Hi Minna…
Oke aku minta maaf banget sebelumnya, soal keterlambatan update! Hehehe… maaf banget ya, ada sesuatu yang sulit aku jelaskan *lagian ntar di kira nyari alasan*. Pokoknya maaf banget, tapi syukur deh aku bisa lanjutin chap nya. Mudah2an gak mengecewakan ya!
Makasih juga buat yang udah ripiew chap sebelumnya, makasih banget buat masukannya, pokoknya makasih banget ya. ^_^
Makasih banget buat:
Botol Pasir, Clein cassie, Queen The Reaper, cute apple, ThELitlleOraNgE, Anime Lover Ya-ha, ryu cassie, Yashina Uzumaki, Rosanaru, Satsuki Naruhi, Aoi Ko Mamoru, Imperiale Nazwa-chan
Juga makasih buat yang udah baca chap sebelumnya meski tanpa meninggalkan jejak. Aku harap masih mau membaca fic gaje bin abalku ini ya! Ripiew juga, karena ditunggu masukannya.
Oke gak mau banyak omong lagi, met baca ya! *Kayak ada yang baca neh! Padahal ngarep banget! Hehehe*
Mudah2an tidak terlalu mengecewakan ya..
…
..
.
Tak ada yang tak mungkin dalam hidup ini,
Selalu ada hal yang di luar nalar,
Selalu ada hal yang tak bisa dijelaskan dengan logika,
Karena,
Keajaiban itu ada
…
..
.
KEAJAIBAN ITU ADA
Pairing: SasuNaru
Slight SasuSaku
Genre: Romance, Hurt/Comfort
Rate: M
Warning: Gaje, OOC, miss typo, Boys love etc
…
..
.
GAK SUKA?
GAK USAH BACA YA!
..
.
Tsunade's POV
Aku tak tahu, untuk pertama kalinya aku tak tahu apa yang harus aku katakan pada Naruto. Sejak kepulangan Ryuu dari rumah sakit, meskipun selalu ditutupi tapi aku tahu ada kegalauan dalam hatinya. Bagaimana tidak rahasia yang selama ini disembunyikan kini mulai terkuak tanpa bisa dibendung lagi.
Flashback
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
Kalimat itulah yang diucapkan Naruto saat keluar dari kamar Ryuu, setelah mengetahui kenapa Ryuu bisa sampai terluka.
"Tenanglah Naruto!" Sebisa mungkin aku ingin menenangkan sosok yang biasanya ceria kini tengah duduk dengan wajah yang tak karuan.
"Bagaimana aku bisa tenang? Semuanya sudah terbongkar! Bahkan Ryuu… Ryuu…" Tak ada lagi kata yang keluar dari mulutnya, aku hanya bisa memeluknya seperti saat pertama kali dia memutuskan untuk pergi.
"Ssshh… tenanglah…" Aku terus berusaha menenangkan Naruto yang kini berada dalam pelukanku, menangis seperti anak kecil. Untuk pertama kalinya, aku tak ingin memukul atau memarahinya. Aku tahu persoalan yang dihadapinya teramat berat, bahkan aku pun hanya bisa menahan sakit melihat penderitaannya. "Aku yakin semua akan baik-baik saja!" Aku mencoba menyemangatinya, meski aku tahu itu sama sekali tidak berpengaruh apa-apa.
"Terima kasih, nek!" Naruto tersenyum, namun aku tahu senyuman itu senyum palsunya.
Flashback off
"Tapi bukankah tou-san sudah berjanji untuk cerita semuanya?" Aku mendengar suara protes yang berasal dari kamar Ryuu. Dengan pelan kubuka pintu yang tak tertutup sepenuhnya, kulihat Ryuu sedang duduk d tempat tidur sedangkan Naruto tengah duduk dihadapan Ryuu.
