Diantara milyaran orang yang bisa menumpang di rumahku, kenapa harus dia? Dia itu nakal, jahil, dan… seorang Malfoy
Menginap?
Harry Potter © J.K. Rowling
Menginap © aniranzracz
.
And I don't own Spongebob Squarepants :D
.
a/n: Kalau di chapter-chapter sebelumnya, biasanya aku pakai Hermione POV—walaupun sempat pakai normal POV—yang gak diganggu-ganggu, tapi kali ini aku campur dengan normal POV. Gak apa-apa, ya?
Dan maaf, baru sempat menyelesaikan chapter 5 dan mengupdatenya.
.
Enjoy it!
.
-xoxox-
Hermione POV
"Kau sudah lapor Polisi?" tanya Malfoy kepadaku ketika melihatku masuk ke Ruang Keluarga.
Aku mengangguk. "Sudah."
Malfoy mengangkat salah satu alisnya, membuatku bingung.
"Kenapa memandangku seperti itu?" tanyaku heran.
"Lalu? Polisi itu bilang apa? Rumah ini tidak dijaga?" tanya Malfoy lagi.
Aku mendengus. "Tidak. Tapi, Polisi itu sudah mulai melakukan pencarian terhadap pencuri yang masuk ke rumah ini tadi malam."
Malfoy hanya mengangkat bahu, lalu melanjutkan menonton kartun Spongebob Squarepants yang sedari tadi ia tonton. Tak mempedulikan aku yang bersimbah keringat karena berjalan cepat-cepat ke kantor polisi di bawah sinar matahari—yang sebenarnya—tidak terlalu terik, walaupun panas.
"Kenapa kau tidak memerhatikanku?" seruku kesal pada Malfoy yang asyik menertawai Squidward.
Malfoy sontak memandangku seraya mengernyit aneh dan menyeringai. "Sejak kapan kaumau kuperhatikan, Granger? Dunia sudah terbalik, eh?"
Wajahku memerah. Berusaha mengabaikan itu, aku memperjelas ucapanku sebelumnya, "Bukan itu maksudku, Malfoy! Kenapa kau tak berterima kasih padaku karena aku pergi ke Kantor Polisi tanpa membangunkanmu?"
"Aku tak mengerti maksudmu. Kalau kaumau ke Kantor Polisi, ya silakan saja. Kenapa aku harus berterima kasih kepadamu kalau kaupergi ke Kantor Polisi tanpa membangunkanku?"
Aku mendengus kesal. "Sudahlah!"
Malfoy menyeringai. Seringainya itu seperti menunjukkan bahwa dia mau membalasku, tapi itu tidak dilakukannya. Ia malah melanjutkan menonton Spongebob yang tadi tertunda. Well, dia sendiri yang membuatnya 'tertunda'.
Aku diam saja dan duduk di sofa lainnya, ikut mengikuti Malfoy yang asyik menonton kartun kesukaannya itu, Spongebob Squarepants. Well, hanya mengikuti 'menonton', tidak mengikutinya menonton sampai tertawa terbahak-bahak dan tak bisa berhenti. Demi Merlin, aku heran dia tidak kencing celana karena terlalu banyak tertawa!
"Aku suka Squidward!" seru Malfoy ditengah-tengah tawanya.
Aku mencibir dan menyandarkan punggungku ke sandaran sofa. Betapa lelahnya aku hari ini! Harus menghadapi pencuri, melapor ke Polisi, dan akhirnya harus menonton bersama orang gila yang terlalu sering tertawa ini.
.
.
Setelah tayangan Spongebob Squarepants habis…
Malfoy mematikan televisi dengan satu tekanan pada remote. Aku yang masih ingin menonton, sebenarnya ingin memprotes. Tapi, aku terlalu malas bahkan hanya untuk membuka mulutku dan mengucapkan satu huruf saja.
Malfoy menatapku santai. "Aku lapar, Granger."
Aku sedang malas berbicara, tapi entah kenapa aku berhasil juga membuka mulutku dan bertanya, "Terus? Apa hubungannya denganku kalau kaulapar?"
