Diantara milyaran orang yang bisa menumpang di rumahku, kenapa harus dia? Dia itu nakal, jahil, dan… seorang Malfoy
Menginap?
Harry Potter © J.K. Rowling
Menginap © aniranzracz
Enjoy it!
-xoxox-
'Kring!... kring!… kring!…' suara alarm cokelat Hermione berdentang memekakkan telinga bagi yang mendengarnya.
"Hoaaahhm." Hermione menguap. Oh, rupanya gadis terpintar se-Hogwarts ini masih mengantuk!
.
"Hei? Kenapa masih gelap? Hoahm." Ujar Hermione heran seraya menguap ketika matanya yang merah dan masih berusaha beradaptasi itu menangkap kegelapan di jendelanya.
Akhirnya, Hermione memutuskan untuk melihat waktu di jam ber-alarm yang tadi membangunkannya.
Sunyi.
Diikuti oleh pelototan Hermione.
Hermione pun meraih tongkat sihir miliknya dan bergumam pelan. "Muffliato."
Kemudian, gadis cantik berambut mirip semak tersebut –paling tidak itulah yang dikatakan oleh Draco Malfoy– meledak marah.
"Malfoy keparat! Mengakulah kau kalau kau yang menyetel alarm di wekerku tepat jam empat pagi! Brengsek, kau! Kau membuatku baru dapat tidur jam tiga tadi karena gedoranmu, dan membangunkanku satu jam kemudian memakai alarm, bodoh! Malfoy penghancur duniaaa!" teriak Hermione kesal, menghilangkan 'muffliato' yang menyelimutinya, dan kemudian roboh ke kasur empuknya, kembali tidur pulas.
-xoxox-
"Bangun! Bangun rambut semak!" teriak Draco dari luar kamar Hermione sambil menggedor-gedor pintu kamar dengan tidak hormatnya.
Hermione pun terbangun kaget dengan gedoran itu.
Ia masih memegang tongkatnya ketika tidur tadi. Well, kalian sudah tahu kalau Hermione langsung tertidur ketika selesai menghapus muffliato.
Ia pun keluar seraya menggerutu.
"Malfoy! Kau kan yang menyetel alarmku tepat jam 4 pagi?" tuduh Hermione.
"Haha. Tentu saja, kesempatan seperti ini sangat sayang jika dilewatkan, Granger!"
Hermione yang masih mengantuk dan lelah akhirnya memutuskan menyerah dan duduk di sofa cokelat panjang yang empuk, menjaga jarak dengan Draco yang duduk di sofa kuning dan dengan nikmat menghirup segelas susu.
"Dimana orangtuaku?" tanya Hermione sekenanya.
Draco tersenyum –lebih tepatnya menyeringai. "Kau kangen ya? Granger, Granger, kau itu seperti anak berumur lima tahun saja! Baru saja ditinggal satu jam yang lalu dan kau sudah rindu?"
Hermione melotot dan baru teringat bahwa kedua orangtuanya akan pergi hari ini.
Dalam hati, Hermione mengutuki Draco dan menyesal kenapa ia harus kehilangan waktu dimana orangtuanya pergi berlibur atau terserahlah apa urusan orangtua Hermione.
"Ngomong-ngomong, kau lucu sekali tadi malam, Granger! Tak kusangka kalau kau takut dengan hantu! Kau harus mencontoh seseorang yang bisa dijadikan teladan! Misalnya aku… Draco Lucius Malfoy!" kata Draco, sukses membuat Hermione marah.
"Aku tidak takut! Aku hanya kaget!" seru Hermione membela diri.
"Betulkah itu?" tanya Draco menggoda.
"Tentu! Aku bisa membuktikannya!" Hermione mulai panas.
"Oh iya? Bagaimana caranya?" tanya Draco, ia mulai penasaran.
Hermione diam dan berpikir sejenak.
"Bagaimana, Granger?" tanya Draco lagi. Seringainya mulai tumbuh.
Hermione teringat sesuatu yang bisa membantunya.
"Ide bagus! Bisa dibuktikan dengan cara menonton film horor! Bagaimana? Dan supaya aku tahu kalau kau bukan pengecut, kau juga harus ikut! Jangan-jangan, kau juga takut!"
