MAKING A LOVER

Author : rainy hearT

Length : Series

Rated : T

Cast :

- Heo Young Saeng a.k.a Saengi

- Kim Hyun Joong a.k.a Hyun

- Kim Hyung Jun a.k.a Junnie

- Kim Kyu Jong a.k.a Kyu

- Park Jung Min a.k.a Jung Min

Pairing : HYUNSAENG (Kim Hyun Joong x Young Saeng )

Slight KYUSAENG (Kyu Jong x Young Saeng )

Disclaimer : Semua cast belongs to God and themselves. But HYUNSAENG punyaku #plak#

Genre : Romance / Drama

Warning : Boy x Boy / BL / YAOI, typo(s), EYD tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.

Summarry : Akulah yang mencintaimu, so please... just look at me. Meski hanya sekali saja, kumohon... ,mengertilah dengan cintaku.

Mianhe karena author sempet kehilangan mood untuk nerusin semua FF saya. Gamsahae untuk yang masih setia bersama author

.

.

HAPPY READING

Chapter 3

.

Seoul International High School

.

Namja itu berlari cepat, mencari sosok yang tak bisa ia temukan sejak beberapa hari yang lalu. Ia berhenti sebentar meski hanya untuk mengatur nafasnya. Lalu kemudian kembali melihat ke semua sudut di sekolahnya. Sebuah tepukan di bahunya, membuatnya menoleh ke belakang.

"Kenapa Oppa? Sepertinya kau sedang suka olahraga? Kenapa berlari sampai seperti itu?"

Yeoja itu tersenyum dan menyodorkan satu kaleng minuman isotonik pada namja yang masih sibuk menghilangkan rasa panas di tubuhnya. "Gomawo Hye Sun."

Yeoja itu kembali tersenyum kecil kemudian menyeret namja itu ke tepi lorong, untuk sekedar duduk di kursi taman yang ada disepanjang lorong. "Oppa, bolehkah aku bertanya?"

"Eum..." Namja itu hanya mengangguk.

"Apa oppa masih menyukai Saengi Oppa?"

Namja itu diam dan hanya mengangguk, raut kesedihan terlihat jelas di wajahnya. Setelah insiden ciuman itu, ia tak pernah lagi bisa menemukan Young Saeng. Tidak di rumah, tidak disekolah. Young Saeng lama tak masuk sekolah, dan entah kenapa. Tak ada yang tahu.

"Wae? Kenapa menanyakan itu Hye Sun?"

"Hyun Oppa, kenapa tak menyukai yeoja saja? Kenapa harus menyukai namja? Bukankah Hyun oppa cukup terkenal di sekolah, mudah saja mendapatkan yeoja manapun yang oppa mau."

"Hmmm, itu rahasiaku. Gomawo minumannya. Aku akan mencari Saengi dulu."

Dan Hyun Joong berlalu dari hadapan Hye Sun. Ia berjalan pelan, mengintip ke seluruh kelas yang ada di sekolah itu. Karena sekolah akan mengadakan festival, maka untuk satu minggu penuh semua siswa hanya mempersiapkan festival tanpa ada satu jam pelajaran sedikitpun.

Lelah mencari, akhirnya Hyun Joong memutuskan untuk duduk beristirahat di bawah pohon apel yang cukup teduh di belakang sekolah.

Mencoba memejamkan matanya sejenak, dan menyembunyikan diri dari ramainya suasana di lapangan sekolahnya. Hyun Joong, kalut dan sedikit khawatir. Mengingat semua kenangan Valentine mereka, dan saat ia bangun tidur tiba-tiba saja Saengi sudah menghilang entah kemana. Mencoba mencari dari beberapa hari yang lalu. Berkunjung ke rumahnya dan bahkan menanyakannya ke Kyu Jong dan Junnie, tapi tetap saja tak ada yang tahu kemana perginya Saengi. Saat ia hampir lelap dalam tidurnya tiba-tiba saja ...

"Ah... Mashitta."

Hyun menoleh ketika mendengar suara yang cukup dikenalnya. Suara yang beberapa harupi ini di carinya. Ia melihat ke semua sudut sekolah tapi sama sekali tak menemukan dimana sumber suara itu.

"Aish... Ini enak sekali. Tahu begini, aku akan beli banyak tadi. Lapar."

Suara itu terdengar semakin jelas dan tiba-tiba saja hidung Hyun terasa dingin. Ia menyentuh hidungnya. Satu noda coklat dan terasa manis.

