Disclaimer: all Harry Potter story and characters are belongs to JK. Rowling.
Warning: OOC, lebayness, sinetroness, anehness, gajelasness, ganyambungness, dll.
sedikit saran, bacanya dihayati ya :)
Hermione terbangun saat cahaya matahari menerobos masuk melewati jendela di hadapan tempat tidurnya. Ia berusaha menggerakkan tubuhnya yang sedikit terasa kaku.
"Ouch!"
Ia merasa punggungnya sakit. Sehingga mengurungkan niatnya untuk mengajaknya duduk. Hermione pun tetap berbaring sambil menatap langit-langit rumah sakit.
"Sudah berapa lama aku disini?" Hermione berbicara dalam hatinya, "Apa saja yang sudah aku lewatkan?"
Ada hal lain yang mengganggu pikirannya. Beberapa nama. Hermione tidak bisa memilah salah satu dari mereka. Mereka semua penting baginya.
Harry.
Ron.
Ginny.
Draco.
Nama itu membuatnya menghela napas berat. Keringat dingin keluar dari pori-pori kulitnya. Hanya dengan memikirkan nama itu. Ia tidak tahu mengapa, selagi ia mencoba menghempaskan nama itu dari otaknya, nama itu selalu muncul lagi. Dengan membawa luka dihatinya.
Karena ia harus memilih.
Kali ini Hermione harus memaksa dirinya memilih. Bukan. Perkelahian itu yang membuatnya harus menjatuhkan pilihan pada akhirnya. Ia tidak bisa menahan perasaan aneh yang muncul semenjak kejadian di perpustakaan itu. Dari bentakan Draco menuju kedekatan mereka yang tak terduga. Aneh memang. Tapi itu terjadi diantara mereka.
Hatinya berdesir saat mengingat mimpinya tadi malam. Mimpi itu seolah sangat nyata. Ya. Draco Malfoy muncul disana. Disamping tempat tidurnya. Meski Draco tidak melakukan apa-apa dan Hermione sangat yakin bahwa itu hanyalah mimpi belaka, gadis itu merasa tenang. Sepertinya sudah cukup lama ia tidak melihat sang pangeran Slytherin. Dan itu mengganggunya.
Tapi kenapa?
Apa yang telah terjadi dengan dirinya?
Andai saja ia bisa menjawabnya dengan leluasa.
Lamat-lamat ia bisa mendengar suara langkah mendekati bilik tempat tidurnya. Ia sedikit mendongak dan memandang melewati sekat diantara tempat tidur namun tetap tidak bisa mengetahui siapa yang datang. Mungkin hanya Madam Pomfrey.
Ternyata bukan.
"Hai, Hermione." Lavender dan Luna masuk ke biliknya dan langsung tersenyum cerah melihat Hermione sudah bangun, "Kau merasa lebih baik?"
Hermione tersenyum dan mengangguk pada keduanya, "Mana yang lain?"
"Oh, mereka sedang latihan Quidditch." Jawab Lavender sambil menaruh beberapa roti dari menu sarapan yang disisihkan oleh beberapa murid Gryffindor. Hermione mengangguk-angguk mengerti. Ia membayangkan kejadian yang menimpa Draco beberapa waktu yang lalu dilapangan Quidditch. Bagaimana gadis itu bisa ikut merawat sang pangeran Slytherin yang tergeletak tak berdaya bersama Madam Pomfrey dirumah sakit. Memastikan cowok itu baik-baik saja. Menyentuh tiap jengkal bagian tubuhnya yang terluka tanpa dicurigai. Karena ia seorang ketua murid, itu sudah menjadi tugasnya.
Dan..
Sekarang tak bisa lagi.
"Hermione? Kau tak apa-apa?" tanya Luna sambil menjentikkan jarinya didepan wajah Hermione yang sedang melamun. Semua gambaran itu buyar dalam sekejap. Hermione menggeleng keras.
"Tidak. Aku tidak apa-apa, Luna. Kau tenang saja."
"Kau yakin?" tambah Lavender yang kini sudah duduk disisi tempat tidurnya. Hermione mengangguk pelan.
"Seandainya saja aku bisa jujur pada kalian."
.
"APA KATAMU?"
Semua mata di Aula Besar kini mengarah pada Ron Weasley yang baru saja berteriak kepada adiknya sendiri di meja Gryffindor. Harry Potter ada disampingnya. Mereka masih memakai baju latihan Quidditch dan sama-sama menatap Ginny dengan pandangan heran. Mereka tidak peduli puluhan mata menjurus kearah mereka.
