O.o.O

Naruto © Masashi Kishimoto

The Story of LaVioStar © Hana 'Reira' Misaki

Genre: Romance

Pair: SasuHina and other pairing

Rated: T

Warning: Crack pair, Typo(diusahakan seminim mungkin), OOC(mungkin), Dan keanehan lainnya.

If you don't like this fic, you can click back on your browser web! Thanks

O.o.O

"Kau.." Ucap Hinata.

"Wah… wah… ternyata kau mengingatku ya Hinata-chan."Ucap orang itu seraya tersenyum atau lebih bisa disebut seringai.

"Kau siapa?"Tanya Hinata. Seketika itu juga seringai di wajah orang itu luntur.

"Hmm.. ku pikir kau sudah sembuh dari penyakit ingatan mu, ternyata belum ya?."Ucap orang itu. Hinata menggeleng lemah.

"Kau tidak ingat atau memang tidak ingin mengingat kejadian dua tahun lalu?"Seringai orang itu muncul kembali.

"A-aku benar-benar tidak ingat. Kau siapa?"Tanya Hinata ragu-ragu. Sepertinya orang duduk disampingnya ini bukanlah orang baik-baik. Tubuh Hinata bergetar karena ketakutan.

"Kau benar ingin tahu siapa aku?"Tanya orang itu, seringainya makin terlihat jelas dan itu tambah membuat Hinata ketakutan.

"Aku Haruno Sakura."Bisiknya tepat ditelinga Hinata. Hal itu malah membuat Hinata semakin ketakutan. Tubuhnya bergetar hebat dan air mata tinggal menunggu tumpah saja.

"A-aku ti-tidak mengenalmu."Bibir Hinata bergetar.

"Kita memang baru bertemu sekali bahkan kita juga belum pernah bicara sebelumnya, tapi pertemuan pertama kita itu sangat me-nya-kit-kan"Ucap orang itu atau lebih mudah dipanggil Sakura penuh penekanan. Hinata menenggak ludah, siapa sebenarnya gadis disampingnya ini?.

"Apakah kau tidak ingin membalas dendam padaku?"Tanyanya masih dengan seringainya.

"A-apa ma-maksudmu?"Tanya Hinata, ia tidak mengerti maksud dari ucapan gadis ini.

"Aku yang telah membuatmu jadi seperti ini."Bisiknya ditelinga Hinata. Tubuh Hinata semakin bergetar mendengar ucapan gadis disampingnya ini.

"Sayang sekali kejadian itu tidak sampai mem-bunuh-mu Hinata."Ucap Sakura member penekanan pada kata 'membunuh'. Mata Hinata membulat seketika mendengarnya. 'apa ia gila?kenapa ia ingin membunuhku?'pikir Hinata.

"Kalau kau mati saat itu mungkin hati Sasuke-kun akan berpindah padaku."Lanjutnya. 'Sasuke-kun? Siapa yang dia maksud?'Pikir Hinata lagi.

"Apa kau juga tidak ingat padanya?"Tanya dengan nada yang menurut Hinata menakutkan. Hinata menggeleng. Sakura yang melihat itu semakin melebarkan seringainya.

"Baguslah, dengan begitu paling tidak aku masih punya kesempatan untuk mendapatkan hatinya."Ujarnya. 'Mendapatkan hatinya? Apa maksudnya?'Pikir Hinata.

"Tapi melihat dirimu yang sekarang sangat lain dengan kau yang dulu ya."Ucap Sakura.

"Kau sekarang adalah bintang LaVioStar yang dikenal banyak orang…"Sakura menggantung kalimatnya.

"Tapi sayangnya hal itu tidak akan lama lagi Hinata!" Pernyataan itu sukses membuat mata Hinata membulat seketika.

"Dan aku pastikan itu." Ada nada mengancam dari ucapan Sakura. Peluh menetes dikening Hinata, tubuhnya semakin bergetar ia serasa ingin pingsan. Aura yang keluar dari gadis ini sangat menakutkan. Sakura seperti seorang Psikopat.

"Sepertinya pembicaraan singkat kita harus berakhir Hinata, dan mungkin adalah terakhir kali kita bisa bicara santai, kau juga harus berhati-hati padaku Hinata." Setelah mengatakan itu Sakura bangun dari duduknya dan melenggang pergi. Tinggalah Hinata sekarang sendiri. Tubuhnya masih bergetar ketakutan dan peluh makin deras jatuh dikeningnya. Aura orang itu seperti masih tertinggal.

