Hi minna!
Pa kabar? Duh maaf ya jangan marah kalau lama banget updet nya! Maklum banyak kerjaan, akhir tahun sih! hehehe..
Maaf banget ya…
Oh ya, yang udah ripiew chap kemarin makasih banget loh!
Clein Cassie: hehe, iya deh maaf kalo kependekan. Tenang perasaan yang sekarang panjang kok! Dan makasih udah suka ama fic abalku ini. kan sengaja biar penasaran jd d potong pas tengah2. Hehehe.. terus ikutin ya, *kasih senyuman lima jari ala Naruto! :p*
Ryevon: oke siap, makasih ya buat sarannya! Ripiew juga ya..
Laven Agrava Gaciall 134: Wieesshh,,,, musnahin Sakura? Tenang di fic aku bakalan gitu, tp gak musnah sadis kok! *Buat yang suka Sakura, maaf ya!*
Ttixz Bebe: hahaha… Ryuu ama Hikari? Gak lah masih kecil, lagian kan gak akan kok! Hehehe.. pokoknya terus ikutin ya!
Rosanaru: Ekspresinya tersembunyi tuh, hehehehe kan Sasuke si tampang dingin! Ya pokoknya ikutin terus, dan ripiew terus ya! Kasih masukkannya, :p
Ryu Cassie: hehehe.. maaf telat ya, tapi tetep ripiew dunk ntarnya… **
Namikaze-Toki: Makasih ya udah suka sama fic aku, hehehe. Kalo soal balikan? Pasti dunk, tapi ditunggu proses nya ya. Hikari emang anak Sasuke ya? Nah loh…! Hehehe Keep ripiew ya!
Kirio-kun: hehehe.. oke deh, mudah2an yang sekarang udah mendingan ya!
Aoirhue Kazune: waahh gak tau tuh kenapa baru update! Hehehe.. maaf ya update nya lama juga nih! Hehehe… mudah2an masih berkenan buat baca terus ya.
Chielasu88: waahh..kurang banyak nanyanya! Hehehe.. di jawabnya pake fic aza, jadi terus ikutin ya! Oke.. hehehe… :p
Namikaze lin-chan: makasih ya buat sarannya. Soal ada Gaara kita lihat aja ya! Hehehe… pokoknya terus ripiew Ya! Makasih
Fanny Amatir Author: Makasih ya buat pantunnya, aku gak bisa bales coz g bisa buat! Hehehe…
Oke deh, pokoknya makasih banget buat yang udah ripiew dan yang udah baca tanpa meninggalkan jejak pun aku makasih banget ya!
Gak mau panjang dan lebar, mendingan baca fic yang mudah2an gak ancur2 amat dan gak buat orang kecewa! Hehehe
'Met baca ya!
…
..
.
Hidupku kini berubah, bukan kebahagiaan untukku yang aku cari. Kini, hidupku adalah miliknya. Kebahagiaan dialah yang paling aku inginkan sekarang. Untuknya, aku akan melakukan apapun yang terbaik. Semoga aku bisa melakukannya.
…
..
.
KEAJAIBAN ITU ADA
Pairing: SasuNaru
Slight SasuSaku
Genre: Romance, Hurt/Comfort
Rate: M
Warning: OOC, Abal, Aneh, Gaje, Miss Typo, Boys Love etc
…
..
.
GAK SUKA PAIRINGNYA?
SILAHKAN TEKAN TOMBOL "BACK"
..
.
SUKA?
'MET BACA YA..
..
.
NARUTO's POV
"Tou-san! Tou-san!"
Dalam hidup ini, terkadang orang selalu percaya ada yang namanya kiamat kecil. Dan itulah yang kini aku rasakan, bumi tempatku berpijak tak lagi bisa menopang bebanku. Langkah demi langkah kakinya terus kuperhatikan dengan seksama, seolah menatap malaikat maut yang datang untuk menjemputku. Genggaman tanganku pada Ryuu semakin kueratkan. RYUU!
'Tidak, Ryuu tidak boleh bertemu dengannya!'
