuk berbicara, "Len… aku… aku melihat sebuah mimpi…" ujar Rin dengan menatap mata Len lurus.
Len mencium pipi Rin, lalu bertanya, "Mimpi apa itu sayangku?" tanya Len dengan penasaran.
Wajah Rin memerah sedikit, lalu dia berkata, "Janji jangan marah dulu?" ujar Rin dengan memamerkan jari kelingkinya, meski jari manis yang ada di sampingnya sudah terpasang sebuah cincin emas saat mereka menikah.
Len mengaitkan jari kelingking mereka, dan berkata, "Aku janji tidak akan marah," ujar Len.
Rin kemudian segera berkata, "Mimpiku… tentang SeeU-chan… suatu hari dia sembuh dan keluar dari penjara… lalu kita semua, keluarga kita, dan juga keluarga Kakak akan tertawa bersama-sama denganya seperti sebuah keluarga," ujar Rin dengan melihat ke arah lain. Sedikit takut bahwa Len akan marah kepadanya.
Len tersenyum. Dia sudah bisa mengontrol sedikit dari amarahnya yang meletup-letup, saat ia mendengar nama itu disebutkan. Namun, mendengar mimpi yang dilihat Rin, Len hanya bisa memeluk Rin, dan berkata, "Jika itu benar-benar terjadi… betapa menyenangkannya…"
"Rinie tunggu aku dulu! Kau berlari terlalu cepat!"
"SeeU kalau aku menurutimu, bisa-bisa kita terlambat pada acara wisuda kita!"
Rina: Nah, gimana? Suka tidak ending na? Omong-omong… karena Rina sudah berbaik hati bertanya. Jangan lupa untuk memberi pendapat tentang versi lain cerita ini! Kalau pada minat, Rina bakalan mengganti judul dari fanfic ini! Jangan lupa untuk REVIEW~
P.S.: Sayang disini tidak ada lemon na…
