Naruto © Masashi Kishimoto
This is for your entertainment only, no money making here!
AmiiNina proudly presents:
.
KAKUZU SEDANG GALAW
.
WARNING!
For AV! AC! AND! Event.
Rate K
Kaku X Saso pair centris. Slight Kaku X ….. err, yah, you'll see.
Yaoi? Trust me…it's not! Mhehehehe..
Half formal, hal non-formal language.
Very long twoshot!
1 ryo = Rp 1000
"…." = usual talk
'blablabla' = inner's talk, thinking
blablabla = flashback
Please enjoy, minna!
.
********************************* CHAPTER 2 ********************************
.
Akhirnya, Val's Day, sodara-sodara!
Cuit..cuit…cuit..
Suara nyanyian burung di pagi hari ini sungguh merdu, menyambit…eh, menyambut datangnya hari penuh kasih sayang ini. Sungguh damai.
Tapi….Nampaknya tidak dengan orang-orang Akatsuki ini.
DRAP! DRAP! DRAP!
Suara kaki berlari dari tiga orang pria ganteng membahana ke seluruh markas Akatsuki. Kaki mereka lemas, nafas mereka terengah-engah. Jujur, walaupun pria-pria ini adalah seorang shinobi kelas S, tapi kalau untuk menghadapi fansgirl freak seperti ini setiap tahun, rasanya mereka lebih milih ngelawan sepuluh bijuu sekaligus, deh.
Zetsu, si satpam gerbang markas menyambut tiga pria ganteng itu, "Itachi, Sasori, Pein, abis ngapain kalian?"
"(Hosh…hosh..) Gilak! (Hosh…hosh..) Cewe-cewe di luar (Hosh..) beringasan semua!" Itachi berusaha ngumpulin chakranya untuk sekedar ngomong. Doi ngelap keringetnya yang bercucuran dengan punggung tangannya.
"Iya neh (Hosh..hosh..)," sekarang Sasori yang bicara, "Terahir gue nerima coklat dari mereka (hosh..hosh,..), badan gue bintilan dimana-mana! Wajah gue yang tampan jadi berubah jadi Pein pirsingan!"
"Maksud lo, Sor? Gue jelek, gitu? But anyway, sumfah, mereka ga ngerti banget kalo gue setia ama Konan. Masih dikejar juga," Pein buka jubah Akatsuki-nya, dan membuka baju dalamnya yang basah oleh keringat, lalu memeras keringatnya di kolam ikan milik Kisame, dan ikan-ikan di situ pun langsung sakaw. Zetsu hanya menaikkan alis. Tak lama kemudian, gemuruh massa bak demonstran menyusul keheningan markas kayak suara gempa.
BRUK! BRUK! BRAK! BRAK! BRAAK!
Para demonstran yang beranggotakan beribu-ribu fansgirl freak pun meneriakkan yel-yel mereka. Yah, diantaranya seperti ini:
"Itachi-kuuun! Aku rela diculikmu. Tawan aku dalam genjutsumu, Itachi-kuuun!"
Itachi jungkir balik.
"Sasori-sama! Hatiku adalah hito kugutsu-mu! Mainkan aku dengan jari-jarimu dan aku akan menjadi senjata asmaramu yang tak terkalahkan!"
Sekarang giliran Sasori yang guling-guling.
"Pein-sama ketua guanteng! Ehmmm…apa, yah? Pokoknya pirsinganmu seksi deh! Aku iri sama pirsinganmu yang selalu nempel di tubuhmu itu!"
Pein goyang ngebor. 'Makasih' batinnya, sambil ketawa narsis.
Dan tak lama kemudian, seekor burung besar dari tanah liat melakukan maneuver berbahaya ke dalam markas, dan mulut si burung memuntahkan makhluk kuning yang setelah diidentifikasi ternyata itu adalah Deidara. Demonstran yang tak kalah banyaknya menyusul si penganut aliran seni superflat itu. Bedanya, suara mereka…ehmm…'sedikit' lebih ngebass.
"Deidara-chaaaan! Kalo kamu hobi nge-katsu-in tanah liat, mendingan kamu nge-katsu hatiku aja!"
"MENDING GUE NGE-KATSU-IN LU AJE SEKALIAN BIAR MATI RASA LO, UN!" Deidara shock dan takut, ampir aja dia diperkaos.
Itachi, Sasori, Pein dan Zetsu bukan sweatdrop lagi, tapi sweat-tsunami.
Deidara tergopoh-gopoh berdiri dan merapikan jubahnya yang sobek dimana-mana. "Cih, mereka ga bisa baca apa, un? Segitu udah ditempel di punggung!" Deidara berdecak kesal sambil mencabut Akte Kelahirannya yang sengaja ditempel di punggung. Tulisan 'Jenis Kelamin: Laki-Laki'-nya dibuletin gede-gede sama spidol merah dan ada cap legalisir dari Dinas Kependudukan. Penting banget, Deidara!
"Selalu gini tiap Palentin, un! Ga suka! Mending di markas dan nongton tipi, un!"
"Yah, resiko orang ganteng lah, Dei," Itachi menimpali, sekarang udah ga ngos-ngosan lagi.
"Iya, daripada berbuat berlebihan, mending kayak gue, deh! Berdoa untuk keselamatan kalian semua," kata Hidan yang tiba-tiba muncul entah darimana, tangannya mengepal tasbih.
"Ah, bilang aja lo ga laku!" Sasori nyemprot Hidan dengan suksesnya.
"Disclaimer, my heart and soul is always belongs to Jashin-sama," Weiis, si Hidan sok Inggris sambil ngangkat tasbihnya. Skor TOEFL-nya berapa yah?
Ga jauh dari kerumunan cowo ganteng itu, berdiri sesosok raksasa bercadar arab mengepalkan bingkisan kecil di tangannya. Bingkisan itu…ah, sebenernya ga rela sih kalau itu disebut 'bingkisan'. Lebih tepat disebut…err…ga tega! Soalnya 'bingkisan' itu dibuat dengan sepenuh hati oleh raksasa bercadar tersebut. Si raksasa yang bernama Kakuzu itu hanya berpandangan kosong ke salah satu cowo diantara kerumunan cowo ganteng di depan markas.
