Title : Haru no Katami (~ Momento Of Spring ~)

Pairing : SasuNaru again. Yeeeaaaahhhh!

Rating : Teutep T ^^ LOL

Genre : Romance and maybe Tragedy… T_T

Language : Indonesian

WARNING : YAOI, BOY X BOY, SHOUNEN AI

DO NOT READ IF YOU'RE YAOI HATER OR ANTI FUJOSHI !

Disclaimer : ...

Yuuya : "Sasu... Yuuya yakin Naru milikmu!"

Sasu : "Hn..." *Smirk*

Naru : *Sweatdrop*

A/N : Inspire Video Clip Haru no Katami -Hajime Chitose-

Please Enjoy…


Yuuya's Present

~ ~ * ~ ~ * ~ ~* ~ ~ Haru No Katami ~ ~ * ~ ~ * ~ ~* ~ ~

(~ Momento Of Spring ~)


Spring 3 : Underneath the Cherryblossom


Once Upon a Time During Spring

We Kissed For The First Time Underneath The Evening Twilight


.

.

.

"Hei, Hei... kudengar hutan kecil di sebelah sekolah kita akan di alih fungsikan ya?"

"Hee? Maksudnya?"

"Katanya akan dibangun pusat perbelanjaan di sana,"

"Eh? Honto ka? Wuah... kita bisa sering belanja nih,"

"Dengar-dengar lagi, keluarga Uchiha yang kan mengelolanya,"

"Punya Uchiha-sama? Kyaaaaa~ benar-benar hebat ya..."

Belakangan, percakapan semacam itu memang sering mampir ke telinga Sasuke. Membuat Mood-nya semakin hari semakin jelek saja.

Kalau bukan dari gadis-gadis tukang gosip di kelasnya, tentu Sasuke tak bakal tahu kalau Ayahnya akan mendirikan 'Kerajaan bisnis'nya tepat di samping bangunan sekolahnya.

Itu berarti hutan kecil itu akan segera lenyap. Lebih parah lagi satu-satunya pohon sakura yang ada di situ kemungkinan juga akan ditebang, mengingat letaknya yang agak menjorok ke hutan. Tak ada yang memilikinya, dia hanyalah pohon liar yang bebas tumbuh di sana.

Kalau tempat rahasianya itu menghilang...

'Apa... Naruto juga tak akan datang lagi ke sana ya?' tanya Sasuke pada dirinya sendiri.

Dari balik jendela, dia memandang sendu ke arah pohon sakura itu. Tampak beberapa orang tengah sibuk mengukur-ukur tanah di sana. Beberapa diantaranya memegang-megang pohon sakura itu dan terlibat pembicaraan serius.

"Naruto..." bisik Sasuke lemah.

"Ne~ Sasuke, bagaimana cuaca hari ini?"

"..."

"Sasukeeee~ aku sedang bertanya padamu tahu? Kau dengar tidak sih?"

"..."

Lama-lama Naruto merasa kesal juga dicuekin seperti itu. Tumben sekali Sasuke tidak mengejeknya seperti yang dia lakukan ketika mereka bertemu. Bahkan sejak mereka bersantai dan menikmati suasana sore hari di bawah pohon sakura itu, Sasuke belum mengeluarkan sepatah kata sama sekali. Dia hanya diam dan terduduk manis di sampingnya.

"Teme~ kau kenapa sih? Dari tadi kok diam saja?"

"Ne~ Naruto!"

Meskipun tak bisa melihat, Naruto tahu sahabat barunya itu sedang gundah. Ada getar di suaranya kini. Dan kali ini Sasuke memanggil namanya, biasanya dia lebih memilih memanggilnya 'Dobe' ketimbang memanggil namanya.

Pasti ada sesuatu.

"Hmm..." gumam Naruto.

"Apa kau tahu, sebentar lagi hutan ini akan lenyap?"

"..."

Naruto tak menjawab dia masih memberikan kesempatan bagi Sasuke untuk melanjutkan kalimatnya.

