Disclaimer : Masashi Kishimoto
Title : The Strange Family
Genre : Humor, Family, Romance(maksa)
Warning : Gaje, abal, don't like don't read
Makasih ya buat yang udah review. I'm nothing without you, hehe. Jawab-jawab review dulu:
-vent: iya, Sasu tertarik sama Sakura. Sai emang sengaja dibikin OOC. Hihi, kasian ya sama Sai? Iya emang kurang, kan masih ada kelanjutannya ntar, hehe. Oke deh aku panjangin ceritanya.^^
lucem ferre 123: iya senpai, aku akan lebih teliti.^^
Aihara: this is^^
Alice Vessalius: mulanya emang panjang, tapi ntar malah ngebosenin denger Sasuke pamer mulu', hehe.^^
Fiyui-chan: oke! Ga akan lupakan SasuSaku kok.^^
Kara miris liat akun ini : this is.^^
Aizu Asahikawa: iya, pertemuan SasuSaku emang singkat banget. Di usahain cepat deh. Ini udah cepat belum?^^
DEVIL'D: mulanya mau di panjangin, tapi ntar malah ngebosenin, hehe. Gomen deh, chap ini aku panjangin kok.^^
kitsune murasaki have a poker face: iya, pairingnya emang akan aku buat gitu, tapi buat pasangan Itachi..ehmm, siapa ya?.^^
momoko: oke, di usahain!^^
Uchiha Rama Senju: siap!^^
sora no aoi: emang sih aku sempet terpikir kayak gitu, tapi ga tau kenapa jadi berubah ide, hhe. Neji sama.. sama siapa ya? Baca deh.^^
Honami Michiyo: jangan panggil senpai ya, panggil bella-chan aja.^^
blue sakuchan: iya chap ini aku panjangin kok.^^
Skyzhe Kenzou: oke^^
Thia Nokoru: oke^^
Tsubaki Audhi : salam kenal juga Hikary-san (formal dikit—hehe). Ga ada lemon kok, aman di konsumsi deh (makanan kali'). Hah? Akhirat?. Ada-ada saja. Da~.^^
atachhan : terima kasih. ^^
Kuraudo umika yamachii JUMP : makasih ya. ^^
The Strange Family
Chapter 3
Neji's POV
Oh Tuhan dia cantik sekali. Baru kali ini aku melihat wanita secantik dirinya. Aku memperhatikannya sejak ia memasuki tempat fitness ini, mataku tak bisa berpaling darinya, dia adalah wanita keren yang pernah ku lihat. Ah~ dia melihatku. Oh tidak! Aku lupa menyisir rambutku! Sudah berapa lama aku tidak keramas? Ah~ ya 2 minggu yang lalu, apa aku tetap rapi dan tampan? Hmm, tentu saja.
"Hei Neji, kau sedang apa?" tanya Pein yang baru kembali setelah menggoda wanita-wanita yang sedang aerobic.
"Tidak ada, Pein."
"Sudah berapa kali ku bilang panggil aku senpai. Aku ini gurumu." Kata Pein setelah menjitak kepalaku. Haish! Guru seperti apa dia? Hanya memerintahkanku saja.
"Ku lihat kau sedang memperhatikan wanita bercepol dua itu sejak tadi." Kata Pein sambil mencari sesuatu di dalam tasnya.
"Dia itu cantik." Ucapku
"Kau menyukainya?" tanya Pein dan ku jawab dengan anggukan.
"Goda saja dia."
"Aku tidak tau caranya." Hah, memangnya aku seperti kau apa?
"Akan ku ajari. Apa kau lupa? Aku ini adalah pria penggoda nomor satu di Konoha. Dengar, pertama jalan ke arahnya, tanyakan hal yang kurang penting, ajak kenalan, dan minta nomor hp-nya." Ucap Pein. Tunggu—dia bilang dia adalah pria penggoda nomor satu di Konoha? Lalu ayahku dan Kakashi? Hah sudahlah.
"Aku tidak akan mencobanya."
