'i will fight for them, and no one can stop me. not even you'

The Colour of Happiness

Written by :

Marchellyne Ivashkov

Rate :

PG-15

Genre :

Life ; Romance

Casts :

Kim Jaejoong ; Jung Yunho ; Kim Yoohee ; Park Yoochun ; Kim Junsu ; Shim Changmin

Disclaimer :

all the casts belong to theirselves , author only have the story

.

Typo(s) may applied (=_=)v


Seorang namja duduk termenung di sebuah taman, menatap ke arah cup cappuccino hangat di tangannya. Udara musim dingin yang berhembus cukup kencang, membuat tubuhnya sedikit menggigil karna angin tersebut sudah mulai menusuk kedalam tubuhnya. Ia menghela nafas panjang, menghembuskan nafasnya ke udara yang seakan terlihat seperti uap. Ia mengeluarkan ponselnya, melihat ke 4 angka digital di layar iPhonenya.

09.06 AM, ya.. 36 menit sudah berlalu, terbuang percuma hanya untuk menunggu. Ia menekukkan tubuhnya ke depan, berusaha menghilangkan hawa dingin yang nyaris membekukan tubuhnya. Ia bosan menunggu. Jika bukan demi sebuah hal yang penting, ia tidak akan pernah mau untuk menunggu seseorang hingga lebih dari 30 menit, tanpa kepastian seperti ini. Bodoh, itulah kata yang terlintas dibenaknya saat ini. Ia cukup terlihat seperti orang bodoh, menunggu, menjadi pusat perhatian orang dengan penampilannya yang cukup 'unik', ditambah dengan udara dingin yang nyaris membekukan tubuhnya. Kata bodoh itu pun terus terucap berkali-kali dalam benaknya.

"apa sudah lama menungguku?" tanya seseorang namja paruh baya, mengeratkan mantel tebalnya lalu duduk tepat di sampingnya. Sang namja yang sudah lama menunggu itu hanya berdeham pelan, kembali memposisikan tubuhnya duduk bersandar di kursi taman. Ia menggeleng pelan.

"tidak, hanya sudah 36 menit aku duduk seperti orang bodoh disini menunggumu" ucap namja itu dingin, kembali meminum cappuccinonya yang hampir mendingin. Sang namja paruh baya hanya meresponnya dengan sebuah tawa kecil, meremehkan. Ia merai sebuah amplop berwarna putih dari saku dalam mantelnya, meletakkannya di atas kursi, ditengah-tengah mereka. Perhatian lawan bicaranya pun tertarik ke arah benda yang baru saja ia letakkan.

"Jaejoong-ah, tinggalkan Seoul bersama kedua orang teman bodohmu itu. Jauhi anak asuhku" ucap sang namja paruh baya itu santai, diikuti dengan dehaman pelan. Jaejoong, lawan bicaranya, menyipitkan kedua matanya yang tertutup oleh kacamata hitamnya. Ia tertawa pahit, melemparkan pandangannya ke langit sesaat. Kacamata hitam yang ia kenakan pun dilepaskan, menatap namja paruh baya dihadapannya dengan sebuah tatapan sinis, tajam menusuk.

"uangmu, tidak berlaku untuk memerintahku, Lee Sooman'ssi" respon Jaejoong, nada bicara yang tidak kalah meremehkan. Ia meletakkan gelas cappuccinonya, melipat kedua tangannya. "kamu tidak berhak membayarku untuk hal ini, aku tidak akan mengganggu anak-anak asuhmu yang lain. Tidak perlu khawatir"

"benarkah? Baguslah kalau begitu.. aku tidak perlu khawatir" jawab Sooman, tersenyum sedikit lega dan bahagia karna semuanya berjalan sesuai dengan apa yang ia prediksi. Jaejoong berdiri, menatap rendah namja paruh baya di hadapan matanya. Senyum yang manis, menyembunyikan seluruh pemikirannya juga ide-ide licik yang sudah ia rancang dengan baik dalam otaknya.

"tapi tidak dengan kedua rekan baikku, Sooman'ssi.." ucap Jaejoong pelan.