"Tidak perlu berteriak seperti itu Ron. Aku kan hanya meminta pertimbangan kalian." Ginny menatap Ron dan Harry bergantian, "Apa salahnya jika seorang Draco Malfoy menjadi ketua murid?"
"Karena ini bukan lagi 'jika'. Ini sudah jadi kenyataan, Ginny." Jawab Ron kesal, "Lagipula bukankah kau yang mengingatkan kami bahwa Hermione tidak pantas bersama Malfoy di asrama itu berdua saja?"
Ron benar. Ginny membuang napas keras, "Oke oke. Anggap saja aku berubah pikiran. Dan aku mohon pada kalian agar membiarkan Hermione bertugas lagi bersama Malfoy sebagai ketua murid dengan tenang. Oke?"
Harry ikut berkomentar, "Tidak. Ini tidak oke Ginny. Malfoy tetap saja Malfoy. Sebagaimana pun ia berubah, sebagaimanapun ia meminta maaf pada kita dan mulai bersikap baik. Buatku ini tidak oke."
Ginny menghela napas lagi. Ini sulit. Ia tahu ini sangat sulit. Bahkan sebelum melakukannya, ia tahu kedua cowok itu akan berkata seperti tadi.
"Oke. Tak masalah. Aku tidak akan memaksa. Tapi tolong kalian pikirkan lagi. Tolong hargai Hermione. Ia pasti juga ingin melanjutkan tugasnya dengan baik. Ini tahun terakhir kita disini. Apa salahnya menahan kesal kalian terhadap Draco Malfoy itu untuk satu tahun saja?"
"Otakmu sedang konslet kurasa, Ginny." Ujar Ron. Ginny mendelik.
"Terserahlah apa katamu." Gadis itu beranjak dari meja Gryffindor menuju ke asramanya. Memikirkan cara lain.
.
Udara bulan Desember yang dingin merayap masuk menurunkan suhu di ruang rekreasi asrama Ketua Murid. Satu-satunya penghuninya sedang duduk memeluk lutut di jendela bulat besar sambil menikmati kabut dihalaman Hogwarts. Seperti hari-hari sebelumnya, hari itu tetap saja tidak merubah suasana hati sang Ketua Murid yang memiliki banyak masalah berkelebatan diotaknya. Sudah berkali-kali cowok itu mengacak-acak rambut pirang platinanya lalu memutar bola matanya yang berwarna biru kelabu. Ia masih bisa mengingat dengan jelas percakapannya dengan Ginny Weasley beberapa bulan yang lalu.
"Dia mengalami stress berat. Dan aku yakin pasti kau tahu apa sebabnya."
Draco menggeleng, "Tidak. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau bicarakan."
Gadis yang sedang memainkan tongkat sihir ditangannya itu memutar bola mata, "Oh, ayolah Malfoy. Aku yakin kau tidak sebodoh itu."
"Aku sama sekali tidak mengerti maksudmu." Ulang Draco. Matanya memicing menatap Ginny sambil sesekali menikmati cahaya bulan yang menerangi mereka disalah satu koridor kosong Hogwarts.
Ginny membuang napas keras. Terdengar kesal dengan sang Ketua Murid, "Dia menyukaimu Malfoy."
Tidak ada yang menyangka 3 kata yang baru saja dikatakan Ginny bisa membuat Draco terhenyak dikursinya, "Apa kau bilang?"
"Oh. Bukan bukan. Dia tidak hanya menyukaimu, tapi dia mencintaimu."
Draco tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Ia menunggu Ginny melanjutkan kalimatnya bahwa ia sedang bercanda atau lain sebagainya. Tapi Ginny tidak melakukannya. Nampaknya gadis itu benar-benar serius.
"Kau serius?"
"Dan kau tidak percaya?"
Cowok itu menggeleng, "Aku tidak punya alasan untuk percaya."
Ginny tertawa mengejek, "Dan sepertinya kau memang bodoh, Malfoy. Seorang gadis yang kau cintai balik mencintaimu. Dan kau tidak percaya?"
"Lalu kenapa perasaannya itu membuatnya mengalami stress berat?"
Ginny menggeleng-geleng tak habis pikir, "Apa kau masih juga belum bisa menyimpulkannya? Dia mencintaimu, Malfoy. Dan kau tahu sendiri bahwa Harry dan Ron tidak akan menyukai hal itu. Bahkan untuk mengijinkannya kembali bertugas bersamamu pun mereka tidak mau. Dan jangan bilang padaku bahwa kau masih belum juga mengerti maksudku."