"Kakuz," panggil Pein, "Ngapain lo disitu? Ayo gabung sini!" Pein melambaikan tangan ke arah Kakuzu. Ga biasanya si Kakuzu terlihat secanggung ini. Tapi bukan Kakuzu namanya kalau ga berani ngomong. Dengan langkah yang amat gagah berani dia berjalan ke kerumunan itu. Wajahnya sangat serius. Bisa dibilang ini adalah kali pertama ia berwajah sangar bin serius kayak gini. Sepertinya ada yang ingin dibicarakannya.
Langkah Kakuzu berhenti di hadapan Sasori. Sasori yang ga lebih tinggi dari dada Kakuzu itu serta merta harus mendongakkan kepalanya untuk memandang wajah sang Rentenir itu. Iris duapuluh ribu rupiah bertemu dengan iris hazel. Keduanya saling bertatapan dengan sangat khidmat.
"Sasori," akhirnya Kakuzu duluan yang memecah keheningan, "Gue mau ngomong ama elo. Penting banget!" katanya.
"Ngemeng epe?" balas Sasori, malas sekaligus merinding.
"Umm…err…ntar aja agak maleman dikit. Ini fakta yang penting banget, jadi siapin hati lo, ya!"
"Heh? Apaan sih? Di sini aja knapa?" Sasori agak berteriak sekarang. Namun sosok tinggi besar nan kikir itu malah berbalik badan dan berjalan menjauhi Sasori.
"Pokonya ntar malem jam 7, di balkon. Gue tunggu di sana. Ga ada tapi-tapian! Ato kas bon lo, gue balikin lagi jadi normal!" hanya itu yang terdengar dari teriakan Kakuzu diiringi dengan menghilangnya sosok Rentenir itu ke balik tembok.
Semua yang di sana pada cengok, apalagi Sasori.
"Cieeee, mau ditembak yaaah," Zetsu menatap horror ke Sasori.
"Uh, Danna….." Deidara hanya bisa meratapi Sasori, ga rela Danna kesayangannya direbut orang lain.
"Berisik, ah! Lagian kenapa dia harus nembak gue?" Sasori kesal sekaligus keki dengan perkataan Kakuzu barusan. Males banget, kan, kalo emang bener si Kakuzu mau nembak Sasori?
.
.
.
Malam-malam jam 7 malam…
Hari malam, sekarang gentian para makhluk malam yang ngeksis ajojing di malam gelap ini. Keadaan makhluk malam yang lagi ajojing ga jauh beda dengan keadaan markas Akatsuki saat ini.
"Cepetan sana, un! Gue rela kok minjemin elu ke si Kakuz itu bentar, un," Deidara mendorong-dorong punggung Sasori, dan yang punya punggung nahan diri supaya ga maju lagi satu langkah pun.
Pein juga ikut ngebantu, "Iya, Sor! Kesempatan langka! Lo bisa bujuk dia buat ngapusin semua kasbon lo! Mheheehehe…"
"Idih, ogah! OGAH!" Sasori meronta. Tapi terlambat, badan Sasori udah ga bisa mundur lagi. Dirinya sudah memasuki balkon markas yang dijanjikan Kakuzu. Dan ga jauh dari pandangannya, terlihatlah sosok tinggi besar Kakuzu sedang menopang badan dengan tangannya yang menopang di atas pembatas balkon. Sinar bulan yang terang, turut menambah kesan eksotis malam itu. Sasori bergidik ngeri.
'Kalian, bakal gue hajar nanti!' Umpat Sasori kepada teman-teman di belakangnya.
Sementara itu, semua penghuni goa itu memasang telinga sebaik mungkin. Zetsu sembunyi di tanah bermaksud untuk menguping, Itachi masang Sharingannya untuk membaca gerakan mulut Kakuzu dan Sasori, Deidara nerbangin burung-burungan pengintainya, Kisame nyamar jadi ikan di akuarium deket situ, Pein diem-diem nancepin pirsingan di balik jubahnya Sasori, Konan nerbangin kupu-kupu kertasnya, Hidan nguping lewat firman Jashin, Tobi mantengin CCTV dan penyadap suara. Terlihat sekali siapa yang paling up to date bukan?
Dan aksi dimulai! Pemilik wajah sangar penuh jaitan Kakuzu pun menoleh ke Sasori.
'Ya Jashiiin, ato apalah dirimu, tolongin gue!' Batin Sasori komat-kamit dalem ati, dia mengerenyitkan matanya, takut.
"Ga usah takut gitu, sih, Sor! Gue tau lo belum nyiapin hati lo mateng-mateng, kan?"
"Sori ,Kuz, mau gue matengin hati gue, ehh… oven di dapur lagi mati," Sasori jawab sekenanya.
"Ah, wateper dah," Kakuzu dalem ati sweatdrop, "Sor, gue mo ngomong. Penting banget! Lo harus denger!"
"Iyeee, daritadi ngomong itu mulu! Apaan?" Sasori berkacak pinggang.
"Ehhmmm, pertama, gue pengen lo sudi nerima ini," Kakuzu nyodorin coklat buatannya ke Sasori. Coklatnya udah renyek karena kebanyakan diremes, mungkin. "Terimalah, hasil nabung gue setaun tuh!" Kakuzu memberikan tatapan terima-atau-gue-cium-lo!
Sasori menerima coklatnya dengan ogah. Walaupun bentuknya ga karuan, tapi indera penciumannya ga bisa bohong kalo wangi coklat itu…enaaaak banget. Demi ke-cool-annya, Sasori jaim, "Aman ga, nih?"
"Alaaaah, pake nanya segala! Lagian lo kan kagak bisa sakit!" Kata Kakuzu melipat tangannya di depan dada.
"Thanks. Nah, terus, yang mo lo omongin itu?" Sasori to the point.
