Pernah terpikirkan untuk selalu menjadi nomor satu? Nomor satu di segala hal. Pelajaran, Olahraga, talenta, bahkan hal-hal kecil seperti besar telapak tangan atau tinggi badan. Pernah terpikir?

Aku? Kau tanya apa aku pernah? Aku kan sedang bertanya padamu. Baiklah, aku akan menjawab. Ya, aku pernah terpikir untuk menjadi nomor satu seperti yang tadi aku jabarkan. Dan semua itu memang terwujud. Aku nomor satu dalam pelajaran, buktinya aku seorang ketua Osis. Aku juga nomer satu dalam olahraga, buktinya aku menjajahi posisi kapten di eskul volly dan di atletik lompat tinggi. Aku juga si nomer satu di talenta yang aku miliki, buktinya aku selalu meraih mendali pertama di setiap kompetisi kendo antar sekolah. Jadi soal seperti besar telapak tangan atau tinggi badan tak perlu di tanya lagi. Aku laki-laki, sudah pasti memiliki telapak tangan besar dan tinggi badan yang menjulang.

Tapi...

Walau aku bisa segala hal dan menjadi nomor satu, selalu saja cewek itu menantangku. Entah menantangku bertanding kendo, atau bertanding nilai pelajaran, atau mungkin bertanding volly. Cewek itu selalu dan selalu menantangku tanpa menyerah. Padahal dia tau, bahwa dia tak akan mungkin menang dariku. "A-aku akan kembali lagi dan menantangmu NANAS!" Dia selalu mengucapkan kata-kata itu setiap kali kalah bertanding denganku. Cewek abnormal yang lucu.

Setiap hari aku selalu menantikan kehadirannya untuk mengajakku bertanding. Entah kenapa, aku sangat menikmati pertandingan dengannya. Walau kadang pertandingannya sangat konyol. Aku hanya bisa tersenyum dan menurutinya saja. Toh, aku akan menang kan nantinya?

"NANAS! Aku kembali!"

Wajah bersemangat yang memiliki arti 'aku kali ini pasti menang' terukir jelas di wajahnya itu. Aku hanya bisa terkekeh. "Kali ini kau ingin bertanding apa?" tantangku.

"Besar ukuran sepatu! Aku sudah mengecek seluruh antreo sekolah kalau ukuran sepatuku ini yang paling besar diantara anak perempuan!"

Aku tersenyum geli. Benar-benar cewek aneh yang abnormal. "Bodoh! Kau sudah pasti kalah! Ahahah!"

"Kurang ajar! Sudah ukur saja!"

Aku menghentikan tawaku, dan menatapnya. "Tidak perlu mengukur. Berapa nomor sepatumu?"

"41!" jawabnya lantang, wah...wah... dia yakin sekali menang ya?

Aku melepas sebelah sepatuku dan menatap nomer yang tertera di telapaknya. "Wah... sayang sekali ya, nomor sepatuku 42!" balasku seraya menunjukan nomor 42 yang tertera pada cewek aneh ini. Aku tersenyum menang.

"Agghh! Brengsek, sedikit lagi! Awas kau! Aku akan mencari sesuatu yang akan membuatmu bungkam!"

"Oke aku akan menunggunya! Tapi aku tak bisa terus-terusan menunggu lho... Hehehe," balasku dengan sedikit mengejek.

Cewek itu melirikku sinis dan menjulurkan lidahnya kesal. Aku hanya bisa terkekeh melihat tingkahnya yang kekanak-kanakan.

"Sejak kapan Tatsuki Arisawa jadi suka bersikap seperti itu?"

Aku menegokkan kepalaku ke asal suara tadi. Ah... Ikkaku Madarame, teman baikku si kapten eskul kendo. "Sejak dia terobsesi menyukaiku, mungkin? Hahaha..."gurauku pelan.

"Hahahaha bodoh! Percaya dirimu itu besar sekali ya tuan Nanas!"

