Hi minna!
Oke aku tahu, aku minta maaf ternyata aku sama sekali tidak bisa update cepat. Habis mau gimana lagi, lappie masih di kakak so aku cuma bisa ngerjain kalo di kantor. Itu pun kalo gak banyak kerjaan. Hehehe.. jadi buat yang nungguin *pede bgt ich* aku minta maaf ya.
Dan makasih buat yang udah ripiew chap sebelumnya.
Botol Pasir, Imperiale Nazwa-chan, ryevon, Clein cassie, ttixz bebe, ryu cassie, noonacomplicated, Yashina Uzumaki, Rosanaru, meiyo fujo, RuCho D'Evil, Queen The Reaper, BlueCassie
Makasih banget atas kesediaannya meripiew fic abalku ini. Dan juga buat yang udah baca namun tak meninggalkan jejak di fic sebelumnya makasih ya.
Pokoknya ditunggu juga loh ripiewnya, makasih banget.
Udah ah, gak mau banyak ngomong, met baca ya!
Jangan lupa ripiew loh!
…
..
.
Tak ada yang tak mungkin dalam hidup ini,
Selalu ada hal yang di luar nalar,
Selalu ada hal yang tak bisa dijelaskan dengan logika,
Karena,
Keajaiban itu ada
…
..
.
KEAJAIBAN ITU ADA
Pairing: SasuNaru
Slight SasuSaku
Genre: Romance, Hurt/Comfort
Rate: M
Warning: Gaje, OOC, miss typo, Boys love etc
…
..
.
GAK SUKA?
GAK USAH BACA YA!
..
.
"Katakan padaku sekarang juga Namikaze Naruto! Sebenarnya Ryuu itu anakku kan?" Untuk kesekian kalinya Sasuke bertanya dengan amarah yang mulai menguasai dirinya. Tak dipedulikan tempatnya berada kini.
"Aku…." Naruto sama sekali tak mampu menatap balik Sasuke yang tengah menatapnya dengan marah. 'Apakah ini saatnya? Tapi apakah ini yang terbaik?'
"Naruto…."
'Tidak, Sasuke sama sekali tidak boleh tahu siapa Ryuu yang sebenarnya!'
"Naruto… jawab pertanyaanku!" Sasuke berteriak cukup keras, keinginannya untuk mengetahui kebenaran tentang Ryuu membuatnya melupakan sikap dingin yang selama ini dijaganya.
"Hahaha…. Jangan becanda Sasuke! Kamu kira Ryuu itu anakmu? Lantas sapa yang melahirkan Ryuu? Aku?" Naruto berusaha bersikap senormal mungkin, bahkan dia sukses tertawa seperti biasanya. "Sekarang aku yang bertanya padamu Sasuke, mungkinkah aku hamil? Bisakah aku hamil, hah?" Sikap sinis Naruto sama sekali tak membuat Sasuke percaya begitu saja.
"Aku tidak tahu, tapi semuanya menunjukkan kalau Ryuu itu mirip denganku!" Sasuke tak mau kalah, dipikirannya saat ini adalah dia menyakini kalau Ryuu anaknya namun dia memerlukan bukti yang lain. Bukti yang hanya dimiliki oleh Naruto.
"Mirip? Apanya yang mirip?" Naruto mulai merasa cemas. Sasuke bukanlah orang yang berotak dangkal malah dia orang yang amat sangat jenius dan sangat sulit untuk membodohinya.
"Baiklah, kalau begitu jawab semua pertanyaanku kalau kamu mampu!" Sasuke akhirnya memilih untuk menggunakan otaknya. 'Aku yakin, aku takkan bisa menang dari sifat keras kepalanya.'
"Oke!"
"Apa warna bola mata Ryuu?"
"Eh? Untuk apa ka-"
"Hei, bukankah kamu setuju untuk menjawab semua pertanyaanku dan tanpa alasan!" Dengan tegas Sasuke memotong protes Naruto.
"Biru."
"Bohong! Bola mata Ryuu adalah hitam Naruto!"
"Kenapa kamu bisa tahu? Opsss.." Naruto menyesali pertanyaan bodohnya.
"Hitam, dan kenapa kamu menyuruhnya memakai kontak lensa? Padahal umurnya masih sangat belia?" Sasuke menatap tajam Naruto, mencoba melihat matanya yang sedaritadi tak melihat padanya.
"Itu karena Ryuu sangat ingin memiliki mata sama sepertiku!" Naruto masih berusaha berkelit dengan Sasuke.
"Ayolah Naruto, jelas Ryuu bilang kalau dia sama sekali tidak tahu apa-apa. Dia memakai kontak lensa tepat setelah kita bertemu. Benar kan?" Sasuke sama sekali tak bisa menyembunyikan rasa kesalnya akan tingkah Naruto saat ini.
