Disclaimer: all Harry Potter story and characters are belongs to JK. Rowling.


Draco Malfoy keluar dari ruang rekreasi Slytherin menuju lapangan Quidditch. Tidak. Dia kesana bukan untuk berlatih Quidditch. Ia sudah keluar dari tim Slytherin tahun lalu dan membiarkan adanya regenerasi. Pangeran Slytherin itu kesana untuk terbang bersama sapunya. Ia ingin membebaskan dirinya dari masalah yang ada dikeluarganya. Terbang. Satu cara yang ampuh untuknya.

Ia bisa bebas terbang bersama sapu kesayangannya tanpa takut akan ada yang menangkap keanehan karena hari ini lapangan Quidditch akan ramai dengan sesi latihan dari tim Slytherin dan Gryffindor. Draco bisa menyusup diantara mereka dan berpura-pura menjadi salah satu dari anggota tim.

Dan ia memulainya. Ia terbang di ketinggian rendah awalnya. Namun sedikt demi sedikit mulai membawa sapunya terbang lebih tinggi lagi. Melesat lebih cepat melawan arah datangnya angin yang cukup kencang berhembus.

"Oh lihatlah si bodoh itu!" Ujar Ginny pada Hermione yang duduk disampingnya, di bangku penonton. Ginny sedang bersiap untuk berlatih bersama kakak dan pacarnya dibawah. Sementara Hermione, hanya mengawasi jalannya latihan. Menjalankan tugasnya sebagai Ketua Murid.

Hermione mengikuti pandangan sahabatnya itu ke langit. Melihat Draco Malfoy sedang terbang kesana kemari dengan sapunya. Ia lalu menoleh kearah Ginny.

"Jangan menyebutnya bodoh." Kata Hermione yang diikuti kernyitan dahi Ginny, "Bukannya kalian sudah bermaafan? Draco, Harry, Ron, dan kau sendiri. Iya kan?"

Ginny mengangguk-angguk, "Memang sudah. Tapi tetap saja…" gadis itu tidak menyelesaikan kalimatnya. Harry, Ron, dan Ginny bertemu dengan Draco disidang terhadap orangtua Draco. Harry datang untuk menjadi saksi. Mereka memutuskan untuk bermaafan dan memulai segalanya dari awal. Namun tetap saja, hawa kebencian itu tetap ada.

Lalu tiba-tiba,

"BRAK!"

Semua mata, baik dari penonton ataupun pemain yang sedang bersiap, mencari arah datangnya suara bedebam itu. Lavender Brown lah yang pertama menemukannya. Sambil berdiri di bangku penonton, ia menunjuk ke bagian belakang kursi paling ujung.

"Lihat!"

Sebagian dari mereka menghampiri kearah yang ditunjuk Lavender dan memekik kaget. Hermione membelah kerumunan mencari tahu yang terjadi. Ia membelalak melihatnya.

Draco Malfoy tergeletak diantara kayu-kayu penyangga bangku penonton dengan luka di kepala yang bercucuran. Tangannya terkulai lemas. Saat tak ada seorangpun yang berani menghampirinya, Hermione segera mengambil tempat disebelah Draco. Memeriksa keadaan cowok itu dan mulai berteriak meminta bantuan.

"TOLONG PANGGILKAN MADAM POMFREY! CEPAT!"


Draco menggeliat dan mengerjap-kerjapkan matanya memaksanya membuka. Ia tersentak kaget saat melihat Hermione Granger sedang hanyut dalam buku yang ia baca dikursi di samping tempat tidurnya.

Tunggu!

Tempat tidur?

Ia mengamati sekeliling ruangan itu dan cukup kaget saat menyadari bahwa ia sedang berada di Rumah Sakit.

"Oh, kau sudah bangun, Draco." Hermione tersenyum kearahnya. Entah mengapa senyuman gadis itu membuat Draco sedikit tenang.

"Kenapa aku berada di.." Draco mencoba meyakinkan dirinya sendiri, "..Rumah Sakit?"

Hermione menutup bukunya dan meletakkannya di pangkuannya, "Kau tak ingat? Well, kau jatuh dari sapu terbang dan kepalamu membentur kayu. Untunglah kau tak apa-apa.."

Sang pangeran Slytherin benar-benar tidak percaya dengan apa yang didengarnya dari si Ketua Murid.

Ia.

Draco Malfoy.

Jatuh dari sapu?

Tipuan macam apa ini?

"..Madam Pomfrey bilang kau harus beristirahat selama 2 hari."

Sekali lagi Draco tercengang mendengar Hermione, "Apa kau tak salah bicara?"

Kata-kata Draco jelas menyinggung Hermione. Karena sedari tadi dialah yang menerima penjelasan Madam Pomfrey tentang apa yang harus Draco lakukan agar cepat sembuh.

"Terserah jika kau tidak percaya padaku." Hermione merasa sedikit kesal lalu beranjak dari kursinya, berniat pergi dari sana.

"Hei, Hermione!" Draco menutup mulutnya setelah meneriakkan kata-kata itu. Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya.

Hermione?

Sejak kapan Draco memanggil gadis itu dengan nama depannya?

Tapi hal itu membuat Hermione berbalik dan menatap Draco, "Ya?" sepertinya gadis itu tidak menyadari satu hal pun yang aneh.

Draco menghela napas mengetahui bahwa Hermione ternyata tidak menyadari kesalahan panggilnya, "Tidak apa-apa. Aku hanya ingin berterima kasih padamu."

