Oke, Elen mau tegasin dulu sebelumnya disini yah. Supaya Sunbae yang baca ga bingung.

Hangen atau tokoh utama di sini bukanlah Hangen Super Junior. Tapi dia memiliki wajah, nama dan fisik yang sama. Tapi tentu aja Hangen Super Junior ada sendiri. Soalnya setting waktu ff ini Elen buat sama dengan setting waktu ff "Tonight". Jadi ga mungkin kan kok Hangen bisa ga kenal Kyumin, padahal Kyumin anggota Super Junior. Bingung? Sama Elen juga bingung jelasinya kayak apa (ToT), yang pasti ada 2 pemain yang punya nama sama seperti anggota Super Junior tapi bukan anggota Super Junior (tapi fisik dan wajahnya sama biar Sunbae ga bingung khayalnya XD).

Nah~

Di ff sebelumnya, ada beberapa Sunbae minta prekuelnya "Tonight". Jadi Elen pikir kasih dalam bentuk seperti ini. Prekuel dan sebuah cerita baru XD, bisa di bilang sekali tepuk dua tiga pulau di lampaui.

Oke deh, banyak bacot ga jelas Elen nih.

Langsung aja yuk.

Kecidot XP

.

.

Fallen1032

Present

.

Hanchul, Slight Kyumin

.

.

Pintu kayu yang selama ini tertutup akhirnya terbuka. Saat pintu itu terbuka lebar, satu kekecewaan ku rasa karena isinya hanya sebuah ruangan lenggang yang di tiap dinding-dinding bercat kusam terdapat rak-rak penuh dengan buku-buku bersampul tua. Ah jangan lupakan juga sebuah meja lengkap dengan kursinya yang terbuat dari kayu.

Aneh?

Tentu saja.

Siapa yang tak aneh kalau melihat ruangan seperti ini.

Begitu penuh dengan debu, sarang laba-laba, dan sinar matahari yang terhalang oleh korden berwarna hitam yang menutupi satu-satunya jendela yang menjadi akses masuk sinar matahari.

'Uhuk Uhuk Uhuk' nafasku sesak karena debu yang terlalu tebal. Tapi tetap saja tak menyurutkan rasa penasaranku tentang ruangan ini.

Ku dekap mulut dan hidungku dengan sebelah tangan, dan berjalan memasuki ruangan. Sebelah tanganku yang bebas berusaha menyingkirkan sarang laba-laba yang menghalangi jalan.

'Ruang apa ini?' Ku lihat seksama tiap sudut ruangan. 'Ruang baca?' Pikirku saat melihat tumpukan buku-buku yang tersusun rapi di rak-rak kayu.

Ku langkahkan kakiku menuju meja yang berada di tengah ruangan. Satu tanganku bertompang pada sandaran kursi kayu.

Saat tanganku menyentuh sandaran kayu itu, bunyi decit terdengar, dan 'brak', kursi kayu itu hancur.

Aku kaget, sempat melompat satu langkah kebelakang karena terlalu terkejut.

'Mungkin karena sudah di makan usia makanya lapuk?'

Karena pasokan oksigen yang semakin menipis, ku putuskan untuk secepatnya pergi dari sini, daripada aku terkena asma.

Satu langkah kaki ku baru bergerak. Ekor mataku menangkap sebuah bingkai foto yang kacanya tertutup oleh debu tebal.

Iseng ku ambil bingkai kayu itu dan menghapus debu yang ada.

'Kosong?' Gumamku sambil menaikkan satu alis. Saat aku sudah capek-capek mau membersihkan debu tebal yang menutup kaca bingkai foto, dan merelakan telapak tanganku kini kotor karena debu. Tapi apa yang ku dapat? Hanya sebuah bingkai foto yang tak berisi.

Geram ku hentakkan bingkai foto kembali ke atas meja.

Ah! Ruangan ini menyebalkan! Lebih baik aku memanggil cleaning service nanti.

Ku tarik pintu kayu bermaksud menutup. Tapi urung ku lakukan saat suara 'gedebuk' terdengar.

Cepat ku buka lebih lebar lagi pintu kayu yang sempat tertutup.

Ku pendarkan arah pandangan ku ke setiap sudut.

'Suara apa tadi? Menyebalkan! Aku tertipu!'

Saat ku palingkan wajahku, ekor mataku tak sengaja menangkap sebuah buku yang tergeletak di lantai.

'Bukannya tadi tak ada buku disana?'

Daripada penasaran ku ambil buku yang lumayan tebal dan membawanya keluar. Tak lupa sebelumnya ku tutup pintu itu.

.

.

.

"Aku tahu! Kau tak usah pura-pura khawatir denganku, cukup kau kirim dengan teratur saja biaya hidup ku maka aku takkan berkomentar apapun tentang selingkuhanmu itu"

"..."

