Diantara milyaran orang yang bisa menumpang di rumahku, kenapa harus dia? Dia itu nakal, jahil, dan… seorang Malfoy

Menginap?

Harry Potter © J.K. Rowling

Menginap © aniranzracz

Enjoy it!

-xoxox-

"Miss Granger, semua nilai NEWT milikmu hasilnya Outstanding. Selamat! Dan selamat juga, kau diterima sebagai pemimpin salah satu Departemen Kementrian Sihir," kata Professor McGonagall menyalamiku.

Aku hanya membelalakkan mataku. Hei? Bagaimana bisa aku mendapatkan Outstanding? Padahal aku hanya belajar delapan belas jam sehari selama setahun ini! Oh astaga. Dan kenapa bisa aku diterima di Kementrian?

Kedua sahabatku, Harry dan Ron menepuk pundakku. "Selamat, Mione! Kau dinobatkan menjadi penyihir terjenius abad ini oleh Kementrian dan Hogwarts!"

Tidak. Aku tak percaya. Ini terlalu… fantastis!

"Ini serius, Hermione!" seru Harry bersemangat.

.

.

"Granger! Bangun!" suara Malfoy yang khas itu membangunkanku. Kenapa dia membangunkanku, sih? Apalagi sekarang masih jam… dua belas malam!

"Hoahm." Aku menguap karena masih mengantuk. "Ada apa? Kau menyebalkan sekali membangunkanku jam segini! Hoahm…" balasku kesal. Memang benar kan? Kurang kerjaan benar dia membangunkanku tengah malam!

"Err,…"

Kenapa Malfoy ragu-ragu menjawab pertanyaanku? Wah, ini mulai menarik.

"Kenapa? Ada apa?" tanyaku pelan, masih mengantuk.

"Aku takut," ujar Malfoy pelan. Wajah sarkastisnya berubah total, menyisakan rona merah yang menjalari seluruh bagian wajah itu.

Baru saja aku mau membuka mulut untuk menanggapi…

"Ya! Aku takut dengan film horor tadi siang! Aku ingin kau menemaniku di ruang tamu atau ruang keluarga malam ini!" Malfoy mengaku, rona merah di wajahnya bertambah.

Aku ingin tertawa, tapi aku sangat mengantuk walaupun aku tidur dari dua belas jam yang lalu. Well, kalau aku shock atau lelah, sebenarnya aku bisa tidur sangat lama. Dan dengan alasan yang sama, aku tak tertawa walaupun ini sangatlah lucu.

"Aku tak mau menemanimu dan aku ingin tidur!" teriakku, lalu aku memilih posisi enak lagi untuk kembali tidur.

"Tidak! Ayo kita ke ruang keluarga atau ruang tamu!" seru Malfoy membalasku seraya menggoyang-goyangkan kakiku untuk membangunkanku.

"Tak mau!"

"Kau mau aku tak tidur semalaman?"

"Itu deritamu!"

"Ayo! Temani aku!" Malfoy masih belum bosan memaksa rupanya.

"Tidak!"

"Kalau kau tidak mau, aku akan…" ujar Malfoy mengancam walau ancamannya tidak –atau setidaknya belum– ia katakan. Wah, sudah berani dia mengancamku! Awas kau besok, Malfoy!

"Akan apa? Kucincang saja kau kalau berani macam-macam!"

"Aku akan tidur di sampingmu!" Malfoy melanjutkan ancamannya tadi yang terpotong dengan wajah yang menyerupai kepiting rebus.

Mendengar ini, sontak mataku yang sudah terpejam nikmat –walaupun belum tertidur– terbuka kembali. Apa? Tidur disebelahku? Delapan kata saja yang akan kuucapkan: Malfoy, kudorong kau ke jurang dengan senang hati.

"Tentu tidak! Tak boleh!" seruku. Kantukku sudah mulai mereda walaupun masih ada.

Sunyi.

'Syukurlah Malfoy sudah pergi,' batinku senang. Aku bisa tidur pulas lagi akhirnya.

Krek. Krek.

'Hei? Suara apa itu?' batinku heran. Suara itu berasal dari… sebelahku.

Dengan sigap, aku membuka mataku dan menoleh ke arah sumber suara.

Dan terlihatlah… Malfoy? Tidur? Disebelahku?

