Disclaimer: all Harry Potter story and characters are belongs to JK. Rowling.
Warning: OOC, lebayness, sinetroness, anehness, gajelasness, ganyambungness, dll.
Hermione menyebutkan kata kunci asrama Gryffindor setelah sampai di depan lukisan nyonya gemuk. Ia memandang Luna disampingnya yang sedari tadi membantunya berjalan. Gadis itu menatapnya balik dengan mata membelalak lebar. Seperti biasanya.
"Kau masuk saja. Jangan lupa ganti bajumu, Hermione. Basah sekali. Kau bisa masuk angin."
Si Ketua Murid tersenyum, "Terima kasih, Luna. Kalau begitu kau bisa kembali ke kelasmu."
Luna mengangguk lalu melambai pada Hermione yang mulai memanjat masuk kedalam lukisan. Hermione langsung menuju kamar perempuan dan tidur di kasur milik Ginny. Ia tidak mengganti bajunya seperti yang diperintahkan Luna. Terlalu banyak yang mengganggu pikirannnya saat ini daripada sekedar mengganti pakaiannya. Pikirannya melayang. Ia masih ingat benar apa yang dikatakan Ginny tadi pagi.
"Sudah jelas bukan. Kami tidak suka Malfoy menjadi ketua murid. Apalagi harus berbagi asrama denganmu, Hermione. Kalau perlu, Gryffindor dan Slytherin berperang karena itu."
Perang.
Kenapa kata itu muncul lagi?
Mata Hermione berputar memikirkan hal itu. Kenapa saat murid-murid Slytherin telah berusaha merubah kelakuan mereka dan melupakan perbedaan, justru Gryffindor dibayangi keinginan memecah belah lagi.
Apa gara-gara dirinya?
ARGH! Dia tak bisa berpikir jernih saat ini. sama sekali tidak bisa. Kini hatinya sedang berperang dengan otaknya. Berusaha menyisihkan yang diinginkan otaknya dan menggantinya dengan yang dimaui hatinya. Tapi yang ia dapati adalah hal yang tidak logis. Hermione lemas. Tubuhnya bergetar hebat diatas tempat tidur, dadanya naik turun tak karuan. Seolah semua beban yang menumpuk meminta untuk dikeluarkan. Tapi seseorang tidak bisa menanggung perasaan yang serumit ini. Ia akhirnya mencoba tidur.
.
"Hermione!" Ginny mengecek keberadaan sahabatnya di asrama Gryffindor setelah Luna memberitahunya tentang kejadian tadi siang, saat mereka makan di Aula Besar. Ginny menatap Draco Malfoy sekilas. Ia tahu cowok itu pasti mendengar semua yang Luna bicarakan. Apalagi dengan reaksi Ginny dan beberapa murid Gryffindor lainnya yang cukup membuat mereka menjadi pusat perhatian untuk beberapa saat tadi.
Ginny cukup was-was saat ia tidak menemukan Hermione di ruang rekreasi. Ia menendang pintu kamar perempuan dan mendapati si Ketua Murid terbaring tak berdaya di kasurnya dengan tubuh dingin menggigil. Wajah Hermione luar biasa pucat.
"Astaga, Hermione!" Gadis itu lalu berlari secepat yang ia bisa menuju Aula Besar dan memanggil beberapa murid laki-laki untuk menggotong Hermione menuju rumah sakit. Dan sekali lagi ia melirik ke arah meja Slytherin dan menangkap raut wajah Draco pucat pasi.
"Ada apa sebenarnya diantara kalian? Apa sudah sejauh itu?"
Gadis itu yakin ada yang tidak beres saat Luna menjelaskan bahwa Hermione mengaku sudah tak sadarkan diri dan tak bisa mengingat apa-apa sejak pagi. Dan itu berarti, sejak ia memberitahu gadis itu bahwa Harry, Ron, dan Draco baru saja berkelahi. Ia yakin ini bukan sebuah kebetulan belaka.
.
Madam Pomfrey menatap kelima murid didepannya satu persatu dengan wajah yang tidak bisa didefinisikan artinya. Lalu menggeleng-geleng pelan.
"Mengapa keadaan Miss Granger bisa sampai separah ini?" Madam Pomfrey bisa melihat perubahan ekspresi air muka mereka menjadi sedikit ngeri. Terutama Ginny, Lavender, dan Luna.
"Sse-parah apa?" tanya Ginny bergetar.
Madam Pomfrey mendesah, "Suhu tubuh Miss Granger sangat tinggi dan terus menggigil kedinginan. Dia sepertinya mengalami stress. Ada yang tahu kenapa?"
Mereka berlima saling melihat satu sama lain dengan pandangan tidak mengerti.
"Stres?" Harry mengulang pernyataan Madam Pomfrey masih dengan nada heran dan tidak paham.
Madam Pomfrey mengangguk, "Stres bisa dialami semua orang. Dari stress yang ringan sampai berat. Dan… agak sulit untuk mengatakan bahwa stress yang mungkin dialami Miss Granger hampir mencapai stress berat jika dilihat dari keadaannya."
