Teng..
Teng..
Teng..
Suara dentang jam terdengar menggema di dalam rumah.
Merasa terganggu, sesosok pria tak mengenakan pakaian berguling-guling di tempat tidurnya. Tangannya meraih bantal terdekat dan menutupi telinganya dari gangguan tak menyenangkan itu.
Teng..
Teng..
Teng..
Suara itu terus saja terdengar, hingga sosok pria itu bersingkut di tempat tidurnya. Tangannya meraba ke sekeliling tempat tidur, mencari bantal lain untuk menutupi telinga, wajah atau apapun itu asal suara itu tak terdengar lagi.
Tanpa membuka mata dan kening yang berkerut, tangannya terus meraba-raba tempat tidur.
'Uhhmmp~'
Sebuah suara erangan tak suka tertangkap di indera pendengaran pria itu. Lagipula entah mengapa tangannya kini merasa sedang menyentuh sesuatu yang mengganjal di tempat tidur miliknya yang seharusnya datar-datar saja tanpa ada halangan apapun -mari kita pengecualikan tumpukan bantal dan selimut-.
Merasa semakin penasaran, tangan pria itu terus saja meraba-raba -penyusup asing- tanpa beban. Dan suara erangan yang sebenarnya begitu manis di telinga semakin terdengar.
Kedua alis sosok pria yang seharusnya masih terbuai di dunia mimpi bertautan hingga akhirnya matanya terbuka lebar dan merubah posisinya menjadi duduk. Matanya terbelalak saat tak melihat apapun itu yang seharusnya disentuhnya di tempat tidur, tepatnya disisinya yang ternyata kosong.
Pria tersebut merengut, tak mungkin rasa sentuhan tadi hanya khayalan dan suara yang terdengar manis itu hanya mimpi, ini terlalu indah untuk sebuah mimpi tapi terlalu aneh bila kenyataan.
Dentang suara jam masih terdengar mengejutkan sosok tersebut dari kecamuk hati yang dirasa.
"Sejak kapan ada suara jam berdentang seperti itu dirumah ini?" Tanyanya yang pasti tak ada yang menjawab.
Segera ia beranjak dari pembaringannya saat suara dentang jam berhenti, tak peduli walau tubuhnya belum tertutupi oleh sehelai benang pakaian apapun ia keluar dari kamar dan turun ke lantai satu.
Sekarang matanya menatap secara teliti pada sebuah jam yang sangat besar di ruang tengah, otaknya berpikir keras sejak kapan benda itu ada di sana?
Tapi tunggu dulu, mengapa tak hanya keanehan munculnya jam besar itu yang terasa. Pria itu memutar matanya menyapu seluruh ruang tengah, dan terkejut hingga mulutnya terbuka lebar melihat seluruh ruang tengah itu begitu bersih dengan perabotan yang tertata rapi.
What the hell! Apa yang sebenarnya yang terjadi sekarang!
Belum selesai rasa keterkejutannya, indera pendengarannya tak sengaja menangkap suara samar-samar dari arah dapur, suara samar-samar itu bersatu dengan suara nyanyian seseorang.
Jangan salahkan dia bila rasa penasaran tiba-tiba menggelitik sanubarinya, membuat kakinya melangkah menuju dapur.
Suara itu semakin jelas sekarang, suara nyanyian yang begitu lembut tapi entah mengapa rasanya suara itu sepertinya pernah didengarnya baru-baru ini, tepatnya beberapa menit yang lalu.
Mata pria itu membulat sempurna saat mendapati seseorang berada di dapurnya, memasak. Sosok itu tinggi semampai, rambutnya yang sepanjang bahu diikat menampilkan leher putih menggoda, celemek berenda campuran warna merah, pink dan putih melekat ditubuhnya, membuat sosoknya yang dilihat dari belakang begitu, ah susah sekali untuk dijelaskan.
Krek. Tanpa sadar sosok pria tersebut menyenggol kaki meja makan saat ia tak hati-hati melangkah mendekati sosok yang membuatnya penasaran ini membuat sang sosok menoleh ke arahnya.
Saat mata mereka bertemu, banyak rasa yang berkecamuk di hati pria tersebut saat melihat wajah sang penyusup.
Wajahnya begitu cantik, layaknya seorang gadis, tapi tentu saja bukan seorang gadis karena ternyata sosok itu tak memiliki payudara, alias dadanya rata. Matanya yang besar dan bibirnya yang sewarna chery membuat pria tersebut terteguh.
Tak bisa dipungkirinya ia sekarang sedang terpana pada sosok asing seorang pria yang menyusup ke dapur rumahnya. Konyol bukan.
"Siapa kamu?"
Hanya dua kata itu saja yang sanggup terlontar dari bibirnya, namun tak dijawab.