"Hubungannya? Tentu saja kau harus memasak untukku!"
What? Malfoy? Meminta untuk dimasakkan? Enak saja!
Aku membelalakkan mata. "Hei! Kenapa aku harus memasak makanan untukmu? Seperti kau tidak bisa memasak sendiri saja! Tentu saja aku tidak mau!"
"Apakah kaulupa kalau aku ini tamu?"
"Mau kau tamu atau bukan, aku tetap tidak mau!"
Sunyi.
'Kruyuk… kruyuk….'
Sial! Kenapa perutku malah berbunyi di saat seperti ini? Mau kutaruh di mana mukaku? Memalukan!
Malfoy menyeringai lebar. "Kaulapar, Granger."
Aku hanya mendengus kesal. "Ya! Memang? Kenapa? Masalah untukmu? Dan aku akan memasak sendiri untuk diriku sendiri!"
"Masakkan aku," komentar Draco singkat.
Aku pura-pura berpikir, "Hmm… mengingat kau tidak bisa sama sekali memasak…"
Draco membelalak dan menatapku, "Aku bisa memasak! Siapa bilang aku tidak bisa memasak?"
Aku menyeringai, senang karena umpan yang ia keluarkan berhasil. "Ckckck, Malfoy… tidak ada orang yang bisa memasak, lalu menyuruh orang lain memasakkannya! Apalagi jika orang itu hanya tamu!"
"Terserah kau, yang jelasnya kau bisa memasak!" seru Draco.
Aku menutup telingaku dan pura-pura bernyanyi, "Lalalala… aku tidak dengar, Malfoy yang tidak bisa apapun terutama memasak."
"Aku bisa memasak, Berang-berang!"
"Lalalala…."
"Aku bisa, tahu!"
"Buktikan," ujarku santai.
Draco berdiri dari sofa. "Ya! Aku akan memasak sendiri! Dan sepertinya aku yang yakin kalau kau tak bisa memasak! Makanya kau menantangku, memanasiku seenaknya!"
Emosiku tiba-tiba hadir, ikut memanaskan suasana. "Aku bisa! Dan aku akan memasak!"
Draco mengangguk, menyeringai. "Ya… kita sama-sama memasak saja, Granger. Kita buktikan siapa 'raja' sesungguhnya dalam hal memasak. Aku? Atau kau?"
"Ya," jawabku.
Draco menyeringai lagi. "Sebenarnya, tanpa perlu bertanding, kita sudah bisa mengetahui hasilnya. Tentu saja… aku yang jadi 'raja' dalam hal memasak!"
"Aku rajanya, Malfoy!" seruku marah. Tentu saja aku tidak terima! Aku sudah memasak… sejak aku ada di tahun pertama Hogwarts! Masa aku dikalahkan oleh seseorang yang kucurigai tidak pernah memasak dan hanya menunggu makanan tersaji di meja makan?
"Dasar bodoh," komentar Malfoy.
"Apanya yang bodoh? Kau yang bodoh!" seruku marah. "Outstanding-ku ada sembilan, dan hanya orang gila yang mengatai orang yang mendapat nilai Outstanding sebanyak sembilan itu bodoh!"
"Apakah ada perempuan yang menjadi 'raja'? Mau kaucari dari Kutub Selatan ke Kutub Utara, takkan pernah kaudapat raja yang jenis kelaminnya perempuan! Perempuan itu 'ratu', Bodoh!"
Aku tertegun. Malfoy benar juga.
"Yang jelasnya aku yang paling jago memasak!" seruku, mengalihkan topik pembicaraan agar Malfoy tidak mengatakan 'bodoh' padaku.
Malfoy menyeringai. "Mari kita lihat, Sayang."
Aku mendelik. Berani sekali Malfoy mengataiku 'Sayang'!
.
.
Semua alat masak yang dimiliki Mum dihamparkan di atas meja dapur. Ada panci, wajan, talenan, cobek, dan masih banyak lagi. Meja dapur sudah kubagi menjadi dua menggunakan spidol hitam sebagai pembatas, dan masing-masing dari kami—aku dan Malfoy—memiliki area tersendiri. Aku di bagian kanan meja dapur, dan Malfoy menguasai bagian kiri meja dapur.