"Ada yang akan merubah hutan ini menjadi sebuah bangunan, kurasa Sakura ini juga kan di tebang."

"Hmmm... Sou ka?"

Naruto mengangukkan kepalanya pelan. Sasuke masih memandangi Pemuda berambut pirang yang baru di kenalnya beberapa hari ini.

Mereka berdua terdiam.

"Ano sa~ Ano sa~ apa Sasuke tahu? (*) Mekarnya bunga Sakura mengingatkan kita bahwa segalanya memiliki kebalikan. Ada sedih, ada gembira. Ada hidup, ada saatnya mati. Ada saatnya merekah dengan indahnya dan ada saatnya berguguran. Dan itulah yang bunga Sakura lakukan, mekar dengan memberikan keindahan bagi jiwa-jiwa yang berkelana."

"Aku... pasti akan merindukan pohon sakura ini." kata Naruto lirih.

Ada kesedihan yang di tangkap Sasuke dari nada suaranya. Mata biru milik Naruto tampak meredup. Tak secerah biasanya. Dan Sasuke tak suka melihat itu.

Sasuke mendekatkan tubuhnya ke Naruto, di peluknya tubuh pemuda itu dari samping. Di sembunyikannya wajah Sasuke di balik harumnya helaian rambut pirang milik Naruto.

Wangi musim semi yang dia suka.

Naruto sedikit melonjak kaget ketika Sasuke tiba-tiba memeluknya. Entah reaksi seperti apa yang harus ditunjukannya sekarang. Dia hanya membiarkan Sasuke terus memeluknya saja.

"Ne~ Naruto... kita akan datang menemuiku walaupun pohon sakura ini tak ada kan?"

"..."

"Kita kan bisa bertemu di tempat lain,"

"..."

"Kita masih bisa bertemu lagi kan?"

"Heheh... "

Naruto hanya tertawa kecil mendengar kata-kata Sasuke barusan

"Berjanjilah kau akan menemui aku lagi." ucap Sasuke, dia menunggu jawaban dari Naruto.

Namun Naruto hanya membalas pelukan Sasuke lebih erat. Dan janji itu tak pernah di ucap.


SASUKE POV

Aku bertengkar hebat dengan ayahku malam ini. Aku berusaha membujuknya untuk membatalkan rencana untuk membangun pusat perbelanjaan di sekitar wilayah bangunan sekolahku.

Beliau langsung marah-marah, mengata-ngataiku sebagai anak yang tak berguna dan tak tahu apa-apa. Katanya bisnis dengan rekanannya itu akan menghasilkan keuntungan yang besar.

Ayah menamparku ketika aku bersikeras menentangnya. Membuat Ibu sedikit berteriak untuk menghentikan kami. Membuat wajah dan telingaku terasa panas dan merah.

Pada akhirnya aku lari dari rumah, menjauhi emosi ayah yang kelewat batas itu.

Mengutuki Itachi yang seenaknya kabur meninggalkan aku. Mengutuki diri sendiri yang tak bisa lepas dari belenggu.

Sial!

Aku mengumpat sepuasku. Tak sadar langkah kaki ini kembali membawaku ke tempat rahasiaku. Dunia kecilku.

Di bawah pohon sakura.

Tampat aku dan dia biasa bertemu.

END SASUKE POV


"Naruto?" seru Sasuke ketika melihat sosok di bawah pohon sakura itu.

Meskipun malam hari, dikeremangan cahaya bulan dan lampu jalan, Sasuke masih bisa mengenali sosok yang ada di depannya kini.

"Sasuke?"

Pemuda itu menoleh kearah sumber suara yang memanggil namanya. Sasuke menghampirinya. Dari dekat dia bisa melihat dengan jelas wajah Naruto.

"Ini sudah malam, kenapa kau masih disini?" tanya Sasuke cemas.

Malam ini sedikit dingin.

"Heheh, Sasuke sendiri... kenapa ada di sini malam-malam?"

"I...itu..."

Buru-buru Sasuke menyeka wajahnya yang sempat basah karena air matanya. Meskipun tahu Naruto tak mungkin melihatnya yang sedang menangis.

