Disclaimer: all Harry Potter story and characters are belongs to JK. Rowling.
Warning: OOC, typo, lebayness, sinetroness, anehness, gajelasness, ganyambungness, dll.
Ginny tidak bisa berhenti mondar-mandir didalam kamarnya. Gadis itu sudah mengenakan gaun pengantin berwarna putih cemerlangnya yang dihiasi payet dibeberapa sisi. Ia merasa bahagia tapi juga gugup dalam waktu bersamaan.
"Muuum…"
Terdengar derap langkah dari luar dan suara pintu terbuka. Mrs. Weasley muncul dibalik pintu kamar Ginny dengan gaunnya sambil tersenyum was-was.
"Ada apa, Ginny sayang?"
"Apa Hermione belum datang?"
Mrs. Weasley tersenyum sedikit lebar, "Kau tenang saja. Ron sudah menjemputnya. Sebentar lagi ia pasti sampai."
Ginny mengangguk-angguk. Ia ingin segalanya sempurna. Termasuk kedatangan para sahabat lengkapnya, "Baiklah. Kalau dia datang. Tolong minta dia segera kemari, Mum."
Kini Mrs. Weasley yang mengangguk menyanggupi permintaan putrinya lalu menghilang dibalik pintu. Ron berangkat setengah jam yang lalu dengan mengendarai Ford milik George menuju rumah Hermione setelah menjemput Lavender terlebih dahulu. Ron dan Lavender juga dalam rencana pernikahan mereka, namun harus rela dilompati oleh sang adik yang rencananya sudah 90% matang waktu itu.
Gadis itu melihat keluar jendela. Melihat segala persiapan yang dilakukan oleh keluarganya untuk pesta pelepasan dirinya pada Harry. Ia tersenyum. Harry sendiri sedang didalam kamar tamu The Burrow dan mereka berdua dilarang berjumpa sampai acara pemberkatan pernikahan mereka. George dan Ayahnya sedang menata meja dengan ayunan tongkat sihir mereka sementara Angelina Johnson yang sedang hamil besar duduk ditemani Lavender yang sedang merangkai bunga. Keduanya sudah memakai gaun berwarna peach lembut selutut, seragam dengan keluarga dan sahabat mempelai.
Sahabat-sahabatnya. Keluarga besarnya. Ginny tersenyum lebih lebar.
Tapi masih ada yang mengganjal dipikirannya. Hermione. Tentu saja, pikirnya sendiri. Itulah yang harus ia lakukan sekarang. Melaksanakan rencana untuk Hermione yang sudah ia rancang masak-masak bahkan sampai harus menciptakan sedikit –sebenarnya tidak sedikit- pertengkaran dengan Harry dan Ron.
Ini tidak boleh gagal.
Rencana untuk Hermione dan pernikahannya harus sama-sama berjalan baik hari ini.
Ginny mendengar seseorang membuka pintu kamarnya. Ia berbalik dan berteriak girang saat melihat siapa yang datang.
"HERMIONE!" dua sahabat itu saling menubruk satu sama lain dan berpelukan erat. Seperti teman lama yang jarang bersua. Mereka tertawa-tawa.
"Kenapa kau lama sekali sih? Ford milik George tidak ngadat kan?"
Hermione terkekeh dan menggeleng, "Tidak. Hanya saja jarak rumahku dan The Burrow memang sejauh itu kan."
Ginny mengangguk dan mengamati sahabatnya itu dari bawah ke atas. Hermione hanya mengenakan kaus dan jeans serta sepatu balet dan menenteng tas kecil ditangannya. Rambutnya digelung seadanya.
"Mana gaunmu?"
Hermione lagi-lagi tertawa lalu mengacungkan tas kecilnya.
"Ah! Benar. Kau memang suka sekali dengan mantra perluasa-tak-terdeteksi itu." Ujar Ginny sambil lalu.