"Tou-san tahu, tapi sekarang saatnya kamu tidur!" Naruto menarik selimut dan berusaha menyelimuti Ryuu, yang sama sekali menolak untuk berbaring.
"Aku belum ngantuk tou-san!"
"Tou-san tahu, tapi sekarang waktunya tidur. Ingat kamu baru keluar dari rumah sakit, dan masih perlu istirahat!"
"Tapi tou-san sudah janji….." Kini Ryuu mulai merengek, mengandalkan jurus andalannya.
"Ryuu.. tou-san.."
"Aku ingin.."
"Sebaiknya kamu tidur Ryuu!" Aku masuk dan menyela pertengkaran yang aku tahu Naruto akan kalah di dalamnya. "Tidur sekarang, atau kamu mau kembali ke rumah sakit?" Sengaja kunaikkan sedikit nada bicaraku, dan berhasil. Meski dengan wajah cemberut, Ryuu menarik selimutnya dan mulai memejamkan matanya setelah mengucapkan selamat malam padaku juga pada Naruto.
"Maafkan tou-san!" Kudengar ada nada getir saat Naruto mengucapkannya, mencium keningnya kemudian memutuskan untuk mengikutiku keluar.
"Sekarang apa yang akan kamu lakukan Naruto?" Aku langsung bertanya saat Naruto duduk di depanku di ruang keluarga.
"Aku tak tahu nek!" Kutatap tajam Naruto yang menundukkan kepalanya, bahkan aku lupa kekesalan yang biasanya datang saat dia menyebutku dengan panggilan 'nek'.
"Kamu harus…"
"Aku tahu nek! Aku tahu!" Naruto memotong ucapanku dengan nada kesal. "Aku tahu, tapi aku tak tahu cara bagaimana memberitahukan semuanya nek!"
"Naruto.."
"Bisakah nenek bayangkan, aku memberitahukan pada Ryuu bahwa Sasuke memang ayahnya. Lantas aku ini apa? Haruskah aku bilang padanya, kalau sebenarnya akulah yang telah melahirkannya? Aku tahu Ryuu masih kecil, tapi aku dan nenek tahu kemampuan otaknya bukan?"
"Tapi Naruto…."
"Aku tidak siap nek!" Naruto terus meracau tanpa memperdulikan protesku. "Ryuu terlalu kecil untuk mengetahui apa yang terjadi pada orang tuanya! Untuk mengetahui bahwa orang tuanya berbeda dengan orang tua yang lain! Bahwa orang yang dipanggilnya ayah selama ini adalah ibunya! Dia terlalu kecil untuk beban ini, nek!"
"Naruto.." Tak bisa lagi kubendung tangis yang perlahan keluar, melihat Naruto terpuruk seperti ini mengingatkanku pada Naruto yang dulu.
"Aku tak bisa nek! Aku tak bisa kehilangan Ryuu…" Suara Naruto terdengar parau, dengan cepat aku duduk di sampingnya. Meremas tangannya, mencoba membagi kekuatanku padanya.
"Tenanglah, memang sulit! Tapi aku yakin Ryuu bisa menerima semuanya!"
"Aku tidak yakin…."
"Sebaiknya kamu istirahat Naruto.." Aku memaksa Naruto bangkit dan beristirahat. Tanpa banyak kata, Naruto segera berlalu dari hadapanku.
"Seandainya dulu aku tak membiarkannya, mungkin ini takkan terjadi!"
Flashback
'Semua sudah selesai, sepertinya aku bisa mampir untuk melihat keadaannya!' Tanpa ragu kulangkahkan kakiku menjauh dari klinik tempatku bekerja. Bukan untuk kembali ke rumah, melainkan pergi ke sebuah apartement yang lumayan jauh dari klinik.
'Aku rasa aku akan membuatnya kaget setengah mati!' Senyuman licik terukir di bibirku, dengan perlahan aku memutar kunci cadangan yang sudah lama tak kupakai karena memang aku tak pernah bisa berkunjung lagi.