Kedua mata Lee Sooman terbuka besar, seakan kembali ditarik ke gerbang awal kebahagiaannya oleh kalimat yang baru saja dilontarkan oleh mantan anak asuhnya dulu.

"aku akan terus berperang untuk menyelamatkan mereka berdua…. Dari ketidakadilan yang aku, Yoochun, juga Junsu rasakan 3 tahun yang lalu. Aku akan membawa Yunho dan Changmin keluar dari manejemen busukmu itu"

"kamu tidak akan pernah bisa, Jaejoong-ah. Kekuatan yang kamu miliki, bukanlah tandinganku.."

"aku tidak lemah, tua Bangka. Jika Yunho tidak bisa membuat kami bersatu lagi karna adanya nyawamu berdiri ditengah-tengah kami.. maka.. aku yang akan membuat kami bersatu kembali dan memusnahkan segala penghalang yang ada" ucap Jaejoong menusuk, disertai dengan tatapanya yang tajam. Ia kembali mengenakan kacamatanya. Tatapannya yang lurus mengarah ke jalan setapak, menunjukkan sisi kharismanya.

"kamu memulai perang denganku, Kim Jaejoong.." ucap Sooman kesal. Ia mengretakkan giginya, menatap Jaejoong dengan ekspresi wajah yang benar-benar menggambarkan bahwa ia sangat membenci sosok dihadapannya.

"memang. Setidaknya berperang denganmu bukanlah hal baru bagiku juga Yoochun dan Junsu. Aku sudah biasa.. lebih baik persiapkan rencana-rencana busukmu itu dengan baik sebelum akhirnya aku melemparkanmu ke gerbang kekalahan juga rasa malu yang teramat sangat menerpa kehidupanmu"

...

"appa pulang.." ucap Jaejoong ketika ia melangkah masuk kedalam apartmentnya. Suara gaduh yang sudah sering didengarnya ketika ia kembali ke apartmentnya selalu menjadi sambutan merdu baginya. Namun, tidak dengan kali ini.

"HYUUUUNNGGG~~~!" teriak seseorang dengan suara khas cemprengnya. Jaejoong hanya tersenyum, menggeleng-gelengkan kepalanya.

"ommo, ommo! Yoohee-ah~ jangan mainkan itu.. aigooo"

"Yoohee-ah, jangan ya~ sini.. sini.. biar oppa yang aja yang pegang, arrachi?"

Jaejoong menghentikan langkahnya di depan ruang santainya. Satu kata yang cukup mendeskripsikan apa yang ia lihat saat ini, berantakan. Jaejoong meletakkan kedua tangannya di pinggangnya, menatap heran ke 3 orang di hadapannya saat ini.

"HYUUNNGGG~ akhirnya kamu pulang" ucap Junsu, frustasi. Pancaran kedua matanya yang menggambarkan kelegaan setelah melihat sosok Jaejoong, seakan memberikan sebuah keajaiban untuknya. "anakmu tidak bisa diam, hyung. aku lelah~"

Jaejoong tertawa kecil merespon kalimat lelah Junsu yang menurutnya terlalu berlebihan. ia menyandarkan lengannya ke dinding disampingnya, menatap kearah sosok anak kecil yang berdiri di samping Yoochun, dengan sepasang sumpit di kedua tangan mungilnya. Yoochun yang masih memegang sebuah mangkuk kecil berisi sereal, terlihat sedikit kewalahan mengurus anak kecilnya itu.

"Yoohee?" panggil Jaejoong. Anak kecil itu mendongakkan kepalanya, menatap Jaejoong dengan wajah cemang-cemong oleh sereal yang mulai mengering di sekitar mulutnya. Yoohee meloncat kecil, mengangkat kedua tangannya ke udara ke arah Jaejoong. Tawa lepas dari Jaejoong yang tidak tahan melihat anaknya yang terlihat begitu lucu, juga membuatnya melangkahkan kakinya bergabung dengan tiga orang itu.

"hyung, sudah bertemu dengan mahluk itu?" tanya Junsu yang langsung mengintrogasi tanpa melihat kondisi. Jaejoong duduk tepat di samping Yoochun, menyambut Yoohee yang merangkak ke pangkuannya. Sebuah anggukan, menjadi jawaban atas pertanyaan Junsu disertai gumaman pelan.