Draco mulai merah padam mendengar alasan Hermione. "Tentu! Seorang Malfoy tidak akan takut dengan tantangan seperti itu! Mengelilingi kuburan terangker pun aku tak takut, kau tahu?"
"Oke! Ayo kita tonton film itu, sekarang! Kebetulan Dad mempunyai stok film bergenre seperti itu!" ajak Hermione.
Draco pucat karena sebetulnya ia takut dan trauma. Terakhir kali ia menonton film horor, ia tidak berani ke kamar mandi, tidak berani tidur sendiri, dll. Tetapi, dengan pengalamannya berbohong dan mengelak, ia mencari alasan supaya ia tidak menonton film horor.
"Kau tidak punya selera yang bagus ya, Granger? Menonton film horor lebih bagus lagi jika ditonton tengah malam!" protes Draco.
Hermione tersenyum jahil. Kantuk dan lelahnya sudah dilupakan. "Bilang saja kau takut, Malfoy! Tak perlulah kau mencari alasan!"
Draco mulai merah padam menyangka bahwa ia akan ketahuan. Tapi, ia merasa harga dirinya sudah mulai merosot jatuh. Oleh karena itu, ia memberanikan diri dan setuju.
"Aku tak takut! Kapanpun dan dimanapun, ayo!" kata Draco semangat, walaupun ia membayangkan ia bisa saja pingsan ketika menonton nanti.
"Aku mandi dulu." ujar Hermione, kemudian melesat pergi ke kamar mandi secepat yang ia bisa.
Sayup-sayup terdengar teriakan Draco. "Kau yang takut, Granger! Kau memakai alasan mandi untuk menghindari film horor! Dasar gigi maju!"
-xoxox-
Setelah Hermione selesai mandi…
"Supaya seru, kita tutup saja jendela dan pintu!" usul Draco. Hermione mengangguk.
"Mum membelikan banyak sekali cemilan, itu yang akan kita pakai untuk mengemil saat nonton nanti." Ujar Hermione.
"Accio cemilan." Kata Draco santai, sukses membuat puluhan cemilan meluncur keluar dari dapur rumah Hermione.
"Jadi? Bisa kita mulai penentuan siapa yang paling penakut diantara kita?" goda Hermione seraya tersenyum sinis.
"Yeah. Tentu! Dimanapun dan kapanpun seperti yang kukatakan tadi." seru Draco semangat.
Hermione pun mengutak-atik DVD player miliknya –well, Draco tidak bisa menggunakannya– supaya DVD horor yang mereka tonton bisa terputar.
"Penentuan… dimulai." ujar mereka berdua bersamaan, diikuti oleh seringai masing-masing.
Walaupun Hermione adalah orang yang pemberani, Hermione sebetulnya takut dengan film horor. Karena itu, saat mandi, ia mencari akal dan berusaha membuka kembali memori-memorinya untuk menghindari tontonan film horor. Kalian tahu? Gadis terjenius di Hogwarts itu berhasil!
'Serenasane' batin Hermione cepat, mengucapkan sebuah mantra. Mantra 'Serenasane' berguna untuk membuat badan tetap menjalankan perintah otak, tetap merasakan suara dan sentuhan orang lain yang ditujukan kepada pengguna mantra itu, dan tetap di tempat, tapi kesadaran sudah membentuk badan baru yang tidak tampak oleh mata normal.
Kesimpulannya, hanya badan Hermione yang menonton, sementara, kesadaran Hermione tidak mengikuti badannya.
Efek samping penggunaan mantra ini adalah kelelahan dan mudah mengantuk.
Betul saja, Draco mungkin melihat Hermione sedang menonton film horor bersamanya dalam rangka menentukan siapa yang paling penakut dan paling pengecut diantara mereka. Tapi sebenarnya, Hermione sedang berpetualang di dalam buku Sejarah Hogwarts di kamarnya dengan wujud bayangan.
Film pun dimulai.