"Mantra itu brillian, Ginny! Aku bisa langsung pergi ke satu undangan pernikahan setelah pulang dari kantor tanpa harus bingung dimana menaruh segala perlengkapan kerjaku. Sangat praktis."
Ginny menggiring Hermione untuk duduk dipinggir tempat tidurnya.
"Oh sudah cukup bicara tentang mantranya." Suara Ginny terdengar amat bosan, "Sekarang saatnya bersenang-senang. Tapi ngomong-ngomong, kau lebih baik mengganti bajumu dulu. Kau tahu kan, aku mau semuanya perfect."
Gadis itu berdiri lagi, "Baiklah, tuan putri." Ia mengeluarkan gaun dan sepatunya dari dalam tas mungil itu dan langsung mengganti penampilannya didepan Ginny.
"Nah, selesai!"
Ginny menggeleng-geleng dan ikut berdiri. Ia mengambil beberapa aksesoris untuk rambut Hermione dan mulai menata rambut sahabatnya itu dengan cekatan.
"Sebenarnya yang mau menikah, kau atau aku sih?" protes Hermione selagi Ginny mengutak-atik rambutnya.
"Sudah.. Tidak perlu banyak bicara. Semua yang hadir dalam pestaku harus terlihat memukau. Nah, sempurna!"
Tangan Ginny mendekap bahu Hermione mendorongnya menuju cermin didekat tempat tidur. Refleksi diri Hermione terlihat sempurna kecuali satu hal.
"Ah! Kau perlu sedikit make up di wajahmu." Ginny kembali menguasai Hermione dengan mendudukkannya di kursi riasnya dan memoleskan make up dengan luwes diwajah cantik nona Granger. Hermione menurut saja daripada Ginny marah-marah tak karuan yang langsung membuatnya menyerupai Mrs. Weasley. Gadis itu geli sendiri membayangkannya.
Setelah selesai, mereka berdua berpindah duduk kembali ke pinggir tempat tidur Ginny yang nyaman. Kini Hermione yang menyapukan pandangannya kepada Ginny dari bawah ke atas.
"Wow.. kau cantik sekali dalam gaun itu, Ginny."
Ginny tidak bisa menyembunyikan senyum lebarnya, "Gaun ini memang sempurna. Saat pertama kali melihatnya saja, aku langsung jatuh cinta. Dan yang ajaib, gaun ini pas sekali ditubuhku."
Mata Hermione berkilat-kilat tak percaya, "Kau benar-benar beruntung. Dan Harry belum melihatnya?"
Ginny menggeleng.
"Oh, dan ia akan sangat terpukau melihatmu dalam gaun luar biasa ini!" Hermione kini sangat antusias.
Diluar sana terdengar suara para undangan mulai datang. Terdengar juga suara Ron, George, dan Neville sedang mengantar orang-orang ke kursi mereka.
"Lalu kapan kau akan menyusulku, 'Mione?"
Terkejut, Hermione memicingkan matanya, "Apa maksudmu dengan menyusul? Bukankah Ron dan Lavender yang akan menikah terlebih dahulu?"
"Ya… memang. Maka dari itu aku bertanya padamu. Harry dan Ron akan menikah. Dan kau? Tidak adakah pria yang menarik ditempat kerjamu? Di Kementrian?"
Suara-suara diluar makin riuh, sepertinya mulai banyak orang yang datang.
"Aku belum berpikir kesana, Ginny. Aku lebih fokus ke pekerjaanku saja sekarang."
Ginny mengangguk-angguk. Mencari celah agar rencananya bisa masuk dalam percakapan ini, "Bagaimana dengan orang dari masa lalu? Viktor atau…." Ginny membiarkan kalimatnya menggantung. Ia ragu untuk meneruskan menyebutkan nama kedua. Untung saja Hermione belum menyadari arah pembicaraan ini.
"Viktor? Oh tidak, Ginny. Sama sekali tidak." Hermione menggeleng-geleng keras, "Kami hanya berteman sekarang. Tidak lebih."
