'I miss you'

The Colour of Happiness

Written by :

Marchellyne Ivashkov

Rate :

PG-15 with a little touch of NC (?)

Genre :

Life ; Romance

Casts :

Kim Jaejoong ; Jung Yunho ; Kim Yoohee ; Park Yoochun ; Kim Junsu ; Shim Changmin

Disclaimer :

all the casts belong to theirselves , author only have the story

.

Typo(s) may applied (=_=)v


'TING TONG'

Jaejoong menoleh karna suara bel yang terdengar tidak hanya sekali. Ia meletakkan botol susu milik Yoohee di atas meja, membawa sang anak dalam gendongannya. ia berjalan sambil sesekali menepuk-nepuk pelan punggung Yoohee yang sedang menghisap jarinya.

"Yun?" panggil Jaejoong heran melihat sosok Yunho yang berdiri di depan pintu apartmennya dengan nafas terengah-engah. Senyum lelah, itulah yang ditangkap oleh kedua mata Jaejoong dari wajah Yunho dihadapannya saat ini. Yunho melangkah masuk, dan langsung mengecup bibir Jaejoong tanpa permisi. "YAH! Masih sempat untuk melakukan hal itu, huh?"

Yunho menyengir, mengusap kepala Jaejoong pelan. Ia menoleh menatap Yoohee yang masih memunggunginya. Seakan bisa membaca pikiran sosok dihadapannya, Jaejoong langsung memberikan Yoohee ke Yunho, membiarkan sang appa menggendong anak kecil itu.

"hng? kenapa Yoonie belum tidur?" tanya Yunho, menjauhkan jari-jari mungil Yoohee dari mulutnya. Jaejoong melongo ke luar, memastikan tidak ada 'orang', lalu menutup pintu apartmentnya.

"dia belum minum susu.." jawab Jaejoong, melongos menuju dapur mengambil botol susu milik anaknya.

"bukannya kamu punya 'susu', boo?" goda Yunho, bermain dengan jari-jari mungil Yoohee. Cubitan pelan Jaejoong di lengan kanan Yunho, sukses membuat namja itu meringis pelan diikuti dengan sorot tatapan puppy eyesnya.

"berhenti menggodaku, Yun.." respon Jaejoong kesal, mengambil alih Yoohee dalam gendongannya. Jaejoong menghempaskan tubuhnya ke sofa, memberikan botol susu ke Yoohee yang langsung meminumnya tanpa di arahkan oleh Jaejoong.

"aku belum pernah mendengar suara Yoohee" ucap Yunho yang baru menyadari sesuatu, ikut duduk di samping Jaejoong, bersama-sama memandangi Yoohee yang asik bermain dengan kalung yang dikenakan Jaejoong.

Jaejoong mengangguk, setuju.

"ne. umur Yoohee sudah 2 tahun, tapi belum juga bicara.." respon Jaejoong, menyandarkan kepalanya ke pundak Yunho. Yunho menjulurkan jari-jemarinya menyentuh pipi chubby Yoohee, mencubit pelan.

"apa kita perlu membawanya ke dokter, boo?"

"kurasa tidak perlu, Yun. Mungkin sebentar lagi Yoohee juga akan mengeluarkan suaranya" tolak Jaejoong, mengangkat sedikit tubuh Yoohee hingga tubuh mungil anak itu kini dalam posisi tidur dalam pelukannya.

Yunho mengangguk. Menurutnya, sebagai sosok yang melahirkan Yoohee, Jaejoong pasti tau apa yang terbaik untuk anak perempuan mereka satu-satunya saat ini. Ya, Jaejoong juga Yunho yang sudah meresmikan hubungan mereka semenjak 3 tahun yang lalu, hanya diketahui oleh member TVXQ sendiri juga sang manager. Bahkan ketika Jaejoong melahirkan Yoohee pun, hanya orang-orang yang sama yang mengetahui tentang hal ini. Mereka menyembunyikan kenyataan yang terjadi dengan sangat baik dari para Cassiopeia juga Lee Sooman.

Jaejoong juga Yunho mulai menyanyikan lagu Forever Love yang belum sampai setengah, Yoohee sudah terlelap dan melepaskan botol susunya.

"biar aku saja, boo. Tunggu disini" cegah Yunho ketika Jaejoong hendak berdiri. Yunho mengambil alih Yoohee dari pelukan Jaejoong, membawa anak kecil itu ke kamarnya. Sesaat kedua bola mata Jaejoong bergerak mengikuti sosok Yunho, dengan senyum senang di wajahnya.

