YOU
Ini sabtu dan seperti biasa aku pergi ke kafe Anteiku untuk bersantai.
Aku memesan segelas es cappucino pada waitress yang mendatangiku lalu mengeluarkan novel dari tasku.
Aku mulai membaca novelku setelah es cappucino ku datang, aku suka pelayanan Anteiku yang cepat. Rambutku jatuh menutupi mata, sambil membalik halaman buku kusingkirkan helaian-helaian rambut di depan wajahku. Padahal baru beberapa menit tapi mataku sudah terasa berat sekali.
Mataku yang hampir sepenuhnya tertutup seketika membuka kembali karena seseorang menyapaku. "P-Permisi,"
Aku segera menoleh ke arah suara.
"kau membaca buku yang sama denganku. Kalau tidak keberatan aku sangat ingin menjadi menjadi temanmu, namaku Kaneki Ken." Kata seorang laki-laki berambut hitam yang tiba-tiba sudah berada di depan mejaku.
Aku tersenyum. Ini sedikit lucu karena dia mengingatkanku pada diriku sendiri saat Yamato-sensei memanggilku ke depan kelas untuk megerjakan soal Matematika di papan tulis, gugup setengah mati.
"Tentu." Kataku.
Kaneki membawa tas dan cangkir kopinya, pindah duduk bersamaku.
"Ano-maaf, kau belum memberitahu namamu."
"Oh," aku berhenti menyedot es cappucino ku dan mengulurkan tangan kananku padanya. "Aku Jeen Ohara."
Kaneki menatapku beberapa saat sebelum menjabat tanganku. Tangannya gemetar dan wajahnya begitu merah. "Kaneki-san kau seperti orang yang sedang sakit demam, apa kau baik-baik saja?" Tanyaku.
"Tidak-tidak," Kaneki menggeleng salah tingkah. "Aku sedang tidak sakit." Katanya lalu mengubah topik. "Jadi, dari semua karya Takatsuki Sen, mana yang menjadi favoritmu?"
"Tidak ada." Aku menjawab jujur. "Kau memiliki kesan yang salah tentangku, Kaneki-san. Aku bukan orang yang suka membaca, terutama buku tebal seperti ini,". Aku menutup buku di depanku untuk memperlihatkan covernya: The Black Goat's Egg ditulis oleh Takatsuki Sen. "Aku hanya membaca ini untuk tugas analisis karya sastra sekolahku."
"O-" Kaneki menatapku bingung.
"Maaf sudah mengecewakan." Aku nyengir bersalah lalu menyedot es cappucino ku sampai habis.
"E- tidak perlu minta maaf, aku yang salah mengira kita memiliki kesamaan hanya karena selalu melihatmu membaca novel."
"Selalu melihatku membaca novel.." Aku berujar pelan. "Kaneki-san sudah berapa lama kau memperhatikanku?" Tanyaku sambil menopang dagu dan menatap lurus padanya.
Kaneki menunduk seperti sengaja mengihdari kontak mata denganku. Aku tersenyum, dia benar-benar seorang Dork.
"Maaf.. Jeen-san. E- buku memang bukan alasan sebenarnya aku mengajakmu berkenalan," Kaneki menggaruk-garuk belakang kepalanya, keningnya basah karena berkeringat. "Aku benar-benar ingin mengenal Jeen-san. Tapi aku mengerti kalau Jeen-san.."
"Terima kasih untuk memberanikan diri mendatangi mejaku," aku menunduk hormat. "Aku senang bisa memiliki teman baru." Kataku diiringi senyuman.
Kaneki menatapku dalam diam agak lama, tapi kemudian membalas senyumku.
Kami mengobrol selama hampir satu jam. Aku kembali memesan es cappucino.
Kaneki orangnya menyenangkan. Aku terkagum mengetahui Kaneki adalah mahasiswa beasiswa Universitas Kamii, ternyata dia seorang jenius.
"Aku berharap bisa masuk ke sana tahun ini, tapi itu tidak mungkin."
"Tolong jangan berkata seperti itu, Jeen-san. Dan kalau kau butuh bantuan apa saja, aku akan dengan senang hati menolongmu."
Whoa Sungguh orang yang sangat baik.
Les private sangat mahal, ayah tidak perlu keluar uang sepeserpun kalau Kaneki menjadi guru pribadiku. Tapi... "Kaneki-san kita baru saja bertemu. Apa itu tidak apa-apa?"
"Jangan merasa tidak enak. Lagipula selain kuliah aku tidak benar-benar memiliki kegiatan lagi."
"Terima kasih banyak, Kaneki-san." Aku tersenyum riang.
"Ano-tentang tugas analisa karya sastramu, aku pernah mengerjakannya. Tapi maaf aku tidak bisa hanya memberikannya karena menyalin tidak akan membuatmu lebih baik. Jadi, bagaimana kalau besok kita bertemu di waktu luangmu? Aku akan menjelaskan semua yang tidak kau mengerti secara rincinya."
"Terima kasih! Terima kasih! Kaneki-san.."
Aku pulang lebih dulu karena harus mencuci pakaian. Besok aku dan Kaneki akan bertemu lagi di toko buku, kami memilih toko buku karena kata Kaneki makanan di food court sana enak.
"... gmail dot com," Kakeki bergumam pelan mengulangi perkataanku lalu menekan tombol OK, menyimpan kontakku di handphonenya. "Ja."
Aku memakai tas selempangku dan pamit. "Sampai jumpa besok, Kaneki-san."
"Hati-hati di jalan."
Aku tersenyum.
