KANEKI
Sabtu siang yang cerah di Tokyo, Jepang.
Aku dan Hide nongkrong di kafe Anteiku.
"HAHAHA..."
Hide tertawa terbahak-bahak setelah aku menceritakan ideku membawa gadis yang kutaksir kencan di toko buku.
"Rencanaku bukan sesuatu untuk ditertawakan, kau tahu?" Kataku lalu meminum kopiku untuk menenangkan diri.
"Habis masa kencan pertama di toko buku. Kau tidak serius kan?"
"Kenapa tidak? Setiap kali melihatnya di sini dia selalu sedang membaca buku. Kami memiliki hobi yang sama, aku tahu dia akan menyukai toko buku."
"Heii kau tidak memberitahu sebelumnya kalau dia kutu buku sepertimu. Itu sangat tidak menarik, Kaneki." Hide menyandarkan punggunya ke kursi dan melanjutkan. "Yah.. Semoga saja dia benar-benar secantik seperti yang kau ceritakan."
"Dia benar-benar cantik!" Aku membuang wajah ke arah jendela untuk menyembunyikan pipiku yang pasti sudah merah. Mengingat Bidadari selalu membuatku malu.
Hide menyondongkan tubuhnya ke depan dan menopang dagunya dengan tangan kanannya. "Hm... Kau bersikeras seperti itu membuatku jadi tambah penasaran saja."
TING!
Gemerincing lonceng di pintu Anteiku mengalihkan perhatianku. Mataku membesar dan jantungku berdetak lebih cepat. Bidadari yang dari tadi kutunggu, akhirnya datang.
"I-itu... Dia." Kataku gugup. Hide segera menoleh kebelakang untuk melihat.
Aku mengunci pandanganku pada Bidadari. Mata bulat warna coklat terang, hidung mungil mancung, bibir merah jambu dan rambut hitam panjang tergerainya yang bergerak lembut saat ia berjalan melewati meja kami membuatku tak bisa berkedip.
"Menyerahlah."
Suara Hide membawaku kembali ke kehidupan nyata. Dengan terpaksa aku mengalihkan pandanganku padanya. "Hah?"
"Sekarang aku melihat kenapa kau sampai memanggilnya Bidadari. Tapi realistislah, kau benar-benar harus menyerah." Hide melipat kedua tangannya di depan dada, terdengar serius dengan perkataannya.
"Bukankah seorang teman seharusnya mengatakan yang sebaliknya?"
"Tingkat kecantikan nya terlalu tinggi untuk bisa kau gapai, kau dan dia akan menjadi Beauty and The apalah."
"The Beast." Aku menunduk lesu.
"Iya itu!" Hide menguap lebar. "Baiklah kalau begitu.. sekarang aku sudah melihat Bidadari yang membuatmu mabuk kepayang selama sebulan ini, aku pulang duluan ya." Katanya, meletakan uang di meja untuk membayar minumannya dan beranjak pergi begitu saja.
"Tunggu, Hide..." Kau kan janji akan membantuku berkenalan!
"Semoga beruntung, Kaneki pengkhayal!" Teriak Hide ketika dia sudah berdiri di pintu, membuat beberapa orang termasuk Bidadari mengalihkan perhatiannya padaku sesaat. Dia melambai lalu keluar dari Anteiku.
Dasar.. Sudah mengingkari janji malah mempermalukanku. Aku menghembuskan nafas berat dan membuka buku novelku.
Yang Hide katakan tentangku dan Bidadari mungkin benar. Tapi menyerah? Aku menoleh perlahan ke meja tempat Bidadari duduk. Aku benar-benar ingin mengenalnya.
Hatiku bergejolak senang saat Bidadari mengeluarkan novel yang sama denganku dari tasnya. Aku tersenyum lebar, apa aku terlalu narsis kalau berpikir kami sehati hanya karena hal ini?
Beberapa helai rambut Bidadari jatuh menutupi mata kanannya. Tanpa mengalihkan padangnya dari buku ia membenarkan rambutnya. Darah dalam tubuhku memanas membayangkan sekarang kami sedang membaca bersama dan aku yang membenarkan rambutnya.
Aku menutup novelku dan berdiri. Aku tidak bisa bekerja sama dengan tubuh atau perasaanku lagi! Kurasa aku tidak memiliki pilihan. Aku tidak peduli seberapa buruknya penolakan yang akan kudapat, kalau aku tidak melakukan ini aku tidak akan bisa tidur setiap malam. Dengan memutus urat malu aku berjalan menuju meja Bidadari untuk memperkenakan diri.
"P-Permisi, kau membaca buku yang sama sepertiku. Kalau tidak keberatan aku sangat ingin menjadi menjadi temanmu, namaku Kaneki Ken." Kataku cepat karena gugup. Aku membungkuk berusaha besikap sesopan mungkin.
Bidadari mengalihkan pandangnya dari buku untuk menatap wajahku. Aku mengepal kencang kedua tanganku untuk mengurangi getaran tubuhku tapi sialnya tidak bekerja. Berbicara begitu cepat, berdiri dengan tubuh gemetar dan wajah merah. Aku yakin Bidadari pasti memberiku label: orang asing aneh. Itu pemikiran negatifku, tapi kemudian dia tersenyum.
"Tentu."
Setiba di apartemen aku segera menghubungi Hide untuk memberitahu semuanya.
"Sepertinya kau sedang beruntung." Hide membalas dengan suara sedikit tidak jelas, sepertinya dia sedang makan di sana.
"Ya. Ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan, besok kami akan pergi bersama ke toko buku!"
"Oh, ya? Aku masih meragukan kencan di toko buku akan menyenangkan."
"E- besok bukan kencan." Aku berharap sih begitu, tapi sudah bisa pergi bersama saja aku sudah lebih dari bersyukur.
Hide tertawa. "Terserahlah. Yang pasti kau sangat menggilainya jadi selamat bersenang-senang besok."
"Ya."
Aku menutup flip handphoneku dan merebahkan badanku ke kasur yang sedang kududuki.
Sugoi! Aku tidak sabar untuk besok.