"Itu hanya kebetulan Sasuke!"
'Ternyata dia masih belum mau jujur juga!'
"Golongan darah Ryuu sama denganku Naruto!"
"Itu semua hanya kebetulan!" Naruto berteriak dengan lantang, dia pun beranjak dari tempat duduknya. Berdiri menghampiri Sasuke dan menatap tajam matanya. "Semuanya hanya kebetulan! Ryuu adalah anakku, bukan anakmu!"
"Oh ya?" Sasuke pun bangkit dan kini berdiri berhadapan dengan Naruto. "Kalau begitu siapa ibunya? Mana ibunya hah?"
"Itu… itu sama sekali bukan urusanmu!"
"Katakan dengan jujur Naruto! Ryuu anakku, dia anakku kan? Aku tahu ini sama sekali mustahil, tapi aku merasa dia anakku."
"Tidak. Dia anakku!"
"Akui Naruto, dia anakku bukan?"
"Tidak, dia bukan anakmu Sasuke! Bukan dan bukan!"
"Iya!"
"Tidak!"
"Iya.."
"Tidak.. tidak.. dan tidak!"
"Semakin kamu menyangkal, semakin aku yakin Ryuu anakku Naruto!"
"Tidak….."
"Iya.."
"Tatap mataku Naruto!" Seketika dan tak diduga, Sasuke meraih dagu Naruto dan memaksanya untuk menatap matanya. "Sekarang tatap mataku, dan katakan yang sebenarnya!"
"Aku…." Naruto merasa kehilangan tenaganya untuk mengelak, Sasuke selalu berhasil mengintimidasinya bila ia berbohong. Selalu dan selalu berhasil.
"Katakan yang sebenarnya, Ryuu anakku kan?" Sasuke menatap tajam Naruto, seketika dia merasa mendapatkan jawabannya.
"Iya. Iya dan iya! Puas kamu hah?" Naruto menepis dengan kasar tangan Sasuke. "Ryuu memang anakmu! Puas sekarang?"
"Ryuu anakku?" Seketika Sasuke ambruk, kenyataan yang memang telah diprediksi olehnya sama sekali tidak mengurangi syok yang menderanya.
'Ternyata Ryuu memang anakku! Anakku…'
…
..
.
Naruto's POV
"Minumlah Naruto!" Sebuah tepukan di pundakku serta segelas minuman hangat telah ada di depanku.
"Nenek Tsunade.." Aku hanya bisa bergumam pelan sambil meraih minuman yang disodorkannya. Aku memang membutuhkan sesuatu untuk menghilangkan sesak di dadaku ini.
"Sekarang bagaimana?" Pertanyaan nenek Tsunade sontak membuatku berhenti minum. Aku tahu maksud nenek Tsunade, sekarang bagaimana?
"Entahlah nek, aku bingung!" Aku sama sekali tidak tahu harus bicara apalagi. Aku benar-benar bingung akan semua ini. Rahasiaku akhirnya terbongkar begitu saja.
"Aku rasa dia memang berhak tahu tentang Ryuu, Naruto! Toh dia memang ayahnya!"
'Aku tahu, tapi keadaannya sekarang menjadi sulit!'
"Bukankah sekarang yang harus kita pikirkan adalah Ryuu. Dia yang terpenting sekarang Naruto!"
"Eh?"
"Apakah kamu sudah tahu alasan Ryuu celaka?"
"Aku sama sekali tidak tahu nek. Mungkin aku baru bisa tahu kalau Ryuu sudah sadar." Aku memang sangat penasaran dengan kejadian yang menimpa Ryuu. Kenapa dia sampai jatuh dan terluka? Kenapa pula kaca itu bisa pecah?
"Iya, kita hanya bisa menunggunya sadar dan bertanya padanya. Ngomong-ngomong kapan kamu akan mengatakan semuanya pada Ryuu?"
"Entahlah, mungkin setelah dia sembuh!" Aku hanya bisa menjawab seperlunya, kuteguk kembali air yang sedari tadi kugenggam. Entah kenapa aku merasa sangat takut, aku takut dengan reaksi Ryuu.
"Takut?" Seakan mengetahui isi hatiku nenek Tsunade menggenggam tanganku. Ada kehangatan yang membuatku sedikit berkurang rasa takutku.
Aku hanya menatapnya dan mengangguk pelan. Aku memang takut dan tanpa diucapkan aku yakin nenek Tsunade bisa mengerti. Karena memang dialah yang paling mengerti aku.
'Aku bukan takut akan reaksi Ryuu, tapi aku takut dengan reaksi semuanya!'
Naruto's POV end
…
..
.
Sasuke's POV
'Ciiiiiiiiiiiiiitttttttttttt….'