Awalnya, Draco tidak terlalu takut dengan adegan-adegan yang terputar. Sebab, adegan-adegan awal film itu tidak –atau setidaknya tidak terlalu– menakutkan menurutnya. Walaupun begitu, Draco masih ngeri dengan bayangan-bayangan mengerikan tentang film tersebut
Akhirnya, setelah film berlangsung sekitar tiga puluh menit, film itu menampilkan dengan tidak hormatnya adegan-adegan yang sangat seram.
Draco meremas sofa cokelat yang ia duduki sekarang. Diam-diam, Draco takut melihat adegan-adegan film yang ia tonton. Sebenarnya, ia ingin melarikan diri dari ruang keluarga tempat mereka berdua –mungkin bisa dihitung Draco sendirian yang menonton disebabkan Hermione menggunakan Serenasane– menonton film seram yang tertampang di televise milik keluarga Granger saat ini.
Kadang-kadang, Draco memutuskan untuk melirik ke arah tubuh dan mata Hermione yang terus menerus menatap layar televisi tanpa berkedip sama sekali. Draco mulai merasa bahwa ia akan kalah dengan 'pertarungan' ini.
Film yang menceritakan tentang satu kelompok anak remaja yang menginap di villa super seram tersebut akhirnya habis setelah dua jam berlalu.
Draco menghela napas pelan dan merasa sangat lega ketika ia mengingat bahwa ia tidak meninggalkan satu senti pun ruangan tempatnya menonton.
"Terbukti kan kalau aku tidak pengecut dan bukan orang yang penakut!" seru Draco.
Sunyi senyap.
"Granger? Kau kenapa?"
Hermione yang baru tersadar bahwa film telah habis dan Draco telah memanggilnya dari tadi –well, ia terlalu asyik membaca buku Sejarah Hogwarts– langsung menggumamkan kontra mantra 'Serenasane' dalam hati.
'Reserenasane.'
Dalam waktu sekejap, kesadaran Hermione kembali ke tubuh aslinya.
"Granger! Kau shock dan takut, ya?" tanya Draco kembali seraya menyeringai menyebalkan. Pemuda pirang itu terlihat sangat senang, bahkan rambutnya seolah-olah mencuat akibat kesenangannya yang bercampur dengan ketakutannya yang masih mengendap di otaknya.
Hermione kemudian tersadar dan menjawab pertanyaan –lebih cocok jika disebut sindiran– Draco.
"Tentu tidak, aku berani dan kuat!"
Draco masih menyeringai. "Akui saja kalau kau kalah denganku."
"Tidak! Sudahlah, aku lelah." ujar Hermione. Kali ini ia jujur karena ia masih kelelahan akibat efek dari penggunaan mantra 'Serenasane'.
Hermione pun beranjak dari ruang keluarga Granger itu menuju kamarnya sendiri.
…
Ketika perjalanan ke kamarnya, Hermione merasakan kejanggalan dibelakangnya.
'Hei? Tak biasanya aku merasakan hal seperti ini! Di belakangku sebenarnya ada apa?' batin Hermione heran.
Disertai dengan jiwa Gryffindor yang melekat kuat di jiwa dan raganya, Hermione memberanikan diri menoleh ke belakang dan mengacungkan tongkatnya dengan posisi siap tempur.
Betapa terkejutnya Hermione ketika melihat yang mengikuti dibelakangnya adalah Draco Malfoy.
Draco spontan mengangkat kedua tangannya ala tahanan-tahanan penjara yang ketahuan memakai narkoba sedang diringkus polisi. Ia secara refleks melakukan hal itu karena ia kaget dengan Hermione yang mengacungkan tongkatnya dengan ganas.
"Granger! Ini aku! Jangan serang!" seru Draco lagi. Hermione menurunkan tongkatnya.
"Kenapa kau membuntutiku?" tanya Hermione heran.
Draco terkejut dengan tebakan Hermione yang seratus persen cocok dengan kegiatan yang dilakukannya sekarang. Ia mengikuti Hermione karena ia takut dan terbayang-bayang dengan hantu di film yang ia tonton tadi. Tapi, dengan cara yang dimiliki oleh keturunan Malfoy, ia membantah tuduhan benar yang diajukan Hermione itu mentah-mentah.
