Disclaimer: all Harry Potter story and characters are belongs to JK. Rowling.

Warning: OOC, typo, lebayness, sinetroness, anehness, gajelasness, ganyambungness, dll.

chapter yang agak focus on Ginny Weasley. enjoy :)


"Jadi, siapa yang bisa menjelaskan kegunaan dari ramuan satu tetes untuk selamanya?" Professor Slughorn menanyakan pertanyaan kepada seisi kelas. Biasanya, akan ada satu tangan yang terangkat keudara dan menjawab pertanyaannya. Tangan itu tentu milik Hermione Granger. Namun Professor Slughorn harus menelan lagi pujian bagi sang putri Gryffindor karena gadis itu –lagi-lagi- absen dari kelasnya.

"Er.. apa tidak ada yang bisa menjawabnya?" semua murid kini mulai berkasak-kusuk tentang absennya Hermione. Ginny mengerling Blaise yang duduk dibangku belakang sesaat. Blaise balas menatap gadis itu dan mengangguk amat pelan sehingga tidak ada seorang pun yang bisa melihat gerakannya.

"Baiklah baiklah. Tidak perlu ribut begini. Mari kita lanjutkan. Jadi kegunaan dari…"

Ginny sama sekali tidak fokus dengan sisa pelajaran ramuan. ia berkali-kali melirik kearah jam dan berharap kelas itu segera berakhir. Tak lama kemudian harapan gadis itu terjawab. Professor Slughorn mengakhiri pelajaran hari itu dan semua murid bergegas menuju Aula Besar untuk makan siang.

"Kalian duluan saja. Aku nanti menyusul." Kata Ginny pada Harry, Ron, Lavender, dan Luna seraya berpura-pura sibuk membereskan kuali-kuali dimejanya. Sementara diujung sana Blaise menyisih dari gerombolan Slytherinnya dan keluar ruangan sendirian. Ginny menemuinya disamping ruang ramuan. Mereka berdua lalu bersandar di dinding batu.

"Kau harus bertanggung jawab." Ujar Blaise singkat. Ginny mengetuk-ngetukkan kepalanya kedinding pelan sambil mengutuki dirinya sendiri, "Kan sudah kubilang ide itu buruk. Kau terlalu optimis, Weasley."

"Ya ya ya. Aku tahu. Hanya saja aku tak punya ide lagi. Kupikir dengan cara menyuruh kau menunggu Draco ke perpustakaan lalu berpura-pura mengatakan padanya bahwa kau baru saja mendapati Hermione sedang sendirian dilorong itu, akan efektif." Ginny kembali membodoh-bodohi dirinya, "Sekarang sepertinya aku benar-benar menyerah."

Blaise menatap gadis disampingnya itu nanar, "Kau gila? Kau harus bertanggung jawab dulu. Baru bisa menyerah."

Ginny balik memandang Blaise dengan tatapan sebal. Ia terpaksa mengatakan semua yang ia tahu tentang kedua orang itu pada cowok disampingnya dengan alasan ia tidak tahu lagi kemana harus membagi keseluruhan kisah mereka. Blaise setuju membantu dengan senang hati mengingat Draco banyak juga memberinya pelajaran berharga sebelumnya. Meski Ginny tak tahu seberharga apa,tapi toh ia senang Blaise bersedia membantunya.

"Bagaimana aku harus bertanggung jawab?"

Ginny masih ingat beberapa hari yang lalu. Setelah Blaise melaksanakan rencana mereka dan Draco menuju ke lorong tempat dimana Hermione sedang menyendiri, Ginny mengikutinya. Disana ia benar-benar terkejut dengan reaksi Hermione tentang ungkapan perasaan Draco padanya. Kenapa? Harusnya Hermione senang, karena cowok itu merasakan hal yang sama. Ginny hampir saja ikut meneteskan airmatanya saat melihat gadis itu meringkuk dan menangis disudut salah satu jendela setelah Draco pergi dari sana.

"Satukan mereka lagi."

Gadis itu memutar kepalanya sehingga menghadap Blaise sepenuhnya, "BAGAIMANA CARANYA? Andai saja aku tahu, aku tidak akan meminta bantuanmu!" Ginny sangat kesal. Ia menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal.