Mereka berdua tertunduk dalam diam.

"Ne~ Sasuke, boleh aku menyentuh wajahmu?"

"Hah?"

Reflek Sasuke mendongak,

"Ma-maksudku, aku ingin tahu seperti apa Sasuke itu, ka-karena itu... boleh aku menyentuh wajahmu?"

Wajah Naruto sedikit memerah saat dia kembali meminta persetujuan Sasuke.

"Hmm,"

Sasuke mendekat, lebih dekat hingga lengan Naruto dapat menggapainya. Telapak tangan Naruto terasa begitu lembut, membuat wajah Sasuke sedikit menghangat. Perlahan Naruto menyusuri wajah Sasuke dengan jemarinya, meraba pelan, mencoba mengingat setiap lekuk di wajah Sasuke. Mencoba menerka wajah pemuda yang belakangan selalu menemaninya itu.

Jemari lembut itu sampai di bibir Sasuke, menyentuh dan mengusapnya pelan, membuat mata hitam itu sedikit melebar. Sasuke menahan Napasnya, terlebih lagi ketika Naruto mencondongkan tubuhnya. Wajah mereka begitu dekat.

Kemudian, bibir mereka bersentuhan. Lama.

Itu…

Ciuman pertamanya.

Mereka saling menjauhkan diri. Kelopak mata Naruto yang terpejam perlahan terbuka. Menampakan kembali biru yang begitu Sasuke kagumi.

"Gomen ne~ Sasuke…" bisik Naruto pelan.

"Eh?"

"Kita tak bisa bertemu lagi," kata Naruto

Mata hitam itu membelalak terkejut.

Sasuke mundur perlahan, dia mengacak rambut hitamnya hingga sedikit berantakan.

"Ap-Apa maksudmu? Kau bercanda kan?" ujar Sasuke seolah masih tak percaya dengan pendengarannya.

Naruto menggelengkan kepalanya.

"Kau ini kenapa sih? Hanya karena Sakura ini akan ditebang, kau tak bisa menemuiku lagi, begitu hah?" kali ini Sasuke sedikit membentak.

"Gomen ne~" lirih Naruto lagi.

Tangan Sasuke mengepal erat. Badannya bergetar menahan kesal.

"Ka-Kau... Cih, terserah kau sajalah..."

Sasuke membalikkan badannya hendak pergi.

"Sasu..."

Naruto berusaha mengejarnya.

"Pergi saja sesukamu!"

Teriak Sasuke marah membuat Naruto mengurungkan niatnya untuk menghentikan Sasuke.

Meskipun tak dapat melihat, Naruto tahu Sasuke sudah pergi. Tak ada tanda-tanda keberadaannya. Tak ada wangi khas miliknya. Tak ada…

Hanya helai Sakura yang berguguran yang menemaninya kini.

"Gomen ne~ ..."

.

.

.

TBC

.

.

.


Gomen ne~ Minna-san ^^

Saya tahu -selalu saja- begitu lama hingga saya bisa meng-Update Fic-fic saya.

Kalau saya masih Skul, Kul. Kerja dengan jam kerja yang mendukung, ataupun seorang Hikikomori seh mungkin-mungkin saja saya bisa menulis semau saya.

Hahahah…

Sudah berada di 'Negeri Orang', Fasilitas untuk 'Menulis' tidak ada, Waktu yang dimiliki juga begitu sempit -Hadah, kok jadi Curhat- Xixixixi

Yang jelas Kritik dan Saran masih menjadi pemacu saya untuk terus menulis.

Oh ya, kata-kata Naruto-kun yang saya tandai (*) juga bukan kalimat saya, saya menemukannya di salah satu Blogspot yang di Posted by Ikhwanul Khairi, coba dicari dengan Keyword Arti Bunga Sakura Bagi Masyarakat Jepang. Ntar saya dikira 'Mencuri' lagi, xixixi…

Kata-kata yang bagus saya suka ^^

Sore nara~ Read & Review, Please! Heheh…