Jaejoong berdiri, bergerak menuju dapur dan mulai membereskan perlengkapan botol susu Yoohee. Senandung pelan Jaejoong yang terdengar samar-samar oleh Yunho, membuat sebuah ide 'menyenangkan' terlintas dibenaknya. Ia mulai melangkahkan kakinya perlahan, berusaha tidak sedikitpun membuat langkahnya tidak menimbulkan suara apapun.

"Boojae.." panggil Yunho, melingkarkan kedua lengannya di pinggul kecil Jaejoong. Jaejoong yang sedang mencuci botol pun terkejut dan reflek menjatuhkan botol yang sedang ia cuci. Yunho hanya tersenyum, menyandarkan dagunya di pundak kanan Jaejoong.

"kamu mengagetkanku, Yun.." protes Jaejoong pelan. Yunho tertawa kecil, semakin mengeratkan pelukannya. "dan kamu terlihat sangat aneh hari ini.."

"aku merindukanmu, Boo.."

"bohong!" potong Jaejoong cepat, mengeringkan tangannya setelah selesai mencuci. Ia berusaha merenggangkan pelukan Yunho, namun… yang terjadi malah sebaliknya. "Yun, aku harus mempersiapkan bahan masakan besok pagi"

"nanti saja. Temani aku dulu" tolak Yunho, menarik tubuh Jaejoong semakin menempel padanya.

Pasrah.. itulah yang bisa Jaejoong lakukan saat ini. Ia menyandarkan tubuhnya, juga kepalanya di tubuh Yunho. Harum aroma tubuh Yunho yang khas, kembali tercium oleh Jaejoong, membuatnya kembali mengenang masa-masa awal hubungan keduanya diresmikan. Ia memejamkan kedua matanya, membiarkan potongan-potongan kenangan itu bermain layaknya flashback.

Bibir Yunho perlahan mengecup leher putih Jaejoong, membiarkan erangan pelan keluar dari bibir pasangannya. Hembusan nafas yang ditiupkan Yunho tepat di telinga Jaejoong, sukses membuat suara erangan itu terdengar lebih jelas dari sebelumnya.

"Y…Yun.. hentikan.." cegah Jaejoong, menahan tangan Yunho yang mulai menyelusup kedalam kaos putih longgarnya. Yunho menggeleng, kembali menciumi leher Jaejoong juga meninggalkan jejak kecil berwarna merah terang.

"aku merindukamu, Boo.." ucap Yunho sekali lagi. Tangan kirinya masih memeluk erat tubuh Jaejoong dengan tangannya yang lain mulai mengusap perut hingga dada Jaejoong, memainkan kedua nipplenya bergantian.

"hen..hentikan Yun.. Yoohee..engh.."

"Yoohee wae? Hmm?" tanya Yunho, menghirup aroma tubuh Jaejoong. Ia mendorong tubuh Jaejoong, mendudukannya di atas meja. Kedua mata Jaejoong yang terlihat jauh lebih sipit dari sebelumnya, membuat Yunho tertawa kecil, membalas tatapan itu. "uri aegi waeyo, Boo? Hmm?"

Jaejoong mengambil nafas panjang. Perbuatan yang baru saja dilakukan Yunho, nyaris mengambil seluruh pasokan oksigennya. Nafasnya yang terdengar berat juga tatapan yang sayu, membuat Yunho terus bersemangat untuk menggodanya lebih.

"Yoohee belum tidur, Yun" tolak Jaejoong, mendorong kedua bahu Yunho menjauh darinya.

"sudah, Boo. Tenanglah. Anak kecil tidak akan bangun sebelum pagi" Yunho menghentikan protes Jaejoong dengan mencium bibirnya. Kecupan-kecupan yang dilancarkan Yunho sebagai awalan, kini mengundangnya untuk mengajak Jaejoong melakukan sesuatu yang lebih dari ini. Yunho perlahan menjauhkan bibirnya, membiarkan kedua matanya menatap wajah Jaejoong yang sudah terpancing oleh permainannya. "ada hal yang ingin kamu katakan, Boo?"

