Title: Gadis Penjual Korek Api (atau "Sabar Ya, Hidup Itu Susah!")
Fandom: Hetalia (yeah, saya belum bisa melepaskan diri dari fandom yang asyik buat dinistai ini ;_;)
Genre: Humor/Parody coretgaringbingagalcoret
Rating: T
Summary: Parodi hipergaring kisah klasik HC Andersen, menampilkan Belgium sebagai sang gadis penjual korek api yang malang.
Characters: Belgium as Gadis Penjual Korek Api; Netherlands & Luxembourg as Saudara-saudara yang Jahat (?); Spain as Spain (?); Italy, Lithuania, France, Seychelles, Ukraine, and Germany as Mas-mas dan Mbak-mbak Numpang Lewat (?)
Warning: Lebih garing dari keripik, gaje, ancur, OOC parah, agak alay, slight SpaBel
.
.
Gadis Penjual Korek Api (Hetalia Version)
atau
"Sabar Ya, Hidup Itu Susah!"
.
.
.
Pada zaman dahulu kala—kalimat standar yang wajib ada di awal tiap dongeng, karena begitulah dongeng dimulai—hiduplah seorang gadis bernama Belgium bersama dua saudaranya, Netherlands dan Luxembourg. Hidupnya sangatlah sengsara. Ia harus berjualan korek api. Jika tidak dapat menjual satu pun, kedua saudaranya yang hobi mabuk akan memukulnya. Padahal kalau dipikir-pikir mereka sudah kaya, lho.
Bahkan pada malam Tahun Baru yang bersalju ini ia tetap harus berjualan. Tetapi kerumunan orang yang lalu-lalang di jalanan tak menghiraukannya.
"Jahat sekali! Padahal aku bukan Canada…" keluh Belgium.
Siapa itu Canada?
"Eh, entahlah!"
Kalau nggak tahu kenapa nyebut-nyebut Canada, Mbak?
"Habis ada di script sih!"
Gimana sih penulis naskahnya?
"Lha, kan situ yang nulis! Ya sampeyan itu!"
…Iya ya? Iya deng.
Ah, kenapa jadi out of story sih? Cut! Ulangi! 1… 2… 3… Action!
"Korek api! Korek api! Seribu dua! Seribu dua! Beli satu dapat satu! Beli dua dapat satu!"
Krik krik. Sepi.
Maaf, Anda belum beruntung!
"Ve~ Sabar ya, hidup itu susah~" ujar seorang pemuda dengan ahoge mencuat dari kepalanya.
"Gimana bisa sabar? Korek api gue udah dari kemaren gak laku-laku!" bentak Belgium.
"Ve~ Sabar ya, hidup itu susah~"
"Gak usah dibilangin gue juga tau!"
"Ve~ Sabar ya—"
"Bacot lo!" Belgium yang makin sewot pergi meninggalkan si ahoge-mencuat tanpa menyadari sepatunya lepas satu.
"Ve~ Mbak, sepatunya ketinggalan!"
Terlambat. Belgium sudah pergi.
"Ve~ Sabar ya, hidup itu susah~"
"Bujug dah, sepatu gue ketinggalan sebelah!" Belgium baru sadar. "Pasti gara-gara si kriwil-mencungat itu! Awas ya, kalo ketemu lagi gue bikin dia makan sepatu gue yang satu!"
Terpaksalah sepatu satunya ia copot. Lumayan buat dilempar ke Neth atau Luxe, pikirnya. Anak baik jangan meniru ya?
"Maaf Mbak. Mbak jualan korek api ya?" sapa seorang lelaki berambut cokelat sebahu.
"Nggak Mas, jualan ingus beku."
"Oh, kirain jualan korek api."
"Ya iyalah Mas, jualan korek api! Cape deh!"
"Mbak, jangan marah-marah gitu dong. Saya cuma mau beli."
"Beneran Mas?" sikap jutek Belgium langsung berubah 180 derajat. "Makasih lho! Udah dari kemarin gak ada yang beli!"
