Hola minna-san...

Salam kenal senpai-senpai dan reader semua...

Mizu di FBI sangat newbie nih, kenal FBI aja baru-baru ini. jadi, mohon bantuannya ya senpai-senpai semua tentang fic IchiRuki pertamaku...

Ok! Langsung aja yah, ^^

.


.

You're My Sadness or My Happiness?

By : Mizuna Kuchiki Raira

.

.

Summary : "Aku mohon maafkan aku dan keluargaku Rukia," Rukia menggoseskan tinta hitam pada sebuah kertas. / "Aku akan memaafkanmu jika kau mendapat hal serupa menimpamu."

Disclaimer : Bleach is Tite Kubo's

Genre : Hurt/Comfort, a little bit of Romance

Pairing : IchiRuki

Rated : T

Warning : Typo bertebaran, abal, GaJe, alur sangat kecepetan, author newbie, diksi kurang, gunta-ganti POV, membingungkan, de el el *periksa aja sendiri* #plak dor

Don't like? So, don't read and click back

.


.

Satu kata, bahagia. Semua orang tentunya mempunyai penafsiran yang berbeda-beda dari makna kata satu ini. Sebagian orang menafsirkan kebahagiaan dengan banyaknya harta yang melimpah atau bisa mendapatkan semua yang diinginkannya. Ada pula orang yang bahagia hanya karena ia bisa bersama dengan orang yang disayangi ataupun dicintai sampai akhir hayatnya. Atau, ada juga yang bahagia orang yang dicintainya itu bersama orang lain yang lebih dicintainya walaupun hati terasa sakit, perih, terluka dan ada sedikit perasaan tak rela.

Tapi, berbeda dengan kehidupan yang dialami oleh seorang gadis satu ini. Seorang gadis yang cantik dan memiliki rambut hitam pekat beserta iris lavender atau amethyst yang indah. Seorang gadis yang em, cukup pendek. Ya, ukuran tubuhnya memang mungil dibandingkan dengan gadis seusianya. Gadis yang mungil namun cantik dan imut.

Kehidupan gadis ini memang bisa dibilang makmur dengan harta yang cukup melimpah dari penghasilan sang Tou-san sebagai direktur dari sebuah perusahaan, Kuchiki's Corporation. Selain itu, dia juga memiliki orangtua yang sangat menyayanginya. Byakuya Kuchiki dan Hisana Kuchiki.

Namun, kebahagiaan itu mulai menghilang satu per satu sejak hari itu...

Rukia's POV

"Tadaima..." ucapku saat aku telah sampai di depan pintu rumah. Dengan otomatis, pintu terbuka.

Hening, sepi. Itulah yang aku dapat saat mengucapkan kata tadi. Biasanya, Kaa-san membalas paling tidak dengan okaeri. Tapi tidak untuk sekarang ini.

'Sebenarnya Kaa-san kemana sih?' Sebuah pertanyaan melintas di sel otakku.

'Mungkin tadi Kaa-san tak mendengarnya,' inner-ku mencoba menerka.

Aku langsung melepas sepatu yang kugunakan dan menyimpannya di rak sepatu yang tersedia.

Kakiku tertuju pada kamar yang terletak di lantai dua. Lebih tepatnya, kamarku sendiri. Aku bermaksud menyimpan tas dan mengganti seragam sekolah yang aku gunakan hari ini. Well, aku cukup disiplin dengan kegiatan yang kulakukan sehari-hari. Termasuk menyimpan sesuatu ke tempatnya.

Tap...

Kakiku sontak berhenti ketika aku melewati kamar Kaa-san dan Tou-san-ku. Aku mendengar dua orang yang sedang bercakap-cakap. Suara dua orang yang sangat kukenal yang tak lain adalah suara Kaa-san dan Tou-san. Yang membuatku heran, sepertinya Tou-san berbicara dengan suara yang parau dan lirih. Ditambah dengan suara isakan Kaa-san.