Jaejoong terdiam. Kedua matanya yang sudah semakin sipit, tidak membuatnya kesulitan menatap wajah Yunho dihadapannya. Ia meraih tengkuk Yunho, kembali mengajak pasangannya berciuman. Yunho hanya bisa tersenyum disela-sela ciuman mereka, sambil mengusap punggung Jaejoong.

Lenguhan juga desahan kecil Jaejoong terdengar disela-sela ciuman mereka yang kini sudah saling beradu lidah satu sama lain.

"kamu tidak ingin mengatakannya, hmm?" tanya Yunho sekali lagi, nafasnya tersengal. Jaejoong menjilat kedua bibir Yunho terakhir kalinya sebelum ia melepaskan ciuman mereka.

"mwo?" tanya Jaejoong balik, deru nafasnya yang terdengar sama dengan Yunho. Yunho terdiam sejenak, namun tidak dengan tangan juga tatapan kedua matanya. Sorot matanya yang seakan terus berbicara pada Jaejoong yang belum menangkap apa maksud dari ucapannya. Tangannya perlahan turun, menyentuh batas atas celana jeans yang dikenakan Jaejoong, menyentuh tonjolan yang terbentuk di bagian depan selangkang pasangannya.

"Y…Yun.." panggil Jaejoong, reflek menjambak pelan rambut Yunho ketika sosok namja itu meremas pelan juniornya dari luar jeansnya.

"kamu tidak merindukanku?" goda Yunho, meniupkan nafasnya di wajah Jaejoong, menjilat leher, dagu, hingga bibir Jaejoong. Jari-jemarinya yang bergerak lebih cekatan dari yang Jaejoong duga, berhasil menurunkan slereting jeansnya, menyentuh 'benda'nya secara langsung. Sontak, kedua mata Jaejoong terbuka lebar menatap Yunho yang hanya membalas dengan senyum. "kamu tidak mau mengatakannya?"

"u..untuk..apa?" tanya Jaejoong. Yunho kembali menjilat bibir bawah Jaejoong, mengeluarkan juniornya, mencengkram 'benda' tersebut lembut.

"memenuhi kewajibanmu. Tidak mau? Hmm?" tantang Yunho, mulai mengocok pelan junior Jaejoong.

Jaejoong melemparkan kepalanya kebelakang, merasakan setiap gesekan tangan Yunho pada 'benda'nya. Kedua tangannya yang kini dengan kuat mencengkram pundak Yunho, tidak membuat sang pemilik pundak sedikit pun meringis atau menghentikan ulahnya. Desahan yang awalanya hanya terdengar pelan, mulai terdengar semakin keras dan membuat Jaejoong juga Yunho lupa akan keberadaan anak kecil dalam apartment itu.

Yunho mendorong tubuh Jaejoong tiduran di atas meja, mengamati gerak tubuh Jaejoong yang mulai berada dibawah penguasaannya. Dengan gerakan tangannya yang masih pelan, Yunho merangkak ke atas Jaejoong, mengamati wajah pasangannya yang sudah tidak mampu lagi membuka kedua matanya.

"say what?" goda Yunho, mengusapkan ibu jarinya ke puncak kepala junior Jaejoong dengan gerakan yang lembut. Jaejoong melenguh pendek. Ia membusungkan tubuhnya ke Yunho, merasakan sentuhan jari Yunho tepat mengenai salah satu titik lemahnya.

"Yu..Yun..aa..akh!..Yun.." Jaejoong terus memanggil nama Yunho yang tidak berhenti mengerjai 'benda' miliknya.

Sebesit perasaan aneh yang dirasakan oleh Jaejoong, membuat detak jantungnya sedikit berbeda dan bergerak semakin tidak karuan. Ia mencengkram kuat kedua pundak Yunho,mendorongnya, seakan meminta sosok namja dihadapannya untuk menghentikannya. Jaejoong menolehkan kepalanya ke sebelah kanan, berusaha membuka kedua matanya yang nyaris tidak bisa dibuka.

"say what, Boo.." goda Yunho, menjilat perut Jaejoong yang entah sejak kapan sudah sedikit terekspose.

Lenguhan pelan, itulah yang terus terdengar dari bibir merah Jaejoong. Kedua mata Jaejoong terbuka perlahan, meskipun terasa sangat berat. Sosok bayangan anak kecil yang terlihat samar di mata Jaejoong, membuat ia mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, juga mencengkram lebih kuat pundak Yunho dari sebelumnya.