'sebenarnya bagaimana masa laluku? Siapa gadis itu? dan juga siapa yang dia bilang Sasuke itu? apa aku pernah mencintai laki-laki itu? atau kami pernah pacaran?' pikiran Hinata kalut. 'Akh…' tiba-tiba saja kepala Hinata serasa berat, mungkin karena ia terlalu banyak memikirkan masalah itu. Hinata jatuh terduduk sambil memegangi kepalanya yang nyeri.

"Hinata-sama, anda kenapa?" Tanya Iruka yang sudah ada disamping Hinata, ia panik setengah mati melihat majikannya kesakitan seperti ini. Hinata tidak merespon ucapan Iruka, ia masih memegangi kepalanya yang masih sakit. Kepalanya berasa berputar tidak karuan. Iruka yang melihat tidak akan ada tanggapan dari Hinata, segera menggendong Hinata menuju mobil mereka. Setelah sampai dimobil ia segera masuk dan memacu mobil menuju kekediaman Hyuuga.

.

.

.

Sesampainya di garasi kediaman Hyuuga, Iruka lalu turun dan membuka pintu belakang untuk kembali menggendong Hinata.

"A-arigatou Iruka-san."Ucap Hinata setengah sadar.

"Sudahlah Hinata-sama, jangan banyak bicara dulu."Ucap Iruka. Ia masuk kedalam kediaman Hyuuga yang langsung disambut oleh Hyuuga Neji –kakak Hinata-.

"Iruka, Hinata kenapa?"Tanya Neji dengan penuh kekhawatiran.

"Aku juga tidak tahu Neji-sama."Jawab Iruka.

"Ya sudah, ayo bawa dia ke kamarnya."Ajak Neji. Mereka bergegas menuju kamar Hinata yang berada di lantai atas. Setelah itu Iruka membaringkan Hinata dikasurnya. Hinata memang tidak pingsan, namun kepalanya terasa sangat sakit.

"Aku permisi dulu Neji-sama."Pamit Iruka kepada Neji yang dijawab dengan anggukan saja. Setelah Iruka keluar dari kamar Hinata, kini tinggalah Neji dan Hinata. Neji beranjak dari kasur Hinata untuk mengambilkan Hinata obat. Hinata merubah posisi dari berbaring menjadi duduk lalu menerima obat dari Neji.

"Bagaimana keadaanmu sekarang?"Tanya Neji .

"Sudah lebih baik Nii-san."Jawab Hinata pelan. Raut wajah Neji masih menampakan kecemasan.

"Apa yang membuatmu jadi seperti ini?"Tanya Neji lagi. Raut wajah Hinata berubah seperti orang ketakutan.

"Ti-tidak ada Nii-san, mungkin hanya kelelahan setelah show saja."Ucap Hinata bohong. Neji menghela nafas. Ia tahu kalau adik tercintanya ini sedang berbohong tapi, ia tidak ingin memaksa Hinata kalau memang ia tidak ingin mengatakannya.

"Baiklah."Ujar Neji.

"Nii-san, sebenarnya bagaimana masa laluku dulu sebelum aku kehilangan ingatanku?"Tanya Hinata. Mata Neji membelalak ketika Hinata bertanya demikian.

"Kenapa kau ingin tahu?"Neji bukan menjawab malah balik bertanya.

"A-aku hanya ingin tahu, apa aku pernah menyakiti seseorang?"Tanya Hinata.

"Tidak pernah."Jawab Neji singkat.

"Be-benarkah?"Tanya Hinata memastikan. Neji menghembuskan nafas berat. Ia menatap adiknya nanar.

"Iya."Jawab Neji singkat.

"Justru kau yang selalu disakiti."Lanjut Neji.

"Ma-maksud Nii-san?" Hinata dibuat semakin penasaran dengan pernyataan Neji.

"Sudahlah, ini sudah malam lebih baik kau tidur."Ucap Neji. Ia berjalan menuju pintu keluar.

"Tapi…" Ucapan Hinata terputus oleh ucapan Neji.

"Oyasumi Hinata."Ujar Neji tanpa memperdulikan raut wajah Hinata yang masih penasaran. Ia lalu menutup pintu kamar Hinata.

