Title : Haru no Katami (~ Momento Of Spring ~)
Pairing : SasuNaru again. Yeeeaaaahhhh!
Rating : Teutep T ^^ LOL
Genre : Romance and maybe Tragedy… T_T
Language : Indonesian
WARNING : YAOI, BOY X BOY, SHOUNEN AI
DO NOT READ IF YOU'RE YAOI HATER OR ANTI FUJOSHI !
Disclaimer : Yang jelas bukan punya Yuuya
A/N : Coba Liat Video Clip Haru no Katami punya Hajime Chitose, Uuuuwwwaaaaa~ berasa banget lihat Hanami di Japan sana, hahah XP
Ano sa~ Ano sa~ Gomen, kalau untuk selanjutnya mungkin pengerjaan Fic saya sedikit tersendat, maklum sedang berada di Negeri Orang mencari sesuap nasui -digetok-
Pokoknya saya akan selalu mengusahakan Update meskipun tidak rutin -dilempar sandal-
Please Enjoy…
Yuuya's Present
~ ~ * ~ ~ * ~ ~* ~ ~ Haru No Katami ~ ~ * ~ ~ * ~ ~* ~ ~
(~ Momento Of Spring ~)
Spring 2 : Think of Nobody But You
If You Can Somehow Hear My Voice
Know That It's a Voice That Thinks Only Of You
"Aku ini buta, Teme~"
Entah butuh waktu berapa lama bagi Sasuke untuk mencerna kata-kata itu.
Buta?
Pemuda berambut pirang yang baru ditemuinya itu, Buta?
Mata biru yang cantik dan tampak jernih itu tak bisa melihat?
Padahal warnanya begitu indah, mata langit itu bahkan menatap lurus ke arah Sasuke. Sasuke sama sekali tak menyangka kalau...
"Ne~ Teme! Kau tak perlu merasa kasihan padaku tahu..." ujarnya sambil menyengir lebar. Ketiga pasang garis di pipinya itu semakin jelas kalau seperti itu.
Sasuke cuma tersenyum kecil.
"Ck, siapa yang kasihan padamu, Dobe!"
"Sudah kubilang jangan panggil aku Dobe, tak sopan sekali sih. Kita kan baru bertemu," kata Naruto sambil merengut kesal. Bibir pinknya maju beberapa centi. Membuatnya seperti anak kecil saja.
"Ck, Dobe!"
"Ne~ Ne~ aku kan sudah memberitahukan namaku, sekarang giliranmu dong yang memperkenalkan diri. Siapa namamu?" tanya Naruto antusias, seakan tak memperdulikan ejekan Sasuke barusan.
"Hn,"
"Ugh! Apa maksudnya 'Hn' itu?"
Hampir saja Sasuke terkikik geli melihat bibir Naruto yang manyun lagi.
"Sasuke, Uchiha Sasuke."
"Oh, Yoroshiku ne~ Sasuke!" ujar Naruto sambil mengulurkan tangannya. Beberapa saat Sasuke hanya memandangnya saja, biasanya begitu mendengar nama Uchiha orang-orang akan mulai bersikap sok kenal dan sok dekat dengannya.
Namun Naruto ini sepertinya tak begitu.
Entah kenapa, rasanya dia sedikit... Berbeda?
"Hn... Yoroshiku, Dobe!" ujar Sasuke sembari menyambut uluran tangan itu.
Hangatnya.
"Aaaarrrrgggghhhh, Teme~"
Sasuke menyengir lebar. Entah kenapa rasanya menyenangkan menggoda kenalan barunya ini.
Hari berikutnya, sepulang sekolah Sasuke kembali ke tempat itu dan seperti dugaannnya Naruto sudah ada di sana.
Pemuda berambut pirang itu tampak duduk bersandar di pohon sakura. Beberapa helaian sakura yang sebagian sudah mekar tampak berguguran di atasnya. Membuat Sasuke hanya mampu terdiam membisu.
Bagaimana tidak, pemandangan di depannya begitu indah. Rasanya kata-kata saja tak cukup untuk menggambarkan keindahan itu.
"Aku tahu kau ada di sana Sasuke,"
"Ck, bagaimana kau bisa tahu?"
"Hei, kau jangan meremehkan orang buta ya?"
"Hn, Dobe"
"Teme~"
Sasuke tersenyum kecil. Dia terduduk disamping Naruto. Menikmati keheningan sejenak hingga Naruto kembali membuka suaranya.
"Nee~ Nee~ Sasuke! Katakan padaku apa saat ini sakura sedang berguguran seperti salju? Hmm... aku ingin sekali merasakan Hanafubuki." ujar Naruto.
"Hanafubuki?" Sasuke mengerutkan keningnya. Memandang lekat-lekat wajah teman barunya itu.
