Title: Matthew Si Kerudung Merah
Karakter: Canada, Kumajiro, America, Prussia, England
Warning: Authornya setres, garing parah, minim deskripsi, OOC akut, logat Jowo diselipin di sana-sini, penistaan imej karakter, bahasa klise, gaje, alur berantakan, cerita ancur, kata-kata kotor, penyebutan Barcelona dan Manchester United (?)
Disclaimer: Hetalia punya Yang Mulia Hidekaz Himaruya. Glory Glory Man United punya Manchester United FC. Cant del Barça punya FC Barcelona. Lagu Barcelona punya Queen. Semua penyebutan produk, tim sepak bola, dan lain-lain dilakukan dengan sengaja (?) oleh author gak modal yang cuma bisa pinjam nama.
Pada zaman dahulu kala—kenapa lagi-lagi "pada zaman dahulu kala"? Enggak ada yang lain?—hiduplah seorang pemuda bernama Matthew. Ia tinggal bersama saudara kembar dan beruang kutub piaraannya di sebuah rumah yang terbuat dari balok kayu di tepi sebuah hutan. Matthew hampir selalu memakai jaket hoodie warna merah dengan gambar daun maple, karena itu semua orang memanggilnya Si Kerudung Merah. Yah, sebenarnya sih bukan karena itu, tapi karena dia sering tidak kelihatan sehingga orang melupakan namanya (dan keberadaannya). Bahkan Alfred sang saudara kembar dan Kumajiro si beruang putih piaraannya sering melupakannya. Kasihan sekali ya.
"Oooiii! Kerudung Meraaahhh!" teriak Alfred, suara cemprengnya yang nyaring dan jelas-jelas jauh dari merdu sukses menghancurkan kesyahduan pagi itu.
"Enggak usah teriak-teriak, aku di sini kok," Matthew menjawab.
"Hah? Nang endi kowe, dab?" Alfred celingukan. Padahal jelas banget Matthew ada di sampingnya.
"Di hatimuuu!" jawab Matthew ngasal.
"Wodepak? Pantes atiku cenat cenut!" Alfred langsung memegang hatinya dengan panik. "Panggilno ambulan, Met! Ambulan! UGD! Gawat darurat!"
Nun jauh entah dari mana terdengar lagu sebuah boyband Indonesia sebagai BGM. Kenapa hatiku cenat cenut tiap ada kamu…
"Ya enggak lah, bego! Aku di sampingmu!"
BGM berhenti.
"Woalah. Mbok bilangno dari tadi, Met!"
"…" Matthew pun muka palem. (Facepalm maksudnya. Garing? Emang.) Udah jelas di sampingnya, tapi kok bisa enggak kelihatan sih? Kayaknya mata Alfred tambah minusnya.
Tapi dasar Alfred bego, dia malah terus nyerocos. "Om Arthur sakit, Met."
"Om Arthur sing alise lapis-lapis koyo wafer kuwi? Sakit opo, diare?" Matthew ketularan logat Jowo.
"Iya, mencret makan masakannya sendiri!"
"Parah?"
"Parah banget! Sehari bisa 7 kali bolak-balik ke WC."
"Sa'ake pisan." Kasihan banget, maksudnya.
"Yang kayak gitu gak usah dikasiani," Alfred manyun.
"Jahat kau, Pret. Paling enggak ditengokin lah."
"Nah justru itu, aku mau minta kamu nengokin!"
"…" gantian Matthew manyun.
Alfred menyodorkan sebuah keranjang kepada Matthew. "Nyoh, berikan ke Om Arthur yo Met!"
"Opo isine, Pret?"
"Gethuk, thiwul, kering tempe, lemper, onde-onde, klepon, bajigur."
"Gak elit pisan. Nek makin mencret piye, Pret?"
"Lha mau gimana lagi? Panganan gratisan itu, dari kondangane Mbak Nesia. Daripada nang omah mbosok gak ono sing mangan mending buat Om Arthur ta?"
"Gak ikhlas banget kowe, Pret."
"Ah biarin, cuma buat si om alis-kue-lapis itu kok." Alfred mendorong Matthew keluar rumah. "Gek mangkat kono! Keburu malem, gelap!"
Matthew pun hanya bisa pasrah dipaksa begitu. Ckckck, jahatnya Alfred. Paling enggak kasih ongkos jalan kek…
"Dadah Kerudung Merah! Titi DJ ya, hati-hati di jalan! Ojo nyasar lan ojo lali bali yo!" Alfred membanting pintu rumah.
"…Namaku Matthew."
"Sopo kowe?" tanya beruang putih di gendongannya.
"Aku Matthew…"
"Kampret si Alpret. Urusan begini selalu aku," Matthew menggerutu.