"Perhatikan, Malfoy. Aku akan menjelaskan peraturan-peraturan yang berlaku di 'persaingan' memasak ini," kataku tajam.
Malfoy memprotes. "Hei? Kenapa kau yang menentukan aturan-aturannya? Memangnya kau juri persaingan ini? Aku juga berhak, Granger!"
Aku mendesah. Hanya masalah aturan saja, Malfoy sudah memprotes! Aku tidak akan curang dan membuat aturan yang menguntungkan diriku sendiri, tahu!
Karena sedang malas berdebat, aku hanya mengangguk setuju. "Ya, whatever. Kaubisa mendengarkan aturan yang kubuat, dan kalau kau tidak suka, kaubisa memprotes dan kita akan memikirkan solusinya."
Malfoy mengangguk setuju. Belum apa-apa, senyum kemenangan yang licik sudah muncul di wajahnya.
"Oke. Aturan pertama, kita boleh memasak apapun yang kita inginkan, tetapi, hanya makanan yang biasa dimakan saat lunch. Aturan kedua, aku memasak di areaku, dan kau di areamu! Tetapi aku tidak melarang area masing-masing dikunjungi. Dan kompor, bisa digunakan bersama-sama. Aturan ketiga, semua bahan boleh digunakan asalkan tidak membahayakan. Ada pertanyaan?"
"Seperti apa itu bahan yang membahayakan?" tanya Malfoy, bertanya hal-hal yang remeh.
Aku memutar bola mataku. "Baru saja masalah bahan yang berbahaya, kau sudah tidak tahu. Bagaimana caramu bisa menang persaingan ini?"
"Jangan-jangan, kau sendiri tidak tahu bahan apa yang berbahaya itu? Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku dan malah mengganti topik?" pancing Malfoy.
Aku membelalak. "Tentu aku tahu! Bahan yang tidak boleh digunakan atau membahayakan itu seperti pewarna pakaian, formalin, dan lain-lainnya!"
"Pewarna pakaian? Memangnya saat memasak, kita menggunakan pewarna? Kukira kalau kita ingin memproduksi barang saja, baru kita menggunakan pewarna," komentar Malfoy acuh tak acuh.
"Terserahlah," kataku, malas berdebat. Aku ingin cepat-cepat membuktikan kalau aku adalah ratu dalam bidang memasak! Hahahaha. "Oke, satu dua tiga, mulai!"
Malfoy dan aku, berlari ke area masing-masing. Kemudian, kami mengambil bahan yang kira-kira kami perlukan untuk memasak.
"Kaumau memasak apa, Berang-berang?" tanya Malfoy. Di saat-saat seperti ini, Malfoy masih sanggup juga menghina!
"Kaupanggil aku Berang-berang? Kau tidak sadar kalau sebenarnya kau itu sangat cocok jika dipakaikan ekor dan menjadi Musang? Aduh, Malfoy, sebaiknya aku membawamu ke Dokter!"
"Sudah! Diam dulu! Aku ingin konsentrasi memasak!" seru Malfoy kesal.
Aku mengernyit. "Hei? Memangnya siapa yang mengajakku berbicara duluan?"
Malfoy hanya diam, tidak membalas perkataanku.
Cih, sok serius!
Normal POV
Dan sementara itu, Hermione mulai mengambil bahan yang tersedia di dapurnya tersebut. Hm, bahan di Dapur keluarga Granger memang selalu lengkap, jarang kekurangan.
Hermione berpikir dia akan memasak spaghetti saja. Selain gampang karena spaghetti adalah makanan cepat saji, spaghetti juga makanan enak yang selalu menjadi favorit untuknya dan untuk keluarga Granger.
Dan Draco, memilih memasak ayam yang dibalur tepung.
"Sepertinya aku akan mengambil… spaghetti dulu," ujar Hermione.
