Disclaimer: all harry potter story and characters are belongs to JK Rowling.


"Kau tidak tidur?" tanya Draco sambil melirik jam, "Sudah jam 10."

Sudah hampir dua jam mereka duduk di ruang rekreasi tanpa saling bicara setelah Hermione membahas pertanyaan Draco tentang "membentak". Mereka tidak mempunyai bahan obrolan.

"Kau tidur saja duluan jika sudah mengantuk." Jawab Hermione mempersilahkan rekan Ketua Murid barunya itu, "Aku masih ingin disini dulu."

Draco mengangguk lalu beranjak menuju kamarnya. Sementara Hermione mengamati cowok itu sampai benar-benar yakin sang pangeran Slytherin telah menghilang dari pandangannya. Ia bergegas mengambil mantelnya yang tergeletak ditangan sofa yang tadi diduduki oleh Draco, membawa tongkat sihirnya dan keluar memanjat lukisan dengan langkah perlahan.

Semenjak tadi Hermione memikirkan tentang patroli malam ini, ia masih belum yakin para prefek baru itu akan menjalankan tugas patroli malam mereka yang pertama dengan baik. Maka dari itu ia memilih ikut berpatroli malam itu.

"Lumos." Serunya pelan. Tongkat sihirnya menyala seolah berkata bahwa ia siap menerangi apapun dan siapapun untuk Hermione.

Ia menyusur setiap sudut yang mungkin tidak terjamah oleh para prefek itu. Ia mengetahui hampir semua jalan keluar masuk Hogwarts berkat para "perompak" dan pengalamannya selama 7 tahun berteman dengan Harry dan Ron. Ia menatap keluar dari jendela besar disekitar salah satu koridor kosong yang gelap saat merasa seseorang memanggilnya. Gadis itu menoleh mencari-cari.

"Luna!" ia menemukan Luna Lovegood sedang berjalan berjingkat-jingkat -seperti biasanya- kearahnya, "Ini sudah masuk jam malam. Kau tahu kan? Aku bisa mengambil angka dari Ravenclaw gara-gara ini."

"Oh." Luna mengikuti Hermione berbicara dengan lirih dengan matanya yang selalu membelalak, "Aku baru saja dari asrama Gryffindor. Dean Thomas punya barang baru dari dunia muggle."

Hermione mengangguk-angguk pelan. Sudah berapa hari ia tidak mengikuti keseruan didalam asrama Gryffindor? Seingatnya ia baru saja menginap disana untuk beberapa hari karena bosan diasrama Ketua Murid sendirian.

"Baiklah kalau begitu. Aku kembali ke asramaku. Bye, Hermione." Luna melambai pada Hermione sambil berjalan menjauh. Lalu tiba-tiba ia berhenti dan berbalik menghadap sang Ketua Murid lagi, "Tapi ngomong-ngomong, Hermione. Sepertinya ada yang masih melanggar jam malam selain aku. Dari tadi ia ada dibelakangmu." Luna menunjuk seseorang dibelakang Hermione, lalu kembali berjalan meninggalkannya.

Sang ketua Murid menoleh mengikuti arah telunjuk Luna dan membelalakkan matanya sehingga menjadi persis seperti Luna, "Draco?"

Draco Malfoy ada dibelakangnya dengan tongkat sihir ditangan kirinya sebagai pemberi cahaya. Ia menaikkan alis kepada Hermione.

"Sedang apa kau? Bukannya kau tadi pergi tidur?"

Cowok itu menggeleng, "Aku mendengarmu keluar dari lukisan dan aku mengikutimu."

Hermione mengernyit, "Buat apa kau mengikutiku?"

"Memangnya tidak boleh?" Draco lalu berjalan melewati Hermione yang terdiam dan hanya menatap cowok itu heran. Sesaat kemudian ia mengikutinya. Draco berjalan kesalah satu sudut dan duduk di kursi yang ada disana. Hermione kembali menatapnya heran.

"Jadi kau mengikutiku hanya untuk…duduk?"

Draco tertawa pelan, "Buat apa aku jauh-jauh mengikutimu hanya untuk DUDUK? Aku lelah dari tadi ada dibelakangmu, kau jalan jauh sekali."

"Memang harus begitu, Draco." Hermione mengambil tempat disebelah Draco dikursi panjang itu, "Kita harus menyusuri semua sudut saat patroli. Bukankah kau pernah menjadi prefek saat kelas 5? Patroli macam apa yang kau lakukan?"

Draco mengangkat bahu, "Pansy lebih sering mengajakku duduk-duduk daripada berpatroli."

"Oh, pantas saja."

Lalu lama keheningan menyusup diantara mereka. Draco memainkan tongkatnya dengan memutar-mutarnya ditangan.