"Aku tidak bisa mengatakannya padamu Hinata, Maafkan aku. Aku hanya tidak ingin kau kembali mengingat masa lalumu dan membuatmu kembali terluka."Gumam Neji.

Kini di dalam kamar itu tinggal Hinata sendiri. Ia menatap pintu keluar yang tadi ditutup oleh kakaknya. Neji meninggalkan Hinata dengan banyak tanda tanya.

"Apa yang Nii-san sembunyikan dariku?"Tanya Hinata entah pada siapa. 'Aku hanya ingin tahu bagaimana masa laluku, apa itu sulit.'Batin Hinata. 'Segitu burukkah masa laluku sehingga Nii-san tidak ingin memberi tahuku tentang masa laluku?' Berbagai pikiran berkelebat di otak Hinata. Lagi-lagi rasa sakit dikepala Hinata kembali menyerang dan ia tahu kalau ia tidak boleh banyak berpikir.

"Mungkin benar kata Nii-san, aku harus segera tidur."gumam Hinata.

.

.

.

Neji berjalan gontai menuju kamarnya. Ia masih tidak habis pikir apa yang membuat adiknya ingin tahu tentang masa lalunya. Setelah sampai didepan kamarnya, ia pun langsung masuk dan duduk ditepi ranjangnya. Pikirannya menerawang tentang kejadian dua tahun lalu.

#Flashback: On

Hari ini adalah hari minggu, dan Hinata memanfaatkan hari ini untuk berjalan-jalan. Ia ditemani –ralat- minta ditemani kakaknya, Hyuuga Neji.

"Hinata, kenapa kau tidak minta ditemani oleh Sasuke sih?"Tanya Neji. Hari ini niatnya Neji ingin santai-santai saja dirumah, tapi malah diajak pergi oleh Hinata.

"Sasuke-kun sedang ada acara Nii-san."Jawab Hinata. Ya, Hinata dan Sasuke adalah sepasang kekasih, mereka sudah setahun ini menjalani nikmatnya menjadi sepasang kekasih.

"Acara apa?"Tanya Neji penasaran.

"Entahlah."Jawab Hinata singkat. Neji menghela nafas.

"Terus kenapa kau tidak mau kalau aku membawa kendaraan? Masa kita jalan seperti ini?"Neji kesal juga pada adiknya ini, sudah mengajaknya jalan-jalan dihari yang Neji anggap sebagai hari santai terus ditambah harus jalan kaki lagi. Benar-benar merepotkan.

"Namanya juga jalan-jalan, ya harus jalan kaki lah."Ucap Hinata dengan tampang innocent.

"Ya sudah sekarang kita mau kemana?"Tanya Neji lagi. Hinata memutar bola matanya tanda kalau ia sedang memikirkan tempat yang kiranya cocok untuk mereka datangi.

"Bagaimana kalau taman kota?"Kini gantian Hinata yang bertanya. Neji hanya menggangguk. Ia menggenggam tangan Hinata dan mulai berjalan. Hinata hanya tersenyum manis mendapatkan perlakuan seperti itu.

Beberapa menit berjalan, akhirnya mereka sampai di Taman kota yang dimaksud Hinata. Hinata tersenyum saat banyak anak-anak yang bermain di Taman itu. 'manis sekali'pikir Hinata.

"Kita sudah sampai sekarang mau apa lagi?"Tanya Neji. Hinata menggembungkan pipinya.

"Iih.. Nii-san seperti tidak niat banget sih jalan-jalan."Ujar Hinata.

"Memang." Jawab Neji singkat. Hinata semakin menggembungkan pipinya dan mengerucutkan bibirnya.

"Lagipula kau itukan sudah besar Hinata, kenapa masih ingin jalan-jalan seperti ini?" Neji frustasi lama-lama menghadapi adiknya ini.

"Karena aku ingin."Ucap Hinata sambil menjulurkan lidahnya. Hinata didepan Neji memang manja dan childish, tapi itu yang membuatnya terlihat manis dimata Neji.

Mereka berjalan menuju bangku taman yang kosong dan duduk disitu. Pemandangan Taman kota memang lain. Disini bukan hanya tempat anak-anak tapi anak muda, orang tua, bahkan manula suka berada ditaman kota yang asri. Begitu pula dengan Hinata. Hinata memejamkan matanya merasakan angin musim semi yang menerpa wajahnya membuat poninya sedikit bergerak. Menambah kesan manis pada dirinya.