Ditendangnya kerikil tak berdosa di pinggir jalan setapak. Kerikil itu melayang jauh ke balik semak—Matthew sendiri heran tendangannya bisa sedahsyat Kapten Tsubasa—dan akibatnya terdengar suara "Aduh!" dari balik situ.
Glek. Kena orang.
Matilah gue. Duh author, kenapa dirimu senang sekali menyiksaku? batin Matthew. Sungguh teganya dirimu teganya dirimu teganya dirimu . . . dalam kegalauannya Matthew malah ngedangdut dadakan.
Ia sudah bersiap-siap mengambil langkah seribu ketika dari balik semak keluar serigala berbulu putih keperakan dan bermata merah darah.
"Kampret! Siapa lempar-lempar kerikil? Ganggu tidur siang gue yang awesome aje! Dasar enggak awesome!" rutuk si serigala albino.
Yaelah, penulis cerita ini makin ngawur aja, komentar Matthew dalam hati. Serigalanya udah albino bisa ngomong pula. Pasti penulisnya setres nungguin hasil UN SMP tanggal 4 Juni!
"Elu! Elu yang pake Kerudung Merah yang enggak awesome itu! Pasti elu kan yang ngelempar kerikil? Dasar enggak awesome!" Serigala itu menunjuk Matthew.
Matthew malah terharu. "Gue enggak nyangka . . . Seumur idup gue, baru kali ini ada orang yang langsung menyadari keberadaan gue . . . Eh gak deng, bukan orang tapi serigala. Gak papa deh . . ."
"Ha? Elu ngigau deh. Siang-siang kok ngigau. Enggak awesome ah." Serigala itu menyipitkan matanya. (Hei tunggu, emang serigala bisa begitu ya? Ya sudahlah, abaikan. Namanya juga dongeng.) "Baidewei eniwei on nde baswei, elu Kerudung Merah ya?"
"Saya Matthew Williams, tapi biasa dipanggil Kerudung Merah. Kok tau sih, Sri?"
"Tau lah, gue baca script-nya. Dan jangan panggil gue Sri mentang-mentang gue serigala! Enggak awesome banget Sri. Gue Gilbert! Gilbert si Serigala Albino yang Awesome!"
Matthew manggut-manggut kayak marmut.
Tiba-tiba Gilbert menarik keluar papan dakon entah dari mana. "Betewe, mau main dakon enggak?"
"Dakon? Bukannya di script-nya harusnya kamu ke rumah paman saya buat memakan dia?" Matthew mengernyit. Doh, ni cerita makin absurd aje!
"Eh? Iya ya?" Si serigala kelihatan bingung. Loh, kok malah bingung sih? "Ya udah, karena gue awesome, gue menuruti script saja. Dadah!"
Si serigala pun melesat pergi, meninggalkan Matthew bengong kebingungan.
"Ini cerita makin ke sini makin enggak bener. Auk ah, bodo. Pasti authornya setres banget ya, Kumakichi?"
"Sopo kowe?" tanya beruang di pelukannya.
"Aku Matthew, pemilikmu…"
Sementara itu di pondok Om Arthur, sang om sedang ngorok dengan pulasnya di sofa dengan saliva membanjir membentuk Pulau Bali di sekeliling mulutnya sementara TV menyiarkan siaran ulang pertandingan Barcelona vs Manchester United.
"Zzz … Hah? Gue ketiduran!" ia terlonjak bangun secara mendadak. "Pertandingannya!"
Namun Arthur harus menahan pahit menyaksikan pertandingan sudah berakhir dengan skor 3-1.
"Apahhh? Barcelona menang? KAMPREEETTT!" Arthur ngamuk. Jelas aja dia ngamuk. Pertama, dia sudah ketinggalan pertandingan langsungnya, dan sekarang dia ketiduran pas siaran
ulang. Kedua, Manchester United kalah. Eh, tunggu. Arthur Mancunian?
BLAM!
Pintu rumah Arthur berdebam terdobrak, dan muncullah Gilbert si Serigala Albino.
"HUAHAHAHAHAHA!" Gilbert tertawa lebar menunjukkan geliginya yang runcing, "aku datang untuk—hei, nonton apa kau?"
"Ha?" Arthur menoleh, masih sewot. "Ini siaran ulang pertandingan Barcelona-MU."
"Siapa yang menang? Aku enggak nonton pertandingan langsungnya." Loh, Gilbert? Kamu katanya mau makan si Arthur, kok malah membahas bola sih?
"Barcelona menang 3-1," ujar Arthur pendek.
"HUAHAHAHA! Barcelona gituh! Barça emang awesome!" Gilbert terbahak penuh kemenangan. "Barcelonaaa, such a beautiful horizon…" Dengan lagak lebay ala sinetron Putri Barteran ia menyanyikan salah satu lagu dari sebuah grup band lawas dari Britania. "Friends until the end … Viva, Barcelona!"
