Make You Alive
.
Disclaimer : Tadotoshi Fujimaki
Genre(s) : Romance, Tragedy, Hurt/Comfort
Pair : AoKaga
Warning : OOC, AU, AR, Typo(s), EYD, Alur Kecepetan, Hurtnya ga kerasa :'v, gaje, chap ini ada acara masak-masakannya
Aomine dan Kagami berumur : 24 tahun.
KirigayaKyuu©
.
.
Chapter: Aomine's Story. Side A
.
Aomine bangun lebih cepat dari Kagami. Jam di dinding menunjukan pukul 7, dan Kagami akan berangkat pukul 8. Masih ada satu jam untuk membuatkannya sarapan-sebagai tanda terima kasihnya Aomine-.
.
Di otaknya masih terngiang-ngiang bayangan cerita menyedihkannya Kagami-yang menurutnya hampir sama dengan miliknya-. Masih terngiang-ngiang saat dia memeluk Kagami dan menangis di pelukannya-menggantikan Kagami-. Dan masih terngiang-ngiang juga, kehangatan yang berada di keningnya-ciuman Kagami. Kehangatan yang mengalir terus sampai memasuki relung hatinya yang kosong.
Aomine merasakan panas di pipinya. "Ba-baka! Apa yangku pikirkan?!" Aomine merutuki dirinya sendiri.
.
Menuju dapur. Dia lalu mengambil telur, daging-sisa kemarin yang sengaja di sembunyikan Aomine- sayur-sayuran, dan meletakannya. Sekarang, Aomine mencari-cari keberadaan sang piring, sendok, garpu, sumpit dan gelas. Untungnya, Aomine memperhatikan setiap langkah Kagami waktu memasak kemarin, jadi dia tahu dimana tempat-tempatnya walau memakan waktu lebih lama dari Kagami-karena belum hafal tempat-tempatnya-. Menata sendok dkk di meja makan. Sedangkan sang piring di letakkan di samping mangkuk yang berisikan telur, daging, dan sayuran.
Piring pertama-piring Kagami, di isi Aomine dengan 10 centong nasi penuh-mengingat Kagami yang di julukinya dengan 'si greedy', sedangkan piring kedua-piringnya di isi 5 centong nasi agak penuh. Walau sedikit, sepertinya Aomine mulai menjadi seperti Kagami yang 'greedy' alias rakus itu.
Menyalakan kompor yang di atasnya sudah beradakan fry pan, dan melelehkan satu sendok mentega di dalamnya. Aomine mencari-cari seasoning powder yang di letakkannya kemarin dalam cupboard, untuk menambahkan rasa masakannya. Mengambil bawang merah, putih, dan bombai untuk di cincang-cincangnya dan di tumis.
"Tok…Tok…Tok…"
Aomine mencincang-cincang 6 siung bawang merah
"Tok…Tok…Tok…Tok…Tok…"
Aomine mencincang-cincang (lagi) 18 siung bawang putih
"Tok…Tok…Tok…"
Aomine mencincang-cincang (yang terahkir kalinya) 2 buah bawang bombay.
Kloter pertama adalah: piring Kagami, 4 siung bawang merah, 12 siung bawang putih, dan 1 buah bawang bombay yang sudah di cincang-cincangnya dengan raut wajah mengerikan.
Merasa fry pan sudah cukup panas, Aomine memasukkan absen ke dua sampai empat dalam kloter pertama untung di tumis.
"Sreng…Sreng…"
Dia memutar-mutar isi fry pan tersebut. Menyium wangi yang lezat di bawahnya, Aomine memasukan absen pertama dalam kloter yang sama ke dalam fry pan dan mengoseng-oseng isinya. Tidak lupa Aomine memberikan seasoning powder.
Sudah tercium wangi dari arah fry pan. Aomine menumpahkan isinya ke piring yang tadi.
Kloter ke dua yang berisi: piring Aomine, 2 siung bawang merah, 6 siung bawang putih dan setengah bombay.
Aomine segera melakukan hal yang sama dengan piring Kagami.
"Sreng…Sreng…"
Aomine menumpahkan (lagi) isi fry pan kedalam piring kedua.
.
"Tinggal buat Omeletnya" gunggam Aomine yang tidak sadar kalau Kagami telah terbangun dari tidur cantiknya.
"Hoaaamm" dia menguap sangat besar, bahkan satu keluarga lalat bisa memasuki rongga mulutnya "Ohayo, Aomine" sapanya. Entah kenapa mendengar suara Kagami membuat pipi Aomine memanas.
"O-ohayo" jawabnya gugup. Mungkin karena tadi malam.
"Hn? Kau lagi masak sarapan?" tanya Kagami di lanjutkan anggukan kepala Aomine.
"Sumanna, merepotkanmu" Aomine menggeleng dan tersenyum. Lalu melanjutkan 'atraksi'nya lagi.
Mengambil mangkok berukuran sedang, dan memecahkan 4 butir telur. Memberi setengah sendok makan garam, dan mengocoknya. Kemudian mencampur 'adonan omelet' tersebut dengan potongan daging dan sayur.
"Wah, nasi goreng ya? Hmmm.. wangi sekali" kata Kagami yang sedang berdiri di depan Aomine yang sedang memasak. Aomine agak sedikit risih dengan yang di lakukan Kagami.
"Kagami? Apa kau hari ini berkerja?" tanya Aomine yang masih mengaduk-aduk 'omelet' di dalam fry pan
"Um, eh. Tunggu. Jam berapa ini?!" Kagami langsung heboh sendiri
"7.30 sepertinya lebih baik Kagami mandi dulu, supaya habis mandi bisa langsung mak-" ucapan Aomine terputus setelah melihat Kagami ngicrit menuju kamar mandi. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepala.