"sudah… aigoo, apa ini Yoohee, hmm? " jawab Jaejoong yang langsung disambung dengan pertanyaan pada Yoohee yang berdiri menghadapnya. Jari-jari panjang Jaejoong mulai membersihkan pipi Yoohee.

"lalu? Apa yang dikatakan orang tua itu?" tanya Yoochun, menoleh pada Jaejoong. Jaejoong tidak menjawab untuk beberapa saat. Ia menghela nafas panjang, mendudukkan Yoohee di pangkuannya. Ekspresi wajah yang terlihat kusut, seakan menjadi jawaban yang sudah bisa ditebak dengan Yoochun juga Junsu.

"jauhi anak asuhku.. pasti itu.." ucap Junsu dengan penuh keyakinan. Jaejoong hanya mengangguk.

"hanya itu?" tanya Yoochun yang masih penasaran.

"aniyo, dia juga menawarkan sejumlah uang untuk kita bertiga agar meninggalkan Seoul selamanya"

"MWOO?" ucap Yoochun juga Junsu bersamaan dengan nada setengah berteriak. Kedua sumpit stainless yang dipegang oleh Yoohee sontak terjatuh, terkejut dengan teriakan kedua samchonnya. Perhatian Jaejoong, Junsu, juga Yoochun langsung teralihkan menatap ekspresi wajah Yoohee yang terlihat mulai akan menangis. Jaejoong dengan cepat menggendong Yoohee, membawanya menjauh dari Junsu juga Yoochun.

"pasangan cempreng.." rutuk Jaejoong kesal sebelum menghilang dibalik koridor. Yoochun hanya terkekeh mendengar rutukan hyungnya.

"aish! Bukan kami yang salah hyung. tapi anakmu yang terlalu mirip dengan Yunho hyung! Aishh~" umpat Junsu kesal.

sesaat keduanya kembali tenang dan mulai merapikan ruang tengah yang sangat berantakan akibat ulah Yoohee. Junsu kembali ke dapur, menyiapkan buah untuk disantapnya bersama Yoochun.

"Chun-ah.." panggil Junsu dari dapur. Yoochun menggumam pelan, tidak sedikitpun menggeser bola matanya dari depan tv.

"wae, su?" tanya Yoochun, mulai mengganti channel tv yang menurutnya kurang ada acara yang bagus.

"apa Yunho hyung tau soal apa yang Sooman lakukan ke kita bertiga?" tanya Junsu, terdengar nada lirih dari ucapannya. Ia menghentikan kegiatan mengupas apel untuk sesaat, berusaha menahan perasaan sakit juga menahan air mata yang akan mengalir.

Yoochun terpaku. Jari-jemarinya tidak lagi menekan tombol-tombol di remote tv. Ia mengambil nafas, menolehkan sedikit kepalanya. Entah kalimat jawaban apa yang kali ini harus ia rangkai untuk menjawab pertanyaan Junsu. Tidak.. tidak hanya menjawab, tapi juga untuk menenangkan Junsu yang perasaannya cukup sensitive, sama dengan dirinya. Ia meletakkan remote tv, melangkahkan kakinya ke dapur menghampiri Junsu. Kedua bahunya yang terlihat sedikit bergetar membuat Yoochun menelan ludahnya, dan langkah kakinya terasa sedikit berat untuk melangkah.

"jangan dipikirkan, su. Apapun yang mahluk itu lakukan, kita tetap tidak boleh lemah.." ucap Yoochun, meraih pundak Junsu, menarik sosok itu bersandar padanya.

...

Yunho menghela nafas panjang. Lelah, itulah kata pertama yang bisa ia ungkapkan untuk mendeskripsikan apa yang ia rasakan saat ini. Jadwal yang padat, nyaris tidak ada waktu untuknya agar beristirahat barang 1 atau 2 jam. Bahkan ia hanya bisa memejamkan mata dalam kurung waktu 30 menit, tidak lebih. Seluruh tubuh yang terasa penat membuatnya ingin sesegera mungkin pulang kembali ke dorm.

