Make You Alive

.

Disclaimer : Tadotoshi Fujimaki

Genre(s) : Romance, Tragedy, Hurt/Comfort

Pair : AoKaga

Warning : OOC, AU, Typo(s), EYD, Alur Kecepetan, Hurtnya ga kerasa :'v, hurt akan dimulai pada saat flashback chap depan :'v (ngapain dibilang ya)

.

KirigayaKyuu©

.

.


Chapter: Gara-Gara ToD


.

Dengan peluh di seluruh tubuhnya, Aomine tengah men-drible bola dengan ganasnya.

.


Flasback

.

Ahkirnya, pukul 4 sore, mereka sampai ke apartemen Kagami. Berbeda dengan Kagami yang langsung membawa barang-barang 'baru' nya untuk segera di pakai. Aomine langsung memasukannya ke dalam mesin cuci.

"Heee? Kenapa di cuci dulu?" tanya Kagami saat keluar dari kamar.

"Soalnya kita kan tidak tahu apakah pakaian itu bersih atau kotor" Aomine memasukan satu-persatu pakaian.

"Heee… kalau begitu aku juga mencuci pakaianku dulu" Kagami ikut mengantri di belakang Aomine

"Ne, Aomine. Main basket yuk? Sudah lama aku tidak bermain basket" ajak Kagami saat memasukan bajunya

"Hah? Sekarang?"

"Iya, apa kau masih lelah karena acara bolak-balik mencari mobil hm?"

"Te-tentu saja tidaak!" Aomine ingat. Saat Kagami lupa di mana mereka parkir. Salah mereka juga sih. Kenapa coba tidak menghafalkan daerah temoat parkir mereka. Kagami dan Aomine jadi harus naik-turun ke atas-kebawah ke masing-masing daerah parkiran jadinya. Bahkan Kagami lupa kalau dia memarkirkan mobilnya di parkiran outdoor.

"Kalau begitu ayo! Ambil sepatu mu!" Kagami langsung menuju kamar untuk mengambil sepatu Air Jordan 'baru' nya.

"Eh? Baiklah"

Mereka berduapun turun dari apartemen, menuju lapangan street basket terdekat. Tidak terlalu jauh dari apartemen. Namanya juga terdekat.

"One on One ya?" Kagami mencoba men-dribble bola.

"Yang mencapai skor 50 menang ya?" Aomine membuat kuda-kuda

"Heeee?! Banyak sekali. Hm, ya sudah ayo!"

Kagami melempar bola ke atas. Mereka mencoba loncat untuk menggapai bola dan, Kagami yang mendapatkan bola. Sekilas, Kagami dapat melihat percikan cahaya di mata Aomine. Percikan cahaya yang membuatnya hidup

End of Flashback


.

.

"Hosh..Hosh..Hosh"nafas kedua pemain itu pengap.

Mereka dengan rakusnya memakan udara yang berkeliaran di sekitanya. Sekarang skor sekarang imbang. 48-48. Satu shoot lagi, dan satu di antara mereka akan menang. Bola sekarang berada di tangan Aomine. Dengan gesit dan ganas Aomine men-dribble bola sambil mencoba drive.

"TAK AKAN KU BIARKAN!" teriak Kagami kencang sambil menghalangi Aomine menerobosnya. Di karenakan badan mereka sama besarnya, kekuatan mereka sama besarnya, skill mereka sama besarnya, dan semangat mereka sama besarnya. Itu membuat mereka imbang.

"HYAAAAAAA" Aomine menerobos benteng pertahanan sang lawan.

"KAN SUDAH KU BILANG. KAU TIDAK AKAN KU BIARKAN!" teriak Kagami (lagi) saat melihat Aomine akan menge-dunk bola ke arah ring.

.

"Tidak Akan ku biarkan lewat!" teriak seorang lelaki yang sedang bermain basket dengan Aomine

"Coba saja kalau bisa!" Aomine menampilkan seringai andalannya

"Daikiiii!" lelaki itu mencoba mengambil bola yang ada di tangan Aomine

"Yang bisa mengalahkanku hanya aku seorang!"

"Dan yang bisa mencintaimu, hanya aku seorang!" ucap lelaki itu tidak mau kalah.

Aomine tersenyum.

.