Kosong
'Apa dia pergi ya?'
"Acchh….."
Sebuah suara menghentikan langkahku yang ingin keluar dari apartement saat kutahu apartement itu kosong. Namun sepertinya aku salah. 'Ternyata dia sudah dewasa…'
"Oughh…ach…sudah jangan menggodaku terus…achhh…"
Itu suara Naruto, dengan perlahan aku menuju kamarnya tempat suara itu berasal. Kubuka perlahan pintu yang memang kebiasaan Naruto tak pernah mengunci kamar tidurnya. Apa yang aku lihat sungguh membuatku kaget, tapi entah kenapa aku tersenyum.
"Acchh….ougghhh…."
Meski aku tak melihat secara jelas, tapi aku tahu pasti apa yang membuat Naruto mengerang begitu. Disana, di tempat tidur Naruto tengah menari dengan selimut yang menutupi bagian perut kebawahnya. Sedangkan di dalam selimut ada sosok yang tentunya tak bisa aku lihat.
"Ougghhh… yess.. ougghh… aku mau keluar….acchhh…..acchhh…..aku….aku…aarrggghhhhh…aku keluaaaaaaarrrrrr….." Naruto menjerit dengan penuh nikmat saat kenikmatan itu menyerangnya.
Dengan senyum geli, aku memutuskan untuk menutup kembali pintunya. Sama sekali tak ingin mengganggunya juga pacarnya.
"Payah…"
Deggghh… itu…
Dengan gemetar aku membuka kembali pintu yang tadi sempat kututup. Dan apa yang ada dihadapanku nyaris membuatku mati mendadak.
UCHIHA SASUKE
Naruto bercinta dengan Uchiha Sasuke, itu artinya Naruto…
"Ugghh… itu karena kau teme!" Ada nada merajuk manja dalam suara Naruto.
"Hn."
"Baiklah..baiklah.. aku kalah, aku tak bisa menahan diri dari godaanmu! Puas?"
"Tentu, kau takkan pernah bisa menahanku dobe!"
"Sombong…"
"Tapi.. aku pun tak pernah bisa menahan diri untuk melakukan ini dobe…"
"Acchhh…..temee…."
"Suka heh?"
"Sshhh…ougghhh…jangan menggodaku terus teme! Acchhh…."
"Kamu manis Naruto, ughhhh..tempatmu selalu sempit.."
"Teme…"
"Naruto…"
Tanpa suara aku segera keluar dari tempat itu, aku merasa sangat pusing. Aku terus berlari dan berlari.
'Tak mungkin, Naruto tak mungkin…. Tapi bagaimana bisa…..' Aku terus bertanya tanpa aku tahu jawabannya, bahkan tanpa aku peduli aku terus berjalan seolah berharap aku segera bangun.
Namun aku tahu itu semua nyata, bukanlah mimpi.
Setelah kejadian itu, aku menyibukkan diri dengan segudang pekerjaanku. Mencoba melupakan apa yang terjadi disana.
Tok..tok..tok…
"Masuk!" Aku menjawab ketukan pintu tanpa sekali pun aku melepaskan mataku dari tumpukan laporan yang harus kuselesaikan.
"Nenek Tsunade…." Sebuah suara yang amat familiar seketika membuatku terdiam tak bergerak. "Halo… nek, baik-baik saja kan?" Lambaian sebuah tangan tepat di wajahku menyadarkanku kembali.
"Oh, Naruto! Tumben kesini, ada apa?" Sebisa mungkin aku menyembunyikan semua rasa yang berkecamuk saat melihat bocah yang aku sayangi.
"Hehehe…" Cengiran khasnya yang selalu bisa membuatku tersenyum kini muncul. "Iseng, habis nenek Tsunade tak pernah mau mampir ke tempatku sih!"
Degghh….
Ucapan ringan Naruto membuatku kembali melayang ke kejadian yang lalu.
