Coklat itu makanan manis yang paling menyebalkan,

Menyisakan noda dengan warna yang sama dengan nama makanan tersebut,

Ditambah lagi akan membuatmu semakin 'berisi' bila terlalu banyak dimakan,

Makanan perusak email gigi,

Tapi lucunya…

Aku justru menanti coklat ada di atas mejaku setahun sekali.


Harvest Moon © Natsume

Once A Year Choco © Ruise Vein Cort

Rui tahu, sampai kapan pun juga Trent nggak akan mau coklat -.-a

It's just for fun, really.


Hari Valentine adalah satu-satunya hari bagi seorang Trent untuk bersedia mengeluarkan salah satu jenis makanan dari daftar hitamnya. Menerima secara berat hati benda—yang baginya—jahat yang dibungkus rapi dengan pita manis. Trent tidak perduli di mana atau siapa yang membungkusnya. Dia hanya perduli pada benda yang ada di dalam dan perasaan muak untuk memakannya nanti—walau jujur ada rasa bahagia bila mengingat siapa yang memberikan coklat tersebut.

Dan sebagai asisten yang baik Elli mengerti benar mengenai hal itu. Tapi tetap, menurut tradisi yang diberikan saat Valentine adalah coklat atau mungkin bunga mawar—kau bercanda bila Trent akan menerima dengan tangan terbuka pilhan kedua yang disebutkan. Maka dengan senyuman terpaksa perawat muda itu akan meletakkan cokat yang dibungkus dengan kertas kado putih ke atas meja Trent.

"Tanda persahabatan," ucap gadis tersebut. Menunjukkan senyuman terbaiknya saat Trent melemparkan tatapan sebal pada benda yang ada di atas mejanya.

"Ah… terimakasih."

Lalu Elli akan buru-buru keluar dari ruang periksa dan berdiri di belakang meja resepsionis. Menanti gadis berambut pirang yang akan masuk dengan senyum cemerlang di wajahnya dan sekotak coklat di hadapannya. Tanda bagi Elli untuk segera naik ke lantai dua atau—bila gadis itu mengalah pada rasa ingin tahunya—memperhatikan bagaimana Trent akan menerima coklat dari sang petani.

"Elli, kau tidak ke tempat Ellen?"

Satu kerjapan. Dua kerjapan.

Dan pada akhirnya Elli sadar bahwa ini hari Rabu yang berarti kali ini ia gagal melihat reaksi apa yang ditunjukkan Trent saat menerima coklat dari Claire. Oh, terimakasih banyak. Mimpi menyebalkan lagi yang lahir dari imaji liarnya untuk beberapa malam ke depan.


Trent mendengus pelan. Memperhatikan Gotz yang tengah bercakap-cakap dengan gadis berambut pirang yang ditunggunya. Di tangan pria berjanggut itu ada sekotak coklat—Trent yakin benar karena Claire sendiri yang mengatakannya. Puas dengan memperhatikan keduanya yang sibuk bercengkrama, Trent mengalihkan perhatiannya pada beberapa jumput rumput aneka warna yang diterimanya. Sebagai hadiah Valentine. Dari Claire.

Hei! Kau pasti bercanda kan Claire.

Dari segi mana pun, tidak akan ada kekasih waras yang mau memberikan herb sebagai hadiah Valentine. Memang benar Claire tahu bahwa Trent membenci makanan yang tidak sehat. Tapi… oh ayolah… ini hari Valentine demi para mahluk suci.

"Trent, kau mau ke perpustakaan hari ini?"

Pertanyaan tersebut berhasil menyadarkan Trent. Dengan agak malas-malasan dokter muda itu mengalihkan perhatiannya dari beberapa jumput rumput di tangan pada sosok Claire yang tersenyum riang padanya. Memeluk beberapa kotak hadiah dengan kertas kado berwarna putih dan pita biru.

"Umh ya, tapi sebelumnya aku akan menyelesaikan beberapa dokumen di klinik sebentar," jawab Trent sedatar mungkin. Ia menolak terdengar seperti anak kecil yang ngambek karena memiliki kesan ia baru saja di anak tirikan. Mau seperti apa juga… Trent dongkol dengan hadiah Valentine miliknya.