"Yoo..hee?" panggil Jaejoong, pengelihatannya sedikit demi sedikit mulai terlihat jelas. Yunho menoleh, kedua matanya membulat besar ketika melihat sosok Yoohee yang berdiri terpaku di dekat kulkas, menatap kearah mereka berdua. Sontak Yunho melepaskan Jaejoong, dan Jaejoong menggulingkan tubuhnya hingga jatuh ke lantai. Keduanya salah tingkah.

"uri aegi waeyo?" tanya Jaejoong, selesai merapikan pakaiannya. Ia melangkah mendekati Yoohee, menggendong anak kecilnya. Yunho menghampiri mereka berdua setelah selesai mencuci tangannya.

"Yoohee waeyo? mimpi buruk, hmm?" tanya Yunho, mengusap pelan kepala Yoohee.

Yoohee menggeleng. Ia mengalungkan kedua tangannya di leher Jaejoong, menyandarkan kepalanya di pundak sang appa.

"mau bobo ?" Yoohee mengangguk. "arraseo, ayo bobo sama appa.." ucap Jaejoong, mulai melangkahkan kakinya. Tangan mungil Yoohee, menggenggam jari telunjuk Yunho, seakan mengisyaratkannya untuk ikut ke kamar dan tidur bersama dengannya juga Jaejoong.

"MWO?" teriak Junsu, tekejut. Yoochun segera menutup kedua telinga kecil Yoohee, agar tidak terkejut dengan suara bebek khas seorang Kim Junsu.

Jaejoong berdecak pelan, melayangkan death glare ke arah Junsu yang tidak kunjung merubah ekspresi wajahnya.

"kecilkan suaramu , su. Aishh, lama kelamaan Yoohee bisa menderita gangguan pendengaran karna suara bebekmu itu" protes Jaejoong, mengelus pelan punggung Yoohee yang sedang berdiri di atas kedua pahanya dengan tangan yang bertopang pada pundaknya.

"mianhae hyung. geundae, aku kan berteriak karna ulahmu juga!" protes Junsu, melemparkan kesalahan pada Jaejoong. Yoochun hanya bisa tertawa kecil melihat keduanya. Ia mengambil Yoohee dari rangkulan Jaejoong, dan bermain dengan anak kecil itu.

"sudahlah, su. Aku sedang lelah berdebat.." elak Jaejoong, melemparkan pandangannya, menghela nafas panjang. Ia menoleh kea rah Yoochun dan Yoohee yang sedang bermain tepat di sampingnya. Senyum bahagia tergambar di wajah Jaejoong melihat putrinya bisa tertawa lepas dengan Yoochun, tidak sesering dengannya.

"jadi, kapan kamu berangkat ke Turkey hyung?" tanya Junsu, meminum susunya.

Jaejoong kembali menghela nafas untuk kesekian kalinya. Ia menegakkan posisi duduknya, menatap kosong ke arah cangkir teh di atas meja.

"nanti malam.."

"hyung? neo michyeosseo? Huh?"

Yoochun terdiam, menatap wajah frustasi Jaejoong dengan kedua mata membulat besar.

"geu..geundae, Yoohee eotte, hyung?" tanya Yoochun. Jaejoong menggeleng.

"nan molla" jawab Jaejoong, pasrah. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

Jaejoong, Yoochun, maupun Junsu menghela nafas berat, menghempaskan punggung mereka masing-masing ke sandaran sofa. Kedua bola mata mereka masing-masing kini menatap ke arah Yoohee yang sedang asik bermain dengan tali hoodie Yoochun tanpa mengeluarkan sedikit pun suara. Kehabisan ide, itulah kata yang cocok untuk mendeskripsikan kondisi mereka saat ini.

Tangan Jaejoong terulur, menyentuh lembut pipi kanan Yoohee yang terlihat chubby. Senyum miris yang tergambar di wajah Jaejoong, menutupi beberapa option-option dalam otaknya yang sukses membuatnya sulit untuk mengambil keputusan atas option-option tersebut.

"titipkan pada noona saja hyung, eotte?" tawar Junsu

-to be continue


author's note : jangjang~ annyeonghaseyo yeorobun . nan marchellyne kim yoohee imnida :D *bow* saiia author baru di ffn . masih pemula , baru 4 harian sepertina *ehh* , mohon bimbinganna :) gumawo yang udah baca , review kalian sangat membantuku :) *tebar bunga mawar(?)* skali lagi gumawoo~ :) *bow*