"Kau ini pria bukan sih? Masa begitu saja tidak berani. Cobalah, lagi pula aku tidak pernah melihatmu jalan bersama perempuan, kau pasti bersama teman lelakimu semua. Jangan-jangan kau homo." Tantang Pein. Aku terdiam sejenak untuk mempertimbangkan apa aku ini homo atau tidak (?) hei, jangan salah sangka dulu, aku ini normal. Hanya saja, aku selalu menjaga wibawa ku, hmm bahasa gaulnya jaim (jaga image). Kalau aku mau, aku bisa mengumumkan sayembara untuk mencari istri. Ada yang mau?.
Aku berjalan menuju wanita itu dengan gaya garangku. Ah~ dia melihat ke arahku. Aku sedang memikirkan kata-kata yan akan aku bicarakan padanya nanti, apakah pertama-tama aku harus bilang 'Neng, ikutan abang dangdutan yuk?', ya seperti salah satu lagu di Indonesia yang ku dengar dari Kiba. Dan cewek itu akan berkata 'Najis lu.'. hah, kata yang singkat namun menusuk jantung. Apa yang harus aku katakan?.
"Hai." Sapa Neji
"Hai."
"Baru ya disini?" tanya Neji
"Ya. Aku baru pindah dari Ame."
"Namamu?"
"Namaku …" sebelum wanita di depanku menjawab seorang pria bertubuh besar memanggilku,
"Neji!."
"Ya? Ada apa?"
"Celana dalam milikmu tertinggal di ranjangku. Kau lupa membawanya ya?" tanya Juugo
Aish.. kenapa harus disaat-saat seperti ini sih! Lihat wanita itu menatapku curiga.
"Ya baiklah, nanti aku ke rumahmu."
"Oke. Dan kita akan melanjutkannya kan? Jangan lupa kau bawa juga barang itu. Persiapkan dirimu agar tidak mengantuk. Karena kita akan begadang sampai pagi!." Kata Juugo sambil berlalu pergi. Sial sial sial!. Juugo itu bodoh atau apa? Dasar gentong, orang yang mendengar itu pasti akan salah sangka!. Padahal yang di bicarakannya hanya kaset yang belum selesai kami tonton karena episode yang terlalu panjang.
"Jadi, siapa namamu?" tanyaku pada gadis itu lagi.
"Kau homo? Ah ya, banyak pria-pria jaman sekarang yang memiliki kelainan seksual sepertimu. Dan maaf, aku tidak tertarik untuk berkenalan dengan pria setengah-setengah." Ucap gadis itu dan pergi meninggalkanku. Gadis itu berbalik.
"Ada cabai di gigimu." Teriaknya. Omigod. Pertemuan yang sangat penuh cobaan. Lihat, aku di sangka homo. Ini gila. Lebih baik aku pulang. Pesanku untuk kalian : rajin-rajinlah keramas dan jangan pernah meninggalkan celana dalam di rumah temanmu.
End of Neji's POV
.
.
.
Sakura menundukkan kepalanya, begitu pula saudara-saudaranya yang lain kecuali Neji, karena Neji belum pulang ke rumah.
"Lihat kamarmu Sakura, kau jadikan apa kamarmu? Seperti kuburan saja." Kata Tsunade
"Ibu, aku sudah bilang aku tidak suka warna pink. Kau mengecat dinding kamarku menjadi pink, seprai berwarna pink, meja berwarna pink, lemari berwarna pink, ya~ semuanya pink." Kata Sakura
"Kau inu wanita Sakura, bertingkahlah layaknya wanita. Ah lihat apa yang kau pakai, jeans blel? Kaos polos? Dan pakaian laki-laki?" Tsunade menutup lemari berwrna hitam di depannya setelah memeriksa.
"Ibu? Kau sudah pulang?" Neji yang baru pulang ikut berkumpul di depan kamar Sakura.
"Dari mana saja kau? Kau ini sebagai kakak kenapa tidak menasihati adik-adikmu? Kamar Sai penuh dengan lukisan-lukisan, sampai-sampai jendela dan dinding pun dilukisnya. Kamar Sakura penuh dengan barang-barang mengerikan. Kamarmu sendiri penuh dengan alat-alat olahragamu. Cepatlah mencari istri agar ada yang mengurusimu."
"Kenapa hanya Hinata tidak dimarahi?" tanya Sakura
"Karena kamar Hinata yang paling rapi dan sederhana, lagi pula dia melakukan tugasnya dengan baik." Jawab Tsunade
"Ibu, dimana ayah?" tanya Sai
"Ayahmu sedang ke kantor pemerintahan."