Ya... aku memang bodoh dan terlalu percaya diri. Tak mungkin kan seorang Tatsuki Arisawa si cewek heroik itu menyukaiku? Mimpi! Yang ada di otaknya hanya bertanding-bertanding dan bertanding. Dia ingin menemukan kelemahanku, yang belum pernah aku raih sebagai 'si nomor satu'. Lalu, dengan niat tertentu ingin meraih posisi itu agar membuatku jengah. Cukup konyol kalau kubilang. "Kapan dia tau ya?" bisikku pada Ikkaku.

"Soal apa?" tanya Ikaku balik.

"Soal itu..."

"Oh... Aku rasa, sampai kapan pun dia gak bakal tau. Kau sendiri yang tak mau mengakuinya kan, Renji ?" Aku tersenyum tipis. Rasanya geli jika membicarakan hal ini.

.

.

Lova Storias 2

─The Number one─

Pairing :: Renji Abarai and Tatsuki Arisawa

Genre :: Friendship and Drama

Quotes :: Tidak ada di dunia ini yang bisa menjadi sempurna

.

.

Kegiatan sekolah sudah bubar sendari tadi, hari ini aku pulang terlambat karna aku mendapat giliran piket di kelas. Kegiatan sapu-menyapu sangatlah tidak cocok untuk ukuran tubuhku yang super besar dan sangat 'pria' sekali. Tapi untung saja, aku terlahir memiliki kesabaran ekstra dan pekerja keras (?). Sejenak aku melirikan mataku pada ambang jendela kelas yang masih terbuka. Sepertinya kerjaanku masih banyak. Setelah sekiranya aku mendapati seluruh lantai bersih dari debu, aku mulai menutupi kaca jendela yang terbuka satu per satu. Sampai akhirnya saat aku ingin menutup jendela kelas yang terakhir, aku tak sengaja melihat kejadian langka yang tak pernah kulihat sebelumnya.

"Lalu... Lalu hubungan kita berakhir. End gitu! Ngertikan maksudku... Orihime?"

Cowok berambut orange yang sedang minta putus itu namanya Ichigo Kurosaki, playboy kelap kakap di sekolah ini. Hidupnya yang selalu di kelilingi fans, mungkin membuatnya jadi lupa diri. Dan cewek malang yang memiliki warna rambut sama dengannya itu kalau tidak salah Orihime Inoue, pacar barunya. Aku sebagai manusia yang mempunyai perasaan sudah pasti akan merasa marah dan kesal begitu mendengar seseorang berkata hal macam itu. Cowok tidak tau diuntung. Sudah bagus itu Orihime mau jadi pacarnya. Tega-teganya dia membuat cewek macam Orihime harus sampai ngejar-ngejar dia setengah mati, lalu dibuang seenaknya. Bajingan!

"Tapi kamu bilang dulu, k-katanya kamu sudah berubah,"

Cukup, aku tidak bisa melanjutkan acara menguping jika sudah mulai ada yang menangis seperti itu. Aku benar-benar lemah mendengar isak tangis seperti itu. Dengan perasaan aneh akibat menguping, aku melangkahkan kakiku keluar ruangan untuk pulang."Ha-ah.." aku mendesah pelan, mengingat suara isak tangis itu. Gadis yang malang, semoga dia bisa menemukan penggantinya.

Aku melangkah kan kakiku cukup cepat, berharap bisa meninggalkan sekolah dengan cepat. Tapi...

"Mau pulang?" sesosok cewek berambut hitam dan bermata violet menyapaku dengan ramah.

Aku tersenyum tipis dan menghentikan langkahku. "Ya, kau sendiri?"

"Belum. Masih mau nunggu Ichigo," jawabnya lagi.