"Pemandangan yang indah ya Sasuke-kun."Ucapan seseorang itu sukses membuat Hinata menoleh kesumber suara. Mata Hinata membelalak sempurna ketika melihat sosok yang setahun ini mengisi relung hatinya sedang berdua dengan wanita lain, mereka terlihat mesra walaupun wajah Sasuke tetap datar.

"Hn."Hanya itu yang keluar dari mulut Sasuke. Neji yang melihat perubahan di raut wajah Hinata pun mengikuti arah pandang Hinata. Neji pun tak kalah terkejutnya ketika melihat Sasuke bersama dengan gadis lain. Neji mengalihkan pandangannya kembali ke Hinata. Ia melihat air mata dipelupuk mata Hinata. Ia tambah terkejut ketika Hinata bangkit dari duduknya dan berlari kearah Sasuke. Tapi yang Neji lihat Hinata hanya melewati Sasuke.

"Hinata…"Panggil Neji. Neji pun ikut bangkit dan berniat mengejar Hinata. Ia berhenti sebentar didepan pemuda Uchiha itu.

"Brengsek kau!"Desis Neji. Neji kembali berlari menyusul Hinata yang mulai hilang jejaknya.

Hinata berlari sangat kencang. Neji hampir saja kehilangan jejaknya untung saja tidak hilang.

"Hinata kau mau kemana?"Teriak Neji mencoba menghentikan langkah Hinata. Ia bisa liat kalau Hinata sedang menangis. Hinata berlari kearah jalan raya tapi…

"Hinata awas!"Teriak Neji, namun..

'Brukk' Tubuh Hinata terpental beberapa meter ketika sebuah mobil menghantam tubuhnya.

"Hinata…" Wajah Neji berubah jadi panik seketika ketika melihat Hinata tertabrak mobil. Darah segar mengalir dari tubuh Hinata. Ia mendekat kearah tubuh Hinata. Air mata Neji pun tidak dapat dibendungnya. Neji mengeluarkan ponselnya dan dengan segera menelepon ambulan.

Beberapa menit kemudian Ambulan pun datang dan dengan segera membawa tubuh Hinata beserta Neji kerumah sakit.

"Hinata bertahanlah."Ucap Neji, Kecemasan diwajah Neji semakin terlihat jelas.

Beberapa saat kemudian mobil ambulan sudah sampai dirumah sakit. Hinata langsung dilarikan keruang gawat darurat.

Neji menunggu diruang tunggu. Ia berdoa supaya adiknya bisa selamat. 'Oh Kami-sama, aku mohon selamatkan Hinata.'Doa Neji dalam Hati. Neji menunggu dengan gelisah. Neji memejamkan matanya untuk mengurangi rasa gelisahnya.

"Bagaimana keadaan Hinata, Neji." Mata Neji terbuka seketika saat mendengar suara dari orang yang sangat dikenalnya. Amarah Neji pun memuncak ketika melihat orang didepannya.

"Kau! Beraninya kau datang kesini, Sasuke!"Ucap Neji setengah berteriak.

'Bugh..' Neji memukul pipi Sasuke dengan keras, membuat tubuh Sasuke jatuh tersungkur. Neji mencengkram kerah baju Sasuke. Amarah nya mengalahkan akal sehatnya.

"Kau pikir karena siapa hah!"Neji berteriak didepan wajah Sasuke.

"Maaf."hanya itu yang diucapkan Sasuke. Amarah Neji semakin menjadi-jadi. Ia tidak peduli ini ditempat umum atau bukan.

"Kau pikir dengan minta maaf semua selesai hah!"Teriak Neji. Sasuke bergeming.

"Hinata percaya padamu, tapi kenapa kau mengkhianatinya."Neji menurunkan sedikit nada suaranya.

"Semua salah paham Neji, kau harus tahu itu."Ucap Sasuke. Neji tidak peduli apapun alasan Sasuke.

"Aku tidak ingin tahu hal itu! yang aku inginkan kau pergi dari hidup Hinata selamanya."Ucap Neji, seraya bangkit dari tubuh Sasuke.

"Tapi aku mencintainya Neji."Sasuke menatap Neji nanar.

"Kau bilang apa hah? Mencintainya? Kau itu telah menyakitinya apa kau tidak paham.

"Sudah kubilang ini semua salah paham Neji."Sasuke mencoba menjelaskan.

