Disclaimer: all Harry Potter story and characters are belongs to JK. Rowling.
Warning: OOC, typo, lebayness, sinetroness, anehness, gajelasness, ganyambungness, dll.
Pagi itu salju turun perlahan diluar sana. Suhu sangat dingin sehingga wajar saja bila tidak terlihat pergerakan manusia sama sekali. Disebuah rumah yang dihiasi pernak-pernik Natal, Hermione sedang bergelung dikasurnya. Tak berniat untuk keluar dari sana sampai sebuah suara dari lantai bawah rumahnya terdengar.
"Hermione, turun sayang. Banyak sekali hadiah untukmu yang sudah sampai."
Suara itu milik Mrs. Granger. Hermione memilih untuk tidak merayakan Natal di The Burrow seperti tahun-tahun sebelumnya. ia ingin menikmati hari special itu dikediamannya sendiri. Dengan alasan bahwa ia ingin bersama kedua orangtuanya yang setelah pertempuran Mei lalu, ia temukan di Australia dan dikembalikan ingatannya. Pada kenyataannya, Hermione enggan untuk melakukan rutinitas Natal yang biasanya. Ia lebih memilih berdiam dikamarnya, memikirkan segala yang telah terjadi setengah tahun terakhir. Segala yang memporak porandakan tahun ketujuhnya di sekolah sihir itu.
"Ya, Mum. Aku segera turun."
Meski sambil bersungut-sungut, toh akhirnya Hermione menuruti panggilan lembut ibunya itu. Mungkin saja ia bisa sedikit rileks jika dekat dengan mereka hari itu. Atau mungkin bahkan ia bisa menceritakan semua yang ia rasakan dalam hati dan yang sedang berkecamuk diotaknya. Ia menuruni tangga menuju ruang makan dengan cukup santai anehnya.
Meja makan sudah ditata dengan rapi oleh Mrs. Granger yang kini sedang duduk disana sambil menikmati sepotong kalkun bersama Mr. Granger. Ia tersenyum melihat putrinya datang.
"Pagi, sayang. Itu, Lihatlah banyaknya hadiah untukmu." Wanita cantik itu menunjuk satu sudut dekat pohon Natal yang penuh dengan bungkusan kado berbagai ukuran.
Hermione tersenyum lalu menghadiahi kedua orangtuanya kecupan, "Selamat Hari Natal, Mum, Dad."
"Selamat Natal, Hermione." Jawab ayahnya, "Kau akan disibukkan dengan kegiatan membuka kado sepertinya setelah ini. Dad kaget dengan banyaknya penggemarmu sekarang."
Hermione mendelik bercanda dan memukul pelan lengan Mr. Granger, "Bukan begitu. Pasti hanya dari teman-temanku saja." Ia menghampiri tumpukan kado itu dan mulai membukanya satu persatu.
Ia memekik pelan saat membuka kado dari Ginny. Sebuah dress berwarna peach yang sangat cantik. Berikutnya ia membuka bungkus kado berwarna putih dengan label "WW" yang sangat mencolok. Ia tahu benar dari siapa kado itu. Sebuah parfum buatan Weasley Wheezes, toko lelucon milik Fred dan George. Mengingat Fred, Hermione menjadi sedih dan langsung menyisihkan kado tersebut.
Selanjutnya ia mendapat sebuah buku pengantar Herbologi lanjut dari Neville, pengikat rambut yang bisa mengubah gaya dari Ron, sebuah replika kucing menyerupai crookshanks dari Harry, serta ia mendapat kado dari Luna berupa teh yang disuguhkan oleh Xenophilius saat ia kerumah keluarga Lovegood bersama Harry dan Ron beberapa waktu lalu.
Ia tersenyum-senyum sambil memandang kado-kado dari teman-temannya lagi, ia lalu beralih ke kado berikutnya. Bentuknya sangat sederhana. Perlahan Hermione membuka bungkusnya dan menemukan sesuatu berwarna hitam dibalik sobekan pertamanya. Gadis itu dengan cepat merobek sisa kertas kado yang melapisinya dan terhenyak seketika saat melihat sebuah buku tebal bercover hitam yang sangat ia kenal. Judul buku itu terbaca dengan jelas oleh Hermione,
"Mengalahkan masalah keuangan dan mengaturnya dari awal lagi."
Saat ia mengangkatnya keudara, secarik perkamen jatuh dari dalam buku tersebut. Ia membaca tulisan disana.
"Hermione,
Atau lebih baik aku memanggilmu dengan Granger? Terserahlah. Bayangkan saja aku memanggilmu dengan ucapan terkasarku, jika itu membuatmu lebih nyaman.