"Ano ne~ Ano ne~ itu seperti ribuan helai bunga sakura yang mulai berguguran, terlihat seperti badai salju sakura yang menutupi permukaan tanah. Ditambah angin musim semi yang menerbangkan setiap helaiannya, membuat pemandangan begitu indah." Celoteh Naruto antusias.
"Nee~ Nee~ apa Sasuke tau? Mitologi Japan tentang Konohanasakuyahime, Dewi gunung Fuji yang merupakan simbol dari bunga sakura. Disaat musim semi tiba dia akan menebarkan benih dan membuat semua pohon sakura penuh dengan sakura yang bermekaran, kira-kira apa saat ini Konohanasakuyahime sedang menebarkan benih sakura ya? Pasti indah sekali melihat sakura bermekaran, Aaaahhh... aku ingin melihatnya..." ujar Naruto lagi, kali ini sedikit cemberut kesal.
Sasuke hanya mampu terpana melihat ekspresi Naruto saat bercerita tadi. Mata biru langitnya tampak berbinar cerah dan saat kesal bibir pinknya akan maju beberapa centi.
Hihihihi...
"Hn, Kau memang benar-benar dobe, Dobe!" komentar Sasuke sembari memberikan cengiran khasnya.
"Na-Nani? Teme~" Naruto memukul bahu Sasuke pelan, wajah tan itu sedikit memerah.
Sasuke hanya tertawa dan mengacak-ngacak rambut pirangnya.
Begitu seterusnya.
Setelah puas mengamati Naruto dari jauh, Sasuke akan menghampirinya. Menyapa Naruto dengan sebutan 'Dobe' dan Naruto akan membalasnya dengan teriakan 'Teme'. Mereka berdua akan duduk berdekatan di bawah pohon Sakura itu. Bertengkar karena hal-hal kecil, ataupun berbicara panjang lebar mengenai apa saja.
Membuat waktu merasa dilupakan.
Hingga matahari tak lagi menampakan sinarnya dan langit gelap mulai menggantung di angkasa.
Mereka akan berpisah, meninggalkan dunia kecil mereka itu.
Berjanji bahwa mereka akan kembali, melihat sakura esok hari.
Belakangan ini Hinata melihat perubahan pada diri Sasuke. Entah kenapa, dia merasa pemuda bertampang dingin itu sedikit lebih... Umm... Ceria?
Entahlah kata-kata seperti apa yang tepat untuk menggambarkannya. Yang jelas Sasuke lebih terlihat bahagia.
Terkadang Hinata mendapati Sasuke 'tersenyum' sendiri. Yeah... bukan senyuman seperti pada umumnya, tapi lebih tepatnya cengiran khas miliknya.
Bahkan tak jarang, pipinya yang putih itu tiba-tiba merona merah. Apalagi sekarang dia lebih suka memandangi pohon sakura di luar sana.
Pohon Sakura di perbatasan hutan kecil itu telah mengembang seluruhnya.
'Apa ada yang istimewa ya di sana?' tanya Hinata dalam hati, sedikit penasaran.
Dia sama sekali tak tahu apa yang dipikirkan teman kecilnya itu.
Ya teman kecil.
Sasuke, Hinata dan Neji adalah teman teman masa kecil. Dulu... Neji, kakak sepupu Hinata sering mengajaknya bermain atau belajar bersama di rumah Sasuke. Maklum saja keluarga mereka merupakan kenalan lama. Pada waktu itu keluarga mereka sering mengadakan pertemuan atau kerjasama bisnis.
Hyuuga dan Uchiha.
Mereka sempat bersama.
Namun itu dulu. Seiring waktu entah kenapa keluarga itu malah saling bersaing. Membuat ketiga sekawan itu jarang sekali bertemu. Apalagi Neji yang kini telah di tunjuk sebagai pewaris utama keluarga Hyuuga.
Ayah Hinata tak mempercayai Hinata sebagai penerus bisnis-bisnis milik keluarga. Dia menganggap Hinta terlalu lemah dan tak bisa apa-apa.
Sasuke sendiri terkadang Iba melihat Hinata yang lebih sering menerima cemohan itu. Gadis pendiam dan pemalu itu seperti disingkirkan oleh keluarganya sendiri. Meskipun Hinata sering berkata, dia tak keberatan dengan semuanya.
Karena itulah, Sasuke sangat menghormati Hinata ketimbang gadis-gadis yang lain. Dia mempercayai Hinata sebagai sahabatnya. Karena sedikitnya Sasuke mengerti benar bagaimana perasaan Hinata yang menyandang nama besar keluarga.
"Ano sa~ Ano sa~ Sasuke... Katakan padaku, bagaimana cuaca hari ini?" tanya Naruto.