Hening. Tak ada yang bicara.
"Besok malam ibu mengadakan pesta untuk merayakan kerja sama butik batik milikku dengan majalah Cool. Kalian semua harus datang." Kata Tsunade
"Iya bu." Jawab mereka serempak
"Sakura, kau harus pakai gaun. Ah~ dan ajak Ino." Kata Tsunade yang di sertai dengan anggukan Sakura dan senyuman lebar dari Sai.
.
.
.
"Sakura-nee, apa tidak sebaiknya kau memakai gaun berwarna putih atau pink saja?" tanya Hinata
"Hinata, kau tau sendiri aku tidak suka warna pink. Lagi pula ibu hanya menyuruhku memakai gaun, tidak ada pilihan warna yang di minta olehnya." Kata Sakura
"Saku, aku tidak punya high heel yang seukuran dengan kakimu." Kata Ino yang baru datang.
"Kau pikir aku akan memakai high heel? Kau mau membuatku malu dan menderita? Kau mau aku pulang seperti suster ngesot? Hinata, ambilkan sepatu boots warna hitam di kamarku" kata Sakura.
"Baiklah kalau kau tidak mau pakai high heel. Tapi, kau wajib untuk di dandani." Kata Ino sambil mengambil kuas blush on.
Sakura menatap kuas Ino dan meneguk ludahnya.
.
.
.
Uchiha Sasuke. Pria itu keluar dari limousine yang mengantarnya ke tempat undangan untuk merayakan kerja sama antara butik batik milik Tsunade dengan majalah Cool milik perusahaannya. Ia tersenyum saat kilatan-kilatan cahaya meengarah kepadanya.
'Tidak ada yang menolak pesona Uchiha' batinnya.
"Selamat datang Uchiha-san." Ucap Tsunade
"Tidak usah sungkan bibi Tsunade, panggil saja Sasuke." Tsunade nyengir di panggil tante.
.
Ditempat lain, tepatnya di meja makan.
"Hai, Ino." Sapa Sai
Ino tersenyum melihat Sai.
"Kau tidak makan?" tanya Sai
Ino menggelengkan kepalanya.
"Ah ya, aku tau, kau pasti sedang diet, ku lihat badanmu tambah gendut." Kata Sai
Mulut Ino membentuk seperti huruf O.
BLEPAAK
Ino sukses menjitak kepala Sai dengan tas kecilnya.
"Kau mengataiku gendut?. Aku tidak mau makan karena sedang menunggu Sakura. Hah, kau menghilangkan nafsu makanku." kata Ino ambil berjalan meninggalkan Sai.
'Sepertinya aku memang tidak berbakat merayu wanita.' Batin Sai
"Aku gendut? Hah, kau itu yang terlalu kurus, badanmu aja seperti papan cucian. Hah. Apa aku terlihat gendut?" Ino berbicara pada dirinya sendiri di depan cermin di toilet perempuan.
"Ya. Tampaknya aku memang harus diet." Katanya kemudian.
.
Ditempat lain (lagi), tepatnya di dekat jendela.
"Halo bibi selamat malam." Ucap gadis bercepol dua pada Tsunade.
"Hai Tenten. Lama tak berjumpa, mana ayahmu?" tanya Tsunade
"Dia sedang dalam perjalanan. Bagaimana kabar paman Jiraiya?" tanya Tenten
"Tidak berubah. Masih menjadi penggoda wanita." Jawab Tsunade dengan tawa renyahnya sambil melihat suaminya yang sedang mendekati beberapa wanita.
'Memalukan. Kenapa aku harus menikah dan punya anak dengan orang seperti itu. Hah, cinta memang buta.' Batin Tsunade
"Ibu, kau melihat Sakura?" tanya Neji
"Dia belum datang. Ada apa?"
"Tidak apa-apa bu. Huah!" Neji terkejut melihat gadis bercepol dua di depannya.
"Tenten, kenalkan ini Neji, anak pertama bibi."
Neji menyodorkan tangannya, namun Tenten hanya mengangguk dan tersenyum (terpaksa).
Neji menarik kembali tangannya.
"Maaf bi, aku permisi dulu." Kata Tenten
'Kenapa kenalan saja begitu rumit?' batin Neji
.
Ditempat lain (lagi), tepatnya di lantai dansa.
