Title : Haru no Katami (~ Momento Of Spring ~)

Pairing : SasuNaru again. Yeeeaaaahhhh!

Rating : T ^^

Genre : Romance and Happy Ending Heheh XDD~

Language : Indonesian

WARNING : YAOI, BOY X BOY, SHOUNEN AI

DO NOT READ IF YOU'RE YAOI HATER OR ANTI FUJOSHI !

Disclaimer : Not Yuuya, Kishimoto-san Own Both Sasu and Naru ^^

A/N : The Last Phase ^^

Please Enjoy the Last Part of Haru no Katami

I'm really sorry for the very late Update...

I'm still lost on the road of life, heheh XDD~ *Foxy Grin*


Yuuya's Present

~ ~ * ~ ~ * ~ ~* ~ ~ Haru No Katami ~ ~ * ~ ~ * ~ ~* ~ ~

(~ Momento Of Spring ~)


Spring 5 : Momento of Spring


The Fleeting Momento Of Spring

It TheMost Beautiful Thing I Have

And I Want to Leave It Here,

Just For You...

Just For You...


.

.

.

"...suke-kun... Sasuke-kun!"

Ketukan dan panggilan dari balik kaca mobilnya itu membuyarkan lamunan Sasuke.

Seorang gadis berambut indigo panjang melambaikan tangannya.

Sasuke segera keluar dari mobil.

"Hinata-san, Ohisashiburi!" sapa Sasuke datar.

Hinata tersenyum. Teman masa kecilnya ini memang tidak pernah berubah. Wajahnya memang tampak lebih dewasa dan tampan seperti biasa. Tapi hatinya begitu dingin, mungkin hangatnya musim semi belum lagi menyentuhnya.

"O-ohisashiburi Sa-sasuke-kun, Gomen ne~ kau jadi terpaksa me-menjemputku. Hari ini Ne-neji niisan sibuk dan tak bisa mengantarku, ja-jadi..."

Dan Hinata pun tak berubah. Sepertinya semua masih sama seperti dulu. Meskipun lama mereka lagi bertemu.

"Hn, tak apa-apa. Masuklah!" suruh Sasuke sembari membukakan pintu mobil untuk Hinata.

"Arigato,"

Mobil mereka pun melaju menyusuri jalan yang sudah lama tak mereka lewati.

Ya, memang tak banyak berubah.

Padahal sudah hampir 3 tahun mereka tak menginjakan kaki di tempat kelahiran mereka ini. Tahun ini musim semi datang lagi, seminggu yang lalu Hinata mengabarkan acara reuni yang akan diadakan oleh sekolah mereka, rasanya sayang untuk dilewatkan. Sejak lulus Sasuke langsung melanjutkan studinya keluar negeri dan tak pernah sekalipun pulang. Hinata sendiri masih di Jepang, dia melanjutkan di Kyoto Seika University mengambil Fakultas seni rupa.

Sebagai sahabat kecil, mereka masih sering berhubungan. Hinata sering bercerita pada Sasuke mengenai lukisan. Dia bilang seorang seniman tak hanya diajarkan untuk bisa melukis saja tapi juga belajar untuk memiliki perspektif yang lebih luas pada dunia mereka.

Walaupun tak begitu paham, namun Sasuke tahu kalau Hinata sendiri begitu menikmati bidang yang digelutinya. Kalau saja Hinata bertanya lukisan apa yang Sasuke paling suka, mungkin jawabannya adalah Sakura.

Ya, Sakura...

Yang akan selalu mengingatkan Sasuke padanya...

"Irashaimashaii~ Senpai, silahkan duduk ditempat yang telah kami sediakan."

Sambut salah seorang gadis, sepertinya dia adalah salah satu panitia penyelenggaraan reuni itu.

Ruang serba guna itu telah disulap sedemikian rupa menjadi ruang pertemuan. Banyak yang telah berkumpul disana. Beberapa teman-teman mereka tampaknya tengah terlarut dalam reuni kecil mereka. Sama-sama mengenang masa beberapa tahun lalu.

Sasuke menghela nafas pelan.

"Aku ingin melihat kelas kita dulu, Hinata-san mau ikut?" tawar Sasuke.