Sepi.

Dan sejurus kemudian…

"Aaaarghh!" teriakku panik. Malfoy serius dengan ancamannya!

"Makanya temani aku! Kalau tidak, aku akan disini sampai besok!" balas Malfoy menanggapi ucapanku.

Malfoy bangkit dan menarik tanganku menuju ruang keluarga.

Oh astaga!

Tapi, lebih baik aku ikut dan menurut saja sebelum Malfoy mengancamku dengan perbuatan-perbuatan memalukan ataupun mengerikan lainnya.

"Oke! Oke, Malfoy! Tak usah menarikku! Aku bisa jalan sendiri!" ujarku akhirnya.

Kami berdua pun jalan dalam keheningan ke ruang keluarga. Dan sesampainya disana, aku menyalakan televisi supaya tidak bosan.

Yang terjadi adalah sebaliknya, kami menjadi bosan dengan acara-acara yang ditayangkan televisi itu. Bagaimana tidak bosan kalau yang ditampilkan hanya berita-berita?

Aku meraih remote dan kemudian mengganti berulang kali saluran teve yang nyaris semuanya berita. Malfoy hanya diam melihat tingkahku.

Aku terus menerus mengganti saluran televisi sampai akhirnya… ada saluran teve yang tidak menampilkan berita. Tapi, film roman.

Itu juga membosankan! Tapi itu lebih baik dari berita-berita yang kesannya saja banyak, padahal semua isinya sama. Maka, karena itu, aku memutuskan menonton film itu.

"Kenapa kau menonton film murahan ini?" protes Malfoy.

Aku menarik nafas. "Kau mau nonton berita, ya?"

Malfoy menggeleng pelan. Wajahnya kembali menunjukkan sifat sarkas yang memuakkan.

"Kalau begitu, tak usah protes!" seruku kesal. Untuk apa coba dia bertanya seperti itu? Sungguh tidak jelas.

Kami melanjutkan menonton film itu.

Film itu memang romantis, tapi membuatku mual dan –Malfoy betul– murahan! Sama seperti film-film romantis yang Mum sering lihat lainnya.

Seorang laki-laki dan seorang perempuan saling menabrak di tengah hujan dan kemudian berkenalankedua orang itu menjadi sering bertemu entah mengapamereka berdua akhirnya jatuh cinta dan menjadi sepasang kekasih dengan cara yang membosankanorangtua perempuan itu tak mengizinkan hubungan ituhubungan itu putus dengan penuh linangan air matadan lain-lan.

Oh astaga! Aku tak mau lagi menonton! Sungguh membosankan!

Lebih baik kutengok dulu Malfoy, sempat ia sudah tertidur. Kalau sudah seperti itu, ia akan kutinggalkan disini dan aku akan tidur kembali di kasurku yang empuk dan nyaman. Terserahlah ia akan mengancamku dengan apa esok hari!

Yap! Malfoy tertidur. Wajahnya yang sombong menjadi wajah lugu tak bersalah, aku jadi tak tega meninggalkannya karena wajah itu! Selain itu, aku menyadari bahwa wajah Malfoy… tampan.

Oh, para leluhur Granger! Ampuni aku! Aku telah mengucapkan salah satu kata tabu dengan mulutku sendiri! Oh tidak! Tidak! Malfoy jelek! Apapun yang terjadi –termasuk operasi plastik– Malfoy akan tetap jelek! Jelek sampai dunia kiamat!

Baru saja aku menonaktifkan televise dan ingin pergi ke kamar, aku mendengar suara dari ruang tamu yang letaknya berdekatan dengan ruang keluarga rumahku.

Suara itu… suara pintu dibuka! Pintu yang dibuka paksa!

Err, apakah itu?

Aku harus memeriksanya! Walaupun aku takut –ralat: sangat takut– saat ini. Argh! Ayolah! Aku kan seorang Gryffindor! Aku diciptakan untuk menjadi seorang pemberani sejati!

Maka, dengan langkah pelan tak bersuara, aku mengintip dengan cemas ke arah ruang tamu keluargaku. Dan aku melihat… sesosok makhluk yang wajahnya –kecuali kedua mata– ditutupi oleh kain hitam dan dengan baju serta celana yang berwarna hitam pula.