"Dan jika kau berharap aku tahu caranya, kau salah besar."

Hampir saja Ginny meruntuhkan dinding disana dengan lambaian tongkatnya saking kesalnya ia pada Mr. Zabini itu. Sulit dipercaya ia bisa meminta bantuan pada orang semacam ini untuk mengatasi masalah yang cukup rumit. Sama sekali tidak ada gunanya.

"Kau masih mau membantuku atau tidak sih?"

Blaise mengerang pelan, "Asal idemu bagus, aku mau saja."

"Kalau begitu biarkan aku berpikir. Jangan menyalahkanku terus." Ginny beranjak meninggalkan Blaise yang masih bersandar didinding samping ruang ramuan.

Dalam perjalanan menuju Aula Besar ia mencoba berpikir untuk menebus rencananya yang gagal total beberapa hari sebelumnya. Dan kali ini ia harus membuat otaknya mengeluarkan ide yang sedikit logis untuk dikerjakan oleh Blaise yang notabene sepertinya tidak punya otak di kepalanya. Atau mungkin cowok itu telah meninggalkannya disuatu tempat. Ginny tidak tahu.

"Bruk!"

Saking tidak fokusnya, Ginny sampai menabrak seorang gadis Slytherin yang seangkatan dengannya. Ariadne Pulcher.

"Oh, maafkan aku Ariadne. Aku benar-benar sedang tidak fokus."

Ariadne, yang adalah seorang penganut non-blok alias tidak memihak Voldemort atau Harry pada pertempuran besar Mei lalu itu, tersenyum dan mengangguk memaklumi. Mereka berdua berlutut untuk memunguti buku-buku yang tadi dibawa Ariadne dan kini bertebaran dilantai pualam.

"Tak apa, Ginny. Sepertinya kau sedang banyak pikiran. Ada apa?"

Ginny tersenyum lalu bangkit. Mendapat seseorang yang perhatian padanya adalah hal yang ia butuhkan saat ini. Dan sepertinya… ia bisa mempercayai gadis Slytherin yang satu ini. sekaligus menggali informasi yang tidak Ginny tahu tentang sang pangeran Slytherin.

"Aku hanya sedikit terlalu kepikiran tentang kesehatan Hermione. Kau tahu kan dia jadi sering sekali tidak masuk akhir-akhir ini?"

Ariadne mengangguk, "Jadi dia sakit? Oh, aku ikut prihatin. Memangnya ada apa dengannya? Apa ada hubungannya dengan…" gadis itu memelankan suaranya, "… Draco Malfoy?"

Ginny terbelalak was-was. Tidak mungkin ini sudah menyebar, "Bagaimana kau –maksudku- Apa yang kau katakan?"

"Yah…" gadis itu mengangkat bahu, "…aku hanya mengira-ngira saja. Entah kenapa aku merasa mereka berbeda sejak sama-sama menjadi Ketua Murid. Aku sering memperhatikan. Tapi kau harus memperingatkan Hermione untuk lebih berhati-hati dengan Draco."

Ginny mengernyit dua kali atas kalimat Ariadne. Namun ia juga senang gadis itu sepertinya mulai memberinya pandangan bagus, "Memangnya kenapa?"

Ariadne memandang sekeliling mereka, mendekat ke arah Ginny dan mulai berbicara dengan nada suara pelan, "Draco punya banyak sekali penggemar diluar sana. Dan oh, siapa yang tidak terpesona dengannya? Pewaris tunggal tahta Malfoy yang selalu memanjakan hidupnya dengan barang-barang mahal. Kabarnya ia sering berganti-ganti pasangan."

"APA?" Ginny segera menutup mulutnya setelah sadar teriakannya bisa menarik perhatian semua orang, "Maksudku, bagaimana bisa? Yang kudengar ia belum pernah jatuh cinta."

"Ya memang benar. Ia tidak pernah memulai suatu hubungan dengan cinta bersama gadis-gadis itu. Begitu yang kudengar."

Ginny merasa wajahnya memerah karena marah. Bajingan Malfoy itu telah membohonginya beberapa bulan yang lalu. Namun ia mencoba untuk mengendalikan dirinya, "Berapa gadis tepatnya?"