"Un,"

Hinata kemudian mengikuti Sasuke dari belakang.

.

.

.


Mereka berjalan dalam hening, sibuk dengan kenangan mereka sendiri di bangunan sekolah yang mulai menua ini. Lantai kayu berderit pelan saat mereka melangkah, hanya ada beberapa murid yang berlalu-lalang disepanjang koridor. Beberapa tampak membungkuk ketika berpapasan dengan mereka.

Pandangan Sasuke tertuju keluar jendela. Terpatri pada tempat dimana memori masa lalunya tertinggal.

Mata Onyx itu terbelalak.

"Masaka?" ujarnya keras.

"Doushita no, Sasuke-kun?"

Hinata menoleh, mendapati teman masa kecilnya itu terpaku memandang keluar jendela dengan raut muka penuh keterkejutan.

Hinata menghampirinya, menatap Objek yang sanggup membuat pemuda disampingnya ini tertegun.

Nafas Hinata tercekat.

"Senpai… Ada apa?" Kouhai yang menyambut mereka tadi mendatangi mereka kembali.

"Tempat itu…" tanpa menoleh Hinata menunjuk keluar, ketempat dimana seharusnya 'kenangan' itu sudah menghilang.

"Oh... Tadinya daerah itu adalah gedung tua yang pengerjaannya tak selesai, lalu Uzumaki-san mulai mengubah daerah itu menjadi sebuah taman kecil yang menjadi milik sekolah," jelas Junior mereka itu.

"U-uzumaki-san?" tanya Hinata lagi.

"Haik, dia orang yang hebat, semua mengagumi keberaniannya. Karena itulah dia dipercaya menjadi ketua osis untuk tahun ajaran baru ini,"

Pandangan Sasuke belum juga beranjak dari tempat itu. Tak pernah terlintas dalam benaknya kalau tempat kenangan itu masih tetap ada.

"Dia juga yang merawat pohon Sakura itu hingga besar sampai sekarang, tadinya hanya ada bibit kecil dari pohon sakura yang katanya pernah ditebang, namun sejak 3 tahun lalu Uzumaki-san merawatnya,"

Hell… Sasuke bahkan tak tahu kalau Ayahnya menghentikan pengerjaan gedung disana.

Tanpa berpikir panjang Sasuke berlari, tak dipedulikan teriakan Hinata yang memanggilnya. Langkahnya tertuju pada tempat itu, tempat dimana Pohon Sakura itu tumbuh. Tempat dimana Naruto nya berada.

.

.

.


Angin yang sama.

Wangi musim semi yang sama.

Mata Sasuke terpejam, angannya kembali ke masa itu

Suatu masa dimana dia melewati hari-hari bersama Naruto dibawah Pohon Sakura ini.

Hari dimana Jiwa Naruto menghilang bersamaan dengan Sakura yang mulai berguguran.

Jiwa Naruto, jiwa pohon Sakura yang kini ada dihadapannya kini.

Jiwa yang ditemukannya lagi.

"Apa anda menyukai pohon sakura ini?"

Suara itu…

Refleks Sasuke menoleh, Mata Onyxnya melebar.

"Na-Naruto ?"

"Eh, Apa anda memanggilku?"

Biru langit yang sama dimata itu

Rambut pirang yang serupa mentari musim semi.

Tiga guratan aneh dimasing-masing pipi coklatnya.

Rasanya Sasuke hampir kehilangan Nafasnya kali ini.

Dia masih tak mempercayai penglihatannya, mata hitamnya masih menatap tak percaya kearah sosok yang kini berdiri dihadapannya.

Sosok pemuda seumurannya itu balas menatap Sasuke sambil mengerutkan keningnya

heran.

"A…ano…"

"A-apa kau bisa melihatku?" tanya Sasuke.

Entahlah kenapa Sasuke bertanya seperti itu, dia hanya ingin memastikan saja kalau pemuda yang dihadapannya ini adalah Naruto nya yang dulu.

"Hah? Tentu saja, aku kan tidak buta? Memangnya anda siapa?"

"..."

Mata Biru itu bisa melihat ?

Sasuke melangkah mendekati pemuda itu.

