Hi minna!
Heheheh.. maaf banget, udah lama gak update! Maklum kemarin2 si lapie kena virus, jadi deh gak bisa update! Buat yang udah nunggu, maaf banget ya! Dan jangan marah loh! *Kayak ada yang nunggu nih fic aja ya!*
Aku juga mau ngucapin makasih banget buat yang udah ripiew, dan buat yang udah baca namun tak meninggalkan jejaknya! Hehehehe…
ttixz bebe: ich, makasih udah suka! Gak usah nodong kok, aku lanjut nih meski telat! Hehehe.. Naruto memang harus dan pasti bahagia, tenang aza! ^^
chielasu88: iya pasti Naru bakalan balik kok ama Sasu, tenang ya! Oh ya makasih usulan nama anaknya diterima, dan aku pake nih! Hehehe… klo mau demo d rutan salemba ajak2 ya, kan suka dapet bayaran tuh klo demo! *kagak nyambung ah!*
hana no hachiroku: seep, pokoknya gak akan buat Naru menderita kok! Sasuke ama Sakura? Hmm… kasih tau gak ya? Hehehe… gak kok tenang aja, Sasu pasti ama Naru kok!
Rosanaru: jangan d mutilasi ah Sasu nya, serem tau! Kita buat Sasu menderita bathin aza daripada mati ntar Naru jadi janda dunk! Hehehe.. ato duda ya? ** trus nama Hikari maaf aku g pake coz anaknya kan cowok, tp doain ya mudah2an Naru dpt anak cewe trus d kasih nama Hikari deh!
diitactorlove: Seep, Sasu bakalan menderita dulu kok! Perlahan-lahan tapinya… hehehe.. keep ripiew ya!
Aoirhue Kazune: Uwaaahh.. aku di bilang keren, makasih ya! Hehehe *tau deh mksdnya ceritanya kan bukan yg buatnya! Tp gpp dunk kali2* maaf ya update nya gak kilat, tapi tetep mau baca kan! ^^
ryu cassie: iya udah d kasih nama Ryu tp d panjangin dikit, hehehe! Maaf ga asap nih updatenya, coz ujan mlulu jdnya apinya mati2 deh dan gak ada asapnya deh! Hehehe… :p
ryevon: iya di lanjut kok, abis gak pengen makin nambah hantu penasarannya ah! *kidding loh!* tenang aku juga kurang suka sad ending, bakalan d buat happy ending kok! Gak percaya? Terus ikutin ya! Hehehe..
kirio - kun: iya, iya di lanjut kok! Sasu ama Naru pasti bakalan bersama kok, kan emang ditakdirin gitu! Hehehe… g akan d buat single parent tp double parent deh! keep ripiew ya.
monkey D eimi: emang susah ngebayanginnya klo nama anaknya Konohamaru, hehehe! Iya gak akan ending SasuSaku kok! Tenang ya! Tetep ikutin ya! **
Nakazawa Ayumu: gak d gantung kok, nih d lanjutin! Sasu pasti nyesel kok, tenang aza! Dan soal pihak keempat, oke ntar d adain, tapi kasih saran dunk siapa pihak ke4 nya! Ce apa co nih? Hehehe
Namikaze lin-chan: iya aku juga, emang mustahil tapi keajaiban itu kan selalu membuat yang mustahil menjadi mungkin! Hehehe… maaf kalo updatenya g kilat, tapi semangat kok kalau banyak yg ripiew! Hehe
laven agrava gaciall 134: hehe iya, bisa aja kalau Tuhan bilang hamil ya hamil mau itu cowo apa cewe! Iya gak? Hehehe.. keep ripiew ya
namikaze-toki: iya ini tbc g fin kok! Tetep baca ya, dan ripiew terus! Hehehehe..
Pokoknya makasih banget ya buat yang udah baca dan bersedia ripiew. Dan maaf banget atas keterlambatan updatenya!*plakk, geer lagi nih ah!*
Mudah2an tidak mengecewakan ya nih tulisan abalku.
Oke deh gak mau panjang2 lagi setelah panjang d awal, met baca aza ya!
…
..
.
KEAJAIBAN ITU ADA
Pairing: SasuNaru
Slight SasuSaku
Genre: Romance, Hurt/Comfort
Rate: M
Warning: Gaje, OOC, miss typo, Boys love etc
…
..
.
GAK SUKA?
GAK USAH BACA YA!
..
.
NARUTO's POV
Sungguh aku tidak pernah mengira akan kembali kesini, Konoha. Disinilah dulu aku dilahirkan, tumbuh, sekolah, mendapatkan teman, disini pula aku mengenalnya. Degh. Dadaku selalu merasa sakit bila mengingat semua tentangnya.