"Aku tidak peduli, lebih baik kau pergi sekarang! aku muak melihatmu."Usir Neji.

"Kau harus dengarkan aku dulu Neji."Sasuke mengabaikan usiran dari Neji, yang ia pikirkan sekarang adalah ia harus menjelaskan kesalah pahaman ini.

"Aku dulu percaya padamu, maka dari itu aku izinkan Hinata pacaran denganmu. Tapi kau kini telah mengecewakan aku UCHIHA!"Ucap Neji memberi penekanan pada kata terakhirnya.

"Neji…"

"Bukan hanya itu, kau pikir bagaimana perasaan Hinata saat kau bersama dengan gadis lain. Apa kau tidak pernah berpikir bagaimana perasaaannya hah? Dan sekarang kau masih berani menampakan dirimu disini, apa kau tidak punya harga diri hah!"Neji kembali berteriak. Sasuke menundukan kepalanya.

"Pergilah dari kehidupan Hinata selamanya!"Setelah mengucapkan itu, Neji beranjak pergi.

Neji berjalan menuju ruang Dokter untuk menanyakan keadaan Hinata.

'Tok…Tok…Tok…' Neji mengetuk pintu pelan.

"Masuk."Ucap seseorang dari dalam. Neji pun masuk dan duduk dikursi yang telah disediakan.

"Bagaimana keadaan adik saya dokter Tsunade?"Tanya Neji, raut wajahnya kembali menampakan kecemasan.

"Untung saja ia cepat dibawa kemari sehingga nyawanya masih dapat ditolong."ucap Dokter yang dipanggil Tsunade oleh Neji. Neji menghela nafas lega saat mengetahui kenyataan Hinata baik-baik saja.

"Tapi ia kehilangan ingatannya."Ucap Tsunade menatap Neji dengan tatapan sendu.

"Apa maksudnya?"Neji belum mengerti apa yang diucapkan Tsunade.

"Kepalanya terbentur keras saat kejadia dan itu membuatnya kehilangan ingatannya."Jelas Tsunade.

"Jadi, dia tidak bisa mengingat apapun?"Tanya Neji memastikan. Tsunade mengangguk.

"Berapa lama kira-kira ingatannya akan kembali?"Tanya Neji lagi.

"Tidak bisa dipastikan, tapi seiring berjalannya waktu ingatannya pasti akan kembali."Jawab Tsunade. Mendengarnya membuat Neji sedikit terpukul tapi ia tidak bisa melakukan apapun.

"Hmm… baiklah saya permisi dulu Dokter."Ucap Neji seraya keluar dari ruang Dokter.

"Iya" jawab sang dokter.

Neji berjalan gontai menuju kamar rawat Hinata. Setelah sampai di kamar Hinata, Neji duduk di kursi dekat ranjang. Hinata tampak lemah dengan infuse dan oksigen yang menutupi mulutnya.

"Apa kau lupa padaku Hinata?"Tanya Neji, walau ia tahu Hinata tidak akan menjawabnya. Neji menghela nafas berat. Ia tidak bisa membayangkan kalau adik tercintanya ini melupakanya.

End Flashback

Neji memejamkan matanya. Mengingat masa lalu Hinata membuat kepalanya pusing.

"Semoga besok ia tidak akan menanyakan hal ini lagi."Gumam Neji, setelah itu ia mulai bergumul dengan mimpinya.

.

.

.

"Hinata… sudah pagi ayo bangun."Ucap seseorang berambut biru keunguan dengan bunga cantik di atas kepalanya –Konan-. Hinata menggeliat pelan. Konan menghampiri tubuh Hinata dan mengguncang-guncangkan pelan.

"Sebentar lagi Konan-nee."Ucap Hinata sambil menarik selimutnya sehingga menutupi sebagian wajahnya.

"Hinata, kau tidak ingat hari ini kita ada manggung di Rings Show."Ucap Konan mengingatkan. Hinata yang mendengar itu langsung bangun dan mengerjap kan matanya sebentar.

"Oh iya aku lupa."Ucap Hinata sambil menepuk dahinya pelan.

"Ya sudahlah, sekarang kau mandi. Yang lainnya sudah ada dibawah, jangan lama-lama ya!"Setelah mengatakan itu Konan keluar dan meninggalkan Hinata sendiri. Hinata segera turun dari kasurnya dan berjalan menuju kamar mandi.