Ia mengulas senyuman dan mendongak ke atas. Dan got 'cha. Namja yang ia cari sedari kemarin terlihat sibuk menikmati cake-nya di atas pohon.

Hyun melepaskan sepatunya untuk kemudian perlahan memanjat pohon dan menghampiri namja manis dengan bibir belepotan coklat. "Eum... Mashit...ta.. Hyunie..."

Sendok cake itu tertahan di mulut Saengi saat melihat Hyun di hadapannya. Dan Hyun Joong hanya terkekeh pelan dan menarik sendok itu. "Berapa hari kau tinggal di pohon huh?"

Hyun bertanya, sambil mencoba memakan ice cream tart Saengi. Dan Saengi, hanya bisa memajang wajah kesalnya ketika kesenangannya di ganggu. Terlebih lagi karena ciuman mereka waktu Valentine itu, sukses menumbuhkan rasa malu yang teramat dalam di pikiran Saengi hingga ia tak berani sekalipun menatap namja tampan yang sebentar lagi akan menghabiskan tart-nya.

"Kau tak mau? Kau sudah kenyang kan?"

Hyun tanpa rasa bersalah menjilat bibir atasnya, seakan meresapi benar nikmatnya tart itu. Dan terus memakannya, lagi dan lagi hingga akhirnya karena kesal Saengi turun dari pohonnya. "Hei, mau kemana? Saengi-ah? Neo odiega?"

"Makan saja sepuasmu. Menyebalkan!"

Dan Hyun segera mencoba turun dari pohon. Tapi entah bagaimana hingga akhinya ranting yang dipijaknya patah dan...

.

Bruk...

.

"Aaawww...! Appoyo...!"

Saengi menoleh dan dia hanya tersenyum menatap Hyun Joong. Jatuh mengenaskan dari pohon yang hanya setinggi 2 meter lebih. Dengan posisi sangat tidak elit dan sisa tart yang sukses tumpah sedikit mengotori baju dan wajahnya.

"Mwo? Kenapa melihat seperti itu? Harusnya kau menolongku."

Saengi meraih tangan Hyun Joong dan membantunya untuk duduk. Mengambil sapu tangan di sakunya dan mengusap wajah Hyun Joong. Membersihkan sisa tart yang menempel di wajahnya. "Ini karmamu, karena kau mengganggu makan siangku."

"Ini...! Aku kembalikan!" Hyun Joong, dengan wajah kesalnya yang terlihat menggemaskan itu, menyodorkan kotak ice cream tart yang sudah kosong pada Saengi. "Huh, sudah begini saja, baru kau kembalikan."

Saengi masih terus membersihkan wajah dan leher Hyun Joong. Dengan wajah yang memerah karena untuk sesaat pandangan mata mereka bertemu. Sungguh satu kecanggungan yang sangat sulit dihilangkan, hingga akhirnya tangan Hyun menghentikan gerakan Saengi. "Biar aku saja lagi pula aku risih, dan ini lengket. Sebaiknya kita pulang saja, kau punya banyak pertanyaan untuk di jawab, arra!"

Hyun Joong meraih tangan Saengi dan menenteng sepatunya, menuju parkiran dan pulang ke rumahnya.

.

.

"Jadi, kemana kau selama ini? Menghindariku?"

Saengi, hanya tertunduk dan memainkan ponselnya. Hyun Joong, sedikit geram dan kesal, merebut paksa ponsel Saengi dan mengangkat dagunya. Membuat mata mereka saling bertemu, tapi Saengi langsung melengos dan menatap ke arah lain.

"Jawab aku, atau kau akan kukurung di rumahku selama yang aku mau." Hyun Joong sedikit tegas. Ia begitu khawatir memikirkan Saengi. Beberapa hari ini sungguh seperti neraka saat ia tak melihat Saengi di manapun. "Heo Young Saeng, katakan padaku."

"Ouh... Itu, aku..."

Tubuh Saengi sedikit bergetar saat ini. Ditambah dengan usapan lembut Hyun Joong di tangannya. "Katakan, kau kemana? Bukankah kau percaya padaku? Aku masih sahabatmu kan? Atau kau akan merubah statusku menjadi namja chingu-mu?"

"Ish... Itu karena aku... aish..." Saengi mengambil nafasnya lalu menatap sekilas pada Hyun Joong untuk kemudian ia menunduk lagi. "Sebenarnya aku tersesat." Saengi berkata dengan suara yang hampir tak terdengar, tapi tetap saja Hyun Joong mendengarnya.