'Ternyata aku belum sepenuhnya bisa menghilangkan rasa sakit ini'
"Kamu baik-baik saja Naruto?" Sebuah teguran halus menyadarkanku untuk kembali ke alamku. Kulihat nenek Tsunade melihatku dengan tatapan khawatir. Ya tatapan dan pertanyaan yang sama selalu dilontarkannya sejak aku menyetujui tawarannya. Tawaran untuk kembali ke Konoha setelah 4 tahun aku meninggalkan kota ini.
"Iya nek, aku baik-baik saja!" Kucoba tersenyum padanya, tapi ada yang berubah dari orang yang paling dekat denganku ini. Sejak hari itu, dia tidak lagi menolak aku panggil nenek. 'Dan sekarang dia sudah benar-benar menjadi nenek.'
"Tou-san, aku laper!" Teriakan anak kecil diiringi derap langkah kaki mungil menghampiriku. "Aku mau makan ramen! Kata tou-san di Konoha ada tempat makan ramen yang enak! Kesana sekarang ya!" Kini malaikat mungil itu menatapku dengan tatapan andalannya.
"Tidak!" Suara tegas itu memotong perkataanku yang bahkan belum keluar dari mulutku.
"Tapi nek.." Malaikat kecilku kini beralih menatap nenek Tsunade dengan tatapan memohon. Yang pastinya selalu berhasil untukku juga untuk yang lain. Tapi…
"Aku bilang tidak ya tidak! Anak kecil tidak boleh terlalu banyak makan makanan seperti itu! Mengerti!" Nenek Tsunade memang tidak pernah luluh dengan tatapan malaikat bermata hitam di hadapannya jika menyangkut ramen. Bagaimana pun sebagai seorang dokter dia tidak akan pernah membiarkan cucu kesayangannya memakan makanan penuh lemak terlalu sering. Sebulan sekali itu sudah cukup, begitulah pemikirannya.
Bhuuuu..
"Sudahlah, nanti tou-san ajak kamu makan ramen ke tempat langganan tou-san dulu. Tapi tidak sekarang ya!" Aku sama sekali tidak suka melihat malaikatku cemberut seperti sekarang.
"Benar…?" Kini mata yang sempat redup itu kembali bersinar. "Kapan? Janji ya!"
"Naruto…!" Kulihat nenek Tsunade menatapku dengan sedikit marah. Tapi mau gimana lagi, tidak ada orang yang sanggup membiarkan orang yang di sayanginya sedih bukan?
"Iya, tou-san janji! Tapi nanti kalau nenek Tsunade sudah tidak sibuk, kita pergi bertiga. Oke!" Kulihat matanya seolah tak puas dengan jawabanku, tapi tidak ada bantahan dari mulutnya. Ya berada di tengah-tengah mereka memang terkadang menyulitkanku. "Nah, sebaiknya kita masuk dan melihat kamar baru mu!"
'Anak kecil memang tidak pernah marah lama bukan?' Kulihat malaikat kecilku berlari dengan penuh semangat. Ya setidaknya melihatnya begitu bahagia, mengurangi sedikit kegundahanku tentang kepindahan ini. Mudah-mudahan semua akan baik-baik saja. 'Semoga.'
..
.
'Ternyata tidak semudah itu mencari pekerjaan ya!' Dengan langkah sedikit lesu, aku kembali menyusuri jalan untuk kembali pulang. Hari ini teramat melelahkan, setelah seharian mencari pekerjaan ternyata belum ada satu pun pekerjaan yang aku dapatkan.
"Naruto!" Sebuah suara menyadarkanku, dan membuat langkah kakiku berhenti. "Kamu Naruto kan?" Kini orang itu berada di depanku, menatapku dengan tatapan tak percaya. "Hei ini aku Kiba, masa lupa sih!"
"Oh iya, maaf bukan lupa tapi aku pangling liat kamu sekarang!" Sedikit berbohong tidak apa bukan?
"Apa kabarnya sekarang?"
"Baik! Kamu sendiri?"
"Aku baik, selama ini kamu kemana?" Dan percakapan itu berlangsung cukup lama andai tidak ada telpon masuk mungkin aku akan berbicara lebih lama lagi dengannya. Maklum sudah lama tidak ketemu, Kiba termasuk salah satu sahabatku dulu. Tapi, saat aku pergi aku memang memutuskan untuk tidak memberitahukan kemana aku pergi. "Jadi sekarang kamu tinggal dimana?" Ternyata Kiba sudah menutup pembicaraan di telponnya.
"Aku tinggal di rumah nenek Tsunade yang lama!"