Otomatis, otakku bekerja. Apakah itu? Apakah itu hantu? Tidak. Itu bukan hantu. Hantu berwujud transparan. Dan apakah itu makhluk gaib? Bukan. Makhluk gaib mempunyai ciri tersendiri sesuai jenisnya.

Oh astaga! Mungkin interaksi dengan dunia sihir yang terlalu lama membuatku lupa akan hal ini: Orang itu adalah manusia! Lebih tepatnya… pencuri! Pencuri masuk ke rumahku!

Dia mungkin saja akan membunuhku nanti!

Apa yang harus aku lakukan? Yang jelasnya, aku tak boleh panik dan aku tak boleh berbicara! Kalau aku panik, aku akan lupa segalanya dan aku bisa lengah. Kalau aku berbicara, maka aku bisa saja diculik dan dijadikan sarapan oleh pencuri itu pagi nanti!

Lebih baik aku ke kamar dan memikirkan strategi atau bahkan kabur saja lewat jendela.

Maka, aku dengan langkah cepat tapi tak bersuara menuju kamarku. Dan itu terhenti ketika melihat… Malfoy dengan nikmatnya terbang ke alam mimpi di sofa.

Dengan cepat, aku mencari tongkatku di sela-sela kantong celana yang kupakai untuk menerbangkan Malfoy ke kamar. Tapi, tak ada! Aku baru ingat kalau aku meninggalkan tongkatku di kamar saat Malfoy memaksaku ke ruang keluarga ini.

Dan pertanyaan –atau lebih tepatnya masalah– baru yang muncul di benakku adalah: Aku harus meninggalkan Malfoy atau menyelamatkannya?

Lebih baik aku menyelamatkannya daripada aku terkena masalah nanti. Tapi… aku harus menyelamatkannya dengan apa? Tongkat sihirku kan tak kupegang! Dan kalau aku bersuara untuk membangunkannya, err, aku tak berani membayangkan apa yang akan diperbuat oleh pencuri itu.

(Sementara itu, suara langkah pencuri terdengar lagi)

Tidak ada waktu lagi untuk berpikir! Malfoy kugotong saja!

Aku serius. Aku memapah Malfoy ke kamarku –aku bukan bermaksud apa-apa, tapi kalau dia tidur di kamar tamu, nanti aku yang bertanggung jawab kalau dia terkena sesuatu yang membahayakan– dan membaringkannya di kasurku. Setelah itu, aku mengunci kamarku.

Dasar Malfoy! Saat kupapah pun, dia tak bangun!

Kubangunkan Malfoy pelan.

"Malfoy!"

"Hm? Aku mengantuk, jangan bangunkan aku," balas Malfoy tanpa kepedulian.

"Malfoy! Kau harus bangun!"

"Ada apa, sih? Ini belum pagi, bukan?"

Aku menarik nafas tidak sabar dan mengutuki dalam hati kenapa Malfoy harus sekeras kepala ini disaat keadaan sedang genting. Tapi aku mencoba sabar.

"Pencuri, Malfoy! Pencuri ada di rumah kita!"

Mata Malfoy yang semula terpejam akhirnya membuka dengan panik, tapi kepanikan itu ia buang dengan keprofessionalannya. "Ah. Kau serius? Aku tak percaya."

"Tak ada waktu untuk tak percaya! Aku serius! Rumah kita akan dibobol oleh pencuri!"

Malfoy mungkin baru percaya ketika melihat ekspresi kepanikan di wajahku.

"Ayo kita lawan!" seru Malfoy –mungkin– tanpa berpikir terlebih dahulu dan melupakan kantuknya.

Aku yang sangat terkejut dengan ucapan Malfoy tadi hanya membelalakkan mata dan tak memberontak ketika Malfoy menarikku keluar kamar. Aku shock dan sama sekali tak bisa berbicara.

Aku dikhianati oleh sifatku sendiri sekarang. Kemana sifat Gryffindorku saat aku membutuhkannya? Kenapa sifat itu berpindah ke Slytherin yang menarik tanganku ini? Kenapa?

"Kita pergi ke dapur dulu! Kita ambil senjata!" Malfoy berbisik memberi komando dan tetap menarik tanganku, lalu kami berbelok ke dapur.