"Hah?!" Aomine tersadar dari lamunanya, dan segera menge-shoot bola.

"HUAAAA!" Kagami tiba-tiba ada di depannya! Dalam posisi melompat! Dan terlebih lagi, Aomine akan melakukan shoot. Itu akan mengakibatkan hal yang fatal. Kepala mereka, bisa menjadi sasarannya

"BAKAGAMIIIIIIII!" teriak Aomine. Dan…

"BRAKK!" Di kepala mereka sudah tumbuh bola besar.

.

"Itte..tte. oi! Aomine?! Daijobu ka?" Tanya Kagami sambil memegangi kepalanya.

"Itte! Daijobu da" jawab Aomine

"Yare-yare. Kepala kita saling terbentur, skor kita imbang. Apa yang ingin kau lakukan?"

"Kembali ke apartemen untuk mengurus bola ini" Aomine menunjuk-nunjuk bola di kepalanya dan kepala Kagami

"Hahaha, iya. Kita selesaikan ini nanti."

Dan merekapun berjalan kembali menuju apartemen. Tak lupa membawa bola basketnya.

"Hey, Aomine"

"Apa?"

"Tadi kau sempat memanggilku, Bakagami." Kagami memasang wajah cemberut

"Ahaha, sumannakatta Kagami. Aku terbawa emosi" Aomine memasang wajah innocent. Berkebalikan dengan Kagami.

"Kalau kau memanggilku Bakagami lagi, aku akan memanggilmu…Ahomine!" dan sekarang Kagami pura-pura memasang wajah marah

"Eeh? Ttaku, aku kan bilang kalau aku terbawa emosi" Aominepun cemberut

"Moo…Tapi Aomine…" ucap Kagami menunggu repon Aomine

"Hm?"

"…Ahkirnya kau beremosi" ucap si Bakagami. Kalimatnya yang barusan sangat amat ambigu. Tapi Aomine mengerti apa yang di maksud Kagami. Dia pun tersenyum

"Terima kasih" Setidaknya, Aomine sedikit-demi sedikit sudah mau move on, dan hidup kembali

.


.

"Haaaah setelah lama tidak bermain basket, badanku jadi pegel-pegel semua nih!" Kagami menggerutu dari depan pintu apartemen.

"Mandi dulu lah, nanti aku pijitin" jujur, Aomine juga merasakan pegal yang teramat-amat di bagian kaki dan tangan.

"Bener nih? Yeay! Tapi pijitinnya ganti-gantian! Biar adil!" Kagami memamerkan jempolnya ke arah Aomine yang sedang tersenyum ke arahnya. Kagami sangat amat senang entah kenapa. Mungkin karena melihat perubahan Aomine yang drastis? Dari menyedihkan menjadi menyenangkan? Atau karena akan segera di pijitin? Entah.

Kagami menyiapkan pakaiannya dan Aomine yang akan digunakan sehabis mandi. Hanya pakaian dan celana. Bukan celana dkk. Kalau Aomine sedang mengisi air hangat ke dalam bak mandi.

"Kagami? Itu, kalau mau mandi bilas dulu di luar bak" Aomine memperingati.

"E-eh? Hah? O-oiya! Iya-iya" jawab Kagami malu-malu. Ada apa yang terjadi?

"Aku mandi duluan ya kalau begitu" Kagami cengengesan memasuki kamar mandi.

"Kenapa dia?" tanya Aomine di dalam hati

.

Sekarang mereka berdua sudah selesai mandi. Niatnya Aomine mau langsung 'memijat' badan pegal-pegalnya Kagami. Tapi Kagami sepertinya menunda-nunda terus.

"Ma-makan dulu yuk? Aku la-laper" Aominepun mengambil kesimpulan kalau Kagami adalah si greedy dari animasi 'the Smurf'

"Hee? Masih lapar? Kita kan sudah makan tadi siang?" "dua kali malah" tambah Aomine dalam hati.

"Ta-tapi kan kita habis olahraga! Nanti nut-nutrisi kita berkurang! Ya-ya! Nanti berkurang!" elak Kagami yang bahkan tidak mengerti apa yang di omongkannya. Beruntung, Aomine sama bodohnya dengan Kagami. Jadi ya, ngikut-ngikut aja.

"Aku akan memasak kalau begitu" Aomine menawarkan diri.