Beberapa menit kemudian, Hinata sudah siap dengan pakaian seragam yang disiapkan pelayannya. Yang dimaksud disini sebagai seragam adalah pakaian yang sama yang digunakan oleh semua personil LVS. Seragam hari ini Baju dengan lengan sebahu dengan rok garis-garis selutut ditambah dengan rompi juga aksesoris secukupnya, warna yang digunakan oleh masing-masing personil berbeda-beda. Hinata hari ini mendapatkan baju warna putih dengan rok ungu muda dengan garis-garis putih juga rompi yang senada dengan rok-nya. Setelah merasa tampilannya sudah rapi, ia turun kebawah untuk menemui yang lainnya.

"Wow! Hina-nee cantik sekali."Puji Ranmaru kepada Hinata, yang dipuji hanya berblushing ria.

"Kau juga cantik Ran-chan."Ucap Hinata. Ranmaru hari ini mendapat seragam baju berwarna ungu tua dengan rok hitam garis-garis putih, tak lupa rompinya juga sewarna dengan roknya.

"Kami tidak dipuji Hinata?"Tanya Konan menyindir. Konan hari ini mendapat seragam baju berwarna ungu muda dengan rok putih garis-garis biru juga rompi yang juga sewarna dengan roknya.

"Iya nih Hinata-chan pilih kasih."Kini giliran Isaribi dengan nada merajuk. Isaribi mendapat seragam sama dengan Hinata.

"Setuju."Shion juga ikut andil dalam percakapan ini. Shion mendapat pakaian yang sewarna dengan Ranmaru.

"Iih… kalian kan gak muji Hina-nee."Ucap Ranmaru membela Hinata. Hinata tersenyum mendengar pembelaan dari Ranmaru.

"Kalian juga cantik kok."Ucap Hinata kepada ketiga teman didepannya. Perkataan Hinata sukses membuat ketiganya tersenyum.

"Arigatou Hinata-chan, Kau juga sangat cantik."Ucap ketiganya bersamaan.

"Sudah ayo kita berangkat, nanti kita telat lagi."Ucap Ranmaru.

Mereka semua bersiap-siap menuju mobil khusus LVS dan langsung menuju ketempat tujuan.

.

.

.

Setelah setengah jam perjalanan akhirnya mereka sampai ditempat tujuan.

"Kenapa kalian lama sekali?"Tanya Kakashi. Kelima orang yang dipandangi Kakashi hanya tersenyum.

"Gomen-ne Kakashi-san, kita kan wanita masa kau tidak mengerti."Ucap Konan dengan nada sedikit merayu.

"Akh… sudahlah berdebat dengan kalian pasti akan memakan waktu lama, lebih baik kalian bersiap-siap sebentar lagi kalian naik keatas panggung."Ucap Kakashi.

"Ha'I"Ucap kelima personil LVS bersamaan. Beberapa saat kemudian host memanggil ..

"Ini dia LaVioStar."Ucap sang host dari atas panggung. Para personil LVS satu persatu menaiki panggung. Mereka mengambil tempat sesuai formasi mereka dan bersiap menyanyikan lagu pertama mereka Be First.

.

.

.

"Yeay! Selesai juga"Ucap Ranmaru sesampainya dibase camp, setelah selesai manggung di Rings Show mereka langsung menuju base camp.

"Hari jadwal kita apa saja Kiba?"Tanya Shion pada Kiba yang kini sedang duduk disamping Ranmaru.

"Nanti siang pukul 12.00 kalian akan manggung di Festival Kpop Indonesia."ucap Kiba sambil melihat notenya. Yang lainnya hanya berOh ria.

"Lalu?"Kini giliran Konan yang bertanya.

"setelah itu sorenya pukul 16.00 kalian akan tampil di acara pembukaan kantor cabang U.S. Corp yang terbaru."Ucap Kiba

"U.S.?"Tanya Hinata bingung.

"Iya, itu adalah salah satu perusahaan terbesar kelima di Tokyo."jelas Kiba. Hinata hanya ber-Oh ria.

"Tapi hebatnya, pemimpin perusahaan itu masih seumuran denganmu Hinata."sambung Kiba.

Hinata lagi-lagi hanya berOh saja. Setelah sudah tidak ada yang ingin ditanyakan lagi, Hinata lebih memilih bermain dengan ponselnya. Seperti biasa Hinata bermain dengan jejaring social Twitter.