Terimakasih untuk buku itu. Buku yang bagus. Tapi dibutuhkan lebih dari 10 buku seperti itu untuk bisa mengembalikan keadaan keuangan keluargaku seperti sebelumnya.
Ya, keluargaku sedang dalam masa sulit. Berkat Kementrian yang menyita hampir semua perusahaan besar milik ayahku. Dan disinilah sekarang diriku.
Kau akan tenang karena aku tidak akan kembali lagi ke Hogwarts dengan alasan apapun. Aku harus ada disini untuk membantu mengurus masalah besar keluargaku. Anggaplah setengah tahun yang telah lalu, kita tidak pernah bertemu. Lanjutkan hidupmu seperti sebelumnya, aku tidak akan mengganggumu lagi.
Aku sudah cukup bahagia bisa mengenalmu dengan cara yang berbeda dari tujuh tahun yang lalu. Tapi seseorang tidak akan bahagia selamanya. Dan lebih baik aku lupakan segalanya, selagi aku merasa bahagia. Hidup ini kejam, kau tahu. Yah.. setidaknya itulah yang terjadi padaku.
Terimakasih, Granger. Untuk semuanya.
DLM."
Meskipun hanya inisial, Hermione tahu siapa pengirimnya. Ia tahu benar dan yakin sepenuhnya. Ia tidak bisa menahan saat airmatanya jatuh satu persatu dan membuatnya terisak pelan. Sepelan-pelannya, isakan itu masih terdengar oleh kedua orangtuanya yang langsung menghampirinya.
"Ada apa, Hermione?" tanya ibunya. Tapi dengan pertanyaan dan pelukan Mrs. Granger, tangisan Hermione bukannya berhenti, malah semakin keras. Mrs. Granger mengisyaratkan agar Mr. Granger pergi sebentar dari sana. Ini pembicaraan antar wanita. Dan saat itulah semua perasaan tumpah dari dada Hermione. Semuanya ia curahkan pada ibu yang amat ia sayangi itu.
Semua. Dari mulai awal ia kembali bertemu dengan Draco Malfoy, ketidak setujuan Harry dan Ron, sampai skandal yang ia dengar dan segala yang berkecamuk dihatinya. Ia juga menyerahkan surat dari sang pangeran Slytherin untuk dibaca sendiri oleh ibunya.
"Kau akan baik-baik saja, sayang. Kau akan menemukan seseorang yang lebih baik suatu saat nanti. Mum yakin akan hal itu. Mungkin sekarang belum saatnya."
Belum saatnya.
Hermione memeluk ibunya erat. Tidak tahu akan jadi apa jika ia tidak mengembalikan ingatan orangtuanya. Ia merasa sangat bersyukur masih bisa berada disisi mereka berdua. Meski segala yang terjadi sempat meruntuhkan pertahanannya.
.
3 tahun kemudian
Gadis dengan rambut terurai panjang itu sedang berjalan dijalanan Diagon Alley saat angin musim dingin berhembus membekukan. Ia terus melangkahkan kakinya diantara salju yang menumpuk dijalan menuju sebuah kedai minuman didekat toko alat-alat Quidditch setelah melirik etalasenya sesaat.
Ginny Weasley telah berusia 20 tahun saat ini. Gaya berpakaiannya juga jauh berubah dari sebelumnya. Ia tadi sedang akan mencoba gaun pengantin yang akan ia kenakan beberapa minggu lagi di pelaminan bersama Harry Potter saat seekor burung hantu mendarat dibibir jendela kamarnya dan membawa sebuah surat untuknya.
Tangan Ginny berhenti diudara saat akan membuka pintu kedai. Seseorang membukakan pintu untuknya dari dalam.
"Terima kasih." Katanya pada seorang pelayan dengan baju bergaya Skotlandia kental.
Pengirim surat itu menyuruhnya untuk berkunjung ke kedai ini. Bukan tanpa alasan tentunya. Dengan keengganan yang luar biasa, Ginny beranjak dari The Burrow untuk menemuinya.
Orang itu ada dibagian pojok kedai. Sedang menikmati pemandangan luar jendela yang sebenarnya sama sekali tidak menarik. Dari sana Ginny tahu ia sedang dirundung beban pikiran. Rambut pirang platina cowok itu membuat Ginny ingin marah. Tapi sekuat tenaga ia menahannya.
"Ada apa kau memanggilku kesini, Malfoy?"
Draco Malfoy mengalihkan pandangannya menuju ke gadis yang muncul dibelakangnya. Kentara sekali gadis itu tidak tulus datang menemuinya. Tapi ia tidak peduli.
"Kau tidak mau duduk dulu?" Draco menyindir Ginny dengan melirik kursi kosong disekitarnya. Ginny pun memilih duduk dihadapan cowok itu dan memesan segelas besar minuman hangat lalu memandang Draco kesal.