"Oh, kalau gitu kapan-kapan aku main kesana! Tidak masalah kan?"
"Iya!"
"Ya sudah, sebenarnya aku masih mau ngobrol banyak sama kamu. Tapi sayang, aku harus pergi!"
"Iya, aku juga harus pulang."
"Oke kalau gitu, sampai ketemu lagi Naruto!"
Tanpa menunggu jawaban, Kiba berlari meninggalkanku yang hanya bisa menatap punggungnya yang menjauh. 'Sepertinya urusannya sangat penting, jika Kiba sampai berlari seperti itu. Ah, sudahlah lebih baik aku segera menjemputnya. Kalau tidak dia bisa marah!'
..
.
"Bukankah aku sudah minta sama tou-san untuk tidak telat menjemputku!" Ternyata aku telah setengah jam menjemputnya. Dan kini aku harus rela untuk mendengarkan semua omelan malaikat kecilku ini.
"Iya tou-san minta maaf sayang!" Kucoba untuk membujuknya, yang sampai sekarang belum menunjukkan hasil.
"Apa tou-san tahu kalau aku hampir mati karena menunggu!" Entah darimana anak kecil ini mendapatkan info kalau orang bisa mati karena menunggu. Palingan dari sinetron-sinetron yang selalu dia tonton sebelum tidur. 'Memang sangat tidak bagus membiarkan anak kecil nonton tv sendirian'
"Tou-san minta maaf sayang! Sekarang kita pulang yuk!"
"Aku mau maafin kalau tou-san mau traktir aku makan ramen!" Duh, entah kenapa sekarang aku mulai menyesal telah mengenalkan ramen padanya. "Gimana?" Sedikit ancaman terlihat di matanya, entah sejak kapan dia menjadi pintar mengintimidasi orang padahal umurnya baru 3 tahun.
"Tapi nenek Tsunade bakalan marah sayang!"
"Aku tidak akan bilang kok! Janji deh!" Kini tatapan intimidasi itu telah hilang, berubah menjadi tatapan malaikat yang menggemaskan.
"Hei, kamu kira nenek Tsunade bisa di bohongi dengan mudah? Tidak ingat kejadian lalu ya?"
"Ya, sudah tidak jadi ramennya. Tapi es krim, aku mau es krim!" Ternyata dia mengingat kejadian yang lalu. Lucu kalau mengingatnya, karena keinginannya makan ramen padahal dilarang neneknya dia bilang kalau neneknya tidak akan tahu. Padahal nenek Tsunade sama sekali tidak bisa dibohongi, dan akibatnya dia mendapat hukuman berat. Tidak boleh makan ramen selama 2 bulan, dan sepertinya dia belajar cepat. Belajar untuk tidak melakukan kesalahan yang sama.
"Baiklah kalau cuma es krim, tou-san bisa beli. Tapi cuma 1 ya!" Dan kini kemarahannya telah lenyap. Dengan semangat dia membalas gengamanku dan segera berjalan keluar dari sekolah.
"Sensei…"
"Ah, Ryuusuke! Sudah di jemput ya ternyata!" Sosok itu kini berbalik menghadapku, membungkuk hormat. "Perkenalkan, saya Hyuuga Hinata. Guru Ryuusuke."
"Oh iya, saya Uzumaki Naruto. Senang berkenalan dengan guru Ryuu!" Kubalas uluran tangannya untuk berkenalan. "Maaf, mungkin Ryuu merepotkan anda." Sedikit basa-basi yang langsung kusesali saat melihat tatapan tajam dari malaikat kecilku. Oh ya, malaikat kecilku ini bernama Uzumaki Ryuusuke.
"Sama sekali tidak! Malah Ryuu sangat pandai melebihi teman-teman sebayanya!" Ditatapnya Ryuu dengan tatapan bangga, dan aku bisa merasakan kebanggaan yang sama. Untuk anak seumurannya, Ryuu memang sangat pandai, bahkan bisa di bilang jenius.
'Memang buah tidak jatuh jauh dari pohonnya bukan?'
Perkataan guru Ryuu sama sekali tidak mengejutkan, memang banyak yang bilang Ryuu teramat pintar. Dan aku tahu darimana kepintaran itu berasal, sangat mengesalkan memang. Tapi untunglah hanya sedikit sifatnya yang diambil oleh Ryuu. Setelah mengambil mata, wajah, kulit, otak, masih tersisa rambut juga kepribadian yang diambil Ryuu dariku.
"Sensei..!" Teriakan kecil yang cukup membuat telingaku sakit berhasil menyadarkanku dari lamunan. Sosok mungil berambut pink menghampiri kami.