Aku berdecak kesal. Kenapa di sekolah ini semua cewek pada rela antri buat playboy macam Ichigo sih? Padahal masih banyak cowok yang bisa diajak berhubungan serius, ketimbang bermain seperti bocah orange itu. Sudahlah, aku malas mengurusi hal ini lebih lanjut. "Hngh gitu... Kalau gitu aku duluan ya, Rukia."

"Oh ya, hati-hati ya Renji."

Aku melambaikan tanganku dan kembali berjalan. Rukia Kuchiki adalah sorang cewek populer di sekolah ini. Sama populernya dengan si playboy cap buah jeruk itu. Dia juga cewek cerdas yang memiliki talenta. Tapi sayang, ternyata tidak secerdas yang dibicarakan. Kenapa? Ya, karna sifatnya sama saja dengan cowok playboy orange itu. Dia playgirl. Sudah hampir setengah murid cowok sekolah ini merasakan menjadi pacarnya, walau sebagai selingkuhan. Aku sih tidak berminat. Aku hanya senang menjadi teman dekatnya saja.

"Hey Nanas!"

Suara ini...

"Ya? Ada apa Ikakku?"

Cowok bo─... maksudku cowok tak berambut ini sudah pada tau kan? Ya dia ini Ikkaku si kapten tim kendo yang waktu itu. "Tidak, hanya ingin jalan ke stasiun bareng," ucapnya seraya terkekeh.

Aku hanya tersenyum. "Ayo!"

...

Aku dan Ikakku berjalan menuju stasiun. Saat ingin masuk, lagi-lagi Ikaku menghentikan jalanku. "Nanas, tunggu dulu!"

"Ah, ada apa lagi Pachiko?" balasku tak bersahabat. Aku ingin cepat pulang sesungguhnya.

"Pa-pachiko?" Geram si bo─... ah maksudku si Ikkaku dengan sangat tidak elit. Aku cuman bisa menutup telingaku yang sedikit berdengung. "Kau ini cengeng sekali? Kau memanggilku 'Nanas', aku saja tidak berkomentar," belaku seraya lanjut berjalan.

"Ya ya.. maafkan aku! Mau aku tunjukkan sesuatu yang menarik gak?" tawarnya. Aku melirik, sedikit tertarik. Lalu dia terkekeh seraya menunjukan jari telunjuknya menuju sesuatu. "Lihat itu," ucapnya lanjut.

Aku menengok menuju apa yang si Ikakku tunjuk tadi. Ahh... di sana ada Tatsuki dan teman karibnya Soi Fon. Apa yang sedang mereka lakukan? Melempar uang logam pada air mancur? Dia percaya mitos itu? Mitos yang mengatakan kalau kita memejamkan mata seraya melemparkan uang logam pada air mancur di depan stasiun, permintaan kita pasti akan terkabul. Aku tertawa geli. Cewek yang aneh. Aku berani bertaruh, pasti dia sedang memohon permintaan untuk menang bertanding denganku. "Sampai segitunya ya dia ingin menang darimu?" bisik Ikakku tersenyum lebar. Aku semakin tertawa.

"Aku juga tak mengerti," ucapku sekedar menanggapi perkataan Ikkaku tadi.

"Memangnya apa yang sudah kau perbuat, sampai dia segitu kesumatnya pengen menang darimu?"

Aku terdiam, lalu tersenyum lagi. "Itu... sepertinya karna aku sering mengatakan padanya 'anak permpuan tidak boleh melakukan hal yang diluar kebiasaan anak perempuan. Jadilah anak perempuan kebanyakan saja. Sampai kapan pun anak perempuan tak akan bisa seperti anak laki-laki' gitu..." jawabku seraya menggaruk daguku menggunakan jari telunjuk.

Ikakku menutup mulutnya menahan tawa. "Kau sampai bicara begitu?"

"Memangnya kenapa? Bukannya ucapanku benar?" belaku sendiri. Mendadak beberapa rona kemerahan menghantui wajahku, aku malu. "Itu sebabnya... Dia ingin menang dariku untuk membuktikan bahwa perempuan bisa seperti laku-laki. Hah~... Cewek yang aneh," ucapku lanjut seraya tersenyum tipis.