"Um…." Ariadne terlihat berpikir cukup keras, "… aku tak tahu pasti, -Dan tidak ada yang tahu pasti- tapi bisa kupastikan lebih dari 5 dalam 1 tahun terakhir."

Ginny sudah tidak bisa menahan kemarahannya lagi. Ia pamit pada Ariadne untuk segera ke kelas berikutnya karena ini sudah lepas dari jam makan siang. Ia segera berjalan dengan cepat kemanapun untuk mencari Draco Malfoy. Semua sudut ia telusuri. Pangeran Slytherin itu pasti sedang menuju ke rumah kaca untuk pelajaran Herbologi, sama seperti dirinya. Ia pun segera menelusuri jalan menuju kesana.

.

Hermione beranjak dari kasurnya untuk menuju ke rumah kaca nomor 1 untuk pelajaran Herbologi. Ia tidak mau absen lagi dalam kelas. Ia pun bersiap dan memanjat keluar dari lukisan nyonya gemuk.

Saat berjalan menuju salah satu koridor, ia melihat Ginny berjalan dengan cepat beberapa meter didepannya sambil celingukan mencari sesuatu. Ia sudah akan menyapa gadis itu kalau saja si gadis tidak terlihat seperti akan mencekik semua orang yang ia lihat.

Ada apa dengan Ginny?

Perlahan Hermione mengikutinya. Gadis itu berbalik arah memunggungi Hermione dan berbelok diujung koridor. Hermione harus sedikit berlari untuk mengimbangi langkah cepat Ginny.

Ia berhenti dan bersembunyi dibalik salah satu jendela saat Ginny dengan cepat menghampiri Draco yang juga sedang berjalan keluar kastil menuju rumah kaca.

"Plak!"

Hermione membelalak saat melihat gadis itu menampar Draco keras. Ada apa?

"Ada apa-"

Belum sempat Draco meneruskan pertanyaannya, Ginny sudah melayangkan tamparan keras kepipinya yang satu lagi.

"Apa-apaan kau, Weasley?" suara Draco naik satu oktaf dari biasanya. Tatapan mata biru-kelabunya yang tajam mengarah kemata Ginny. Beberapa murid kasak-kusuk didekat mereka.

"'Apa-apaan' katamu?" mata Ginny berkilat-kilat penuh amarah, "Sudah cukup semuanya, MALFOY! Jauhi Hermione!"

Hermione terkulai lemas dalam sandarannya pada tiang jendela. Lagi. Masalah ini lagi. Kenapa tidak ada habisnya?

"Aku sudah tahu semuanya. SEMUANYA!" Ginny menekankan kalimatnya pada kata terakhir.

Draco menggeleng-geleng tak mengerti, "Apa maksudmu? Aku benar-benar tak mengerti sama sekali, Weasley!"

Ginny tersenyum sinis, "Kurasa aku tak perlu menjelaskannya disini tentang semua skandalmu, Malfoy. 5 gadis dalam satu tahun? Atau lebih, huh? Bajingan kau, Malfoy!"

Tidak ada yang mengerti maksud Ginny. Tidak juga Hermione. Murid-murid yang bergerombol menyaksikan keributan itu semakin riuh berbisik satu sama lain. Tapi Draco paham sekali apa yang gadis itu katakan. Skandal kecilnya saat ia frustasi dengan tugas berat yang dibebankan padanya oleh Pangeran Kegelapan tahun lalu. Skandal kecil yang seharusnya tidak ada yang tahu.

"Skandal yang kau maksud sudah tidak pernah lagi terjadi. Dan kalau kau bersikap seperti ini karena kau pikir aku masih melakukannya, kau salah besar."

Lagi, Ginny menatapnya dengan sinis, "Dan kenapa kau tidak melakukannya lagi? Apa dari para gadis itu ada yang telah melapor padamu bahwa ia telah kehilangan keperawanannya?"

