Bolehkah aku bertanya sekali saja pada Tuhan?

Apakah keberadaanmu ini hanya sebuah fiksi? Sebuah bayangan semu tak berbentuk, tak bernyawa dan tak bisa di sentuh?.

Tapi kenapa aku merasa dirimu begitu nyata di mataku?

Begitu hangat di pelukanku?

Dan detak jantungmu dapat ku dengar.

Kau ini sesuatu yang nyata atau tidak? Tolong siapa saja jawab aku.

Karena sebuah jawaban tentang kamu lah yang menjadi penunjang hidupku.

.

.

Fallen1032

Present

.

.

"Saranghae"

"Saranghae"

"Saranghae"

Sebuah bisikan lirih terdengar dari kejauhan. Tak begitu jauh sebenarnya, kata-kata itu tertangkap jelas di pendengaran karena orang yang mengucapkannya hanya berjarak lima langkah dari tempat ku berdiri.

Iris mataku menatap lekat pada pemandangan janggal yang terlihat. Dua orang pria sedang berdebat, tidak, lebih tepatnya berbincang dari satu sisi.

Mengapa satu sisi?

Karena seorang lagi hanya tersenyum sinis menatap pemuda yang jauh lebih tinggi darinya berkata 'Saranghae' dengan air mata yang mengalir turun dari kedua matanya. Tangan pemuda tinggi itu begitu kuat mencengkram pergelangan tangan pemuda yang lebih pendek darinya.

"Ku mohon, jadilah milik ku, hanya milik ku" rancau si pemuda bertubuh tinggi, sebelah tangannya mengelus secara seduktif pada pipi chubby pemuda yang lebih pendek.

"Akan ku lakukan apapun. Apapun yang kau inginkan akan kuberi. Tapi dengan sangat, kumohon, cintailah aku, lihatlah aku yang ada di depanmu, dan jangan biarkan siapapun menyentuhmu selain aku" wajah pemuda bertubuh tinggi semakin mendekati wajah pemuda yang lebih pendek, berusaha mengeliminasi jarak di antara keduanya, "ku mohon, Hyung" seakan tak mengijinkan pemuda bertubuh pendek untuk segera menjawab, pria bertubuh tinggi melumat pelan bibir pemuda bertubuh pendek.

Hei!

Apa sebenarnya yang terjadi?

Baru 2 hari aku datang ke korea, tapi kenapa di suguhi pemandangan ganjil seperti ini, di tengah jalan pula.

Tak sadar mataku berkedip cepat, mungkin 5 kedipan per detik. Karena ini ku lakukan untuk menyakinkan pemandangan yang ku lihat sekarang adalah nyata.

.

Plak

.

Sebuah bunyi tepisan secara kasar oleh pemuda bertubuh pendek terdengar dan menyadarkan ku secepatnya. Tak ragu si pemuda bertubuh lebih pendek menepis kasar tangan pemuda bertubuh tinggi yang menyentuh wajahnya. Tatapan mata sinis dan mengejek tercipta tak ragu di raut wajah pemuda bertubuh pendek.

"Apa maksudmu ini?" Baru sekarang ku dengar ia berbicara. Kata-kata yang terlontar dari bibir mungil miliknya begitu sinis.

"Aku mencintaimu, Hyung" jawab pemuda bertubuh tinggi.

"Tapi aku tidak" bisa terlihat tubuh pemuda bertubuh tinggi sempat menegang.

"Bukankah aku pernah katakan. Hubungan kita tak lebih dari kata 'Roommate', 'Hyung-Dongsaeng' dan 'Teman sex' saja" di lepaskan secara paksa cengkraman tangan pria bertubuh tinggi dari pergelangan tangannya, "dan satu lagi. Aku bukan milik siapapun, kalau kau bersikeras meminta hal itu, maka hubungan kita berakhir sampai sini" sebuah tepukan ringan di pipi di lakukan pria bertubuh pendek pada pria bertubuh tinggi, senyum sinis tak pernah lepas dari wajahnya.

Sebelum pria bertubuh pendek membalikkan tubuhnya dan berjalan, pria bertubuh tinggi meraih lengan pria bertubuh pendek.

Mataku membulat sempurna saat melihat pria bertubuh tinggi jatuh bersujud di bawah kaki pria bertubuh pendek. Di rengkuh kedua betis pria bertubuh pendek dan menangis terisak, kata-kata 'jangan', 'maaf', 'ku mohon', selalu ia ucapkan berkali-kali di tengah sesugukannya, "ku mohon jangan lakukan itu, aku terima apapun yang mau kau lakukan, tapi ku mohon jangan pergi dariku, jangan pernah, apalagi memutuskan hubungan kita, ku mohon" pintanya dan mempererat rengkuhannya pada kedua betis bertubuh pendek.