"Tou-san sakit!" Suara lirih Ryuu menyadarkanku akan eratnya genggaman tanganku padanya. "Tou-san kenapa? Sakit? Muka tou-san pucat!" Aku hanya menggelengkan kepala menjawab pertanyaan spontan Ryuu.
"Bisakah kamu tolong tou-san? Di ujung jalan ada warung, tolong belikan tou-san air minum! Nanti tou-san susul kamu! Oke!" Kuberikan beberapa lembar uang, dan tanpa menunggu lama Ryuu segera berlari ke tempat yang aku katakan.
"Tou-san telatt!" Teriakan Hikari tepat setelah Ryuu berlari lumayan jauh. Dengan jantung yang masih berdegup kencang, kubalikkan tubuhku menghadap kembali ke mereka.
"Maafkan tou-san ya!" Kulihat Sasuke sedikit mengelus lembut kepala Hikari. 'Ternyata dia sudah berubah!'
"Tapi beliin aku ice cream ya! Yang banyak!" Hikari terlihat bermanja-manja dengan Sasuke, dan Sasuke sama sekali tidak keberatan.
"Iya. Kalau begitu mari kita pu…." Seketika kudengar Sasuke memotong ucapannya saat mendapati kehadiranku. Memang daritadi aku berada disini, namun Sasuke tak menyadarinya. "Hikari, kamu masuk ke mobil duluan ya!" Sasuke segera memerintahkan Hikari untuk masuk duluan. "Na-ru-to.."
"Hai Sasuke!" Sekuat tenaga aku berusaha untuk tersenyum dan membalas tatapan tak percaya dari Sasuke. "Apa kabar?"
"Baik." Kulihat Sasuke mulai menguasai diri, ya dari dulu memang dia paling pandai menyimpan perasaan kan! "Kapan kembali ke Konoha?"
'Jangan ge-er Naruto, pastinya kepergianku sudah menjadi rahasia umum untuk orang-orang di sekelilingku bukan! Pastinya Sasuke tanpa mencari tahu akan tahu sendiri! Jadi jangan ge-er!'
"Belum lama!"
Tiittt..tiiiittt…..
"Tou-san ayo! Aku pengen cepat pulang!" Sebuah teriakan menyusul bunyi klakson yang terus berbunyi berulang-ulang. 'Tampaknya dia mewarisi sifat tak sabaran ibunya juga ayahnya'
"Naruto, aku…"
"Sebaiknya kamu pergi Sasuke, kelihatannya anakmu sudah sangat tidak sabar!" Aku memotong perkataan Sasuke yang entah kenapa tidak ingin aku dengar.
"Aku.. dia…"
"Sudahlah, lagipula aku juga harus segera pergi!" Ucapku sambil mengalihkan pandangan ke Hinata yang sedikit terabaikan sedari tadi. "Hinata Sensei, sepertinya aku pulang duluan!"
"Oh iya, baiklah!" Kulihat Hinata sedikit terkejut, entah kenapa.
"Aku duluan Sasuke!" Tanpa menunggu jawaban dari Sasuke, aku segera meninggalkan tempat yang hampir membuatku meneteskan air mata.
'Kamu kuat Naruto! Kamu pasti bisa!'
...
..
.
"Tou-san…tou-san baik-baik saja kan?" Ryuu bertanya saat mereka berdua duduk di taman dekat rumah. Dengan perlahan, Ryuu mendekati Naruto dengan heran. Sejak pulang sekolah tadi, ayahnya berubah menjadi pendiam.
"Tou-san baik-baik saja Ryuu!" Naruto meraih tangan Ryuu dan menggenggamnya erat seolah takut akan dipisahkan.
"Tou-san bohong! Sejak tadi, tou-san sama sekali berbeda!" Ryuu menatap tajam Naruto, seakan meminta jawaban jujur.
'Memang susah memiliki anak jenius!'
"Ryuu bolehkah tou-san meminta sesuatu sama kamu?" Naruto menarik Ryuu untuk lebih mendekat padanya. Saat ini mereka duduk berdampingan di bangku taman.
"Apa?"
"Maukah kamu besok ikut tou-san ke toko optik?"
"Untuk apa tou-san? Mata tou-san sakit?" Ryuu tau dengan jelas apa itu toko optik karena pernah diajak kesana oleh nenek Tsunade.