HinataLVS_Hime

Konichiwa LVF! Apa kabar?

Hinata membuka mention yang masuk kedalam Akun Twitter-nya. Hinata membaca mention dari para LVF. Ia hanya tersenyum melihat mention yang masuk. Tapi gerakan membacanya terhenti ketika membaca mention dari akun yang sama dengan yang kemarin membuatnya penasaran. Hinata merasa penasara dengan orang ini, Hinata merasa dekat sekali dengan orang ini. 'Siapa sebenarnya Dark_Onyx ini?"Pikir Hinata.

Dark_Onyx

HinataLVS_Hime Aku tidak sabar untuk bertemu denganmu malam ini, bagaimana dengan mu? Apa kau juga merindukanku? Ah… jangankan merindukanku kau bahkan belum mengingatku. Jujur aku takut bertemu denganmu Hinata.

Hinata mengerutkan keningnya bingung, takut? Kenapa orang itu mesti takut padanya? Apa dia pernah berbuat salah pada orang itu? segala macam pikiran berkelebat di kepala Hinata.

HinataLVS_Hime

Dark_Onyx Kenapa kau takut padaku?

Hinata menunggu dengan sabar jawaban dari si Dark_onyx. Jujur Hinata sekarang sangat penasaran dengan orang ini.

"Hei, Hinata kau sedang dekat dengan seseorang ya?"Pertanyaan Konan sontak membuat Hinata terkejut.

"Ap-apa ma-maksud Konan-nee?"Hinata tergagap. Konan tersenyum jahil.

"Siapa tuh si Dark_Onyx?"Tanya Konan menggoda. Hinata blushing seketika.

"A-aku ju-juga tidak tahu."Jawab Hinata seraya mengalihkan pandangannya.

"Masa sih? Setahu aku kau tidak pernah membalas mention dari fans, biasanya kau hanya membacanya saja kan? Tapi kenapa untuk si Dark_Onyx kau mau membalasnya?"Tanya Konan bertubi-tubi.

"A-aku cuma pe-penasaran saja."Ucap Hinata masih dengan wajah yang merona.

"Ohya? Itu berarti kau sedang tertarik padanya kan?"Konan tidak henti-hentinya menggoda Hinata. Wajah Hinata semakin memerah.

"Ti-tidak, sudah ah.. berhenti menggodaku Konan-nee."Ucap Hinata sambil menggembungkan pipinya. Konan hanya terkikik geli melihat Hinata berlaku seperti anak kecil, Konan lalu mencubit pipi Hinata yang chubby.

"Aw.. sakit Konan-nee."rintih Hinata sambil memegangi pipinya yang memerah akibat ulah Konan.

"Siapa suruh punya pipi yang membal."Ujar Konan sambil menjulurkan lidahnya dan berlalu dari hadapan Hinata.

"Dasar."Umpat Hinata.

Perhatian Hinata kembali pada ponselnya, ternyata sudah ada balasan dari si 'Dark_Onyx'.

Dark_Onyx

HinataLVS_Hime aku bukan takut padamu, aku hanya takut kau belum bisa memaafkanku. Sungguh aku masih sangat mencintaimu Hinata.

'Cinta?' Hinata bingung apa yang dimaksud dengan cinta. Apa yang dimaksud cinta disini adalah rasa dari seorang fans kepada idolanya. Atau cinta kepada pasangannya?. 'Apa aku pernah punya hubungan special dengan orang ini?'Pikir Hinata dalam hati.

-TBC-

Wah… 3000 words, kepanjangan gak?. Nah di chapter ini udah dikasih tahu bagaimana hubungan Hinata dimasa lalu bersama Sasuke. Dan yang bicara dengan Hinata ditaman itu bukan Sasuke atau laki-laki lain, melainkan Sakura. Disini aku membuat Sakura sebagai tokoh antagonis. Dan 'Dark Onyx' akan tampil di Chapter depan. Ohya kayanya khusus chap ini ada bagian hurt-nya ya? Tapi Cuma pada bagian flashback doang kan.

Thanks to:

Hyuuchi perry dreams, uchihyuu nagisa, Hizuka Miyuki,

Lollytha-chan, kumiko lavender haruna, keiKo-buu89

hyuchiha'rie'kurichiki, Sasuhina 'TwinklePants, Shyoul lavaen

-And All Silent reader-

Mind to Review? Please Click…

I

I

V