Ikakku diam lalu tersenyum kemudian. "Kau juga cowok yang aneh."

"Heh? Apa maksudmu?"

"Tak apa. Sudahlah, ayo kita pulang! Sudah sore ini." Ajak Ikaku menuju pintu masuk stasiun. Aku masih terdiam di posisiku. Mata maroonku masih menyorot sesosok cewek berambut cepak yang sedang memandangi air mancur dengan pandangan berharap. Aku tersenyum lagi, cewek yang aneh. "Ayo, Nanas! Sudah sore ini!"

"Iyaa cerewet!"

...

"Ini hasil ujian matematika kemarin, yang nilainya di bawah 70 ikut ujian ulang." Aku mendengar ucapan ketua kelas super stoic dengan malas. Dia menghampiriku bersama wakilnya Soi Fon. "Renji Abarai, ini hasil ujianmu." Ucapnya seraya menyodorkan selembar kertas. Setelah aku mengambilnya, dia kembali berjalan dan membagikan hasil ujian untuk yang lainnya diiringi sang wakil. Aku curiga, si Soi Fon ini sudah kena santet. Kenapa bisa ya dia suka sama cowok stoic dan dingin macam ketua Ulquiorra?

"Nanas! Berapa hasil ujianmu?"

Ahh... suara ini. Aku tersenyum lebar menyambut kedatangan suara ini. "Kau sendiri berapa, Tatsuki Arisawa?" tanyaku balik dengan senyum meledek.

"Cih! Jangan sombong kau! Kali ini akan kubuat kau bungkam!" Dia menyodorkan lembar hasil ujiannya ke depan wajahku. Di sana tertera angka 95, wah... hebat. "Bagaimana dengan angka 95 ini? Hah? Hohhohoo kau bungkam! Berarti aku menang ya?" ucapnya sendiri, dia cukup percaya diri juga rupanya.

Aku tersenyum geli. "Mau lihat punyaku?"

"Eh?"

Aku tersenyum semakin geli. Reaksinya benar-benar membuatku ingin tertawa. Kali ini aku yang menyodorkan lembar hasil ujianku ke depan wajahnya. Di sana tertera angka...

"100?" Tatsuki menjerit. Kali ini aku tak tahan menahan tawaku.

"Hahahahha... tak perlu berlebihan begitu Tatsuki Arisawa."

Dia kali ini tertunduk diam. Hey ada apa? Kenapa mendadak jadi diam begini? Aku mengamati wajahnya yang tertunduk itu. Tangannya mengepal keras. "Tatsu-ki?" panggilku ragu. Apa aku sudah salah bicara ya?

"Na-nas─"

Ah dia mulai bicara... syukurlah dia tak apa-apa. Kalau dia sudah berani mengejekku dengan 'Nanas' berarti dia baik-baik saja. Aku terseyum tipis. "Ya, Tatsuki?"

"Nanas! Jangan... Jangan sok akrab denganku!"

Eh?

"Seenaknya saja kau memanggilku dengan 'Tatsuki' memangnya aku ini terlihat akrab apa denganmu? Menyebalkan! Aku ini membencimu! Jadi... Jadi... Jadi tunggu sampai kau kubuat bungkam!" dia berlari meninggalkanku dan teman-teman di kelas yang mendengar ucapannya. Aku cuman bisa diam dan... tersenyum geli.

"Hoi...Hoi... teman kita satu ini sepertinya sudah salah makan ya?"

Ah... lagi-lagi Ikakku. Kali ini dia datang menyapaku bersama Yumichika. "Ya, sudah terlihat tadi. Rasanya tingkat keindahan sosok Renji Abarai sudah menurun." Kali ini si Yumichika ikut-ikut berkomentar yang tidak perlu. Aku cuman bisa menghela napas.