Akhirnya, sarapan buatan Aomine selesai. Meletakan satu omelet pada masing-masing piring. Selagi menunggu Kagami mandi, Aomine mengisi gelas dengan air dari keran (di sini orang-orang minum dengan air keran yang pasti sudah higienis).
Aomine terduduk di bangku meja makan "Aku sendirian dong hari ini" dia memasang raut wajah yang tak ter-identifikasi.
.
7.45. Kagami baru saja keluar dari kamar mandi. Keluar dari kamar mandi hanya dengan satu helai handuk yang menutupi 'bagian' bawahnya. Aomine yang mendengar decit pintu terbuka pun menoleh. Alangkah terkejutnya Aomine melihat otot-otot six packs nya Kagami yang sangat amat menawan di matanya. Seperti punya Aomine juga sih, tetapi kulit Kagami sangat lembut walau hanya di lihat. Dan tanpa di sadari Aomine, pipinya memanas.
"Ka-kagami, ce-cepatlah berpakaian, a-aku sudah lap-ar" Aomine mencoba mengalihkan pandanganya
"Hai hai~" Kagami menggunakan suara 'moe'nya yang mebuat Aomine kehilangan selera makannya begitu saja.
.
7.50. dan Kagami baru saja selesai berpakaian.
"Eh?" Aomine sedikit bingung melihat penampilan Kagami yang sangat casual untuk pergi ke kantor. Kagami menggunakan t-shirt Coconut Island berwarna merah ombre bertuliskan'Think Hard' dengan gambar lampu. Kemeja berwarna putih polos, dan celana denim.
"Aaaaa! Aku lapar. Ayo makan Aomine" Kagami langsung menyambar makanannya "Itadakimasu!" dan menyuapkan nasi ke dalam mulutnya yang besar itu.
"Nyam~ oishii! Nyaa~" Kagami menggunakan mode 'moe'nya lagi dan membuat Aomine kehilangan nafsu makannya lagi.
"A-rigatou" ucapnya malu-malu kucing
"O-oh iya Kagami." Kagami yang di panggil menoleh
"Ttaku… pelan-pelan saja makannya Kagami, kau kan tidak sedang di kejar-kejar waktu kan?" ucapnya setelah melihat banyak bulir-bulir nasi di mulut dan daerah sekitarnya. "Mattaku…" mendaatkan tissue-entah dari mana- dan segera membersihkan mulut hingga pipi Kagami yang ada bulir nasinya. Dalam sekejap, pipi Kagami memerah, semerah rambutnya. Aomine yang sadar atas apa yang di perbuatnya. Pipi Aomine juga tidak kalah merahnya.
"A-a, gochisou sama deshita! Enak sekali lho masakan buatanmu" Kagami menggaruk-garuk pipinya yang pasti tidak gatal. Dia tidak meninggalkan satupun bulir nasi di piringnya.
"A-ah, arigato." Aomine juga ikut-ikutan salah tingkah
"Eh, aku akan segera berangkat. Maaf ya, kau harus sendirian di sini. Tapi tenang saja, kalau kau bosan, kau tinggal keluar. Dan kau bisa memakai uang yang ku letakkan di meja dekat kasur" ocehnya. Apartemen Kagami termasuk apartemen elit. Kalau keluar dari unit apartemen di sini, pintunya akan terkunci otomatis. Dan untuk membuka pintu, kita harus menggunakan kode.
"Eh? Ii no ka?" tanya Aomine tidak yakin. Kagami mengangguk.
"Dan oh! Aku mungkin akan pulang malam. Aku harus menjenguk 'seseorang'" dan Aomine mengerti apa yang di maksudnya seseorang.
"Oh satu lagi! Kau bisa menggunakan kamar di samping kamarku. Belum ku rapihkan sih. Kau bisa menggukanannya kok!" teriak Kagami dari pintu luar
"Itte rasshai!" teriak Aomine
"Ung! Itte kimasu!" dan pintu tertutup.
.
.
"Ini kah?" Aomine memutar kenop pintu ruangan di samping kamar Kagami.
"Ngiiiitt…"
Wow. Aomine terkejut. Agak sedikit kotor di sini. Barang-barangnya juga masih di bungkus. Berdebu.
"Uhuk..Uhuk.. sepertinya aku harus melakukan pembersihan" Aomine angkat senjata.
Ruangannya seluas kamar Kagami. Bedanya di sini barang-barangnya hanya ada kasur, lemari, dan meja. Peletakannya juga lumayan bagus. Aomine segera turun ke bawah untuk mengambil vacum cleaner dan pel-an sebagai alat senjatanya. Tak lupa, Aomine mengambil kemoceng untuk membersihkan debu.
"Yosha! Hajimeru yo!" Aomine teriak-teriak bagai orang gila.
Pertama, dia membuka semua plastik yang membungkus barang-barang di kamar itu.
"Uhuk..Uhuk.. tidak ada masker sih" Aomine terbatuk-batuk saat membuka 'pembungkus' barang-barang yang berdebu.
Kedua, Aomine mengumpulkan semua debu dalam satu tempat menggunakan kemoceng. Merasa semua debu di daerah ruangan itu sudah di bersihkannya, Aomine langsung menyalakan vacum cleaner yang menghisap semua debu-debu itu. Demi kepastian kebersihan, Aomine mengitari ruangan itu dengan vacum cleaner yang masih menjalankan tugasnya.
"Fyuh…selesai juga bagian lantai dan dinding" Aomine menghapus keringat yang berpeluh-peluh mengucur dari badannya. Dia cukup senang melihat tidak ada noda lagi di dinding, lantai dan barang-barang 'calon' kamarnya.