"Tapi bukankah itu kenyataannya. Aku penasaran kapan kau akan menghubungiku untuk memberitahu kau akan segera menikahinya"

"..."

"Bukankah dari dulu kau sudah tak peduli denganku lagi. Kau lebih memperdulikan wanita itu dari pada istri dan anakmu sendiri"

"..."

"Akh, aku hampir lupa. Kau dan ibu sama saja. Lebih memperdulikan pasangan selingkuh masing-masing daripada aku, anakmu"

"..."

"Sudahlah. Bye!"

Telepon berbentuk touch scene yang ku genggam kini terlempar sembarangan ke sudut kamar saat sambungan panggilan terputus.

Dasar orang tua sialan! Seenaknya menghubungi hanya untuk hal bodoh seperti itu.

Dengusan dan geraman ku lakukan sebagai bentuk kemarahan.

Sebuah buku yang ku bawa keluar dari ruangan itu kini ku pandang.

Sampul hard cover yang tebal dan berwarna merah kusam, entah mengapa menjadi ciri khas dari tiap buku di sana.

Hm, aneh.

Ku lempar buku itu ke atas meja yang ada di kamarku. Daripada sekarang melihat isi buku itu, jauh lebih baik ku bersihkan penampilanku yang acak-acakan karena debu.

Sepertinya mandi di jam segini tak masalah juga.

Sekali jentikan jariku pada udara kosong, bagai sebuah tanda otomatis pada pemutar music yang terpasang di kamar. Dan tak lama lagu beraliran slow hip hop terdengar, mengiringi tiap langkahku menuju kamar mandi yang ada di di dalam kamar.

.

.

.

Tetes-tetesan air yang turun dari ujung rambut yang masih basah. Dada bidang yang di biarkan terekspose, dan tubuh bagian bawah yang hanya tertutupi sebatas pinggang ke lutut oleh handuk putih, adalah kesan seksi yang ku yakini perempuan manapun akan jatuh terpesona. Dan itulah yang ku lakukan sekarang.

Setelah selesai mandi, tanpa niat untuk berpakaian dulu, aku berlenggok di depan cermin memperhatikan sosok tubuhku yang menurutku, yah lumayan macho, lumayan berotot, dan lumayan bergiurkan untuk anak seumuranku.

Benarkan?

Sudahlah akui saja. Aku tahu kau pasti mengakuinya.

Sengaja ku mainkan alisku turun naik dan memasang senyum sekeren mungkin.

'Ternyata aku memang tampan' yakin ku 100% sambil menebar pesona dan berkhayal kalau di depanku bukanlah cermin, tapi sekumpulan yeoja berkaki indah.

Ku lirik televisi LCD berukuran 40 inci yang tertanam di dinding. Ku ambil remot yang ku letakkan di atas tempat tidur dan menyalakannya.

"Acara music ya?"

"Membosankan"

Gumamku saat televisi menyala dan menyajikan acara music core. Malas, ku gonta-ganti channel yang ada. Terus, terus, dan terus sampai mataku tak sengaja melihat sesuatu yang tak asing.

Ku tekan simbol "prev" di remot untuk kembali ke channel sebelumnya. Ke channel stasiun televisi yang menyajikan sebuah acara variety.

"Bukannya mereka laki-laki tadi?" Pikirku saat tak sengaja kamera menyorot tepat pada dua sosok pria yang tertawa-tawa geli saat 'boneka' dinosaourus berjalan mendekat dan menakut-nakuti tempat duduk para bintang tamu.

Mataku entah mengapa terpaku di layar televisi. Bukan karena tertarik dengan acara yang ada. Tapi entah mengapa mataku tak bisa lepas memandang sesosok pria manis berambut kecokelatan.

Ya, mataku tak bisa lepas darinya.

Berbeda saat tadi mata kami tak sengaja bertemu tatap. Saat itu aku masih bisa mengendalikan diri untuk tak lebih melihatnya, tapi sangat jauh berbeda dengan sekarang.

Wajahnya yang di hiasi tawa lepas, entah mengapa membuat mata ini tak bisa berpaling.

'Manis' ucapku tanpa sadar karena terlalu mengagumi sosok itu.

'Uhm?'

Mataku memicing saat tak sengaja, hanya tak sengaja karena aku sendiri tak yakin. Mataku melihat sesuatu yang, errrr, mencurigakan.

Sosok yang duduk di samping kirinya itu, aku yakin adalah lelaki yang mengatakan cinta pada Sungmin, si pria bertubuh tinggi, Cho Kyuhyun.

Walau hanya sekilas, tangan Cho Kyuhyun menarik lengan Sungmin agar mendekat dengannya saat semua bintang tamu di takut-takuti oleh sosok sang dinosaourus.