"Aku mau kembali ke asrama saja. Kau bagaimana?" Hermione berdiri menghadap Draco yang masih duduk dengan santai.

"Tentu saja aku ikut."

Hermione memandang cowok itu dengan tatapan sebal.

"Apa?"

Gadis itu menggeleng lalu berbicara pelan sambil berjalan, "Kau sama sekali tidak mempunyai inisiatif."

"Apa kau bilang tadi?" Draco menghadang didepan Hermione. Gadis itu hanya menggeleng.


Ginny Weasley sudah akan berjalan keluar dari asrama Gryffindor saat Lavender Brown menarik lengannya.

"Kau ke Aula Besar kan?" tanya Lavender sambil tersenyum merekah. Ginny tersenyum lalu mengangguk.

"Kau juga, Lav?"

Lavender mengangguk lalu mereka berjalan bersama menuju Aula Besar untuk sarapan.

"Ngomong-ngomong, dimana Harry?"

Ginny menoleh menatap Lavender yang masih berpegangan pada lengan kirinya seolah tak mau hilang ditengah jalan.

"Dia sudah lebih dulu kesana untuk sarapan. Dengan Ron." Jawab Ginny yang langsung ditanggapi senyuman lebar lagi oleh gadis disampingnya. Ginny tahu Lavender masih menyimpan perasaan pada kakaknya itu.

"Dekati dia, Lav." Kata Ginny sambil tersenyum menggoda. Muka Lavender memerah.

"Bagaimana kau tahu?"

Ginny tergelak, "Jelas saja aku tahu. Sejak ia memutuskanmu waktu itu kau tidak benar-benar marah. Malah menurut penglihatanku, kau semakin penasaran dengan kakakku. Ya kan? Oh Lav, Apa sih yang kau lihat dari Ron?"

"Oh Ginny.. dia itu lucu. Kakakmu itu." Jawab Lavender dengan mata menerawang.

"Ya ya ya." Jelas sekali Ginny tidak setuju dengan kata-kata Lavender, "Lalu?"

"Lalu…" Lavender masih dengan mata yang tidak fokus, "Ah! Kau tahu sendiri, Ginny."

Ginny menggeleng-geleng keras sambil tertawa, "Aku tak tahu, Lav. Apalagi aku belum pernah mencium Ron." Tawa Ginny makin keras. Muka Lavender benar-benar merah padam sekarang. Lalu ia melihat dari kejauhan Hermione turun dari lukisan asrama Ketua Murid.

"Hei, Hermione!"

Gadis yang dipanggil itu menoleh dan tersenyum pada keduanya. Lavender melambai-lambaikan tangan padanya. Hermione segera menghampiri mereka dan menuju Aula Besar bersama.

"Kudengar sudah ada Ketua Murid yang baru ya, Hermione?" tanya Lavender. Ginny menoleh kearah Hermione meminta jawaban.

Hermione mengangguk, "Kalian akan kaget jika tahu siapa orangnya."


Malam harinya, Hermione sedang berkutat dengan bukunya saat seorang cowok menghampirinya dan duduk dikursi didekatnya. Hermione tahu pasti siapa cowok itu.

"Bruk." Sebuah buku bercover hitam dijatuhkan kemeja ditengah-tengah perpustakaan itu.

"Jangan berisik, Draco!" Kata Hermione tenang tanpa mengalihkan pendangannnya sedikitpun dari buku yang ia baca.

Draco menoleh kearah gadis disebelahnya dengan pandangan hey-memangnya-kau-siapa kemudian mulai membaca buku yang dipinjamkan Hermione.

Hening cukup lama saat mereka sibuk dengan bacaan mereka masing-masing. Sesaat kemudian terdengar suara buku tertutup. Hermione sudah selesai dengan bukunya. Ia mengamati Draco dengan bertanya-tanya. Akhirnya ia tak tahan lagi.

"Kenapa kau serius sekali membaca buku semacam itu?"

Pertanyaan Hermione membuat Draco menghentikan kegiatannya dan menatap Hermione tajam.

"Kau tak perlu tahu kenapa." Jawab Draco ketus sehingga membuat Hermione yang tadinya memajukan tubuhnya ingin tahu menjadi agak menjauh.

"Aku…hanya ingin tahu. Mungkin saja aku bisa membantu. Aku pernah membaca beberapa buku seperti itu saat keuangan keluargaku sedang bermasalah. Dan lumayan manjur juga. Setelah aku mengikuti kata-kata dibuku-buku tersebut, masalah itu mereda…"

"CUKUP, GRANGER!"

Hermione makin menjauhkan tubuhnya dari Draco. Ia melirik kearah meja Madam Pince dan bersyukur dalam hatinya karena sang penjaga perpustakaan sedang tidak ada ditempatnya. Ia menatap Draco.