'Sebenarnya apa yang terjadi?' sebuah pertanyaan kembali terlintas di bagian otakku, lebih tepatnya di cerebrum-ku.

Aku yang awalnya berniat untuk ke kamar, kini aku lebih tertarik untuk mendengarkan apa yang dibicarakan oleh kedua orangtuaku. Sebenarnya, ini tidak sopan juga menguping pembicaraan. Apalagi ini pembicaraan kedua orangtuaku. Yah, bagaimanalagi. Rasa penasaranku terlampau besar dibandingkan dengan sopan-santun yang seharusnya aku utamakan.

Badanku didekatkan dengan daun pintu kamar Kaa-san dan Tou-san. Mata kiriku terpejam sedangkan mata kananku terbuka, mencoba melihat apa yang sedang terjadi melalui lubang yang sangat kecil, celah kenop pintu. Aku berdiri bak seseorang pencuri yang tengah mengintip dan mencoba menguping pembicaraan.

Samar-samar, tampak punggung Tou-san yang sepertinya tengah terduduk di sofa sambil melihat ke arah Kaa-san yang terisak dan menutup wajah dengan kedua tangannya sambil duduk di futon.

'Kaa-san? Mengapa kau menangis?' inner-ku lagi.

'Apa penyebabnya? Kaa-san?' di benakku terus tertanam pertanyaan-pertanyaan tentang apa yang barusan kulihat dari iris amethyst-ku.

Aku mengubah posisi. Memiringkan tubuhku dan menempelkan telinga kananku pada daun pintu. Beberapa menit yang terdengar hanya suara isakan pelan Kaa-san. Tak lama, aku mendengar Kaa-san memulai pembicaraan.

"Ta-tapi, bagaimana dengan kehidupan Rukia nanti? Ma-masa depannya masih panjang," ucap Kaa-san sedikit terbata-bata karena isakan tangisnya.

Aku tertegun.

'Tunggu dulu. Rukia? Itu kan aku. Masa depanku? Apa sebenarnya yang sedang mereka bicarakan?' pertanyaan terus menyerbu cerebrum-ku. Namun aku tak begitu paham dengan apa yang sedang mereka perbincangkan.

"Entahlah. Orang-orang terdekat di perusahaanku telah menyimpang dan dengan mudahnya aku tertipu oleh mereka. Aku tak tahu lagi harus berbuat apa. Semua omset usahaku bangkrut. Ditambah dengan isu aku berbuat korupsi dan semacamnya," papar Tou-san panjang lebar dan membuat mataku terbelalak tak percaya.

Hening beberapa saat. Namun, tak lama, Tou-san melanjutkan perkataannya, "Belum lagi perusahaan kita masih memiliki hutang lebih dari 20 milyar. Jika rumah kita dijual pun tak akan cukup untuk menutupinya."

'A-apa? Lebih dari 20 milyar?'

Bruukkk...

Reflek aku menjatuhkan tas yang aku genggam di pergelangan tanganku. Aku terlalu syok mendengar apa yang Tou-san ucapkan. Badanku membeku, berdiri membatu. Hal itu pula memberhentikan pembicaraan mereka berdua dan seketika suara decitan pintu terbuka. Menampakkan Kaa-san yang sepertinya tengah mengusap kedua pipi yang telah menumpahkan liquid bening dari kelopak matanya. Membuat sembab dan sedikit bengkak.

"Rukia, kau sudah pulang?" tanya Kaa-san basa-basi.

Aku kembali ke alam sadarku. Dan langsung mengambil tas yang tadi tak sengaja kujatuhkan.

Aku tersenyum dan mencoba mencari jawaban yang akan kulontarkan untuk pertanyaan yang barusan Kaa-san ajukan padaku.

"Umm... ya, aku baru saja pulang Kaa-san," ucapku sambil memberikan lagi senyuman tipis di bibirku. Berusaha sebisa mungkin untuk berpura-pura tidak pernah mendengar apa yang tadi mereka perbincangkan. Untuk memastikan bahwa aku tidak mendengarkan percakapan mereka, aku pura-pura kaget melihat raut wajah Kaa-san yang sembab.