Sebelum Aomine melanjutkan ke tahap selanjutnya, dia tengah men'kepo'i sesuatu di laci meja belajar. Air mukanya agak bingung. Mengapa ada satu album di sini? Bertuliskan MuroGami.
"Tunggu, jangan-jangan itu album milik Kagami dan mendiang Himuro-san?" pikir Aomine. Dengan hati-hati dia membuka album 'kenangan' Kagami dan Himuro tersebut.
"Tunggu. Apa boleh aku melihatnya?" Aomine termenung hanya karena hal kecil. Melihat album kenangan orang lain.
"Nanti aja deh, kalau aku sudah cerita" Dia tidak berani melihat satu photo pun. Aomine lalu menyimpan album tersebut di tempat teraman. Dia ingin sekali melihatnya, tetapi tidak adil untuk Kagami. Karena Kagami belum mengetahui 'masalah' miliknya. Dan Aomine malah mengenduskan hidungnya ke dalam masalah Kagami? Not fair isn't?
Mencoba melupakan keingin tahuan Aomine sejenak. Diapun memasuki tahap ke-tiga. Tahap menata.
Mengganti sprei, sudah. Mengelap kaca sampai kinclong, sudah. Memindahkan pakaiannya sendiri, sudah. Apa lagi? Kalau di pikirkan, barang-barang Aomine benar-benar sedikit di sini. Ya namanya juga numpang. Aomine dengan malas turun ke bawah untuk mengambil minum.
.
.
Malas. Ya. Benar-benar malas. Membosan kan. Ya, benar-benar membosankan.
"Main basket aja apa ya?" ucap Aomine di lazy mode-nya.
Dan dengan kemalasan Author dalam mengetik. Aomine turun kebawah membawa uang-untuk jaga-jaga- basket dan sepatunya.
Aomine berjalan menuju tempat bermain basketnya kemarin "Eh?"
"Ada apa itu ramai-ramai?" tanya Aomine pada dirinya sendiri pada saat berjalan.
"Gue'h mawoh ikoethan loemba nge-dungkz itoeh dech. Loeh begiemanyah?" ucap seseorang alayerz dengan temannya yang sesama alayerz juga sepertinya, sambil melewati Aomine. "Haha, beruntung sekali aku" pikirnya.
"A..ano.. apa aku boleh mendaftar juga?" tanya Aomine sesampainya di tenda pantia atau sejenisnya.
"Tentu. Silahkan duduk. Aku koganei, panitia di sini. Silahkan isi form ini" lelaki bernama Koganai itu menyerahkan form dan pulpen kepada Aomine.
"Duh, udah seperti ujian saja" pikirnya dalam hati setelah melihat pertanyaan yang begitu menditeil.
"Ano… aku hanya perlu mengisi yang ada tanda bintangnya saja kan?" tanya Aomine lagi.
"Ya, yang tidak ada bintangnya di isi juga tidak apa" ucap lelaki itu. "dari 50 pertanyaan disini yang di bintangi hanya ada 5 lho. Sisanya tidak berbintang" Aomine sweatdrop melihat form yang terdiri dari 5 lembar ini. Sungguh sayang, memotong kayu-kayu hanya untuk kertas yang tidak bergu-. Ehem.
"Ini nomor panggilanmu. Jika namamu di panggil nanti silahkan maju ke lapangan basket" Aomine lalu berpamitan untuk main sendiri.
"Ramai juga ya? Padahal hanya lomba nge-dunk dengan gaya" Aomine men-drible bola basket.
Menuju lapangan di sebelah. Aomine melancarkan 'latihan' aksinya. Berlari dengan kencang, Aomine melompat tinggi dan melakukan dunk menghadap kebelakang. Orang yang sedang berlalu lalang di lapangan basket itu terkejut. 'Walau pun bolanya tidak masuk, gayanya keren'. Mungkin itu yang ada di pikiran mereka.
"Haah.. harusnya dari pada menghabiskan waktu seperti ini, aku mending mencari kerja sambilan untuk membayar kebaikan Kagami dan supaya tidak menyusahkannya lagi…" wow. Aomine mengatakan kalimat yang sangat bijaksana.
"Nomor 69. Masih jauh. Mungkin aku akan bermain lagi dulu." Aomine berniat untuk men-drible bolanya lagi, tetapi niatan itu berhenti ketika suara mic di lapangan sebelah-yang hanya terpisahkan dengan sebuah sungai berukuran sedang- terdengar.
"Baiklah semua! Kita akan membuka lomba 'Dunk in Dig in Style'!" teriak pembawa acara yang sepertinya Koganei-san. Aomine baru tersadar kalau nama lomba yang di ikutinya cukup aneh. Eng, memang aneh. Padahal setau Aomine nama lombanya adalah 'Slam Dunk Contest'
"Baiklah semua! Nomor yang di panggil di mohon masuk ke lapangan ini!" teriaknya lagi.
"Oh, maaf. Baiklah semua! Aku akan menjelaskan peraturannya dahulu"
"Baiklah semua! Kalian harus nge-duk segaya mungkin dan harus masuk. Kalian di beri kesempatan 3 kali!" ucapnya. Aneh. Tidak nama lomba, tidak pantianya. Aneh. Apa lelaki ini begitu menyukai kalimat 'baiklah semua'?
"Baiklah semua! Aku akan memanggil nomor pertama" teriak lelaki itu sambil mengocok-ngocok tabung di sampingnya yang berisi kertas. Aomine yang mendapatkan giliran yang agak jauh tidak memikirkannya. Diapun men-dribble bola.