Seperti biasa, sore hari setelah pulang sekolah ataupun les tambahan, Sasuke selalu menyempatkan diri untuk menemui Naruto di bawah pohon sakura di dekat pagar perbatasan itu.
Mereka duduk berdekatan. Bahu mereka bersentuhan.
"Hn, biasa saja." Jawab Sasuke singkat.
"Teme~ pantas saja kau tak punya pacar sampai sekarang. Kau ini tak ada romantis-romantisnya sama sekali tahu!"
Sasuke mengerutkan alisnya.
"Ck, perempuan itu merepotkan~" ujar Sasuke dingin.
"Ya ampun~ Baka Teme! Ne~ Ne~ Aku kan tak tahu bagaimana musim semi kali ini, aku kan tak bisa melihatnya, ayolah ceritakan padaku," bujuk Naruto dengan sedikit memberikan Puppy Eyes miliknya.
"Hn," gumam Sasuke sambil terus memperhatikan mata biru itu.
'Sama sekali tak ketara kalau mata cantik itu tak bisa melihat,' batin Sasuke.
"Pelit!" Naruto memanyunkan bibirnya lagi.
'Benar-benar kekanak-kanakan dia.' Ujar Sasuke sambil menghela nafas pelan.
"Ya ya, Langit hari ini biru dan jernih, Matahari juga semakin menghangat. Kau dengar cicit burung itu, sepertinya dia sedang membuat sarang untuk anak-anaknya di pohon ini, lalu sakura juga sudah mekar sepenuhnya, kurasa Konohanasakuyahime yang kau ceritakan itu sudah menyelesaikan tugasnya," jelas Sasuke panjang lebar.
Naruto terkikik pelan, ternyata Sasuke masih mengingat cerita tentang Dewi Konohanasakuyahime.
"Taman Ueno pasti sudah penuh dengan orang-orang yang ingin merayakan Hanami, tapi kurasa di sini kau juga bisa merasakan Hanafubuki, lihat kelopak-kelopak sakura saja sudah ada yang jatuh di rambutmu," ujar Sasuke lagi.
"Aaaa, Honto ka?" seru Naruto riang.
Sasuke mengambil helaian sakura yang sempat mampir di rambut pirang milik Naruto. Diberikannya helaian sakura ke telapak tangan pemuda pirang itu.
"Hmmm ... Wanginya khas sekali." kata Naruto sambil mencium helaian sakura yang tadi diberikan oleh Sasuke. Matanya terpejam mencoba merasakan harum kelopak sakura yang ada di tangannya.
"Sepertinya musim semi tahun ini, indah sekali ya, Sasuke?" ujar Naruto lagi. Kali ini dia memasang senyuman lebar khasnya. Menampilkan gigi putihnya yang rapi dan memperjelas tiga pasang goresan aneh di pipinya.
"Hn, Dobe!" gumam Sasuke singkat.
Mau tak mau dia tersenyum memandang pemuda yang baru beberapa minggu di kenalnya itu.
'Untung saja dia tak bisa melihat, kalau sekarang dia tahu aku sedang tersenyum memandangnya. Dia pasti balas menggodaku.' ujar Sasuke dalam hati. Semburat merah sedikit mewarnai wajahnya.
"Ck, 'Hn'mu itu maksudnya apa Teme~? Dan jangan panggil aku, Dobe!" Naruto merengut kesal.
"Hhhh... Iya, Iya... Indah... " akhirnya Sasuke luluh juga.
"Heheh..." Naruto tersenyum penuh kemenangan.
Sasuke kembali memperhatikan Naruto yang masih saja menciumi helaian sakura yang dipegangnya. Sesekali pemuda pirang itu tersenyum lembut.
'Tapi itu semua tak seindah dirimu... Naruto...' bisik Sasuke dalam hati.
TBC
Notes :
Hanafubuki : Badai salju sakura. Setelah masa mekarnya habis, bunga sakura mulai berguguran. Ribuan helai bunga sakura yang berguguran terlihat seperti salju yang menutupi permukaan tanah.
Konohanasakuyahime : In Japanese mythology, the goddess of Mount Fuji KONOHANASAKUYAHIME (meaning "the goddess who can revive dead flowers") is symbolized by a cherry blossom. It is said that she scattered seeds and decorated her mountain with the flowers in spring. (from: www. humanflowerproject .com)
Hanami : Dapat diartikan juga dengan melihat atau memandang bunga tapi hanya terbatas bunga Sakura saja.
Tempat yang populer dikunjungi untuk merayakan O-hanami adalah taman-taman & pusat rekreasi, salah satunya Taman Ueno
Yosh! Mind to REVIEW?XDD