"terima kasih atas kerja kerasnya hari ini.." ucap Jang PD kepada semua kru dan beberapa artis yang terlibat dalam recording itu. Yunho dan Changmin membungkukkan badannya, menunjukkan sisi respect yang mereka miliki disertai dengan seulas senyum.

Terkesan tidak ingin berlama-lama dalam studio itu, Changmin juga Yunho langsung melangkah keluar, menghampiri sang manager yang terlihat sedang berbicara di telepon. Yunho tersentak, merogoh saku celananya, mengambil ponselnya.

11.56 PM.. bukanlah waktu yang tepat lagi untuk menelpon seseorang. Sebesit perasaan bersalah terlintas di benak Yunho, terlihat dari cara ia menggenggam ponselnya. Changmin hanya mampu menatap heran sosok hyung yang berdiri tepat di sampingnya.

"ommo! Kalian sejak kapan berdiri di situ?" ucap sang manager yang terlihat terkejut dnegan kehadiran Yunho dan Changmin di belakangnya.

"3menit yang lalu" jawab Changmin dingin. Yunho tetap tidak terusik, masih berada dalam dunianya sendiri, berkutat dengan option-option 'unik'.

"arraseo. Sudah malam, sebaiknya kita cepat pulang. Karna besok kalian harus siap-siap latihan untuk album comeback" ucap sang manager, melangkahkan kakinya menuju lift yang terletak di ujung lorong.

"hyung.." panggil Yunho, kembali ke dunia nyata. Langkah sang manager juga Changmin terhenti, menoleh kearahnya yang tertinggal cukup jauh dari mereka.

"wae, Yunho-ah?"

"aku ada urusan penting, kalian pulang duluan saja. Eotte?" tawar Yunho, ekspresi wajah yang terlihat sedikit ragu, mengundang ekspresi aneh dari Changmin.

"Jaejoong? Apa kamu lupa dengan apa yang aku katakan tadi di mobil, Yunho-ah?" tanya sang manager, mengingatkan kembali kejadian beberapa jam lalu. Kalimat demi kalimat yang di ucapkan sang manager ke Changmin dan Yunho.

"aku tidak peduli hyung. ada 2 orang yang menungguku di sana. Seharian ini aku tidak sempat menelpon mereka" respon Yunho. Sifat keras kepala yang ia miliki mulai terlihat, Changmin tersenyum melihat hyungnya yang sangat gigih akan keinginannya.

"jangan mengambil resiko, Yun. Sooman sajangnim bisa memberikan hukuman padamu besok jika ia tau" halang sang manager. Sebagai seorang manager, perannya tidak mudah seperti apa yang dibayangkan. Yunho, Changmin, Jaejoong, Yoochun, juga Junsu yang sudah cukup lama bersama sang manager, membuat jalinan pershabatan mereka sangat baik, bahkan sudah terlihat seperti saudara. Selalu berusaha melindungi satu sama lain merupakan hal yang biasa terjadi dalam hubungan mereka berenam. Termasuk dalam hal ini.

Changmin berdeham pelan, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.

"geurom, biar aku yang melindungi Yunho hyung dari sajangnim. Biarkan dia pergi hyung.." ucap Changmin, nada bicaranya yang terdengar bijak memberikan sebuah kelegaan bagi Yunho.

Helaan nafas panjang, berat. Itulah respon pertama yang diberikan sang manger. Ekspresi wajahnya yang juga terlihat berat, menggambarkan bahwa keputusan yang akan ia berikan merupakan sesuatu keputusan terberat baginya. Ia menggerakkan tangan kanannya, memberikan izin pada Yunho untuk pergi secepatnya.

"gumawo, hyung. Changmin-ah" ucap Yunho terakhir kali, kedua kakinya langsung melangkah meninggalkan keduanya yang masih menatap punggungnya hingga menghilang dibalik pintu tangga darurat.

...

'TING TONG'

Jaejoong menoleh karna suara bel yang terdengar tidak hanya sekali. Ia meletakkan botol susu milik Yoohee di atas meja, membawa sang anak dalam gendongannya. ia berjalan sambil sesekali menepuk-nepuk pelan punggung Yoohee yang sedang menghisap jarinya.

"Yun?"

-to be continued