Tanpa menghiraukan semua omelan pengemudi di belakangku, aku menginjak rem sekuat tenaga. Sesak, itulah yang kurasakan saat ini.
"Ternyata Ryuu anakku, dia anakku!" Aku benar-benar bingung harus bereaksi apa saat ini. Senang? Sedih? Marah? Kecewa? Aku sama sekali tidak tahu harus bereaksi apa, semua perasaan yang ada menghinggapi di dada.
'Kenapa? Kenapa dia merahasiakan semua ini?' Begitu banyak yang ingin aku tanyakan, namun rasa kagetku yang membuatku tak bisa bertanya lebih lagi pada Naruto.
Biip..biip..
From: Sakura
Sasuke km dmn? Hikari skt, tolong segera plg!
'Hikari sakit? Bukankah tadi pagi dia masih baik-baik aja?'
To : Sakura
Aku plg skrg
Send
Tanpa menunggu lama aku segera masuk kedalam mobil, dan langsung menuju rumah. Rumah? Ah, rumah ya. Aku tak tahu masih pantaskah itu disebut sebagai rumah. Andai bukan karena Hikari, mungkin sudah lama aku pergi dari rumah itu. Tempat yang tak layak disebut sebagai rumah. Amat sangat tak layak.
"Anda sungguh beruntung!"
"Kamu tahu Sasuke, kamu sangat beruntung! Punya pekerjaan, harta melimpah, istri cantik juga anak yang tak kalah cantik!"
Semua ucapan-ucapan yang aku dapatkan, hanya karena itulah yang mereka lihat dariku selama ini. Kekayaan, istri cantik juga seorang putri yang meskipun masih kecil namun bisa dibanggakan. Menurut mereka, aku bahagia. Tapi kebahagiaanku tak pernah lengkap. Takkan pernah lengkap 'tanpanya' dan kini ada kebahagiaan lain yang ternyata telah aku lepas begitu saja.
'Aku harus bisa mendapatkan Ryuu! Dia harus menjadi Uchiha Ryuusuke! Harus!'
Sasuke's POV end
…
..
.
"Ayolah sayang, bukankah sebaiknya kamu makan! Biar cepat sembuh!" Naruto kini tengah berusaha keras membujuk Ryuu untuk mau menyentuh makanannya. Setelah Ryuu sadar, Naruto kini harus menghadapi satu lagi beban yang tak kalah berat.
"Aku tidak mau makan!" Ryuu, bocah dengan balutan perban di kepalanya sama sekali tidak mendengarkan ucapan Naruto. "Aku mau makan bila tou-san mengatakan yang sebenarnya!" Ryuu mengancam Naruto sambil kembali tiduran.
"Tapi Ryuu…"
"Tidak, pokoknya sebelum tou-san menjelaskan semuanya aku tidak akan makan!" Ryuu berteriak kencang kemudian berbalik memunggungi Naruto yang menatapnya dengan sedih.
'Haruskah aku mengatakan semuanya?'
Flashback
"Ryuu.. syukurlah, kamu benar-benar sudah membuat tou-san cemas!" Naruto tanpa basa-basi langsung memeluk Ryuu begitu tahu kalau dia sudah sadar.
"Maafkan aku tou-san!" Ucapan lirih Ryuu mau tak mau membuat Naruto heran dan melepaskan pelukannya.
"Kamu sama sekali tidak salah sayang. Tapi kalau boleh tau, kenapa kamu sampai seperti ini?" Naruto memutuskan langsung bertanya, kejadian yang menimpa Ryuu sama sekali tidak bisa dicerna olehnya.
"Aku mendengar semua pembicaran tou-san dengannya."
Degh..
'Apa karena itu Ryuu terluka? Karena mendengar perdebatanku dengan Sasuke?'
"Tou-san…." Ryuu menarik baju Naruto, meminta perhatian Naruto yang tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Iya sayang?" Naruto kembali melihat wajah Ryuu yang sudah dibalut oleh perban.
"Apa yang diucapkan oleh paman Sasuke benar? Benarkah dia tou-sanku? Kalau dia tou-sanku terus…." Ryuu tak meneruskan kalimatnya, namun dipandangnya Naruto dengan dalam. Dan Naruto tahu maksud anaknya.
"Kamu adalah anakku, darah dagingku Ryuu!" Naruto kembali memeluk Ryuu, seolah menyakinkan Ryuu akan kata-katanya.
"Kalau begitu, kenapa paman Sasuke bilang kalau aku anaknya? Kenapa tou-san?" Ryuu mendorong cukup keras, dan itu mampu membuat Naruto melepaskan pelukannya. Syok, mungkin itu yang dirasakan Naruto. Tak pernah sekalipun Ryuu mendorongnya agar melepaskan pelukan, sama sekali tak pernah. Dan mata itu..