"Kalian ini ngomong apa sih?" responku kemudian. Aku mengusap-usap rambut merahku dengan malas.

"Kau masih nekat menerima tantangannya?" tanya Ikakku kemudian.

"Ya, padahal kau kan sudah KALAH. Hahahha..." kali ini Yumichika yang berkomentar.

Aku terdiam lalu tersenyum lagi. "Biar sajalah... Toh orangnya ini tak tau kan?" aku tersenyum geli. Sedangkan Ikakku dan Yumichika saling bertukar pandang lalu tertawa.

"Ternyata teman kita yang serba bisa ini punya kekurangan juga rupanya." Aku tertawa menanggapi ucapan Ikakku.

"Manusia itu...tak ada yang sempurna, Ikaku." Balasku.

...

Tak kerasa waktu sudah terlewati begitu cepat. Sekarang saatnya sekolah bubar. Aku melangkahkan kakiku tak berselera menuju pintu gerbang sekolah. Dari tadi Tatsuki tidak menemuiku, tumben sekali. Biasanya dalam sehari dia bisa menemuiku sampai 3-4 kali hanya untuk menunjukkan kehebatannya. Tapi sekarang? Hanya sekali, saat menunjukan hasil ulangannya dan setelah itu nihil. Apa aku sudah membuatnya marah?

"Renji!"

Aku menengok. "Rukiaa?"

"Mau pulang bareng?" tawarnya dengan tersenyum manis. Wah, wah... coba Tatsuki yang tersenyum begini padaku. Pasti akan kufoto dan kuabadikan. Tatsuki tidak pernah sekali pun tersenyum tulus padaku. Aku sedikit... sedih.

"Renji?" panggilnya lagi.

"Ah ya... Ayo." Jawabku kemudian. Rukia sekarang yang diam wajahnya seperti kecewa.

"Ren-Renji..."

Aku menatap wajahnya lagi. "Ya Rukia? Kenapa? "

"..."

Dia diam. Aku jadi tak enak hati melihatnya dia begini. "Ada apa? Apa Ichigo bertingkah lagi?"

Dia menggeleng.

"Apa dia menyuruhmu untuk break lagi?"

Dia menggeleng lagi.

"Apa kali ini kamu yang menyuruhnya untuk break?"

Dia semakin menggelengkan kepalanya.

"Lalu..."

Dia menatapku dalam diam. Lalu bibirnya berkedut-kedut. "Aku dan Ichigo... resmi putus."

"Ohh... kalian saling mengajak break?" responku santai.

Rukia menggeleng. "Bukan 'break' tapi 'end'." Ucapnya mengklarifikasi ucapanku. Aku mengangkat sebelah alisku merespon ucapannya. 'End'? Maksudnya berakhir? Tapi diakan memang sering berakhir gitu kan sama si playboy cap buah jeruk itu? Lalu...

"Lalu... kapan kalian berencana balik kembali?" Tanyaku kemudian, masih dengan santainya.

"Renji?...Kamu ngertikan maksud 'end'? Aku gak akan kembali lagi."

Eh? Aku terdiam. Ini beneran sebuah kejutan hebat. Atau mungkin lelucon hebat? Seorang Rukia Kuchiki dan Ichigo Kurosaki yang terkenal akan pasangan 'player' itu putus beneran? Apa anak ini salah makan? Seluruh antreo sekolah juga tau kalau mereka hidup saling melengkapi. Mereka berselingkuh untuk menghindari rasa bosan di antara mereka. Agar hubungan mereka semakin langgeng. Tapi sekarang mereka putus beneran? Ah bercanda kan? "Kamu salah makan apa, pendek?" tanyaku sedikit bergurau, masih tak percaya.