Senjata? Dasar gila! Senjata apa? Aku ataupun keluargaku tak menyimpan satupun senjata seperti pistol, peluru, dan lain-lainnya disana, Tolol!

Sesampainya di dapur…

Malfoy melepaskan tanganku yang mati rasa –well, akibat pegangannya yang terlalu keras mungkin– dan mengorek laci-laci dapur dengan pelan, tetapi sigap.

Ia mengeluarkan… centong nasi, pengulek sambal, garpu, pisau dapur, wajan dan panci. Semua yang ia sebut dengan senjata.

"Mari kita bertempur!" bisik Malfoy dengan nada gagah berani. Rupanya ia lupa kalau ia sampai tidur disampingku saking takutnya dengan hantu tadi.

Aku khawatir. Menghadapi pencuri berbeda dengan menghadapi makhluk-makhluk gaib seperti yang kami pelajari di kelas seperti biasanya. Pencuri itu… manusia, tetapi bukan penyihir. Senjata penyihir adalah tongkat sihir, dan sialnya aku lupa dengan tongkatku. Tongkat sihirku masih aman di kamar.

"Aku ambil tongkat sihir dulu di kamar," aku berbisik tak kalah pelan dengan Malfoy.

"Tak ada waktu untuk sekedar mengambil tongkat sihir yang tertinggal, Granger!" Malfoy mengatakan itu seraya menahan tanganku lagi.

Kenapa aku harus berurusan dengan seorang pencuri dan orang gila di rumahku sendiri?

"Situasinya berbeda, Malfoy! Kita menghadapi pencuri di dunia nyata! Bukan teman kita saat kita belajar di Hogwarts! Kita akan kalah!" jelasku. Aku ingin meledak dan berteriak, tapi aku takut kalau pencuri itu akan mendengarnya.

"Siapa bilang kita akan kalah?"

Aku lemas. "Kenapa nasibku seperti ini? Kalau tahu seperti ini, lebih baik aku tak membangunkanmu tadi!"

"Kau tak akan selamat kalau tak membangunkanku!" bisik Malfoy dengan entengnya. "Tak ada waktu untuk berdebat! Ayo kita berperang!"

Malfoy memberikanku sebuah pisau dan cobekan. Ia sendiri membawa ember yang ia isi dengan centong nasi, tali –yang entah ia dapat darimana, mungkin itu adalah kabel panjang rice cooker yang ia potong– garpu, merica, dan lain-lain.

Memalukan. Aku malu kepada diriku sendiri, malu kepada Tuhan, malu kepada para leluhur Granger, dan aku akan malu pada pencuri itu nanti.

Malfoy memberikan komando dengan jarinya agar aku mengikutinya keluar dari dapur.

"Kau lihat terakhir kali, pencurinya dimana?" tanyanya perlahan. Dasar sok kau, Malfoy!

"Di ruang tamu," balasku. Sebenarnya, aku ikut menjadi gila dengan menjawab pertanyaan orang gila. Inilah contohnya.

"Kita kesana," ujar Malfoy.

Kami berdua pun pergi ke ruang tamu.

Betul saja. Sang pencuri masih asyik memasukkan barang-barang –yang mahal– milik keluargaku ke dalam karungnya.

"Tertangkap basah kau, pencuri!" Malfoy berteriak tanpa rasa malu.

Pencuri itu membalikkan badan dan terlihat jelas bahwa ia menyeringai walaupun mulutnya tertutup oleh kain.

"Lawan aku, kalau kau berani!" seru Malfoy dengan garang seraya mengacungkan centong nasi. Sungguh, aku malu berdiri disini.

"Ya. Tentu. Saling menghadapi sebagai laki-laki," balas pencuri itu dengan nada gemas. Ia pastilah meremehkan Malfoy.

Malfoy dan pencuri itu memasang kuda-kuda. Kali ini Malfoy menggenggam pengulek sambal di tangan kanannya dan memegang garpu di tangan kirinya. Sementara itu, pencuri itu berniat menghadapi Malfoy dengan tangan kosong.

Terjadilah perkelahian tidak seimbang antara Malfoy dan pencuri itu. Pencuri itu pastilah menguasai imu beladiri yang rumit, dan itu menghancurkan pertahanan Malfoy yang sebenarnya bagus.