Napas-napas mereka tertahan mendengar kalimat Madam Pomfrey. Ginny jelas tidak bisa mengatakan apapun yang ada dipikirannya.
"Bisa jadi ini hanya sekedar masuk angin saja karena tertidur diudara dingin dengan baju yang basah. Namun saya tetap memvonis bahwa Miss Granger sedang mengalami stress. Ia tidak bisa dibilang beristirahat." semua mata mengikuti saat Madam Pomfrey menunjukkan pada mereka ekspresi Hermione dalam tidurnya. Ia memang terlihat tegang. Jelas sekali bukan ekspresi seseorang yang sedang tidur atau beristirahat dengan tenang.
"Kalian boleh pergi sekarang. Biar saya yang merawat Miss Granger. Kalian masih ada kelas bukan?" mereka mengangguk bersamaan lalu beranjak tanpa mengucapkan sepatah katapun saking shocknya. Ginny menghampiri Madam Pomfrey sesaat setelah yang lain menghilang dari rumah sakit.
"Madam Pomfrey.."
Madam Pomfrey menoleh, "Ya, Miss Weasley?"
"Apa.." Ginny mencoba mengajukan pertanyaan dengan perlahan, "..yang bisa menyebabkan seseorang stress berat?"
Madam Pomfrey mengernyit, "Banyak sekali penyebabnya. Bisa apa saja. Apa kau tahu mengapa Miss Granger menjadi seperti itu, Miss Weasley?"
Ginny tak langsung menjawab. Ia hanya terdiam sebelum akhirnya mengangguk pelan, "Sepertinya saya tahu, Madam. Mungkinkah…sebuah keputusan yang sulit untuk diambil bisa membuat seseorang stress berat?"
"Mungkin saja. Ya, Miss Weasley."
Gadis itu mengangguk-angguk lirih, "Baiklah Madam Pomfrey. Permisi." Ginny meninggalkan rumah sakit dengan pikiran menerawang. Ia bimbang. Apa yang ia lakukan salah? Apa ia harusnya membantu Hermione?
.
Draco Malfoy membasuh mukanya dengan air mengalir dari wastafel kamar mandi asrama ketua murid. Ia mengerang saat air mengenai beberapa luka diwajahnya akibat perkelahian dengan Harry dan Ron.
"SIAL!" lukanya terasa amat perih sehingga ia harus menghentikan aktivitasnya. Rambut perak platinanya acak-acakan. Sama sekali bukan Draco yang biasa. Ia menatap dirinya sendiri lewat cermin dihadapannya dan merasa sangat marah. Ia tidak tahu ada apa. Tapi ia yakin ini semua ada hubungannya dengan partner ketua muridnya. Draco membetulkan bajunya dan bergegas untuk melakukan patroli malam. Sendirian.
"Lumos."
Cahaya dari tongkat sihirnya membantu sang Ketua Murid melihat sekeliling malam itu. Ia menelusuri semua lorong yang tersembunyi sekalipun. Melakukan itu semua mengingatkannya pada seseorang yang selalu melaksanakan patroli malam dengan serius. Langkahnya tiba-tiba terhenti saat melewati rumah sakit. Ia mengetahui mantra untuk membuka pintu yang terkunci dihadapannya. Dan ia pun mengucapkannya.
Ia melangkah masuk kedalam rumah sakit yang suram dan gelap. Mencari seseorang. Melewati beberapa bilik tempat tidur sampai akhirnya ia menemukannya.
Hermione sedang tertidur.
"Ya, tentu saja." Batin Draco. Ia menghampiri gadis itu. Pelan dan teratur. Ia tidak berani terlalu mendekat. Hanya melihat wajah yang sedang tertidur itu saja sudah membuatnya tenang. Meski ia tidak yakin pemilik wajah itu merasakan ketenangan yang sama.
Lalu ia merasa mendengar suara langkah seseorang. Dan sebelum ia bisa menghindar, langkah itu semakin mendekat dan akhirnya memunculkan sesosok wajah yang amat Draco kenal. Sosok itu berhenti disamping Draco.
"Aku tahu kau akan kesini, Malfoy."
Draco menatap Ginny Weasley sinis, "Kau tak perlu mengusirku. Jika itu maksudmu menjebakku disini." Cowok itu berjalan pergi dan telah hampir sampai dipintu rumah sakit saat Ginny berusaha menghadang jalannya.
"Kita perlu membicarakan soal ini. Soal dia." Ginny sengaja menekankan kata "dia". Ia tahu cowok itu mengerti sepenuhnya siapa yang ia maksud. Ginny mengikuti saat Draco mengajaknya untuk duduk dibangku yang berada di suatu koridor kosong.
"Apa yang perlu kau bicarakan?" Draco membuat api dan memasukkannya kedalam toples yang ia sihir dari ketiadaan.
Ginny sama sekali tidak yakin ia akan berbicara dengan orang didepannya itu. Dalam cahaya api yang dibuatnya sendiri, Draco terlihat amat kacau. Rambutnya yang biasanya rapi tidak pernah sekusut ini. Kulit pucatnya makin pucat. Luka bekas perkelahian masih terlihat jelas disana.