Draco mendelik marah kearah Ginny. Hermione limbung dalam pegangannya. Ia mulai mengerti maksud tuduhan Ginny sebelumnya tentang skandal kecil Draco Malfoy. Murid-murid disana beberapa sampai hanmpir terlompat dari tanah saking kagetnya. Hermione tidak kuat. Ia berlari menjauhi kedua orang tersebut. Namun tidak ada yang tahu.

"Kau benar-benar.."

"Benar-benar apa, Malfoy?" potong Ginny, "Menjengkelkan? Terserah apa katamu, setidaknya aku bukan bajingan sepertimu."

Mereka tidak tahu bahwa seorang gadis sedang terluka dan mencoba berlari dari semua kenyataan itu. Hermione ingin kembali seperti dulu. Sebelum ia merasakan hal yang berbeda pada cowok itu. Sudah cukup semua ini. Sudah cukup semua ini merusak tahun ketujuhnya, tahun terakhirnya di Hogwarts.

"Bruk!"

Hermione merasa menabrak seseorang yang lebih besar dan tinggi darinya. Ia mendongak.

"Oh, Maafkan aku, Blaise." Kata Hermione lirih pada cowok yang ditabraknya tersebut. Sama sekali tidak ia duga, Blaise malah menggeleng.

"Tak apa, Granger. Kenapa kau berlari dikoridor?"

Giliran Hermione yang menggeleng, "Tak apa-apa. Aku hanya.. ketinggalan barang di asrama."

Blaise membiarkan gadis itu melewatinya untuk kembali ke asrama. Tapi ia sama sekali tidak percaya dengan yang dikatakan gadis itu padanya. Tidak mungkin tidak ada apa-apa.

.

"Draco,

Kau sebaiknya cepat kembali ke Manor. Ayahmu sedang dalam kesulitan besar.

Ia benar-benar berharap kau segera bisa membantunya.

Kembalilah Draco. Tinggalkan Hogwarts. Perusahaan tidak perlu kau lulus dari sekolah itu.

Kau hanya perlu mengembalikan keadaan seperti semula.

Kami tahu kau sanggup melakukannya.

Love,

Narcissa Malfoy."

Tulisan meliuk anggun khas Narcissa tergores rapi di secarik perkamen yang kini telah menjadi gumpalan ditangan Draco. Akhirnya orangtuanya mengirim surat paksaan ini juga. Draco hanya tinggal menunggu waktu sejak mendengar kabar bahwa keuangan keluarganya semakin parah. Ia bisa bayangkan bagaimana kedua orangtuanya kelimpungan. Lucius dan Narcissa bisa menjadi bahan tertawaan moyang Malfoy jika saja mereka semua tahu.

Ia sudah mengepak barang-barangnya untuk kembali ke Manor dalam rangka liburan Natal dan sepertinya ia tidak akan kembali ke sekolah sihir itu lagi setelahnya.

Jika ia mau jujur, ia tidak mau pergi. Ia masih punya urusan yang belum terselesaikan disini. Tapi ia harus pergi. Benar-benar harus.

Draco berjalan keluar dari asrama Ketua Murid menuju ruang Kepala Sekolah untuk berpamitan sekaligus menyerahkan jabatannya kepada murid lain. Entah siapa. Tapi ia sudah siap dengan merekomendasikan Blaise Zabini atau Ron Weasley kepada Professor McGonagall. Setidaknya kedua orang itu tidak akan membuat Hermione terluka seperti dirinya. Tidak akan membuat gadis itu harus bermalam di asrama Gryffindor dan melewatkan fasilitas yang tersedia untuknya di asrama Ketua Murid.

Ia menyebutkan kata kunci pada Gargoyle dan masuk ke ruangan kepala sekolah.

Draco Malfoy siap untuk meninggalkan Hogwarts.


pada penasaran ga sih? kok aku pesimis ya.. :(

inti cerita baru dimulai. jadi maaaffffff kalo selama ini kurang memuaskan :(

dan Ariadne Pulcher itu karakter karanganku. nama yang bagus kah menurut kalian? ;)

tetaaaaap seperti sebelumnya, aku mohon review dari kalian semua. karena aku sadar cerita ini sama sekali ga sempurna dan butuh saran serta kritik.

dan makasih udah mau baca dan kasih review di chapter sebelumnya.

merci :))