"Tunggu." Draco menghentikan tatapan mata tajam Ginny, "Bagaimana kau bisa begitu yakin bahwa dia –kau tahu- mencintaiku?"
"Aku tahu. Tanpa menanyakannya pun aku sudah tahu. Aku juga perempuan sepertinya. Dan aku pernah mengalami persis layaknya yang sedang ia rasakan sekarang, jatuh cinta. Hanya saja aku tidak jatuh cinta lalu jatuh sakit seperti dirinya."
Draco tersenyum sinis menanggapi perkataan Ginny.
"Aku bisa melihatnya, bagaimana ia menatapmu. Meskipun saat itu aku sama tidak setujunya dengan Harry ataupun Ron. Tapi aku bisa merasakannya -Ah kau tak akan mengerti." Ginny menghentikan penjelasannya saat melihat Draco yang terlihat tidak terlalu memperhatikan. Kentara sekali cowok itu mulai bosan dengan celotehannya.
"Dan aku memang tidak mengerti. Bukan hanya karena aku tidak seperti kalian, tapi juga aku tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya."
Ginny menangkap maksud Draco. Jadi sang pangeran Slytherin tidak pernah jatuh cinta sebelumnya? Bisakah Hermione disebut sebagai gadis yang beruntung karena menjadi cinta pertama sang pangeran?
"Terserah apa katamu. Aku tidak akan mengatakan apapun pada Hermione dan akan tetap berusaha mencegah Harry dan Ron yang melarangnya menemuimu lagi. Meskipun aku tahu itu mustahil mengingat aku hanya seorang perempuan lemah jika dibandingkan mereka berdua. Tapi aku akan tetap berusaha. Kau bisa memegang omonganku. Jadi aku juga berharap kau tetap berjuang."
Draco terkesan dengan Ginny. Sekali ini saja ia memandang si gadis Weasley dengan pandangan yang luar biasa berbeda.
"Terima kasih banyak, Weasley." Ujarnya sungguh-sungguh sebelum membiarkan gadis itu beranjak.
Ginny mengangguk sambil tersenyum tipis, "Sama-sama. Aku sangat menghargai ucapanmu."
Setelah percakapan itu, Draco hampir tidak pernah lagi bisa melihat Hermione dengan leluasa. Setelah Hermione keluar dari rumah sakit, ia hanya bisa bertemu dengan gadis itu pada jam pelajaran dan harus menelan pahit karena setelah pelajaran usai Hermione akan cepat-cepat keluar kelas dengan pengawalan ketat dari Harry dan Ron. Ginny selalu menyempatkan diri untuk mengerling Draco dengan tatapan meminta maaf dan Draco akan membalasnya dengan senyuman tipis tanda ia tak apa-apa. Meskipun kenyataannya 180 derajat berbeda.
Hermione juga tak pernah lagi kembali ke asrama Ketua Murid dan tetap menjalankan tugasnya tanpa sedetikpun mampir kekamarnya disana. Barang-barang Hermione hilang secara misterius suatu hari saat Draco mengecek kamar gadis itu. Ia mendapat penjelasan dari Ginny bahwa Ron yang melakukannya.
Ginny mengatakan disuatu malam saat mereka berbincang lagi bahwa Hermione kini lebih sering memisahkan diri dari gerombolan Gryffindor dan berdiam diri disuatu tempat yang tak ada seorang pun yang tahu. Tampaknya gadis itu masih mengalami dilemma tentang Draco dan dua sahabatnya.
Draco menendang dinding didepan kakinya. Ia lelah dengan semua ini. Belum lagi desakan dari ayahnya untuk mengundurkan diri saja dari sekolah sihir itu dan kembali ke rumah untuk mengurus kerajaan bisnis keluarga Malfoy yang mengalami kebangkrutan setelah beberapa perusahaan milik Lucius Malfoy disita oleh kementrian terkait dengan jatuhnya Voldemort. Kementrian mengantisipasi agar keluarga yang masih tersisa dari pelahap maut itu tidak mempergunakannya untuk mengembangkan sihir hitam.
Cowok itu berdiri dan membetulkan baju serta rambutnya. Mungkin lebih baik jika ia keluar dari ruangan itu dan menikmati udara musim dingin itu diluar. Berharap bisa membekukan hati dan otaknya. Ia memanjat keluar dari lukisan dan berjalan tak tentu arah. Membiarkan kakinya melangkah kemana ia mau. Menyusuri tiap koridor yang kosong karena para murid dan guru lebih memiliih berada didalam ruangan untuk menghangatkan diri mereka. Langkahnya akhirnya berhenti didepan perpustakaan.