"Mwo? Tersesat? Bagaimana bisa, kau..." Hyun Joong bersusah payah menahan tawanya. Saengi, namja yang cukup pintar dan sering bepergian. Tak mungkin ia tersesat begitu saja. "Sebenarnya aku..."

"Katakan saja, aku tak akan menertawakanmu."

"Aku mengikuti Junnie."

Dan satu kenyataan itu, membuat Hyun mati kutu. Diam di tempat dengan perasaan sakit yang tiba-tiba saja terasa menusuk di hatinya. "Untuk apa?"

"Aku hanya ingin tahu, dia dan Min pergi kemana. Apa saja yang mereka lakukan pada Valentine itu? Karena biasanya Junnie akan mengajakku berlibur atau sekedar menonton film di rumahnya. Dan saat itu aku..."

"Ah, sudahlah aku tak mau dengar. Lalu bagaimana kau kembali?"

"Diantar oleh polisi."

"Ahhhahahahha... Aigo Saengi... Hahahaha... Kau lucu sekali. Seperti anak kecil, kau tersesat dan pulang diantar oleh polisi. Ahahahha..."

"Ish, diamlah kau sapi." Saengi beranjak dari hadapan Hyun Joong. Berjalan menuju dapurnya, mengambil satu botol air mineral. Sedangkan Hyun Joong masih tertawa lepas, membayangkan bagaimana polosnya wajah Saengi yang pulang diantar oleh Polisi.

"Gya! Berhenti tertawa, atau aku akan melemparmu dengan botol ini Hyunie!"

.

.

"Kenapa kau seperti ini?"

"Apa maksudmu?"

"Bukankah kita sudah berciuman."

"Lalu..."

"Ck... Heo Young Saeng, bisakah otakmu yang pintar itu sedikit saja memikirkan perasaanku?" Hyun Joong sedikit membentak Saengi. Namja manis itu hanya diam dan memalingkan wajahnya dari Hyun. Ia tak tahu harus bersikap seperti apa. Di satu sisi hatinya terasa hangat, dan di sisi lain terasa sakit saat melihat Junnie begitu memanjakan Min.

Hyun berjalan pelan dan duduk di sisi Saengi. Merangkulkan lengannya ke bahu Saengi dan satu tangannya yang lain meraih dagu Saengi. Menatap dalam pada mata cantik itu. "Saengi, cobalah denganku."

Perasaan hangat mengalir didalam darah Saengi. Nafas yang berhembus pelan dan semakin dekat dengan wajahnya, sama sekali tak mengganggu keterkejutannya. Perasaan hangat itu hanya mampu ia lampiaskan dengan diam dan memalingkan wajahnya saat Hyun kembali ingin menciumnya.

"Sebaiknya aku pulang."

Saengi hendak beranjak dari duduknya, tapi cengkraman kuat tangan Hyun berhasil mengunci tubuhnya. "Kau tak akan kemana-mana. Aku sedang menghukummu."

Saengi menatap tajam pada mata besar Hyun. Ia menghentakkan keras tangan Hyun dan beranjak. "Kau! Tak berhak mengaturku!"

.

Blamm...

.

Pintu terbanting sempurna. Menyisakan Hyun yang menatap miris kepergian Saengi. Ia beranjak dari duduknya, berjalan menuju pintu dan melihat ke rumah sebelahnya. Namja dengan kaos biru yang terlihat jelas di tengah terangnya sinar di taman rumahnya. Dan Hyun hanya bisa tersenyum miris.

"Ck... Menyedihkan sekali nasibmu Hyun..."

Hingga akhirnya Hyun Joong kembali masuk ke dalam rumah. Membaringkan tubuhnya di atas kasur besarnya. Mencoba menutup mata, berharap semoga besok akan lebih baik lagi.

.

.

ooOoo Making A Lover ooOoo

.

.

Keesokan harinya

.

Hyun sudah menunggu Saengi di depan rumah. Memastikan namja manis itu benar-benar berangkat sekolah. Memastikan dia tak akan kehilangan jejaknya lagi. Menyamai langkahnya dari depan rumah Saengi menuju mobilnya. Menyeret namja itu masuk ke dalam mobil dan berangkat bersama.

Sejak beberapa hari yang lalu, Saengi sudah tak begitu dekat dengan Kyu. Termasuk untuk urusan antar jemput. Sejak Saengi menghilang, Kyu hanya menelfon sekali dua kali lalu kemudian menghilang.

Saengi dan Hyun duduk dalam diam. Pandangan Hyun fokus ke depan, sedangkan Saengi, namja itu lebih suka memainkan game di ponselnya. Menghilangkan rasa gugup yang sedikit mengganggunya.