"Tolong ya"

Aomine menuju kulkas untuk mengambil bahan-bahan masakan.

"HYAAAAA!" baru beberapa detik setelah Kagami berbicara, Aomine sudah teriak histeris.

"ADA APA AOMINE?!" jadinya, Kagami ikut-ikutan teriak histeris.

"Ti-ti-tidak a-ada ba-bahan ma-makanan" Aomine menunjuk-nunjuk kulkas. Kagami langsung menghela nafas lega. Dia pikir ada kecoak atau tikus atau hal-hal semacamnya mengganggu Aomine.

"Kalau begitu aku akan ke konbini dulu-"

"Aku saja Kagami. Kau kan masih pegel kan?"

"Ehehe, maaf merepotkan" Kagami menyengir kuda.

"Aku lah yang harus minta maaf" Aomine tersenyum kecut. Sinar kebahagian yang berada di matanya hilang untuk beberapa saat.

"Ja, aku ke konbi-" Aomine terjatuh saat mencoba lari menuju pintu.

"Aomine?! Kau kenapa?" Kagami menjadi histeris lagi melihat Aomine yang tiba-tiba terjatuh

"ittedaijobu da, aku hanya terpeleset" Bohong.

"ttaku, kau memang tidak pandai berbohong ya?" Kagami memampah badan Aomine menuju sofa.

"Suman ne"

"Hm, aku yang akan ke konbini dan aku yang akan memasak" ucap-titah Kagami yang tidak mau di bantah. Aomine tersenyum memasang wajah innocent

"Ka..kawaii- eh?! Apa yang aku pikirkan!" Kagami tengah bertarung dengan dirinya sendiri di dalam pikirannya.

"Tunggu ya!" Kagamipun langsung menuju konbini mencoba menyembunyikan wajah memerah dan degup jantungnya.

.


.

"Aku membeli ramen, eits- bukan ramen instan ya" Kagami mengeluarkan isi dari kantung plastik belanjaanya.

"Jadi kita akan makan ramen?"

"Yap betul sekali!" Kagami memberi Aomine dua jempol.

"Kalau begitu…" Aomine menghentikan tangan Kagami yang mulai menyiapkan baha-bahan. "…Kagami masaknya nanti saja, saat jam makan malam. Oke?" Aomine menahan wajah seram.

"E-eh? Kenapa?"

"Karena..karena, karena ramen lebih enak di makan saat malam hari!" dan Kagami dengan wajah menekuk mengangguk.

"Ah! Aku yang akan memijatmu!" Kagami langsung membawa (baca : menyeret) Aomine menuju Sofa

"Hah? Kan aku yang akan memijatmu!"

"Ttaku, yang jatuh saat mau berlari siapa?" dan sekarang giliran Aomine yang menekuk wajah. Kagami memulai 'foot massaging'nya

"Itte…" lenguhan berhasil keluar dari mulut Aomine.

"Sakitnya di sini?" Kagami memijat bagian betis kiri Aomine. Diapun mengangguk.

"Mo… berapa tahun kau tidak bermain basket?" tanya Kagami yang merasakan betis Aomine melunak, tidak sepertinya yang masih keras. Sedangkan yang di tanyakan hanya nyengir dan menggaruk-garuk kepalanya.

"Arigatou ne, Kagami" dan Kagami mengangguk.

.


.

Aomine tengah menatap kosong kearah televisi. Sedang memikirkan sesuatu mungkin. Atau sedang melamunkan sesuatu. Sa…

"Aomine, sudah jam 7. Aku akan memasak makan malam yaa" Kagami berlari keluar dari kamar setelah menyelesaikan sesuatu dengan Kuroko.

"Ah? Ah, iya" Aomine tersadar dari lamunannya.

Sekarang, Kagami mengambil bahan belanjaanya yang sudah di masukan Aomine ke dalam kulkas. Mengambil mie, seasoning powder, sayur-sayuran, naruto, menma, telur, nori, daging, dan beberapa bahan-bahan perasa lainnya.

"Aomine, kau mau yang pedas atau biasa?"

"Hm? Apapun yang enak deh" Aomine tersadar dari lamunanya (lagi) yang menatap terus menerus ke arah Kagami

"Yang pedas ya!" lalu Kagami melanjutkan ajang masak-memasaknya yang tertunda.