Terlihat pasangan yang sedang berdansa.
"Hinata-chan, kalau kita menikah nanti. Kau mau punya anak berapa?" tanya Naruto
"Hmm, 4? Atau 5?" kata Hinata
"Wuah, kau tidak mau ikut KB?" tanya Naruto
"Tidak. Aku mau membuat tim futsal dengan 5 orang anak tersebut." Hinata memamerkan senyumannya.
"Baiklah. Kalau kau mau begitu, aku pun senang." Kata Naruto
'Betapa bahagianya cintaku, semoga tetap seperti ini selamanya.' Batin Hinata.
Sakura berjalan memasuki ruangan yang telah di penuhi tamu-tamu undangan ibunya, namun seseorang menghentikan langkahnya.
"Maaf, aku mau lewat." Kata Sakura
"Maaf nona, kau berhutang padaku."
Sakura menatap pria di depannya. Ya, memang tampan. Sakura sedikit terkejut melihat rambut pria tersebut yang berbentuk seperti bokong ayam. Itu mengingatkannya pada kejadian kaleng 'cola'. Sakura menatap dingin.
"Ah ya. Maaf untuk kejadian waktu itu." Kata Sakura sambil membungkukkan badannya.
"Anda tidak di maafkan." Kata Sasuke. Sakura mengerutkan keningnya.
"Kau mau apa sebenarnya?" tanya Sakura
"Aku hanya ingin kau minta maaf dengan ikhlas. Wajahmu itu tanpa ekspresi tau!" kata Sasuke
"Aku tidak mau. Memangnya kau ini siapa berani-beraninya memerintahku." Sahut Sakura
"Hah, kau tidak mengenalku? Apakah kau tinggal di dusun? Ah tidak, bahkan orang dusun pun tau aku ini siapa." Kata Sasuke
"Memangnya kau ini siapa?" tanya Sakura
"Aku adalah Sasuke Uchiha. Pria tampan, kaya, alim, berpendidikan, dan bersahaja." Kata Sasuke
"Aku tidak peduli. Siapapun dirimu." Kata Sakura sambil pergi meninggalkan Sasuke.
'Gadis aneh. Tapi, aku suka.' batin Sasuke
'Dasar orang aneh.' Batin Sakura
.
.
.
"Dalam rangka merayakan kesuksesan majalah Cool. Kami akan mengadakan kelas khusus bagi perempuan di hari jum'at, sabtu, dan minggu. Yang mana hari jum'at adalah kelas memasak, hari sabtu adalah kelas modeling, dan hari minggu adalah kelas dandan. Pendaftaran untuk 10 oarang pertama gratis dan formulir bisa di ambil langsung di kantor majalah Cool. Kelas ini akan dimulai malam hari dari pukul 06.30 sampai dengan 8.30." Kata Sasuke saat gilirannya memberikan sambutan.
"Sakura, kau harus ikut itu. Aku akan mendaftarkannya untukmu." Kata Tsunade
"Ibu, aku tidak mau. Kau tau kan, aku harus kuliah dan bekerja." Kata Sakura
"Lagi pula kuliahmu kan pagi, kau kerja? Kerja apa?" tanya Tsunade
"Aku.. aku.. ah tidak, bukan pekerjaan yang sulit." Jawab Sakura.
Dia bisa di marahi lagi kalau ibunya tau ia bekerja sebagai montir.
Sasuke telah turun dari panggung dan berjalan menuju Tsunade.
"Bibi, mohon bantuanmu." Kata Sasuke
"Pasti ku bantu Sasuke. Dan kau pun harus membantuku."
"Apa yang bisa ku bantu bi?" tanya Sasuke
"Aku akan memasukkan salah satu anakku ku kelas khususmu. Tolong buat anakku ini menjadi wanita tulen." Kata Tsunade.
"Aku benar-benar wanita tulen ibu." Kata Sakura
"Ah kau ternyata. Kau memang harus di bantu untuk menjadi wanita." Kata Sasuke
"Kau mau mati hah?" tanya Sakura dengan nada dingin.
"Lihat, kau ini laki-laki atau perempuan?" sindir Sasuke
"Sudah kalian berdua ini. Jangan bertengkar hanya karna masalah sepele seperti ini." Kata Tsunade yang sedari tadi melihat keduanya bertengkar. Mereka berdua saling tatap menatap tanpa menghiraukan perkataan Tsunade.