Draco hanya melirik Hermione sekilas, lalu melanjutkan memotong-motong ayam yang memang sudah dibersihkan. Hermione hanya mengangkat bahu—keheranan karena Draco tidak merespon—lalu segera berjalan meninggalkan saus spaghetti-nya yang ia biarkan berada di dalam sebuah mangkok.
Draco menyeringai.
Hermione berdiri di depan lemari tempat menyimpan bahan-bahan makanan. Ia lupa dimana biasanya Mrs. Granger menaruh spaghetti.
Hermione membuka lemari paling bawah, tidak ada. Setelah itu, ia membuka lemari kedua dari yang paling bawah, tidak ada juga. Dan seterusnya sampai lemari keempat, lemari terakhir yang bisa ia jangkau. Lemari kelima, memang tidak bisa ia buka karena terlalu tinggi.
Dan diam-diam, Draco mengendap-endap berjinjit ke meja dapur yang menjadi area masak Hermione.
Draco memang mempunyai niat jahil sejak persaingan awal dibuat.
Draco menambahkan garam dan merica ke dalam mangkok tempat saus spaghetti yang akan dicampur dengan spaghetti oleh Hermione. Setelah menambahkan banyak sekali merica dan garam, Draco mengaduk-aduk saus tersebut agar rata dan kemudian, menambahkan beberapa tetes cuka di dalamnya.
Sementara itu, Hermione sibuk berjinjit, berusaha membuka lemari kelima yang mungkin saja berisi spaghetti.
Ketika berhasil berjinjit lebih tinggi dari sebelumnya dan merogoh-rogoh isi lemari tersebut, Hermione berhasil menemukan bungkusan berisi spaghetti yang isinya masih cukup banyak.
"Yes!" seru Hermione senang.
Sudah pasti saat itu adalah waktu yang sial bagi Hermione dan untung bagi Draco. Karena begitu Hermione berjalan kembali ke area masaknya di meja dapur sambil tersenyum dan membawa bungkusan spaghetti, Draco sudah berhasil kembali ke area masaknya dan memasang muka-muka tidak bersalah, seolah semuanya berjalan dengan normal.
Begitu sampai ke area mejanya, Hermione menyeringai pada Draco, lalu seringaian itu tambah lebar ketika melihat ayam hasil potongan Draco yang sedikit berantakan.
Draco, yang sadar kalau Hermione tidak melanjutkan memasak dan malah melihat-lihat ayam hasil potongannya, sedikit terganggu. "Apa?"
Hermione mengangkat kedua alisnya. "Hm? Tidak ada apa-apa."
"Hm."
Hermione menyeringai lagi melihat Draco yang sedikit kesusahan begitu memotong bagian lemak dari ayam tersebut. "Well, good luck, Malfoy."
Draco menatap Hermione lagi, lalu balas menyeringai. Seringaian itu lebih lebar dari seringaian Hermione. "Eh? Good luck, Granger."
Lalu mereka diam dan memasak dengan serius. Atau hanya Hermione yang serius, dan Draco terus-menerus tersenyum penuh kemenangan dan berbatin, "Aku yang menang, Granger! Aku yang jadi raja!"
Draco membawa ayamnya, ingin dicuci sekali lagi di wastafel.
"Mau kemana, Malfoy?" tanya Hermione penasaran.
"Mencuci ayam," jawab Draco acuh tak acuh.
Draco pun beranjak pergi ke wastafel yang membelakangi meja dapur, lalu sibuk mencuci potongan-potongan ayam yang nantinya akan dicelupkan di tepung dan digoreng.
Hermione diam, tertegun menatapi tepung terigu yang ada di area masak Draco.
Well, Hermione, mengakui dalam hati kalau dia ingin menjahili Draco dengan cara mengganti tepung terigu tersebut dengan tepung kanji.
"Apa jadinya ayam yang dilaburi tepung kanji?" batin Hermione geli. "Rasanya aku ingin sekali menjahili Malfoy. Tapi itu tidak baik. Itu curang."
Hermione terdiam, masih tertengun menatapi tepung terigu di baskom yang terdapat di area masak Draco. Dan sementara itu, Draco masih asyik mencuci bersih ayam-ayam tersebut.