…tunggu. Gilbo Cule?
"GAK! MU IS DE BES!" Arthur tiba-tiba ngotot dengan bahasa Inggris berlogat Bali gagal.
"GAK! BARCELONA IS NDE MOS AWSEM!" Gilbert ikutan ngotot dengan logat Jawa.
"GLORY GLORY MAN UNITED, AS THE REDS GO MARCHING ON ON ON!"
"TENIM UN NOM, EL SAP TOTHOM, BARÇA, BARÇA, BARÇAAAA!"
"BARCELONA BANCI, DIKIT-DIKIT JATUH DIKIT-DIKIT JATUH! KAYAK PEMAIN SINETRON, JATUH BANGUN AKU MENGEJARMU!"
"BIARIN JATOH MULU! YANG PENTING MU KALAH 3-1! HAHA, CUPU!" balas Gilbert melecehkan. (Wow, omongan dia berima loh teman-teman!) "SIR ALEX FERGUSON MAHO, KE LAUT AJE ELU!"
"BACOD! GUE ROBEK TUH C****R BARU KAPOK YA LO!"
"NGAPAIN GUE TAKUT SAMA ELU? ELU TUH YANG BACOTAN! DASAR ENGGAK AWESOME!"
Arthur mencabut tongkat ajaib yang dia selipkan di kolornya. "APADAH KEDAPRAH!"
Sayang mantranya meleset, mengenai pintu rumahnya sendiri. Mantra itu pun sukses menghanguskan pintunya yang tak berdosa.
"Wodepak?" Gilbert mangap tak elit.
"APADAH KEDAPRAH!"
"WAKS!" Gilbert ngacir menghindar. Untung dia bisa menghindar, karena tempatnya berdiri tadi sudah gosong tak berbentuk.
"KABUUURRR!" Gilbert ngacir dari rumah Arthur.
"WOI! MAU KABUR KE MANA LO?" Arthur tidak mau kalah, dikejarnya Gilbert. "APADAH KEDAPRAH! APADAH KEDAPRAH!"
Dua makhluk gaje itu terus berlari hingga di tengah jalan mereka bertemu Matthew.
"Loh? Gilbert? Om Arthur? Ngapain kalian?" Matthew bengong.
"Ha? Siapa itu ngomong?" Arthur celingukan.
"Ini aku, Om! Matthew!" Matthew menunjuk-nunjuk dirinya.
"Oooh, Matthew!" Arthur manggut-manggut. Dalam hatinya, Matthew siapa ya? Tukang kredit panci langganan gue? Eh tunggu, gue kan gak pernah kredit, apalagi kredit panci!
"Kukira Om diare!"
"Ha? Enggak, udah sembuh, abis minum Oralit."
"Oh, ya sudah kalau begitu," ujar Matthew, walaupun dalam hatinya dia masih terheran-heran dengan keabsurdan tiada berakhir cerita ini.
"Hei, jangan kabur kau!" seru Arthur mendapati Gilbert curi-curi kesempatan untuk kabur.
Dan drama jatuh-bangun-aku-mengejarmu pun kembali dimulai. Alhasil Matthew hanya bisa bengong melihat dua entitas gaje itu saling berkejaran menuju matahari terbenam di ufuk barat.
"Kok akhirnya jadi gaje gini? Ya sudahlah," Matthew pasrah. "Ayo kita pulang, Kumajiro."
"Sopo kowe?"
"Aku majikanmu, Matthew…"
.
.
.
FIN
Tamat dengan Tidak Jelas (Lagi)
.
Yo! Saya, Rin, kembali lagi dari hiatus! Mungkin untuk sementara akun ini bakal dipakai oleh saya sendiri. Temporarili elon. Ya sudahlah, biasanya juga saya lebih aktif nulis.
Sebenernya fic ini dibuat dari naskah drama Bahasa Inggris saya pas semester satu. Karena saya yang nulis naskahnya udah pasti ancur lebur. Dan chapter ini lebih ancur lebur lagi dari naskah aslinya lantaran saya beneran setres nunggu tanggal 4 Juni. Mana di Jogja daftar SMA pake NEM dan anak Jogja pinter-pinter! /curcol
Jangan tanya kenapa Arthur, Alfred, dan Matthew (dan Nesia juga, biarpun cuma disebut) muncul lagi. Dan suer, saya enggak maksud nge-bash Barceloncatloncat maupun Mencretster United (?), soalnya saya enggak mudeng bola sama sekali. /digebukin
Kritikan, saran, cacian, makian, kebencian, doa restu, cek, duit tunai, semua saya terima dengan senang hati kalau Anda berkenan memberi. /nadahin tangan dengan wajah memelas