"Ah, aku tahu! Kau pasti salah satu alumni sekolah ini. Duh! Bodohnya saya! Terimakasih telah datang dalam acara reuni yang kami adakan tahun ini, Senpai! Kenalkan Saya Uzumaki Naruto, ketua Os- Hmmmppp!"

"Urusai!"

Ocehan pemuda itu terhenti ketika Sasuke manariknya. Mendekapnya erat dalam pelukannya.

Sasuke tak peduli.

Dia tak akan salah, pemuda ini memiliki wangi yang sama dengan Narutonya, wangi Sakura dimusim semi.

Kehangatan yang sama, hangatnya mentari musim semi.

"E... to... Ano... Se-Senpai?"

"Kau berisik sekali, Dobe!"

"Wa-Wha? Kau bilang apa? Aku bukan Dobe, Teme~"

"Ck, Dobe! Akhirnya kita bertemu lagi,"

"Ka-kau bilang apa sih? Le-Lepaskan Teme~"

"Tidak!"

"Eh?"

"Kali ini aku tak akan melepaskanmu!"

"Hee?"

"Onatsukashii yo, Dobe"

"Huuuwwaaaaa! Senpai-teme Hentai! Tasuketeeeeeee~!"

Yeah… Sasuke tak peduli.

Dulu Naruto nya berjanji akan menemuinya lagi.

Dan kali ini dia tak akan membiarkannya pergi lagi.

Tak akan melepaskannya lagi.

.

.

.

Suatu saat nanti aku pasti akan kembali melihat Sasuke, Suatu hari nanti kita akan bertemu lagi.

Saat musim semi datang dan Sakura kembali bermekaran

Na~ Sasuke…

.

.

.

OWARI ?


.

.

.

OMAKE

"Ne~ Naruto, apa kau percaya keajaiban?" tanya Sasuke pelan.

Setelah 'Reuni kecil' beberapa hari yang lalu. Mereka memutuskan untuk kembali bertemu di bawah pohon Sakura ini.

"Nanda, Senpai-teme daijobu ka? Apa kau sedang demam?"

"Hn, Dobe!"

"Heheheh, kenapa pertanyaanmu seperti itu?"

"Apa kau percaya, aku pernah bertemu denganmu tiga tahun yang lalu?"

"Eh?"

"Kita bertemu di bawah pohon sakura seperti saat ini, tapi kemudian kau menghilang begitu saja,"

"Hmmm... aneh sekali,"

"Apa?"

"Aku belum cerita ya? Tiga tahun lalu saat musim semi dan bunga-bunga sakura mulai berguguran, aku baru sadar dari koma,"

"Koma?"

"Iya, senpai-teme! Aku mengalami kecelakan dan koma selama 6 bulan, sekitar pertengahan musim semi tahun berikutnya aku sadar dan Iruka-san memindahkan aku ke sekolah ini, dan terpaksa mengulang di kelas 1. Jadi mana mungkin aku bertemu denganmu kalau selama itu aku masih di rumah sakit, dasar!"

Sasuke hanya menatapnya lembut.

Merasa diperhatikan Naruto tampak salah tingkah, Pipi coklatnya terlihat kemerahan.

"Ne~ Ne~ apa Sasuke percaya pada keajaiban?" kali ini Pemuda pirang itu yang bertanya.

"Hn"

"Bah! Aku tak punya kamus untuk menerjemahkan 'Hn'mu itu,"

"Ck, Dobe!"

"Teme~"

Pipi Naruto menggembung, cemberut.

Sasuke menyengir tipis, mengacak rambut pirang itu pelan sebelum membawa Naruto kepelukannya.

Merasa tak bisa melepaskan diri, Naruto hanya pasrah membalas pelukan Sasuke.

Dan kali ini wajah Naruto sudah mirip Tomat kematangan.

.

.

.

Kau tahu,

Aku percaya keajaiban…

Karena bagiku, bisa mengenal dan bertemu denganmu adalah sebuah keajaiban...

.

.

.

HONTO NI OWARI ^^

.

.

.

Terimakasih buat Kesabarannya menunggu Chapter terakhir dari Haru no Katami

READ AND REVIEW, PLEASE! ^^