Diantara milyaran orang yang bisa menumpang di rumahku, kenapa harus dia? Dia itu nakal, jahil, dan… seorang Malfoy
Menginap?
Harry Potter © J.K. Rowling
Di Rumahku © aniranzracz
Enjoy it!
-xoxox-
Aku baru mau keluar dari kamar setelah insiden itu ketika Mum memaksaku makan malam. Perutku meronta! Oleh karena itu aku keluar. Hufh, semoga saja Malfoy tidak mengangguku lagi dan tidak mempermalukanku.
Aku pun keluar dari kamarku dan berusaha berpikir kalau aku hanya makan malam biasa, bukan menghadapi Malfoy –kalau iya, mungkin bisa dikategorikan menghadapi alam liar–
"Malam, Dad." sapaku sambil menunduk, berharap Malfoy tidak ada.
Salah besar. Malah Malfoy sedang bermain catur dengan Dad. Lebih tepatnya, Malfoy mengajarkan catur pada Dad. Yeah, catur sihir.
"Malam, Hermione!" balas Dad dan Malfoy bersamaan, Mum hanya tersenyum melihat itu.
Aku segera mengambil tempat di meja makan, kemudian teringat mungkin aku duduk di sebelah Malfoy, karena kursi makan hanya ada empat plus Dad dan Mum pasti duduk bersebelahan.
"Well, kita mulai saja makan malamnya. Draco, terima kasih soal caturnya! Permainan hebat!" kata Dad, membuatku memutar bola mataku.
Benar saja pikiranku tadi, Draco duduk disebelahku.
"Mari kita berdoa sebelum makan, berdoa… dimulai." Dad memimpin doa, rutinitas turun-temurun keluarga Granger sebelum makan.
Selain berdoa untuk mendapatkan berkah dari makanan yang kumakan, aku juga berdoa supaya Malfoy tidak berbuat yang aneh-aneh selama disini.
"Berdoa selesai. Mari kita makan." Ujar Dad.
Aku segera mengambil lauk pauk yang aku suka sebelum Malfoy 'menyikatnya'.
"Well, Draco. Bagaimana keadaanmu di Hogwarts?" tanya Dad lagi pada Draco, disambung oleh Mum yang bertanya "Hermione sudah menjelaskan tentang pelajaran-pelajaran yang diajarkan disana. Pelajaran apa yang paling kau sukai?"
"Err, saya baik-baik saja disana, Mr. Granger. Dan Mrs. Granger, saya paling suka dengan pelajaran ramuan." Balas Draco sambil menyantap makanannya dengan santai dan tenang. Uh! Kalau saja bisa, kubuat dia menelan makanannya sekaligus piringnya!
"Wah? Ramuan ya? Kata Hermione itu pelajaran tersulit selain transfigurasi dan arithmancy? Betulkah?" tanya Mum lagi. Aduh Mum! Percaya saja padaku!
"Saya rasa juga begitu." Balasnya dengan tersenyum, membuatku makan dua kali lebih cepat dari tadi (padahal tadi sudah dipercepat).
"Wow. Kalau Hermione? Apa pelajaran kesukaanmu?" tanya Dad kepadaku. Oh syukurlah, paling tidak aku masih diajak berbicara saat ini.
"Aku suka arithmancy." Jawabku sambil berusaha menghindari tatapan Malfoy.
"Kau sama seperti Draco! Dia juga suka salah satu pelajaran tersulit di sekolah kalian!" komentar Mum, membuatku tanpa sadar memutar bola mataku –lagi–
"Ngomong-ngomong, kalian sebentar lagi NEWT, kan? Dan, Hermione ingin bekerja di kementrian setelah lulus, kalau kau Draco?" tanya Mum lagi. Yeah, aku memang ingin bekerja di kementrian dan aku berharap semoga Draco tidak bekerja di kementrian juga.
"Aku mau menjadi auror." Kata Draco singkat, mukanya memerah entah kenapa.
Astaga! Aku sampai menjatuhkan garpu dan sendok yang kupegang ketika mendengar jawabannya! Draco Lucius Malfoy? Orang ternakal dan terjahil sedunia? Menjadi auror? Hufh! Jangan-jangan nanti dia malah yang menyerang dan membahayakan orang-orang! Dan kenapa auror harus menjadi bagian dari kementrian, Tuhan?
"Auror? Hermione dulu juga ingin menjadi auror!" komentar Mum. "Pekerjaan hebat, Draco! Apakah nilai OWL milikmu mencukupi?"
"Ya, Mrs. Granger. Saya mendapatkan 12 OWL."
Aku tidak bisa menahan semburan jus labu yang kuminum saat mendengar Malfoy mendapatkan 12 OWL! Demi Merlin! 12 OWL! Aku hanya 10 OWL!
"Kau kenapa, Hermione?" tanya Draco heran.
'Hufh.' Aku hanya mendengus kesal. Aku tidak terima dikalahkan oleh Malfoy Pirang nan Bego!
"12 OWL? Wow! Berapa 'Outstandingmu'?" tanya Dad lagi. Penasaran akan kepintaran Malfoy rupanya!
"10 OWL, Mr. Granger."