"Baiklah semua! Nomor pertama adalah…." Atmosfer di sini menegangkan "Baiklah semua! Nomor pertama adalah…." Sang MC mengulanginya lagi.
"Adalah…" drum roll "69!"
"HYAA!" Aomine yang sedang bergelantungan di ring basket terjatuh. Terjatuh dengan posisi tidak elitnya.
"Lho kok aku dulu? Sistemnya ngacak ya? Yah…" Aomine berjalan-berlari menuju lapangan sebelah
"Adakah nomor 69? Kalau tidak ada aku akan-" "Maaf" Aomine memasuki lapangan.
"Oh, kau yang disana? Berikan nomormu ke sini dan kau boleh memulainya." Aomine maju ke depan. Tidak dengan malu-malu. Tetapi dengan gagahnya. Karena ya, di hadapan basket, semuanya sama-baginya. Walau, basket bisa membuat Aomine sedih kembali.
"Aomine-san ya? Baiklah silahkan di mulai" ucap Nijimura-MC yang suka meneriakki kalimat 'baiklah' dan 'semua'
Aomine men-drible bola yang berada di tangannya. Dengan ringan, seakan mengajak bola itu untuk menari-nari sebelum melaksanakan aksinya. Men-drible bola di kolong kakinya, membuat beberapa orang yang melihatnya kagum. Memasuki area 'free throw line' aomine meloncat tinggi. Sambil memutarkan badannya kebelakang. Dan…
"BRAAAK"
Dunk mengahadap belakangnya Aomine, masuk dengan indah.
.
"Daiki! Cepat dunk!" teriak semua pemain se-timnya.
Skor mereka imbang, tim Aomine-Touou Gakuen dan tim lawan-Rakuzan. 98-98. Satu shoot lagi, dan satu diantara mereka menang. Dan sepertinya dewi fortuna sedang berpihak kepada lelaki berambut biru raven berkulit tan itu. Bola berada di tanganya. Penjagaan terlalu banyak didepannya. Satu ide 'gila' muncul di otak Aomine. Dia meloncat tingi, meulupakan Akashi-teman se timnya dulu waktu SMP- yang menggunakan Emperor eye andalannya. Aominye nyaris terjatuh, jika dia tidak melihat 'seseorang'. Seseorang yang mengucapkan "Daiki! Semangat!" dari kursi penonton.
Entah dari mana Aomine bisa melihat 'seseorang' itu. Tapi, berterima kasih pada orang itu. Yang membuat Aomine melakukan fake saat meloncat. Aomine memutar badannya, para musuh berfikir dia akan melakukan pass. Dan, ternyata salah. Dengan bergeser ke kiri, menghadap kebelakang. Suatu kejadian ajaib terjadi.
Aomine melakukan Dunk menghadap kebelakang dengan 'sempurna'.
.
"Hosh…Hosh…Hosh.." Aomine kelelahan hanya karena nge-dunk sekali. Tumben.
Seluruh penjuru lapangan basket terdiam selama beberapa detik. Bahkan sang-MC melupakan tugasnya.
"Ah? Eh? Hem… baiklah, juri berapa nilainya?" tanya MC baiklah.
Para juri masih terbengong-bengong, sampai akhirnya di sadarkan oleh MC baiklah. Juri pertama, kedua dan ketiga menunjukan angka 10. Angka yang terbesar dalam kontes ini. Aomine tersenyum sedih. Tersenyum karena dia mendapatkan nilai sempurna, dan sedih. Karena mendapatkan flashback yang menyakitkan.
"Eh, uh, jangan senang dulu, karena ada dua juri rahasia yang menilai" MC lain yang di ketahui namanya 'Furihata' mengingatkan
"Eh, uh, ah… oh iya! Pengumuman pemenang akan di lakukan hari ini juga saat nomor terahkir di sebut." Ucap sang MC. Tanpa kata baiklah.
Dia pun memanggil nomor selanjutnya.
Beberapa orang di lapangan itu saling berbisik. Ada yang berbisik kagum, tak percaya dan bahkan iri. Aomine tidak mempedulikannya. Yang sekarang Aomine pedulikan adalah, jika dia menang apakah dia mendapatkan uang?
"Heeeeee? Aomine-san?!" teriak seorang lelaki berpostur tubuh kecil dan bersurai coklat. Aomine yang merasa di panggilpun menengok ke arah suara. Alangkah terkejutnya Aomine melihat anggota-mantan-se-timnya memanggilnya.
"Sa-sakurai?!" mereka berdua melakukan adegan saling tunjuk menunjuk.
"AH BENAR ITU AOMINE-SAN!" teriaknya, dan langsung di bungkam Aomine.
"Sssh…ini tempat umum"
"Ah.. sumimasen" dan mereka berdua mencari tempat yang sepi untuk mengobrol.
"kenapa kau begitu histeris melihat wajahku?" tanya Aomine setelah sampai di daerah yang 'sepi'
"Su..sumimasen…" ah, Aomine masih mengingat kebiasaan lelaki ini "…Aomine-san apa benar, Aomine-san… kabur dari rumah?"
Raut wajah Aomine yang datar, menjadi tidak suka.
"Apa itu urusanmu?"
"Ti-tidak… ta-tap-" Aomine langsung angkat kaki dari tempat itu.
"Aomine-san semua orang khawatir tentangmu! Kami tahu masalah mu-" Sakurai memegang tangan Aomine "Lepaskan tanganmu"
"De..demo…" air muka Sakurai menjadi bergetar. "Ck. Itu bukan urusan kalian. Dan, tolong. Jangan beritahu di mana aku sekarang pada mereka. Terutama para orang tua egois" Aomine menekankan kalimat 'egois'.