Hei, apa semua ini benar?

Ini bukan sedang pengambilan adegan film drama gay kan?

Atau bukan jebakan acara variety pada pejalan kaki kan?

Sebuah seringaian kemenangan yang terbentuk jelas di wajah pria bertubuh pendek membuat tubuhku sekilas sempat bergidik ngeri.

"Asal kau tak meminta sebuah ikatan denganku, aku tak masalah menerimamu kembali, toh aku suka service mu di tempat tidur, Cho Kyuhyun" ucap pria bertubuh pendek.

Pria bertubuh tinggi, atau yang saat ini sudah di ketahui identitasnya adalah pria bernama Cho Kyuhyun mendongak, menatap ke dalam iris mata berwarna hitam kecokelatan pria bertubuh pendek.

"Apapun" kini ia berdiri, "asal kau tetap bersamaku" di usap pelan kedua pipi chubby pria bertubuh pendek, "Saranghae, Lee Sungmin" ucapnya dan mengecup bibir milik Lee Sungmin.

Aduh!

Mataku!

Ku kucek kedua mataku berusaha membersihkan dari noda-noda tak terlihat gara-gara melihat pemandangan ganjil itu. Dan semakin ku kucek lebih gara-gara mataku tak sengaja bertemu tatap dengan mata pria bertubuh pendek, Sungmin.

Mata pria pendek itu, entah mengapa bagai menarik ku untuk terhipnotis oleh pesonanya.

Tidak! Tidak!

Apa yang ku pikirkan ini. Aku tak segila itu sampai tak sadar dia itu laki-laki!

Walau hubungan sejenis sudah jadi hal biasa di China, tapi secara pribadi aku menentang hubungan tak sehat seperti itu.

Gila!

Itu sangat gila!

Tak mau terus-terusan berdiri seperti kambing congek di tempat ini, dan menonton adegan tak seronok yang di sajikan dua pasangan gay itu, aku memilih berjalan melewati mereka, seolah-olah mataku tak pernah melihat mereka. Walau jujur saja, sekilas, hanya sekilas, mataku sempat melirik dan bertemu pandang sekali lagi dengan Sungmin. Tapi itu tak lama, karena aku segera menatap ke depan, aku tak sebodoh itu mau berlama-lama menatap dan terhipnotis oleh mata hitam kecokelatan milik Sungmin, tidak akan.

.

.

.

"Saranghae, Saranghae, Saranghae"

Kata-kata itu terus terputar berulang-ulang di benak.

"Apa sebenarnya cinta itu?"

"Apa begitu penting sampai seseorang dengan rela melepas harga dirinya?"

"Sampai seseorang dengan rela mengemis-ngemis seperti gelandangan?

"Dan, sampai seseorang di butakan dan tak sadar bila cintanya itu salah?"

"Cinta benar-benar aneh"

Ucapku sambil melangkahkan kaki di antara rumah-rumah lumayan mewah di sebuah perumahan di blok F.

"Cinta?"

"Huh. Cinta hanya sebuah omong kosong! Sebuah pikiran sesat dan semu, dan tak pernah abadi"

Kini kaki ku berhenti tepat di depan sebuah pagar rumah beraksen simple minimalis, dan terkesan tradisional.

"Cinta tak pernah ada. Munafik seseorang berkata aku akan mencintaimu selamanya", Di buka kaitan gerendel pagar. Saat pagar itu terbuka sedikit tapi sudah cukup untuk tubuhnya lewat, di tutup kembali pagar itu.

"Kata cinta hanya sebuah kata semu", Kakinya melangkah membawanya ke teras rumah. "Karena walau kata cinta di ucap berkali-kali, tak memastikan sebuah hubungan tetap erat dan bersama seperti sebuah janji omong kosong yang di ucap saat mengikat sumpah pernikahan", tatapan matanya melihat dan tak bergeming pada sebuah name plat yang di tempel tepat di bawah bel pintu. Hanya ada satu nama saja di sana, Hangeng.

Satu nama yang memaksa seseorang sadar bahwa hanya ada dia di rumah ini. Dan hanya dia yang tinggal di sana sendirian.

Salahkan saja hal ini pada kejadian 1 minggu yang lalu, saat secara resmi kedua orang tuanya bercerai, setelah hampir 1 tahun tak pernah tinggal satu atap.

Seperti kata yang di ucap sebelumnya. 'Kata cinta hanya sebuah kata semu, Karena walau kata cinta di ucap berkali-kali, tak memastikan sebuah hubungan tetap erat dan bersama seperti sebuah janji omong kosong yang di ucap saat mengikat sumpah pernikahan', seperti itulah gambaran yang terjadi di keluarganya. Kata cinta itu perlahan memudar di antara kedua orang tuanya sejak 5 tahun yang lalu, semenjak kedua orang tuanya menemukan cinta yang lain.