Saengi terkejut saat mobil Hyun berhenti di tengah jalan. Tepatnya di tepi taman kota. Ia benar-benar ingin menanyakannya tapi rasa aneh dan canggung membuat semuanya terasa berat untuknya.

"Bisakah kau alihkan perhatianmu? Kurasa game di ponselmu tak semenarik itu."

Saengi menghentikan aktifitasnya tanpa ada niat sekalipun untuk menatap Hyun. Hingga akhirnya, Hyun yang kesal menarik ponsel Saengi membuat namja itu mau tak mau mengangkat wajahnya dan menatap Hyun.

"Aku ingin bicara, Saengi."

"Ck... Bicaralah. Tak perlu mengganggu kesenanganku."

Hyun menarik nafasnya. Kesal dan sedikit terluka dengan keacuhan Saengi. Dan ia kini sudah di ambang batas kesabarannya. "Jadi, cobalah denganku."

Saeng menatap kosong ke depan. "Kenapa menanyakan itu lagi? Kau tak bosan huh?"

"Tak ada kata bosan Saengi. Hanya saja kini aku seperti sudah diambang kesabaranku. Berharap kau akan merubah pikiranmu tentang Jun dan mulai melihatku." Hyun meraih dagu Saengi dan membuat Saengi mau tak mau harus melihatnya.

"Cobalah denganku, kurasa tak sulit Saengi. Daripada kau harus memaksakan perasaanmu dan menyukai Kyu."

"Aku tak memaksakan perasaanku."

"Memang tidak, tapi kau tak mencintainya. Berpura-pura hanya untuk memanasi Jun. Kau pikir semua itu bagus hah? Apa Jun cemburu? Kau melihatnya?"

Kali ini Saengi diam. ia juga takk tahu mengapa sampai harus seperti ini. "Aku hanya terlalu menyayangi Jun. Dan kau tak tahu itu."

Hyun menoleh, menatap wajah Saengi. Ia semakin mendekatkan tubuhnya dan menatap lekat mata cantik itu. "Kau tak pernah tahu, bahkan tak mau tahu bagaimana aku."

Saengi, sedikit ketakutan melihat kilatan kekesalan di mata Hyun. Ia berusaha mendorong tubuh Hyun dan terus saja memepet ke pintu mobil. "Menjauhlah, apa-apaan kau ini?"

Tapi Hyun semakin mendekat seakan hendak mencium entah mendapat kekuatan dari mana, Saengi mendorong kuat tubuh Hyun. "Menyingkir. Aku tak suka caramu Hyun. Kampungan!"

Hyun Joong diam sejenak. Merutuki kebodohannya. Saengi memasang wajah kesalnya, hingga akhirnya mata Hyun menemukan satu van penjual ice cream di taman itu. "Kau mau ice cream? Sebagai permintaan maafku."

Saengi hanya diam tak menanggapi. Ia benar-benar kesal dengan sikap Hyun padanya. Dan Hyun, diliputi perasaan kecewa dan bersalah perlahan turun dari mobilnya dan mendekati van itu. Tapi entah bagaimana, mungkin saja ia terlalu berjalan ke tengah jalan raya hingga akhirnya...

.

Crussshhh... Braakkkk

.

Suara keras itu terdengar begitu dekat dengan Saengi yang sedari tadi memainkan ponselnya. Kerumunan orang terlihat jelas di mata Saengi. Jantungnya berdebar kencang seketika, ada sesuatu yang terasa sakit dan panas di sisi tubuhnya. Perlahan ia turun dri mobil Hyun. Berjalan mendekati kerumunan orang yang masih berusaha menolong seseorang yang tergeletak lemah di aspal yang dingin.

Jantung Saengi berdebar semakin kencang. Melihat seragam sekolah yang sama seperti miliknya. Berlumuran warna merah darah dan amis yang menyengat. ia tak menangis. Seorang namja yang kuat tak akan pernah menangis. Ia hanya merintih lirih...

"Jebal... bantu aku, menyelamatkannya."

.

.

TBC...

.

.

.

~~~ Making A Lover ~~~

Jeongmal Gamsahamnida buat : Sulli Otter, Lianzz, Cloudcindy, Azzura 1103, oryzasativa, KissMe501, Blacksmile4ever, Cho MiNa, Enno KimLee, and The. Gamsahae Juga untuk yang udah Add Author jadi Fav Author, gamsahae

.

.

Mind To RnR