"Kaa-san kenapa? Apa yang terjadi? Sepertinya Kaa-san telah menangis." Aku mengamati sekilas wajah Kaa-san.

"Tidak apa-apa kok. Ano, mungkin hanya kelilipan." Aku melihat Kaa-san menyunggingkan seulas senyuman.

Aku tahu itu hanya alasan klise. Alasan klasik. Tapi, aku berusaha bertindak seolah-olah mempercayainya.

"Oh... Aku kira Kaa-san kenapa-kenapa. Sudah dulu Kaa-san, aku mau menyimpan tas dan mengganti seragamku," ucapku.

"Ya," jawab Kaa-san singkat.

Setelah itu, aku segera pergi menuju ruangan kamarku.

.


.

Aku langsung saja merebahkan seluruh tubuh di atas futonku. Memandangi langit-langit kamar. Walaupun iris amethyst-ku tertuju pada langit-langit kamar, namun pikiranku melayang entah kemana. Melayang memikirkan percakapan Kaa-san dan Tou-san barusan.

Perkataan Tou-san dan Kaa-san terngiang di telingaku.

"Ta-tapi, bagaimana dengan kehidupan Rukia nanti? Masa depannya masih panjang,"

"Entahlah. Orang-orang terdekat di perusahaanku telah menyimpang dan dengan mudahnya aku tertipu oleh mereka. Aku tak tahu lagi harus berbuat apa. Semua omset usahaku bangkrut. Ditambah dengan isu aku berbuat korupsi dan semacamnya,"

Pikiranku semakin kacau. Tak kusangka ternyata hal itu terjadi. Pantas saja beberapa hari kebelakang pembantu di rumahku semakin berkurang. Aku kira itu karena mereka ingin mengambil cuti. Tapi ternyata, mugkin ini juga termasuk sebab dari bangkrutnya perusahaan Tou-san.

"Huufffttt..." Aku menarik napas panjang.

Perkataan Tou-san yang lainnya juga terngiang di telingaku.

"Belum lagi perusahaan kita masih memiliki hutang lebih dari 20 milyar. Jika rumah kita dijual pun tak akan cukup untuk menutupinya."

'Apa yang seharusnya dilakukan untuk menutupi hutang sebanyak itu? Biaya darimana Tou-san dapat membayarnya sedangkan Kuchiki's Corporation saja bangkrut. Oh, Kami-sama...' batinku terus bersuara.

Perasaan dan hatiku terasa begitu sesak. Hingga aku tak kuasa menahannya dan segera mengatupkan kelopak mataku. Mencoba terlelap, menghilangkan semua peraasaan sesak dan menenangkan pikiranku yang sangat kacau. Walaupun masalah ini tak akan pergi. Tapi aku lebih memilih menghilangkannya sejenak.

.

.

Aku membuka kelopak mataku. Tak terasa aku terlelap hingga sore hari tanpa mengganti seragam sailor-ku terlebih dahulu. Aku melirik ke arah jendela kamar yang terletak di ujung pandangan mataku. Aku melihat, cahaya jingga mulai tersebar merata menutupi warna biru langit yang cerah. Cahaya yang bersinar dari sang mentari yang akan bergulir ke arah barat. Memancarkan cahaya jingga yang redup, mungkin seredup mataku sekarang ini.

Aku yang masih terbaring di atas futon, segera berdiri untuk membersihkan tubuhku dari cairan asin yang menguar dari lapisan kulit.

Saat ini, yang aku inginkan adalah berendam di bath-tub di samping kamar. Merendam semua pikiran dan memori yang sampai saat ini masih melekat di sel otakku.

.

.

Malam hari...

Tuk... tuk... tuk...

Terdengar suara seseorang mengetuk pintu kamarku disusul dengan sebuah suara Kaa-san yang memanggilku.