"Kau takut karaktermu berubah karna ikut kelas khusus ku?" tanya Sasuke pada Sakura
"Aku tidak takut apapun. Akan ku buktikan padamu, bahwa aku bisa menjadi wanita seutuhnya." Kata Sakura
"Baiklah. Akan ku lihat perkembanganmu." Kata Sasuke
"Hei! Kalian berdua!, teganya kalian tidak menghiraukan aku." Kata Tsunade
"Diam!." Teriak Sakura dan Sauke
"Jika kau bisa menjadi wanita seutuhnya dalam waktu 1 bulan, aku berjanji aku akan mengabulkan 3 permintaanmu. Dan jika kau tidak berhasil, kau harus di hukum." Kata Sasuke
"Sudah kalian berdua, kalian dilihat semua orang." Kata Ino
"Diam!" teriak Sakura dan Sasuke
"Setuju. Ku harap kita tidak akan bertemu lagi" Kata Sakura
"Sayangnya itu tidak bisa, karena aku akan memantau perkembangan setiap orang yang ikut di kelas khusus termasuk kau." Kata Sasuke
"Hah! 3 kali seminggu harus bertemu denganmu? Aku bisa gila!."
"Kau tergil-gila padaku? Ya, tentu saja, tidak ada yang bisa mengalahkan pesona Uchiha."
"Percaya diri sekali kau, aku bisa gila karena emosi terus saat aku bertemu denganmu. Jadi, diamlah atau ku jambak rambut bokong ayammu!." Kata Sakura
"Bokong ayam kau bilang? Kau ini tidak tau style ya? Model rambut seperti ini, hanya aku yang punya di Konoha. Hah, aku boleh meminjam jidatmu tidak sebagai landasan helikopterku?"
Keduanya sama-sama mengatur nafas.
"Aku pulang." Kata Sasuke
"Pulang saja, dan hati-hati. Haruskah ku antar?" tanya Sakura
"Terima kasih. Tapi tidak."
"Ah ya, tidak usah sungkan."
Keduanya berlalu pergi melewati jalan yang berbeda.
'Style dia bilang? Apa model bokong ayam adalah style? Jangan-jangan nanti dia akan merubah rambutnya seperti buntut babi. Dan apa katanya? Meminjam jidatku untuk landasan helicopter? Akan ku jambak dia lain kali.' Sakura merutukkan kejadian tadi selama perjalanan pulangnya.
'Aku memang menyukainya, tapi, apa dia terlalu norak? Rambutku ini adalah style, dasar jidat lebar. Aku akan mengerjaimu gadis aneh!.' Sasuke menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh.
.
"Apa mereka berdua akan baik-baik saja?" tanya Ino
"Sepertinya tidak. Tapi tenang saja, Sakura selalu bisa mengatasi masalahnya sendiri." Jawab Sai
BLEEPAK
Ino menjitak kepala Sai (lagi) dengan tas kecilnya.
"Aku tidak bertanya padamu. Diam saja." Kata Ino
"Kau marah padaku? Maaf Ino." Kata Sai
"Sudahlah lupakan." Ino meninggalkan Sai, namun tangannya di cegah oleh Sai.
"Maukah kau menjadi pacarku?" tanya Sai
Ino menatap Sai. Ino terdiam, wajahnya memerah.
BLEEPAK
Ino menjitak kepala Sai (lagi)
"Kau tau aku harus menunggu berapa lama untuk mendengar kata-kata itu? Akh!." Kata Ino
"Walaupun kau menjitak kepalaku berkali-kali. Rasa itu tidak akan berubah." Kata Sai
"So sweet~" teriak fans Sai.
"Tentu saja aku akan menerimamu bodoh!." Kata Ino
Sai's POV
Mission Clear!
Target selanjutnya : Melamar Ino Yamanaka.
End of Sai's POV
TBC
Bagaimana? Terima kasih untuk yang sudah mereview dan silent reader. Maaf untuk keterlambatan fic ini. Soalnya saya bingung saya mau lanjutin fic ini atau fic yang 'No One Who Can Love You Like I Do'
Okeh, Ga banyak bacot deh: REVIEW please *puppy eyes*. Saya usahakan fic ini cepet update.