"Gini…sebenernya ini dah lama pengen gue omongin, cuma nunggu waktu yang tepat. Setelah gue yakinin diri gue, barulah sekarang gue siap. Lagian lo udah berumur juga, udah waktunya," ujar Kakuzu menempelkan ujung telunjuknya ke telunjuk satunya lagi, ber-Hinata style.
"Sor," lanjut Kakuzu lagi,"Kalo misalnya tiba-tiba lo ketemu lagi ama orang yang jauuuuh lebih deket dari temen-temen lo sekarang, apa reaksi lo?"
Sasori ga langsung ngejawab. Tangannya menyentuh dagunya, tanda ia sedang berpikir," Hmm… contohnya?" Sasori menaikan alisnya memandang menyelidik ke Kakuzu.
"Ketemuuu….Kakek lo, misalnya?" Kakuzu memelankan volume suaranya.
"Ga mungkin, kakek gue kan udah meninggal!" Sasori mulai kesel.
"Hmm… gitu yah? Nah, sekarang gue mo cerita, neeh!" Kakuzu mulai duduk di pembatas balkon dan Sasori mulai makan coklatnya Kakuzu. 'Enak!' pikir Sasori. Dalem ati, Kakuzu mulai ngitung berapa butir coklat yang nanti bakal masuk ke daftar kasbonnya Sasori.
"Ehem! Pada suatu hari," Kakuzu memulai cerita dengan garingnya, "Tersebutlah dua orang muda mudi sedang dalam masa pubertas. Yang pemudi itu bak putri raja, cantik luar binasa, TAJIR, sekseh, tapi sifatnya bringasan!"
'Tipe lo banget, Kuz!' batin Sasori. Lalu Kakuzu melanjutkan.
"Namun yang pemuda, udah mah jelek, bau, miskin, banyak codet, pinter Ekonomi, idup, jadi pengusaha WC umum pula!"
"Gue udah tau kelanjutannya! Pasti si pemuda ngegodain si pemudi dan si pemudi nimpukin si pemuda mpe naas, kan?" Sasori menebak, kesal karena ceritanya bertele-tele.
"Kurang tepat, Sodara Sasori! Ceritanya gini, nih!"
.
oo0oo
.
Flashback
Tap! Tap! Tap!
Berlarilah sang Kunoichi itu dengan nafas terengah-engah. Berkali-kali melirik jam tangannya sambil keringat pun mengalir dari pelipisnya. Sesekali juga ia mencengkram perutnya dan meringis. Seperti sedang menahan sesuatu. Melahirkan? Entahlah, namun pastinya ini sesuatu yang lebih hebat.
"Telat, cooooy! Waduuuuh," gerutu si Kunoichi muda tersebut. Dirinya adalah murid Akademi Ninja Sunagakure tingkat A+ (setara ama kelas 1 SMA lah… *ngarang*), "Mana perut nyut-nyutan lagi," gerutu si Kunoichi tersebut berlanjut sampai ia tiba di tikungan menuju Akademi.
Dari kejauhan, matanya membelalak ketika melihat gerbang Akademi digeser sedikit demi sedikit ama satpam.
"Mas Bakiiii, jangan ditutup dulu, Maaas!" si Kunoichi berteriak sambil nangis-nangis. Berlari meskipun kakinya udah prustasi.
Melihat itu, keisengan Satpam yang bernama Baki itu bertambah. Doi malah iseng dorongin-narikin-dorong lagi-narikin lagi itu pager geser dengan mukanya yang cengengesan, "Eit..aa…Eit…aa…eit…eit…" katanya.
.
BUAAAK!
.
Dengan tenaga babon, si Kunoichi tersebut mendorong penuh pagar geser tersebut sehingga Baki yang daritadi iseng itu pun kecepet.
"Chiyooooo! Sialan kamu!" teriak Baki, megangin cap garis vertikal di wajahnya.
"Maas, Map….Eh, Maap mas!" teriak si kunoichi, yang telah diketahui bernama Chiyo tersebut, tangannya melambai ke Baki tanpa memalingkan wajahnya ke depan.
TING NONG NENG NENG!
Bel Akademi sudah berbunyi tiga kali, pertanda pelajaran akan segera dimulai. Namun alih-alih menuju kelas, Chiyo, murid Akademi yang bermarga Akasuna itu malah melewati kelas itu dan melesat pergi ke….
toilet.
BRUAK! BRUAK! TATATAK TAK TAK CESSS! "WADAAUWW!"
Tanpa memedulikan bunyi 'Wadauw!' tadi, Chiyo terus saja berlari ke toilet. Dibukanya pintu toilet dengan kasar. Wajah Chiyo pucat dan keringet dingin menetes dari pelipisnya. Sejenak ia meringkuk memegangi perutnya. Pertahanannya sudah tak kuat lagi.
Ia harus buang air besar.
BRAK! BRUK! PREET! PET!
Didudukilah lubang toilet dengan pantat Chiyo dengan aduhainya.
"Gila mameeeen! Surga dunia! Euuuh!" Chiyo segera melakukan ritual paginya. Tak terdeskripsikan.
Namun baru beberapa menit Chiyo asyik melakukan ritualnya, matanya langsung terbelalak ketika melihat kertas ukuran A4 yang ditempel di daun pintu.
.
Toilet Umum
TARIF
Kencing: 5 ryo / liter
BAB: 6 ryo / kg
Mandi: 8 ryo
Menggalau di bawah shower: 10 ryo
Numpang ngerokok: 25 ryo
Bolos kelas: 150 ryo / jam (bisa nego)
Dan dapatkan fasilitas mandi lainnya dengan syarat dan ketentuan berlaku!
Untuk informasi lebih lanjut, hubungi pria ganteng yang ngejaga di depan
INDAHNYA BERBAGI
.
Anda merasa familiar dengan tulisan di atas? Well, Author, sih, iya.
"SAY WHAAT?" Chiyo kaget luar biasa. Ia berusaha mengerem kegiatan ritualnya dengan susah payah, walaupun belum tuntas. Segera ia membalut tubuh bagian bawahnya dengan celananya. Dan Chiyo Sang Penakluk segera menghampiri 'Pria Ganteng' yang ngejaga di depan.