"Tentu tidak! Kau saja yang terlalu ge-er! Mana mungkin aku mau mengikutimu? Muntah saja kau! Lagipula, apakah salah kalau aku mau pergi ke kamarku juga?" bantah Draco.
"Well, aku benci mengatakan ini, tapi sepertinya… kau tidak salah." ujar Hermione pelan.
"Sepertinya? Sepertinya katamu? Tentu saja aku benar! Hufh!"
Hermione diam dan memutuskan berjalan lagi ke kamarnya. Tetapi, ia tetap resah dengan perbuatan Draco yang seolah mengekornya tepat dibelakangnya, apalagi ia merasa bahwa Draco buru-buru.
Hermione berhenti dan kembali menoleh ke belakang. "Kau diam dulu disitu! Setelah aku masuk kamar, barulah kau kembali berjalan!"
"Tak mau!"
"Ini RUMAHKU dan aku terganggu dengan aktivitasmu DI RUMAHKU!" balas Hermione dan menekankan kata 'RUMAHKU' dan 'DI RUMAHKU' secara berlebihan.
"Ini memang rumahmu, Granger! Tapi aku diberikan izin oleh kepala keluarga Granger untuk beraktivitas di rumahmu seperti aku beraktivitas di rumahku sendiri! Kalau kau terganggu, kenapa kau tidak lari saja ke kamarmu?"
Hermione memutukan diam dan betul-betul berlari ke kamarnya, mengikuti usul main-main Draco.
Tak disangka, Draco ikut berlari dibelakang Hermione.
Hermione mempercepat larinya. Sekarang, sepasang ketua murid Hogwarts itu tampak seperti sedang mengikuti lomba lari tingkat internasional.
'Yes! Sampai!' batin Hermione senang karena ia melihat pintu kayu yang ia kenali sebagai pintu kamarnya.
Hermione bergegas masuk dan menutup pintunya dengan cara membantingnya sekeras mungkin, bahkan engsel pintu itu mungkin akan lepas kalau ada sentuhan lagi sedikitpun.
Setelah Hermione membantingnya, terdengarlah suara tabrakan.
'Bukk!'
Ups! Pintu itu lepas! Ada apakah gerangan sehingga pintu itu lepas? Mari kita lihat…
…
Oh! Rupanya, Draco yang tadi berlari mengikuti Hermione tanpa sadar menabrak pintu yang telah ditutup oleh Hermione!
"Awas Malfoy!" teriak Hermione terkejut.
Draco yang baru saja jatuh dan mengusap muka dan kepalanya, langsung menghindar lagi dengan refleks seeker yang menghindari bludger Quidditch. Draco yang tetap dalam posisi telentang saat jatuh tadi, berguling ke arah kanan untuk menghindari pintu yang akan menimpanya kalau ia tak menghindar.
'Bukk!' Pintu itu akhirnya berbunyi kembali ketika pintu itu dengan sukses jatuh di lantai keramik depan kamar Hermione.
"Malfoy!" jerit Hermione kaget dengan suara ala perempuannya. Sejurus kemudian, ia menghampiri Draco yang kesakitan.
Hermione menggunakan tongkatnya untuk menerbangkan Draco ke kamar tamu yang ditempati Draco.
…
Draco pun terbaring di tempat tidur kamar tamu empuknya.
"Kan sudah kubilang! Jangan mengikutiku!"
Belum sempat Draco membalas perkataan Hermione, Hermione sudah menyihir air es dan kompres dengan tongkatnya. Draco yang melihat itu hanya mendesah pelan, tanda ia tidak setuju dengan pengobatan Hermione.
"Tidak usah, Granger. Aku bisa mengurus diriku sendiri…" ujar Draco pelan. Kemudian ia menyihir benjol yang tumbuh di kepalannya supaya menghilang.
"Kau tetap harus dikompres!" seru Hermione. Ia memutuskan menempelkan kompres di kepala Draco yang sebenarnya sudah tidak berbenjol lagi seraya tersenyum geli.
Draco menyibakkan rambut pirangnya yang bersimbah keringat. "Kenapa kau tersenyum seperti itu?"
Hermione tampak berusaha sebisa mungkin menahan tawa.
