Title : Haru no Katami (~ Momento Of Spring ~)

Pairing : SasuNaru again. Yeeeaaaahhhh!

Rating : Teutep T ^^ LOL

Genre : Romance and maybe Tragedy… T_T

Language : Indonesian

WARNING : YAOI, BOY X BOY, SHOUNEN AI

DO NOT READ IF YOU'RE YAOI HATER OR ANTI FUJOSHI !

Disclaimer : Hn... Naruto is mine *Uchiha Glare Treadmark*

A/N : Haru no Katami -Hajime Chitose- Suteki Uta desu, heheheh ^^

Please Enjoy…


Yuuya's Present

~ ~ * ~ ~ * ~ ~* ~ ~ Haru No Katami ~ ~ * ~ ~ * ~ ~* ~ ~

(~ Momento Of Spring ~)


Spring 4 : Illusion Of Fragrance


Before I Can no Longer Breath or See

I Will Think of Nobody But You


.

.

.

"Sial!"

Sasuke menggebrak mejanya keras. Beberapa murid tampak berbisik-bisik, namun Sasuke sama sekali tak mempedulikannya. Pandangannya lurus keluar jendela. Menatap tajam kearah orang-orang asing yang tengah sibuk di bawah sana. Tepat di pohon Sakura miliknya.

Dari pagi hingga mendekati jam pelajaran terakhir ini Moodnya benar-benar jelek. Selain karena Ayahnya, peristiwa tadi malam juga benar-benar membuat harinya tambah buruk.

'Apa-apaan Naruto itu? Seenaknya saja bilang akan pergi, Cih!' batinnya kesal.

'Seenaknya saja dia…' Sasuke menyentuh bibirnya sendiri. Wajahnya sedikit menghangat ketika mengingat betapa dekatnya Naruto saat itu.

Namun roman mukanya kembali berubah dingin.

"Sa-sasuke-kun?"

Sapaan itu sedikit mengejutkannya. Sasuke menoleh dan mendapati Hinata di sampingnya. Keturunan Hyuuga itu tampak memandang cemas kearah mata Onyx miliknya.

"Hinata-san." Sapanya singkat dan kembali mengalihkan pandangannya kearah Sakura di bawah sana.

Hinata tersenyum, mendekat dan mengikuti arah pandangan Sahabatnya itu.

Lama mereka terdiam.

"A-apa Sa-sasuke-kun sedang bertengkar?" tanya Hinata.

Sasuke hanya menggeleng pelan.

"Bu-bukan dengan O-orang tua Sa-sasuke-kun, tapi dengan se-seorang, a-apa kalian se-sedang bertengkar?" tanya Hinata lagi.

"Apa maksudmu?"

Sasuke memandang Hinata keheranan.

Hinata hanya tersenyum lembut, menatap kembali Sakura di bawah sana.

"Sakura ya… Aku suka ketika musim semi tiba. (*) Mekarnya bunga Sakura memiliki makna tersendiri yang mungkin tidak akan pernah bisa terungkapkan dengan untaian kata-kata. Sebuah makna kesejukan, keheningan, kebahagiaan dan ketenangan." Jelas Hinata.

Sasuke tak meresponnya, namun Hinata tahu Sahabatnya itu mendengarkannya.

" Apa Sasuke-kun tahu… (*) Sakura juga bermakna perpisahan, saat bunga-bunga Sakura mulai jatuh dan berguguran di tiup angin." Kata Hinata lagi. Kali ini Sasuke menatap mata putih milik Hinata. Hinata balas memandangnya.

"(*) Kecantikannya memiliki arti spiritual dan filosofis tentang kehidupan manusia. Menggambarkan kegembiraan dan kesedihan serta mengingatkan manusia untuk selalu bersyukur dalam menghargai kehidupan dan kesedihan." Lanjut Hinata lagi.