"WOY!" Chiyo nepuk bahu si pria dengan kasar. Membuat bakwan kentang yang dimakan pria itu mencelat dari mulutnya.
"Apaah?"
"Gilak! Lu mo meres semua orang, ye! Masa toilet ada timbangan dan literannya? Belom lagi argonya itu tuh! Bikin orang prustasi aje!" Chiyo marah-marah dengan volume suara orang lagi orasi di demo-demo.
"Apaan sih, Neng? Ini bisnis mameeeen! Sapa sih yang ga butuh ritual pagi hari?" jawab si pria dengan cueknya.
"Ini pemerasan tauk! Gue gamao bayar!"
"Eiit! Enak aje! Bayar! Lo ga liat pengumuman di pintu? Lu udah ngeluarin 6 kg BAB dan kencing 10 liter. Jadi semuanya 46 ryo!"
"OGAH! Euuuh! Lama-lama gue beli juga ni toilet!"
"Emangnya lu mampu, cewek tengik?" Si pria mencondongkan tubuhnya ke wajah Chiyo.
"Yaiyalaaah, gue kan tajir, gitchuuw!"
"Ooooh, tidak bisaaa," si pria ber-Sule style, "Ini bisnis gue! Kalo mo beli, cium dulu gue!"
"Resek lo! Eeeuh, bilangin mamah loh!"
"Suka-suka lo, dah! Bayar sini!" si pria gamau ngalah dan Chiyo sama-sama keras kepalanya.
"Euh, liat aja nanti!" Chiyo melengos pergi. Si pria yang agak marah manggil-manggil Chiyo tapi ga didenger ama yang punya nama. Lalu akhirnya si pria menyusul Chiyo. Setelah kesusul, si pria memegangi tangan Chiyo dari belakang.
"Apaan, sih? Lepasin!" Chiyo menepak genggaman si pria dengan kasar.
"Bayar!"
"Ogah!"
"BAYAR!"
"OGAAAH!"
.
Skip time!
TENG NONG NENG NEENG!
Jam sudah memasuki jam istirahat siang. Keduanya masih bantah-bantahan dan saling mencondongkan tubuhnya sehingga jarak mereka tinggal beberapa senti lagi. Dan sayangnya, pemandangan dan suara yang ditimbulkan dua makhluk keras kepala itu mengundang perhatian orang-orang. Kesalahpahaman pun tak terhindarkan.
"Bayar, ato gue cium!" terjang si Pria.
"Sok aja kalo berani!" cibir Chiyo.
Tak jauh dari mereka, ada sekelompok anak lagi main bola.
"Tendang kesini, Pret!"
"Iya! Nih, terima, Nyet!" Si Kampret menendang bola ke si Onyet. Sayangnya, si Onyet kurang lihai nerima bola dan si bola malah loncat ke arah lain. Orang-orang yang ngeliat itu terkejut.
"AWAAAAASS!"
*bola melayang*
BLETAK! *bola mengenai kepala seorang gadis* "HUASSYEEM!"
GDUBRAK! *keseimbangan gadis itu roboh dan ia pun terjatuh menimpa pria di depannya*
CUUUUUPP!
"…. eh?" Reaksi semua orang cengo melihat pemandangan 'kebetulan yang indah' di depan mereka.
JRENG! Kamera close up ke dua orang yang tadi berdebat.
Karena kehilangan keseimbangan, Chiyo terjatuh menimpa pria di depannya. Ia tak dapat mengendalikan berat tubuhnya sehingga wajahnya, lebih tepatnya bibirnya, bersentuhan dengan bibir si Pria codet itu. Tangannya menahan beratnya sedikit bertumpu pada dada si pria.
CUUUUUP! Dan adegan itu berlangsung selama beberapa detik sebelum akhirnya Chiyo menonjok muka si Pria.
BUAK! "Minggir lo!" Chiyo berdiri menjauhi badan si Pria codet. 'Uh, biar tambah codet dah mula lo!' umpat Chiyo kesal, yang kini wajahnya memerah.
"Eh, elo yang minggir! Main nyosor aja!" si Pria memegangi pipi kirinya yang kini lebam. Dan kini matanya menyisir keadaan di sekitarnya.
"Wih…ciuman tuh!"
"Idih, masih kecil udah main nyosor.."
"Eh, tapi romantis, yah! Jangan-jangan jodoh lagi!"
"Tapi itu kan haram…(bisik bisik bisik)."
Chiyo pun melakukan hal yang sama. Menatap nanar ke keadaan sekelilingnya lalu beralih ke wajah pria di depannya. Matanya tiba-tiba berair dan cairan bening mengaliri pipi Chiyo yang lembut dan putih itu. Tanpa berkata-kata, Chiyo berlari meninggalkan kerumunan dengan hatinya yang mencelos perih. Si Pria yang melihat wajah sedih Chiyo merasa keheranan namun tak sempat memanggil Chiyo. Pria itu hanya terdiam dan tak mampu berbuat apa-apa. Dia dengan entengnya berdiri. Namun, ia tau kalau hatinya tak bisa mengelak dari kenyataan kalau dia juga ngerasa ga enak. Serasa nyesek di dada itu.
"Ah, kenapa gue jadi ngerasa ga enak, ya?"
End of Flashback
.
oo0oo
.
"Wah, gitu? Bego banget tu cowo! Bukannya dikejar!" Sasori memukulkan tinju kanannya ke telapak tangan kirinya, ia kebawa suasana cerita Kakuzu.
"Iya, tuh! Bego banget!" Kakuzu menanggapinya tanpa dosa.
'Yang bego itu elu, Kuz!' teriak batin semua pengintai di sana.
"Lah, terus, nasip Nenek gue gimana tuh? Uh, kalo tau cerita ini dari awal, gue..(hiks) ga akan (hiks) ngebunuh dia waktu itu," Sasori mulai ngeluarin airmata (boneka bisa nangis?).
"Hmm…gini kelanjutannya," Kakuzu kembali menerawang ke atas, meneruskan ceritanya.
.
Flashback (again)!