Pertama, Kagami mengambil seluruh peralatan masak yang akan di butuhkannya. Selanjutnya, Kagami menaruh panci (yang sudah di isi air terlebih dahulu) di atas kompor dan menyalakannya. Sambil emnunggu airnya mendidih, Kagami menaruh fry pan di sisi lain kompor dan menyalakannya juga. Menuangkan minyak untuk menumis bawang bombai dan bawang putih. Kagami memasukkan mie kedalam panci setelah melihat air di dalamnya mulai mendidih dan melanjutkan tumis-menumisnya. Setelah itu, Kagami mengambil daging (yang sebelumnya sudah di bersihkan dengan air) dan memotong-motong dagingnya, tapi dia mengecilkan api di fry pan terlebih dahulu sampai dalam mode small, takutnya gosong.

"Tok..Tok..Tok"

Bunyi pisau yang berpukulan dengan talenan. Setelah semua daging (mengingat Kagami yang rakus itu tidak akan mudah kenyang) telah terpotong-potong, satu-persatu Kagami memasukannya ke kedalam fry pan dan mengoseng-oseng daging tersebut. Api masih dalam mode small, sekarang, Kagami mengambil beberapa sayuran. Mencucinya, memotong-motongnya dan memasukannya kedalam fry pan. Menaburi 1 sendok makan seasoning powder dan garam di atasnya. Kagami mematikan api fry pan, dan beralih ke rebusan di dalam panci. Melihat asap sudah menggembul-gembul dari panci, diapun mematikan apinya. Meniriskan mie, dan meletakannya dalam mangkuk. Lalu kagami mengambil-mencari tepung dari dalam kulkas. Tapi sepertinya hasilnya nihil.

"Ne, Aomine, bisakah kau membeli tepung sagu ke konbini?" tanya Kagami yang masih sibuk mencari-cari tepung yang sudah pasti tidak ada di kulkasnya.

"Hah? Apa? Te-tepung? Ba-baiklah" ucap Aomine terkejut. Takut ketahuan menatapi Kagami sedari tadi.

"Ini uangnya!" Kagami mengambil dompet dari kantung celananya dan memberikannya kepada Aomine.

Sambil menunggu Aomine yang bergegas menuju Konbini, Kagami mengambil nori dkk dari piring yang telah dia siapkan. Mengambil sumpit untuk merasakan mie yang baru saja di rebusnya.

"Fiyuuh… untung saja tidak terlalu lunak" Kagami memilih untuk duduk di sofa sambil menunggu Aomine.

"Mungkin aku harus menjenguk 'dia' sudah hampir sebulan lebih aku tidak melihatnya" ucap Kagami tidak sadar kalau Aomine sudah berdiri di depannya membawa plastik belanjaan yang berisi tepung sagu.

"Ini tepungnya Kagami. Ini kembaliannya…" Aomine memberikan kedua-duanya kepada Kagami "Ngomong-ngomong siapa itu 'dia'?" lanjut Aomine.

"Terima kasi- bukan siapa-siapa! Bukan siapa-siapa!" Kagami langsung terkejut saat mengetahui kalau Aomine mendengar kalimatnya.

Kagami langsung menyambar plastik di depannya dan melesat ke dapur. Meninggalkan Aomine dalam kebingungan.

Kagami lalu mengambil mangkuk dan menaruh 5 sendok makan tepung sagu kedalamnya. Memasukan air secukupnya dan mengocoknya. Mengambil mangkuk lainnya, kali ini Kagami mengambil 4 butir telur dan merebusnya di panci bekas merebus mie. Kembali ke 'adonan tepung sagu', Kagami memasukan kecap asin dan kecap manis kedalamnya, mengambil sayuran yang sudah di tumisnya dan mengocoknya bersamaan dengan 'adonan tepung sagu' dan menggorengnya, well, lebih tepatnya sih seperti memanaskan 'adonan' tersebut.

Kagami mengambil 2 mangkok besar-sangat-. Membagi dua mie untuk masing-masing mangkuk. Mengisi mangkuk dengan 'adonan' tadi yang sudah berbentuk seperti kuah kental yang sangat menggoda. Dan hal terahkir yang harus dilakukan adalah, menghias. Kagami menaruh 10 iris daging di mangkuk bagian kiri.