"Baiklah..baiklah. Aku mengerti. Hanya saja setelah semua perhatiannya akhir-akhir ini padamu, sedikit aneh bila kau tidak meresponnya. Kentara sekali ia masih mengharapkanmu."
Hembusan napas keras Hermione tidak begitu terdengar diantara suara ramai diluar. Ginny memilih menghentikan percakapan yang membuat sahabatnya tidak nyaman itu dan menyuruh Hermione bergabung dengan keluarga dan sahabatnya diluar sementara Ginny akan bersiap berjalan menuju altar.
"Semoga sukses, Ginny." Ucapan terakhir Hermione saat akan keluar dari kamar itu sedikit menenangkan Ginny yang merasa jantungnya hampir meloncat keluar dari tubuhnya karena berdegup terlalu kencang.
.
Terlepas dari banyaknya undangan yang hadir siang itu, Keluarga Weasley terlihat sangat kompak dengan baju yang seragam. Hermione dan Luna termasuk salah dua diantaranya karena merupakan sahabat terdekat keluarga darah murni itu. Begitu pula Lavender Brown yang sudah 2 tahun terakhir berpacaran dengan Ron.
Hermione menghampiri mereka semua dan langsung disambut pelukan dimana-mana. Ia mengelus perut Angelina yang membesar saat istri George itu memeluknya.
"Sebentar lagi aku akan menjadi bibi. Aunt Hermione. Ah! Terdengar aneh, Angelina." Mereka lalu tertawa bersama.
"Kau lebih cocok jadi Mum Hermione sepertinya." Kata Angelina menggoda, "Lalu kapan itu akan terjadi?"
Sambil berpura-pura mengamati sekitar, Hermione hanya menyunggingkan senyum tipis. Ia tidak tertarik dengan perbincangan semacam ini.
"Nanti, Angelina." Ia selalu mencoba beralih dari semua hal tentang pasangan, pernikahan, anak. Ia belum siap. Mungkin masalah waktu.
Gadis itu lalu mengambil tempat disebuah kursi yang mengelilingi meja dengan lapisan taplak putih bersih saat acara akan dimulai. Ginny masuk dengan menggandeng Arthur Weasley yang terlihat muda dalam jas pesta berwarna emas. Seluruh hadirin berdiri dan mengikuti prosesi dengan hikmat.
Di altar, Harry Potter menunggu dengan senyum lebar menghiasi wajahnya. Jas hitam konvensional terlihat sangat cocok dengannya.
Ginny menoleh kesemua sahabatnya. Tersenyum. Campuran antara antusias dan gugup berlebihan. Seolah bunga yang ia genggam belum cukup mengatasi rasa gelisahnya. Ia lalu terlihat menaikkan alisnya untuk menyapa seseorang yang berjarak beberapa meja dibelakang Hermione. Hermione menoleh ingin tahu.
Dadanya sesak melihat mata biru-kelabu jauh disana meski mata itu sama sekali tidak menangkap keberadaan si mata coklat. Rambut pirang platina yang tertata rapi, tubuh tinggi atletis yang terbalut jas pesta berwarna putih eksklusif, serta wajahnya yang seolah terpatri seperti itu. Angkuh. Namun semakin memperlihatkan sisi menariknya.
Tidak.
Kenapa Draco Malfoy bisa ada disini? Sejak kapan Ginny, Harry, dan Ron berbaikan dengan Draco? Apa saja yang sudah ia lewatkan? Apa lagi yang sudah ia lewatkan?
Ia cepat-cepat mengalihkan pandangannya sebelum cowok itu menyadarinya dan mengikuti sisa prosesi pernikahan dua sahabatnya itu sambil menenangkan diri sendiri.
Setelah prosesi ini selesai, segeralah pergi, Hermione. Atau kau akan terjebak lagi. Lupakan dia.
Scenario yang sempurna itu berputar terus diotaknya. Lamat-lamat ia mendengar kedua mempelai mengucapkan "I do." Dan berciuman.