Ternyata setelah kejadian ciuman ga sengaja waktu itu, membuat Chiyo dijauhi teman-temannya. Dia dianggap perempuan gampangan yang nyosor duluan. Walaupun si Kampret dan si Onyet udah ngumumnin di Twittah kalo mereka minta maaf atas insiden konser berdarah ala Genderowo Kesengsem…. (aaaah, salah skrip lagi!)…Maksudnya, atas insiden bola nyasar itu, tetap saja label miring tentang Chiyo yang udah ga perawan lagi bibirnya itu tetap melekat di benak semua orang.
Lalu saking ga kuatnya, terkadang Chiyo datang ke toiletnya si Pria itu dan mencurhatkan semua ceritanya ke tembok toilet, dan tak jarang pula si Pria itu turut setia mendengarkan curhatannya di luar toilet. Tak heran kalo tariff 'menggalau di bawah shower' pun naik dua kali lipat.
Tetapi tetap saja, si Pria itu mendapat guilty pleasure. Walaupun mukanya penuh codet, ia adalah manusia yang punya hati. Mau ga mau, ia juga merasa bersalah ama Chiyo. Akhirnya si Pria membuang jauh harga dirinya dengan menghampiri gadis yang tadinya beringasan itu.
"Hiks..hiks…," tangis Chiyo di dalam toiletnya. Dengan iba, Pria itu mengetuk pintu toilet.
"Hey," lirih si Pria itu, "Lu gapapa?" si Pria nanya sekenanya. Jujur, ia tak tahu cara menghadapi gadis yang lagi menangis.
"Hiks…hiks..," Chiyo terus menangis.
"Hey, udah dong, jangan nangis terus," kata si Pria dari luar toilet. Menatap nanar ke pintu toilet.
"Hiks…" Chiyo masih menangis.
"Hey, jangan buat gue ngerasa makin bersalah dong.. Bukain pintunya. Gue temenin lu nangis deh."
BRUAK! Lagi-lagi dengan tenaga babonnya, Chiyo membuka pintu toiletnya hingga hancur.
"GANTI… engga … Uh, ga usah deh…" kemarahan si pria teredam setelah ia melihat muka kusut Chiyo. Buru-buru ia menghampiri Chiyo dan mengulurkan tangannya bermaksud membantu. Namun uluran tangan penuh kasih itu ditolak mentah-mentah oleh Chiyo.
"Minggir kamu! Pervert!" Chiyo nyemprot Pria pake selang air.
"Oy! Oy! Gue udah baek nih sama lo! Dasar cewe babon!" Si Pria berteriak mengacungkan tinjunya, namun sekejap wajahnya berubah biru ketika melihat cairan merah merembes ke kain bajunya Chiyo.
"Eh, gila lo ye! Jangan bunuh diri sekarang dong!" si Pria mencengkram tangan Chiyo dengan paksa dan berusaha menarik tubuh gadis yang mungil itu keluar dari bilik toilet.
"Lepasin!"
"Engga! Lo harus keluar dulu!"
"Lepasin! Ini ga seperti yang lu pikirin!"
Seketika si Pria menghentikan aksi tarik menariknya, "Eh? Maksud lo?"
"Euh, makanya kalo nolong tu liat-liat dulu! Gue sakit tamu bulanan tauk! Ini hari pertama dan gue ga bawa pembalut! Euh, puas lo?" Chiyo berteriak saking malunya, ada semburat merah di wajahnya ketika matanya menatap mata si Pria. Dan seketika matanya turun ke tangannya yang sedang digenggam si Pria.
"Oh…i-itu, toh."
"Ehmm…Udah! Tinggalin gue!" Chiyo menghempaskan genggaman si Pria. Mendengar itu, wajah si Pria pun memerah. Kalau diperhatiin, wajah Chiyo yang lagi lemah ini, manis juga. Jauh di dalam dirinya, telah tumbuh rasa ingin melindungi walaupun baru setitik.
"Okelah kalau begitu," si Pria pun meninggalkan Chiyo sendirian di bilik, untuk sementara.
Chiyo di dalam bilik sendirian, menangis, sendirian, perutnya ngilu, berdarah-darah, dan kedinginan. Pinginnya, sih, ada yang melukin. Tapi apa daya, dirinya lagi jomblo sekarang. Hiks, nasip jomblo dah!
Namun tak lama kemudian, pintu toilet itu terbuka. Memperlihatkan sosok Pria codet itu. Badan si Pria codet itu babak belur, darah segar mengalir di tepi bibirnya dan matanya biru lebam. Perhatian Chiyo beralih ke Pria itu.
"Lu? Lu ngapain lagi?"
"Ih, gatau terima kasih! Nih, buat lo!" si Pria itu melemparkan kresek hitam berisi…..
"Eh…pem-pembaaalut?" Mata Chiyo membesar menatap Pria dengan heran.
"Iye! Lu butuh itu, kan? Gara-gara itu, gue ditimpukin ibu-ibu sekampung karena dikira mesum. Euh…pakailah, dan jangan nangis lagi!" si Pria membalikkan badannya, "Gue ada di luar kalo lo butuh sesuatu."
BLAM!
Pintu pun kembali tertutup. Chiyo hanya bisa memerahkan wajahnya. Ga nyangka, Pria codet gitu akan terlihat sangat tampan kalau sedang perhatian padanya.
'Makasih,' batin Chiyo. Lalu ia membuka kresek hitam itu dan mengambil satu pembalut yang…..euh, ga menyerupai pembalut lagi! Mungkin keremes-remes gara-gara ditimpukin tadi. Bodo amat, Chiyo memasangkan pembalut itu.
Dan sama sekali ga nyangka! Di dalam pembalut itu, ada coretan-coretan nan unyu warna pink.
"Apa ini?" Chiyo membuka lebar pembalut itu dan terlihatlah coretan unyu itu lebih jelas. Dan sepertinya, pembalut adalah media komunikasi alternatif pengganti HP.
'Neng, mau ga nikah ama abang?'
Seketika, muka Chiyo langsung merah padam! Sakit perutnya langsung hilang seketika. Ia meremas si pembalut itu. Segera ia berlari keluar toilet.