"Halo….."
"Cih.. berisik! Dasar bocah! Aku sedang sibuk, makanya tak sempat mampir!" Aku segera bersikap seperti biasa lagi. "Kalau tak penting, sebaiknya kau pulang saja Naruto!"
"Kata sapa tidak penting!" Naruto langsung memasang wajah cemberut, dan mau tak mau membuatku menghela nafas. 'Aku memang tak bisa menghindarinya!'
"Oke, lalu ada apa?"
"Bolehkah aku bertanya padamu nek?" Kulihat Naruto sedikit ragu, tapi saat aku mengangguk tanda setuju dia kembali tersenyum dan bersemangat.
"Jadi apa yang ingin kau tanyakan?"
"Di dunia ini, aku tak memiliki siapapun kecuali nenek!" Aku mengangguk pelan saat dia mulai cerita. "Aku menganggap nenek adalah keluargaku, dan aku sangat menghormatimu! Bla…bla…bla…" Naruto terus berbicara, dan aku hanya menatapnya tak mengerti.
"Cukup! Sebenarnya apa maumu? Tak usah bertele-tele!" Aku sedikit membentak kesal karena aku paling tidak suka bertele-tele.
"Hah…gimana ya bilangnya..! Hmmm… Oke, aku akan bertanya dan nenek jawab pertanyaanku saja! Setuju!"
"Baiklah!" Aku segera menyanggupi tanpa banyak berfikir lagi.
"Apa pandangan nenek tentang orang yang mencintai sejenisnya bukan lawan jenis?" Andai saat ini aku tak sedang duduk, pasti aku akan langsung jatuh karena lemas. Lemas mendengar pertanyaan dari mulut Naruto.
"Maksudmu?" Aku memilih untuk pura-pura tak tahu apapun.
"Ya gitu, hubungan sesama jenis! Gimana menurut nenek?"
"Kenapa kau menanyakan ini Naruto?" Aku balas bertanya padanya yang membuatnya terlihat bingung.
"Ah..aku kan bertanya padamu, kenapa jadi sekarang aku yang harus menjawab?"
"Dasar bocah!" Mau tak mau aku mengucapkannya saat kulihat Naruto mulai memonyongkan bibirnya tanda protes. "Entahlah aku tak tahu, toh itu bukan urusanku!"
"Tapi jika orang yang melakukan hubungan itu orang di sekitarmu apa yang akan kamu lakukan?" Naruto bertanya dengan nada yang kudengar agak hati-hati, seperti bukan Naruto yang berbicara. Dia menatapku dengan tatapan memohon yang selalu berhasil meluluhkanku. Tatapan yang seolah-olah pendapatku adalah harga mati untuknya.
'Apa yang harus aku katakan sekarang?'
"Jawab nek!"
"Hmm.. aku tak peduli. Selama dia bahagia, aku hanya bisa mendukungnya. Apapun itu!" Seketika senyumnya semakin lebar mendengar jawabanku, namun sejujurnya aku sangat sedih melihatnya tersenyum. "Tapi, itu tidaklah mudah!" Tambahku yang membuat senyum Naruto seketika hilang.
"Tapi selama ada orang yang mendukungnya, bukankah itu akan menjadi lebih mudah?" Naruto kembali tersenyum sambil mengucapkan kalimat itu. "Terima kasih nek!" Naruto segera pergi setelah mendengar jawabanku dan setelah mengucapkan kata terima kasih.
'Aku harap kau bahagia Naruto!'
Flashback off
'Seharunya saat itu aku mengatakan yang sejujurnya. Mengatakan kalau aku menentangnya!'