"Aomine, kau mau berapa iris daging?" tanya Kagami sambil menyumpit daging.

"Se-secukupnya" Aomine memasang wajah kagum karena melihat berapa iris daging yang diletakan Kagami di mangkuknya sendiri.

"Yosha!"

Kagami menaruh 5 iris daging di mangkuk satu lagi. Menata naruto, menma, dan beberapa sayuran di sampingnya. Tak lupa menaruh 2 lembar nori di masing-masing piring, dan 2 telur yang sudah di belah dua sebelumnya.

"Hai! Dekitta!" teriak Kagami sambil membawa 2 mangkuk besar yang telah di hiasnya tadi.

"Wah… ini porsi yang sangat…" Aomine memasang wajah yang tidak bisa ditebak.

"Itadakimasu!" Kagami mendahului Aomine untuk makan dengan lahapnya.

"I-itada-ki-masu" Aomine menyeruput kuah ramen.

"Ah, oishii" pikir Aomine dalam hati.

"Hm? Oishii da yo ne?" tanya Kagami setelah melihat ekspresi Aomine. Aominepun mengangguk dan mulai memakan dengan lahap.

.

.

"Haaaaahh… kenyang sekali…." Ucap Kagami memukul-mukul perut buncitnya.

"Aomine? Kenapa?" sekarang wajah Aomine sudah mengembung karena ramen buatan Kagami yang membuat ingin lagi dan lagi.

"Tak apa-apa" jawabnya. Dan dalam sekejap, pipi chubbynya menghilang

"Ne, ne!Aomine, main ToD yuk?" ajak Kagami. Aomine menghentikan kegiatan cuci piringnya sebentar

"ToD?" dan melanjutkannya lagi

"Ya, Truth or Dare. Mau?"

"Hm? Sepertinya tidak terlalu buruk, tunggu sebentar ya Kagami" Aomine dengan cepat menyuci piring dan teman-temannya.

.


.

Sekarang mereka berdua sudah duduk di karpet depan sofa.

"Siapapun yang sudah duduk di sini dan melihat botol ini. Apapun yang sudah di dengarnya di sini tidak boleh menyebar. Dan tidak ada kata kembali" ucap Kagami dengan nada menyeramkan. Aomine mengangguk. "Aku mulai" lanjutnya sambil memutar botol bekas sake.

Berputar-putar. Hingga ahkirnya berhenti di arah Aomine.

"Giliranmu Aomine. Truth or Dare?"

"Eh? Hm, truth" pilihnya.

"Baiklah, kalau begitu. Pertanyaanya adalah… ceritakan masalahmu, bagaimana bisa kau bilang 'aku ingin mati' saat malam itu?" pertanyaan serius milik Kagami sukses membuat Aomine tercengang. Jujur, Aomine ingin menceritakannya pada Kagami, tetapi, dia belum 100% percaya pada orang lain. Meski mereka berdua sudah seperti kakak-adik

"Eh? Harus kah ku jawab?"

"Harus." Ucap kagami into the point.

"Maaf ya Kagami. A-aku rasa ini bu-bukan waktu yang pas untuk men-menceritakannya" Aomine menunjukan wajah kehampaan.

"Ma-maaf untuk menanyakan hal itu. Se-sepertinya kau belum siap" Kagami merasa sangat bersalah.

"Tak apa" ucapnya bohong. Kagami tahu, Aomine sangat bersedih jika di tanyakan tentang masalahnya.

"Kalau begitu aku putar lagi" Kagami memutar botol. Putaran pertama menunjuk ke arah kamar, yang ke dua menunjuk kearah dapur, dan yang ketiga menunjuk ke arah sofa.

"Yare…Aomine, bisakah kau yang memutarnya? Sepertinya botol ini sudah membenciku." Aomine tertawa kecil. Dan memutar botolnya dengan kuat.

Berputar-putar-putar. Mata Kagami terus mengikutinya sampai pusing. Dan ahkirnya, botol itu berhenti tepat ke arah Kagami.

"Hoa! Giliranku ya? Hm, Jujur, aku juga punya masalah. Yang mungkin hampir sama dengan mu. Mau mendengarnya?"tanya Kagami

"Ma-masalah sepertiku?" pikirnya "Bo-boleh kah?"