Bola mata si pria penyusup sekarang terlihat bergerak liar, naik turun, bagai sedang meneliti sosok dihadapannya. Bibirnya bergetar begitupula tangannya yang memegang spatula.
Satu detik keduanya masih terdiam dengan pikiran masing-masing, dan saat detik kedua.
"Hyaaaa!" Teriak si pria penyusup, "Orang mesum mana kamu menyusup kerumahku tanpa berpakaian" pekiknya sambil menunjuk dengan spatula.
Si pria terdiam sesaat, berusaha mencerna tiap kata yang masuk.
Penyusup?
Seharusnya yang betul pria yang sedang menunjuknya dengan spatula yang penyusup.
Rumahnya?
Hei, yang benar itu, ini rumah ku, tolong di garis bawahi, RUMAH KU.
Dan mesum?
baru kali ini aku dipanggil dengan sebutan itu seumur hidupnya. Memangnya apa yang membuatnya tiba-tiba mendapat julukan memalukan seperti itu? tunggu dulu! Tadi dia bilang tak berpakaian?
Ragu-ragu pria itu menurunkan matanya melihat tubuh bagian bawahnya yang ternyata terekspos terang-terangan. Cepat matanya berpindah melihat sosok pria yang masih saja menunjuknya dengan spatula, lalu berpindah lagi ke tubuh bagian bawahnya, ke sosok pria, ke tubuh bagian bawahnya. Terus seperti itu sampai.
"Hyaaaaa!"
Teriak keduanya sama-sama histeris, namun bedanya pria itu dengan cepat menutupi daerah pribadinya tapi tetap berteriak.
.::.
::
"Hyaaaaa!"
Suara pekik teriakan membahana hingga seluruh rumah.
Hangeng yang merupakan sang pemilik sekaligus pembuat kegemparan terbangun dari tidurnya dengan wajah pucat dan keringat yang mengucur. Dadanya turun naik memaksa memompa udara dengan cepat.
"A apa itu tadi?" Gumamnya, diseka keringat dingin di dahi dan mengedarkan pandangannya meneliti isi kamarnya.
Tak ada yang berubah.
Itulah pikir Hangeng saat yakin tak ada keanehan dikamarnya.
Seketika matanya melebar dan terfokus pada tempat tidur. Dengan cepat di buka selimut yang ada.
Kosong
Hangeng terdiam, berpikir apa itu mimpi?
Tapi
Tanpa perlu berpikir dua kali. Hangeng berajak berlari kelantai satu, Berbelok ke arah dapur yang ternyata, kosong.
Apa benar mimpi?
Kakinya membawa tubuhnya berjalan ke ruang tengah, masih sama seperti kemarin, kotor penuh debu dan kain putih yang menutupi perabotan. Matanya kini berputar, mencari sebuah benda yang dalam mimpinya ada disana, dan nihil.
Sepertinya benar hanya mimpi
Di acak rambutnya yang kusut khas bangun tidur dan berjalan kembali ke kamar. Tanpa tahu bahwa pintu kamar yang selalu tertutup kini telah terbuka lebar.
.::.
::
Di dalam kedai yang lumayan penuh, Aku memilih duduk di kursi pojokan, asik menyeruput kopi hitam yang di pesan hingga mengacuhkan seporsi roti bakar dan salad yang sejak tadi tersaji. Rintikan hujan di luar sana mengalihkan mata ini untuk tetap terfokus melihat butiran air yang turun dari langit.
Sebelum memilih masuk ke kedai ini untuk makan pagi, ku sempatkan diri mampir ke toko electronic, membeli sebuah ponsel baru. Menggantikan ponsel lama yang telah hancur karena amarah.
"Maaf" sapa seorang gadis berkepang dengan wajah malu-malu mengejutkanku yang melamun.
"Ada apa?"
"Errr...", gadis itu tampak gelisah, "Apakah kau Hangeng Super Junior?" pekiknya, kedua tangannya mengancung ke depan, memperlihatkan sebuah majalah dengan cover 13 orang pemuda tampan. "Tolong tanda tangani majalahku".
Aku terkejut, mataku meneliti cover majalah yang teracung tepat di depan wajah dan memperhatikan seseorang yang... Bagaimana yah untuk mengungkapkannya, bila hanya bisa di ungkapkan dengan satu kata maka itu adalah...
'Mirip', Tapi...
"Maaf, kau salah orang"
Dahi gadis berkepang itu berkerut, "salah... orang?" katanya terbata tak percaya. Hangeng mengangguk, dengan terpaksa ia menjelaskan bahwa dia benar-benar bukan Hangeng member boyband Super Junior, walau ia sama-sama berasal dari dataran china, memiliki nama dan wajah yang sangat mirip, tapi ia bukanlah seorang artis. Ia hanya pemuda china biasa yang berasal dari keluarga broken home.