"Kalau kau tidak juga mau segera berbicara padaku ada apa, aku akan pergi."
Draco terkekeh pelan, "Baru datang kau sudah kesal seperti itu."
"Aku tidak pernah melupakan fakta skandal kotormu itu, Malfoy!"
Cowok itu terdiam, sama sekali tidak melawan, "Itulah yang akan kubicarakan hari ini."
Skandal Draco Malfoy dan keruntuhan kerajaan bisnis keluarganya, sudah menjadi rahasia umum sejak Draco tidak kembali ke Hogwarts untuk menyelesaikan sekolahnya. Salah satu penyebab tersebarnya kabar itu jelas adalah karena pertengkaran Draco dan Ginny beberapa waktu sebelumnya. Diantara itu semua, Ginny cukup heran dengan sikap Hermione yang seolah tak acuh dengan segala pemberitaan. Semua tentang sang pewaris tahta Malfoy itu bahkan beberapa kali dimuat di Daily Prophet. Hermione dengan tenang terus menata pendidikannya tanpa menghiraukan apapun itu sampai ia bisa lulus dengan menyandang peringkat pertama.
"Apa tepatnya yang akan kau bicarakan?"
Draco menyeruput minumannya lalu berdeham pelan, "Aku sudah membersihkan namaku dengan susah payah selama 2 tahun terakhir dari segala pemberitaan itu."
"Lalu?"
"Aku meminta padamu untuk tidak lagi mengungkitnya. Kau tahu kan, bahwa penyebab ini semua adalah kau sendiri?"
Ginny tersenyum sinis, "Ya. Dan aku cukup senang bisa membongkar keburukanmu."
"Kuharap kau hentikan semuanya. Aku bisa pastikan tidak akan bertindak tak wajar lagi."
"Apa jaminannya?"
Draco terdiam. Cukup lama. Apa jaminannya? Bisakah ia menjamin dirinya tidak akan berbuat seperti dulu lagi? Bisakah ia menghindari saat-saat se-frustasi itu lagi?
Ginny menggeleng-geleng menang, "Tidak ada yang bisa menjaminnya, kan? Malfoy?"
Kini giliran Draco yang menggeleng, "Memang tidak ada jaminannya. Karena semua ini tidak bisa dilihat, tapi harus dirasa. Kau tidak tahu bagaimana aku menyesal telah melakukan itu semua. Terlalu bodoh untuk menerima tugas tidak masuk akal dari seorang yang menyebut dirinya Pangeran Kegelapan, terlalu bodoh untuk akhirnya frustasi dan berdampak pada masalah financial keluargaku. Kau tidak akan pernah tahu rasanya, Weasley. Penyesalan itu."
Gadis itu dengan serius memperhatikan cowok didepannya. Ternyata benar yang ia dengar beberapa waktu terakhir ini, Draco Malfoy sudah berubah. Setidaknya saat ini ia mulai memiliki otak yang bisa dipakai untuk berpikir dan berbicara sedikit lebih bijak. Ginny mengalihkan pembicaraan, dalam diamnya ia berjanji tidak akan mengungkit masalah yang sudah lalu itu. Lagipula sudah lama tidak ada lagi kasak-kusuk tentang berita tersebut.
"Kau masih sendiri, Malfoy? Atau sang pewaris tahta sudah mendapatkan calon pendampingnya?"
Draco menggeleng, tidak mau membahas hal itu, "Dan kau sendiri? Dengar-dengar kau akan segera menjadi Mrs. Potter, huh?"
Hujan salju mulai turun diluar sana seiring senyum Ginny yang mengembang. Gadis itu tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya soal pernikahan. Tapi ia berusaha fokus pada pertanyaan yang ia ajukan, yang belum dijawab oleh Draco.
"Kau masih memikirkan Hermione. Ya kan?"
Cowok itu menegang dikursinya. Menatap turunnya salju diluar sana untuk mengalihkan perhatian. Ia masih belum siap dengan percakapan soal Hermione. Dengan siapapun itu. Untuk beberapa saat Ginny tidak berani memecah kesunyian diantara mereka. Membiarkan Draco bergumul dengan pikirannya sendiri. Sampai akhirnya cowok itu membuka mulutnya. Berbicara.
"Aku sudah berjanji tidak akan mengganggunya lagi."
Ginny akan membuka mulutnya untuk menanggapi, tapi semua kalimat ia telan lagi dan lebih memilih diam sebentar seraya mengamati perubahan raut wajah cowok didepannya. Setelah cukup lama, Ginny pun berbicara.
"Apa gunanya janji itu jika kalian tidak bahagia?"