"Oh, baiklah. Aku akan menemuimu di sana setelah menyerahkan coklat-coklat ini. Sampai nanti."

Di dalam otaknya, Trent merasa bahwa angin musim dingin tahun ini sedang menertawakannya. Berani bersumpah. Buktinya angin terus berhembus selama lima menit tanpa henti setelah kepergian Claire—dan Trent mematung di tempat tanpa memperdulikan syal putihnya harus segara diperbaiki kalau dia tidak mau sakit.


Ada satu suara di kepala Trent yang mengatakan bahwa hari ini tidak akan berjalan dengan baik saat ia membuka matanya tadi pagi. Awalnya pemikiran itu berasal dari kenyataan ia akan setidaknya menerima dua coklat dari Elli dan Claire—penduduk kota lain hanya akan tersenyum getir saat ditanya kenapa tidak memberi coklat pada Trent, berkata bahwa itu adalah hal terakhir yang akan mereka lakukan untuk ada di sisi baik sang dokter.

Dan itu terbukti nyata.

Kali ini bukan karena kenyataan bahwa ia akan makan malam dengan coklat, tapi pada kenyataan bahwa ia tidak mendapatkan makan malam tersebut dari sang kekasih. Semua penduduk kota yang ditemuinya sejak tadi membawa bungkusan yang sama. Bungkusan seukuran kepala tangan dengan bungkus warna putih dan pita biru—tidak bisa dibayangkan serepot apa Jeff kemarin.

"Harimu buruk?" sapa Cliff. Memperhatikan awan mendung ilusi yang berterbangan di atas kepala Trent.

Jujur, pria itu sama sekali tidak akan menyangka akan bertemu Trent duduk di salah satu meja di lantai dua perpustakaan kali ini. Melemparkan tatapan membunuh pada benda yang biasanya akan ia tatap dengan pandangan cerah seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru—beberapa jumput herb.

Mungkin bila benar robot, saat Trent menoleh pada Cliff ada saat di mana suara derik besi karatan terdengar. Terlihat dari bagaimana Trent menolah dengan cara yang sama dengan robot yang kekurangan oli. Oh hei… apa ini maksudnya Trent bangun di sisi yang salah pagi ini?

"Jauh lebih buruk," desis Trent. Kembali ia menatap tajam bingkisan yang sangat ia kenali di tangan Cliff bersama bingkisan lain yang jauh lebih besar. Dengan kertas pembungkus warna biru langit dan pita merah. "Biar kutebak, itu dari Claire dan Ann?"

Cliff mengerjap pelan. Mengalihkan pandangan beberapa kali dari Trent menuju bingkisan di tangannya.

"Sebenarnya ini dari Manna, Ann memberiku pagi-pagi sekali sebagai hidangan penutup," jelas pria itu.

Detik berikutnya yang yang Cliff tahu adalah Trent menjejakkan kaki dengan sangat keras pada tangga kayu. Sejujurnya Cliff ingin bertanya, tapi melihat aura yang menguar di sekitar dokter muda itu… urungkan saja. Cliff menolak di seret oleh Elli seperti saat ia sedang pingsan musim dingin yang lalu. Terimakasih banyak.


Merasa malas untuk bertemu muka dengan Claire hari ini, Trent lebih memilih membeku di puncak gunung. Memperhatikan dari jauh sosok Claire yang kelihatannya masih sibuk untuk berlari kesana-kemari menyerahkan bingkisan coklat yang belum diserahkan pada siapa pun yang ia temui.

Sungguh, Trent bahkan sama sekali tidak memperdulikan kedua tangannya yang mulai gemetaran akibat terlalu lama ada di ketinggian—dengan artian lain udara lebih dingin beberapa derajat dari udara di kota.

Dan kembali aku katakan; sungguh, kalau bukan karena Gotz yang menemukannya, Trent pasti akan benar-benar membeku. Mengingat kedua kakinya sudah tidak bisa digerakkan—kram.


"Kau seperti anak kecil," tuduh Claire kesal. Diserahkannnya sebuah mug besar berisi cairan hangat yang entah apa—yang ia perdulikan adalah kedua tangannya mulai menghangat saat mengenggam mug tersebut.