Cepatlah!
"Para hadirin diminta duduk kembali." Ujar Fleur yang menjadi MC disamping altar.
Sudah hampir kaki Hermione menjejak tanah untuk menopang tubuhnya berdiri, saat tiba-tiba Luna dan Neville menghampiri mejanya.
"Kau mau kemana? Kan acara belum selesai?" tanya Luna lirih dengan sukses menghentikan aksi-kabur Hermione.
"Ya, Hermione. Lagipula setelah ini kan acara dansa. Menyenangkan pasti." Sahut Neville. Hermione berusaha tersenyum semanis yang ia bisa saat itu.
Ia kembali duduk seraya mengamati pasangan Neville-Luna memakan pudding yang muncul secara tiba-tiba di meja. Dan sepertinya itulah yang sedang dilakukan semua orang. Mau tak mau gadis itu ikut mencomot satu pudding dari piring.
Lalu seolah waktu bergerak cukup cepat saat para undangan pria berdiri dan mengajak para wanita berdansa mengikuti kedua pengantin yang telah mendahului. Begitu pula Neville dan Luna. Hampir semua. George berdansa bersama sepupu Veela Fleur sementara Angelina duduk di salah satu kursi dengan tangan diatas perutnya. Ia jelas tidak bisa berdansa dengan keadaan seperti itu.
Hermione celingukan dan bersyukur mengetahui bahwa Draco menghilang entah kemana. Yang jelas ia tidak menemukan si rambut pirang di lantai dansa ataupun duduk disalah satu kursi dimanapun. Ia bernapas lega.
Angin yang berhembus menembus tenda cukup menyenangkan. Ia mengambil buku didalam tas mungil yang ia bawa dan membacanya dengan backsound musik dansa.
"Tidakkah ada tempat lain untuk membaca?"
Hampir saja Hermione melempar buku yang ia pegang saking kagetnya dengan suara yang tiba-tiba muncul. Ia menurunkan buku itu untuk melihat siapa berbicara dan ia kini benar-benar menjatuhkan bukunya.
Tangan putih pucat itu terulur mengambil buku tebal ditanah halaman The Burrow lalu menaruhnya disisi meja dekat Hermione.
"Haruskah kau membaca disaat seperti ini? Di pernikahan sahabatmu?" Draco melanjutkan pertanyaannya yang belum dijawab.
Bukankah ia tadi sudah menghilang? Kenapa ia masih ada disini?
"Err… Kurasa Ginny tidak akan masalah." Entah angin apa yang membuat Hermione menjawab pertanyaan Draco. Hermione sendiri kaget dengan mulutnya yang seperti berbicara dengan sendirinya. Sontak cowok itu tersenyum lebar. Merasa menang, ia mengulurkan tangannya.
"Shall we?"
Hermione tahu maksud uluran tangan sang pangeran Slytherin. Ia ragu. Antara ingin dan mempertahankan diri.
Draco menaikkan satu alisnya meminta keputusan. Gadis itu benar-benar ingin meraihnya. Meraih tangan pucat yang terulur didepannya dan mengabaikan akal sehatnya. Ia tak peduli. Masih perlukah akal sehat untuk perasaan ini?
Akhirnya tangan kiri Hermione menjawab segalanya. Terulur meraih tangan kanan Draco dan berjalan beriringan menuju lantai dansa mengabaikan tatapan aneh dan takjub dari yang lain. Ginny menyodok rusuk Harry yang berdiri disampingnya dengan senyum lebar. Harry memicingkan mata masih belum nyaman dengan pemandangan itu namun lambat laun senyum terbentuk dibibirnya. Ia bisa melihat keduanya malu-malu, tapi jelas inilah yang mereka inginkan selama ini.