"Tidak!"
"Lalu, untuk apa kita kesana?"
"Maukah kamu memakai kontak lens?" Naruto bertanya tanpa melihat mata Ryuu.
"Kenapa tou-san? Apa tou-san tidak menyukai mataku? Karna berwarna hitam bukan biru seperti tou-san?" Ryuu bertanya dengan lirih, dari dulu dia juga tidak terlalu menyukai warna hitam matanya. Dia selalu ingin memiliki mata seperti tou-sannya. Tapi jika tou-san memintanya untuk memakai kontak lens berarti tou-sannya pun tidak suka dengan matanya. Dan itu membuatnya sedikit sedih.
"Tidak, sama sekali tidak Ryuu! Tou-san menyukai matamu, hanya saja bukankah dari dulu kamu ingin memiliki mata seperti tou-san?" Naruto berusaha setenang mungkin mencari alasan.
"Iya, tapi memangnya nenek Tsunade bakalan kasih izin?" Ryuu ingat dengan jelas bagaimana neneknya melarang dirinya memakai kontak lens.
"Kamu masih kecil Ryuu, lagipula bermata hitam bukan berarti kamu tidak sama dengan tou-sanmu!" Itulah kalimat yang selalu di dengarnya saat dia bertanya kenapa matanya berbeda dengan tou-san.
"Tou-san yakin nenek Tsunade akan kasih kita izin! Jadi kamu mau?"
"Hu'um! Aku mau tou-san!" Ryuu pun tersenyum manis pada Naruto. Dia sangat senang karena matanya akan sama dengan mata orang yang sangat berharga di hidupnya.
'Semoga saja dia takkan menyadarinya!' Naruto hanya mampu berdoa dalam hati saat dia melihat buah hatinya tersenyum saat ia meminta untuk merubah warna matanya. 'Semoga!'
…
..
.
"Kita bertemu lagi Naruto!" Sasuke menegur Naruto saat dia dan Naruto duduk di bangku depan sekolah anak mereka. "Apa kabar?" Pertanyaan Sasuke membuat Naruto menaikkan alisnya.
'Sejak kapan dia suka basa basi?'
"Kabarku baik, Sasuke! Bagaimana denganmu?" Naruto berusaha untuk menarik diri, meskipun gagal.
"Kabarku pun baik." Sasuke menatap tajam Naruto yang tengah menatap ke depan. Sama sekali tidak mau membalas tatapannya.
"Jadi Hikari itu anakmu?" Naruto berusaha bertanya dengan nada normal, dan dia sangat bersyukur berhasil melakukannya.
"Hn."
"Sama sekali tidak berubah ya!" Sasuke refleks menatap Naruto kembali saat mendengarnya. Dan Naruto pun balas menatapnya untuk pertama kali. "Ya kamu sama sekali tidak berubah Sasuke!"
"Hn. Dan Ryuu…?"
"Dia anakku, Ryuusuke!" Naruto berusaha tersenyum, dan dia berhasil tersenyum selalu berhasil bila dia mengingat tentang Ryuusuke.
"Kapan kamu menikah?"
"Eh?"
"Aku bertanya kapan kamu menikah Naruto!"
"Oh, waktu di Suna." Naruto tidak pandai berbohong itu sebabnya dia menjawab pendek saja.
"Lalu, ibunya?"
"Tak ada!" Naruto menjawab singkat. Ya memang Ryuu tidak mempunyai kaasan, karena dialah kaasannya!
"Tak ada?" Sasuke kembali bertanya dan dijawab dengan anggukan dari Naruto.
'Anggap saja begitu Sasuke, aku tak peduli dengan pikiranmu dengan kata "tak ada" itu!'
"Naruto, aku mau minta maaf!" Sasuke menundukkan wajahnya, menyembunyikan ekspresi yang tak biasa yang tergambar dari wajah tampannya.
"Untuk apa?" Naruto bertanya dengan nada yang sedikit sinis. Jujur Naruto sama sekali tidak mengerti dengan kondisi sekarang. Seharusnya, dia membenci Sasuke sama seperti selama ini dia lakukan saat mengingat Sasuke. Namun ada rasa lain yang membuatnya tak sanggup membenci Sasuke.