"Ryuu.. Naruto.. " Nenek Tsunade datang, dan kedatangannya cukup membuat Naruto menghela nafas lega. "Naruto sebaiknya kamu pulang dulu dan ganti pakaian. Biarkan Ryuu istirahat!"
"Tapi…" Serempak Naruto juga Ryuu berteriak protes, namun seperti biasanya protes mereka selalu kalah oleh tatapan tajam nenek Tsunade.
Flashback off
"Tou-san! Tou-san!" Teriakan kencang langsung membangunkan Naruto dari lamunannya. Dilihatnya kini Ryuu tengah menatapnya dengan tajam. "Tou-san mau mengatakan yang sebenarnya apa mau melihatku mati kelaparan sih?" Perkataan Ryuu sontak membuat Naruto tersenyum lebar, berbanding terbalik dengan Ryuu yang menatapnya dengan cemberut.
"Iya, iya.. hahaha…" Naruto segera mengakhiri tawanya saat dirasa tatapan Ryuu berubah semakin tajam. "Maaf sayang, ya sudah sekarang kamu makan ya! Tou-san janji setelah kamu keluar dari rumah sakit, tou-san akan cerita semuanya!" Naruto segera mengambil mangkok yang berisi bubur dan dengan perlahan disuapinya Ryuu yang menerima suapannya dengan senyum khasnya.
"Janji ya tou-san!"
"Iya tou-san janji!" Naruto pun menerima uluran jari Ryuu dan mengikatkannya dengan jari kelingking miliknya, tanda janji itu telah disepakati.
'Semoga dia masih bisa tersenyum setelah mengetahui semuanya!'
…
..
.
Kediaman Uchiha Sasuke
Dengan amat sangat perlahan dia berjalan memasuki bangunan megah yang tak lain adalah rumahnya sendiri. Tanpa basa-basi, langkah kakinya segera menuju ke lantai 2. Dibukanya pintu dengan perlahan, di kamar yang luas itu ada sosok gadis kecil yang tengah tertidur dengan lelapnya.
'Dia selalu manis kalau sedang tidur' Dibelainya rambut pink putri kecilnya, ada handuk kecil yang menghiasi di kepalanya. Nampaknya tadi habis di kompres, dan diraihnya dahi itu untuk mengukur suhu badannya sekarang. 'Badannya tak panas lagi, syukurlah.'
Ditutupnya kembali pintu kamar yang didominasi pink, setelah mencium dahinya Sasuke memutuskan untuk ke kamarnya. Memutuskan untuk segera mandi kemudian tidur, rasanya seluruh badannya terasa sangat lelah saat ini.
'Apa yang harus aku lakukan sekarang?' Pertanyaan itu kembali hadir untuk kesekian kalinya. Ya, saat ini Sasuke merasa dirinya teramat bodoh. Bodoh karena telah melepas kebahagiaannya dulu, melepas orang yang amat sangat dicintainya. Dan sekarang, sanggupkah dia kehilangan putra kandungnya sendiri?
'Apakah selama ini Ryuu pernah kesulitan?'
"Sepertinya tidak, meski tak berlebih tapi aku yakin dia tak pernah kesulitan." Sasuke menjawab sendiri pertanyaan yang keluar dari hatinya.
'Apakah Ryuu sama egoisnya dengan dirinya juga tak kalah keras kepala dengan Naruto?'
"Tidak, melihat dia begitu mendengar dengan baik ucapan Naruto tampaknya dia tidak sekeras kepala dan seegois kami"
'Dan syukurlah Ryuu tumbuh menjadi anak yang cerdas!'
"Sudah pasti itu, bukankah dia seorang Uchiha!" Sasuke pun tersenyum sendirian, namun senyum itu tak bertahan lama. "Tunggu, dia Namikaze Ryuusuke! Tidak, tidak boleh! Dia harus ganti namanya menjadi Uchiha Ryuusuke! Ya Uchiha Ryuusuke!" Dengan senyum yang kembali mengembang, Sasuke kembali ke alam yang lain.
'Aku akan membuatnya menjadi Uchiha Ryuusuke! Harus!'
…
..
.
Chap 5 end
..
.
xixixi… sebentar ya siapin tempat sembunyi dulu! ngerasa salah soalnya.
Hehehe.. gimana? Jelekkah? Ngaco? Duh maaf ya kalau jelek, abis gimana dunk.
Tapi seperti apapun itu, please review ya! Kasih tau jeleknya, abalnya, ngaco nya dimana! Oke
Makasih ya sebelumnya, dan makasih banget buat yang mau baca fic gaje ku ini.
Ripiew ya
Thank you….