"Tidak ada salahnya aku besikap kekanakkan sehari saja dalam satu tahun, bukan?" balas Trent.

Jujur, Calire sama sekali tidak tahu harus melakukan apa selain mengerjapkan kelopak matanya dan bertanya dalam hati apakah Goddess sedang bosan dan ingin merusak sistem kerja otak Trent. Ayolah, ada batasan juga dalam bersikap di luar karakter seperti ini.

Ditambah lagi, wanita berambut pirang itu sama sekali tidak habis pikir saat Gotz mengetuk pintunya sambil membawa Trent yang hampir kehilangan kesadaran. Beruntung saat itu ia sudah menyalakan perapian. Tidak pernah sekali pun ia melihat Trent bersikap seceroboh ini.

"Katakan, kau sedang ada masalah?" tuntut Claire. Berjongkok di hadapan Trent yang tengah bergelung di dalam beberapa helai selimut musim dingin milik Claire.

Trent sama sekali tidak menjawab, memilih untuk menatap nyala api dibandingkan mempertemukan kristal onyx dan aqua. Tidak terkecuali rona khawatir dan kesal yang menghias kristal milik Claire.

"Trent, tatap aku," dengus gadis petani tersebut. Mengerucutkan bibirnya, ngambek karena Trent sama sekali tidak menggubris.

Lagi Claire menghela nafas. Beranjak pergi menuju dapur, memotong beberapa potong coklat untuk dilelehkan. Trent sama sekali tidak ambil pusing dan memilih untuk diam. Bukan hal yang besar baginya untuk diam dan mengabaikan apa yang terjadi di sekitarnya. Bukan masalah besar.

Sungguh. Itu bukan masalah… besar.

"Coklat."

Suara ketukan pisau dengan papan kayu terhenti. Claire menoleh pada sosok Trent dengan kedua alis terangkat.

"Maaf?" ujar gadis tersebut. Meragukan pendengrannya.

"Mana coklatku?'

Tidak ada pilihan lain bagi Claire untuk tidak mendengus dan mengartikan bahwa ini kali pertama Trent ngambek untuk hal sepele seperti ini.

"Ada di dalam lemari pendingin. Ambillah, awalnya aku mau memberikannya di perpustakaan, tapi kau terlanjur pergi sih."

"Jadi jumput herb itu bukan hadiah valentineku?"

"…kau gila…"

Dan keduanya sama sekali tidak bersuara selama Claire sibuk membuat coklat panas untuknya dan Trent—yang kelihatannya masih salah tingkah karena ngambek dengan alasan tidak jelas. Malamnya Trent menghabiskan waktu untuk di kediaman Claire, menikmati hidangan yang sepenuhnya terdiri dari coklat dan coklat. Tapi lucunya memiliki aroma herb dan rasa samar sayuran. Entah bagaimana Claire membuatnya.

Tapi…

…keesokkan harinya Trent harus berbaring di tempat tidur pasien dengan Elli menggantikan tugasnya. Sementara Claire hanya mendengus pelan, meminta para kurcaci menggantikan pekerjaanya karena gadis itu harus menghabiskan waktu sebagai perawat dadakan.


Ganjil?

Oh, sungguh, Rui membuat ini dalam keadaan gila.

Entah ide darimana Rui membuat fic satu ini.

Mengenai hari Valentine,

Menurut Rui itu agak sedikit berbeda dengan hari Thanksgiving waktu Spring.

Jadi Rui masukkan saja hari itu.

Dan kenapa harus musim dingin?

Karena setau Rui bulan Februari itu masih musim dingin :P

Jadi tanggal pastinya dikira-kira aja (pletak)

Dan maaf mengenai Trent yang super OOC.

Habisnya waktu Rui main ulang gamenya,

Dia ekpresif banget setelah nikah =.=a

Dan mengenai Cliff yang diseret Elli…

Itu waktu dia pingsan selama beberapa hari.

Kalau Claire pingsan pasti Cliff akan dibuat pingsan oleh Trent dan diumpetin Elli dengan hanya menyeret satu kaki :P

Mind to Review?

II II II

V V V

V V

V

v