"Aku pilih dare. Tentukan pertanyaanya" ucap Kagami

"Ce-ceritakan masalahmu i-itu"

"Dengan senang hati." Kagami mengambil nafas dalam-dalam dan membuang nafasnya.

"Itu terjadi saat aku masih kelas 1 SMA"

.


Flashback

Aku baru saja kembali dari Amerika. Lebih tepatnya sih di paksa untuk kembali dari Amerika. Orang tuaku dengan baik hati membuangku kesini meninggalkan ku sendiri. Walau ya, aku sudah biasa dengan kesendirian. Mereka memang mengirimkan uang jajan setiap bulannya yang tergolong banyak. Tapi, mereka tidak pernah memberiku kasih sayang. Aku jadi tak mengerti apa itu kasih sayang.

Aku Kagami Taiga, anak kelas 1 di SMA Seirin. Malam ini, aku berniat bermain basket untuk menghilangkan rasa sakit di dadaku.

Sesampainya di lapangan, aku terkejut. Ada seseorang sedang bermain basket di tengah malam seperti ini. Gerakannya, gaya men-dribblenya, cara menge-shootnya. Benar-benar indah. Dan tanpa ku sadari aku berjalan menuju orang itu.

"Ah? Ingin bermain bersama?" tanya orang itu yang ternyata lelaki! Suaranya begitu lembut. Sampai-sampai aku melamun di depannya. Lelaki itu berambut warna hitam, dengan poni panjang yang menutupi mata kirinya. Di mata bawah kananya terdapat satu mole.

"Boleh kah? Oh, aku Kagami Taiga. Kau?" tanya ku

"Himuro Tatsuya"

Dan ahkirnya kami one-on-one.

.

"Haa.. aku kalah. Kau jago sekali Kagami"

"Ehehe, Basket adalah cinta pertamaku"ucapku dengan bangga

"Haa? Cinta pertamaku juga Basket" dan kami berdua tertawa bersama

.

Kamipun jadi sering bertemu.

Aku melihatnya. Aku melihatnya menggunakan sunglasses dengan motor sport berwarna hitam di gerbang sekolahku.

"Kagami!" panggilnya, aku dengan antusias menghampirinya dan memeluknya. Melupakan fakta kalau aku sedang berada di daerah sekolahan

"Oi..Oi Kagami, kita sedang berada di daerah publik lho" ucapnya. Aku tidak perduli. Aku sangat merindukannya. Merindukan suaranya yang lembut, merindukan bibirnya yang menggoda, meridukan apapun yang sudah mereka lakukan di ranjang.

"Bisakah kita langsung ke rumah mu? Aku merindukanmu"

"He.. hanya kutinggal seminggu saja sudah rindu"

Dan aku naik ke belakang motornya.

.

"Ah.. eng.. ah.. AH!" desah ku.

Himuro Tatsuya, orang pertama yang membuatku tahu apa itu kasih sayang. Orang pertama yang menyayangiku. Orang pertama yang membuatnya melupakan rasa sakit di dadaku. Orang pertama yang mengajariku berciuman. Orang pertama yang mengambil kejantananku. Orang pertama, yang dicintainya.

Dan sekarang, mereka berdua tengah bergulat di atas kasur.

"Hah.. Haah.. Haah.." kami berdua terengah-engah. Setelah menyelesaikan 3 ronde yang sangaaatt melelahkan.

"Kagami" panggil Himuro

"Ya?"

"Suki da, to Aishiteru" ucapnya, membuatku meneteskan air mata bahagia.

"Ore mo"

.

Hinnga, saat itu terjadi.

Aku merasakan sesak yang teramat-amat. Rasanya aku seperti tidak bisa bernafas. Badanku sulit untuk di gerakan. Satu-satunya yang ku ingat adalah Himuro. Aku mencoba menggapai telepon ku. Dan segera memencet angka 1. Speed dial yang langsung tersambung dengan Himuro. Aku tahu, aku pasti akan merepotkannya. Dia sedang ada acara di Kampusnya dan bilang akan pulang larut malam, tapi penyakit tiba-tiba ini muncul di saat yang tidak tepat.