Draco mengernyit, "'Kalian'?"
Gadis itu mengangguk, "Kau dan Hermione, tentu saja. Ada satu hal yang harus kuceritakan padamu." Draco membetulkan posisi duduknya bersiap memperhatikan. Sangat tertarik dengan apapun itu cerita yang akan disampaikan Ginny, "Sudah beberapa waktu terakhir ini Viktor Krum memberi sedikit perhatian lebih pada Hermione. Lagi."
Ekspresi Draco tidak berubah. Ia hanya menambah dengan menaikkan satu alisnya. Tentu saja ia tahu yang terjadi antara Viktor dan Hermione saat tahun keempat mereka di Hogwarts. Siapa yang tidak tahu? Viktor yang seorang pemain Quidditch yang dikejar-kejar seluruh gadis di sekolah itu, memilih Hermione sebagai pendampingnya di Yule Ball Turnamen Triwizard saat itu. Dan bukan lagi rahasia jika memang terjadi sesuatu diantara mereka.
"Viktor mengiriminya bunga, dan beberapa kado serta beberapa kali mengunjungi rumahnya. Tapi Hermione tidak pernah tertarik dengan itu semua. Bahkan satu hari ia pernah membiarkan Viktor hanya berbincang dengan ibunya sementara ia sibuk membaca buku dikamar."
Ada yang aneh dalam cara Ginny menceritakan semua itu. Ginny menatap mata Draco penuh harap. Berharap Draco sedikit merespon akan adanya kesempatan untuknya. Tapi yang ia temukan dari cowok itu malah sebuah kernyitan didahi.
"Lalu kenapa kau menceritakannya padaku? Memang apa hubungannya cerita itu denganku?"
Ginny langsung menepuk dahinya sendiri, "Aku tahu kau hanya berpura-pura tidak tahu, Malfoy. Tapi tolong jangan terlalu berlebihan."
"Aku sudah berjanji, Weasley."
"Tapi kau masih mencintainya, kan? Begitu pula dengan Hermione." Kata Ginny, "Meskipun ia tidak pernah mengatakannya padaku secara langsung, aku tahu –Oh jangan menyelaku dulu, Malfoy-" Ginny mencegah Draco saat cowok itu sudah hampir membuka mulutnya untuk memotong kalimat Ginny, "Aku tahu karena aku sahabatnya. Aku tahu seperti Hermione tahu apa yang kurasakan terhadap Harry meski aku tidak mengatakannya. Aku tahu. Ia tidak lagi bisa menerima Viktor karena ia masih memikirkanmu. Ia lebih memilih menyibukkan diri dengan pekerjaan barunya di Kementrian ketimbang mencari calon pendamping karena hanya kau yang ada diotaknya."
Draco baru ingat bahwa Ginny sebegitu cerewetnya. Sama persis seperti Hermione.
"Ah, SIAL!" ia mengutuki otaknya yang menyebut nama gadis itu lagi.
"Lalu kau memungkiri itu semua hanya karena kau sudah berjanji? Astaga, Malfoy. Aku tidak tahu bahwa kau ternyata sepicik itu. Lagipula apa sih yang membuat kalian tidak mau meneruskan ini semua?"
Cowok itu terlihat lelah. Ia mengusap dahinya yang putih pucat sambil mendengarkan keriuhan di kedai itu. Ia melirik jam, sudah hampir 3 jam mereka berdua berada disana, memperdebatkan hal-hal dari masa lalu. Ginny seolah tahu apa yang dipikirkan Draco. Cara bicaranya memelan.
"Perjuangkan dia. Aku tahu ini juga gara-gara aku serta Harry dan Ron. Tapi mereka akan menerimanya suatu hari. Aku yakin. Mereka sudah dewasa dan tidak lagi sepantasnya membatasi ruang berjalan Hermione. Dan juga kau."
"Terima kasih, Ginny." Ginny tersenyum saat Draco menyebut nama depannya. Menandakan permusuhan mereka sudah usai, "Tapi aku belum yakin. Aku sudah cukup sering menyakitinya."
Ginny memandang mata biru-kelabu Draco lekat-lekat lalu tersenyum, "Aku punya ide."
sengaja aku potong dulu. hehehehe :)
saran dan kritik tentang chapter ini dan sebelumnya sangat diterima dengan lapang :)
spesial terima kasih untuk yang sebelumnya sudah mau mereview:
Lily love snowdrop, cedmione nyasar, PureDraconis87, feltonmalfoy, lonelyclover, yowkid, augusta regina, hategracee, atacchan, luna malfoy, Ribella Lilt, avissky, dan chachacyrus.
merci beaucoup :))
selamat menunggu chapter 9. lalala~ :D