Ironis memang.

Tapi inilah kehidupan seorang Hangen, sebuah kehidupan yang memaksamu untuk berpikir ulang dan ulang tentang makna sebuah cinta.

Lebih baik tak pernah jatuh cinta kalau suatu saat cinta itu akan pudar.

.

.

.

Sebuah suara 'gedebuk' terdengar samar saat kaki ku menaiki tangga menuju lantai 2, kamarku.

Asal suara itu terdengar tepat dari lantai bawah.

Penasaran?

Tentu saja.

Siapa yang tak penasaran saat mendengar suara mencurigakan seperti itu saat kau tahu hanya kau sendiri penghuni rumah ini.

Perlahan, dan berusaha tak menimbulkan bunyi, ku langkahkan kakiku ke sebuah pintu yang di buat dari kayu. Warnanya sudah lumayan memudah, dan bau kayu terkuar jelas.

Oke, aku akui.

Baru 2 hari ini aku tinggal di rumah ini, ah, lebih tepatnya di korea.

Alasannya simple.

Karena aku tak minat untuk memilih tinggal dengan ayah atau ibuku pasca perceraian. Aku lebih memilih pergi ke tempat lain, menjauhi sosok mereka berdua. Dan Korea Selatan lah yang ku pilih.

Mungkin merasa tak ingin di bebani dan ingin bersenang-senang tanpa gangguan oleh 'anak' saat bersama kekasih atau selingkuhan masing-masing, dengan senang hati mereka mengabulkan keinginanku.

Huh, dasar orang tua tak memiliki hati. Lebih baik kalian mati saja.

Sorry, lupakan semua yang ku pikirkan tadi, aku tak benar-benar berharap mereka mati, kalau itu terjadi berarti siapa yang akan menanggung pengeluaran ku?.

Kembali ke awal.

Penasaran ku langkahkan kaki ku menuju pintu itu. Sebuah pintu yang kata pemilik sebelumnya tak pernah di buka dan tak pernah bisa di buka.

Membingungkan?

Aku juga berpikir begitu. Bagaimana mungkin ada orang bodoh yang membangun sebuah rumah tapi membuat sebuah ruangan yang tak bisa di buka. Leluconkah? Dan ternyata itu serius, karena pemilik rumah itu hanya seorang perantara, alias rumah itu sebenarnya bukan miliknya, tapi milik dari saudaranya yang telah tiada.

Sudahlah, seperti arah cerita ini semakin melantur kemana-mana.

Ragu ku julurkan tanganku untuk menyentuh ganggang pintu. Tapi belum sempat ku turunkan ganggang itu, aku teringat kembali perkataan pemilik rumah itu.

'Untuk apa ku buka kalau ini tak bisa terbuka' pikirku.

Ku hardikkan bahuku tak peduli dan memutar badan, berniat menjauhi pintu tersebut, tapi, niat itu batal karena suara 'gedebuk' itu kembali terdengar dari dalam pintu yang tertutup.

Hei, jangan salahkan aku karena benar-benar penasaran sekarang.

Kali ini entah dengan niat apa, ku beranikan diri menyentuh dan menurunkan ganggang pintu tanpa keyakinan sedikitpun kalau pintu itu akan terbuka.

.

Ceklek

.

Eh? Terbuka?

Entah keajaiban atau apa. Ternyata pintu itu terbuka.

Jangan-jangan pemilik itu menipuku, sampai bilang pintu ini tak bisa dan tak pernah terbuka.

Ragu ku buka lebih lebar pintu itu sambil berdoa, supaya bukan hal aneh-aneh yang ku temui kali ini. Cukup sudah mataku ternoda oleh adegan seronok tadi.

.

.

.


Baru sadar ini ff ke 5 ku XD

dan ff ke 3 ku yang berbeda cerita XD

Cerita ini ku dapat dari 2 inspirasi berbeda yang sebenarnya nyambung aja kalo di sambung-sambungi (?), tapi untuk sementara aku ga mau nyasih tau inspirasiku itu :P

Apa Sunbae-Sunbae sadar yang di awal cerita itu cerita tentang apa? #nunjuk2 bagian KyuMin

Yeiii! 100 buat Sunbae yang tahu jawabannya XD

yang ga tau, Elen cuma bisa cengar cengir sambil nunjuk2 ff Elen yang sebelum-sebelumnya XD

Oh ya! Ini sebenarnya ff hasil janjiku untuk Eonnie ku yang minta di buatkan couple ini, jadi Eonnie janjiku sudah selesai kan, yah walau ini ff belum selesai.

Untuk yang terakhir, terimakasih buat yang sudi buka halaman ini dan membacanya sampai selesai. Jauh lebih baik kalau Sunbae mau ngasih saran-saran untuk ku yang masih newbie ini.