Ucapan terima kasih Draco membuat Hermione melunak lalu tersenyum, "Ohya, aku punya sesuatu untukmu?"

"Hah? Untukku?"

Draco mengamati saat gadis itu mengambil sesuatu dari laci di meja disamping tempat tidurnya. Sebuah buku cukup tebal bercover hitam. Hermione menyerahkannya pada Draco.

" 'Mengalahkan masalah keuangan dan mengaturnya dari awal lagi.' " Draco membaca judul buku itu, "Apa maksudnya?"

"Yaa….waktu diperpustakaan beberapa hari yang lalu aku tidak sengaja melihat judul buku yang kau baca. Dan aku rasa aneh sekali kau membaca buku sejenis itu jika tidak benar-benar membutuhkannya…" Hermione menghentikan analisanya saat melihat raut wajah Draco berubah. Rahangnya mengeras. Seolah menahan kemarahan untuk keluar.

"…jadi aku meminjamkan buku itu untukmu karena aku pikir buku yang kau baca waktu itu kurang er.. bagus."

Draco menaruh buku itu di atas meja lalu berujar dengan sedikit ketus, "Terima kasih. Kau boleh meninggalkanku sekarang."

Hermione mengangguk dan berjalan pergi menuju asrama Ketua Murid.


Tiap malam Hermione harus rela berpatroli sendirian selagi Professor McGonagall belum menunjuk salah satu murid cowok untuk menjadi Ketua Murid. Ia juga harus menempati asrama khusus Ketua Murid sendirian. Sampai-sampai seringkali ia mengungsi ke asrama Gryffindor saking tidak betahnya.

Ia sedang duduk di tepi jendela bundar super besar yang ada di ruang rekreasi asrama Ketua Murid. Jendela itu menghadirkan pemandangan yang luar biasa indah. Ia menoleh cepat saat mendengar suara lukisan terbuka. Lalu sekelompok koper berhenti dilantai ruang rekreasi didekatnya. Hermione segera menghampiri dan mengecek label nama di koper itu.

"DL." Hermione membaca tulisan itu lalu mengamati koper itu dan menemukan lambang huruf "M" besar ditengah penutup koper.

"Oh, tidak!" Hermione menepuk dahinya sendiri, "Semoga dugaanku salah."

Lalu lukisan itu menjeblak terbuka. Seorang cowok tinggi dengan kulit putih pucat dan rambut pirang platina memanjat memasuki asrama Ketua Murid. Menatap Hermione yang membelalak lebar.

"Ada apa kau melihatku seperti itu?" tanya Draco tenang sambil mulai menyeret koper-kopernya kekamar barunya.

"Tunggu!" Hermione berhasil menahan Draco yang langsung terhenti di ujung tangga, "Kau Ketua Murid yang baru?"

Draco mengernyit, "Tentu saja, Granger. Kalau bukan , bagaimana bisa aku ada disini?"

"Ya. Benar juga kata Draco." Batin Hermione.

.

"Oke. Jadi semua jadwal patroli sudah tertulis di perkamen yang baru saja aku bagikan pada kalian semua." Hermione menatap sekeliling kearah delapan prefek dari masing-masing asrama di depannya dan juga melirik ke arah Draco disampingnya. Mereka sedang berkumpul di asrama Ketua Murid, "Lalu setiap hari Sabtu dan Minggu, aku dan Draco yang akan bertugas. Tugas patroli mulai pukul 10 malam. Susuri semua lokasi dan pastikan tidak ada murid yang melanggar jam malam. Mengerti?"

Hermione menghentikan penjelasannya dan menerima anggukan dari semua anggota rapat tanda mengerti.

"Bagus. Dan sekarang mulailah bertugas. Selamat malam."

Ucapan selamat malam berhamburan dari kedelapan murid kelas 6 itu sambil memanjat keluar lukisan.

"Wooow!" Hermione menoleh kepada Draco yang sedang menunjukkan wajah kagumnya yang tak biasa.

"Kenapa?"

"Kau bisa memberi mereka perintah dengan sangat baik. Tanpa harus membentak sedikitpun." Draco menggeleng-geleng tak percaya.

"Buat apa membentak? Kalau berkata baik-baik justru jauh lebih didengar." Jawab Hermione. Ia lalu berjalan menuju pantry. Mengambil segelas susu coklat. Ia duduk di tepi jendela bundar diruang rekreasi. Spot kesukaannya.

"Aku selalu harus membentak Pansy atau Blaise agar mereka menurutiku. Begitu juga pada Crabbe dan Goyle."

Hermione memutar badannya melihat Draco yang kini duduk disofa tak jauh darinya, "Itu beda, Draco. Er…" ia tak yakin akan meneruskan kalimatnya, "…mereka ada kecenderungan er.. meremehkanmu." Gadis itu menghentikan omongannya dan melihat reaksi Draco.

"Lanjutkan." Kata Draco sama sekali tidak keberatan. Sejujurnya ia suka dengan cara bagaimana gadis itu menjelaskan sesuatu tanpa niat menggurui.

Hermione melanjutkan apa yang ia katakan, "Sehingga mereka harus mendengar bentakanmu terlebih dulu sebelum mau menurutimu. Karena mereka….tidak yakin." Lalu gadis itu menambahkan cepat, "Well, itu menurut pendapatku saja sebenarnya."


perasaanku saja atau ini adalah chapter yang boring? well, akan ada kejutan dichapter berikutnya. stay tune and keep the review please :))

merci :)