Tidak ada jawaban. Aku mencoba meneleponnya lagi. Ah! Diangkat

"Ha-halo, Hi..mu..ro" suaraku sangat kecil dan bergetar

"Ah? Ini temannya Himuro, sebentar ya akan ku sambungkan" ucap orang di seberang

"Ya? Ada apa Kagami?"

"Hi..mu..ro penyakit..ku.. se..perti..nya.. kam..buh.. en..tah..pe..nyakit..apa..ini"

"APA KAU SUDAH MEMINUM OBAT? AKU AKAN SEGERA KESANA! TUNGGU!" suara Himuro sangat panik di telingaku.

"To..long..a..ku..Hi..mu..ro" dan sambungan terputus.

.

Di bagian Himuro.

Dengan cepat dia menyalakan motornya. Bahkan ia lupa memasang helmnya. Dia langsung meng-gas motornya dengan kecepatan 100 Km/j. sangat cepat untuk di daerah jalan raya. Itu Himuro lakukan supaya cepat sampai ke apartemen Kagami. Dikarenakan jarak kampus-rumah Kagami itu lumayan jauh.

Di tengah perjalanan, Himuro terus menerus melihat ke arah arlojinya. Khawatir. Dia takut sesuatu yang mengerikan terjadi kepada Kagami-nya. Kagami yang di cintainya. "Sedikit lagi sampai"pikirnya.

Menaikan kecepatan, Himuro tidak melihat ada mobil dari arah samping yang sedang ugal-ugalan. Terlebih lagi, di depan ada genangan air.

"Tiin..Tiin"

Dari belakang, mobil ugal-ugalan itu mencoba mengganggu konsentrasi Himuro. Pengguna mobil itu mencoba menyalip Himuro. Dan yang terjadi selanjutnya adalah,

"CKITTTTTT. BRAAAAK"

Himuro terjatuh dari sepeda motornya, tergelincir dari genangan air dan terserempet mobil. Himuro jatuh terguling-guling hingga kepalanya membentur tiang lampu dengan sangat keras. Menyebabkan darah mengalir dari kepalanya. Terlebih lagi, motornya sekarang menindih badannya. Motor sport yang sangat berat menimpa badanya. Kesadaranya semakin lama semakin menipis. Hanya satu yang ada di pikirannya. Kagami. Himuro mencoba mengambil teleponnya yang berada di saku jaketnya.

"Ka..ga..mi.."ucap Himuro saat mendengar bunyi telepon di angkat

"Hi..mu...ro.. kau..di..ma..na?" tanya Kagami yang sedang berjalan di luar. Mencari Himuro

"Ka..ga..mi.. dengar.. aku mencintaimu.. selalu.. oke?"

"A..pa..apaan itu? A..ku tahu.. aku juga.. men..cintaimu.. Himuro. Ka..u dimana?"

"Hahaha.. aku terkena kecelakaan di daerah rumah mu, cepat telepon ambulans. Aku masih mau melihat wajah mu"

Dengan Kaget, Kagami langsung mencoba berlari melihat mobil berhenti di tengah jalan. Firasatnya mengatakan disana ada Himuro.

"Bwahahahaha.. yaaahh.. mi-NGIK-numan ku su-NGIK-dah habis-NGIK-" ucap pengendara yang menabrak Himuro. Dengan sebotol kaca alkohol, pengendara mabuk itu langsung membuangnya sebarangan. Dan tidak beruntung untuk Kagami maupun Himuro. Botol itu pecah mengenai kepala Himuro telak. Kagami yang melihatnya langsung berlari. Sayang, kakinya terlalu kaku untuk di gerakan.

"Hi..mu…HIMUROOOOO!" teriaknya sekuat tenaga, setelah melihat mobil itu kabur

"Ka..ga..mi… aku kira… aku ma..sih bisa me..lihat wajahmu" ucap Himuro saat Kagami berhasil duduk di sampingnya

"Aku a..kan menele..pon am..bulans" Kagami mulai bebicara di telepon, memberitahu dimana letak Himuro sekarang.

"Ka..ga..mi, lihat.. aku.." Himuro memegang pipi Kagami

"Ka..lau saja aku me..makai helm" ucapnya sambil tersenyum

"Se..tidaknya a..ku masih b..isa me..lihat mu. Aku men..cintai..mu Kagami, sa..ngat" kesadaran Himuro mulai menghilang.