Draco menaikkan satu alisnya tanda ia bingung. Hermione masih saja tersenyum geli.
…
Tapi Hermione tak kuasa lagi menahan tawanya ketika Draco mengelus-elus bagian kepalanya yang tadi ditumbuhi sebuah benjolan.
"Hahahaha…" tawa Hermione kencang. "Kau lucu sekali tadi, Malfoy! Di ruang rekreasi dulu kau bilang kau terhormat? Dan sekarang kau menabrak pintu? Apakah itu yang dinamakan terhormat? Hahaha! Lucu sekali!"
Draco mengenyrit tidak suka dan otak cerdiknya bekerja.
"Petrificus Totalus." ujar Draco pelan seraya mengacungkan tongkatnya ke arah Hermione. Hermione yang tidak siap dan tidak membawa tongkatnya –ia tinggalkan di meja disamping tempat tidur yang ditempati Draco– langsung membatu.
"Kalau kau berjanji tidak akan menyebarkan hal ini nanti, barulah aku akan melepaskanmu. Jangan kira kalau kau membatu, aku tidak melakukan apa-apa! Aku akan memasukkan perkamen-perkamen tugasmu ke dalam perapian yang menyala." komentar Draco pelan.
Draco yang merasa Hermione pasti takut dengan ancamannya tadi, melepaskan Hermione dari kutukan yang ia luncurkan.
"Aku tidak bilang siapa-siapa! Aku tidak bilang siapa-siapa! Tapi kalau kau sampai membakar perkamen-perkamen tugasku, hal ini akan menyebar dengan tambahan cerita yang lebih indah lagi!"
Draco mengangguk.
"Sudah, tunggu sebentar. Untunglah aku membawa stok ramuan tidur tanpa mimpi dari Hogwarts! Kau tidur saja! Atau mau makan, dulu?" tanya Hermione.
"Tidur." komentar Draco pelan. Peristiwa memalukan tadi menghilangkan selera makannya.
"Oke. Sebentar." Ujar Hermione. Setelah itu, Hermione beranjak keluar dari kamar tamu yang ditempati Draco dan mengambil ramuan itu dari tas selempang miliknya.
…
Setelah sekitar satu menit menunggu, Draco akhirnya tersenyum dalam hati ketika melihat Hermione membawa ramuan itu.
"Ini! Kau makan dulu kue brownies ini! Lalu minum ramuannya, dan tidurlah! Aku juga mau tidur!" ujar Hermione.
Alis Draco mengenyrit melihat kue yang seumur-umur tak pernah ia coba. Tapi, ia memutuskan menelan kue itu.
'Hm. Enak.' batin Draco.
Setelah itu, ia meminum ramuan tidur tanpa mimpi yang diberikan Hermione.
Setelah menelan seteguk ramuan itu, ia melihat bayangan Hermione yang tampak samar. Lalu, gelap.
Hermione pun menyelimuti Draco pelan, mematikan lampu yang menyala dari tadi –sebelum Draco terkena insiden – dan kemudian menutup pintu itu pelan.
Gadis berambut cokelat berombak itu masuk ke kamarnya –tidak mempedulikan pintu yang masih terbengkalai di depan ruangan manis itu– lalu langsung tidur.
-xoxox-
END_OF_THIS_CHAPTER
Gimana? Kalau dulu aku pake sudut pandang Hermione, sekarang aku coba enggak -_- tambah hancur ya? Review dong untuk nyampein pendapat kalian! Kalau tambah jelek, chapter depan yang kupakai tetap sudut pandang Hermione, kok :D
Aku ngerjain sebagian besar fic ini dalam keadaan demam tinggi -_- panas dan pusing bener-bener aku rasain! Padahal aku jarang sakit sebetulnya. Tapi, karena aku gak enak kalau harus publish chapter ini lama, kupaksain aja deh :D karena itu, maaf kalau hasilnya banyak typo, jelek, gaje, dsb.
Sesuai dengan omonganku ke Rey619, ini adalah chapter paling panjang yang pernah kubuat! Maaf ya kalau chapter ini mengecewakan dan hanya 2.000 kata -_-
Hiks.
sekali lagi, review ya! But sorry, NO FLAME!