Tuhan, pingsankanlah Malfoy! Atau avada kedavra musang itu! Atau paling tidak, cepatkanlah makan malam ini dan alihkan pembicaraan ini menjadi pembicaraan yang menyenangkan! Aku muak! Mual!
"Wow! Semoga kau betul-betul menjadi auror, Son!" seru Mum kagum. Mum, Dad, kuperingatkan kau bahwa jangan sekali-sekali memanggil Malfoy dengan kata 'Son'! Aku tidak akan sudi sekeluarga dengannya!
"Terima kasih, Mrs. Granger."
Untunglah selanjutnya topik pembicaraan berubah sampai makan malam selesai.
-xoxox-
Waktu tidur telah tiba…
Aku tidak percaya ini. Malfoy tidur di sebelah kamarku! Di sebelah! Di sebelah! Di sebelah! Tolong sadarkan aku dari mimpi buruk ini! Dan dia mulai iseng menggedor-gedor dinding dengan keras!
Ah! Lebih baik aku menyembunyikan kepalaku dengan bantal dan menutup badanku dengan selimut bulu kesayanganku!
Setengah jam…
Brengsek! Gedorannya keras sekali! Aku tidak bisa tidur.
1 jam…
.
2 jam…
.
3 jam…
Blep!
Mati lampu! Tongkatku dimana? Tidak kelihatan! Tambah tidak bisa tidurlah aku! Dan untung Malfoy berhenti menggedor!
…
Lebih baik aku tidur! Nanti pasti lampu akan menyala dengan sendirinya.
Krieet…
Hei? Kenapa pintu kamarku terbuka sendiri? Dan kenapa bulu kudukku tidak mendukungku? Jangan merinding, Hermione Jean Granger!
…
"Aaaargh!" teriakku panik dan bercampur kaget. Astaga! Makhluk apa itu? Bajunya putih, ia pucat dan seram!
Blep! Lampu menyala.
Wait, mata silver? Rambut pirang platina? Kenapa familiar? Mungkin dia… Malfoy! Keterlaluan!
"Malfoy!" teriakku seraya menggenggam tongkatku erat.
Malfoy dalam hitungan detik berhasil kabur dari aku yang sudah mendapatkan tongkatku dan mengejarnya, lalu ia masuk ke kamarnya dan membiarkanku merusak pintu kamar tamu yang digunakannya.
"Dua-satu Granger! Kau jelek sekali tadi! Teriak-teriak tidak jelas dengan rambut singa mekarmu yang kau banggakan! Hahahaha…" suara bass Malfoy yang tercampur dengan bunyi tawa terdengar dari balik pintu, mungkin ia sedang tertawa terpingkal-pingkal disana. "Aku tidak menyangka kalau kau takut dengan hantu!"
"Keparat! Santai sekali kau bersabda seperti kau tidak takut kepada hantu! Brengsek kau!" seruku. Enak saja dia mengataiku takut hantu! Aku hanya shock tadi! Eh… aku memang sedikit takut, sih. Tapi aku tidak akan mengakuinya di depan Malfoy!
"Bilang saja, Granger! Aku bisa occlumency, kau tahu? Hahaha… rambut semak!" suara Malfoy kembali terdengar.
Aku bersedia membayar berapapun asalkan Malfoy mengakui bahwa ia bohong soal occlumency.
"Musang pirang! Kau tidak bisa occlumency, Malfoy!"
"Siapa bilang aku tidak bisa, gigi mancung?" tanya Malfoy lagi, masih di balik pintu kayu yang membatasiku dengannya. Sujudlah engkau pada pintu ini, Malfoy! Pintu ini menghalangiku untuk menggigitmu.
Dengan kesal, ku tendang pintu itu dan kembali ke kamarku.
Orang jenis itu ingin menjadi auror? Kembalilah kau ke kumpulan iblis! Dan asal kau tahu, Malfoy! Rambutku ini bukan rambut semak! MALFOY SINTING!
-xoxox-
END OF THIS CHAPTER
Selesai. Gimana? Aku akui kalau ini sangat-sangat pendek dan tidak nyambung. -_-
Hiks. Jadi sedih, aku jadi ngecewain para readers dan reviewers :'( aku bikin chapter ini jadi kayak gini karena chapter gaje ini akan sangat berhubungan dengan chapter selanjutnya.
Review ya! Khusus untuk chapter ini aku terima flame kok! Dan tenang, anonymous ataupun yang malas login atau yang login bisa review kok!
Balasan review (anonymous/tidak login):
Winey: maaf, maaf, maaf *nunduk-nunduk*, saya ngecewain kamu dengan chapter ini :'( aku yang masih nyari ide untuk kebagusan fic ini terpaksa cepat-cepat nulis karena aku rasa aku udah kelamaan gak nulis dan gak mau kecewain kamu dan readers lainnya. Makasih ya udah review! Aku seneng banget!
Dramionelover: maaf kalau kamu ngira aku plagiat atau gimana, tapi aku bukan penggemar fic begituan dan sangat sangat jarang baca fic jenis itu, apalagi yang chapternya banyak, reviewnya dikit dan aku nggak ngerti dari awal baca. Aku juga gak pernah baca scene dan plot kayak gitu sebelum aku nulis ini. Makasih udah review ya :D
Maaf kalau ada typo, gaje, dsb.