"Ada apa, Dra…"

"CUKUP! Jangan bertanya apapun lagi, Granger!"

Hermione sama sekali tidak mengerti mengapa Draco bersikap seperti itu. Ia kelihatan begitu marah. Memangnya apa yang telah ia perbuat? Sehingga membuat sikap baik Draco selama ini seolah luntur begitu saja.

Cowok itu berdiri dengan wajah menegang dan mendekatkan wajahnya kearah Hermione yang sedang duduk.

"JANGAN-BERKOMENTAR-APAPUN-LAGI-TENTANG-BUKU-ITU!" Draco mengucapkan kalimat itu dengan emosi naik turun. Ia membanting buku itu ke meja dan pergi meninggalkan Hermione yang tak bisa berkata apa-apa. Kentara sekali gadis itu tersinggung. Atau lebih tepatnya terluka..


Draco tidak bisa tidur semalaman karena kejadian diperpustakaan. Hermione juga tidak kembali ke asrama Ketua Murid. Mungkin rekannya itu menginap di kamarnya di asrama Gryffindor. Ia memikirkan segala sesuatu. Ia bisa membuat Hermione –yang mungkin telah menceritakan kejadian itu pada seluruh penghuni Gryffindor- kesal dan tidak lagi bersimpati padanya setelah sikap baiknya selama ini. Ia juga bisa membuat nama Malfoy kembali rusak HANYA gara-gara kejadian semalam.

Ia akhirnya memilih untuk bersiap dan menuju Aula Besar untuk sarapan dengan harapan akan bertemu si Ketua Murid perempuan itu dimejanya di Gryffindor.

Draco hampir saja menendang pintu Aula Besar kalau ia tidak menahan dirinya. Ia membuka pintu itu dan melirik kearah meja Gryffindor. Menghela napas lega karena gadis itu ada disana. Duduk diantara Ginny dan Lavender. Draco berjalan menuju meja Slytherin dan menjatuhkan dirinya disebelah Blaise Zabini. Sebentar kemudian ia mendengar suara dari meja Gryffindor.

"Kau kenapa sih, Hermione?" suara itu milik Ginny Weasley.

Seolah ada sebalok kayu jatuh menimpanya, sekujur tubuh Draco menegang.

"Dari semalam, kau nyaris tidak berkata apa-apa." Lanjut Ginny diujung sana. Draco tidak bisa mendengar jawaban Hermione. Ia juga tidak mungkin menoleh kearah mereka.

"Hei, kau tidak kekelas mantra, Draco?" tanya Blaise mengagetkannya.

"Oh, kau saja duluan. Nanti aku menyusul." Blaise mengangguk lalu meninggalkan Draco menuju kelas professor Flitwick bersama yang lain.

Dari ujung sana Draco lamat-lamat mendengar ajakan yang sama seperti yang diutarakan Blaise padanya, sedang diucapkan Ginny pada Hermione.

"Kalian duluan saja, nanti aku menyusul." Hermione menjawab dengan hal yang sama seperti yang dikatakan Draco. Terdengar kata-kata "sampai ketemu" dari beberapa orang diujung sana kepada Hermione.

Sang pangeran Slytherin menunggu hingga Aula Besar sudah cukup sepi untuk menghampiri gadis itu. Ia berjalan perlahan menuju tempat Hermione duduk membelakanginya. Hanya tinggal beberapa orang lagi diruangan itu. Jam sudah menunjukkan hampir pukul 9.

Ia sampai disebelah Hermione dan duduk disana. Hermione tidak menoleh namun ia tahu pasti siapa orang itu.

"Aku minta maaf, Granger." Ujar Draco lirih, "Aku tidak bermaksud membentakmu. Sama sekali tidak bermaksud. Bahkan aku seharusnya tidak mengatakan itu. Aku sungguh-sungguh menyesal."

Gadis itu sontak menoleh. Mencoba mencari ketulusan di mata Draco. Mata kelabu itu menatapnya balik. Terlihat sangat menyesal.

"Aku sudah memaafkanmu bahkan sebelum kau mengatakannya." Jawab Hermione membuat Draco semakin menyesal membentak gadis itu, "Sudahlah. Lupakan saja."

"Baiklah." Kata Draco setuju lalu berdiri, "Ke kelas bersama ku?" ia menjulurkan tangannya pada Hermione yang tersenyum malu-malu.

Gadis itu mengangguk dan menyambut uluran tangan sang Slytherin. Mereka bergandengan tangan selama perjalanan ke kelas mantra.


chapter yang agak lambat kalo menurutku.

gimana menurut kalian?

click the review button and share what do you think :)

merci :)