"Wah… Sabar ya, hidup itu susah…"
"Mas, tolong jangan bilang gitu lagi."
"Maaf, Mbak. Ngomong-ngomong beli dua dapat satu ya? Saya beli dua ya!" ia mengulurkan selembar uang.
"Oke Mas!" Belgium menyambar uang itu. Lalu disodorkannya sekotak korek api kepada mas-gaje-berambut-cokelat-yang-cuma-numpang-eksis-di-fic-gaje-ini-padahal-perannya-dikit-bin-gaje itu. "Ini Mas! Makasih lho!"
"Lho, kok cuma satu?"
"Iya."
"Tadi katanya beli dua dapat satu?"
"Emang! Beli dua, dapatnya satu!"
"Nggak! Nggak bisa gitu dong! Balikin duit saya!"
"Nggak bisa! Yang sudah dibeli tidak boleh dikembalikan! Yang sudah dibayarkan tidak boleh diminta kembali!" Belgium ngeyel.
"..." laki-laki bermata hijau itu hanya bisa pasrah. Akhirnya, karena ia kalah adu argumen, ia pulang dengan pasrah. Sabar ya, hidup itu susah…
Sedangkan Belgium makin semangat setelah dapat pembeli. "Korek api! Korek api! Yang beli dijamin enteng jodoh, enteng pacar, enteng selingkuhan, enteng seme, enteng uke!"
Tetap saja orang tidak memedulikannya. Kasihan sekali, seperti Canada saja…
…tunggu, siapa Canada?
"Hai, ma chère~ Kau sendirian?" sapa seorang lelaki berambut pirang ikal.
"Iyalah, Mas! Sampeyan katarak ya?" balas Belgium tak sopan. "Mau beli korek api?"
"Kamu jualan korek api? Pantes aja…"
"Pantes apa?"
"Kalo deket kamu, rasanya badan Abang panas…"
"Panas dari Zimbabwe! Dingin gini kok panas? Makanya beli korek api saya biar hangat!"
"Boleh, tapi kasih nomer hape kamu dulu dong." laki-laki itu mengedipkan sebelah matanya. Pasti dia kelilipan salju, pikir Belgium.
"Nggak punya hape."
"Kalo gitu maen sama Abang aja yuk?"
"Ogah."
"Jangan gitu ah, ma chère. Abang janji, Abang pasti bisa membahagiakanmu~" lelaki itu merangkul pinggang Belgium dengan senyum mesum.
BLETAK! Belgium melempar satu-satunya sepatunya ke wajah lelaki itu. "GAK SUDI!"
Belum puas, ditendangnya bagian tengah selangkangan lelaki itu. Kemudian ia mengambil langkah seribu sebelum si om girang gaje bin mesum itu bisa bangkit.
"Vital region gue…" lelaki itu mengerang. Ia meraba-raba daerah yang tadi kena tendangan untuk mengecek apakah miliknya mendelep atau masih utuh.
"Ve~ sabar ya, hidup itu susah~" nasihat seorang pemuda yang melewatinya. Pemuda itu memiliki sehelai kriwil yang mencuat dari kumpulan rambut yang tumbuh di kepalanya.
"Gila, gue dari tadi ketemu orgil mulu! Jadi trauma nih gue… Apa gue banting setir jadi pengusaha belut aja ya? Tapi gue jijik sama yang licin-licin gitu, geli! Apa gue buka angkringan aja ya?"
Sabar ya, hidup itu susah…
"Heh, narator! Bisa nggak berhenti ngomong gitu?"
Ya gimana Mbak, kan saya naratornya! Kalo boleh milih sih saya maunya jadi cowok berkriwil njepat yang tadi!
"…"
PET!
Bersamaan dengan sound effect yang kelewat pasaran itu, lampu-lampu di sepanjang jalan tersebut mati.
"Mati lampu? Aha! Untung besar!" mata Belgium berkilat. Tentu saja dia senang, dagangannya bisa laku, kan ya?
"Aduh, mati lampu…" keluh seorang gadis kecil berkulit kecokelatan.