Ku naikkan satu alis ke atas. 'Apa dia tak terlalu terang-terangan bersikap seperti itu? Bukankah di Korea, seseorang yang memiliki penyimpangan seksual akan di cemohkan?'.

Ah, hampir lupa!.

Gara-gara terlalu terpesona dengan diri sendiri hampir saja lupa tujuan semula.

Ku lirik sebuah buku tua yang ku letakkan di atas meja.

'Sebenarnya buku apa ini? Dan ruang yang di bilang tak pernah di buka hanyalah sebuah ruang baca biasa?'

Ku teliti tiap sudut sampul buku yang kini ku pegang. Memperhatikan dengan detail tiap lekukan dan sudut-sudut yang ada.

'Tak ada yang mencurigakan'

Supaya lebih santai. Aku bermaksud membaca buku ini sambil berbaring di tempat tidur.

Tapi belum sempat terlaksana, niat itu langsung menguap menghilang begitu saja.

Mengapa?

Karena saat iseng ku buka selembar halaman buku yang ku pegang ternyata isinya kosong.

Hei! Jangan-jangan aku tertipu lagi?.

Dengan kasar ku buka lembar demi lembar tapi hasilnya sama saja dengan halaman pertama. Kosong. Tak berisi. Tak ada satu coretan tinta tertuang di atasnya.

Geraman tanda kesal keluar dari bibirku. Gerah, kesal dan merasa tertipu, ku lempar buku itu ke sembarang tempat. Hingga suara 'gedebuk' akibat hantaman sampul buku yang tebal dengan dinding terdengar jelas.

Sebagai pengusir penat. Ku hempaskan tubuhku jatuh tengkurap di atas tempat tidur yang empuk. Hingga tanpa sadar terbuai untuk jatuh tertidur. Tak menghiraukan kalau ternyata aku belum makan malam ataupun belum mengenakan pakaian. Yang ku inginkan sekarang hanya semakin larut dalam buaian nyanyian peri-peri pengantar tidur.

.

.

.

Hari semakin larut, dan malam pun semakin berkuasa, membuat aktifitas-aktifitas warga Korea terhenti barang sejenak untuk beristirahat.

Di bawah sinar rembulan yang begitu terang namun terlihat seperti kemerahan. Sebuah gerakan pelan terlihat.

Apa itu?

Hanya sebuah gerakan tungkai ganggang pintu yang di turunkan.

Tapi.

Itu adalah gerakan janggal bila terjadi pada ganggang pintu yang di yakinin tak bertuan.

Sebuah ruangan yang ada di salah satu rumah Hangeng.

Sebuah ruangan yang di ketahui adalah ruangan yang tak pernah terbuka sebelumnya, sampai Hangeng secara tak sengaja membukanya.

Gerakan tungkai ganggang pintu semakin menurun sampai terdengar bunyi, 'ceklek'.

Tak lama daun pintu terbuka semakin lebar dan kabut asap putih mengepul keluar dari dalam kamar.

.

.

.

Hangeng yang masih terlelap dalam tidurnya tak menyadari sebuah gerakan pada jendela kamarnya yang terletak di lantai dua.

Entah karena apa, jendela kayu itu terbuka dengan sendirinya. Menyebabkan korden tipis berwarna putih tersibak oleh angin dari luar.

Hangeng sempat menggeliat dalam tidurnya karena hawa dingin yang terasa tiba-tiba. Tapi itu tak menyurutkan keinginannya guna membuka mata barang sejenak. Yang ada malahan ia menutupi tubuhnya dengan selimut tebal.

Dari arah jendela yang terbuka dengan efek korden yang bergerak-gerak karena tiupan angin. Kabut putih tipis muncul dan memasuki kamar.

Kabut tipis itu bergerak di permukaan lantai, dan berkumpul tepat di atas sebuah buku yang tadi di lempar oleh Hangeng. Buku yang kini tergolek di lantai tepat di bawah jendela.

Tak di sentuh dan tak di pegang. Tiba-tiba buku itu terbuka dengan sendirinya. Bagai tertiup angin yang sebenarnya tak cukup kuat untuk membuka sampul buku berukuran hard cover.

Gerakan halaman-halaman buku yang terbuka berhenti. Menampilkan kertas kosong yang kertasnya menjadi kekuningan karena termakan usia.

Dan dari kertas kosong itu, entah mengapa kini terlihat goresan-goresan huruf bercetak miring dan bergaya tulisan italic menggunakan tinta hitam. Tulisan itu terus muncul hingga memenuhi selembar kertas.


.

Maaf untuk kali ini Elen ga bisa balas Review satupun, soalnya uang jajan Elen sangat berkurang untuk pergi ke rental komputer :'(

Silahkan Review bila berkenan. Jangan di baca dan jangan di review kalau Sunbae tak suka :D Elen sebisa mungkin ga akan memaksa :')