Perpustakaan. Tempat itu menguak ingatan lamanya.
Ia terdiam sejenak didepan pintu kokoh yang terbuka itu. Mengamati betapa ramainya perpustakaan dan Madam Pince yang tersenyum bahagia atas kunjungan para murid meski sebagian besar hanya datang untuk menghindari udara dingin diluar. Draco melangkah masuk. Ia mengambil sebuah buku tanpa melihat judulnya dan duduk disatu kursi disudut yang hangat. Ia membuka-buka buku itu sambil menerawang. Gadis itu tidak ada disini.
"Hei, Draco!"
Draco mendongak dan mendapati Blaise Zabini telah berdiri dihadapannya.
"Oh. Hai, Blaise. Tumben sekali kau ke perpustakaan?"
Blaise tergelak, "Sepertinya semua orang sudi ke perpustakaan sekarang ini."
Draco mengernyit, "Memangnya kenapa?"
"Masa kau tak tahu sih? Murid-murid sedang heran karena kabar yang beredar. Kau tahu kan bahwa si putri Gryffindor yang hobi ke perpustakaan itu kini sudah tidak lagi sering melakukan kebiasaannya?"
Draco mengendalikan keterkejutannya dengan menggeleng.
"Kau benar-benar tak tahu? Aneh sekali. Padahal kan kalian sama-sama ketua murid." kata Blaise heran, "Gadis itu lebih sering menyendiri ditempat lain. Maka dari itu semua anak dilanda penasaran. Apa yang ada di perpustakaan sehingga membuat si kutu buku itu tak lagi betah disini."
Untung saja Blaise tidak melihat saat mata biru kelabu Draco membelalak kaget. Dia tahu pasti kenapa gadis itu menghindari perpustakaan.
"Hanya saja yang aku sesalkan, gadis itu tidak cukup pandai mencari tempat untuk menyendiri. Aku baru saja melihatnya dikoridor didekat kamar kebutuhan." Lanjut Blaise.
Draco benar-benar tidak bisa menyembunyikan raut wajahnya yang campuran antara senang dan heran itu sekarang, "Benarkah? Kau melihatnya?"
"Ya. Saat berjalan menuju kesini." Kata Blaise. Draco tiba-tiba bangkit berdiri, "Kau mau kemana?"
"Aku baru ingat ada urusan. Kau tahu, tugas ketua murid." Draco meninggalkan Blaise yang langsung menyunggingkan senyum disudut bibirnya.
"Kena kau, Draco."
.
Berang-berang perak berlarian mengitari seorang gadis yang baru saja mengeluarkannya dari tongkat sihir miliknya. Hermione tertawa-tawa pelan melihat kelakuan patronusnya. Belasan burung gereja terbang berputar disekeliling Hermione. Membuat gadis itu makin menikmati keberadaannya disini. Lorong itu begitu sepi. Hanya ada dirinya. Sampai-sampai ia tidak menyadari saat seseorang tiba diujung lorong dan bersandar di dinding sambil menyilangkan kedua tangannya didada. Mengamati gadis itu dari kejauhan.
"Kau harus mencari tempat persembunyian yang baru. Blaise sudah mengetahui lorong ini."
Hermione menoleh dan berang-berang perak itu langsung menghilang seiring dengan perubahan suasana hati sang pemilik.
"Draco?"
Draco berjalan pelan mendekat. Ia bisa melihat gadis itu waspada. Mungkin takut ada bagian dari dirinya yang akan hancur.
"Hai, Granger. Sudah lama sekali aku tidak mendengar suaramu selain bila kau menjawab pertanyaan guru dikelas."
Hermione menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah. Tidak mengatakan apa-apa lagi.
Draco berhenti dan berpegangan pada tiang disamping bibir jendela tempat Hermione duduk. Gadis itu mundur perlahan. Menjauhi Draco menuju ujung sisi lain jendela itu. Hening merayap diantara mereka selama beberapa saat yang cukup panjang. Hermione merapatkan mantel yang ia kenakan guna mengurangi dingin. Draco mengamati.
"Katakanlah sesuatu, Hermione. Atau harus aku yang memulainya lagi?"
Dalam hati mereka masing-masing, mereka tidak nyaman dengan keadaan ini. keheningan terpanjang yang pernah ada diantara mereka. Bahkan saat mereka masih bermusuhan dulu, mereka sangat pandai memainkan lidah dan tidak pernah tercipta situasi seperti ini. namun kali ini mereka benar-benar terjebak dalam diam.