"Untuk semuanya!"
"Lupakan! Lupakan apa yang terjadi antara kita Sasuke! Anggap semuanya tak pernah ada!" Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Naruto tanpa bisa dia cegah.
"Baiklah. Ngomong-ngomong, kamu kerja dimana sekarang?" Sasuke terlihat berusaha membangun percakapan normal.
"Entahlah, aku sudah mengirim banyak lamaran. Tapi, sampai saat ini belum ada panggilan!"
Perbincangan mereka berdua terpotong oleh bunyi bel yang cukup keras. Dan tak lama kemudian, satu persatu anak-anak mulai berlarian keluar kelas dan mencari orang tua mereka.
"Aku duluan Sasuke!" Naruto pamit tanpa menunggu jawaban Sasuke saat melihat Ryuu berlari kearahnya.
…
..
.
"Hikari, apa kamu mengenal Ryuusuke?" Sasuke bertanya pada Hikari tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan. Saat ini, Sasuke sedang dalam perjalanan menuju rumahnya.
"Tidak, memang kenapa tou-san?" Hikari bertanya dengan jengkel, ya dia selalu jengkel bila tou-sannya bertanya tentang anak lain padanya.
"Tidak apa!" Sasuke tidak bertanya lebih lagi, toh Hikari juga tidak mengenalnya karena beda kelas.
"Tapi ada yang aneh dengannya tou-san!" Hikari tiba-tiba berteriak saat dia mengingat sesuatu.
"Apa?" Sasuke bertanya lembut, ya di depan Hikari tidak ada kata andalannya dan dia berusaha berbincang dalam bahasa normal.
"Matanya tou-san!" Hikari menatap Sasuke sambil menunjuk-nujuk matanya sendiri.
"Memangnya kenapa?" Sasuke bertanya sambil sekilas menatap putrinya.
"Matanya aneh!"
"Aneh?"
"Iya, pertama kali melihatnya matanya berwarna hitam. Tapi hari ini aku melihat matanya berwarna biru, bukankah itu aaaa…"
Kiiiiiiiiittttttttt…..
"Tou-saannn!" Hikari berteriak saat mendapati ayahnya menghentikan mobil mendadak.
"Apa yang kamu katakan tadi?" Sasuke menatap tajam putrinya.
"Yang mana?"
"Yang tadi, matanya hitam?"
"Iya tou-san, matanya hitam!" Hikari menjawab dengan sedikit takut. Diliriknya mata sang ayah yang menghitam tanda dia marah. "Tou-san…" Hikari memanggil ayahnya dengan lirih.
"Ya?"
"Bisakah kita lanjutkan, aku sudah lapar!" Rengek Hikari manja.
"Hn." Dan tanpa berkata lebih lagi, Sasuke kembali menyalakan mobilnya.
'Mungkin hanya kebetulan!' Sasuke berusaha menenangkan dirinya dari segala pikiran.
…
..
.
"Jadi tou-san sudah dapat kerjaan?" Ryuu nyaris berteriak saat mendengar sang ayah sudah mendapat pekerjaan.
"Benar begitu Naruto?" Tsunade pun bertanya heran. Selama ini dia berfikir butuh waktu lebih dari seminggu untuk Naruto mendapat pekerjaan.
"Ya! Hebat bukan?" Naruto berkata dengan bangga. Sejujurnya dia sedikit heran, dia merasa tidak melamar di perusahaan yang tiba-tiba memanggilnya. 'Ah, mungkin aku memang lupa!'
"Jadi mulai kapan tou-san?" Hikari bertanya sambil meraih buku-buku pelajaran yang ingin dipelajarinya.
"Besok!"
"Bukankah sebaiknya kamu segera keluar?" nenek Tsunade bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari tumpukan berkas yang sengaja di bawanya.
"Eh?"
"Tou-san, bukankah tou-san tidak punya jas?" Hikari menjawab pertanyaan yang belum sempat terlontar dari Naruto.
"Kyaaa… kamu benar Kyuu, aku harus segera beli jas!" Tanpa buang waktu Naruto segera berlari keluar meninggalkan kedua makhluk yang tengah menatapnya geli.