"Tapi kapan lagi aku bisa menjahili Malfoy, kalau bukan sekarang?" batin Hermione senang.
Maka, Hermione diam-diam mengambil tepung kanji yang kebetulan terletak tidak jauh darinya dan mengambil baskom yang sama persis dengan baskom tempat tepung terigu Draco sekarang.
Hermione menuangkan tepung kanji ke baskom tersebut dan kemudian—masih dengan diam-diam dan tanpa suara—Hermione mengganti baskom berisi tepung terigu tersebut dengan baskom berisi tepung kanji.
Bertepatan dengan Hermione yang kembali ke area mejanya, Draco kembali ke meja dapur areanya dan mencampur daging ayam yang sudah ia cuci dengan tepung… terigu yang sudah diganti Hermione dengan kanji.
Sebenarnya ada perbedaan antara tepung kanji dengan tepung terigu. Walaupun sama-sama bertekstur halus, warna tepung kanji dengan tepung terigu berbeda. Tepung kanji putih, dan tepung terigu putih sedikit kekuningan.
Tapi mungkin, karena jarang melihat tepung kanji sekaligus tepung terigu, Draco tidak sadar dan tidak bisa membedakannya. Draco asyik saja mencampur tepung kanji dengan daging ayam yang sudah ia cuci tanpa sadar bahwa yang ia gunakan adalah tepung kanji, bahkan ketika ia melihat keanehan.
Well, ia berpikir mungkin memang seperti itu. Draco memang tidak bisa memasak, kan?
Draco hanya… pernah tidak sengaja membuka buku resep Muggle di perpustakaan Hogwarts. Itupun dia hanya membaca resep ayam bumbu tepung tersebut. Setelah itu, walaupun masih ada resep-resep lain yang menarik hati, Draco langsung menutup dan mengembalikan buku itu ke tempatnya.
"Wow, ayam bumbu tepung masakanmu tampak… enak, Malfoy," ujar Hermione menyindir, pura-pura memuji masakan Draco sambil berusaha menahan tawa ketika melihat tepung kanji yang dicampurkan dengan daging ayam milik Draco..
"Tentu saja. Sudah jelas kan, Granger? Siapa yang jadi juaranya?" batin Draco senang. Alih-alih mengucapkan apa yang batinnya katakan, Draco malah balas menyindir Hermione. "Spaghetti buatanmu juga tampak… fantastis, Granger. Apalagi sausnya, tampak lezat sekali di mataku. Hm.. sepertinya aku tak sabar ingin mengaku kalah padamu."
"Thanks, Malfoy. Tidak kusangka, ternyata kau baik sekali."
.
.
Akhirnya, waktu memasak telah habis, dan dua peserta dari dua peserta yang mengikuti lomba merebutkan gelar Raja atau Ratu Memasak telah selesai dengan masakannya, dan mereka kini sedang menyajikan makanannya masing-masing.
Tapi, sepertinya ada masalah dengan masakan Draco.
"Kenapa bisa seperti ini?" jerit Draco stres. "Aku pernah melihat Dobby memasak ini, dan hasilnya bagus! Terlihat lezat! Tapi ini?"
"Sudahlah, Malfoy. Lupakan saja. Toh ini hanya lomba," kata Hermione tersenyum sambil mencampurkan spaghetti dengan sausnya sampai merata. "Ngomong-ngomong, ayo akui kalau aku adalah yang paling jago dalam hal memasak di antara kita!"
Draco mengacak-acak rambutnya frustasi. "Mengaku saja, Granger! Kau pasti melakukan sesuatu pada masakanku! Ayo mengaku!"
Hermione membelalak. "Apa kaubilang? Kaupikir aku seculas dirimu?"
"Aku tidak culas, Tolol! Kau yang culas! Mengakulah!"
"Aku. Tidak. Melakukan. Apapun. Pada. Masakanmu. Yang. Hancur. Itu!"
"Tapi tidak mungkin hasilnya seperti ini kalau seseorang tidak menghancurkannya!" seru Draco kesal.
"Akui saja kalau aku yang menang!"