Aku bingung. Aku harus melakukan apa? Apa lebih baik aku membantu Malfoy –yang sudah melepaskan 'senjata-senjatanya'– atau diam saja disini?

"Tolong, Granger!" seru Malfoy kesusahan. Perkelahian sudah berjalan sekitar sepuluh menit dan Malfoy –walaupun masih tanpa luka ataupun memar– tampak kelelahan.

Tanpa pikir panjang, aku mengacungkan pisau yang sedari tadi kugenggam ke arah pencuri itu.

Pencuri itu menghentikan perkelahiannya dengan Draco. Ia menyeringai dan merogoh ke saku celananya dalam-dalam. Ia pasti mempunyai pisau yang lebih hebat dari pisau yang –dengan bangganya– kugenggam ini!

Aku panik. Aku tak berpikir kalau pencuri itu pasti mempunyai pisau.

Malfoy tampak biasa saja, seolah itu hanya akan membuat satu sayatan luka yang tak berarti. Dasar Malfoy! Masih sempat-sempatnya ia memasang muka sombong ditengah-tengah situasi genting ini!

Pencuri itu masih saja merogoh-rogoh sakunya. Entahlah ia mencari apa.

"Mencari ini, Brengsek?" tanya Malfoy santai akhirnya, dan kemudian ia ikut mengacungkan pisau itu, sama sepertiku.

Kali ini, giliran pencuri itu yang panik. Dengan ketakutannya, ia membuka pintu ruang tamu dan kabur keluar tanpa mempedulikan barang-barang keluargaku yang sudah ia masukkan ke dalam karung.

Kami berdua –aku dan Malfoy– masih terdiam dan menggenggam pisau dengan posisi siaga.

Setelah satu menit…

"Hahh!" aku menghembuskan nafas lega seraya membanting diriku sendiri di sofa empuk berlengan di ruang tamu. Malfoy mengikutiku, ia duduk di sebelahku.

"Aku lega karena pencuri itu sudah pergi. Aku akan melapor ke polisi besok pagi," ujarku. Malfoy mengangguk. "Dan, kau mau tidur sekarang, Malfoy?"

"Tidak. Aku tak akan pernah bisa tidur lagi kalau malam itu aku diganggu dengan hal penting seperti ini."

"Dan kalau kau ingin tidur, jangan pernah memintaku untuk berbagi tempat denganmu," ujarku ringan dengan nada menggoda.

"Tidak!" Malfoy mengatakan itu dengan wajah memerah. "Ngomong-ngomong, apakah kau berharap kita menikah?"

Apa maksud Malfoy menanyakan ini? Sungguh menjijikkan!

"Tentu tidak!"

Malfoy menyeringai. "Kenapa kau mengatakan bahwa rumah ini adalah 'rumah kita' saat kau membangunkanku tadi?"

Aku mendengus. "Tidak! Aku tak pernah mengatakan itu!"

"Pernah. Cobalah ingat kembali."

Aku mengingat kembali kejadian saat aku membangunkan Malfoy tadi. Dan… betul. Aku menyebut rumah ini adalah 'rumah kita' dengan Malfoy. Berarti, aku menyebut bahwa ini adalah rumahku dengan Malfoy.

"Bagaimana? Kau sudah ingat?" Malfoy belum bosan menggodaku, atau bahkan tidak akan bosan.

Aku mendengus kembali. "Aku hanya keceplosan!"

"Granger, Granger, Granger, keceplosan itu seringkali adalah tanda bahwa yang kau ceploskan itu benar, kau tahu?"

"Itu hanya sering! Bukan selalu!" bantahku. Aku tak terima dan tak akan pernah terima kalau aku dikatai berharap menikah dengan Malfoy.

-xoxox-

END_OF_THIS_CHAPTER

Tingtingting! Selesai deh! Aku lagi kena writer's block ini -_- dan chapter depan aku bingung mau nulis gimana. Ada usul? Sampaikan di review yaa :D

Chapter ini nyaris sama dengan chapter sebelumnya, sekitar 2000an kata. Yang membedakan adalah: aku kembali pakai sudut pandang Hermione! Hore! :D *nari-nari gak jelas*

Dan jangan lupa review! Semua bisa review kok! Yang review pasti kupeluk deh! :D *malah gak ada yang review*

Maaf ya kalau ada typo, gaje, dan sebagainya.