"Dasar bocah!" Tsunade memaki bocah kesayangannya pelan sambil menahan tawa. Dimatanya Naruto memang tidak pernah berubah.
"Nek, kalau tou-san di panggil bocah, terus aku apa?"
"Hehehe… kamu bocah jenius! Sudah kerjakan saja peermu itu!" Tsunade berusaha mengalihkan pembicaraan. Bagaimanapun dia sadar, bocah di depannya ini bocah jenius. Mewarisi ayahnya.
'Setidaknya hanya otaknya yang mirip'
…
..
.
NARUTO's POV
'Duh, seharusnya tadi aku bawa motor saja!' Aku bergumam dalam hati sambil terus melangkahkan kakiku meninggalkan toko baju. Tapi setidaknya aku masih keburu membeli setelan jas ini, kalau tidak bagaimana besok?
Aku terus melangkahkan kaki, sambil mengamati perubahan kota yang tidak terlalu mencolok namun tetap ada yang berbeda.
'Bukankah dulu disini tempatnya ya…'
Flashback
"Teme tunggu!" Segera aku berlari menghampiri Sasuke yang telah jauh meninggalkanku. "Hei, bukankah aku bilang tunggu!" Gerutuku saat aku berhasil menyusulnya.
"Lambat!"
"Duh, bukankah kamu tau aku baru saja makan, jadi tidak bisa jalan cepat2 tau!" Balasku kesal.
"Salah sendiri makannya banyak! Kamu makan seperti orang gila!"
"Oh, ayolah teme! Kamu tahu kan aku suka sekali dengan ramen!"
"Tapi tidak dengan makan seperti tadi dobe!" Kuingat kembali seperti apa tadi aku makan. Karena senang, aku makan ramen jumbo 5 mangkok!
"Hehehe…"
"Jangan tertawa!" Sasuke melototiku dengan tajam.
"Hei, jangan melotot begitu teme!"
"Kamu makan makanan yang akan membuatmu cepat mati tau!"
"Aih.. teme…! Kamu …."
"Diam bodoh!"
"Kamu bodoh! Mana mungkin ramen membuatku mati? Malah kalau tidak ada ramen, aku yang mati!"
"Dobe!"
"Hei,,, jangan panggil aku dobe, teme!"
"Dobe!"
"Teme!"
"Dobe!"
"Teme jelek!"
"Baka Dobe!"
"Teme pelit!"
"Dobe jelek!"
"Itu kataku tau!"
"Dobe!"
"Teme nyebeliiinn!"
"Dobe I LOVE U!"
"Teme no ba…. Eeeehhhh?"
"Dobe I LOVE U!"
"Teme.. kamu….?"
"Baka!"
"Temee… serius.. kamu.. kamu…?" Aku terus bertanya, dan kuyakin wajahku memerah mendengar ucapannya tadi.
"Jadi dobe?"
"Eh?"
"Dobe?"
"Hehehe… I LOVE U TOO!" Aku menjawab sambil berjalan meninggalkan Sasuke yang tak lama menyusulku dan menggenggam tanganku erat.
"Semoga kita selalu bersama, dobe!"
Flashback off
'Ternyata kita tak selalu bersama teme! Dan kamu yang mengingkarinya!'
Dengan gontai segera aku meninggalkan tempat ini, tempat dimana Sasuke menyatakan perasaannya. Semua sudah berlalu memang, tapi rasa sakit ini tetap ada dan begitu nyata.
'Ya ampunnnn!'
Langkah kakiku langsung berhenti, detak jantungku ikut berhenti melihat pemandangan itu. Disana ada 3 sosok yang sedang asyik berbincang. Gambaran keluarga bahagia dan harmonis. Wanita cantik berambut pink, bocah manis yang berwajah sama seperti ibunya, dan sosok yang menganggu setiap tidurku dari dulu sampai sekarang. Itu keluarga Uchiha Sasuke, lengkap dengan istri dan anaknya.
'Ternyata memang hidupmu telah bahagia Teme!'
Dengan sekuat tenaga aku menahan tangis yang hampir tumpah. Setidaknya aku harus bersyukur, diantara kita ada yang bahagia. Meski itu hanya kamu teme!