Draco menyeringai di antara kekesalannya. "Kau yang menang? Oh ya? Selamat, Granger. Kau dan aku bahkan belum tahu seperti apa rasa masakanmu itu!"
Hermione memutar bola matanya. "Masakanku, mau enak atau tidak walaupun pasti enak, tetap saja akan menang daripada masakanmu! Masakanmu apa? Hanya daging ayam yang digoreng tanpa rasa sedikitpun!"
Draco hanya diam dan melipat tangan di dada.
Hermione mendengus, lalu mencoba spaghetti buatannya yang ia yakini sangat lezat.
Draco hanya menonton saja melihat Hermione yang mencicipi spaghetti-nya dan terdiam. "Bagaimana, Granger? Rasanya fantastis, ya?"
Hermione melepehkan spaghetti tak karuan— garam, merica dan cuka yang berlebihan oleh Draco—di sebuah mangkok. "Pahit sekali!"
"Jadi kau menang, Granger?"
Hermione mengelap mulutnya. "Malfoy! Kau pasti yang membuat masakanku jadi hancur seperti masakanmu!"
"Kau hanya bisa menuduh, dan tuduhanmu itu tak berbukti apapun, Granger!" seru Draco kesal. "Mana bisa kau seperti itu?"
"Bisa! Karena kau melakukannya!"
"Aku orang baik, Granger!" seru Draco. "Dan kau juga menghancurkan masakanku! Harusnya kita impas!"
"Kita impas?" tanya Hermione dengan nada tinggi yang membuat semua orang merinding. Semua orang kecuali Draco, tentunya. Karena anak tunggal dari pasangan Narcissa Malfoy dan Lucius Malfoy itu santai-santai saja menghadapi amukan dari Hermione Granger. "Berarti, kau juga menghancurkan masakanku!"
"Kau juga, kan?" seru Draco.
"Ya! Kenapa?"
"Kau… curang, Berang-berang!"
"Enak saja mengataiku seperti itu! Kau juga curang, Ferret!"
"Enak? Tentu saja enak! Lagipula kau pantas mendapatkannya karena kau curang!"
"Kau yang curang!"
"Kau!"
"Kau!"
"Kau!"
"Kau yang curang!"
"Kau yang curang!"
"Bukan aku! Tapi kau yang curang!"
Hening.
Kruyuuuk…
Bunyi perut keduanya, membuat pertengkaran anak kecil itu berhenti. Mereka terdiam malu dengan wajah yang memerah seperti kepiting rebus.
Keduanya mengatakan dengan pelan, "Aku lapar…."
Setelah itu, mereka berdua berjalan ke Ruang Keluarga dan tidak memedulikan masakan mereka berdua yang sama-sama hancur.
Hermione duduk di sofa tunggal. Tangan halusnya menopang dagunya sendiri.
Draco juga duduk di sofa lain yang panjang.
Lama mereka berdiam-diri seperti itu. Sampai… dengkur Draco memenuhi ruangan.
Hermione melirik Draco yang tertidur. Bukan melirik, karena Hermione menatapnya lama. Baru kali ini ia melihat seorang Draco Malfoy tertidur.
Dan ketika Draco tertidur, di mata Hermione, semua perbuatan usil, jahil, jahat atau kejam yang pernah Draco lakukan menjadi seperti tidak pernah Draco lakukan. Wajah aristokratnya berubah menjadi wajah seorang anak kecil yang senang. Ya, Draco tersenyum dalam tidurnya.
Hermione ikut tersenyum. Dan entah apa yang menggerakkannya, Hermione beranjak dari sofa tunggal yang ia duduki dan pergi ke kamarnya mengambil selimut.
Setelah itu, ia menyelimuti Draco.
Senyuman Draco bertambah lebar ketika selimut itu mulai menghangatkan dirinya.
Hermione melihat ke luar jendela. "Sudah jam segini, waktunya makan siang. Aku dan Malfoy bahkan belum sarapan."
Hermione pergi lagi. Kali ini ia pergi ke dapur, hendak memasak sesuatu yang instan, dan paling tidak bisa mengganjal perut. Hermione, jujur sedikit merasa lemas karena belum makan.