Mengingat kejadian itu membuatku menyesal, mungkin saat itu Naruto sedang mencoba mencari pegangan. Dan akulah yang memberinya pegangan itu, akulah yang membuatnya melangkah lebih jauh lagi. Seandainya saat itu aku bisa mengatakan yang sebenarnya, bahwa aku sama sekali tidak mau ada orang disekelilingku orang yang aku sayangi menjalin hubungan dengan sesama jenisnya, apakah Naruto akan menghentikan langkahnya?
Flashback
"Apa kamu yakin Naruto? Belum terlambat untuk….."
"Tidak nek! Aku yakin, aku menginginkan janin ini! Aku mohon…" Aku hanya bisa menatap Naruto yang balas menatapku dengan keyakinan besar di matanya. Keyakinan bahwa dia akan meneruskan kehamilannya meskipun orang yang menjadi tujuannya telah pergi mencampakannya.
"Naruto, semuanya akan menjadi sulit…"
"Aku tahu…" Naruto memotong ucapanku dan menatapku lembut. "Tapi selama ada nenek, aku yakin aku pasti bisa melewati semuanya! Nenek akan selalu ada di sampingku kan?"
"Tentu saja Naruto, aku akan selalu ada disampingmu! Aku akan membantumu!"
Flashback off
'Aku akan selalu membantumu!'
Aku merasa, aku bisa membantumu Naruto. Selama ini aku selalu merasa begitu, tapi kini aku tak bisa membantumu. Aku tak bisa meringankan bebanmu, sama sekali tak bisa.
Naruto saat itu tengah galau tentang kehamilannya. Dan lagi-lagi aku yang mendorongnya untuk terus maju. Meski secara tak langsung, dia meminta kekuatanku dan aku memberikannya.
'Apakah aku salah, apakah seharusnya dulu aku lebih gigih untuk membujuknya menggugurkan janinnya?'
Praaaannggg…
Sebuah suara benda terjatuh langsung membuatku bangun dari tempat dudukku, berlari menuju asal suara itu. Lantai 2, kamar Naruto!
"Aku membencimu! Aku membencimu Sasuke!" Sebuah teriakan menyambutku saat kubuka pintu kamar Naruto. Nuansa orange yang selama ini terkesan ceria kini berubah muram. "Aku membencimu!" Sekali lagi Naruto mengucapkannya meski dengan lirih. Kuhampiri Naruto yang tengah terduduk di lantai, sebuah vas bunga pecah disana. Vas bunga hasil karya Ryuu yang dibuat khusus untuk Naruto kini berserakan di lantai.
"Ada apa Naruto?" Aku bertanya sambil melihat sekeliling. Kamar Naruto memang jarang rapi, tapi tidak seberantakan sekarang.
"Dia menginginkannya!"
"Apa?" Aku kembali bertanya saat tidak mendengar jawaban lirih Naruto.
"Dia menginginkannya! Sasuke menginginkan Ryuu! Dia mau mengambil Ryuu dariku!" Naruto terus berteriak histeris. "Dia akan mengambil Ryuu dan menjadikannya seorang Uchiha!"
"Tenanglah Naruto!"
"Aku tidak bisa tenang! Dia mau mengambil anakku, dan sekarang nenek menyuruhku tenang! Bagaimana mungkin aku bisa tenang!'
"Aku tahu, tapi teriakanmu bisa membangunkan Ryuu…" Naruto langsung terdiam saat aku menyebut nama Ryuu. "Tenanglah, dan ceritakan apa yang sebenarnya terjadi! Apa maksudmu Sasuke akan mengambil Ryuu?"
Tsunade's POV off
…
..
.
"Apa maksudmu Sasuke akan mengambil Ryuu?" Tsunade kembali bertanya saat melihat Naruto sama sekali tidak berbicara apa-apa. "Naruto, jawab pertanyaanku. Ada apa?"
"Dia menelponku barusan…"
"Terus.."
Flashback
"Ini aku Naruto.." Sebuah suara berat terdengar diujung sana.
"Aku tahu, ada apa?" Naruto berusaha setenang mungkin, mencoba menyembunyikan perasaannya.