Lama Sasuke hanya tertegun mendengarkan. Berusaha menyimak semua kata-kata Hinata barusan. Kata-kata yang mengingatkannya dengan apa yang pernah Naruto ucap beberapa waktu lalu. Uchiha Prodigy itu tampak menghela napas. Dia tersenyum kecil.

"Bicaramu lancar sekali, Hinata-chan…" ujar Sasuke sembari memperlihatkan seringai andalannya.

Kontan saja wajah Hinata langsung memerah menahan malu. Terlebih lagi ketika Sasuke memanggilnya Hinata-chan, nama kecilnya yang tak pernah orang sebut lagi. Sebab mereka selalu memanggilnya dengan Suffix 'San' ataupun 'Sama'.

"Go-gomen na-nasai…" bisik Hinata tampak salah tingkah membuat seringaian Uchiha lebih melebar.

Sasuke bangkit. Sembari menenteng tas hitamnya, dia berjalan keluar pintu kelas.

"Tolong Absenkan aku di pelajaran terakhir nanti," katanya

Hinata hanya menganguk.

"Aku ingin lebih lama bersama 'Kecantikan'miliknya…" ujar Sasuke seraya pergi, meninggalkan teman-teman sekelasnya yang tampak melongo menatap pintu kelas yang kini terbuka sia-sia. Dimana barusan sang Uchiha Prodigy menghilang dalam 'Out of Characternya'.

Hinata hanya terkikik geli.


.

.

.

Dan seperti yang sudah Sasuke duga, dia kembali bertemu dengan 'Keindahan' itu.

Sedikit lega mengingat kemarin dia sangat kesal dan meninggalkan Naruto begitu saja. Namun pemuda pirang itu kini masih berada di tempat yang sama, tempat dimana mereka berdua biasa bertemu. Dunia kecil mereka.

Naruto hanya berdiri dan terdiam di sana. Matanya terpejam dan menengadah, mencoba merasakan setiap guguran Sakura yang menerpa wajahnya.

Tiba-tiba mata langit itu terbuka. Menoleh dan menatap tepat kearah Sasuke.

Membuat Sasuke sedikit terkesiap.

'Apa dia bisa melihatku?' pikir Sasuke dalam hati. Namun keturunan Uchiha itu belum juga membuka suaranya.

"Aku tahu kau ada di sana Sasuke," ujar Naruto,

"Hn…" balas Sasuke dingin. Membuat Naruto sedikit menghela Nafas pelan.

Pemuda pirang itu memejamkan matanya lagi, menengadah dan kembali merasakan guguran kelopak Sakura.

Sejenak mereka membisu, hingga Naruto memutuskan untuk memecahkan keheningan itu.

"Ne~ Sasuke… apa kau percaya keajaiban?" tanya Naruto, namun Sasuke hanya diam tak menjawabnya.

"Aku… selalu merasa ada yang terus memandangiku, seseorang yang kesepian sama seperti diriku, entah kenapa aku ingin menemuinya dan mengajaknya bicara. Aku ingin sekali mendengar tawa orang yang selalu menatap dan mengagumiku itu." Kata Naruto panjang lebar membuat Sasuke mengerutkan keningnya tak mengerti.

"Sasuke tahu… aku memohon pada Kami-sama untuk bisa melihatmu, DIA mengabulkannya dan bahkan mengijinkanku untuk mengenalmu dengan wujud seperti ini. Walaupun aku tak bisa melihat Sasuke, tapi aku benar-benar senang karena bisa bertemu dan berbicara denganmu," jelas Naruto.

Mata Onyx itu sedikit melebar tak percaya. Rasanya Sasuke mulai mengerti sekarang.

Pemuda yang selalu ditemuinya ini…

Naruto itu…

"Seperti sakura yang mekar dan hanya bisa mempertahankan kelopaknya dalam sepuluh hari, selama itulah aku bisa bersama dengan Sasuke."