"Su-sumimasen..ta-tapi…tolong jaga kesehatanmu…Aomine-san" air mata yang nyaris keluar dari mata Sakurai langsung menyusut melihat Aomine yang tersenyum kecil.
"Ja!" Aomine pergi dari area 'sepi' itu.
.
Aomine melirik jam di arloji seseorang. Masih jam satu siang. Kontesnya saja masih berjalan, dan Aomine mmulai bosan-lagi-.
Dia sedang duduk di bangku taman yang lumayan jauh dari lapangan basket. Termenung.
"Kami tahu masalahmu" kalimat Sakurai terus terngiang-ngiang di benaknya. Mengalahkan rasa ingin tahuan tentang album kenangan MuroGami, yang di duganya milik Kagami dan almarhum Himuro.
"Tau apa mereka? Tahu kalau 'dia' sudah meninggal? Huh, fuzakenna*!" Aomine menendang daun tidak bersalah yang berterbangan di bawah kakinya.
"Bahkan sampai sekarang 'mereka' tidak memberi tahu di mana 'dia' di kubur. Kuso**!" Aomine terus menendangi dedaunan itu. Terus, sampai air matanya mengalir keluar. Kemana Aomine yang galak tadi? Aomine siapa ini yang sedang menangis?
"Ryo…" air matanya mengalir deras.
"Ini. Jangan menangis. Jika kau butuh pekerjaan aku dengan senang hati ingin membantu" seseorang menyodorkan tissue untuk Aomine. dan berkata sesuatu yang sangat aneh di telinga Aomine.
"Terima kasih" malu. Ya, Aomine malu. Dengan bodohnya di tempat umum dia menangis. Lelaki berwajah garang seperti Aomine menangis. Menangis di tempat umum. Haha.
"Jadi, kau mau bekerja bersama ku?" ucap seseorang itu-yang ternyata lelaki- duduk di samping Aomine.
"Hah?" Aomine bingung. Kalau tidak salah tadi Aomine juga mendengar lelaki itu mengatakan sesuatu mengenai pekerjaan.
"Uhm, aku mengenalkan diriku dulu. Namaku Kasamatsu Yukio. Aku pemilik sebuah café kecil daerah sini. Aku juga membutuhkan pelayan." Ucapnya sambil menjabat tangan Aomine-yang baru selesai menangis-
"A-aku Aomine Daiki." Aomine membalas jabatan tangan lelaki bernama Kasamatsu itu.
"Kau mau bekerjadi tempatku? Oh, tentu saja akan ku gaji" ucapnya. Wow, terima kasih dewi fortuna.
"Bo-boleh kah?"
"Tentu, tapi kau harus melewati tes dulu, ayo!" dan merea-sepertinya- akan menuju café milik Kasamatsu-san
.
.
Mereka berdua ahkirnya sampai. Di depan café 'KaiFue'.
"Ini café ice cream milikku. Ayo masuk, aku ingin kau mengenal yang lain" dan Aomine di ajak (baca : seret) masuk kedalam café bernuansa forest house.
Pintu depan terdapat furin*** yang jika ada pelanggan masuk akan ber bunyi. Keadaan dalam café sangat classic. Lantai dan dinding terbuat dari kayu. Terdapat perapian pula di café ini. Meja dan kursi pelanggan di tempat ini juga terbuat dari kayu. Di bagian dindingnya terisi banyak hiasan. Mulai dari foto sampai kertas review pelanggan. Lagu-lagu classic melantun dengan indahnya di seluruh bagian café ini.
"Ah, ini Moriyama Yoshitaka. Dia dibagian kasir" Kasamatsu mengenalkan Aomine kepada Moriyama.
"Konnichiwa" sapa Aomine yang di jawab dengan senyuman. Senyuman yang memiliki arti.
Mereka masuk ke dalam dapur setelah melewati daerah kasir, dan pintu dapur-bertuliskan staff only- itu.
"Nah, di sini ada Kobori Koji dan Nakamura Shinya yang menjadi chef café." Kasamatsu mengenalkan mereka berdua kepada Aomine.
"Konnichiwa" ucap Aomine
"Konnichiwa!" sambut mereka dengan senyuman. Senyuman yang memiliki arti pula.
"Kaicho ada apa kok-" seseorang memasuki dapur.
"A-Aomine?" ucapnya kaget. Tanpa Aomine sadari-karena memang Aomine dari sananya bodoh- Kasamatsu memberikan death glare pada lelaki yang baru masuk itu.
"Ehm, kau tau dari mana namaku?" Aomine merasakan ke janggalan di sini. Mula-mula saat dia menangis di taman, dan seorang lelaki menawarinya kerja. Kedua semua orang di sini seperti mengenalnya, terutama lelaki yang baru masuk itu.
"Nah, Aomine… dia Hayakawa Mitsuhiro. Yang akan menjadi partner pelayanmu" ucapnya, mengelabui Aomine-yang memang bodoh gampang di kelabui-
"Tu-tunggu, aku kan belum setuju untuk bekerja di sini"
"Eeeeh… sayang sekali, aku kila kau akan menjadi teman balu kami" ucap lelaki cadel-Moriyama.
Aomine jadi tidak tega. Memang sih, dia juga membutuhkan pekerjaan-untuk balas budi-. Tapi Aomine tidak menyangka akan mendapatkan pekerjaan secepat ini.
"Ambil positifnya aja deh"pikirnya dalam hati. tetapi jauh di lubuk hati, Aomine merasa pernah melihat mereka di suatu tempat.