"Kebetulan! Mau beli korek api Kakak tidak?" tawar Belgium.
"Ada lilin kok," entah kenapa jawaban gadis kecil berkuncir dua itu tak nyambung dengan pertanyaannya.
"Apinya?"
"Pakai kompor kan bisa?"
Krik. Penonton kecewa.
"Mati lampu! Gimana nih?" seorang perempuan yang—ehm—berdada besar berlari lewat diiringi sound effect "boing boing".
"Makanya Mbak, beli korek saya!" sambar Belgium.
"Saya nggak punya lilin…"
"Pake korek aja juga bisa kok!"
"Oh, iya! Baru ingat kalau di rumah ada lampu emergency. Makasih ya Mbak!" perempuan itu pun berlalu. Apa hubungannya coba? Terus ngapain pake terima kasih segala?
"…Sial."
Sabar ya, hidup itu susah…
"Mbak narator, bisa diam nggak?"
Maaf deh. Itu catchphrase authornya, sih.
Malam semakin menua, jalanan semakin sepi, dan hujan salju telah mereda, tetapi belum ada lagi orang yang membeli dagangan si gadis penjual korek api. Sabar ya, hidup itu susah…
"Kenapa sih hidup gue merana? Punya sodara pemabuk, dagangan gak laku-laku, digodain om-om girang, udah gitu orang-orang di sekitar gue ngomong 'sabar ya, hidup itu susah' terus dari tadi!" keluhnya sambil menyandarkan punggungnya ke tembok.
"Ve~ Sabar ya, hidup itu susah~"
"Ngapain kamu muncul lagi?" tanya Belgium sewot pada pemuda berahoge-mencuat yang tiba-tiba muncul lagi entah dari bumi bagian mana.
"Ve~ jangan marah, Mbak, saya cuma mau ngembaliin sepatu Mbak~" diulurkannya sepatu Belgium.
"Percuma. Satunya udah saya lempar ke muka om girang yang tadi ngegodain saya, tahu."
"Ve~ Sabar ya—"
"Makan tuh sepatu!" Belgium menjejalkan sepatunya ke mulut si ahoge-mencuat.
"Hueee, jahat! Padahal aku mau ngajak Mbaknya makan pasta bareng!" cowok itu mewek. "Doitsuuuu!"
"Hei, tunggu! Kenapa nggak bilang kalau mau ngajak saya makan pasta? Woi!"
Terlambat, non. Si cowok berahoge-mencuat sudah lari sambil teriak "DOITSUUU~!" entah Doitsu itu siapa. Bapaknya? Baby sitternya?
"Sial!"
Sabar ya, hidup itu susah…
"Mbak, diam! Atau saya embargo negara Mbak biar Mbak nggak bisa makan es krim Ma*num yang ada cokelat Belgianya lagi!"
Yah, jangan gitu dong Mbak! Saya baru makan dua kali!
""Makanya, diam! Orang lagi nelangsa juga!"
Sabar ya, hi—
"ARGHHH! CUKUP! GUE BAKAR LO PAKE KOREK API GUE!"
Cresss!
Tetapi sang narator tak perlu khawatir akan dibakar karena pada saat itu terjadi keajaiban. Dari cahaya lilin muncul bayangan meja makan elegan dengan hidangan yang hangat!
"Ini… nyata?"
Belgium bengong. Dicubitinya tangannya supaya ia yakin ini bukan delusi. Cubitannya menyakitkan. Berarti ia tidak sedang bermimpi.
Belgium mendekati meja itu. Tapi sayang, korek apinya mati. Meja itu pun ikut menghilang sebelum disentuhnya.
"…Sial."
Sabar ya, hidup itu susah…
Untungnya kali ini Belgium tidak membentak narator. Ia menyalakan korek lagi, hendak menguji apakah dari korek ini juga akan tercipta keajaiban.
Cresss!
Seiring dengan menyalanya api muncul bayangan sebuah tungku penghangat. Kehangatannya nyata, dapat dirasakan oleh tokoh utama kita yang kedinginan.