"Tunggu! Ja..jangan pergi du..lu am..bulans a..kan sege..ra da..tang" teriakknya histeris sambil memeganggi tangan dinginnya Himuro yang masih berada di pipinya.

Kagami mencoba mengangkat motor itu, tetapi dengan keadaanya sekarang, kekuatannya tidak cukup.

"Sa..yo..na..ra.. o..re no.. ai..shi..te.. no.. hito… ka..ga..m-" dan mata Himuro tertutup.

"Ti..TIDAAAAAAAKKKKKKKKK!"

Ambulans baru saja sampai. Baru sampai di saat Kagami kehilangan orang yang sangat di cintainya. Kagami lalu mencium bibir Himuro, merasakan darah yang keluar dari mulutnya.

.

Dan Kagami menjadi Kagami yang dulu kembali. Matanya tidak memancarkan cahaya sama sekali. Hidupnya datar walau dengan basket. Hambar. Hidupnya hambar tanpa 'dia'. Ya, Himuro. Hingga, teman setimnya- Kuroko, membuatnya hidup sedikit demi sedikit. Tetapi tetap saja. Kuroko tahu, sebanyak apapun Kagami tertawa, itu tidak akan sama seperti senyumnya pada Himuro. Kuroko tahu itu. Diam-diam Kuroko selalu memantau Kagami karena khawatir. Bukannya suka, hanya Kagami sudah seperti kakaknya sendiri (walau selalu saja di marahi). Tetapi selalu. Kuroko selalu menjaga Kagami dari kesedihan. Hingga saat ini.

End of Flashback


.

"Ya, begitu lah" Kagami menyeka air matanya.

Dan tiba-tiba, Aomine yang mendengar cerita yang 'hampir' sama dengannyapun langsung memeluk Kagami. Menangis. Menggantikan Kagami yang harusnya menangis.

"Kenapa kau menangis?" tanya Kagami yang tidak di jawab Aomine.

"Buatlah kepercayaan yang lebih lagi. Supaya kau bisa bercerita tentang masalahmu pada ku" ucap Kagami.

Tangisan Aomine mulai mereda. Dari tangisan berubah menjadi sesengukan. Dan berhenti. Kagami sadar, kalau Aomine sudah tertidur. Kagamipun membopong Aomine ke kasurnya.

"Terima kasih. Terima kasih sudah mau menggantikanku menangis. Chuu~" dan Kagami mencium kening Aomine. Sebagai tanda terima kasih. Aomine yang di cium, menggeliat di kasur.

Kagami menyelimuti Aomine. Dan berbaring di sampingnya.

"Dia menciumku!" teriak Aomine dalam hati yang ternyata belum benar-benar tertidur

.

.

.


A/n:

.

HUAAA! hai minna! kyuu balik lage hohoho

maaf ya kalu hurtnya ga kerasa.. maaf kalo ceritanya jadi aneh.. maaf pula kalo pada ga ngerti :v mohon maklumi ya.. kalo ada yg kurang silahkan review/pm aku aja.. namanya juga beginner hohoho. maaf juga! kalo alurnya kecepetan ehehe.. soalnya aku buat Aomine emang udh comfortable sama Kagami jadinya gitu.. malah ga ada hurt"nya.. :" semoga chap depan ada hurt yang kerasa ya :v ya~~ tergantung review sih.. setuju lanjut atau engga.. haha~

langsung saja ya! balasan review untuk chapter 2! :

Kagami Tania-san: terima kasih! tunggu kelanjutannya ya hohoho~ terima kasih karena mau review! w

.

Kiseki Arvel-san: HUAAA maaf /\ chap 1 itu tengah malem sampai pagi, chap dua itu paginya chap satu sampai sore.. maaf ya kalo alurnya kecepatan hohoho~ terima kasih karena mau review! w

.

Lily Kotegawa-san: Tidak akan aku membuat Aomine jadi Uke! sisanya aku kan udah jawab di PM ehehe~ terima kasih karena mau me review! w

.

segini dulu ya! Hontou ni Arigatou! untuk yang sudah mem-fav, mem-follow dan me-review fic ini! untuk kelanjutan chap selanjutnya tergantung review-er ya! :3

Sonja,

Kirigaya Kyuu