Draco tak tahan lagi.
"Mengapa kau menghindariku?"
Hermione menatap mata biru kelabu yang juga sedang menatapnya itu ragu, "A-aku ti-tidak.."
"Tidak apa, Hermione?" Hermione terkejut Draco menyebut namanya, "Tidak menghindariku? Sanggahan macam apa itu? Jelas sekali kau menghindariku beberapa bulan terakhir ini."
Mulut Hermione seolah terkunci rapat. Ia tidak lagi melontarkan kata-kata apapun dan beranggapan semua yang ia katakan adalah salah.
"Ada apa denganmu, Hermione? Apa salahku?"
Hermione menatap Draco dengan pandangan terluka, "Kau tidak bersalah, Draco. Sama sekali tidak. Akulah yang salah. Karena aku mencintaimu." Tapi kalimat itu ditelan lagi oleh Hermione tanpa mengutarakannya langsung. Sebagai gantinya, gadis itu tetap diam dan kembali menunduk.
Draco menghela napas panjang. Mengumpulkan segenap kekuatannya untuk mengungkapkan segala yang ia rasakan dalam hatinya. Tidak pernah sebelumnya ia merasa sesulit ini mengatakan suatu hal. Ia berperang dengan akal sehatnya selama beberapa menit.
"Aku mencintaimu, Hermione."
Gadis itu mendongak dan menatap Draco dengan mata terbelalak lebar. Ia tidak percaya sang pangeran Malfoy baru saja mengucapkan hal itu. Sesaat ia benar-benar tidak bisa mempercayai telinganya sendiri.
"Tidak." Hermione menggeleng pelan sambil mengucapkan satu kata itu. Detik berikutnya ia bangkit berdiri dan berhadapan dengan Draco, "Kau…tidak.."
"Ya, Hermione-"
"JANGAN SEBUT NAMAKU!"
Gadis itu mendorong Draco menjauh dengan mata berkilat-kilat tak karuan. Dadanya naik turun menandakan napasnya yang tidak teratur.
"Jangan…sebut…namaku." Gadis mengulang kalimatnya dengan mata berkaca-kaca. Terlihat berusaha keras menahan air matanya agar tidak jatuh, "Jangan…kau tidak boleh mencintaiku."
Draco mendekat lagi dengan pandangan yang tak lepas dari mata coklat Hermione, "Kenapa begitu? Kenapa aku tidak boleh merasakan hal itu padamu?" sebaliknya, Hermione sekuat tenaga tidak membalas tatapan cowok itu, "Aku mencintaimu, HERMIONE. Dan aku tak bisa mencegahnya. KAU TAK BISA MENCEGAHNYA."
Plak!
Hermione melayangkan tamparan keras pada Draco. Air matanya mulai mengalir kepipi, "Kau tak boleh merasakannya. Kau tak boleh meneruskannya. Kau tak boleh membiarkannya." Kata gadis itu tak karuan. Ia mulai berjongkok dengan menutupkan kedua tangannya kewajah. Draco berlutut didepannya.
"Dan ajarkan aku bagaimana caranya. Ajarkan aku berhenti mencintaimu. Menghilangkan semua perasaan yang ada saat ini. Melenyapkan keinginan untuk bertemu denganmu setiap waktu. Memusnahkan bayangan tentang dirimu yang selalu muncul." Draco mengucapkan setiap kata dengan pelan dan lembut. Menanyakan semua hal yang tidak pernah bisa ia lakukan selama beberapa bulan terakhir itu.
Hermione terisak makin keras. Bahunya bergetar. Tapi Draco tidak berani menyentuhnya sedikitpun. Ia tidak mau gadis itu terluka seperti dirinya. Ia tidak bisa melihat gadis itu tersiksa dengan airmata yang terus turun yang bisa jadi karena ia ada disana. Ia pun bangkit berdiri.
"Kau tak perlu menjawabnya. Biarkan aku yang mencarinya sendiri. Semua jawaban itu."
Draco beranjak pergi dari lorong itu. Meninggalkan Hermione yang masih berkutat dengan pikirannya sendiri.
"Aku juga tak tahu apa jawabannya."
saat aku pikir ini lumayan panjang, ternyata ga begitu panjang juga.
satu lagi kelemahanku: ga bisa bikin chapter yang panjang. maaf :(
tetaaaaap seperti sebelumnya, aku mohon review dari kalian semua. karena aku sadar cerita ini sama sekali ga sempurna dan butuh saran serta kritik.
dan makasih udah mau baca dan kasih review di chapter sebelumnya.
merci :))