"Euhm…Mas, Mas!" Panggil Chiyo ke si Pria itu.
"Apa? Udah nangisnya?"
Chiyo menggelengkan kepalanya, "A-anno…itu…ehhm…"
"Apa? Kalo ngomong yang jelas dong!"
"Itu…ehhhm…itu, tulisan di pembalut itu. Aku mau, kok!"
"Hah, tulisan apaan?" si Pria itu memandang keheranan ke arah Chiyo. Kalau lagi malu-malu gini, Pria itu mengakui kalau Chiyo memang, cantik.
"Ini," Chiyo menyodorkan pembalutnya. Serta merta langsung dibuka oleh si Pria itu dan reaksi yang dikeluarkannya, ga jauh beda dengan reaksi Chiyo tadi.
"HU-HUAPPPAH! I-ini…jangan salah sangka dulu… Ini…" Muka si pria itu memerah mengacung-ngacungkan si pembalut.
"Iiiih, aku mau kok! Asaaal…aku pengen kenalan dulu lebih jauh ama kamu! Ehehehe…Makasih yaa selama ini kamu mau susah-susah dengerin curhatan aku. Terlebih lagi, aku emang beringasan dan kayak babon, tapi aku harap kamu mau nerima aku apa adanya."
"Eh, tu-tunggu," Wajah si pria langsung berubah dari panik lalu perlahan-lahan menjadi sendu. Mata duapuluh ribu rupiah-nya menatap mata hazel milik Chiyo. Melihat kecantikan Chiyo yang mempesona, amarah si Pria langsung teredam. Bibirnya menyunggingkan senyum yang sulit diartikan.
"Baiklah," jawab si Pria itu, "Tapi jangan nyesel yah kalo kamu ternyata pacaran ama tukang penjaga toilet!"
"Ehehehee, iyah! Tapi aku pingin tau nama asli kamu. Kan, selama ini kita pake julukan terus. Nah, namaku Chiyo Akasuna. Kalo kamu?"
Si Pria itu langsung tersenyum manis, "Namaku … Saya adalah …"
End of Flashback (beneran, ini bener-bener 'End' kok!)
.
oo0oo
.
"DAN … PE-RIA ITU, BER-NA-MA?" Sasori menatap Kakuzu dengan rasa penasaran yang membuncah, terlebih lagi, nanyanya pake nada pembawa acara 'Injek! Investigasi' dan mengambil kunci nada di nada G=do.
"Intel, un?" jawab Deidara yang udah keluar dari pengintaiannya bersamaan dengan yang lain.
"Ayam sakti?" tebakan Itachi ini disambut Kakuzu dengan gelengan kepala.
"Atau siluman tengkorak?" Hidan kali ini lebih asbun.
Semua jawaban disambut oleh gelengan kepala Kakuzu. Lalu matanya menyorot semua teman-temannya satu-persatu. Kakuzu menghela nafasnya sampai serangga-serangga di dekatnya pada mati. Lalu ia memulai kembali percakapannya.
"Yeah, orait, orait…mungkin ini sudah saatnya. Dan…Pria itu adalah …"
Semua orang melotot ke Kakuzu.
"Pria itu adalah gue, Kakuzu!" jawab Kakuzu.
"Eh?"
"Err…"
"Hmmm… (un)"
.
.
krik krik krik
.
.
Butuh waktu beberapa lama sampai akhirnya kata-kata Kakuzu barusan bisa dicerna oleh otak semuanya.
"Jadi, maksud lo, pria itu adalah …" Sasori berusaha meredam keterkejutannya dan berusaha pula untuk meredam gemetaran di badannya. Takut akan satu fakta menakutkan yang akan terungkap.
"Ya," akhirnya Kakuzu buka suara, "Pria itu adalah gue. Dan gue kenal ama nenekmu, Sasori. Lo mau tau apa yang terjadi setelah itu?" Kakuzu berusaha terlihat meyakinkan.
Sasori merasa bergidik dengan semua ini. Tidak menyangka kalau tabiat neneknya dulu adalah cewe beringasan sama seperti dia kini. Perasaannya mulai ga enak. Namun ia tahu kalau hal ini terus dihindari, maka salah satu dari mereka (Kakuzu dan Sasori) akan… akan apa yah? Yah, sebut saja akan terjadi hal yang buruk lah!
"Ceritakan!" Akhirnya Sasori membulatkan tekad. Apapun yang terjadi, maka terjadilah.
"Okeh…Ehem," Kakuzu siap-siap, ia menarik nafas lalu menghembuskannya, "Akhirnya setelah itu, gue ama nenekmu jadi sangat dekat. Lama-lama saling jatuh cinta dan kami mengikrarkan cinta di bawah pohon kemenyan deket toilet."
'Ga modal! Koruptor ga modal! Jangan tiru koruptor yang kayak gini' batin semua orang. Lalu Kakuzu berlanjut lagi,
"Tapi sayangnya, orang tua Chiyo-chan ga setuju ama hubungan kita. Lalu, kami memutuskan untuk kawin lari. Capek memang, tapi itu setimpal lah! Sampai beberapa tahun kemudian, ayahmu lahir, Sor. Namun naas, kami ketahuan orang tua Chiyo-chan dan membawa paksa Chiyo-chan kembali ke rumahnya untuk dijodohkan dengan orang lain."
Kakuzu mengehentikan ceritanya sementara untuk menahan isakannya. Sasori mulai berkaca-kaca, dan yang lainnya mengambil popcorn.
"Setelah itu, dalam keadaan galaw, gue berusaha nyari duit sendiri dari hasil usaha toilet umum dan menjadi bounty hunter. Kalian tau kan tempat penyerahan hadiah yang di toilet itu? Ya! Itu adalah toilet hasil jerih payah usaha gue!"
'Gue inget! Gue jadi bau pesing pas keluar dari tempat laknat itu' jerit Hidan dalam hati.
Nah, mari kita lanjut lagi ke Kakuzu yang sekarang mukanya udah mulai pucat pasi dan bahkan lebih pucat dari Kuntilanak lagi mendesah sekalipun.