'Imut'
"Kenapa Hikari?" Terlihat guru itu sedikit kaget, namun dengan lembut ditatapnya murid manis dihadapannya.
'Rasanya tidak asing melihat rambut pink itu.'
"Belum ada yang menjemput Hikari, sensei!" Anak yang bernama Hikari itu terlihat manja, dari suaranya saja sudah ketahuan.
"Mau sensei telpon tou-san mu?"
"Iya, tolong bilang sama tou-san untuk cepat menjemput Hikari!"
"Baiklah, kalau begitu sensei kedalam dulu. Kamu tunggu sebentar disini ya! Eh, atau kamu ikut sensei masuk saja!"
"Tidak mau!"
"Maaf Naruto sama, apa bisa…"
"Tentu, aku akan menjaganya disini." Potongku cepat sebelum guru itu selesai bicara, toh aku sudah tau maksudnya jadi tidak masalah menurutku. Dan tanpa menunggu lama, Hinata bergegas menuju kantornya.
"Nah, jadi siapa namamu manis?" Tanyaku mencoba menyapa makhluk manis berambut pink.
"Bukankah tadi sudah dengar siapa namaku!"
Twich.
'Ternyata anaknya menyebalkan!'
"Sudahlah tou-san, lagipula bukankah tou-san tadi mendengar Hinata sensei memanggilnya Hikari! Berarti namanya Hikari!" Kulihat Ryuu menatapku dengan malas.
"Tou-san tahu, tapi maksud tou-san nama lengkapnya. Nama keluarganya!"
"Untuk apa tou-san tau?"
"Ah, sudahlah! Ngomong-ngomong apa kamu sekelas dengannya?" Aku berusaha mengalihkan pembicaraan. Ryuu terlalu pintar untuk diajak berdebat memang, dan aku sama sekali tidak mau dikatakan bodoh olehnya. Hehehe..
"Sama sekali tidak!"
"Ah Hikari, barusan tou-san mu bilang sebentar lagi dia sampai!"
"Oh.."
"Kalau begitu kami pulang duluan Hinata sensei!"
"Oh iya, hati-hati di jalan ya Ryuusuke!"
"Kami permisi Hinata sensei!" Ucapku sambil berjalan beriringan dengan Ryuu. Satu hal yang aku syukuri dari malaikat kecilku ini. Dia sama sekali tidak suka di gendong! 'Aku bukan anak kecil lagi tou-san, dan aku bisa berjalan sendiri!' Itu yang selalu diucapkannya, hebat bukan anak kecil mengatakan itu. Tapi sekarang aku mensyukuri, setidaknya aku tidak lagi harus menggendong Ryuu yang mulai tumbuh dan pastinya berat.
"Tou-san…..!" Sebuah mobil berhenti di depanku, tapi tak hanya karena itu aku menghentikan langkahku. Tapi teriakan bocah manis itu yang menghentikan langkahku. Entah kenapa aku merasakan penasaran tentang orang tua bocah berambut pink.
Pintu itu terbuka, sosok yang mungkin supir itu turun dan segera berlari mengitari mobilnya. Membukakkan pintu belakang yang pasti untuk majikannya. Sebanding dengan mobil mewah yang dikendarainya, sosok tuan dan ayah dari gadis itu pun turun dengan penuh wibawa. Celana bahan hitam, kemeja putih, dasi berwarna hitam yang senada dengan jas yang dikenakannya. Tak lupa kacamata hitam bertengger di wajahnya yang seputih porselen. Rambut hitam yang tampak menawan meski dengan model sedikit norak.
'Tak mungkin, itu…'
..
.
TBC
..
.
Huaaa… gimana? Gimana? Gimana?
Jelek ya?
Gaje?
Abal?
Aneh?
Dan ending yang gak banget? Abisnya pengen gantung soal 'pertemuannya'.
Hehehe, maaf yak lo sedikit kurang memuaskan. ^^ tapi mudah2an tidak terlalu mengecewakan ya!
Disini jelas banget kalo anaknya Naruto, Ryuu sangat teramat pintar bahkan jenius. Dan tidak perlu disangsikan lagi dunk. Punya ayah pintar masa anaknya tidak pintar juga!
Hehehehe
Setelah kemarin menerima saran nama anaknya, sekarang minta saran lagi dunk! Kira-kira Naruto cocoknya kerja apa ya? Hehehehe…
Oke deh, ditunggu banget kritik dan sarannya ya!
Makasih banget udah mau baca dan mau ripiew tulisan abalku ini.
So, jangan lupa ripiew ya!
Ripiew!
Ripiew!
Ripiew!