NARUTO's POV end
…
..
.
"Perkenalkan nama saya Uzumaki Naruto. Mohon bantuannya!" Naruto memperkenalkan diri dengan senyum lima jari andalannya. Saat ini, Naruto memulai aktifitasnya dengan bekerja di sebuah kantor cabang pemasaran sebagai staff administrasi.
"Selamat datang Uzumaki, perkenalkan saya Temari. Mulai saat ini kita rekan satu tim. Saya harap kita bisa bekerjasama dengan baik."
"Naruto, panggil saya Naruto. Iya saya harap juga begitu." Naruto berusaha ramah pada wanita yang bernama Temari.
"Disini meja kerjanya Naruto!" Temari menunjuk meja kerja Naruto yang tak jauh dari meja nya sendiri.
"Terima kasih!" Naruto menunduk dan segera melangkahkan kakinya menuju meja kerjanya.
'Mulai saat ini disinilah aku, mudah-mudahan semuanya lancar!' Naruto berdoa, sambil mengeluarkan bingkai foto kecil diatas meja.
"Itu siapa Naruto?" Suara Temari mengagetkan Naruto, beruntung bingkai fotonya tidak lepas dari tangannya.
"Iya, dia anakku!" Naruto memandang lembut bingkai foto yang memperlihatkan gambaran dirinya juga Ryuusuke yang tengah di pangkunya.
"Berapa tahun?"
"Bukankah sebaiknya kalian bekerja? Temari, Naruto!" Sebuah suara mengagetkan mereka berdua. Yamanaka Ino, kepala bagian keuangan yang tengah menatap Naruto serta Temari dengan tajam.
"Iya." Temari menjawab pelan dan kembali ke mejanya meninggalkan Naruto yang menunduk malu.
'Hari pertama sudah kena teguran nih!'
"Oh ya, Naruto hari ini ada rapat jam 10. Saya harap kamu bisa hadir supaya tahu kondisi kantor ini seperti apa!"
"Baik!" Naruto menjawab pelan, dan melihat atasannya meninggalkannya tanpa mengucapkan sepatah dua patah kata lagi.
"Naruto, sebaiknya kamu bersiap. Sebentar lagi rapatnya akan mulai, oh iya aku kasih tau sedikit atasan kita pemilik perusahaan ini terkenal sadis. Jadi sebaiknya kamu hati-hati!" Temari memperingatkan Naruto dengan suara pelan.
"Terima kasih Temari!" Naruto segera mempersiapkan diri, dia sama sekali tidak ingin ditegur di hari pertamanya bekerja.
"Ayo Naruto!" Temari mengajaknya pergi ke ruang rapat, diliriknya jam di dinding yang menunjukkan jam 10 kurang 10 menit. 'Memang tidak ada salahnya datang lebih awal bukan?' Naruto pun mengikuti langkah kaki Temari menuju ruang rapat.
Sesampainya mereka di ruang rapat, ternyata Naruto bukanlah orang yang pertama kali datang ke ruangan itu. Disana sudah ada beberapa orang yang datang, termasuk Yamanaka Ino atasannya. Dilihatnya sang atasan memberinya kode untuk mendekat, dengan cepat Naruto mendekati Yamanaka Ino.
"Ini karyawan baru kita, Uzumaki Naruto! Dan Uzumaki, perkenalkan ini pemilik perusahaan ini. Uchiha Sasuke!"
Naruto terdiam saat dilihatnya atasannya memperkenalkan orang yang tak asing untuknya!
'Kenapa harus dia?'
…
..
.
Chap 3 End
..
.
Huaa… akhirnya selesai juga! Gimana? Panjang gak? Kayaknya gak panjang2 amat deh! Hehehehe…
Kayaknya jelek, abal, aneh dan sebagainya ya, tapi aku harap gak ancur2 amat ich..
Chap sebelumnya banyak yang protes terlalu pendek, makanya chap sekarang aku panjangin. Mudah2an puas ya!
Makasih banget buat yang udah baca..
Mohon ripiewnya ya!
Kasih tau dimana kekurangannya! *padahal banyak banget tuh kurangnya!*
Hehehe
Ripiew ya!
Makasih!
;)