Mereka ingin memperlihatkan perasaan yang tumbuh mengakar dalam diri mereka dengan leluasa. Ingin menunjukkan bahwa cinta pada akhirnya menyatukan semua perbedaan. Harry bisa melihat diujung sana Ron juga tidak menyembunyikan senyum saat melihat sahabat perempuannya itu bergerak seiring dengan musik bersama sang Slytherin.
Musik yang lembut itu sungguh menghanyutkan, membuat Harry kembali menggandeng Ginny ketengah lantai dansa dan disusul oleh yang lain, berpasang-pasangan bergerak mengikuti irama musik.
Hermione melingkarkan kedua tangannya dileher Draco sementara sang pangeran memeluk pinggangnya. Bergerak bersama layaknya setiap gerakan telah dirancang sebelumnya. meski hanya gerakan-gerakan kecil, mereka menikmati saat-saat ini.
Namun perlahan Hermione seolah terbangun dari ketidaksadarannya menerima ajakan dansa Draco. Ia melepas pelukannya. Draco tahu, tahu gadis itu akan pergi. Ia menahan tangan Hermione yang mulai membawa serta tubuh gadis itu menjauh.
"Jangan pergi, Hermione."
Mata biru kelabu itu memohon dengan sangat. Antara yakin dan tidak. Ia menyentakkan tangan pucat itu namun tidak ada yang terjadi. Genggaman Draco terlalu kuat.
"Aku tidak bisa, Draco."
"Apa lagi yang membuatmu tidak bisa? Kau kira bagaimana aku bisa ada disini kalau Potter dan Weasley tidak mengijinkannya?"
Hal itu membuat Hermione terdiam sesaat, "Jadi…"
Draco mengangguk memotong. Lalu menceritakan semuanya,
Bagaimana Ginny berkorban untuknya dan bertengkar berhari-hari dengan Ron dan Harry hanya untuk meminta mereka memaafkan Draco dan membuat mereka yakin bahwa sang Slytherin telah sepenuhnya berubah.
Bagaimana pada akhirnya mereka mengalah dan menerima kedatangan Draco ke The Burrow untuk memohon maaf dan menyatakan pada mereka ketulusan perasaannya pada Hermione meski masih terlihat sedikit raut tidak setuju di wajah keduanya.
Tapi mereka menerima dengan lapang. Mungkin takdir sudah menuliskan ini semua. Mereka mengalah, menyetujui rencana yang dirancang dengan seksama oleh Ginny. Mempertemukan Draco dan Hermione di acara pernikahan.
Selama dan setelah Draco bercerita, Hermione membelalak tak percaya.
"B..benarkah? mereka…."
Draco mengangguk lagi. Meletakkan tangannya dipipi gadis itu, "Maka dari itu, tolong jangan pergi lagi."
Hermione hendak mengatakan sesuatu, tapi tidak jadi. Sebagai gantinya gadis itu tersenyum. Menempelkan keningnya kekening cowok dihadapannya. Ia bisa merasakan tiap hembusan napas, matanya terpejam.
"Aku mencintaimu, Hermione."
Lagi. Draco mengucapkannya lagi masih dengan kening menyatu dengan milik Hermione. Mata gadis itu masih terpejam dan juga bibirnya masih menyunggingkan senyum. Draco mendekat dan menciumnya.
Hermione kaget tapi sama sekali tidak menolak.
"Aku juga mencintaimu, Draco."
lalalala~
so, here it is. the 9th chapter. finally! that's why I rated in "T" :D
sedikit kesel sama diri sendiri sebenernya karena chapter ini ga memuaskan mungkin buat kalian dan pasti (aku bisa memastikan) kalo kalian akan bilang, "Yaaaaahhhh begini doang?" :(
tapi yang aku sadar dan makin bikin aku mengutuk diri sendiri adalah:
TERNYATA JUDULNYA SAMA SEKALI GA COCOK!
oke, ini parah.
so, give me the review. your review.
saran, kritik, apapun. please
merci :)
p.s. akan ada chapter 10 yang bakal jadi epilog. sedikit sabar ya ...