Dia mengerutkan keningnya. "Aku tak bercanda! Aku serius. Ichigo menemukan seorang gadis yang baginya sangat berarti melebihiku. Aku juga... sudah menemukan seseorang yang berarti bagiku melebihi Ichigo." Rukia terdiam lagi. Setelah menghela napas, dia kembali meanjutkan ucapannya. "Lalu kami memutuskan untuk berpisah beneran."

"Begitu?" Aku kembali bertanya. "Jadi kamu menemukan orang baru yang benar-benar kamu sayangi?"

Dia mengangguk.

"Lalu... apa kau yakin dia juga menyayangimu?"

Dia terdiam, lalu dengan ragu-ragu dia mengangguk.

"Lebih menyayangimu melebihi rasa sayang Ichigo padamu?"

Kali ini dia membulatkan iris violetnya. Dia terlihat bingung dengan ucapanku. Aku menghela napas sebentar, lalu lanjut memberikan ucapanku. "Ahh... aku tidak bermaksud mencampuri urusanmu. Tapi, kalau kamu mengenal pria itu jauh lebih dalam ketimbang Ichigo... Kenapa enggak? Tapi! Kalu kamu masih merasa sedikit asing dengan pria itu, aku rasa... lebih baik jangan Rukia."

Dia semakin membulatkan iris violetnya. Perlahan dia juga mulai membuka mulutnya. "Kau... Kau tidak mengerti!" ucapnya perlahan. Sejenak dia mengusap kedua matanya sambil menunduk. Lalu kemudian mengangkat wajahnya dan menatap wajahku.

"Rukia, apa aku salah bicara?"

Dia menunduk lagi. Lalu menggeleng. "Tidak! Kau tidak salah bicara ," ucapnya. Sejenak dia terdiam dan menghela napas lagi. "Renji..."

"Ya, Rukia?"

"Renji... Apa kau pernah memperhatikanku?"

Pertanyaan macam apa ini? Tentu saja aku memperhatikanmu, kamukan sahabatku. "Kau kan sahabatku, Rukia... Mana mungkin aku tidak memperhatikanmu."

Rukia menatapku dengan pandangan kecewa, tapi cepat-cepat dia menutupi ekspresinya tadi dengan senyuman. "Hahaha.. Oiya, aku lupa."

Aku tersenyum. "Sejak kapan kau jadi pelupa? Hahaha..."

"Renji... Boleh aku menggandeng tanganmu?"

Aku tercekat. Rukia, aku rasa dia benar-benar sedang salah makan. Kenapa mendadak jadi ingin mengandeng tanganku? "Eh?"

"Tidak boleh? Tak apa... Aku hanya ingin menenangkan pikiranku sejenak. Tidak ada maksud lain." Ucapnya tersenyum. Jadi dia benar sedang ada masalah ya? Sejenak aku berpikir lalu menghela napas. Setelahnya aku menyodorkan telapak tanganku padanya. Tanda aku tak keberatan jika menggenggam tanganku. Buat apa keberatan? Dia kan sahabatku.

Rukia tersenyum cerah, lalu meraih telapak tanganku. "Terima kasih Renji... Terima kasih!" ucapnya cerah. Aku sendiri juga tak tau apa maksud kata 'Terima kasih' itu sendiri. Tapi yasudahlah, yang penting dia sudah kembali cerah. Sejenak aku jadi teringat Tatsuki. Hari ini dia juga aneh, sama anehnya kayak Rukia tadi. Apa dia sedang ada masalah?

...

"Tatsuki Arisawa!" aku memanggil cewek berambut cepak yang sedang jalan di depanku. Dia tidak merespon. Aku merekahkan senyumanku dan kembali memanggil namanya "Tatsuki Arisawa!"

Dia masih tak mau merespon, aku jadi gatal ingin memanggilnya seraya menepuk bahunya. "Tatsuki Arisawa!" Yak kena! Aku menepuk pundaknya. Dia masih diam. Kenapa sih ini cewek? Tak seperti biasanya. Padahal biasanya dia duluan yang menegurku dan mengajak bertanding, sekarang? Aku benar-benar jengah."Tatsu─"

PLAK ─sebuah tamparan melesat dipunggung tanganku yang bertengger di pundak Tatsuki. Ya, tamparan itu tak lain berasal dari Tatsuki sendiri. Wajahnya berkerut hebat, dia marah?