"Rukia, sudah waktunya makan malam. Turunlah, ayo kita makan bersama."

"Iya Kaa-san. Aku segera datang," ucapku langsung menyahut dan bergegas ke ruang makan untuk melaksanakan kegiatan rutinku, makan malam bersama keluarga.

Ruang makan terletak di lantai bawah. Untuk itu, kaki aku langkahkan satu per satu menuruni anak tangga yang melingkar. Anak tangga yang tersusun dan menghubungkan lantai satu dengan lantai dua.

Aku melihat Kaa-san dan Tou-san telah duduk rapi di kursi makannya masing-masing, menungguku untuk memulai makan malam bersama.

Suasana yang kurasakan saat ini begitu berbeda dari sebelumnya. Atmosfer di sekeliling pun terasa berbeda. Saat aku tatap kedua bola mata Tou-san dan Kaa-san, cahaya yang dipancarkannya meredup, tak secerah biasanya.

Aku duduk di salah satu kursi yang disediakan untukku. Acara makan malam telah dimulai. Hening, sepi, tak ada salah satu dari kami yang mulai bersua. Hanya terdengar suara piring yang terkena benturan halus sendok makan. Makan malam saat ini kulewati dengan kecanggungan diantara kami.

Setelah selesai, kegiatan rutinitas malam hari adalah mengerjakan tugas dan menyiapkan pelajaran untuk besok. Saat ini, aku sangat enggan untuk belajar. Bagaimana bisa aku belajar dengan tenang dan berkonsentrasi jika banyak hal yang kupikirkan dan pikiranku sedang kacau? Tentu saja situasi dan kondisi yang tak memungkinkan untuk belajar pada saat-saat ini.

Aku saat ini hanya duduk di kursi belajarku yang berhadapan dengan jendela kamar. Merasa sumpek, aku buka jendela lebar-lebar. Membiarkan angin malam dan cahaya sang dewi malam menyusup.

Angin malam menerpa rambut hitamku ketika aku kembali duduk di atas kursi meja belajar. Kedua tanganku tertumpu pada daguku dan Iris amethyst-ku tertuju pada malam kelam yang kulihat dari luar jendela. Oh tidak, saat ini aku hanya memandangnya dengan pandangan kosong. Entahlah, pikiranku semakin kacau.

'Bagaimana kehidupanku dan keluargaku nanti?'

"Arrgghh..." Aku mengacak-ngacak rambutku dan akhirnya lebih memilih untuk membaringkan badan. Tak lupa jendela kututup kembali.

"Hhhh..." Aku mendesah pelan.

Rasanya kepalaku begitu pening dan berat. Pandangan mataku perlahan-lahan mengabur, pelupuk mataku kini dipenuhi dengan liquid bening yag hampir terjatuh ke pipiku. Sepertinya liquid ini akan terus mengalir membasahi mata dan pipiku. Selanjutnya, aku tak ingat apa yang terjadi karena yang kulihat hanyalah warna hitam pekat. Gelap. Sangat gelap.

.

.

.

_To be Continued_

Cuap-cuap author :

Gimana fic IchiRuki pertamaku? Banyak kekurangan kah? Untuk itu, senpai-senpai dan readers moon untuk me-review fic ini. Mizu sangat senang sekali jika minna-san mau me-review dan tidak hanya jadi silent reader. Review itu salah satu faktor penyemangat untuk para author melanjutkan fic-nya loohh... *readers : kaga ada yang nanya* #author : pundung

Oh iya, aku ini suka bikin fic di FNI loohhh... khususnya di fandom SS dan NH... ada yang tahu atau pernah baca fic aku di FNI? *readers : kaga pernah* *author : sweatdrop* atau ada yg kenal aku di FB atau Twitter? *readers : kaga juga* *author : tepar*

Ini baru awalnya aja. Masih banyak penderitaan yang akan Rukia alami, keh keh keh.. #smirk

Ok segitu aja dari Mizu...

Sampai jumpa di chap selanjutnya ya~

Jaa minna~...

E