Kali ini mata biru itu kembali memandang Sasuke. Bibirnya menyunggingkan seulas senyum lembut.

"Dakara Gomen ne.. . Maafkan kalau aku tak bisa menemuimu lagi. Tak bisa berbicara denganmu lagi. Tak bisa tertawa dan bertengkar lagi…"

Entah kenapa kali ini jantung Sasuke berdegub kencang. Meskipun sedikit gemetar, keturunan Uchiha itu mulai beringsut mendekati Naruto.

"Aku tak ingin Sasuke marah padaku... Aku tak ingin Sasuke membenciku," ujar Naruto. Kali ini mata biru itu menyendu.

"Karena aku menyayangi Sasuke, aku sangat sangat sangat menyukai Sasuke…"

Tanpa menunggu lama, Sasuke menarik tubuh pemuda pirang itu kedalam pelukannya. Mendekapnya erat.

"Jangan pergi! Jangan pergi! Aku tak mau sendiri lagi, aku ingin terus bersamamu, jangan pergi!" gumam Sasuke pelan, namun Naruto dapat mendengarnya dengan jelas.

"Sasuke bodoh! Aku akan terus bersama Sasuke, selamanya... di dalam hati dan kenangan Sasuke aku akan terus hidup…" bisik Naruto.

Mereka saling melepaskan diri.

Biru dan Hitam bertemu. Meskipun langit itu tak dapat melihat kelamnya malam.

Sasuke menyadari benar perubahan pada diri Naruto kini. Terlebih lagi ketika tangan Tan-nya mendarat di pipi pucat Sasuke. Mencoba mengelusnya pelan meskipun tak lagi dapat menyentuh seutuhnya.

Sasuke menggapai tangan Naruto yang masih berada di wajahnya. Mencoba menggenggamnya meskipun tak lagi bisa.

Ada sesak yang menghimpit dadanya, terlebih lagi ketika tubuh Naruto perlahan memudar.

"Ja Ne, Sasuke-teme! Suatu saat nanti aku pasti akan kembali melihat Sasuke, Suatu hari nanti kita akan bertemu lagi…" ujar Naruto sembari memperlihatkan senyumnya.

"Saat musim semi datang dan Sakura kembali bermekaran…"

Senyum pemuda pirang itu perlahan memudar. Tubuhnya pun menghilang, tergantikan dengan ribuan helai kelopak Sakura yang berhamburan menutupi tempat itu.

Sasuke hanya terdiam terpaku ketika kehangatan itu tak dapat lagi dirasakannya.

Mata Onyxnya menatap sendu kelopak-kelopak Sakura digengaman tangannya.

Sasuke menarik napasnya, sesak. Satu demi satu butiran bening jatuh dari pelupuk matanya.

"Setsuna hagurakasu no ni wa nareteru no ni. Konna toki dake namida ga tomerarenai no wa Naze darou?" gumamnya pilu…

.

.

.

TBC

.

.

.


Notes :

"Setsuna hagurakasu no ni wa nareteru no ni. Konna toki dake namida ga tomerarenai no wa Naze darou?"

Artinya kurang lebih

"Aku telah terbiasa menyingkirkan perasaan sakit dihatiku, tapi kenapa sekarang aku tak bisa menghentikan air mataku ini?"

Yuuya lupa, duh! Kalimat ini ada di Novel Ore wa Ren! Scene terakhir dimana Ren mesti berpisah dengan saudara kembarnya. Hiksu TT_TT

Kata-kata Hinata-chan yang saya tandai (*) juga bukan kalimat saya, saya menemukannya di salah satu Blogspot yang di Posted by Ikhwanul Khairi, coba dicari dengan Keyword Arti Bunga Sakura Bagi Masyarakat Jepang. Ntar saya dikira 'Mencuri' lagi, xixixi…

Kata-kata yang bagus saya suka ^^

Yosh! One way to go -haiah-

Read and Review Please ^o^v