"JANGAN SENTUH AKU! DAN JANGAN SOK AKRAB DENGANKU!"

"..."

"AKU BENCI SETENGAH MATI SAMA KAMU!"

Aku masih memilih untuk diam dan mendengar makiannya saja. Kalau dia sudah puas, baru mungkin aku akan bicara. Yang namanya perempuan semuanya sama saja saat marah.

"KAMU SELALU SAJA MENGHINAKU DENGAN BERKATA 'JADILAH SEPERTI ANAK PEREMPUAN KEBANYAKAN'! TAPI DENGAN YANG LAIN KAU TIDAK SEPERTI ITU!" Tatsuki terdiam sebentar. Lalu melanjutkan ucapannya lagi, kali ini dia menurunkan nada bicaranya. "Dengan yang lain kau bahkan tak perduli dan bertindak biasa saja."

Aku tersenyum kecil. "Aku hanya ingin memperlakukan Tatsuki Arisawa seperti seorang perempuan saja kok. Ya... hanya untuk Tatsuki Arisawa saja."

"Apa maksudmu? Aku ini sudah pasti perempuan? Memangnya apa bedanya?"

Aku menghela napas lalu melanjutkan ucapanku lagi. "Sepertinya sampai kapan pun kau tak akan mengerti. Tapi..." Aku sejenak menghentikan ucapanku dan menatap matanya lurus-lurus. "Aku minta maaf jika aku membuatmu marah dan membenciku, karna sebenarnya..."

Tatsuki terdiam, dia menatapku dengan penasaran. "Renji..."

"Karna sebenarnya sampai kapan pun kau tak akan bisa mengalahkanku. Aahahaha... Aku kan sempurna? Ahahahahha..." ucapku seraya tertawa.

"SIALAN! DASAR BOCAH NANAS TENGIK!"

"Hahahaha... marah lagi! Sudahlah tak usah pakai marah, nanti tumbuh keriput lho..." Tatsuki tidak mendengar ucapanku, dia malah menggerutu sendiri. Aku jadi semakin geli melihat tingkahnya.

"Ohya, kau tau? Masih ada satu hal yang ingin aku raih sebagai nomor satu." Aku membuka obrolan kembali. Tatsuki merespon dan melirikan matanya sedikit tertarik. "Hmmm... Tapi sepertinya agak sulit ya?" ucapku lanjut.

"Dasar tamak!" cibirnya

Aku tersenyum lebar. "Tapi, aku yakin, suatu saat nanti aku pasti bisa! Hehehe..." Tatsuki memandangku takjub, tapi sedetik kemudian dia kembali mengerutkan keningnya dan berjalan pergi.

"Masa bodohlah! Aku doakan semoga saja tidak berhasil! Dan... Maaf kalau aku tadi memarahimu. Hanya saja suasana hatiku sedang tidak enak. Sudah ya!"

Kali ini Tatsuki benar-benar berlalu dengan cepat dari padanganku. Tatsuki, Tatsuki... Kau ini ternyata bodoh juga ya? Sampai kapan pun kau tak akan mengerti kalau kau begitu bodoh. Dari dulu aku sudah kalah darimu. Kau tau? Aku itu ingin sekali menjadi 'si nomor satu bagimu'. M ungkin sekarang ini aku kalah, tapi aku akan membuatnya menjadi nyata suatu saat nanti.

.

.

─The Number one─

The end

.

...

Chapter ini sepertinya kurang memuaskan. Mohon maaf para pembaca sekalian m(_ _)m

Mind to Review?

Thanks a lot for reading. Glad if you all like it... :)

...