"Saking terkenalnya gue sebagai bounty hunter, gue jadi punya informan dimana-mana. Gue bisa tau Chiyo-chan jadi menikahi pria pilihan ortunya itu. Dan gue juga bisa tau kalo suaminya itu meninggal ketabrak becak sebelum Chiyo sempat melahirkan keturunannya."
Oh, please…Ga ada cara mati yang lebih elit apa?
"Sampai akhirnya gue masuk Akatsuki ini, gue juga masih tau kalo Chiyo -chan mencari dan merawat ayah lo, Sor! Lalu, ayah lo nikah ama ibu lo, dan…. akhirnya mereka menghasilkan keturunan laki-laki."
Mules. Itulah yang dirasakan Sasori sekarang. Ketakutannya semakin menjadi nyata. Bersiaplah untuk ultimate paranoia, Sasori!
Kakuzu menarik nafas lagi untuk kesekian kalinya dan berakhir sebagai bunyi 'tuut' dari lubang pantatnya. Tampang semua orang yang ada di sana pun memutih, dan mata mereka tertuju ke Sasori. Menunggu reaksi selanjutnya. Kakuzu memulai.
"Dan anak laki-laki itu adalah ELO, SASORI!"
JRENG!
JRENG!
JRENG!
Kamera close up ke wajah semua aktor di sana dengan mode cut to cut sempurna. Memperlihatkan wajah mereka yang mengatakan…
"HU-HUAPPPAAAH… (UN)!"
"Elo adalah CUCU gue!" Kakuzu berteriak sambil menunjuk-nunjuk Sasori yang sekarang makin membiru, kemudian menghijau, lalu menguning, dan siap untuk dipanen.
Hey, emangnya padi, dipanen-panen!
Sudahlah, berkat kata-kata Kakuzu barusan, Sasori merasakan sensasi kayak abis naik jet coaster, kepalanya pening, matanya banyak semut lalu pandangannya kabur, tubuhnya oleng, dan akhirnya…
BRUK! KROMPYANG!
Pein: "Whoooa! Si Sasori jatoh berserakan! Beresin, beresin!"
.
oo0oo
.
3 jam kemudian…
"Uuugh…" Sasori perlahan-lahan membuka matanya dan mengerjapkannya. Badannya berat dan dingin sekali. Rasanya enggan untuk bergerak dan memasuki dunia nyata lagi.
"Udah baikan, Sor?" kata Konan, seraya mengusap lembut kening Sasori.
"Sasori! ELO adalah CUCU gue!" Perkataan itu masih terngiang-ngiang di telinga Sasori, "Ini pasti boong, kan?" lirih Sasori.
Konan menatap Sasori dengan iba, "Sayangnya, kita semua mendengarkan itu. Gue juga ga nyangka kalo dia punya ikatan khusus ama lo. Sabar yah, Sor. Orang sabar disayang Jashin."
Lalu setelah tau Sasori udah siuman, si Monster Mie Goreng a.k.a Kakeknya Sasori datang memasuki kamar.
"Sor, lu gapapa?" Raut mukanya khawatir. Lalu anggota Akatsuki lainnya mengekor di belakang Kakuzu. Sasori lalu menatap tajam ke Kakuzu. Sasori berusaha bangun dari tempat tidurnya dan mendapati hal ganjil pada dirinya.
Hal ganjil?
Hal ganjil adalah ketika kamu yakin telah berdiri di kedua kakimu, pemandangan yang terlihat adalah perutmu yang berada di atas kepalamu dan jarak antara mata kaki dengan matamu itu sangat dekat, hanya beberapa senti.
"Dei?" tajam Sasori pada partnernya itu.
"Apa, Danna, un?"
"Lu yakin udah nyusun badan gue dengan bener?" jawab sang Danna.
"Bener kok, un!"
"Terus, KENAPA KEPALA GUE LU TARO DI DENGKUUULL, BAKA!"
"Danna, kalo kata orang-orang, mikir tuh make dengkul, bukan make otak, un." jawab Deidara yang udah kelewatan inosennya.
Saso: *Lempar badak buat nimpuk Deidara*
.
Okeh, skip time!
"Euh, dasar konslet! Yang ada mikir tu make otak! Bukan make dengkul!" cerca Sasori sambil membetulkan letak kepalanya yang sudah ada di tempat yang sebenarnya. Matanya memandangi Deidara yang udah bonyok akibat ditimpa badak dan diadopsi ama si badak tersebut.
Okeh, mari kita kembalikan badak itu ke habitatnya dan sekarang beralih ke kisah orang-orang goa alias Akatsuki ini, sodara-sodara.
"Sasori?" tanya Kakuzu, khawatir.
Sasori hanya mendelik curiga ke arah Kakuzu lalu ia mendengus dengan nafas berat. Menunjukkan roman muka mengapa-nasip-gue-seperti-ini? Lama hening ini tercipta, Sasori tadinya mau mecahin gelas biar ramai kayak pelem AADC, namun niatnya itu batal karena Kakuzu duluan memecah keheningan, yang bukan dengan gelas, tentunya.
"Nih," tangan kasar Kakuzu melemparkan selembar foto usang bernuansa vintage ke tangan Sasori. Kalo aja Sasori ga tanggap, mungkin foto itu akan dibakarnya secara reflek. Maka dari itu, tangan Sasori menyambut foto tersebut, dan mengamati dengan sesama siapa saja orang yang ada di foto tersebut.
Foto itu, dengan pose yang sederhana, memperlihatkan sepasang muda mudi. Tentu saja Sasori terbelalak karena ia sungguh mengenal siapa orang di foto itu.
"Chiyo-baa-san," lirih Sasori pelan. Dahinya memperlihatkan kerutan aneh, mirip diparut ama parutan keju, mengingat dahi Sasori terbuat dari kayu. Dia boneka, ingat?
"Yah, itu foto nenek lo. Dan apa lo kenal sapa yang disebelahnya?" Tanya Kakuzu, kalem. Tatapannya lembut, bahkan lebih lembut dari menatap uang.