Broken home, benar-benar sebuah kalimat yang tak enak untuk di dengar. Tapi inilah nasib, sesuatu yang harus di jalani walau tak ingin.
"Ini benar-benar melelahkan" gusarnya, memilih keluar dari cafe saat gadis berkepang tadi akhirnya pergi meninggalkannya dengan kekecewaan. Selain itu ia tak suka pandangan mata orang-orang saat melihatnya, terkesan ingin memakannya.
Apa tak ada tempat yang tenang? Aku pindah ke negeri yang jauh seperti ini bukan untuk mendapatkan masalah baru. Aku hanya ingin ketenangan!
Ingin sekali ia berteriak lantang seperti itu. Tapi di tahan dalam hati.
Kalau seperti ini caranya, lama-lama ia menjadi gila.
Hujan mereda, hanya tersisa angin dingin yang berhembus, menusuk langsung melewati celah-celah rengang kain pakaian.
Sekolah barunya besok baru di mulai. Pergi ke pusat kota sekedar shopping akan sangat membosankan. Jadi?
Pulang
Mungkin memang hanya satu pilihan itu yang ada untuknya saat ini, lagipula masih banyak waktu untuk menikmati jalan-jalan mengelilingi kota Seoul.
Baiklah, sepertinya ini saatnya untuk pulang, dan tidur?
.::.
::
Pagar yang terbuat dari campuran almunium, besi dan perunggu terbuka, membiarkan tubuhnya masuk sebelum di tutup kembali. Saat tubuhnya berdiri di depan pintu rumah, Hangeng terdiam, wajahnya datar dengan tatapan mata kosong.
Sampai kapan ia akan terus seperti ini?
Bila dulu saat masih di China saja setiap hari lebih banyak di habiskan waktunya dengan kesendirian. Akankah di Seoul ia juga merasakan hal yang sama?
"Menyedihkan, untuk apa diam melamun seperti ini. Sampai kapanpun tidak ada seorangpun yang akan menyambutku saat pul-", ucapanya terhenti saat matanya melihat pergerakan kenop pintu.
Tunggu dulu!
Sebelum ia pergi tadi semua pintu sudah terkunci kan?
Dan...
Kunci rumahnya masih ada di dalam saku celananya.
Lalu, kenapa kenop pintunya bergerak berputar seperti itu?
Seperti ada seseorang yang...
Ia terkejut, hampir saja melompat menjauh saat pintu rumah terbuka lebar. Matanya melebar dengan mulut terkatup rapat. Sesaat ia merasa akan pingsan di tempat melihat sosok yang berdiri anggun di depannya.
Tidak,
Tidak mungkin ia bisa melupakan paras itu. Walau ia merasa semua itu hanya mimpi.
Namun bagaimana dengan saat ini?
Bibir yang sewarna buah cherry, bola mata berwarna dark brown, rambut sepanjang bahu dan di ikat ke belakang lalu wajah yang... cantik? Tidak! Walau itu hanya khayalan saat tidur pun tak mungkin ia bisa melupakan sosok itu.
Jari telunjuk terangkat, tak segan-segan Hangeng mengarahkannya pada sosok di hadapannya, "Siapa kau...?" tanyanya yang hanya di balas dengan sebuah senyum manis dari orang yang di maksud.
"Selamat datang", ujar orang tersebut, lagi-lagi memperlihatkan sebuah senyuman manis.
.: Kolom Balasan Review 'Night' :.
Kim Min Lee, hie, MinnieGalz, Saeko Hichoru,
Nakazawa Ayumu, doublev Aeyria, Park Hyo Ra, LittleLiappe, white lucifer, kyoko sato, Kim Kwangwook
Terimakasih reviewnya (^^)/, Reinkarnasi pasti lanjut walau g ykn sama ide ceritanya. Sepertinya 'Night' g ada lanjutannya ;A; bisa buat itu aja rasanya kebetulan ;A;
Lalu untuk yg ingatkan kesalahan penulisan, Elen benar-benar-benar-benar makasih ;A; kalau selama ini Elen banyak salah tulis atau apapun itu dan perlu di koreksi, semuanya di terima xD Elen anggap semuanya jd pelajaran baru utk Elen buat kedepannya, sekali lagi makasih ;A; jd kalau Sunbae berpikir tkt Elen sakit hati krn di kritik, itu salah besar, Elen ini msh pemula di tulis menulis, jd klo ada kesalahan mohon pencerahannya xD *bow*
Lalu satu lagi, Kenapa yang ada istilah Lemon sama Lime aja?, yg rasa Apel ga ada ya :Da
Maaf untuk cerita membosankan seperti ini. Elen kehabisan ide dan yah, g tau lagi mau nulis seperti apa ;A:
