Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh.
Kepada para pembaca sekalian, saya cuma mau berpesan untuk menyiapkan cemilan yang banyak karena chapter ini akan dipenuhi dengan adegan action yang nonstop!.
Enjoy~.
Total words (10.860).
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"I'm the King!"
Disclaimer: [Naruto] Masashi Kishimoto
Created by: Holocaust
Genre: Action, comedy, school, martial arts, slice of life, etc.
Pairing: No pair for today my friend!.
Warning: Typo berantakan , Alternative Universe, OOC, NoMagic, NoChakra, Just a regular human! and many more.
Summary: Naruto telah menjadi Raja Freshmen, Masalah barupun muncul ketika para Senior di kota Konoha sedang mengalami kekosongan, tiba-tiba para Freshmen dari Sekolah tetangga melakukan serangannya kepada murid KHS sehingga hal tersebut berhasil memicu terjadinya perang besar.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hutan Senju, War Area 5:20 pm.
(Shisui vs Ryūsui, Ugatsu and Suika Side).
"D- dia monster!" Ugatsu menatap Shisui tidak percaya. Perkataan Ugatsu membuat Ryūsui dan Suika menyetujuinya dalam hati.
Bagaimana bisa orang ini bertahan dari serangan dari ketiga orang sekaligus dan bahkan dari arah yang berbeda-beda?.
Tidak hanya itu, orang ini juga bahkan mampu menjatuhkan mereka bertiga (Ryūsui, Ugatsu dan Suika) dengan hanya sedikit usaha saja.
Secara tidak sadar mereka menelan ludah mereka pahit.
Mini Flashback on.
Ryūsui, Ugatsu dan Suika menyerang Shisui dari ketiga arah yang berbeda. Shisui yang melihat itu tersenyum miring sambil menguatkan pijakan kakinya.
Ryūsui duluan yang melancarkan serangannya yang berupa sebuah pukulan lurus ke rahang Shisui, lalu disambung oleh Ugatsu yang melancarkan sebuah tendangan lurus ke perut Shisui, dan terakhir ada Suika yang melepaskan sebuah Hook kanan yang mengincar belakang telinga dari Shisui.
Shisui pun dengan cepat memangkas jaraknya menuju Ryūsui kemudian ia dengan cepat membelokkan pukulan Ryūsui sekaligus menyarangkan sebuah Overhand kiri ke tengah wajah Ryūsui.
*Bugh*
"Ghk!".
Ryūsui meringis kesakitan, didetik yang sama Shisui menarik Ryūsui dan memposisikannya untuk melindungi tubuhnya yang akan terkena tendangan keras dari Ugatsu.
*Dugh*
"Ugh!".
Tendangan Ugatsu bersarang tepat di ulu hati Ryūsui, Ugatsu yang melihat dirinya salah sasaran hanya bisa mendecih kesal dan mengutuk Shisui, namun ekspresinya itu berubah ketika didetik selanjutnya Shisui menyarangkan sebuah counter berupa Head Kick kanan yang sukses mendarat di sisi kepala Ugatsu sehingga membuat Ugatsu terhempas ke samping.
Dilain sisi, Suika yang melemparkan Hook kanannya juga dibuat terkejut ketika Ryūsui tiba-tiba datang menabraknya sehingga membuat kepala mereka terbentur dan membuat mereka berdua terjatuh.
Ternyata sebelum Suika sempat mendaratkan pukulannya, Shisui sudah lebih dulu menyadari pergerakannya dan segera melempar Ryūsui ke arahnya.
Hal yang Shisui lakukan pun sukses membuat Suika yang tadi perhatiannya sempat teralihkan dibuat terjatuh setelah menabrak temannya sendiri.
Alhasil mereka bertiga pun kini dibuat jatuh terduduk sambil menatap Shisui yang masih berdiri di tengah-tengah mereka bertiga.
Mini Flashback Off.
"Pergerakan yang bagus, tapi itu terlalu mudah ditebak kau tahu?" ujar Shisui santai.
Mereka bertiga mendecih kesal karena lagi-lagi merasa diremehkan oleh Shisui. Mereka bertiga kembali berdiri seraya menatap Shisui dengan perasaan benci.
"Saa, ayo serang aku lagi, tapi kali ini jangan mengecewakanku lagi oke?" Shisui kembali memasang kuda-kudanya.
"Keparat!-".
"Ugatsu, tenanglah!" Suika memotong perkataan Ugatsu.
"Suika benar, jangan biarkan emosi menguasaimu" timpal Ryūsui.
Ryūsui yakin jika mereka menyerang Shisui dengan amarah maka gerakan mereka akan semakin mudah dibaca oleh orang itu.
Ryūsui tahu betul kalau Shisui akan memanfaatkan kesempatan sekecil apapun untuk bisa masuk ke dalam pikiran lawannya (memainkan mental), dan jika itu berhasil maka Shisui akan dengan mudah menghancurkan lawan-lawannya.
Ryūsui kemudian memberikan Ugatsu dan Suika sebuah isyarat menggunakan tangannya. Mereka berdua yang melihat itu mengangguk paham.
"Woah woah, apa itu? Apa kalian sedang meledekku? Itu tidak baik tahu" Shisui menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
Hal kecil yang dilakukan Shisui itu ternyata mampu untuk kembali memancing amarah Ugatsu.
"Sialan si keparat ini, ayo kita bunuh saja dia!" Ugatsu yang kembali tersulut emosinya kembali menyerang Shisui, menghiraukan instruksi yang diberikan oleh Ryūsui tadi.
"Ugatsu kau jangan!-".
*Bugh*
"Haha! Kena kau bangsat!" Ugatsu tersenyum senang ketika melihat pukulan kanannya berhasil mendarat di rahang Shisui, akan tetapi ekspresinya berubah ketika melihat Shisui tidak bergeming dari tempatnya, ia malah tersenyum lebar.
"Kheh, kau yang kena, Baka!" Shisui menarik tangan kanannya ke belakang dan kemudian. . .
*Bugh*
"Ghk?!".
Shisui melepaskan pukulan Haymaker yang mendarat dengan sangat keras ke rahang Ugatsu, tidak berhenti disitu, pukulan dari Shisui itu juga berhasil mengirim terbang Ugatsu melewati tengah-tengah Ryūsui dan Suika yang diam mematung.
*Brug*
Ugatsu mendarat di tanah dengan kepala terlebih dahulu, hal itu juga membuatnya seketika langsung pingsan di tempat akibat benturan yang ia terima di kepalanya.
"Eh? Dia pingsan?" Shisui sweatdrop. Padahal tadi ia cuma melepaskan pukulan percobaan untuk mengetes apakah rahang Ugatsu cukup kuat untuk menahan pukulannya atau tidak, dan ternyata tidak.
"U- Ugatsu?!. . ." Suika menganga tidak percaya ketika orang terkuat kedua di RWK 9SB dijatuhkan hanya dengan satu pukulan. Pukulan yang benar-benar kuat, bahkan terlalu kuat dari orang yang bernama Shisui itu.
Sementara Ryūsui hanya mendecih kesal karena kebodohan Ugatsu yang membuatnya pingsan. Ryūsui juga menyesal karena tidak memberitahu Ugatsu terlebih dahulu kalau Shisui memiliki pukulan yang sangat kuat dan juga sangat mematikan seperti itu.
'Sial, sekarang hanya aku dan Suika saja yang akan melawan monster ini, apa yang harus kami lakukan?' batin Ryūsui yang frustrasi.
"A- apa benar kalau orang itu masih manusia?" gumam Suika yang menatap Shisui horor.
Suika kembali teringat dengan perkataan Ryūsui saat dirinya baru beberapa bulan bergabung ke geng RWK.
Ryūsui saat itu bercerita soal sekolah asalnya, mengatakan kalau sekolahnya itu bernama KHS, dan disana adalah sarangnya para monster. Sekuat dan segila apapun kau, pasti akan selalu ada murid KHS yang jauh lebih hebat darimu.
Suika sebenarnya tidak mempercayainya, akan tetapi setelah melihat kegilaan dan kehebatan pasukan KHS yang dipimpin oleh seorang Freshmen (Naruto) membuatnya mulai mempercayai cerita Ryūsui, namun ia masih merasa ada keraguan di dalam hatinya.
Dan sampailah dimana dirinya benar-benar tidak memiliki keraguan lagi ketika melihat secara langsung kekuatan yang barusan ditunjukkan oleh seorang Uchiha Shisui.
Harus Suika akui kalau KHS itu adalah sekolah yang gila! Sekolah itu memiliki banyak sekali orang-orang kuat disana, contohnya orang yang dia dan Ryūsui lawan ini.
Memikirkan hal itu membuat Suika kembali menelan ludahnya pahit.
"Ryūsui-san, bagaimana ini?" tanya Suika.
"Tidak perlu takut, Suika! Kau harus ingat kalau kita masih menang jumlah. Dan juga ingatlah dengan pengorbanan anggota kita yang telah mengeluarkan seluruh kemampuan mereka bahkan sampai berdarah-darah demi memenangkan peperangan ini!" jawab Ryūsui dengan mantap.
Suika yang mendengar itu tertegun, Ryūsui benar, ia tidak boleh merasa takut dan putus asa karena bagaimana pun juga teman-temannya yang lain sudah mati-matian untuk memenangkan peperangan ini.
Dengan satu tarikan nafas, Suika kembali tenang.
Shisui yang melihat itu tersenyum tipis.
"Kau benar Ryūsui-san, ayo kita keluarkan seluruh kemampuan kita untuk mengalahkan monster itu!" Suika menatap Shisui dengan tatapan yang berbeda, ia yang tadi takut kini kembali percaya diri.
Ryūsui yang mendengar itu mengangguk pelan, mereka berdua pun kembali mengangkat tinju mereka.
"Itu benar-benar membuatku tersentuh, ngomong-ngomong apa sekarang kita bisa memulai kembali perkelahian kita?" Shisui menatap Ryūsui dan Suika polos.
"Tentu saja, brengsek!" Ryūsui dan Suika kembali maju menyerang Shisui.
"Nah gitu dong!".
(--ITK--)
Hutan Senju, War Area 5:20 pm.
(Shikamaru vs Jibachi Side)
Jibachi melesatkan tendangan lurus menggunakan kaki kirinya menuju ke dada Shikamaru.
*Syut*
Shikamaru dengan mudah menghindarinya dengan menggeser tubuhnya ke kiri, didetik yang sama, Shikamaru melancarkan sebuah counter berupa Spear Knee menggunakan lutut kanannya yang ia arahkan ke ulu hati Jibachi.
*Tap*
"?!".
Diluar dugaan, Jibachi berhasil menahan Spear Knee dari Shikamaru menggunakan kedua tangannya. Shikamaru yang melihat itu membulatkan matanya tidak percaya.
"Kena kau!".
Jibachi tanpa kompromi langsung melepaskan sebuah Head Kick kanan menuju ke arah sisi kepala Shikamaru yang terekspos tanpa pertahanan.
*Syut* *Dugh*
"Guhk?!".
Bukan Shikamaru yang terjatuh tapi Jibachi, Jibachi berhasil dibuat terhempas ke belakang oleh gerakan dari Shikamaru.
Ternyata sebelum tendangan Jibachi berhasil mengenai Shikamaru, Shikamaru dengan cepat menarik tubuhnya ke belakang sambil menggunakan kedua tangannya untuk dijadikan sebagai penopang dari berat tubuhnya (kayang), kemudian didetik selanjutnya Shikamaru melakukan gerakan salto belakang sembari melepaskan tendangan lurus ke atas yang berhasil mengenai dagu dari Jibachi.
Jibachi pun mendarat di tanah dengan cukup keras, sedangkan Shikamaru sudah kembali berdiri seperti semula.
'Bagaimana bisa?!' batin Jibachi yang masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi, namun satu hal yang ia tahu kalau ia sepertinya telah terkena sesuatu di dagunya, karena ia merasakan sakit di area itu.
"Fyuh~, kau hampir mengenaiku, Megane-chan!" Shikamaru menepuk-nepuk tangannya mencoba untuk membersihkan sisa tanah yang menempel pada kedua tangannya.
Jibachi hanya diam tidak menjawab, ia kesal karena tidak bisa berbuat apa-apa, padahal tadi adalah kesempatan emasnya untuk membungkam mulut si Nanas ini.
Jibachi kemudian berdiri, menatap Shikamaru tepat di matanya. Ia mencoba mengingat bagaimana cara ia mendapatkan kesempatan emas seperti tadi.
Ia kembali mengingat pertarungan pertama mereka, Jibachi saat itu selalu terpancing untuk membalas serangan Shikamaru, akan tetapi ia selalu gagal dan selalu dibuat meleset hingga akhirnya ia benar-benar dijadikan samsak hidup bagi orang itu.
Namun hal itu berbeda saat tadi ia hampir mengenai Shikamaru, sekarang ia tahu apa yang kurang darinya di pertarungan pertama. Ya, dia tidak pernah mencoba untuk melakukan defense terhadap serangan dari Shikamaru.
Ia saat itu cuma menghindar saja, itupun hanya beberapa kali saja karena Shikamaru benar-benar lihai untuk melakukan gerakan sambungan dan juga gerakan tipuan. Jibachi juga mengingat kalau saat itu ia tidak pernah sekalipun melindungi tubuhnya dan tidak pernah mencoba untuk menangkap serangan yang Shikamaru layangkan kepadanya.
Ia saat itu benar-benar termakan oleh egonya sendiri sehingga membuatnya harus menelan kekalahan secara memalukan dari Shikamaru, kalah dengan tak sekalipun mendaratkan serangan kepada anak itu.
Namun itu akan berubah sekarang, berbeda dengan pertarungan pertama, selain karena dia memiliki stamina yang lebih bugar dibanding dengan Shikamaru, Jibachi juga kini memiliki sedikit pemahaman dengan gerakan yang akan Shikamaru lakukan kepadanya sehingga ia setidaknya bisa mengantisipasi dan bahkan melakukan counter-nya kepada si nanas itu.
"Aku mengerti sekarang" gumam Jibachi tersenyum miring. Ia kemudian melepaskan kacamatanya dan memasukannya ke saku bagian dalam dari jaket kulitnya.
Hal itu ia lakukan agar jika nanti kacamatanya pecah saat terkena serangan Shikamaru, kacamatanya itu tidak akan melukai matanya sehingga membuat matanya mengalami kerusakan (buta).
Shikamaru yang melihat ekspresi Jibachi berubah membuatnya waspada dengan siasat yang akan dilakukan oleh Jibachi.
Jibachi kembali maju menyerang Shikamaru, ia melepaskan Head Kick kanannya ke sisi kepala Shikamaru, akan tetapi Shikamaru berhasil menghindarinya dengan menundukkan sedikit kepalanya.
Shikamaru kemudian membalas dengan melepaskan sebuah Hook kanan ke rahang Jibachi.
*Bugh*
"Guhh!".
Pukulan Shikamaru mengenai rahang Jibachi dengan telak sehingga membuatnya oleng ke samping.
'Sial, aku lupa kalau dia bisa menggunakan tangannya!' batin Jibachi.
Tidak berhenti disitu, Shikamaru kemudian melepaskan sebuah Teep Kick menggunakan kaki kanannya ke perut Jibachi. Akan tetapi Jibachi sepertinya mampu menahan tendangan tersebut walaupun dirinya harus merasakan sakit karena sedikit keliru saat memposisikan tangannya.
Shikamaru yang tidak kehabisan akal langsung melompat dan langsung melayangkan Switch Kick menggunakan kaki kirinya yang mengincar sisi kepala Jibachi.
*Duk*
Jibachi kembali menangkis serangan Shikamaru. Shikamaru yang melihat itu tersenyum tipis, ia kemudian melompat mundur untuk menjauh dari Jibachi.
Berbeda dengan pertarungan pertamanya, kali ini si Megane ini akhirnya menggunakan otaknya, Shikamaru cukup terkesan.
Dilain sisi, walaupun Jibachi berhasil menangkis tendangan Shikamaru, ia lagi-lagi masih harus merasakan rasa sakit di punggung tangannya. Ia benci mengakuinya, tapi tendangan si Nanas itu benar-benar merepotkan sekaligus sangat menyakitkan.
'Kalau begini cara yang paling ampuh adalah aku harus membuatnya berhenti untuk menggunakan kaki sialannya itu!' batin Jibachi.
'Baiklah, aku akan melakukan gerakan itu' Jibachi tersenyum misterius.
Jiibachi pun memutuskan untuk kembali maju menyerang Shikamaru.
Shikamaru yang melihat itu tiba-tiba maju memangkas jaraknya sehingga membuat Jibachi terkejut, kemudian Shikamaru melepaskan 1-2 combo ke wajah Jibachi dan pukulannya itu berhasil mengenai Jibachi dengan telak.
Kemudian Shikamaru merubah stance-nya menjadi Southpaw sehingga membuat posisi kaki kanannya kali ini berada di depan, kemudian Shikamaru kembali melayangkan Teep Kick menggunakan kakinya itu.
*Duk*
Jibachi kembali berhasil menahannya menggunakan kedua tangannya. Jibachi kemudian dengan cepat melepaskan sebuah Push Kick ke perut Shikamaru menggunakan kaki kanannya, Shikamaru yang melihat itu dengan cepat melepaskan kaki kanannya dan mundur ke belakang. Namun diluar dugaan, ternyata Jibachi melakukan gerakan tipuan.
Push Kick yang tadi ia arahkan ke perut Shikamaru berubah arah menuju ke bagian atas lutut kanan Shikamaru. Shikamaru yang melihat itu membulatkan matanya.
Tidak salah lagi, gerakan itu adalah Oblique Kick. Sebuah tendangan ilegal yang dilarang penggunaannya di berbagai event seni beladiri karena tendangan itu mampu untuk merobek sendi lutut sehingga dapat menyebabkan cedera yang sangat serius dan bahkan dapat membuat korbannya mengalami kelumpuhan.
Berpikir dengan cepat dan dalam waktu yang sangat singkat, Shikamaru kembali menarik kaki kanannya ke belakang walau hanya beberapa centi, lalu bersamaan dengan itu ia dengan cepat melepaskan sebuah tendangan menggunakan kaki kirinya ke liver Jibachi.
*Dugh/ Dugh*
"Kh!" ringis Shikamaru memegangi lutut kanannya.
"Uhk!" Jibachi terlempar ke samping.
"AAAAHK!" Jibachi berteriak kesakitan ketika merasakan rasa sakit luar biasa yang muncul di livernya. Ia pun secara otomatis meringkuk memegangi perutnya.
Lagi, ia benci mengakuinya, tapi tendangan Shikamaru benar-benar sangat menyakitkan.
Beralih ke Shikamaru, ia cukup bersyukur karena tadi ia mampu untuk sedikit menarik kaki kanannya ke belakang sehingga ia hanya merasakan sedikit rasa sakit saja di kakinya tersebut.
Bayangkan jika tadi ia tidak menariknya, bisa dipastikan kalau ia akan mengalami cedera yang sangat parah.
Shikamaru menatap datar Jibachi yang masih meringkuk memegangi perutnya kesakitan. Shikamaru sebenarnya bisa saja untuk menyelesaikan pertarungan ini sekarang, hanya saja ia tidak mau karena hal itu tidaklah jantan.
Jadi ia hanya diam menunggu Jibachi untuk kembali bangkit dan melawannya.
"Akhirnya kau bisa mengenaiku, tapi gerakanmu tadi adalah gerakan yang hanya dilakukan oleh seorang pecundang!" Shikamaru menatap tajam Jibachi.
"D- diam kau, uhk!" Jibachi menatap marah Shikamaru sambil terus memegangi perutnya yang sakit.
"Padahal aku sudah menganggapmu sebagai lawan yang pantas untuk diperhitungkan, tapi sepertinya aku salah" Shikamaru memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
"Kau tahu, aku benci pecundang sepertimu, aku bahkan sudah kehilangan niatku untuk melawanmu" tambah Shikamaru dengan suara yang terdengar dingin.
"Kheh, jangan bilang kau takut kalau aku akan melakukan gerakan seperti itu lagi? Hanya sekali saja kau sudah ketakutan seperti itu, hahaha lucu sekali!" Jibachi merubah posisinya menjadi berlutut sambil terus memegangi perutnya yang masih sakit.
"Atau apakah kau takut karena aku sudah bisa mengekspos gaya bertarungmu? Kheh, sebenarnya siapa pecundangnya disini, kau atau aku?!" Jibachi yang tadi berlutut kini mulai berdiri secara perlahan sambil tetap memegangi perutnya.
Shikamaru yang mendengar itu mendengus kesal, orang-orang ini benar-benar tidak tahu malu, pikirnya.
"Apa kau tahu dengan bahaya yang ditimbulkan dari tendangan yang barusan kau lakukan itu?" tanya Shikamaru.
"Tentu saja aku tahu! Oblique Kick, sebuah tendangan yang mampu membuat lumpuh lawannya jika tendangannya itu berhasil mengenai sasarannya dengan tepat!" balas Jibachi.
"Kau pikir kenapa aku melakukan itu? Tentu saja karena aku memang berniat untuk membuatmu lumpuh bangsat!" tambah Jibachi tersenyum bengis.
Shikamaru marah ketika mendengar jawaban dari Jibachi, orang ini benar-benar seorang pecundang yang menjijikan.
Shikamaru menarik keluar kedua tangannya dari dalam saku celananya. Ia kemudian menatap dingin Jibachi.
Kali ini Shikamaru berniat untuk memberikan Jibachi pelajaran yang jauh lebih parah dari pertarungan pertama mereka.
Shikamaru kemudian berjalan maju ke arah Jibachi yang terlihat sudah siap untuk kembali bertarung.
"Aku sangat benci seorang pecundang!".
"Kau pikir aku peduli?! Ayo sini maju bocah!".
(--ITK--)
Hutan Senju, War Area 5:20 pm.
(Sasuke vs Kurobachi Side)
Seperti tak terbendung, pukulan-pukulan dari Sasuke terus menghujani wajah dan tubuh Kurobachi tanpa ampun.
Dilain sisi Kurobachi hanya bisa menunduk sambil terus bertahan dengan sesekali melepaskan pukulan counter yang sayangnya selalu bisa Sasuke hindari.
*Bugh* *Bugh* *Bugh*
"Guhk!".
'Sial, aku akan kalah jika terus begini!' batin Kurobachi yang kembali menerima pukulan-pukulan cepat dari Sasuke.
Kemudian Sasuke melepaskan sebuah Hook kiri yang menghantam rahang Kurobachi dengan kuat sehingga membuat Kurobachi terjatuh ke tanah.
Sasuke yang melihat lawannya jatuh langsung mundur beberapa langkah, mencoba mengatur kembali alur pernafasannya, kelelahan.
Tentu saja dia kelelahan setelah terus mengahajar Kurobachi nonstop, terlebih lagi staminanya memang sudah terkuras akibat tadi melawan banyaknya anggota RWK yang seperti tidak ada habisnya.
Padahal Sasuke bisa saja menghabisi Kurobachi sekarang, akan tetapi ia ragu karena ia tidak terlalu yakin jika ia memiliki stamina untuk melakukan Ground and Pound.
Disaat Sasuke memberikan Kurobachi jeda, Kurobachi menyadari sesuatu. Kelemahan para petinju adalah kakinya, jika Kurobachi bisa menendang jatuh Sasuke maka ia bisa membalikkan keadaan.
Kurobachi juga menyadari kalau selama pertarungan ini ia sudah terpancing dengan gaya bertarung Sasuke yang hanya menggunakan tinju, sehingga hal itu membuat Kurobachi lupa kalau ia sebenarnya bisa menggunakan kakinya untuk melawan Sasuke.
'Aku benar-benar bodoh! Kenapa aku baru menyadarinya?' Kurobachi merutuki kebodohannya.
'Kalau begitu aku akan melakukan Leg Kick, aku yakin kalau ritme pukulannya akan menjadi kacau jika aku terus menendang kakinya' batin Kurobachi.
'Dan sepertinya ini akan berjalan mulus karena orang itu menggunakan stance Southpaw yang membuat kaki kanannya berada di depan, itu akan cocok sekali jika aku menggunakan Inside Leg Kick untuk melukainya!' batin Kurobachi kembali.
Kurobachi benar, Inside Leg Kick akan menjadi gerakan yang sempurna jika lawanmu memiliki stance yang berlawanan denganmu. Jika dia bisa mendaratkan beberapa Inside Leg Kick, maka Sasuke akan berada dalam bahaya karena gerakan itu mampu membuat lawan menjadi pincang.
Kurobachi kembali berdiri dan kembali maju menyerang Sasuke.
Ia kemudian melepaskan sebuah pukulan lurus menggunakan tangan kirinya ke rahang Sasuke, akan tetapi Sasuke dengan mudah menghindarinya dengan melakukan Side-Step ke kiri.
Didetik yang sama, Sasuke menarik tangan kirinya ke belakang, berniat untuk melepaskan Uppercut From Hell untuk menyudahi pertarungan ini.
Akan tetapi tanpa Sasuke sadari Kurobachi juga ternyata sudah menyiapkan kaki kanannya untuk melakukan niatannya yang sebelumnya, yakni melepaskan Inside Leg Kick ke kaki kanan Sasuke.
*Dugh* *Swung*
"?!".
Pukulan Sasuke meleset karena ia kehilangan pijakannya, sedangkan tendangan Kurobachi berhasil menghantam bagian dalam kaki Sasuke dengan sangat keras. Kurobachi yang melihat serangannya berhasil kembali menarik kakinya tersebut dan kembali melakukan Inside Leg Kick ke kaki kanan Sasuke lagi.
*Dugh*
"Ugh!".
Sasuke meringis kesakitan, ia kemudian menarik kaki kanannya ke belakang, mengganti stance-nya menjadi Orthodox. Ia melakukan itu agar dirinya bisa untuk memulihkan rasa sakit yang ada di kaki kanannya.
Kurobachi yang melihat Sasuke yang kalut langsung melepaskan beberapa pukulan ke wajah Sasuke.
Namun sayang, Sasuke masih terlalu cepat untuknya. Sasuke kemudian mengambil langkah mundur dan bersiap melakukan sebuah counter berupa Phantom Punch. Melihat itu membuat Kurobachi tidak berani mendekatinya.
Ia mendapat firasat jika ia terus maju menyerang Sasuke maka ia akan di K.O. oleh orang itu.
"Sial!" Kurobachi mendecih kesal karena tidak mampu menghajar wajah menyebalkan Sasuke.
"Gerakan yang bagus pak tua, tapi kau masih terlalu lambat untukku" Sasuke kembali memasang stance Southpaw-nya.
'Inside Leg Kick huh? Sama seperti yang Neji lakukan saat itu, menarik' batin Sasuke menatap Kurobachi datar.
"Tch, mati kau!" Kurobachi kembali melepaskan sebuah tendangan lurus menggunakan kaki kirinya mengincar wajah Sasuke.
Sasuke yang melihat itu membelokkan sedikit kepala dan disaat yang bersamaan ia menyelipkan sebuah pukulan kanan ke hidung Kurobachi.
*Bugh*
"Ghk".
Hidung Kurobachi mengeluarkan darah, Sasuke kemudian menyambungnya dengan melepas Hook kiri ke rahang Kurobachi dan Uppercut kanan ke dagu Kurobachi.
*Bugh* *Bugh*
"Guhahh!".
Kurobachi kembali dibuat terjatuh akibat menerima combo dari Sasuke.
Kurobachi menyeka darah di hidungnya, ia benar-benar kesal karena Sasuke lagi-lagi bisa mempermalukannya. Ia juga kesal karena Sasuke sangat sulit untuk dipukul, orang itu seperti seekor ular yang meliuk-liuk dan tanpa kau ketahui ia akan 'menggigitmu' dengan serangan-serangan cepatnya.
"Ada apa pak tua? Kau sudah menyerah?" Sasuke menatap datar Kurobachi.
"Dalam mimpimu bajingan!" Kurobachi kembali berdiri dan kembali melepaskan sebuah Inside Leg Kick ke kaki kanan Sasuke.
Sasuke tidak berniat untuk menghindar.
*Dugh*
"Ugh?!" Kurobachi meringis kesakitan, hal itu membuatnya bingung.
Tendangan Kurobahi memang berhasil mengenai kaki Sasuke, akan tetapi sepertinya Sasuke mampu melakukan Check Kick menggunakan lutut kanannya sehingga hal itu mampu meredam rasa sakit yang Sasuke alami dan hal itu juga lah yang membuat serangan Kurobachi balik melukainya dan membuatnya merasakan kesakitan di tulang keringnya.
Sasuke sangat berterimakasih kepada kakak sepupunya yang telah mengajarinya teknik ini, Obito, orang yang biasa ia panggil dengan sebutan O-Nii (Kakak/ Iblis).
Kemudian disaat yang bersamaan, Sasuke langsung melepaskan pukulan combo cepatnya ke wajah Kurobachi yang terekspos tanpa pertahanan.
*Bugh* *Bugh* *Bugh*
"Guhk!".
Satu hal lagi yang diajarkan Obito kepadanya, jika lawan melakukan Leg Kick, maka pertahanan atasnya akan terbuka lebar, karena semua fokus yang dimilikinya akan berpusat kepada kakinya.
Kurobachi kembali terjatuh dengan wajah yang terlihat semakin babak belur. Kurobachi tidak percaya dengan apa yang ia alami.
Dia benar-benar dibuat tidak berkutik, anak yang bernama Uchiha Sasuke ini sudah bukan manusia lagi, melainkan seorang monster yang sangat mengerikan!.
Keluarga Uchiha benar-benar menakutkan, mereka semua hebat dalam berkelahi. khususnya untuk generasi ini.
Mulai dari sang Iblis Konoha, Uchiha Obito. Lalu ada sang pemilik pukulan tidak terlihat, Uchiha Itachi. Kemudian ada Uchiha Shisui sang Monster Gila Konoha. Dan yang terakhir anak ini, Uchiha Sasuke sang Monster baru KHS.
Mereka berempat benar-benar saudara yang menakutkan. Apalagi jika mereka berempat bertarung bersama, sudah pasti lawan-lawan mereka akan lari ketakutan.
Kurobachi kemudian mendongak, menatap Sasuke dengan tatapan horor.
Sasuke tersenyum miring ketika melihat ekspresi ketakutan yang ditunjukkan oleh Kurobachi.
"Ada apa pak tua? Ayo berdiri dan selesaikan ini!" sorot mata Sasuke kini terlihat sangat mengerikan
'A- aku tidak bisa mengalahkannya!' batin Kurobachi yang terlihat semakin kalut.
(--ITK--)
Hutan Senju, War Area 5:25 pm.
Midare telah berhasil mengalahkan Kirisame walaupun dirinya beberapa kali dijatuhkan bahkan hampir di buat K.O. oleh pukulan Kirisame.
Berterimakasih lah kepada pasukan pemberi bantuan (PPB) yang beberapa kali menyelamatkannya.
Mini Flashback On.
Kirisame, walaupun dirinya berada dalam keadaan yang sangat buruk akibat tadi dihajar oleh Sasuke, ia masih tetap bisa memberikan perlawanan yang sengit dan bahkan sempat membuat pingsan dua orang dari pasukan pemberi bantuan milik KHS yang menemani Midare.
Saat dirinya baru selesai menjatuhkan orang kedua, Midare tiba-tiba kembali menyerangnya dari samping dengan menabrakkan bahunya (Spear) ke area liver dari Kirisame.
Kirisame yang terkena serangan kuat itu pun terjatuh dan membuatnya berteriak kesakitan memegangi perutnya tersebut.
Dalam gerakan yang cepat Midare langsung melompat ke udara berniat untuk memberikan gerakan penutupnya, yakni melancarkan sebuah Elbow kanan ke rahang Kirisame yang terbaring di bawahnya, tanpa pertahanan sama sekali.
*Bugh*
Dan alhasil, Kirisame pun akhirnya pingsan setelah menerima hantaman siku yang sangat telak di rahangnya.
Mini Flashback Off.
*Brug*
"Hahh hahh hahh, aku. . . seperti. . . mau. . . mati, hahh hahh" Midare jatuh terlentang di samping Kirisame.
Midare sudah tidak bisa menggerakkan lagi anggota tubuhnya, ia benar-benar kelelahan.
"Hahh hahh hahh, Aku- tidak, kami menang!" di bawah langit senja, Midare menutup kedua matanya sambil tersenyum dengan wajah yang babak belur.
(--ITK--)
Sama halnya dengan Shigure, ia berhasil mengalahkan Mubi dengan bantuan dari pasukan pemberi bantuan (PPB) yang menemaninya.
Shigure akui kalau Mubi benar-benar lawan yang tangguh, itu terbukti ketika orang itu beberapa kali menyulitkan Shigure beserta dua orang dari pasukan pemberi bantuan (PPB) yang menemani Shigure.
Bahkan Mubi juga berhasil mengalahkan kedua orang (PPB) itu sehingga membuat dirinya akhirnya bisa satu lawan satu melawan Shigure.
Flashback On.
Pertarungan mereka cukup berimbang karena keadaan mereka sama-sama berada dalam keadaan yang kacau, tetapi Mubi masih diuntungkan karena ia masih memiliki stamina yang sedikit lebih banyak dari Shigure.
Mubi yang memiliki gaya bertarung Street Fight selalu mengandalkan kelincahan dan serangan acaknya untuk membuat Shigure kewalahan.
Perlu diingat kalau Shigure memiliki tinggi 187 cm sedangkan Mubi memiliki tinggi 169 cm. Hal itu benar-benar membuat Shigure kewalahan untuk mengantisipasi gerakan Mubi yang notabenenya lebih pendek dan tentunya lebih cepat darinya.
Dan juga semakin Shigure meladeni pergerakan Mubi maka sudah dipastikan staminanya akan terkuras habis, karena orang bertubuh besar akan memakan tenaga yang lebih banyak ketika menggerakkan anggota tubuhnya.
Namun dilain sisi Shigure juga memiliki keuntungan. Berkat tingginya itu, ia memiliki jangkauan tinju dan tendangan yang lebih jauh dan lebih luas dari Mubi.
Dan juga berkat tingginya itu juga membuat Mubi kesulitan untuk mendaratkan pukulan di wajahnya.
Dan alhasil Mubi hanya bisa menyerang area perut saja sedangkan Shigure terus-terusan menghajar kepala Mubi.
Tidak hanya itu, Shigure yang memiliki gaya bertarung Judo juga beberapa kali menjatuhkan Mubi menggunakan teknik bantingan Judo yang simpel.
Sampailah dimana saat Mubi sudah tidak mampu lagi melayangkan pukulan kerasnya. Shigure dengan cepat menarik Mubi dan langsung melakukan bantingan Ashi Guruma.
*Doom*
Mubi pun akhirnya pingsan setelah menerima bantingan keras dari Shigure.
"HAAAAAA!" Shigure berteriak keras setelah berhasil mengalahkan Mubi.
Flashback Off.
Shigure kini jatuh terduduk di sebelah Mubi, beristirahat sambil menyaksikan pertarungan yang terjadi di dekatnya.
Tatapannya terkunci pada Sai yang sedang melawan Oboro. Shigure bisa melihat kalau Sai benar-benar sedang mendominasi jalannya pertarungan.
Sai beberapa kali membanting Oboro dengan sangat mudah, ia juga banyak mendaratkan pukulan dan tendangan ke kepala dan tubuh Oboro. Oboro yang menerima itu semua tentu dibuat semakin terdesak.
Namun walaupun Oboro seperti itu, ia beberapa kali berhasil mendaratkan beberapa pukulan kuat ke wajah Sai sehingga membuat wajah Sai terlihat cukup babak belur. Oboro juga sempat mendaratkan beberapa pukulan dan tendangan kuatnya ke perut Sai, hanya saja Sai selalu bisa meng-counternya dengan memberikan damage dua kali lipat kepada Oboro.
Sehingga hal iu membuat Oboro terlihat semakin frustrasi.
Seiring berjalannya waktu, aksi dari Sai itu semakin membuat keadaan dari Oboro semakin 'terjepit'.
Merasa kesal, Oboro pun melepaskan tendangan kanan kuatnya ke sisi perut Sai yang terlihat seperti dibiarkan tanpa pertahanan.
*Grab*
Sai menangkap kaki Oboro dengan mudah, kemudian Sai menarik Oboro mendekat ke arahnya dan langsung membantingnya menggunakan Kibisu Gaeshi.
*Doom*
"Ghk!".
Sai dengan cepat merubah posisinya dengan menduduki perut Oboro, kemudian Sai tanpa ampun menghajar wajah Oboro.
*Bugh* *Bugh* *Bugh*
"Ghk, sial!" Oboro mencoba untuk terus melindungi wajahnya akan tetapi pukulan Sai selalu saja bisa lolos dan semakin menambah luka lebam dan lecet di wajah Oboro, bahkan darah pun mulai bercucuran dari wajahnya.
Melihat Oboro sudah mulai kehilangan kesadarannya membuat Sai mencari akal agar dirinya tidak membuang tenaganya secara sia-sia. Sai pun memutuskan untuk men-submission Oboro menggunakan salah satu teknik dari Judo yang baru-baru ini ia pelajari.
Sai pun kembali merubah posisinya, ia dengan cepat memasukkan kedua lengannya untuk menjepit leher dan satu tangan dominan dari Oboro.
Teknik itu bernama Kata Gatame atau Arm Triangle Choke, sebuah teknik kuncian yang pernah Naruto gunakan ketika mengalahkan Kiba.
Hal itupun membuat Oboro tidak bisa menarik nafasnya, ia yang panik tentu memberontak dan mencoba melepaskan diri dari kuncian yang tiap detik semakin erat menghimpit lehernya. Beberapa detik kemudian, Oboro pun pingsan.
'Memang benar kalau Street Fighter bukanlah lawan yang sepadan dengan orang yang menguasai teknik beladiri seperti Sai-san' batin Shigure yang mengeluarkan keringat dingin ketika melihat kemampuan Sai yang semakin meningkat pesat.
Merasa Oboro sudah tidak melawan, Sai pun melepaskan kunciannya.
Sai menghela nafas lega, ia pun memutuskan untuk duduk selonjoran di sebelah Oboro, mengatur nafasnya yang sempat tidak beraturan.
"Kerja yang bagus, Sai-san!" suara Shigure berhasil menarik perhatian Sai.
Sai yang mendengar iu hanya tersenyum palsu sambil mengangguk dengan pelan.
Sai dan Shigure kemudian kontak mata mereka dan kini memutuskan untuk menyaksikan pertarungan Lee dan Kagari yang berada di dekat mereka.
Pertarungan antara Lee vs Kagari berjalan cukup sengit, Lee beberapa kali mendaratkan tendangan kuat ke kepala Kagari sehingga membuat Kagari beberapa kali harus terjatuh.
Namun Kagari juga sempat menekan Lee sampai hampir membuat Lee pingsan dengan tendangan kuatnya yang mengenai telinga Lee dengan telak.
Tapi untung saja Lee memiliki caranya sendiri untuk melepaskan dirinya dari keadaan yang merugikannya itu, saat ia hampir terjatuh, ia dengan cepat melakukan salto depan sehingga membuat serangan lanjutan dari Kagari meleset.
Kemudian Lee yang berada di bawah Kagari dengan cepat melakukan tackle ke kaki tumpuan dari Kagari sehingga membuat Kagari kembali terjatuh.
Melihat serangannya berhasil membuat dirinya tersenyum senang, Kagari mendecih pelan dan kembali melancarkan serangannya berupa sebuah pukulan lurus ke hidung Lee.
*Bugh*
"Ugh!".
Pukulan Kagari sukses membuat hidung Lee mengeluarkan darah.
Kagari yang melihat adanya kesempatan kembali melepaskan serangannya, ia kembali melepaskan pukulan lurusnya sambil mencoba untuk menindih tubuh Lee. Akan tetapi Lee sudah lebih dulu menghindari pukulan itu sekaligus menyarangkan sebuah tendangan lurus ke jakun Kagari.
*Dugh*
"Ghouhk!".
Kagari terjatuh ke belakang memegangi lehernya yang tercekat, ia kemudian berlutut menahan sesuatu yang akan keluar dari mulutnya. Tidak berlangsung lama Kagari pun memuntahkan isi perutnya yang terlihat bercampur dengan sedikit darah.
Sepertinya Lee berhasil melukai bagian dalam lehernya, Kagari merasakan sakit yang teramat sangat di area tersebut.
Lee yang melihat itu memanfaatkannya untuk kembali berdiri dan menjaga jarak dari Kagari.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud menendangmu disitu!" Lee merasa bersalah, ia sebenarnya tadi ingin menendang dada Kagari akan tetapi sepertinya tendangannya terlalu tinggi.
"Akan kubunuh kau!" Kagari kembali berdiri sambil menerjang Lee dengan amarah yang memuncak.
Kagari mengayunkan Hook kanannya yang berhasil dihindari Lee, kemudian ia menyambungnya dengan melesatkan Hook kiri yang lagi-lagi berhasil dihindari oleh Lee.
Kagari yang melihat serangannya berhasil dihindari dibuat semakin marah, ia secara membabi-buta melesatkan semua serangannya ke kepala Lee tanpa ampun.
'Benar apa yang Naruto-san katakan saat itu, orang yang berkelahi dengan amarah pasti akan selalu menghincar kepala' batin Lee sambil mundur menghindari serangan-serangan yang mengincar kepalanya.
Lee yang terus berjalan mundur tidak menyadari kalau ada tubuh dari anggota RWK yang terbaring lemas di belakangnya.
"Di belakangmu!" teriak Sai dan Shigure.
"Hah?" Lee tidak terlalu mendengar apa yang Sai dan Shigure coba katakan padanya. Dan alhasil dia yang terus mundur pun akhirnya jatuh tersandung tubuh orang yang dimaksud.
'Sial!' batin Lee.
"Mati kau bangsat!" Kagari yang melihat mangsanya akhirnya terjatuh langsung melompat dan menginjak wajah Lee dengan sangat keras.
*Dugh*
"AHK!" Lee berteriak keras ketika injakkan Kagari berhasil mendarat di wajahnya. Ia merasa kalau wajahnya itu seperti akan terbelah dua.
Kagari kemudian kembali melompat dan menghantamkan pantatnya ke perut Lee, berniat untuk menekan diafragmanya agar Lee kesulitan bernafas sekaligus Kagari juga ingin mengunci pergerakannya.
*Dugh*
"GUHK!" mata Lee membola ketika merasakan tekanan yang secara tiba-tiba menghantam perutnya. Lee pun memuntahkan liurnya.
Kagari yang melihat serangannya berhasil tentu tersenyum dengan sadis, ia kemudian menghajar Lee yang berada di bawahnya tanpa ampun.
*Bugh* *Bugh* *Bugh*
Beberapa detik kemudian, setelah pukulan demi pukulan yang Kagari lontarkan. Ia pun menghentikan tindakannya, selain karena ia sudah kehabisan tenaga, ia juga merasa sangat yakin kalau lawannya sudah pingsan.
Merasa cukup dengan tindakannya, Kagari pun berdiri dan menatap tajam Sai dan Shigure.
"Hahh hahh hahh, giliran. . . kalian. . . berdua!" Kagari yang kehabisan nafas akibat menghajar Lee tanpa ampun pun mencoba berjalan ke arah Sai dam Shigure dengan langkah yang terseok-seok. Menandakan kalau Kagari sudah mencapai batasnya.
Sai dan Shigure yang melihat itu kembali berdiri dan bersiap untuk menyambut serangan Kagari. Akan tetapi mereka mengurungkan niatan mereka tersebut ketika melihat seseorang yang kembali berdiri di belakang Kagari.
"Oy. . . kau pikir kau mau kemana?".
Kagari yang mendengar itu membulatkan matanya.
'Yang benar saja!' ia pun menoleh ke belakang secara patah-patah. Ia pun mendapati Lee yang sedang tersenyum miring dengan wajah yang penuh luka lebam dan darah yang mengalir turun ke dagunya.
Hal itu sukses membuat Kagari menatap takut Lee yang ternyata masih bertahan setelah menerima pukulannya tanpa ampun.
Didetik selanjutnya, Lee berlari menuju Kagari yang masih diam mematung. Kemudian Lee melompat sembari mengangkat kaki kanannya ke atas, berniat melesatkan gerakan penutup andalannya.
Lee memutar tubuhnya di udara sambil mengayunkan kaki kanannya tersebut ke kepala Kagari yang masih diam tidak bergerak karena ketakutan.
"KONOHA SENPŪ!".
*Dugh*
Tendangan pamungkas dari Lee berhasil menghantam kepala Kagari dengan sangat keras sekaligus menerbangkan Kagari menjauh dari tempatnya berpijak.
Disisi lain, Lee terjatuh mencium tanah setelah berhasil mendaratkan tendangan andalannya. Ia kemudian menoleh ke arah Kagari yang berada agak jauh darinya, ingin mengetahui apakah lawannya itu masih sadar atau tidak.
Sebuah senyuman merekah di wajah Lee, sepertinya Kagari sudah pingsan, itu artinya dirinya lah yang menang!.
Lee perlahan bangkit dari posisi tersungkurnya, menggenggam kuat kedua tinjunya dan kemudian mengangkat kedua tinjunya ke atas.
"AKU MENAAAAAAAANG!" suara teriakan Lee bergema menghiasi area peperangan.
Sai dan Shigure yang melihat itu ikut tersenyum senang. Harus mereka akui kalau Lee yang sekarang benar-benar jauh berkembang dibanding Lee yang dulu ketika dia melawan Neji.
Shigure pun dibuat kembali mengingat saat dimana Lee benar-benar dipermalukan oleh Neji, sebuah kejadian yang membuat Lee dikenal sebagai samsak hidup Neji.
Mini Flashback On.
Sekitar 2 tahun yang lalu saat mereka baru saja naik ke kelas 2 SMP, tawuran antara murid SMP Konoha dan murid SMP Nakagawa terjadi.
Saat itu Lee terpisah dari pasukannya dan sialnya dirinya ditangkap oleh pasukan yang dipimpin oleh Neji. Pada saat itu Lee hampir dikeroyok oleh anak buah Neji jika saja Neji tidak menghentikan mereka.
Neji mengatakan kalau Lee adalah mangsanya, jadi Neji sendiri yang akan menghabisinya. Mereka pun berkelahi.
Perkelahian mereka itu benar-benar berat sebelah. Bagaimana tidak? Adu pukulan Lee kalah, adu tendangan kalah dan adu bantingan juga pastinya kalah, telak malah.
Namun hal itu tidak mampu untuk mematahkan semangat Lee untuk setidaknya mendaratkan satu pukulan ke tubuh Neji.
Neji yang melihat itu menatap jijik Lee, ia benar-benar muak karena si kecoak ini terus saja bangkit dan melayang pukulan ke arahnya.
Neji pun membanting Lee menggunakan bantingan andalannya yakni Sode Tsurikomi Goshi.
Lee pun langsung terkapar tidak berdaya (pingsan) setelah menerima rasa sakit yang menghantam tulang belakangnya. Neji yang melihat itu tersenyum bengis, bukannya berhenti, Neji malah menghajar wajah Lee yang pingsan tanpa ampun.
Shigure dan yang lainnya sebenarnya ingin menghentikan tindakan Neji, karena jika dibiarkan maka Lee akan mati. Namun mereka terlalu takut untuk melakukan itu.
Untung saja saat itu ada Sai dan anak buahnya yang datang menyelamatkan Lee. Sai menendang Neji sehingga membuat Neji terjatuh.
Baru saja Sai dan Neji akan berkelahi, tiba-tiba beberapa polisi datang membubarkan mereka.
Mini Flashback Off.
"Kerja yang bagus Lee-kun!" Sai melambaikan tangannya. Lee yang melihat itu hanya memberikan cengiran lebarnya.
Shigure menatap Sai dan Lee secara bergantian, dia dibuat cukup kagum karena seingatnya kedua orang ini seharusnya masih harus dirawat di Rumah Sakit, yang berarti mereka berdua masih belum dalam kondisi 100 persen pulih dari cedera mereka.
Mereka benar-benar mengambil resiko dengan melarikan diri.
Akan tetapi walaupun dalam kondisi seperti itu mereka berdua masih tetap bisa mengalahkan dua petinggi dari RWK 9SB yang Shigure yakini kalau kedua orang itu berada dalam kondisi 100 persen mereka, berbanding terbalik dengan kondisi Sai dan Lee.
Seandainya saja Sai tadi bertarung dalam kondisi primanya, Shigure yakin kalau mantan Boss SMP Nakagawa itu tidak akan menang dengan kondisi babak belur seperti ini.
Dan untuk Lee. . .
Melihat kemampuannya sekarang membuat Shigure percaya kalau Lee yang sekarang sudah berada satu level di atasnya. Hal itu membuat Shigure meremas tinjunya kuat.
'Jadi rumor itu benar, orang-orang yang berada di Fraksi ACE kekuatannya jauh berkembang dibanding dengan anggota Fraksi yang lain' batin Shigure.
Rumor itu benar adanya, ia menyaksikannya sendiri, mulai dari perubahan kedua sahabatnya yakni Baiu dan Midare yang dulu tidak bisa melakukan apa-apa selain mencari informasi, sampai Lee yang dulunya hanya menjadi samsak hidup bagi murid-murid sepantarannya.
Harus ia akui kalau kedatangan Naruto, Sasuke, Shikamaru dan Chōji berhasil mendatangkan suatu perubahan besar bagi orang yang yang dulu dianggap sebagai kegagalan.
Tidak melupakan dengan kehadiran sang Monster terkuat di Konoha yakni Might Guy yang melatih Lee secara langsung. Memikirkan itu membuat Shigure merasa iri.
Ia juga ingin menjadi kuat, lebih kuat dari yang sekarang.
Apakah dia harus memisahkan diri dari Neji dan bergabung dengan Fraksi ACE?.
"Kalian juga, kerja yang bagus, Sai-kun, Shigure-san!" perkataan Lee berhasil menarik Shigure dari lamunannya.
"A- aa, kau juga Lee, kerja yang bagus!" balas Shigure. Lee yang mendengar itu menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis.
"RRRAAAHHHH!".
Sebuah teriakan dari belakang berhasil menarik perhatian mereka bertiga.
'Inuzuka-san/ Kiba-kun' batin mereka bertiga secara bersamaan. Mereka tersenyum tipis ketika mengetahui kalau Kiba telah memenangkan pertarungannya.
(--ITK--)
Beberapa menit sebelumnya.
Hutan Senju, War Area 5:28 pm.
(Kiba vs Sakon Side).
Sakon terus melesatkan pukulan dan tendangannya secara acak kepada Kiba, sebagian besar serangannya ditangkis ataupun dihindari, dan hanya ada beberapa saja yang berhasil mendarat mengenai Kiba.
Hal itupun membuat stamina Sakon semakin terkuras dan juga berhasil membuatnya semakin frustrasi.
Disisi lain, disaat Kiba diserang secara membabi-buta oleh Sakon, ia berhasil mendaratkan beberapa serangan counter ke area kepala dan area perut Sakon sehingga serangannya itu berefek dan membuat intensitas serangan Sakon menurun dan menjadi semakin memburuk.
Namun disisi lainnya, stamina Kiba juga semakin terkuras akibat terus menerus bertahan sehingga membuat beberapa serangan dari Sakon mengenainya.
Sekarang tinggal menunggu waktu saja, siapa diantara mereka yang akan tumbang duluan.
"JANGAN CUMA BERTAHAN BANGSAT!"
Sakon mengayunkan Hook kanannya mengincar rahang Kiba.
*Tap*
Kiba berhasil menangkisnya menggunakan tangan kirinya, dalam waktu yang sama Kiba melakukan sebuah counter berupa pukulan Hook menggunakan tangan yang sama ke rahang Sakon.
*Syut*
Sakon berhasil menghindarinya dengan menundukkan sedikit tubuhnya. Kemudian ia juga melayangkan sebuah counter berupa Uppercut kiri mengincar dagu Kiba.
*Bugh*
"Ugh!" pukulan Sakon berhasil mengenai Kiba sehingga membuat Kiba terhentak ke belakang. Tapi untung saja Kiba sempat menarik kepalanya sedikit ke belakang sehingga hal itu mampu meredam dampak pukulan dari Sakon.
Bayangkan jika Kiba tidak menarik kepalanya sedikit ke belakang, sudah dipastikan kalau dia akan K.O.
Tidak mau menyia-nyiakan kesempatannya, Sakon melancarkan tendangan lurus menggunakan kaki kanannya mengincar ulu hati Kiba namun Kiba yang masih memiliki refleks yang cepat berhasil menghindarinya dengan menggeser posisi tubuhnya sedikit ke samping sehingga hal itu membuat tendangan Sakon hanya mengenai udara kosong.
Dalam gerakan cepat Kiba mengait kaki tumpuan dari Sakon sekaligus menarik kerah jaket Sakon ke belakang. Gerakan dari Kiba tersebut pun berhasil membuat punggung Sakon kembali mencium tanah.
Baru saja Kiba mau menindih perut Sakon, kaki Sakon sudah lebih dulu menghantam dada Kiba sehingga membuat Kiba harus terdorong ke belakang.
Sakon yang melihat adanya kesempatan untuk memulihkan posisinya dengan cepat mengerahkan seluruh tenaganya untuk cepat-cepat bangkit dari posisinya dan bersiap untuk menerima serangan yang akan dilakukan Kiba kepadanya.
Dan benar saja, ternyata Kiba sudah lebih dulu berguling ke depan, menyambut Sakon menggunakan gerakan andalannya. Yakni, Flying Thunder Kick!.
'Sial!'.
*Dugh*
Tendangan Kiba sukses menghantam rahang Sakon dengan telak sehingga membuat Sakon terhempas ke belakang.
*Brug*
Sakon kembali jatuh terlentang, hanya saja kali ini dirinya sudah dipastikan tidak akan bangkit kembali, dengan kata lain, Sakon akhirnya pingsan setelah menerima serangan pamungkas dari Kiba.
Kiba mengambil posisi berlutut setelah sempat terlentang akibat melakukan gerakan andalannya. Sebuah senyuman mengembang ketika melihat musuh bebuyutannya sudah tidak sadarkan diri akibat terkena tendangan andalannya.
"Hahh hahh hahh, aku. . . menang!".
Kiba lalu menarik udara sebanyak-banyaknya dan kemudian mendongakkan kepalanya ke atas menatap langit dan berteriak mengeluarkan seluruh emosinya.
"RRRAAAHHHH!".
(--ITK--)
Disaat yang bersamaan.
(Shino vs Ukon Side).
Perkelahian antara Shino dan Ukon benar-benar bisa disebut dengan pertarungan orang-orang bodoh, bagaimana tidak? Mereka terus saja melepaskan serangan mereka tanpa mau untuk menangkis atau menghindari serangan yang dilontarkan lawan mereka.
Akibat dari itu membuat Ukon selalu dibuat terhempas ke belakang akibat menerima serangan kuat dari Shino, namun sisi baiknya Ukon lah yang paling banyak mendaratkan serangannya hanya saja kualitas serangannya tidak sebagus Shino.
Dan untuk Shino, ia beberapa kali dibuat berlutut dan tersungkur akibat menerima serangan telak yang disarangkan oleh Ukon kepadanya, namun tetap saja ia selalu bangkit dan selalu memberikan counter yang kuat kepada Ukon.
"Hahh hahh hahh, berhenti melawan sialan!" Ukon menyeka darah di hidungnya, menatap marah Shino menggunakan satu matanya yang tidak tertutup memar yang ada di pelipisnya.
"Cuh, hahh hahh hahh, kenapa bukan kau saja?" Shino meludahkan liur bercampur darahnya ke samping, menatap Ukon dengan kedua matanya yang hampir tertutup memar yang ada di pelipisnya.
"RRRAAAHHHH!".
Teriakan dari Kiba berhasil menarik perhatian mereka berdua.
"Kheh, sepertinya kakakmu sudah dikalahkan" Shino tersenyum menyeringai ketika melihat sobatnya telah berhasil memenangkan pertarungannya.
Ukon yang melihat itu mendecih kesal, sialan kakaknya, kenapa bisa dia kalah melawan anjing kampung itu? Ini benar-benar memalukan.
"Oy Ukon, bagaimana kalau kita akhiri ini juga?!".
"Kheh, kau tahu apa yang kupikirkan, dasar serangga pengganggu!".
"Kalau begitu ayo lakukan Final blow!".
"Ya! Lagipula dengan cara apapun pasti akulah yang menang!" ujar Ukon dengan rasa percaya diri yang tinggi. Cukup kakaknya saja yang kalah, dia tidak boleh kalah juga!.
Shino yang mendengar itu hanya tersenyum miring.
Mereka berdua pun berjalan dengan langkah yang berat untuk memangkas jarak yang ada diantara mereka berdua.
Setelah merasa cukup dekat, mereka menarik tinju terkuat mereka ke belakang tubuh mereka.
Ketika jarak mereka hanya tersisa beberapa centi saja, mereka pun melepaskan pukulan kanan kuat mereka menuju rahang mereka masing-masing.
"AKU YANG MENANG!" teriak Ukon dan Shino secara bersamaan sambil melayangkan pukulan terkuat mereka.
*Bugh* *Bugh*
Pukulan mereka berdua sukses mendarat dengan telak di rahang masing-masing, bahkan saking kerasnya pukulan mereka membuat mereka berdua sama-sama terhempas ke belakang.
*Brug* *Brug*
Punggung mereka sama-sama menghantam tanah dengan keras. Beberapa detik kemudian, tidak ada diantara mereka yang bergerak.
"Ugh"
Dengan bersusah payah Ukon mencoba untuk bangkit, akan tetapi ia kembali terjatuh, lalu ia mencoba lagi untuk bangkit, namun ia lagi-lagi kembali terjatuh.
Ia pun terbaring terlentang menatap langit senja, merasa dirinya seperti sedang melayang yang dikarenakan kesadarannya yang mulai menghilang dan juga karena rasa pening yang tak tertahankan yang ada di kepalanya.
Beberapa detik kemudian, ia kembali berusaha untuk bangkit, namun kali ini ia memutuskan untuk mencoba berlutut terlebih dahulu, dan hal itu pun berhasil walau dirinya hampir terjatuh.
Baru saja ia berlutut, seketika ia memiliki firasat kalau ada orang yang sedang berdiri di belakangnya, menatapnya dingin.
Dengan gerakan yang patah-patah, Ukon pun menoleh ke belakang.
Dan firasatnya benar, ada orang yang berdiri di belakangnya dan orang itu adalah Shino.
Shino terkekeh pelan, ia kemudian mengokang tinju kanannya ke atas.
Ukon yang melihat itu hanya bisa terdiam di tempatnya.
Didetik selanjutnya, tinjuan dari Shino menghantam keras rahang Ukon sehingga membuat Ukon harus kembali jatuh mencium tanah.
*Bugh*
Dengan begitu, Ukon pun akhirnya pingsan.
"Hahh hahh hahh" Shino menyandarkan bobot tubuhnya dengan meletakkan kedua tangannya di atas lututnya, kelelahan.
Ia kemudian mendongakkan kepalanya ke atas berteriak.
"HAAAAAAA!".
Akhirnya Shino bisa melepaskan emosinya setelah bersusah payah untuk mengalahkan Ukon.
"Shino, kau menang sobat!" ujar Kiba yang berada di dekat Shino.
"Hahh hahh, begitu juga denganmu!" ujar Shino yang tersenyum tipis ketika melihat sobatnya memberikannya dua acungan jempol.
"Sekarang tinggal menunggu si Namikaze itu untuk menyelesaikan peperangan ini" ujar Kiba melihat ke sekelilingnya.
"Kau benar" Shino juga melakukan hal yang sama dengan Kiba.
Agak jauh dari tempat mereka, mereka melihat Sai sedang memberikan mereka sebuah senyuman palsu, lalu ada Shigure yang mengangguk singkat, dan ada Lee yang memperlihatkan cengiran lebarnya sambil memberikan mereka berdua acungan jempol.
Kiba dan Shino yang membalasnya dengan senyuman tipis, namun itu tidak lama karena setelah itu mereka saling menatap, pertanda mereka bingung.
"Bukannya mereka berdua (Sai dan Lee) masih harus dirawat di Rumah Sakit? Kenapa mereka ada disini dan sejak kapan mereka ada disini? Terus kenapa wajah mereka babak belur seperti itu?" Kiba 'sedikit' bertanya.
Shino yang mendengar rentetan pertanyaan itu hanya mengangkat kedua bahunya tidak tahu dan tidak peduli. Kiba yang melihat itu emosi dan langsung mencekik leher Shino dan mengguncang-guncangkan tubuhnya.
"JAWAB AKU DENGAN PERKATAAN, SERANGGA SIALAN!".
"A- aku tidak tahu! Sekarang berhenti mencekikku bodoh!" Shino membalasnya dengan meremas muka Kiba.
Sai, Lee dan Shigure yang melihat itu hanya bisa sweatdrop.
'Mereka ngapain sih?' batin mereka secara kompak.
Beberapa detik kemudian, Kiba dan Shino menghentikan perkelahian konyol mereka dan kini mengalihkan fokus mereka ke pertarungan yang menjadi perantara mereka dengan Sai, Lee dan Shigure. Yakni pertarungan antara Neji vs Kidomaru dan pertarungan Chōji vs Jirobo, yang sepertinya sudah memasuki fase akhir.
Begitu juga dengan Sai, Lee dan Shigure yang sama-sama mengalihkan perhatian mereka ke pertarungan yang ada di antara mereka tersebut.
(--ITK--)
Hutan Senju, War area 5:33 pm.
(Neji vs Kidomaru).
Beberapa menit sudah berlalu tetapi perkelahian antara Neji dan Kidomaru masih tetap berjalan intens.
Mereka saling meng-counter serangan mereka satu sama lain, entah itu pukulan, tendangan dan tentunya bantingan. Namun walaupun mereka saling membalas serangan, sepertinya Neji lah yang lebih mendominasi pertarungan mereka.
Hal itu terbukti dengan tingginya total keberhasilan serangan yang dilayangkan oleh Neji kepada Kidomaru dan hanya segelintir saja serangannya yang mampu di counter oleh lawannya tersebut.
Namun tetap saja walaupun Neji yang mendominasi jalannya pertarungan, wajahnya dan wajah Kidomaru sama-sama berada dalam kondisi yang benar-benar buruk.
Namun poin plus bagi Neji karena setidaknya kebanyakan luka-lukanya itu ia dapatkan ketika ia dikeroyok tadi. Berbeda dengan Kidomaru yang setengah luka-lukanya diakibatkan oleh Neji. Sementara luka-luka lainnya ia dapatkan dari Sasuke dan Naruto.
"BANGSAT!" Kidomaru mengayunkan tinju kanannya ke sisi kepala Neji.
*Syut*
Neji berhasil menghindarinya, kemudian Neji dengan cepat meraih kerah jaket Kidomaru menggunakan tangan kanannya dan menangkap lengan yang tadi Kidomaru ayunkan kepadanya menggunakan tangan kirinya.
*Doom*
"Guhk!".
Dalam waktu yang sangat cepat Neji menjatuhkan Kidomaru menggunakan tekniknya yang bernama Osoto Gari. Hal itupun membuat Kidomaru harus kembali jatuh terbaring untuk kesekian kalinya.
Baru saja Neji ingin menindih perutnya, Kidomaru sudah lebih dulu menendang rusuk kiri Neji menggunakan kaki kanannya, sehingga hal itu membuat Neji terdorong ke samping.
Melihat serangannya berhasil membuat Kidomaru bergegas untuk kembali bangkit dari posisinya. Kemudian ia langsung maju dan menabrakkan bahunya ke rusuk Neji yang tadi ia tendang.
*Dugh*
"Ugh!".
Terjangan Kidomaru berhasil mengenai sasarannya. Ia kemudian menarik kerah gakuran Neji dan meletakkan satu kakinya ke tengah perut Neji. Didetik berikutnya ia langsung menjatuhkan tubuhnya ke belakang sambil menarik Neji untuk ikut jatuh bersamanya. Atau bisa dibilang Kidomaru saat ini sedang melakukan gerakan bantingan yang bernama Tomoe Nage.
*Doom*
"Ghk!" Neji terpelanting ke depan akibat bantingan dari Kidomaru, dan itu berhasil membuatnya mengerang kesakitan.
Kidomaru tersenyum bengis ketika melihat kalau serangannya lagi-lagi berhasil mengenai Neji.
Kemudian Kidomaru dengan cepat bangkit dan bersegera untuk kembali menyerang Neji yang sedang mencoba meredakan rasa sakit di punggungnya.
Kidomaru yang posisinya berada dekat dengan kepala Neji tanpa peduli langsung mengangkat satu kakinya, berniat untuk menginjak wajah menjengkelkan dari musuh bebuyutannya itu.
"MAKAN INI BANGSAT!".
*Tap*
Hanya saja Neji dengan cepat memutar posisi badannya sehingga membuat injakkan dari Kidomaru meleset, dan hal itu sekaligus membuat posisi Neji kini berhadapan langsung dengan Kidomaru, walau dirinya berada dalam posisi berbaring dan Kidomaru yang sedang berdiri di depannya.
Melihat injakkannya berhasil dihindari membuat Kidomaru mendecih kesal, ia kemudian mengokang tangan kanannya sambil merendahkan posisi tubuhnya
"MATI KAU!" Kidomaru tanpa kompromi melesatkan pukulan kanan kuat ke wajah Neji.
*Syut*
Namun diluar dugaan pukulannya itu berhasil dihindari oleh Neji, lalu didetik yang sama Neji menangkap tangan Kidomaru tersebut dan menariknya lebih ke bawah, setelah itu ia dengan cepat menaikkan kedua kakinya ke leher Kidomaru.
Dan dalam waktu yang singkat, Neji berhasil menjerat leher dan tangan kanan Kidomaru menggunakan teknik kuncian yang Naruto gunakan untuk mengalahkannya beberapa hari yang lalu. Triangle Choke!.
Kidomaru membulatkan kedua matanya ketika baru menyadari kalau kini posisinya sedang dalam bahaya. Ia pun memberontak, mencoba untuk melepaskan dirinya dari kuncian mematikan ini. Namun sayang, jeratan yang menghimpit leher dan tangan dominannya tiap detik makin erat.
Kidomaru yang panik terus menerus menghajar perut dan paha Neji menggunakan tangan kirinya yang terbebas, namun sayang upayanya itu tidak berdampak sama sekali. 13 detik kemudian, Kidomaru pun berhenti bergerak, menandakan kalau dirinya telah pingsan.
Melihat itu membuat Neji melepaskan kunciannya tersebut, kemudian ia mendorong ke samping tubuh pingsan Kidomaru yang berada di atasnya.
Kemudian Neji duduk mencoba menormalkan ritme nafasnya yang sempat memburu, ia kemudian menatap wajah bonyok Kidomaru yang ada di sebelahnya.
"Hahh hahh, sudah kubilang kan? Aku yang menang, dasar bodoh!" ujar Neji memasang senyuman angkuhnya.
*Doom*
"AKH!".
Sebuah suara dentuman yang berada di dekatnya berhasil menarik perhatiannya. Ia pun melihat kalau sosok Jirobo baru saja dibanting oleh Chōji, sepertinya pertarungan mereka juga akan selesai.
'Mari kita lihat, binatang buas macam apa kau, Akimichi' batin Neji.
(--ITK--)
(Chōji vs Jirobo Side)
*Doom*
"AKH!"
Chōji baru saja melakukan Powerslam kepada Jirobo, hal itu sukses membuat Jirobo mengerang kesakitan sambil memegangi punggungnya.
Chōji yang tidak mau memberi jeda langsung menarik jambul Jirobo dan langsung menghantamkan bogem mentahnya tepat ke mulut Jirobo.
"Diam!".
*Bugh*
"Ghk!".
Pukulan Chōji berhasil membuat pegangannya di jambul Jirobo terlepas dikarenakan Jirobo yang kembali terjatuh ke tanah memegangi mulutnya yang baru saja dihantam dengan sangat keras.
Bibirnya terasa sakit, Jirobo menarik tangannya menjauh dari mulutnya dan melihat kalau di tangannya ada bercak darah baru yang sepertinya berasal dari mulutnya tersebut.
Sepertinya pukulan dari Chōji berhasil membuatnya menggigit sendiri bibirnya sehingga membuat bibirnya itu sobek dan mengeluarkan darah. Dia cukup bersyukur karena pukulan Chōji sudah cukup melemah sehingga pukulan tersebut tidak mampu untuk merontokkan giginya.
Chōji yang sempat diam untuk memulihkan nafasnya kembali menyerang Jirobo dengan menginjak-injakkan kakinya ke perut Jirobo.
*Dugh* *Dugh* *Dugh*
"AAAHK!".
Tindakan Chōji kembali membuat Jirobo mengerang kesakitan, ia meringkuk memegangi perutnya menggunakan satu tangannya sementara tangan yang lain ia gunakan untuk melindungi wajahnya.
Merasa masih belum puas, Chōji merendahkan tubuhnya dan langsung mencekik leher Jirobo yang terbebas, kemudian ia memaksa Jirobo untuk berdiri.
"Berdiri kau!".
Jirobo yang masih belum bisa menetralkan rasa sakitnya hanya bisa pasrah ketika dirinya dicekik seperti itu oleh Chōji. Namun sedetik kemudian Jirobo langsung berupaya untuk melepaskan cekikan kuat itu dengan menghantamkan bogemnya ke rahang Chōji.
*Bugh*
Pukulannya sukses mengenai rahang Chōji dengan telak, akan tetapi cekikan Chōji masih belum terlepas. Jirobo kemudian kembali menarik tinjunya dan kini berniat untuk memukul mata Chōji.
Akan tetapi Chōji sudah lebih dulu bergerak dan mengubah cekikannya itu menjadi sebuah pegangan di belakang kepala Jirobo, kemudian di detik selanjutnya ia menarik kepala Jirobo ke lutut kanannya yang sudah ia tekuk.
*Dugh*
"Ghk!".
Hantaman lutut dari Chōji sukses menghantam pangkal hidung Jirobo sehingga membuat hidung Jirobo kembali mengeluarkan darah dan membasahi celana Chōji. Kemudian Chōji mendorong tubuh Jirobo menjauh darinya, setelah itu kembali maju dengan mengangkat tangan kanannya berupaya untuk melakukan Lariat ke leher Jirobo.
Dengan sisa kesadaran yang ada, Jirobo juga ikut mengangkat tangan kanannya, berniat untuk melakukan hal yang sama dengan Chōji.
Dan Lariat mereka berdua pun sama-sama menghantam leher mereka masing-masing. Dan alhasil membuat mereka sama-sama terjatuh akibat kuatnya Lariat yang mengenai mereka.
Chōji cepat-cepat bangkit dari posisinya kemudian ia mengangkat tinjunya berniat untuk kembali menyerang Jirobo.
Baru saja Chōji mau melepaskan pukulannya, ia seketika membatalkan niatannya tersebut ketika melihat kalau lawannya itu ternyata sudah tidak sadarkan diri lagi.
"Hahh hahh, seandainya tadi kau tidak curang, aku tidak akan menghajarmu seperti ini, kau tahu?" Chōji menyeka bekas darah yang ada di hidungnya, mencoba menahan air matanya, ia merasa bersalah karena telah menghajar Jirobo sampai sekarat seperti ini.
Melihat wajah Jirobo membuat Chōji semakin merasakan rasa bersalah, wajah lawannya itu benar-benar 'hancur'.
Wajah Jirobo itu penuhi oleh memar yang membiru di seluruh wajahnya, lalu ada beberapa luka lecet yang berada di beberapa bagian wajahnya, dan yang terakhir wajahnya itu dipenuhi dengan darah maupun noda darah sebagai pelengkap kerusakannya itu.
"Maafkan aku" Chōji akhirnya menitihkan air matanya dan menundukkan kepalanya dalam-dalam, berharap perkataannya masih bisa didengar oleh Jirobo yang sudah tidak berada dalam keadaan sadar.
'Dia benar-benar seorang binatang buas yang menakutkan' batin Neji yang berada tidak jauh dari tempat Chōji.
"Chōji-san! Selamat atas kemenanganmu!" teriak Lee yang berjalan terseok-seok menuju tempat Chōji, di belakangnya ada Sai yang menemaninya sedangkan Shigure saat ini sedang menemani Midare yang masih pingsan di belakang mereka.
"Lee dan Shimura? Sejak kapan kalian disini?" tanya Chōji yang kebingungan, bukannya mereka dilarang Naruto untuk datang kesini karenw mereka masih harus dirawat di Rumah Sakit?.
Chōji cepat-cepat menyeka air matanya dan kemudian memasang senyuman lebar untuk menyambut kedatangan Lee dan Sai.
Lee dan Sai yang sudah sampai kemudian menjelaskan bagaimana bisa mereka berada disini, lalu mereka menutup penjelasan mereka dengan menceritakan hasil pertarungan mereka.
"Kalian menang juga rupanya! Selamat ya!" Chōji tersenyum lebar, Lee dan Sai berterimakasih dengan perkataan Chōji.
'Sepertinya aku salah, dia bukan binatang buas karena binatang buas tidak memiliki perasaan' batin Neji kembali.
'Tapi dengan kekuatan itu dia sudah pasti seorang monster, ya monster, monster yang baik hati' batin Neji yang tersenyum sangat tipis.
Ia tidak pernah melihat seseorang yang menakutkan namun secara bersamaan memiliki hati yang baik seperti Chōji, mungkin itulah kenapa ia mendengar kalau banyak anggota ACE yang menjadikannya sebagai panutan.
"Inuzuka dan Aburame juga sudah menang ya?" tanya Chōji yang melihat Kiba dan Shino yang sedang duduk bersebelahan. Sepertinya mereka berdua menonton pertarungannya melawan Jirobo.
"Ya, dia sudah lebih dulu menang dibandingkan denganmu dan Neji-san" ujar Lee.
"Eh Hyūga juga sudah menang?" tanya Chōji kembali, Lee dan Sai yang mendengar itu hanya mengangguk sebagai jawaban mereka.
Hal itupun membuat Chōji menoleh ke sebelah kirinya, disana dia bisa melihat Neji saat ini sedang duduk tidak jauh dari tempatnya dan sepertinya sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Eh Hyūga, kau juga sudah menang rupanya, maafkan aku karena baru menyadarinya!" perkataan Chōji menyadarkan Neji dari lamunannya.
"Ya tentu saja kau tidak menyadarinya karena kau sibuk berkelahi melawan si jambul konyol itu" ujar Neji datar. Chōji, Sai dan Lee yang mendengar itu sweatdrop.
"Neji-san benar, dia sudah lebih dulu menang sebelum kau membanting Jirobo menggunakan Powerslam, Chōji-san!" tambah Lee yang mencoba sedikit menjelaskan kepada Chōji.
"A- aa, begitu rupanya, maaf hehe" Chōji menggaruk-garuk pipinya canggung sedangkan Neji yang mendengar itu hanya menatap datar Chōji. Sehingga hal itu pun membuat keadaan mereka saat ini menjadi semakin canggung.
Lee mencoba untuk mengatakan sesuatu akan tetapi ia takut kalau perkataannya itu akan membuat keadaan menjadi lebih canggung dari ini.
"Sekarang sisa mereka saja yang belum menyelesaikan pertarungan mereka" suara dari Sai berhasil mencairkan suasana.
Sai saat ini sedang menatap pertarungan yang terjadi antara Izumo-Kotetsu vs Murasame, Dokan vs Yudachi, Shisui vs Ryūsui-Suika, Shikamaru vs Jibachi, Sasuke vs Kurobachi dan Naruto vs Kimimaro.
"Ya, kau benar" respon Chōji yang ikut menyaksikan apa yang Sai maksud, sementara Neji hanya diam mengiyakan dalam hati.
Lee menghela nafas lega setelah Sai berhasil membuat suasana menjadi cair. Padahal kalau diingat-ingat saat SMP dulu orang yang selalu membuat suasana canggung adalah Sai dengan perkataannya yang seperti tidak memiliki filter.
Perkataan nyelekit yang tidak peduli entah itu teman dekat atau orang asing, laki-laki atau perempuan, balita atau lansia. Semuanya pasti sakit hati mendengar kejujuran yang kelewat batas dari Sai.
Oke lupakan soal itu.
"Sekarang tergantung mereka saja, terutama si Namikaze itu, jika dia kalah maka peperangan ini akan sia-sia" ujar Neji yang menatap Naruto yang sedang jual beli pukulan dengan Kimimaro.
(--ITK--)
Hutan Senju, War Area 5:34 pm.
(Izumo-Kotetsu vs Murasame Side).
Murasame mengangkat tubuh Izumo dan kemudian melemparnya ke arah Kotetsu yang berada di belakangnya, hal itupun membuat tabrakan antara kedua sahabat itu tak terelakkan.
*Brug*
Melihat serangannya berhasil membuat sebuah senyuman sinis mengembang di wajahnya yang babak belur. Ia tidak berniat untuk melanjutkan serangannya karena ia tahu kalau kedua orang itu akan membalikan keadaan dan akan menghajarnya lagi seperti awal perkelahian mereka.
Flashback On.
Saat awal mereka berkelahi, Murasame berhasil menghajar jatuh Izumo dan hal itu membuatnya tanpa ragu untuk sesegara mungkin untuk menghabisi Izumo.
Akan tetapi baru saja ia menurunkan tubuhnya, sebuah Uppercut kanan keras lebih dulu mendarat ke dagunya sehingga membuatnya mendongak secara terpaksa dan sekaligus membuatnya terhempas ke belakang.
Belum sempat ia memulihkan keadaannya, sebuah tendangan menghantam tulang keringnya dengan keras sehingga membuatnya terjungkal ke depan, belum sempat ia jatuh menyentuh tanah tiba-tiba beberapa pukulan bersarang di wajah dan perutnya sehingga membuatnya kembali terhempas ke belakang.
Hal itu membuatnya mendecih kesal, kemudian ia memaksa dirinya untuk kembali fokus, baru saja pandangannya menjadi jernih tiba-tiba sebuah Head Kick mengenai sisi kepala bagian kirinya sehingga hal itu langsung menjatuhkannya ke tanah akibat kuat dan telaknya tendangan tersebut mengenai kepalanya.
Izumo dan Kotetsu pun langsung menendang dan menginjak-injak Murasame yang saat itu hampir kehilangan kesadarannya.
Namun tidak lama setelah itu tiba-tiba dua orang murid KHS yang merupakan anggota PPB (Pasukan Pemberi Bantuan) menabrak Izumo dan Kotetsu yang terhempas setelah tidak sengaja tertendang oleh Shisui yang sedang melawan Ryūsui dan Suika.
Sehingga tabrakkan tersebut pun membuat kepala Izumo dan Kotetsu terbentur keras sehingga membuat mereka berdua pingsan.
Kedua murid KHS tersebut pun panik dan beberapa kali meminta maaf sambil berusaha untuk mencoba mengembalikan kesadaran Izumo-Kotetsu dengan mengangkat kaki mereka berdua ke atas, hal itu dilakukan agar aliran darah kembali mengalir dengan lancar ke otak mereka berdua.
Hal itu tentu saja dimanfaatkan oleh Murasame untuk memulihkan dirinya setelah tadi hampir dibuat pingsan akibat diinjak-injak oleh kedua orang sialan itu.
Setelah merasa agak baikan, Murasame memutuskan untuk menghajar Izumo-Kotetsu yang masih belum memberikan tanda kalau kedua orang tersebut akan siuman dalam waktu yang dekat ini
Merasa bertanggung jawab, kedua murid KHS (PPB) pun menghalangi Murasame dan tentunya menggantikan Izumo-Kotetsu untuk melawannya.
Selang beberapa menit, kedua anggota PPB itu akhirnya pingsan, baru saja Murasame mengambil nafas, tiba-tiba sebuah tendangan mengenai ulu hatinya.
Pelaku penendangan itu ternyata Izumo yang sudah siuman, beberapa detik setelahnya Kotetsu juga mulai bangkit dari posisinya.
Izumo kemudian memutuskan untuk kembali melayangkan tendangannya ke kepala Murasame, akan tetapi kakinya berhasil ditangkap, kemudian Murasame mengangkat serta melempar Izumo ke arah Kotetsu yang terlihat baru akan menyerangnya.
Falshback Off.
Izumo bersegera untuk bangkit, tidak lupa ia juga membantu Kotetsu yang tadi ia tabrak.
"Kau tidak apa, Kotetsu?".
"Ya, sialan si Gorila itu, padahal sudah kita buat babak belur, tapi dia masih bisa bergerak seperti itu".
"Kau benar, kita harus segera menjatuhkannya, karena jujur saja staminaku sudah hampir habis".
"Aku juga, kalau begitu ayo kita hancurkan dia dengan gerakan kombinasi kita".
Dengan begitu Izumo dan Kotetsu kembali maju dan menyerang Murasame. Murasame menyiapkan dirinya untuk menyambut serangan kedua lawannya.
Pukulan kanan lurus dari Kotetsu yang mengincar mata Murasame menjadi pembuka serangan, Murasame menangkap tangan Kotetsu dan dengan cepat menariknya mendekat, akan tetapi sebuah tendangan muncul dari belakang Kotetsu yang sukses menghantam dada Murasame sehingga membuatnya sedikit terdorong ke belakang.
Murasame merutuki Izumo yang lagi-lagi berhasil menendangnya. Belum sempat mengambil nafas, tiba-tiba sebuah pukulan Hook bersarang di telinganya sehingga membuat telinganya berdenging.
Seperti tidak memiliki jeda, lagi-lagi sebuah tendangan menghantam telinganya yang lain, membuatnya ikutan berdenging sehingga membuat Murasame tuli untuk beberapa saat.
Murasame yang marah dengan liar mengayunkan pukulannya ke depan mengincar rahang dari Kotetsu, akan tetapi Kotetsu sudah lebih dulu menundukkan kepalanya dan sekaligus bersiap melepaskan sebuah counter berupa Uppercut kiri yang ia tujukan ke dagu Murasame.
*Syut*
Diluar dugaan, Murasame berhasil menghindarinya, ia kemudian mengangkat kaki kanannya berniat untuk menyarangkan tendangannya ke perut Kotetsu, akan tetapi sebuah tendangan lurus dari Izumo mengenai wajahnya sehingga hal tersebut menggagalkan tindakan dari Murasame.
"BANGSAT!" teriak Murasame marah.
Murasame mulai mengayunkan pukulannya secara acak, Kotetsu dan Izumo yang melihat itu memutuskan untuk mundur.
Izumo dan Kotetsu saling memberikan kode menggunakan mata, yang artinya kurang lebih seperti ini.
'Serangan penutup?'.
'Ayo'.
"DASAR PENGECUT!" Murasame merengsek maju mengayunkan sebuah tendangan keras ke kepala Izumo.
*Tak*
Tendangannya berhasil ditangkis menggunakan kedua tangan Izumo.
Murasame kembali melepaskan seranganya kali ini ia melayangkan sebuah pukulan full power mengincar rahang Kotetsu yang berada di sebelah Izumo.
*Syut* *Dugh*
"Khk!".
Pukulannya lagi-lagi berhasil dihindari. Didetik yang sama Izumo melancarkan sebuah Leg Kick kanan keras yang membuat Murasame kehilangan keseimbangannya.
Tendangan Izumo disambung oleh Kotesu dengan mendaratkan sebuah pukulan kiri keras ke liver Murasame sehingga membuat Murasame tertunduk meringis memegangi perutnya kesakitan.
Kemudian Kotetsu menyatukan kedua tangannya lalu mengangkatnya ke atas. Lalu didetik selanjutnya ia mengantamkan kedua tangannya tersebut ke tengkuk Murasame.
*Bugh*
Double Hammerfist dari Kotetsu menyudahi perlawanan Murasame. Murasame pun jatuh mencium tanah tidak sadarkan diri.
"Hahh hahh, kita menang!" Kotetsu mengangkat tinju kanannya ke atas.
"Hahh hahh, kerja yang bagus, Aibō!" Izumo menepuk pelan pundak Kotetsu.
Mereka berdua pun memutuskan untuk duduk beristirahat dan menyaksikan pertarungan antara Dokan vs Yudachi yang berada di dekat mereka.
"Hey kau mau taruhan?" usul Kotetsu.
"Utangmu yang kemarin saja belum kau bayar, kau malah mengajakku taruhan, bayar dulu utangmu, bodoh" Izumo menatap kesal Kotetsu.
"Maka dari itu aku mengajakmu taruhan, karena kalau aku menang aku tidak perlu lagi membayar utangku!".
"Kheh, itupun kalau kau menang, gak mau, bayar dulu utangmu sialan!" Izumo mengeluarkan bungkus rokok dan koreknya dari dalam gakuran-nya, kemudian ia menjepit rokoknya menggunakan bibirnya dan kemudian tanpa bersusah payah ia membakar ujung rokoknya tersebut.
Dengan satu tarikan nafas, asap rokok mulai memasuki paru-parunya. Izumo kemudian menyodorkan rokoknya pada Kotetsu.
"Ini rokok yang semalam ya? Bukannya aku membuangnya di atap?" tanya Kotetsu sambil menarik satu rokok milik Izumo.
"Hm, semalam saat dokter memergoki kita aku masih sempat menyembunyikan bungkusan rokok ini di dekat pagar pembatas" jelas Izumo.
"Lalu keesokan paginya aku cepat-cepat mengambilnya" tambah Izumo. Kotetsu yang mendengar itu hanya mengangguk-angguk sambil menghisap rokoknya yang sudah ia bakar.
"Berbicara soal taruhan, siapa yang kau pikir akan menang?" tanya Izumo.
"Hm? Tentu saja Dokan, kalau kau?".
"Sama".
*Bugh*
Disaat yang bersamaan Dokan jatuh setelah menerima pukulan telak di rahangnya.
"Maksudku Yudachi" Izumo mengkoreksi perkataannya.
"Sialan, mana bisa begitu!"
(--ITK--)
(Dokan vs Yudachi Side).
Dokan lagi-lagi terjatuh, setelah beberapa menit belakangan ini dia dan Yudachi saling menjatuhkan dengan mendaratkan serangan-serangan kuat mereka.
Total jatuh yang dialami Dokan dan Yudachi bisa dibilang cukup jomplang. Karena jumlah total Dokan terjatuh sudah menyentuh angka sekitar dua puluh lebih, sedangkan Yudachi hanya belasan. Ya bisa dibilang kalau Yudachi lah yang mendominasi pertarungan mereka sampai saat ini.
"Hahh hahh, bangun sialan!" Yudachi menarik gakuran Dokan dan kemudian ia memberikan beberapa pukulan ke wajah Dokan.
*Bugh* *Bugh* *Bugh*
Dokan yang dipukul seperti itu tentu tidak tinggal diam, ia dengan cepat menarik jaket Yudachi mendekat kemudian ia meninju jakun Yudachi sehingga membuat lehernya tercekat.
Aksi dari Dokan pun berhasil menghentikan tindakan dari Yudachi. Dokan yang melihat adanya kesempatan langsung berdiri dan melepaskan pukulan Overhand kanan kuat.
*Syut*
Pukulan kerasnya berhasil dihindari. Didetik yang sama Yudachi melepaskan counter berupa pukulan kanan lurus yang berhasil mengenai rahang Dokan.
*Bugh*
Dokan terpaksa mundur beberapa langkah ke belakang akibat kuatnya pukulan yang mengenai rahangnya. Berusaha sekuat tenaga agar tidak jatuh, karena jika ia jatuh lagi maka ia tidak yakin kalau dirinya bisa bangkit lagi.
Yudachi kembali memangkas jarak sambil mengokang tinju kanannya ke belakang, berniat untuk kembali menghantam rahang Dokan. Dokan yang melihat itu segera menundukkan kepalanya sekaligus menghantamkan kepalanya itu ke ulu hati Yudachi.
*Syut* *Dugh*
"Uhk!".
Pukulan Yudachi meleset, sundulan Dokan tepat sasaran. Yudachi memegang perutnya kesakitan, Dokan yang melihat serangannya berhasil kembali melepaskan Overhand kanannya ke sisi kepala Yudachi.
*Bugh*
"Ghk".
Pukulan Dokan kali ini sukses mengenai sasaran, Yudachi pun dibuat tersentak ke samping. Tidak mau memberi jeda, Dokan kembali memangkas jaraknya dan kemudian ia menundukkan kepalanya lagi dan bersiap untuk kembali menanduk ulu hati Yudachi.
*Dugh*
"Guhk!".
Sundulan Dokan kembali mengenai Yudachi, sehingga membuat Yudachi semakin kesulitan bernafas, ia yang sudah muak langsung menahan tubuh Dokan, menguncinya agar tidak bisa melarikan diri. Kemudian Yudachi menghantamkan lutut kanannya ke mulut Dokan dengan sangat keras.
*Dugh*
"Guhahh!" bibir Dokan sobek dan mengeluarkan darah.
Kemudian Yudachi menyambungnya dengan melepaskan Uppercut kiri ke dagu Dokan.
*Syut*
Entah Dokan sedang beruntung atau hanya sekedar kebetulan, pukulan Yudachi meleset beberapa milimeter dari dagunya, hal itu pun membuat Dokan merasa senang dan segera melepaskan counter lagi yang berupa Overhand kanan yang kembali mengenai sisi kepala dari Yudachi.
Yudachi pun kembali dibuat tersentak ke samping. Seperti deja vu, Dokan lagi-lagi datang ke arahnya sambil menundukkan kepalanya, berniat untuk melepaskan sundulan.
"Kau pikir aku bodoh!" sadar dirinya masih belum stabil, Yudachi memutuskan untuk tidak melepaskan serangan dan memilih untuk melindungi perutnya menggunakan kedua tangannya.
Yudachi berpikir, setelah ia berhasil menahan sundulan Dokan maka ia akan langsung menjatuhkan Dokan menggunakan counter berupa pukulan kerasnya.
*Dugh*
"Hgk?!.
Tiba-tiba serangan Dokan berubah, Yudachi yang berpikir kalau Dokan akan menyundul perutnya tiba-tiba merubah gerakannya dengan melepaskan sebuah Uppercut kanan yang mengenai dagu Yudachi dengan keras sehingga membuat Yudachi terhempas jauh ke belakang.
Setelah sempat dibuat berguling-guling, Yudachi berusaha untuk kembali bangkit, walaupun kini penglihatannya mulai mengabur.
Dilain sisi, melihat adanya kesempatan emas membuat Dokan kembali mengambil ancang-ancang untuk kembali menyerang Yudachi.
Kali ini ia akan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk melakukan gerakan pamungkasnya, yakni Headbutt. Berniat untuk sesegera mungkin untuk mengakhiri pertarungan ini.
"HNGG!" tanpa membuang waktu, Dokan langsung mengarahkan Headbutt-nya ke dagu Yudachi.
Yudachi yang kini kesulitan menggerakkan anggota tubuhnya hanya bisa diam merutuki Dokan, sahabat lamanya.
'Sial'.
*Dugh*
"Guhk!".
Sundulan keras dari Dokan sukses menghantam dagu Yudahi dan membuat Yudachi kembali terhempas jauh ke belakang.
*Brug*
Setelah kembali dibuat berguling-guling, pada akhirnya Yudachi pun tersungkur di atas tanah tidak bergerak. Bersamaan dengan itu, Dokan juga terjatuh ke depan, merasa kalau tubuhnya sudah tidak bisa bergerak lagi akibat kelelahan.
"Hahh hahh hahh, apa aku menang?" Dokan bersusah payah mengangkat kepalanya untuk melihat keadaan sobat lamanya yang berada agak jauh dari tempatnya.
"Hahh hahh, sepertinya begitu, sekarang kita imbang, sobat!" beberapa saat kemudian, Dokan juga akhirnya ikut pingsan setelah mengeluarkan seluruh kekuatannya di serangan terakhirnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continue~
Hasil pertarungan antara Shisui vs Ryūsui-Suika, Shikamaru vs Jibachi, dan Sasuke vs Kurobachi akan ada di chapter depan.
Begitu juga dengan pertarungan yang paling ditunggu-tunggu antara Naruto vs Kimimaro, dari awal pertarungan sampai akhir pertarungan mereka, semuanya ada di chapter depan sekaligus menjadi sebagai penutup dari Arc yang sangat panjang ini.
Setelah itu selesai, akan ada chapter transisi yang memiliki genre romance antara NaruIno/ NaruShizu dan SasuSaku. Mungkin. . .
Bagi kalian yang sudah menyempatkan diri untuk memberikan saran atau hanya sekedar berkomentar, saya ucapkan terimakasih banyak, karena setidaknya ada Feedback yang kalian berikan untuk cerita ini, dengan begitu cerita ini punya alasan untuk dilanjutkan.
Yang terakhir, jangan lupa untuk menulis komentar kalian di kolom Review. Jujur, sebenarnya juga saya sudah bosan meminta kalian untuk menulis Review kalian karena kebanyakan dari kalian hanya mau baca tapi gak mau Review atau sekedar berkomentar. Fav dan Follow saja saya rasa sulit banget. Jadi jangan heran kenapa banyak Author yang ninggalin FFn.
Jadi sekali lagi, tolong berikan Feedback kalian, karena Feedback kalian sangat dibutuhkan untuk keberlangsungan cerita ini.
Sekian.