Bahkan jenius boneka seperti Sasori pun perlu loading lama untuk memindai wajah pemuda yang berfoto bersama neneknya. Seonggok pria bercodet yang luar biasa tampannya untuk ukuran penjaga toilet umum dengan mata hijau duapuluh ribu-nya terbelalak bebas seakan mau makan kamera.
"Ini," akhirnya kata Sasori dengan lemah, "Siapa?"
DOEEEEENG!
"Itu gueeee, dodol!" Aseli, Kakuzu terjengkang 108 derajat ketika nemuin ada orang yang sebegitu begonya gabisa bedain cowo codet dengan cowo bercadar!
Lah, emang siapa juga yang bisa ngenalin orang yang mulutnya ditutup cadar?
Sasori hanya bisa ber 'ooh' ria. Dengan tenang, matanya memindai foto itu dengan makin seksama. Setelah diliat lagi, ga ada mirip-miripnya tu codet dengan dirinya yang rupawan bin tampan itu.
"Lu pasti mikir kalo gue ga ada mirip-miripnya ama lo, kan?" Kakuzu berhasil nembak pikiran Ssaori.
"Nyadar juga lo…," Memang, itulah yang jadi pertanyaannya sekarang.
"Yah, seperti yang lu liat," Kakuzu nyeruput kopinya dengan sok-sok cool, "Gue dulu ganteng, Sor. Seiring bertambahnya galau gue nyari-nyariin nenek lo yang lincah itu, akhirnya gue kayak gini. Jait sini, jait sono, tato, sini, tato sono, dan akhirnya gue jadi banyak codet dan jaitan gini. Harap maklumlah." Kakuzu menyeruput kopinya lagi.
Masih segar dalam pikiran Sasori beberapa tahun yang lalu dirinya bertarung dengan seorang gadis kunoichi berambut pink yang berduet dengan neneknya dalam, pertarungan baru,
pertarungan: Siapa yang berhasil lolos babak penyisihan Shinobi Idol.
Tak penting memang, tapi berkat kemampuan nyanyi Sasori yang luar biasa bikin kleyeng-kleyeng terpesona itu, akhirnya neneknya dan si kunoichi pink itu berhasil dikalahkannya. Dalam kasus ini Chiyo kalah karena keabisan darah kebanyakan mimisan. Thanks to Sasori's deathly passion, anemia di tubuh nenek tua renta sekarat itu jadi kambuh berkali-kali lipat.
"Sor? Sor!" suara cempreng Kakuzu barusan menyadarkan lamunan Sasori.
"Eh, apa?"
"Untung yah lo ga make marga gue di belakang nama lo!" Kakuzu tiba-tiba antusias dan berdiri di samping Sasori.
"Lah, emangnya kenapa?" tanya Sasori malas.
"Yah, untungnya Chiyo masangin marganya di belakang nama lo. Soale marga gue aneh banget, sih"
"Kenapa gue ga heran yah, kalo nama lo aneh? Emang marga lo apa?" Sasori terkekeh.
"Yah, nama gue Kakuzu Schwarzenegger. Aneh banget, kan?" Wajah Kakuzu polos tersembunyi di balik cadar baunya.
Mata Sasori, dan semua orang yang di goa itu, terbelalak, diikuti dengan sweat-tsunami.
"Beneran? Zetsu, coba cek arsipnya si Kakuzu!" Pein memerintahkan bawahannya yang warna ijo itu.
"Bener, kok, Lider!" Tangannya memegang akte kelahiran si Rentenir, lalu mengangkatnya agar semua orang bisa melihat. Semua menatap horror ke Kakuzu dengan pesan tersirat benarkah-itu-Kakuz?
Kakuzu hanya tertawa terbahak-bahak ngeliat kelakuan temennya itu, ketawa yang bahkan tuyul pun ga sudi niruinnya.
"Yah, bayangin aja kalo nama lo itu Sasori Schwarzenegger! Lo pasti susah kalo mo ngisi formulir SNMPTN ama daftar-daftaran yang lain kan? Namanya kepanjangan!" ucap Kakuzu pada akhirnya.
Mendadak semua penghuni goa itu kena stroke, perang dunia kembali pecah, inflasi meningkat drastic, komet Halley nabrak Jupiter, Orochimaru ganti kelamin, Masashi Kishimoto-sensei bangkit dari hiatus, dan pembaca penpik meng-close fic ini -wuaaa, jangan dulu dong!-.
Sabar yah, Sasori! Dunia ini memang kejam.
.
.
.
THE END
OMAKE!
Back to 'Flashback' Era…
Sepasang mudi-mudi yuri sedang bermesraan di kamar mandi, dan salah satu dari mereka grasak-grusuk mencari sesuatu dibalik pakaian lawan mainnya.
Yuri 1: "Ada apa, sih?"
Yuri 2: "Ehmm…pembalut yang tadi aku kasih ke kamu dimana yah?"
Yuri 1: "Hah, yang mana?"
Yuri 2: "Yang tadi aku tulisin itu, lho! Yang tempat kita chatting di kelas tadi!"
Yuri 1: "Eh iya! Kemana yah! Dibuang ama penjaga toilet kali! Emang kamu ngapain, sih nyariin segala?"
Yuri 2: "Yaaaah! Padahal ada pesen yang mo aku sampein ke kamu!"
.
.
ASTAGAA, FIC ABAL APA INIIII?
Hiks, ntah kenapa berasa aneh pas bikin ini. Jadilah fic gaje ini! Sense humornya agak2 kurang kadarnya, kalo kata aku, sih…
Tapi, kan semua orang punya pendapat lain. Hohohoho, maka dari itu, gimana nih reader-tachi? Bagus kah? ato aneh kah?
Hmmm…mendingan taro aja di pojok REVIEWnya yah! Mo saran, kritik, pendapat doang, ato flame terserah dah…asal bukan flame yang nyuntrungin pair yang udah ada.
Ehehehe, tapi ini khusus dipersembahkan untuk meramaikan Hari Palentin yang bakal jatuh sebentar lagi.
Thanks you for your spare time to read my fic! And thanks for AV! AC! AND! crew, you RAWK!
See you on my next fic!
*** AmiiNina ***