"Baiklah… aku mau bekerja di sini. Apa saja persyaratannya?" Aomine mengalah.
"Yeay! Ehem, cukup mudah. Kami ingin melihat caramu melayani pelanggan. Mudah kan?" ucap Kasamatsu.
"Itu sih mudah!" Aomine berlagak sombong.
"Tring…"
Bunyi furin berdenting. Ah, setelah beberapa jam menunggu pelanggan, pelanggan yang di tunggu datang. Dari cara berbicara dengan temannya, Aomine tahu, kalau dua perempuan-berseragam SMA- itu adalah anak alay, atau mungkin cabe-cabean.
"Irrashaimase" Aomine dengan alaminya mengucapkan kalimat itu.
Kedua perempuan itu duduk di dekat kaca. Aomine mengambil dua buku menu.
"Oh, Aomine? Aku hanya ingin memperingati, kalau di café ini semua makanannya bisa di variasikan sendiri oleh sang pelanggan. Biasanya tidak ada di buku menu." Ucap Nakamura saat Aomine mengambil buku menu. Dia hanya mengangguk
Baru saja Aomine mau menaruh buku menu, tetapi kedua perempuan itu sudah nyerocos menu yang mau di belinya
"Ako'eh mawo !##$$^O&*)&)&% # $%^&*(&^%$^%^$ # ! &)((*^$$^%^$## $&^%^&$%(*()_)(&&))))_)_0-0^%$#!#$#%^%$%^%^&&(*&^^$##$ $# $%^^*((* &^%$# ## #$%^&())(()(***&^%%$#, kaloeh kamo'eh?"
"Akowech mawo nyaeh ! #$%^&*()_)(*&^%$%^%$%^&**&^%))*(*(*)(# ! # #$#$%^^ ($ *_)&^#(()()^#%^&**&%$#^&&%^$^%&$%$%&* itoech ajaehz." Aomine kewalahan mencatat pesanan mereka berdua. Sedangkan staff yang lain? Hanya cekikikan melihat tingkah laku tiga orang yang berada di meja dekat kaca.
"A-ada lagi?" tanya Aomine-yang berhasil mencatat semua pesanan mereka dengan (mungkin) benar.
"Esh? Kamo'eh pheghaway baroeh yach?" tanya perempuan pertama
"Ha-hah? Eh, i-iya" jujur, Aomine agak bingung dengan bahasa perempuan itu.
"Owuh, yahodah. Chepatz yach, kamieh laveur" merasa di usir, Aomine langsung menuju dapur untuk memberi daftar pesanan 'pelanggan' tadi.
"Hahahaha. Aomine, kau sepelti habis dapat nilai ulangan jelek saja!" hina lelaki cadel- Hayakawa. Aomine hanya mendengus mendengarnya.
"Itu pelanggan atau yang buat menu sih? Lengkap banget" pikir Aomine. Yang dalam mode normalnya-bukan galau-.
"Tring!"
Bel dapur di bunyikan, menandakan kalau pesanan sudah di buat. Dengan gaya abang-abang rumah makan padang-ehem. Dengan kedua tangannya, Aomine membawa 1001 jenis makanan di nampannya. Meletakkan dengan hati-hati ke meja.
"Fyuh…" Aomine menghembuskan nafasnya-yang tadi sempat berhenti saat meletakkan makanan- yang tertahan.
"Well done! Selamat Aomine, kau di terima." Kasamatsu-yang entah dari mana- mengucapkan selamat kepada Aomine. Bukan Kasamatsu saja ternyata, Hayakawa dan yang lain juga.
"Terima kasih, Kasamatsu-san." Aomine tersenyum
"Kasamatsu saja. Dooita" Kasamatsu membalas senyuman Aomine.
"AH!?"
"Ada apa Aomine?!" tanya Moriyama yang ikut-ikutan kaget. Duh, déjà vu deh.
"Penguman kontes nge-dunk! Ah! Aku harus cepat-cepat kesana!" ucap Aomine melepaskan apron berwarna hitam yang di kenakannya.
"Eh? Iya?! Yaaah, aku kelewatan deh!" ucap Kobori-yang ternyata ikutan lomba nge-dunk. Jika Aomine sedang tidak panik, pasti dia akan bertanya 'memangnya kau bisa bermain basket?'. Tapi sayangnya, sekarang Aomine sedang panik.
"Uhm, jam berapa ini?" tanya Aomine yang berharap ada seseorang yang menjawab.
"Hm…jam 4 sore… coba saja tadi café sedang ramai, kau pasti akan lebih cepat kembali Aomine!" keluh Nakamura.
"Terima kasih untuk hari ini! Besok aku akan ke sini lagi ya!" teriak Aomine saat keluar dari pintu dapur.
Berlari dengan kecang. Bagai polisi di kejar-kejar maling. Ehem, ralat. Bagai maling di kejar-kejar hutang. Ehem ralat lagi maaf. Bagai maling di kejar-kejar polisi.
Aomine sangat tidak mau kelewatan pengumuman itu. Mungkin karena berharap mendapatkan uang? Entah. Tetapi, kaki Aomine rasanya kelu. Tidak bisa di ajak kompromi. Seperti memberi tanda.
.
Marukawa Shouten, Tokyo, Japan.
Di waktu yang sama dengan Aomine. Di sana, Kagami lari-lari dari kejaran makhluk halus bernama Kuroko Tetsuya.
"Kagami-kuuuunnn! Jangan kabur dari tugas menumpuk mu ini! Lihat?! Masih 10 halaman lagi yang belum kau beri tulisan di kolomnya!" Kuroko, berlari-lari ala film india dengan Kagami, sambil menunjukan 10 kertas tersebut.