"Waaah, hangat! Enaknyaaa…" Belgium pun menghangatkan dirinya setelah seharian berdingin-dingin di salju. Sayangnya korek apinya padam tak lama kemudian, dan tungku itu pun menghilang bersama dengan kehangatan yang dibawanya.
"Sial, mati lagi!"
Sabar ya, hidup itu… ah, sudahlah, si author yang merangkap narator pun juga sudah bosan ngomong begitu melulu.
Kali ini Belgium menyalakan semua koreknya yang tersisa, supaya imaji berikutnya yang muncul bisa bertahan lama. Cresss!
Muncullah sosok kekasihnya yang sudah lama meninggal lantaran sakau tomat. Alasan matinya nggak elit? Emang.
"…Spain?"
"Hai, Bel!" Spain melambai padanya dengan senyum lebar.
"Aku rindu!" Belgium memeluk sosoknya.
"Aku juga." Spain tersenyum.
"Seperti apa rasanya di surga?" tanya Belgium tiba-tiba.
"Surga itu tempat yang menyenangkan sekali, loh! Di sana banyak tomat!"
Belgium sweatdrop.
"Di situ juga banyak wafel dan cokelat! Pokoknya makanan berlimpah-limpah. Tidak ada yang kesusahan. Enak sekali."
"…" Belgium termenung.
"Kalau begitu, bawa aku ke surga, Spain!" pintanya. "Aku bosan menderita di dunia! Hidupku selalu susah!"
"Sabar ya, hidup itu memang susah…"
"…Jangan ngomong gitu lagi, plis."
"Maaf deh." Spain nyengir. "Ayo, kita ke surga!"
Keesokan harinya, orang-orang yang lewat menemukan tubuh Belgium terbujur kaku di pinggir jalan. Orang-orang yang melewatinya begitu saja kemarin menyesal karena mereka tidak membeli dagangannya. Tetapi semua sudah terlambat.
"Ve~ Doitsu, ada apa itu?" tanya seorang cowok berambut cokelat berahoge mencuat pada temannya.
"Hmmm, sepertinya ada orang yang meninggal," laki-laki itu menjawab acuh tak acuh.
"Ve~ kasihan ya? Hidup itu memang susah…."
"Kalau tidak susah, bukan hidup namanya, Italy."
.
.
.
~FIN~
Tamat dengan Sangat Gaje dan Antiklimaks
.
.
.
A/N:
Halo! Di sini Rin yang masih hidup! (terus?)
Kegajean itu sudah jadi ciri khas Dogol Brothers, jadi harap jangan protes (?).
Ah... Tugas nulis esai bahasa Inggris 600 kata belum selesai, deadline besok, dan dengan nistanya saya malah publish versi Hetalia dari salah satu fic Dogol Brothers di fandom La Corda d'Oro... Ya sudahlah. Sebenarnya ini fic dari zaman jebot yang saya bikin buat ultah Arthuriver (hai twins!), tapi gak tahu kenapa pengen publish aja. /pluk/
Ngemeng-ngemeng, fic ini saya discontinued. Belakangan saya sering galau gara-gara lagi ada masalah, jadi jangan heran kalau makin lama fic saya udah jadi garing lantaran saya lagi depresi berat (?) dan nggak bisa nulis fic humor lagi. Boro-boro bisa nulis, waktu aja gak ada...
Oke, dadah. (?)
Balesan ripyu anonim chapter 2: (biarpun kayaknya gak bakal kebaca deh, udah tujuh bulan hiatus sih -_-)
Valencia Carriedo: Hehe, makasih! XD Kan Sule punya lagu buat Berwald. "Susis, wowowo Susis~" #BEDA
Fujoshi Anonim: Makasih~ X3 Wow, orang Jogja juga? Saya dulu di Sleman lho OwO SMA anda di mana memang? Saya akhirnya masuk SMA 3, biarpun cuma empat bulan kurang di situ sih ahaha #ngenes