"Bagaimana keadaan Ryuu sekarang?"
"Baik, sekarang dia sedang tidur!"
"Syukurlah, maaf aku belum bisa menjenguknya!"
"Tak perlu, toh sebelum ini juga tak pernah kan!" Naruto menanggapi permintaan maaf Sasuke yang langka dengan sinis.
"Itu karena kau tak memberitahuku soal Ryuu!"
"Ya, tapi itu hakku! Ryuu adalah anakku!'
"Oh ya? Jangan lupa kalau Ryuu juga anakku!"
"Apa maumu sebenarnya?"
"Aku ingin Ryuu!"
"Apa?"
"Aku ingin Ryuu!"
"Tidak… tidak.. Ryuu anakku! Kau sama sekali tidak berhak mengambil Ryuu dariku!" Naruto mulai panik dan kehilangan kesabarannya.
"Aku punya hak! Ryuu anakku, dan dia seorang Uchiha! Aku akan membuatnya menjadi Uchiha!"
"Takkan pernah! Ryuu takkan pernah aku berikan padamu! Kau sama sekali tidak berhak atas Ryuu!"
"Sampaikan itu pada pengacaraku Naruto!"
Tuuutt…tuuutt….
"Tidaaakkkk…"
Flashback off
"Dia mau Ryuu, dia mau mengambil Ryuu dariku!" Naruto kembali meracau tak jelas, sedangkan Tsunade hanya menatapnya sedih.
"Naruto.."
"Dia bahkan telah menyewa pengacara! Dia mau merebut Ryuu dariku! Bagaimana ini?" Naruto terus mondar-mandir di kamarnya yang berantakan. Menghiraukan keberadaan Tsunade yang terus membujuknya untuk tenang. "Aku harus melakukan sesuatu! Tapi apa? Bagaimana?"
'Apa maumu Sasuke?' Tsunade hanya bisa bertanya dalam hati melihat Naruto yang tengah terguncang hebat. 'Apa maumu?'
…
..
.
Di tempat lain.
"Sampaikan itu pada pengacaraku Naruto!"
Klikk
"Arrgghhhhh….." Kubanting sekuat tenaga handphone yang tadi kugunakan untuk menghubungi Naruto.
'Kenapa? Kenapa aku mengatakan itu?' Sasuke terus menyalahkan kebodohannya yang telah mengucapkan kalimat yang sebenarnya tak ingin terucap. Dia bukan menginginkan Ryuu, tidak dia memang menginginkan Ryuu tapi ada yang lebih dia inginkan. Sasuke menginginkan Naruto, Naruto-lah yang dia inginkan!
'Maafkan aku Naruto!' Sasuke benar-benar menyesal, niatnya menelpon karena dia merindukan Naruto juga Ryuu. Tapi mendengar ucapan sinis Naruto membuatnya marah. Tapi semuanya sudah terjadi, Sasuke tahu Naruto akan semakin membencinya.
Sasuke menyalakan lampu kamar yang tadi sengaja dia matikan. Kamar dengan nuansa orange, semuanya serba orange. Tak hanya itu, di dinding penuh dengan foto-fotonya di masa lalu. Tepatnya foto-fotonya dengan Naruto juga foto-foto Naruto yang sengaja diambilnya diam-diam. Disinilah tempat yang paling dia sukai di rumah besar yang terasa neraka baginya.
'Aku menginginkanmu Naruto! Kaulah yang kuinginkan!'
…
..
.
Chap 6 End
…
..
.
Huaaaa…..
Maaf ya kalau jelek, kurang memuaskan dan gak jelas, huhuhuhu!
Pokoknya maaf buat semua kesalahan yang ada di chap ini.
Makasih buat yang udah baca, dan aku harap mau ripiew ya! Kasih tau kekurangan chap ini, juga masukan2nya.
Makasih banyak ya!
Arigatto! ^^