"Heeeee~ aku serahkan semua padamu Kuroko~ aku ada kencan dengan batu nisan~~" ucapan-seperti- bercanda Kagami membuat Kuroko tersenyum miris. Dia tahu, Kagami kelihatannya seperti bercanda, tetapi dalam hatinya, dia menangis. Kuroko tahu itu.
"Hati-hati ya!" Kagami melambaikan tanganya dengan memasang wajah 'moe' yang juga nyaris membuat Kuroko muntah di kertas penting itu.
"Haaah… besok saja deh, aku mau melihat kontes dunk, itu pun kalau belum selesai"
.
Kagami menginjak gas nya degan cepat. Dia ingin buru-buru bertemu dengan Himuro. Tetapi, di lubuk hatinya yang terdalam dia ingin segera bertemu Aomine.
"DEG"
Ada perasaan yang mengganjal di pikiran Kagami saat memikirkan Aomine. Pipinya tidak memanas ataupun memerah. Ini seperti… pertanda.
Dengan cepat-tapi pasti- Kagami menuju graveyard yang berjarak seperti jakarta-bandung.
.
"Osaki ni!" ucap Kuroko sambil memasuki lift. Sungguh, terkadang Kuroko kesal dengan sikap ke kanak-kanakan Kagami. Padahal dia atasan bagian shoujo manga, tetapi tingkahnya masih anak-anak (kadang-kadang seperti bos-keren dkk- kadang.)
Kuroko menuju stasiun kereta-di karenakan kantornya dan tempat yang akan di tujunya ini agak jauh-.
Menempelkan sebuah kartu, dengan beruntungnya saat memasuki stasiun, kereta sudah menunggu di peron yang di tujunya. Dengan cepat Kuroko masuk kedalam dan duduk-yang tentu tanpa di sadari seorang pun-.
.
Di perjalanan menuju tempat perlombaan Slam Dunk.
"Hosh..Hosh..Hosh…jauh juga ya tempatnya dari café.." pikir Aomine sambil berjalan. Tentunya, Aomine tidak bodoh-bodoh banget (tapi idiot). Jadi dia berjalan di trotoar.
"Jalan saja lah. Kakiku kelu sekali. Ya apa yang terjadi nanti saja lah" ucap Aomine menenangkan dirinya sendiri.
Jalan yang di lalui Aomine adalah jalan one way, atau satu arah. Dari jarak sekitar 1 Kilo meter dengan Aomine, sebuah truk besar gandeng berjalan di pertengahan jalan. Yang tentu saja menghalangi pengendara lain jika ingin menyalip. Untung saja jalannya cepat.
"DUAAAARRRR"
Truk itu oleng. Sepertinya roda depannya meledak.
Bukannya menginjak rem, sang supir malah menginjak gas. Truk oleng itu menuju arah Aomine. Oh tuhan, semoga saja tidak mengenai Aomine.
"Haah~ menang tidak ya? Oh iya! Aku juga tidak boleh pulang terlalu malam. Aku kan harus masak buat Kagami hahaha-"
.
.
"CKIIIIIIT"
Kagami tiba-tiba mengerem mendadak. Padahal dia hanya menginjak rem-nya pelan. Tetapi kok malah terlalu pakem ya?
Dengan cepat Kagami memarkirkan mobil dan menuju sebuah batu nisan. Ke khawatiran menyelimuti dirinya.
"Himuro. Aku tidak tahu mengapa. Tapi aku rindu denganmu." Kagami berbicara seorang diri.
"Aku mau bercerita pada mu. Sekitar dua hari yang lalu aku menemukan pantulan diriku yang dulu saat kehilangan mu. Tatapan yang kosong penuh kehampaan. Aku sedikit tertarik dengannya. Aku juga ingin membuatnya senang, seperti apa yang kau lakukan dulu. Do'a kan aku semoga dia percaya padaku ya! Oh iya, Himuro. Maafkan segala kesalahan ku, maaf. Aku sudah menyumpahi orang yang menabrakmu dan memecahkan beling di kepalamu kok! Tenang saja!" canda Kagami, yang mencoba menghilangkan suara bergetarnya.
"Tess..Tess"
Air mata Kagami dan air hujan turun bersaaman. Seolah tidak mau melihat Kagami menangis.
"Baka Himuro. Aishiteru, selalu. Sampai kapanpun. Apa kau tidak bisa re-ingkarnasi hm? Walau kau berwujud anak-anak aku akan tetap menikahi mu lho! Meski nanti aku akan di cap sebagai 'pedofil'" Kagami mulai kebasahan.
"Ah, hujan. Kau mengganggu saat-saat romantisku. Ehm, Himuro? Aku akan pergi. Sampai jumpa. Dan, aku ingin membahagiakan lelaki ini. Tolong jaga dia ya! Aishite, Himuro!" dan Kagami melesat masuk ke dalam mobilnya.
Tanpa di sadari siapapun. Sebuah bayangan berdiri di samping batu nisan yang di hampiri Kagami tadi.
"Bakagami. Aku tidak bisa re-ingkarnasi. Aku juga tetap mencintaimu selalu. Tapi kau harus mencari yang baru. Aku sudah meninggal kau tahu? Dan lelaki yang kau bilang itu… aku akan mencoba menjaganya. Sayonara, Aishite no hito. Bakagami" dan bayangan itu hilang.
.
.
Aomine merasakan hal yang mengganjal dari arah belakang.
Aomine menoleh ke arah belakang "Eh?"
"CKIIIIIIIITTTTTTT…BRAAAAAKKK"
Aomine tertidur di trotoar. Tertidur dengan keadaan terhimpit truk dan tiang lampu. Nafasnya tercekat. Seluruh tubuh penuh keringatnya, sekarang berganti dengan cairan berwarna merah pekat.