Hermione, jika kelelahan dan belum makan, memang menjadi cepat lemas.
Ketika membuka-buka laci dan mencari makanan yang bisa dimakan, beruntung, Hermione menemukan beberapa bungkus mie instan yang bisa ia masak.
Hermione mengambil satu bungkus mie instan, lalu menutup laci.
"Satu saja. Biar aku masak sendiri untuk diriku sendiri," batin Hermione. Tiba-tiba ia teringat Draco. "Tapi Malfoy? Dia belum makan, kan?"
Hermione mendengus. "Tapi untuk apa aku memasakkannya? Dia juga tadi mencurangiku saat lomba!"
"Tapi… aku juga mencuranginya, kan?" batin Hermione lagi. "Tapi kasian dia… dia belum makan. Lagipula… apa sih, susahnya memasak dua bungkus mie instan? Dan dia juga tamu, kan? Tuan rumah harusnya bisa menyenangkan tamunya. "
Hermione bimbang.
Kemudian ia membuka laci tersebut untuk kedua kalinya dan mengeluarkan satu bungkus mi instan lagi.
Hermione pun mulai memasak dua bungkus mi instan tersebut.
.
.
Mie instan telah selesai. Asapnya mengebul karena masih panas, baru dimasak.
Hermione mencuci tangannya dan bingung. Apakah ia membiarkan Draco tetap tertidur atau membangunkan Draco?
Hermione menaruh dua mangkok mie kuah instan tersebut di meja makan, lalu ia berjalan ke Ruang Tamu dalam keadaan masih bingung ingin membiarkan Draco tetap tertidur atau membangunkannya supaya dapat makan siang… sekaligus sarapan sebenarnya.
Hermione berdiri di depan Draco yang masih tertidur di sofa. Senyum belum luntur dari wajah pucatnya.
Lalu Hermione berlutut.
Dan ia terkejut sendiri ketika tangannya bergerak menyentuh helai-helai rambut pirang milik musuhnya sejak kelas satu, Draco Malfoy.
Rambutnya lurus, halus, dan tampak kuat. Seperti rambut yang biasanya milik model iklan shampoo terkenal.
Tiba-tiba Draco terbangun. Hermione segera menarik tangannya.
Draco mengusap-usap matanya. "Kenapa kau di sini, Granger?"
"Eh?" Hermione menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, berusaha mencari alasan. "Aku… oh iya, ada mie instan di meja makan. Kaumau makan, tidak?"
Nada yang Hermione gunakan adalah nada biasa ketika ia berbicara pada Draco, nada ketus. Tapi nada itu sedikit lebih halus dari biasanya.
Dan Draco merasakan itu.
Hermione bergerak, berjalan ke meja makan untuk menyantap mie instan miliknya.
Meninggalkan Draco yang kebingungan dengan selimut pink yang menyelimutinya. "Hei? Siapa yang menyelimutiku? Bukankah aku tadi… tertidur tanpa menggunakan selimut?"
Draco melihat Hermione dari belakang, yang berjalan ke meja makan. "Apakah Granger? Ya, sepertinya Granger. Kan di rumah ini tidak ada siapa-siapa selain aku dan dia."
Dan saat menyingkirkan selimutnya, Draco tersenyum.
.
.
FIN
Akhirnya selesai setelah berbulan-bulan berusaha menyelesaikan fic ini :D *timpuk sandal*
Sori ya, aku lagi kesusahan dan dilanda bosan kalau lagi ngetik fic-fic punyaku yang multi-chapter -_-
Ada adegan yang kuambil dari serial 'Waktu Rehat'… dan mohon maaf kalau ada cerita yang sama, aku sama sekali gak tahu dan gak ngejiplak.
Makasih untuk yang udah ngereview dan nge-fav fic ini :D
Dan untuk chapter ini, Kak Rey619 yang memberikan… semacam ide untuk plot di chapter ini :D makasih yaa… dan maaf, tantangan 5.000 kata itu gak bisa kucapai -_-
Mind to RnR?