"Apa yang kau rasakan padanya?"
Draco tidak menjawab. Ginny masih menunggu selama cowok itu membenahi tatanan rambutnya, mencoba mengalihkan perhatian. Namun saat cowok itu tak juga menjawab Ginny merasa sedikit kesal.
"Jawab aku, Malfoy!"
Sang Ketua Murid masih saja tidak bersuara sedikitpun. Seolah tidak mendengar Ginny. Matanya menerawang.
"Kurasa tak perlu lagi aku menjawabnya, Weasley. Kau pasti sudah mengetahuinya."
"Bagaimana kau bisa yakin, MALFOY?" tatapan mata tajam Ginny mengarah lurus kearah mata kelabu sang pangeran Slytherin. Kentara sekali gadis itu kesal, "Kau hanya perlu bilang padaku bahwa kau mencintainya. ITU SAJA! Dan aku mungkin akan membantumu."
Draco terhenyak. Ginny sama sekali tidak terlihat seperti akan memberinya bantuan setelah bentakan itu padanya.
"Tidak perlu, Weasley. Sudah cukup semua luka-luka ini." Draco menunjuk luka disekeliling wajahnya, "Aku tidak pernah mengharapkan satu hal kecil merusak hubungan antar asrama atau status darah lagi."
Tatapan mata Ginny melunak. Ia tidak pernah berpikir seorang Draco Malfoy yang dibesarkan ditengah keluarga bangsawan besar dan keturunan darah murni bisa berkata seperti itu. Ia terdiam.
"Cukup bantu aku meyakinkan kakak dan pacarmu agar membiarkan Hermione kembali melakukan tugasnya seperti yang selama ini kami lakukan. Kami hanya sekedar sesama Ketua Murid. Apa yang kulakukan juga sama. Kami dekat karena kami KETUA MURID."
"Tapi kau secara tidak langsung mengakuinya, Malfoy." Ginny menekan cowok itu terus, "Kau… yah, kau tahu. Kalian bergandengan. Sering."
Draco mengernyit, "Apa lagi yang kau tahu?"
"Kau…menatapnya. Dengan cara yang sama seperti Harry menatap..ku."
Draco mengangguk-angguk, "Kalian benar-benar tidak ada kerjaan untuk mengikuti gerak-gerikku."
"Kami berhak melakukan itu! Hermione adalah SAHABAT kami." Terdengar suara dari kejauhan. mereka berdua menoleh kesegala arah memastikan semua masih baik-baik saja.
"Sudah tengah malam." Kata Draco, "Kita lanjutkan pembicaraan ini lain kali."
"Besok." Putus Ginny, "Disini. Terserah kau mau bantuanku atau tidak, yang jelas aku hanya ingin kau jujur. Dan aku akan mengatakan sesuatu yang tidak kau ketahui."
"Tidak perlu. Aku tidak yakin Hermione menginginkan ini. Ia bahkan mungkin tidak merasakan hal yang sama denganku."
"Kau belum tahu." Ujar Ginny dalam hati, "Datang saja, Malfoy. Jam yang sama."
Cowok itu akhirnya mengangguk mengiyakan sebelum beranjak pergi kembali menuju asrama Ketua Murid dan menempatinya malam ini sendirian.
.
Buku terbuka diatas meja itu sama sekali tidak dihiraukan oleh si empunya yang sedang sibuk berkutat dengan pikirannya sendiri di ruang rekreasi Gryffindor. Berkali-kali gadis itu menggeleng atau mengangguk serta mengernyit dan ekspresi yang lain. Tidak ada orang lain diruangan itu. Semua telah larut dalam alam mimpinya ditempat tidur mereka masing-masing. Buku diatas meja itu hanya alibi yang dibuat Ginny agar jika seseorang tiba-tiba terbangun dan mendapatinya masih terjaga, orang tersebut tidak berpikiran macam-macam.
Dan dini hari itu ia tidak mau seorang pun tahu apa yang sedang ia pikirkan. Ini benar-benar aneh untuknya.
Ginny merebahkan tubuhnya di sofa depan perapian. Ia bisa merasakan lelah Hermione saat ini. berkali-kali menghela napas panjang yang berat.
Gadis yang terbaring sakit itu sahabatnya. Ia sepenuhnya mendukung Ginny berjuang untuk Harry.
Lalu apa yang ia lakukan tadi? Kemarin?
Ia menentang Hermione. Sama seperti yang dilakukan kakak dan pacarnya yang juga adalah sahabat gadis itu. Dan itulah yang menyebabkan Hermione jatuh sakit.
Apa yang akan Hermione lakukan jika itu terjadi padanya?
Ginny membayangkannya dengan serius.
Ia tahu jawabannya.
awalnya peran "ginny" di bab ini mau aku kasihin ke luna, karena takutnya pada beranggapan kok ginny jadi plin plan gitu. tapi akhirnya setelah dipikir2, ginny emang paling pas. :)
tetap seperti sebelumnya, aku mohon review dari kalian semua. karena aku sadar cerita ini sama sekali ga sempurna.
dan makasih udah mau baca dan kasih review di chapter sebelumnya.
merci :))