"Ahk!" batuk. Aomine terbatuk. Yang harusnya keluar dahak. Tetapi, yang keluar malah darah.
.
.
Kuroko sedang berjalan di trotoar yang sama dengan Aomine.
"Hm? Apa itu ramai-ramai?" Kuroko melihat banyak orang berkumpul di sana. Karena rasa keingin tahuannya tinggi, Kuroko menuju tempat ramai itu.
Awalnya dia berfikir mungkin ada atraksi menarik. Ternyata salah. 'Atraksi' yang di pikirnya menarik adalah 'melihat orang yang baru kau kenal kemarin terhimpit truk'. Dengan wajah penuh kepanikan, sesuatu yang bergejolak dari hati Kuroko keluar.
"MINGGIR SEMUA MINGGIR!" teriaknnya yang membuat semua ornag kaget.
"ASTAGA?! AOMINE-KUN?!" benar dugaannya.
"KALIAN BODOH ATAU APA?! JANGAN HANYA MENONTON! CEPAT TELEPON AMBULANS DAN KEPOLISIAN!" Kuroko benar-benar panik. Dengan cepat Kuroko mengambil telepon genggamnya. Bukan untuk menelepon ambulans atau kepolisian. Tapi untuk menelepon lelaki yang menampung Aomine.
"Ya halo Kuroko?" Ucap orang di seberang
"Ka-Kagami-kun…Aomine-kun… Aomine-kun…" mata Kuroko mmulai berair
"Kuroko?! Ada apa?! Ada apa dengan Aomine?!" orang yang di seberang menjadi panik
"Aomine-kun ke-kecelakaan…"
"APA!?"
.
.
.
A/n:
hai hai semua! #tebar bunga sakura
kyuu balik lagi hoho~ sedikit menunggu kah? #smirk
entah kenapa aku pgn buat endingnya ngegantung. apa garing? greget? atau kepo apa yg akan terjadi selanjutnya? apa mau spoiler?
balasan review chap 3 dulu deh!:
ffureiya-san : Ganteng tahu! kalo misalnya di liat dari atas monas pake sedotan kopi yang super tipis itu #garing #di jadiin ebi furai sama kagami. hohoho~ ntar dulu buat fluff"annya... sekarang mau menjerumus ke plot hohoho #padahal mah ga nyambung". Terima kasih buat review yaa!
Guest-san : yang keren aku atau ceritaku nih? :v ehehe makasih ya buat nyempetin review! nih lanjut! semoga asik ya hohoho~
Lily Kotegawa-san : ah iya :'v lama lama aku ganti KagaMine juga nih,- ah... ternyata aku memang ga bisa buat yang tragis" huhu :v wwkwk abisnya guru bahasa indonesia ku bilang dlm smua cerita harus ada amanah! karena aku adalah anak yang baik hati #eyak aku ngasih amanatnya ga terlaku tersirat hohoho~ Makasih ya mau review terus cerita ku! :3
PeniPhoenix24-san : Doomo! aku buat humor ga bagus" amat sih :'v hiks #nangis bombay. kamu ga kuat ngeliat gaya moenya kagami? aku sih yang ngetik (plus ngebayangin) udah muntah duluan. udah berotot gayanya mau loli" getoh.. astakojim... eh itu jangan di tendang kasian... usir aja biar lebih halus gitu :v#ngomong apa kau nak-nak. Makasi yaaa udah nyempetin review! (ps : buat tidak ku sadari aku masih buntu nanti lagi ya hohoho~) ini selamat menikmati ya~ (dikira makanan apa) :3
Kurosaki Seiya-san : yakin ketawa? ga bohong kan? :v ya... aku bingung sih mau buat apa tentang himuronya... lupa di catet ideku... jadinya gitu deh... mangkanya selalu pake helm ya nak! #lho #ga nyambung. ahahaha bagian itu... yang di ceritain itu yang bagian POV. kalo yang bagian ''ehem" itu engga :v kan viewnya aku hohoho~ (maksudnya yang diceritain aku doang sama para reader #ha #dikeplak) ini apdet! haha maap lama~ gara-gara main basket dulu nih hoho~ terima kasih untuk revienya! w
Kagami Tania-san : Hai! ini aku lanjutin... w terima kasih untuk meriview ya! jangan bosen sama cerita ku yang makin lama makin gaje ini okay? hehe~
terima kasih BANGET untuk kalian semua yang me-review, mem-follow, dan mem-fav. kalau begitu aku mah ga banyak cincong. langsung aja aku kasih sepoylernya!
ps: aku sengaja buat chapter ini jadi 2 side karena... MALES NGETIK hahahaha :3 peace mba.. mas... #diguyurrame"
.
Aomine sekarang terkapar di rumah sakit. para staff 'KeiFu' kafe, Kuroko, Kagami, dan alm Himuro menunggunya sampai terbangun. tapi di karenakan pekerjaan masing" sisanya hanya Kagami dan Himuro.
kagami yang terus berdoa, dan himuro menyampaikan doanya.
apakah aomine akan hidup kembali? atau menyusul kekasihnya?
siapakah kekasih aomine itu? apa benar kekasihnya sudah meninggal? apa benar para staff 'KeiFu' kafe adalah teman setimnya alm. kekasih aomine dulu?
tunggu saja, chapter 5 Make You Alive by Kirigaya Kyuu.
Warning: Chapter depan mungkin lebih sedikit dan juga flashback. dan mungkin ada yang belum di keluarkan di chap depan
.
Sonja,
Kirigaya Kyuu
